The spirit who wished to become human
Step 7 – loneliness;
I don't own Kuroko no Basuke!
.
.
.
Ia seharusnya sudah mati. Meski jiwanya terus bergerak, mengikuti kemanapun tuannya menghendakinya pergi, tetap saja tidak mengubah fakta bahwa Kouki Furihata sudah mati. Dan orang mati tidak seharusnya dapat melihat sebuah mimpi.
Namun saat ini, ia berdiri di tengah sebuah taman yang luas—masih tidak terlihat oleh siapapun. Hal itu, entah mengapa, tidak terlalu mengganggunya sekarang.
Tatapannya terfokus pada anak-anak kecil di hadapannya, memperhatikan satu per satu bagaimana mereka berlarian di lapangan itu, mengejar satu sama lain. Bagaimana tidak—warna rambut mereka yang cerah membuatnya tidak bisa berpaling sama sekali; satu dari mereka memiliki warna rambut biru gelap, kini mengejar seorang perempuan berambut merah muda panjang. Ada pula laki-laki berambut hijau yang duduk di bawah pohon, membaca sebuah buku di sebelah laki-laki berambut ungu. Tidak jauh dari mereka, seorang laki-laki berambut pirang tengah berusaha mengajak laki-laki berambut biru cerah untuk bermain dengannya, yang sepertinya tidak mengacuhkannya sama sekali.
Dan ia melihat dari jauh. Ia seharusnya sudah terbiasa dengan itu.
Yang aneh adalah—ia merasakan sesuatu yang menusuk saat melihat pemandangan itu;
Kesepian.
Pasti menyenangkan jika bisa bermain bersama mereka. Pasti tidak akan sesepi ini jika mengobrol dengan mereka. Hanya saja kakinya enggan bergerak untuk mendekati mereka, tidak peduli bagaimana ia menginginkannya.
Bahkan hingga pandangan orang-orang itu terarah padanya, Kouki masih tidak bisa bergerak—tidak, ia tidak diizinkan bergerak; seolah ia hanya diizinkan menonton, namun disaat yang sama, menjadi seorang pemain.
Bahkan hingga orang-orang itu mendekatinya, mengelilinginya, memandanginya penuh rasa ingin tahu, ia masih tidak dapat bergerak juga.
Laki-laki berkulit gelap-lah yang memulai, masih dengan senyum yang sama ketika mengejar gadis berambut merah muda di sebelahnya, "Kau ingin bergabung dengan kami?"
Ia merasakan maniknya sendiri melebar, bersamaan dengan seruan terkejut dari gadis di sebelahnya, "Dai-chan!"
"Tidak apa-apa, bukan, Satsuki?" Mengangkat bahu dengan acuh, 'Dai-chan' kembali menoleh padanya, msaih dengan senyum lebar. "Dia sudah ada di sini sejak, entahlah, beberapa menit yang lalu. Tidak ada salahnya kalau kita mengajaknya bermain juga!"
Satsuki seolah hendak mengatakan sesuatu, namun seolah tahu kalau ucapannya akan sia-sia saja, ia kembali menutup pintunya.
Kouki sendiri tidak diberikan kesempatan untuk menjawab, ketika tangannya di genggam secara tiba-tiba oleh laki-laki berambut biru gelap itu. Kemudian mereka mulai berlari—menuju kelompok yang sudah menunggu mereka dari jauh—kelompok yang kerap Kouki perhatikan sejak tadi.
"Namaku Daiki, dan ini Satsuki." Laki-laki itu—Daiki—menoleh ke belakang, tersenyum lebar. "Siapa namamu?"
(Kouki merasa mengatakan sesuatu, namun untuk alasan yang tidak ia ketahui, ia tidak ingat apa yang baru saja ia katakan.)
"Kalau begitu—" (Daiki juga sempat mengucap nama, namun ia tidak dapat mendengar apa yang ia katakan), "—mulai sekarang, kita akan menjadi teman!"
(Dunia tidak pernah seterang itu sebelumnya—bahkan ketika Kouki masih menjadi seorang manusia.)
.
.
.
Dalam waktu singkat, Kouki langsung mengetahui nama anak-anak yang bermain bersama Daiki dan Satsuki ketika itu; Shintarou (laki-laki yang membaca buku, dan ia merasa cukup menyukai yang satu ini karena kepintarannya), Atsushi (laki-laki yang banyak sekali makan, namun cukup menyenangkan jika sudah dekat dengannya), Ryouta (laki-laki yang berisik, namun menyenangkan untuk di ajak berbicara), dan Tetsuya (laki-laki yang cukup menarik—meski keberadaannya yang tipis berkata sebaliknya).
Kouki menyukai mereka semua—bagaimana mereka melengkapi dunianya, membuat dunia yang awalnya monoton itu lebih berwarna, bagaimana mereka mengajarkan padanya banyak hal yang berharga.
Terpikir olehnya—andai saja ia berbicara dengan mereka lebih awal; andai saja ia dapat mengumpulkan keberaniannya untuk menghampiri mereka—mungkin ia dapat menikmati perasaan ini lebih lama. Mungkin ia masih dapat menghabiskan waktu lebih lama bersama mereka—
Takdir memang tidak pernah baik padanya.
.
.
.
Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun begitu ia sadar, warga desa telah mengikatnya, menyeretnya sembari menjeritkan ejekan dan kata-kata yang menusuk, seolah kulit yang mulai berdarah karena bergesek dengan tanah tidak cukup untuknya.
Monster.
Kouki sendiri tidak tahu mengapa mereka memanggilnya dengan panggilan itu. Ia hanya seorang anak yang berusaha menolong temannya. Ia tidak menggunakan apapun selain deduksi yang telah ia pikirkan matang-matang untuk menyelamatkan temannya.
Kenapa mereka memanggilnya tukang sihir? Kenapa mereka memanggilnya pembawa sial?
Ia mendongak, bertemu pandang dengan teman-teman yang selama ini bermain dengannya—orang-orang yang ia selamatkan hingga ia terperangkap dalam situasi ini. Bibirnya membuka, hendak meminta pertolongan mereka, namun suaranya enggan untuk keluar, teredam oleh rasa sakit yang amat sangat.
Dan teman-temannya mengalihkan pandangannya—bahkan Daiki, yang keningnya terbalut perban dan tangan yang di bebat—Daiki yang selalu berada di sampingnya, tidak lekang membuatnya tertawa—enggan untuk melihatnya.
Entah apa yang membuatnya merasa hendak menangis saat itu juga—rasa perih di kulitnya atau kenyataan bahwa teman-temannya meninggalkannya seorang diri. Apapun itu, ia berharap rasa sakit ini akan pergi secepat mungkin.
.
.
.
Semuanya terasa kabur bagi Kouki.
Ia mengingat rasa sakit. Ia mengingat perih. Ia mengingat tatapan penuh kebencian yang ditujukan padanya.
Kemudian ia melihat desa yang terbakar, membuat malam itu terlihat lebih terang dari biasanya.
Ia mendengar orang-orang menjerit dari kejauhan. Ia mendengar mereka meminta tolong. Ia mendengar orang-orang merutukinya.
—tidak. Mereka tidak merutuki Kouki Furihata.
Mereka merutuki sosok yang berdiri di depan Kouki Furihata, memunggunginya. Memandangi desa yang terbakar oleh tangannya sendiri. Memandangi desa tempatnya tumbuh—bersenang-senang—tanpa sedikitpun emosi.
Ketika sosok itu berbalik, menatapnya langsung, Kouki bertemu dengan sepasang manik heterokrom yang telah familiar.
Sang pemilik manik berjalan ke arahnya, dan Kouki merasa tidak dapat menggerakkan satupun otot. Seluruh perasaannya masih campur aduk dengan kesedihan—kemarahan—frustasi—
Bahkan ketika laki-laki itu mencengkram bahunya, menggerakkannya dengan kasar, ia masih tidak juga bergerak.
"Kouki."
"Kouki."
"—Kouki!"
Nafasnya tersentak ketika suara itu meninggi, akhirnya menyadarkan Kouki sepenuhnya. Ia mendapati Akashi berada di hadapannya dengan kening berkerut—samar, namun Kouki mendeteksi sedikit kekhawatiran dalam manik dwiwarna itu. Dan, untuk suatu alasan, itu membuatnya begitu lega.
"Kau tidak merespon saat aku memanggilmu."
Ia membayangkan wajah yang sarat emosi di hadapannya tersenyum leluasa bersama anak-anak yang ia lihat dalam mimpinya—yang mengkhianatinya—
"Apa kau—"
Ia tidak lagi mendengar lanjutan kalimat dari laki-laki itu—tanpa peduli lagi ia memeluknya dengan erat, berusaha merasakan sedikit saja kesedihan dalam diri laki-laki itu—
Dingin. Beku. Tidak ada apapun kecuali kehampaan.
Dan untuk suatu alasan, itu membuatnya lebih sedih daripada sebelumnya.
Kouki membiarkan kesedihannya lepas begitu saja. Ia menangis—menangisi laki-laki yang melalui segala kesepian di masa lalu, mendapatkan kesepiannya terobati oleh sekelompok teman, hanya untuk direnggut kembali tak lama kemudian dan harus melalui kesepiannya selama beribu tahun kemudian—
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
Dan, Kouki Furihata bersumpah, kalau ia tidak akan membuat laki-laki itu merasakan kesepian lagi.
