Selamat pagi, siang, sore, malam kapanpun waktu kalian saat membaca fic ini Ruru bawa chapie 7
Gomen kalo chap kemaren kurang memuaskan karena cuma sedikit, tapi saya sungguh sangat berterimakasih pada kalian semua yang telah bersedia membaca fic ini, special thank's buat para reviewers yang telah berbaik hati mengomentari fic saya Arigatou ne ^_^
Enjoy this chapter!
Disclaimer: Baiklah saudara-saudara sebangsa dan setanah airku, dengan ini saya mengumumkan bahwa Naruto adalah milik Om saya Masashi Kishimoto (PLAK!)
Chapter 7
=Training Camp=
"Cepat sedikit Sasu!" Seru Ino dari depan pintu.
"Iya aku keluar sekarang!" Sasuke keluar dari kamar, anak itu terlihat kerepotan membawa ranselnya yang penuh dengan barang bawaan.
Hari ini adalah hari pelaksanaan Training Camp Konoha International, Ino dan Sasuke sudah mempersiapkan segalanya untuk mengikuti Training Camp itu, mulai dari barang bawaan hingga kesiapan hati mereka, bagaimanapun juga mereka akan terpisah bus dan area camping, Ino tidak mungkin tidak merasa khawatir akan keselamatan Sasuke yang menjadi tanggung jawabnya itu.
Ino berjalan ke arah area parkir mobilnya dan Sasuke mengekor di belakangnya, Gadis itu melebarkan matanya saat melihat penampakan pria berambut perak dan memakai masker yang menutupi sebagian wajahnya, sedang berdiri bersandar di mobilnya dengan santai tanpa rasa sungkan sedikitpun.
"Sedang apa kau di situ? Menjauh dari mobilku!" Sentak Ino.
"Jangan galak-galak gitu lah, tujuan kita kan sama, jadi nggak ada salahnya kan kalau kita pergi sama-sama?" Kata Kakashi santai.
"Kau ini tidak tahu diri sekali ya? Sudah seminggu ini kau minta makan malam bahkan sarapan pun kau minta padaku, padahal kau tidak memberiku imbalan apapun setidaknya untuk membalas kebaikanku, dan sekarang kau dengan santainya minta tumpangan dengan alasan tujuan kita sama? Besok besok apa lagi hah? Pinjam bajuku? Atau nebeng mandi di tempatku? Atau jangan-jangan kau mau pinjam make up ku juga?" Sembur Ino kesal, dia tak habis pikir dengan kelakuan aneh tetangga sebelahnya itu.
"Jangan marah-marah begitu, kita ini kan partner, nggak ada salahnya kan berbagi dengan partnermu?" Tanya Kakashi santai, Ino masih bersungut-sungut kesal sambil melemparkan deathglare terbaiknya kepada pria bermasker di depannya.
"Sudahlah Ino-chan, kita sudah hampir terlambat, sebaiknya kita pergi sekarang, ajak om itu sekalian juga tak apa, yang penting dia duduk di belakang dan tidak membuat masalah." Sela Sasuke, Ino melirik Sasuke tak percaya, tapi kemudian kembali menatap Kakashi dengan tampang BeTe.
"Tch, karena Sasuke yang minta, apa boleh buat! Cepat masuk!" Kata Ino ketus, kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Sasuke.
Kakashi mengacungkan jempolnya ke arah Sasuke, tapi Sasuke berpaling sambil bersungut kesal, dan langsung masuk ke mobil.
Sebenarnya dia sendiri tidak suka dengan Kakashi, karena pria itu jelas-jelas ingin mendekati Ino dengan cara apapun, tapi karena Sasuke tahu bahwa Kakashi lah yang membuat dirinya dan Ino bisa sekolah gratis di Konoha International, jadi mau tak mau dia harus baik-baik dengan pria itu.
Ino mulai mengemudikan mobilnya, meninggalkan area apartemennya, Kakashi mengamati Ino dari spion depan.
"Kau selalu menyetir sendiri ya? Tidak takut ditangkap polisi nanti? Aku yakin kau belum punya SIM" Tanya Kakashi yang duduk di kursi belakang, Ino melirik Kakashi dari kaca spion.
"Kau ini bisa diam tidak sih? Aku yakin aku tak akan ditangkap polisi, karena aku punya navigator handal untuk menghindari kemungkinan aku bertemu dengan polisi di jalan," Kata Ino sambil melirik Sasuke sekilas.
"Lagi pula...setir mobil ini telah diseting hanya bisa dikemudikan oleh dua orang, aku dan..." Ino menggantungkan kalimatnya, kedua tangannya meremas kemudi mobil, Sasuke terdiam, dia tahu nama siapa yang akan Ino sebut.
"Dan siapa?" Tanya Kakashi penasaran, Ino tersadar dari lamunannya.
"Tch, bukan urusanmu!" Sentak Ino yang kemudian kembali fokus ke jalanan di depannya.
Kakashi melirik tangan kiri Ino yang tengah memutar kemudi, manik matanya tertuju pada benda berkilau yang melingkar di jari manis Ino.
"Kau dan pemberi cincin itu ya?" Batin Kakashi.
Mata berbeda warnanya kini beralih ke spion depan, melihat wajah Ino dari sana, meskipun terlihat fokus menyetir, tapi dia tahu pikiran Ino tidak di sini sekarang, pria itu pun menghela nafas pelan.
"Belum apa-apa aku sudah kalah" Pikir Kakashi yang kini memilih untuk menatap pemandangan di luar yang tengah mereka lewati.
*Promise*
"Apakah semua sudah siap?" Tsunade berjalan menyusuri koridor gedung khusus dengan langkah mantab.
"Sudah Tsunade-sama, busnya sudah datang, anak-anak kelas khusus juga sudah lengkap, persenjataan darurat sudah disiapkan, semua peralatan juga sudah tersedia, kita tinggal menunggu para siswa reguler yang belum hadir." Kata Shizune yang mengekor di belakang Tsunade.
"Bagus! Pastikan tak ada yang mengikuti kita saat berangkat nanti!" Titah Tsunade.
"Baik Tsunade-sama!" Kata Shizune sambil membungkukkan badannya.
Di area parkir bus
Para anggota kelas khusus sedang mengabsen para peserta camping yang menjadi tanggung jawab mereka.
Di barisan murid SD penuh dengan riuh redam teriakan suka cita anak-anak yang penuh semangat mengikuti camping itu, pengawas mereka adalah Kankuro, Temari,dan Sakura dari perwakilan kelas khusus, dibantu oleh Genma, Kotetsu, dan anko yang termasuk senior.
Di barisan SMP mulai terdengar suara gaduh, teriakan semangat masa muda yang dikoar koarkan oleh Lee, justru malah membakar semangat para murid SMP itu, tingkah lucu dan konyol Naruto juga sukses membuat kelompok itu terlihat meriah, pengawas siswa SMP terdiri dari Naruto, Tenten, dan Lee yang dibantu oleh Shizune, Izumo, dan Guy.
Lalu di barisan SMA, terdengar jejeritan gaje dari para fans Neji dan fans Kakashi, sedangkan murid laki-lakinya mulai menyerukan nama Ino yang memang satu-satunya pengawas wanita diantara yang lain, pengawas siswa SMA adalah Neji, Ino, dan Shikamaru dibantu oleh Kakashi, Yamato dan Asuma
"Aku mulai muak dengan kelompok ini." Kata Neji yang sebenarnya hanya gumaman untuk dirinya sendiri, tapi ternyata didengar oleh Ino.
"Ternyata kau benar-benar lolicon ya? Khufufu..." Ejek Ino yang langsung mendapat deathglare gratis dari Neji.
Setelah yakin semua lengkap, mereka pun mulai memasuki bus menurut kelompok masing-masing, saat itu Ino baru sadar kalau ada siswa SMA kelas 2 dan 3 yang juga mengikuti Training Camp itu, Ino menarik ujung kemeja Neji, membuat pemuda itu menoleh padanya.
"Ada apa?" Tanya Neji.
"Ada siswa SMA kelas 2 dan 3 juga? Cuma sedikit sih, tapi bukannya pesertanya cuma anak kelas satu saja? Lalu untuk apa mereka ikut?" Ino menatap kelompok siswa SMA yang memasuki salah satu bus tersendiri, Neji mengikuti arah pandang Ino.
"Kita tidak mungkin mengurusi puluhan tenda sendirian kan? Katanya setiap tenda akan ada pengurusnya sendiri, jadi kemungkinan mereka bertugas untuk itu." Ino manggut-manggut mengerti dengan penjelasan Neji, kemudian dia pun masuk kedalam bus, mengikuti Neji yang sudah masuk duluan.
Di dalam bus
"Kenapa aku musti duduk denganmu juga sih?" Decak Ino kesal saat mendapati satu-satunya kursi yang tersisa adalah di samping Neji.
"Apa boleh buat kan? Kita masuknya belakangan." Kata Neji pasrah, Ino mendegus kesal, tapi akhirnya dengan sangat terpaksa tetap harus duduk di sebelah Neji, tentunya dia tidak mau berdiri hingga sampai tujuan yang belum dia ketahui tempatnya.
Sudah satu jam perjalanan terlewati, dan rombongan itu belum juga sampai di tempat tujuan, karena lamanya perjalanan, dan suasana di dalam bus yang mungkin terlalu nyaman, Ino pun terlelap, tanpa sengaja kepalanya telah terkulai bersandar di bahu Neji, pemuda itu sedikit berjengit saat tiba-tiba kepala Ino telah bersandar di bahunya, awalnya dia ingin marah dan membangunkan gadis itu agar menyingkir dari tubuhnya, tapi karena melihat Ino begitu lelap, dia mengurungkan niatnya dan membiarkan Ino bersandar padanya.
"Nggak apa-apa sekali-sekali berbuat baik sama teman sendiri (teman bertengkar maksudnya)" Pikir Neji.
Tak berapa lama Neji pun ikut terbawa ke alam mimpi, Kakashi yang duduk tak jauh dari tempat duduk Neji dan Ino berdecak kesal melihat posisi tidur kedua orang itu.
"Oi Asuma! Kau mau pindah tempat duduk kan?" Tanya Kakashi setengah memaksa.
"Hah? Kenapa memangnya? Aku sudah nyaman duduk di sini kok!" Tolak Asuma, Kakashi menunjuk tempat duduk Neji dan Ino dengan dagunya, Asuma mengikuti arah yang ditunjuk kawannya itu, kemudian berseringai tipis.
"Ooh itu masalahnya? Baiklah!" Asuma pun beranjak dari kursinya diikuti Kakashi, saat sampai di dekat kursi Neji dan Ino, Asuma mulai berpikir.
"Bagaimana caramu memindahkannya?" Tanya Asuma pada Kakashi yang masih menatap kesal Neji dan Ino yang tertidur dengan posisi saling bersandar.
"Ck, apapun caranya!" Kakashi mendekati kedua muridnya itu, kemudian berusaha memisahkan mereka pelan-pelan supaya mereka tidak terbangun, setelah menyandarkan tubuh Neji ke jendela kaca bus, Kakashi mulai menggendong Ino dengan bridal style, Ino mengeliat pelan saat merasakan posisi tidurnya terusik, tapi kemudian kembali terlelap saat dirasa sudah senyaman tadi, Asuma berdecak kagum sekaligus tak habis pikir dengan tindakan Kakashi itu.
"Ternyata kau memang sudah benar-benar terpesona olehnya ya Kakashi?" Sindir Asuma sambil melirik jail ke arah kawannya itu.
"Biar saja!" Kakashi sama sekali tidak menyangkal, membuat Asuma semakin yakin bahwa temannya itu sudah mulai gila.
=oooooo=
"Kita mau kemana Itachi? Ini sudah malam, ini bukan jalan menuju apartemenku kan?" Tanya Ino gusar, sedangkan pria yang sedang menyetir di sampingnya hanya terkekeh pelan, kemudian mengacak rabut Ino.
"Tenang saja, aku tak akan menculikmu, sebentar lagi juga sampai kok." Kata Itachi, bermaksud menenangkan kekasihnya, Ino mengembungkan pipinya, semburat merah mulai merambat di wajah cantiknya.
Tak berapa lama, mobil sedan merah yang dikemudikan Itachi mulai menepi di pinggir jalan yang sepi, Ino mengernyitkan dahinya.
"Untuk apa kita berhenti di sini Itachi? Ini kan...area hutan?" Pikir Ino, gadis itu menoleh ke sebelahnya, aquamarinenya menatap Itachi dengan pandangan bingung.
"Kita sudah sampai Ino-chan." Itachi mengembangkan senyumnya yang menawan, semburat merah kembali menghiasi pipi Ino.
"I...Itachi...?"
Gumam Ino, Kakashi menautkan alisnya saat mendengar Ino menyebut nama seseorang dalam tidurnya.
"Itachi? Siapa yang sedang kau mimpikan Ino?" Batin Kakashi.
"I...ini...indah sekali Itachi!" Seru Ino di suatu bukit kecil di dalam hutan.
Di sana dia bisa melihat dengan jelas bintang-bintang yang memenuhi langit malam itu, pijar bintang itu bagaikan hamparan permata bening yang menghiasi permadani termahal di dunia, Ino terus mendongak ke atas, seolah sayang untuk melewatkan sedetikpun pemandangan yang dia lihat saat ini.
"Ini seperti planetarium raksasa!" Seru Ino dengan tawa renyahnya.
Itachi menatap Ino dari kejauhan, kemudian beranjak mendekati gadisnya itu.
"Kau suka?" Tanyanya
"Um, aku suka sekali, terima kasih!" Kata Ino yang kemudian memeluk pemuda di depannya dengan erat, seolah tak ingin melepasnya.
Kakashi terkesiap saat melihat air mata meluncur dari mata Ino yang terpejam, tangan mungil gadis itu mencengkram erat kemeja Kakashi, seolah tengah melampiaskan emosinya, entah kenapa Ino justru menangis melihat mimpinya yang jelas-jelas adalah mimpi indah.
"Apa sebenarnya yang kau mimpikan Ino?" Tanya Kakashi yang lagi-lagi hanya terucap dalam hati.
"Kakashi, kau dengar aku?" Kakashi terkesiap saat mendengar suara Shizune lewat earphone yang terpasang di telinga kanannya.
"Ya, ada apa Shizune?" Kakashi menajamkan pendengarannya.
"Kita akan segera sampai di area camping, sebaiknya kalian bersiap!" Kata Shizune.
"Baik!"
Kakashi melirik Ino yang masih tidur, diusapnya perlahan air mata Ino yang masih mengalir.
"Kita sudah hampir sampai Ino, bangunlah!" Bisik Kakashi di telinga ino.
Ino mengernyitkan alisnya, pertanda bahwa dia merespon ucapan Kakashi barusan, kelopak matanya mulai terbuka perlahan, menampakkan kilauan aquamarinenya yang masih sedikit berkaca karena air mata tadi.
Ino membelalakkan matanya saat melihat sosok pria yang tengah menjadi sandarannya, dia langsung berdiri dari duduknya dengan wajah merah padam.
"Hi what's up?" Sapa Kakashi dengan santainya sambil mengangkat tangan kanannya.
"Ke...KENAPA AKU BISA BERSAMAMU?" Teriak Ino sambil menunjuk muka Kakashi.
Otomatis semua mata tertuju padanya, Neji yang baru bangun terlonjak kaget saat melihat seseorang di sampingnya yang awalnya Ino kini berubah jadi Asuma, sungguh perubahan yang sangat kontras.
"APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADAKU?" Tanya Ino tanpa memelankan volume suaranya.
"Hei hei jangan keras-keras, nanti disangkanya aku sudah berbuat macam-macam sama kamu!" Kakashi menarik Ino untuk kembali duduk, Ino mendorong tubuh Kakashi.
"Apaan sih? Jangan sentuh!" Seru Ino, kali ini volumenya lebih kecil dari yang tadi.
"Apa-apaan kau? Bukankah tadi aku bersama Neji? Jujur saja ya, aku lebih tenang bersama Neji dari pada bersama kamu!" Kata Ino ketus.
Dalam pikiran Ino, Neji itu kan lolicon, jadi nggak mungkin berbuat macam-macam sama dia, tapi kalau Kakashi, itu lain soal, masalahnya dari awal bertemu, Kakashi itu sudah sangat mencurigakan di mata Ino.
"Kau ini benci sekali padaku ya?" Tanya Kakashi berlagak terluka.
"Iya, aku amat sangat membencimu!" Jawab Ino lantang.
"Benci itu bedanya tipiiiiiis sekali dengan cinta lho." Sindir Kakashi sambil mengerling jail pada Ino, gadis itu bergindik ngeri.
"Jangan becanda!" Sentak Ino yang kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk kembali ke tempatnya semula, sedangkan Kakashi hanya mampu merelakan kepergian Ino dari sisinya (lebay)
*Promise*
Setelah dua jam perjalanan, akhirnya rombongan itu sampai di tempat tujuan, kini mereka tengah sibuk mendirikan tenda kelompok masing-masing, setiap tenda dihuni oleh 10 orang bagi para peserta camping, sedangkan untuk pengawas, satu tenda dihuni 3 orang, tentu saja ukuran tenda peserta dengan pengawas berbeda, tergantung muatannya, area camping masing-masing tingkatan berjarak 500m, sehingga mereka tak bisa bebas berinteraksi langsung dengan tingkatan dibawahnya atau di atasnya, karena adanya pembatas area, siapapun yang melewati batas itu akan dipulangkan, kecuali para pengawas dan pengurus tentunya.
"Fyuuh..." Ino mengelap peluh di dahinya dengan punggung tangan, dia telah selesai mendirikan tendanya, khusus untuk Ino, dia mendapatkan tenda sendiri, karena dia satu-satunya pengawas wanita di rombongan SMA.
"Kau sudah selesai?" Shikamaru menghampiri Ino, gadis itu menoleh kearah pria bermuka malas di belakangnya.
"Iya, ada apa?"
"Asuma-sensei bilang, kalau sudah selesai kita harus mencari kayu bakar untuk persiapan api unggun nanti malam." Kata Shikamaru tetap dengan nada malasnya.
"Kenapa tidak menyuruh anak-anak SMA yang menjadi pengurus saja?" Ino menyatakan keberatan.
"Mereka masih sibuk mendirikan tenda, jadi kita yang disuruh pergi." Ino mengangguk paham.
"Baiklah ayo!" Ino berjalan lebih dulu.
"Ck, mendokusai!" Keluh Shikamaru yang kemudian berjalan mengikuti Ino dengan langkah gontai.
Di area camping kelompok SD
Sasuke menatap bosan ke arah teman-temannya yang sedang bermain atau berlarian di sekitar area perkemahan, anak itu tengah duduk di bawah pohon besar, menanti tendanya selesai didirikan oleh para pengurus.
"Hu~h coba Ino-chan ada di sini, pasti tidak akan sebosan ini!" Degus Sasuke kesal.
"Dik, bisakah kau membantu kakak? Tolong ambilkan tali di dalam tenda itu ya!" Seorang pengurus memanggil Sasuke, orang itu tengah menarik tali yang dipakai untuk menahan tenda agar tidak roboh.
Sasuke pun beranjak dari duduknya, dan masuk kedalam tenda setengah jadi itu, Sasuke melihat tali yang dimaksud di dalam tenda, kemudian mengambilnya dan bersiap untuk keluar, tapi tiba-tiba tenda itu roboh hingga kain besar dan berat itu menimpa tubuh mungil Sasuke, membuat anak itu terjebak di dalam onggokan kain besar itu.
"Uwaaaaa Tolooooong!" Jerit Sasuke di bawah onggokan tenda sambil mencoba menyibak-nyibakkan kain besar yang menutupinya.
"KYAAA MAAF-MAAF KAMI TIDAK SENGAJA!" Seru seorang pengawas wanita sambil berusaha menyingkirkan kain besar itu untuk menemukan tubuh kecil Sasuke.
Setelah tenda gagal itu berhasil disingkap, terlihatlah sosok Sasuke yang tengah duduk bersimpuh sambil berusaha menahan tangisnya yang akan pecah.
"UWAAAAAA INO-CHAAAAAN...!" Akhirnya tangis Sasuke pecah, membuat para orang dewasa di sana kewalahan untuk menenangkannya, meskipun Sasuke tahu trade merk Uchiha yang akan selalu tenang dalam kondisi apapun, tetap saja dia itu hanyalah seorang anak berumur 7 tahun yang akan menangis jika merasa panik.
Di sisi lain hutan
Ino dan Shikamaru tengah sibuk mengumpulkan ranting-ranting pohon untuk api unggun nanti malam.
"Hei Shika, kita butuh berapa banyak sih?" Tanya Ino sambil mengikat ranting-ranting yang telah berhasil dia kumpulkan.
"Secukupnya saja!" Jawab Shikamaru singkat, dia juga tengah melakukan hal yang sama dengan Ino.
"Makannya secukupnya itu seberapa?" Ino telah selesai mengikat rantingnya, dan kini berkacak pinggang menghadap Shikamaru.
"Ck, kalau kau rasa cukup ya sudah, begitu saja kenapa masih perlu bertanya padaku dasar merepotkan!" Degus Shikamaru.
"Hei, aku kan cuma tanya, apa susahnya sih menjawab dengan baik-baik!" Ino mulai kesal, Shikamaru menghela nafas pelan.
"Ambil saja secukupnya, sesuai kemampuanmu membawa ranting-ranting itu!" Kata Shikamaru, kini nada suaranya lebih enak didengar dari yang tadi, Ino hanya berdecak kesal sambil tetap mengumpulkan ranting yang dia temukan, Shikamaru memperhatikan Ino yang membelakanginya.
"Hei!"
"Apa?"
"Kalau lelah istirahat dulu saja!" Ino menoleh ke arah Shikamaru.
"Aku juga akan istirahat sebentar." Kata Shikamaru sebelum Ino melancarkan protesnya, karena pria malas itu baru saja membaca pikirannya lagi.
Shikamaru kemudian naik ke salah satu pohon besar di hutan itu, lalu duduk di cabang pohon yang cukup besar, dan menyandarkan punggungnya di batang pohon yang kokoh itu kemudian memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
Ino tertarik dengan apa yang dilakukan pemuda bertampang malas itu.
"Hei Shika!"
"Hn?"
"Apa di atas sana menyenangkan?" Tanya Ino dari bawah.
"Iya." Sahut Shikamaru yang masih memejamkan matanya.
"Boleh aku ke atas?" Tanya Ino.
"Silakan saja! Pohon ini juga bukan milikku kok."
Ino pun naik ke atas pohon di mana Shikamaru sedang beristirahat, dia berpijak pada cabang pohon yang lebih tinggi dari tempat Shikamaru bersantai.
"Hm...udara di sini enak sekali ya?" Kata Ino sambil memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang menerpa lembut wajahnya, Shikamaru membuka matanya, melihat Ino yang berdiri di cabang pohon yang lebih tinggi darinya, pemuda itu melihat ekspresi Ino yang tengah menikmati angin yang berhembus lembut dan menyibakkan poni panjangnya.
"Dia bisa berekspresi seperti itu juga ya?" Batin Shikamaru.
"Ino" Panggil Shikamaru.
"Apa?" Jawab Ino tanpa menoleh ke arah Shikamaru, mata aquamarinenya terbuka perlahan.
"Jangan naik terlalu tinggi!" Kata Shikamaru datar.
"Hahaha kenapa? Kau takut aku akan jatuh? Tenang saja, aku bisa menjaga keseimbanganku dengan baik kok, jadi aku takkan jatuh!" Kekeh Ino.
"Bukan begitu!" Sangkal Shikamaru masih dengan nada datarnya.
"Hm? Lalu kenapa?" Tanya Ino yang kini melongok ke tempat Shikamaru di bawah sana.
"Celana dalammu kelihatan!" Jawab Shikamaru, wajah Ino langsung merah padam.
"DASAR NANAS MESUM!" Seru Ino dengan melemparkan sepatunya ke arah Shikamaru.
"HEI JANGAN SALAHKAN AKU! KAU SENDIRI YANG NAIK TERLALU TINGGI, SUDAH TAHU KAU PAKAI ROK DASAR!" Protes Shikamaru sambil menghindari lemparan sepatu dari Ino.
Sebenarnya Ino sendiri lupa kalau hari ini dia memakai rok, bukan celana jeans seperti biasanya.
=oooooo=
Temari berlari menerobos orang-orang yang sedang sibuk mendirikan tenda, dia selaku pengawas kelompok SD merasa kesulitan saat harus menenangkan tangis Sasuke yang belum reda hingga saat ini, dia bermaksud mencari Ino, karena sejak tadi hanya Ino saja yang meluncur dari bibir mungil Sasuke.
Gadis berkucir empat itu menghampiri Neji yang kebetulan dia temui di tengah orang-orang yang masih sibuk.
"Neji!" Panggilya.
Pemuda berambut panjang itu menoleh ke sumber suara, dan mendapati Temari sedang terengah-engah mengatur nafasnya.
"Ada apa?" Tanya Neji tetap dengan nada datarnya.
"Apah...khau...lihat Ino? Hosh...hosh...hosh..." Temari masih belum bisa mengatur nafasnya.
"Ino? Dia tadi pergi mencari kayu bakar dengan Shikamaru."
DEG!
Temari tersentak saat mendengar nama Shikamaru disebut.
"Pergi dengan...Shikamaru?" Ulang Temari sedikit terbata.
"Iya, tadi mereka masuk kehutan di sana" Neji menunjuk sebelah kanannya, tempat dimana Ino dan Shikamaru menghilang tadi.
"Baiklah terimakasih." Kata Temari yang kemudian masuk kehutan yang ditunjuk Neji tadi.
Temari berlari kecil menyusuri hutan, mencari keberadaan kedua orang yang masuk sebelum dirinya, langkahnya terhenti saat melihat Shikamaru yang tenagah mengejar Ino dengan rambutnya yang...tergerai?
"Hei, kembalikan ikat rambutku!" Seru Shikamaru pada Ino yang masih mempertahankan ikat rambut Shikamaru di tangannya.
"Tidak akan sebelum kau minta maaf padaku!" Cibir Ino.
"Awas kau!" Shikamaru mulai gemas.
Temari terdiam melihat Ino yang bisa seakrab itu dengan Shikamaru, dadanya terasa sesak, tak mampu melihat lebih lama pemandangan di depannya, dia memundurkan langkahnya bersiap pergi dari tempat itu, tapi dia teringat akan tujuannya datang kemari, maka diurungkannya niat untuk pergi, dan gadis itu pun mendekati kedua orang yang masih berebut tali rambut itu.
"Ehm!"
Temari berdehem saat jaraknya sudah dekat dengan Ino dan Shikamaru yang tak menyadari kedatangannya.
Ino dan Shikamaru otomatis menghentikan kegiatan mereka, dan menoleh ke arah Temari.
"Temari? Ada apa kau kesini? Mau cari kayu bakar juga?" Tanya Ino dengan polosnya, melihat Ino lengah, Shikamaru langsung menyambar tali rambutnya dari tangan Ino, membuat gadis itu tersadar dan berdecak kesal, tapi kemudian kembali menatap Temari karena merasa tidak enak dengan gadis berkucir empat itu.
"Tidak, aku kesini mencarimu Ino,"
"Mencariku? Memangnya ada apa?"
"Sasuke menangis dan belum diam sampai sekarang, dia merengek-rengek ingin bertemu denganmu." Ino membulatkan matanya.
"Baiklah aku akan segera kesana!" Dan Ino pun melesat dan menghilang dalam waktu satu detik dari pandangan Shikamaru dan Temari.
Kini tinggal mereka berdua, Temari merasa canggung karena hanya ditinggal berdua dengan Shikamaru, tapi pemuda itu malah mengurusi ranting-ranting kayu yang dia kumpulkan bersama Ino tadi, kemudian membawanya kembali ke perkemahan.
"Kau mau di sini sampai kapan?" Tanya Shikamaru saat melewati Temari.
"A...um...maaf, aku juga akan kembali kok." Kata Temari yang kemudian berlari meninggalkan Shikamaru yang masih berdiri di tempat.
"Dasar aneh, apa semua perempuan itu merepotkan seperti mereka?" Gumam Shikamaru yang kemudian berjalan pelan menuju perkemahan.
*Promise*
Malam pun tiba, saatnya memulai kegiatan.
Mencari jejak adalah kegiatan utama yang biasa dilakukan untuk menemukan kemampuan tersembunyi para peserta, mereka ditugaskan mencari keberadaan senior mereka yang bersembunyi di berbagai tempat di tengah hutan, mereka harus mendapatkan stempel dari para senior yang mereka temukan, setiap satu stempel bernilai satu poin, tapi jika ada yang mendapatkan stempel dari siswa kelas khusus maka nilainya akan dilipat gandakan, peserta yang mendapat poin rendah akan dipulangkan keesokan harinya, karena sudah dianggap gugur.
Saat ini para anggota kelas khusus sedang berkumpul di pinggir perkemahan yang jauh dari keramaian.
"Ini untuk kalian!" Kakashi membagikan kacamata inframerah kepada para muridnya kecuali Neji, karena tentunya pemuda itu bisa melihat di dalam kegelapan dengan kemampuannya.
"Kalian akan masuk kedalam hutan, dan sebisa mungkin tidak memakai senter untuk menyamarkan keberadaan kalian, anak-anak itu sudah pasti akan berpencar untuk mencari jejak senior mereka, kalian mungkin akan kesulitan untuk mengawasi mereka, ini juga menjadi sarana untuk menguji kemampuan kalian, awasi setiap sudut yang bisa kalian lihat, jika kalian menemukan pergerakan mencurigakan, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan saat itu..." Kakashi menghirup nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Bunuh!" Lanjut Kakashi, ekspresi keseriusan terpancar jelas di wajah para siswa kelas khusus.
"Ada lagi, sebisa mungkin jangan menggunakan pistol atau semacamnya untuk senjata, karena suaranya sangat mencolok dan pastinya akan menimbulkan keributan," Kakashi terdiam sejenak untuk mengamati muridnya satu persatu.
"Shikamaru! Untuk sementara kau gunakan panah!" Kakashi menyodorkan panah kepada Shikamaru.
"Baik!" Shikamaru menerima panah yang disodorkan padanya.
"Lalu Temari, jangan membuat angin besar, itu akan menghancurkan tempat ini, dan tidak menutup kemungkinan kau akan melukai orang-orang tak bersalah, kipasmu kan besar, kau bisa pakai itu untuk memukul musuh, tanpa mendatangkan angin ribut pun kau bisa membunuh orang jika menghantam kepala mereka dengan itu."
"Saya mengerti sensei." Temari mengangguk mengerti.
"Untuk yang lainnya, kurasa tak ada masalah, ah ya, kalian perlu pakai ini untuk berkomunikasi dengan anggota lain." Kini Kakashi membagikan alat komunikasi berupa earphone kepada para anggota kelas khusus.
"Anak-anak itu akan segera berangkat, nah aku percayakan tugas ini pada kalian, lakukan dengan baik! Kami para senior juga akan mengikuti kalian nanti."
"Do your best!"
"Hai' Sensei!" Seru seluruh siswa kelas khusus dengan semangat, kemudian mulai berpencar mencari posisi masing-masing.
=oooooo=
Ino bersembunyi di atas pohon besar dengan dedaunan rimbun yang menutupi keberadaannya, mata aquamarinenya yang terlapisi kaca mata inframerah mengawasi setiap sudut yang bisa dia lihat, memastikan tak ada hal yang mencurigakan di daerah pengawasannya.
"Sisi timur lokasi aman, tak ada pergerakan mencurigakan di sini" Sebuah suara terdengar dari earphone yang terselip di telinga kanan Ino, gadis itu hendak mengatakan hal yang sama dengan rekannya, tapi niatnya terhenti saat melihat sesuatu dari balik semak-semak.
Tanpa pikir panjag Ino langsung melompat menuju semak dan mendarat tepat di depan orang di baliknya kemudian mengayunkan pedangnya sekuat tenaga ke arah orang mencurigakan itu.
DASH!
Ino menghentikan laju pedangnya saat pedang itu sudah mencapai setengah lingkaran batang pohon tempat orang itu bersandar, dan kurang 1cm untuk mencapai leher pemuda yang ternyata adalah...
"Sai?"
Ino membelalakkan matanya saat menyadari bahwa dia hampir saja membunuh Sai, sedangkan pemuda itu masih terpaku mengingat kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya, bola matanya bergulir melirik pedang yang masih menancap di dekat lehernya, dari kilatan yang terpantul dari permukaan pedang itu sudah dapat dipastikan kalau pedang itu sangatlah tajam.
"Astaga! Sai? Maaf kau tidak apa-apa kan?" Ino langsung mencabut pedangnya dari pohon besar di belakang Sai, dan secara reflek, kedua tangannya merangkum leher Sai yang hampir saja menjadi korban tebasan pedangnya.
Ino menghela nafas lega, karena tak menemukan luka sedikitpun di leher pemuda itu.
"Maaf, aku hampir saja membunuhmu Sai, maafkan aku!" Lirih Ino, Sai masih berusaha mengatur nafasnya yang tak teratur, bagaimanapun juga nyawanya hampir melayang beberapa detik yang lalu.
"Ada apa di sana Ino?" Tanya Sakura dari seberang earphone Ino, membuat gadis itu tersadar kalau alat komunikasinya itu masih tersambung.
"Ti...tidak apa-apa kok Sakura, hanya ...salah paham saja" Jawab Ino.
"Oh begitu? Baiklah." Dan sambunganpun terputus,Ino kembali menatap Sai dengan aquamarinenya, pemuda itu sudah lebih tenang sekarang, Ino menurunkan tangannya dari leher Sai.
"Aku...tidak bermaksud menakutimu Sai, tapi inilah pekerjaanku, aku ini...bukan teman yang pantas untukmu, harusnya kau menjauhiku!" Ino menundukkan kepalanya.
"Sudah kubilang kan? Aku tak mau melakukan itu." Sai mengangkat dagu Ino dengan telunjuk dan ibu jarinya, mempertemukan kembali aquamarine Ino dengan Onyxnya.
"Seperti apapun kau, kau tetaplah Ino,"
"Yang kucintai." Lanjut Sai dalam hati.
Ino menatap Sai lekat-lekat, mencari letak sesuatu yang sedikit aneh pada teman lamanya itu, dia tak begitu mengerti, kenapa Sai begitu bersikeras untuk tetap di dekatnya?
Srek!
Ino terkesiap saat mendengar gesekan daun yang disingkap paksa, membuatnya tersadar akan tugasnya saat ini.
"Aku harus pergi sekarang Sai!" Kata Ino yang kemudian lenyap dari pandangan Sai dalam waktu satu detik.
Grep!
"Kena...!"
Sai terlonjak kaget saat merasakan dekapan dan mendengar seruan anak kecil di dekatnya, ternyata dia telah dikerumuni oleh tiga anak SD yang memang tugasnya dalah mencari para senior yang bersembunyi termasuk dirinya.
=oooooo=
Ino melompat dari cabang pohon yang satu ke pohon lain, mengamati kegiatan para peserta training, pandangannya tak sengaja tertuju pada sekumpulan anak SD yang sedang menagkap senior mereka, dan Sasuke juga berada di antara anak-anak itu, senyum tipis terkembang di bibir Ino sebelum meninggalkan tempat itu.
Sasuke menatap puas pada kertas yang dipenuhi stempel dalam genggamannya, dia telah mengumpulkan cukup banyak stempel dari senior yang telah dia temukan bersama kedua rekannya, khusus anak SD memang bergerak secara kelompok, karena panitia tak akan tega membiarkan anak berumur 7 tahun harus bergerak sendirian di malam hari.
Sing!
Sasuke terhenyak dan menghentikan langkahnya, beberapa detik yang lalu dia melihat ada puluhan atau mungkin sudah mencapai seratusan orang tengah mengepung tempat mereka.
Sing!
"Ugh?" Sasuke mencengkram kepalanya dengan kedua tangan kecilnya, kertas yang dia bawa pun dibiarkan terjatuh begitu saja.
"Ada apa Sasuke?" Tanya salah seorang teman kelompoknya.
"A...aku..."
Sing!
"Akh?"
Sasuke kini terduduk, cengkraman di kepalanya semakin erat, baru saja dia melihat salah satu teman Ino sedang bertarung dengan beberapa orang tak dikenal.
"Sasuke, kau baik-baik saja kan?" Seru teman-temannya panik.
"I...Ino-chan..." Sasuke menatap nanar jalan setapak di depannya, kemudian dia pun beranjak dan berlari meninggalkan kedua temannya yang berteriak memanggil namanya.
"Ino-chan, aku harus memberitahunya tentang ini!" Sasuke berlari menerobos semak-semak, pikirannya hanya terfokus pada keberadaan Ino, sehingga tak menyadari ada seseorang yang mengikutinya.
Greb!
"Uph?"
Seseorang membungkam mulut Sasuke dan kemudian membawa anak itu pergi.
=oooooo=
"Aku menemukan penyusup, di sini ada beberapa orang, aku sedang mengatasinya!"
BRAK!
BRUK!
Sakura menghantam salah satu pohon hingga rubuh, kemudian menggunakannya sebagai senjata.
Gadis itu mengayunkan batang pohon besar itu ke arah para penyusup, menghantam mereka dengan sekali ayun, hingga tubuh mereka terpental beberapa meter dan jatuh berdebam di tanah, ada pula yang terbentur pohon lain kemudian terpental dan jatuh ke tanah dengan darah yang menyembur dari mulut mereka.
Sakura terhenyak saat melihat kawan mereka berdatangan dari arah lain, gadis itu berdecak kesal dan kembali memasang kuda-kuda untuk bertarung lagi.
"Di sisi barat musuh menyerang!"
"Sisi selatan, aku sedang membereskan para penyusup, jumlah mereka? Ugh! Sial, mereka terus bertambah!"
"Sisi utara, terlalu banyak yang berdatangan dari arah sini, bantu aku!"
Zrrrrt...Zrrrrrrt...
"Sisi tenggara...Zrrrrt...aku tidak bisa begini terus tanpa menggunakan anginku!"
BUAK!
Zrrrrt...zrrrrrt...
"Panahku habis, musuh masih berdatangan!"
Zrrrrrt...zrrrrt...klip!
"Shit!"
Umpat Ino saat mendengar laporan dari teman-temannya lewat alat komunikasi yang terpasang di telinganya.
Saat ini dia juga tengah menghadapi para penyusup.
SRAT!
CRAT!
Ino menebaskan pedangnya dengan gesit, tanpa memberi kesempatan lawannya untuk sekedar menyadari keberadaannya, darah bermuncratan ke seluruh penjuru, menggantikan aroma dedaunan dengan bau anyir darah.
"ENYAHLAH KALIAAAAAAN!"
Saat ini Ino sangat khawatir dengan keadaan Sasuke, perasannya benar-benar tidak enak, pikirannya hanya dipenuhi rasa takut akan kehilangan Sasuke.
PRAK!
Ino menebas pistol yang dibawa seorang musuh sebelum sempat menarik pelatuknya.
"Tidak boleh pakai pistol dan semacamnya paman!" Kata Ino yang kemudian langsung menebas leher orang itu hingga terlepas dari tubuhnya, dan jatuh menggelinding di bawah kaki Ino.
Ino berdiri di tengah-tengah musuh yang mengelilinginya dengan sikap waspada, sepertinya mereka sudah tahu bahwa lawan mereka benar-benar tak bisa dianggap remeh.
Ino mengacungkan pedangnya, membuat para penyusup itu reflek memundurkan langkahnya, padahal jelas-jelas mereka bersenjatakan senapan.
SRAK!
SRAT! SRAT!
BRUK! BRUK!
Dalam sekejap Ino telah berada di belakang kerumunan itu dan menghabisi mereka satu-persatu.
Pasukan yang lain bersiap mengarahkan senapan mereka ke arah Ino, tapi lagi-lagi Ino menebas senapan mereka hingga hancur, isinya pun berhamburan sia-sia di tanah, kemudian membunuh para penyusup itu begitu saja, dia tak perduli dengan keadaannya sekarang, tubuhnya dipenuhi dengan cipratan darah musuh-musuhnya, tak ada rasa jijik sedikitpun, tatapannya menyorot tajam kepada para penyusup yang tersisa, kemudian dalam hitungan detik, Ino telah menerjang dan membelah tubuh mereka tanpa ampun, membuat tempat itu semakin dipenuhi dengan bau anyir darah dan bau asam lambung yang menguar kemana-mana.
SET!
JLEB!
Ino melemparkan pedangnya ke sisi kiri tubuhnya, dan pedang itu pun menancap tepat di kepala seorang musuh yang menyelinap diam-diam.
Ino berjalan melangkahi dan menginjak onggokan bangkai yang tersebar di sekitarnya, kemudian mencabut pedang yang dia lempar tadi dari kepala musuhnya yang sudah terbujur kaku, pedang itu sudah tak semengkilap tadi, tak ada warna logam yang terlihat, karena seluruh bagian pedang itu tertutup dengan warna merah, darah segar masih menetes dari ujung pedang Ino, gadis itu mulai meninggalkan medan perang penuh bangkai yang memuakkan itu menuju tempat teman-temannya yang butuh bantuan.
*Promise*
Shikamaru terpojok di antara para penyusup, mata panahnya sudah habis, busur panahnya juga patah karena barusan dia menggunakannya untuk memukul musuh-musuhnya, kini dia sudah tak membawa senjata apapun, nyawanya sudah dipastikan akan segera melayang jika tak ada bantuan yang datang.
"Sial! Sial!" Umpatnya kesal, kini dia hanya bisa pasrah akan keadaannya saat ini, musuh sudah mulai mengarahkan senapan mereka ke depan Shikamaru, pemuda itu hanya diam menyambut maut.
CREK!
ZRRRRRRAK!
PRAK!
Semua orang di tempat itu terbelalak saat melihat seluruh senapan yang tiba-tiba hancur berkeping-keping dan jatuh berhamburan di tanah.
"A...apa ini?"
SRAK!
CRAT! BRUK! BRUK!
Shikamaru tak juga berkedip melihat pemandangan di depannya, baru kali ini dia melihat pembantaian masal yang dilakukan dalam waktu beberapa menit saja, dan lagi, pelakunya hanyalah seorang gadis seumurannya yang tak lain adalah Yamanaka Ino.
Ino telah selesai membereskan para penyusup itu, kemudian berjalan mendekati Shikamaru.
"Apa yang dia pikirkan? Kenapa aku sama sekali tak bisa membacanya?" Batin Shikamaru, tak biasanya dia kesulitan membaca pikiran orang lain, tapi kali ini benar-benar diluar logikanya.
"Apa kau bisa menggunakan pedang?" Tanya Ino setelah sampai di depan Shikamaru.
"Kalau hanya asal tebas saja sih bisa." Jawab Shikamaru berusaha tampak setenang mungkin.
Tanpa mengucapkan apapun Ino mengulurkan salah satu pedangnya kepada Shikamaru, pemuda itu menatap bingung pada gadis pirang di depannya.
"Kau tak punya senjata lagi kan?" Ino masih mengulurkan pedangnya yang belum juga diterima oleh Shikamaru.
"Pakai saja ini, dan pergilah ke tempat Temari, dia butuh bantuan, kudengar dia kerepotan tanpa menggunakan anginnya." Kata Ino datar, Shikamaru akhirnya menerima pedang Ino dengan ragu.
"Jangan sampai rusak ya! Itu adalah benda berhargaku, kembalikan padaku setelah semuanya selesai!" Kata Ino yang kemudian langsung beranjak meninggalkan Shikamaru yang masih terdiam.
Pemuda itu menatap pedang di tangannya, pedang itu dilumuri darah, bahkan sampai tak ada bagian logam yang terlihat.
"Dia itu...benar-benar mengerikan!" Gumam Shikamaru.
Di perkemahan
"Sial! Kenapa jumlahnya sebanyak itu? Ini benar-brnar diluar dugaan!" Decak Kakashi kesal.
Saat ini tempat itu sedang kacau karena kesibukan mereka mengumpulkan kembali para peserta training yang tentunya sudah tersebar di seluruh hutan.
"Kalau begini anak-anak itu takkan sanggup mengatasinya, jumlah mereka terlalu banyak!" Seru Shizune.
"Ck Sial!" Kakashi menghentakkan kakinya ke tanah, membuktikan seberapa kesal dirinya saat itu.
"Asuma, Yamato, Guy, Kotetsu, Izumo, kalian ikut aku membantu para siswa kelas khusus, lalu Shizune dan Anko, kalian di sini untuk menjaga anak-anak ini!"
Kakashi mengedarkan pandangannya ke seluruh siswa yang ada, memastikan tak ada yang kurang di sana.
"Kakashi!" Panggil Anko.
"Ada salah satu siswa SD yang hilang." Kata Anko sedikit ragu.
Kakashi membelalakkan matanya saat Anko menyebutkan nama anak yang hilang itu.
"Brengsek!" Desisnya
Di sisi lain hutan
Ino bergegas menuju tempat lain dengan melompati setiap ranting pohon yang dia pijak.
Zrrrt...klip!
"Ino? Ini aku Kakashi, kami sudah mengumpulkan semua peserta training, tapi..."
"Tapi apa?" Buru Ino.
"Kami tak menemukan Sasuke di manapun."
"Apa?"
Ino bagaikan tersambar petir saat mendengar berita itu.
"Sa...Sasuke?
TBC again!
Gomen kalo endingnya gantung (sengaja sih)
Nah bagaimana nasib Sasuke yang diculik?
Apa tindakan Ino selanjutnya?
Udah Ruru panjangin, semoga nggak mengecewakan, gimana, masih kurangkah?
Masih?
Tunggu di chapter selanjutnya aja ya! hehehehe...
Okay minna-san, mind to RnR?
*Salam Cute*
