Beautiful Secret
Cast: HunHan/KrisHan/Kailu
OC: find by your self/?
WARNING: TYPO! YAOI!
NO PLAGIAT!
~ HAPPY READING ~
BEAUTIFUL SECRET
Chapter 7
Author POV
"Apa yang kau pikirkan YiFan?! Kau tak bisa berhubungan dengannya! Dia itu sama sepertimu! Dia itu lelaki! Kau harus sadar!" Teriak seorang lelaki paruh baya dengan emosi. Sedangkan wanita paruh baya yang disampingnya sepertinya istri lelaki itu, ia menangis melihat sendu ke arah dua anak lelaki yang terlihat masih JHS itu. Salah satunya berada dibelakang anak lelaki yang namanya dipanggil YiFan itu.
"Tapi appa, aku mencintai LuHan!" Teriak anak yang bernama YiFan itu dengan kencang. "Eomma, Kris sayang eomma. Eomma sayang Kris kan? Eomma mau kan lihat Kris bahagia? Aku mohon eomma, terimalah Luhan di keluarga ini sebagai kekasihku." Lanjut anak itu dengan nada lembut pada wanita paruh baya yang dipanggilnya eomma itu. Sang eomma hanya semakin terisak. Sedangkan Luhan -anak lelaki yang dibelakang Kris- hanya diam dengan tubuh yang bergetar karena takut.
"WU YIFAN HENTIKAN! MASUK KAMARMU! SIWON BAWA MASUK KRIS KEKAMAR! KAU! PERGI DARI RUMAHKU!" Teriak ayah Kris dengan penuh emosi. Dan segera menyeret Luhan untuk keluar dari rumahnya. Yang bernama Siwon itupun langsung menyeret Kris kekamar.
"APPA! JANGAN SAKITI LULU! SIWON AHJUSSI LEPASKAN AKU! LUHAAAANNN!" Teriak Kris sebelum akhirnya masuk kamar. Sedangkan Luhan sudah menangis menunduk mengikuti ayah Kris yang menariknya untuk keluar.
"Yeobo.. Biar aku saja yang mengantar Luhan.." Ucap ibu Kris sembari menghapus air matanya. Sang suami hanya menghela napas lalu melepaskan pegangan tangannya pada Luhan tadi. Ibu Kris itupun menghampiri Luhan dan merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan Luhan didepannya. Luhan masih saja menunduk terisak. Mereka masih berada dihalaman rumah Kris.
"Lulu.." Luhan menatap wanita paruh baya yang menjabat sebagai ibu Kris itu dengan mata yang masih berair. "Maafkan eomma dan appa Kris gege ne? Tapi Lulu gak bisa menjalin hubungan special dengan Kris gege." Luhan hanya diam. "Lulu sayang Kris gege kan? Jadi Lulu harus relain Kris gege. Kris gege sudah dijodohkan dengan- LUHAN!" Ucapan ibu Kris itupun terhenti dan berganti menjadi teriakan. Karena Luhan langsung berlari meninggalkan wanita itu. Tak peduli dengan teriakan ibu dan ayah Kris, Luhan terus berlari sambil menangis, entah kemana ia tak peduli. Ia hanya memikirkan lari dan terus lari menjauh dari rumah itu.
Esoknya, saat tak mengetahui Luhan tak ada disekolah, orangtua Luhan melaporkan bahwa anaknya hilang, karena tadinya mereka pikir Luhan menginap di rumah sahabatnya, Kris. Karena orangtua Luhan dan Kris sangat akrab ditambah Kris dan Luhan sudah sangat dekat saat Kris menjadi model baru di entertainmentnya. Namun ternyata Luhan pergi dari rumah Kris dan tak pulang kerumah. Orangtua Luhan sudah mendengar semuanya dari orangtua Kris, mereka sangat marah dan menyalahkan keluarga Kris.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan anak sulungku tak akan kumaafkan!" Ucap ayah Luhan lalu pergi dari rumah Kris. Ayah dan ibu Kris terlihat bingung. Kris yang mendengar semua percakapan antar orangtuanya dengan orangtua Luhan dan mengetahui orang yang dicintainya itu hilang langsung menangis. Iapun pergi diam-diam untuk mencari Luhan.
"Lulu.. Kau dimana..." Kris berjalan sendirian dipinggir jalan. Hari sudah malam namun Kris tetap mencari Luhan. Dari tempat yang sering ia dan Luhan datangi, sampai tempat yang Luhan bilang ingin ia datangi. Namun tak ada tanda-tanda Luhan.
"Lulu... Hiks.." Kris mulai menangis, ia duduk disalah satu bangku dipinggir taman. "Lulu dimana.." Gumamnya pelan. Ia menatap langit yang sudah gelap itu, tanpa ada bintang dan bulan sebagai penerangnya. Iapun menangis lagi hingga tertidur dibangku taman itu.
Merasa terganggu dengan nyanyian para burung ditaman, seorang yang tertidur dibangku taman itupun bangun. Hari sudah pagi ternyata. Iapun mengucek-ngucek matanya lalu bangkit kembali mencari orang yang ia cintai, Luhan.
"Lulu kau dimana.." Gumam Kris sambil melihat-lihat sekitar mencari sosok Luhan yang tak kunjung ditemukannya. Sudah tiga jam Kris mencari namun tak membuahkan hasil. Hingga ia memutuskan untuk duduk disalah satu halte dekat dengan gedung entertainmentnya.
"Uh? Aku sudah berjalan terlalu jauh, bahkan sampai gedung ini. Apa Lulu ada disana ya?" Ucap Kris memikirkan perkataannya barusan. "Benar! Siapa tahu Lulu disana!" Teriaknya riang hingga orang-orang yang menunggu bus dihalte itupun menoleh kearahnya. Merasa malu iapun menunduk dan mengucapkan maaf sembari berjalan ingin menyebrang untuk kegedung itu.
"Hei! Itu Kris! Si model cilik itu!" Teriak salah satu orang dihalte itu. Dan semuanya menatap Kris dengan intens dan langsung menghampirinya dan menariknya. Tak peduli seberapa berantakannya penampilan Kris.
"Kris, wah kau tampan sekali."
"Minta tanda tanganmu dong!"
"Kyaaaa lucunya, aku baru kali ini melihat langsung."
Kris dengan bingung hanya menuruti mereka yang meminta tanda tangannya. Ada yang mencubit pipinya, mengacak rambutnya, menariknya kesana kemari hingga halte itu teelihat sangat rusuh oleh pengendara yang berlalu lalang.
"LUHAN! Tunggu! Jangan menyebrang!"
Namun kegiatannya terhenti ketika ia mendengar ada seseorang diseberang sana meneriaki nama orang yang dicintainya itu. Ia menoleh keorang yang tinggi dan memakai seragam Senior disekolahnya.
"Chen?" Lalu matanya menatap seseorang yang berlari menjauh dan berhenti ditempat penyebrangan. Itu Lulu! Pikirnya.
"Mianhamnida, aku ada urusan." Ucap Kris sambil membungkukkan badannya dan langsung berlari keluar halte. Ia mendengar teriakan Luhan diseberang sana.
"Gege cepat! Luhan lapar.." Namun Chen menggenggam tangan Luhan dan berbalik arah tak jadi menyebrang. Ia melihat Luhan mengerucutkan bibirnya, dan Chen seperti memarahinya.
"LULU! LUHAN!" Teriak Kris dari seberang.
Chen dan Luhan menoleh bersamaan. "Uh? Kris gege?!" Luhan langsung tersenyum lebar dan melepas genggaman Chen lalu berlari menyebrang jalan tanpa melihat tanda bahwa belum boleh menyebrang.
"LU! JANGAN!" Luhan tetap berlari dan mobil mendekat dengan kecepatan yang sangat tinggi membuat Kris panik dan juga takut.
"LUHAAAANNN!"
.
..
...
"LUHAAAANNN!"
Luhan kaget bukan main karena tiba-tiba Kris teriak mamanggilnya lalu terbangun duduk. Tatapan Kris kosong dengan napas tak teratur hingga tak menyadari bahwa seseorang yang tadi namanya ia teriaki ada disampingnya.
Kris menangkup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar. Ia sudah ingat semuanya. Ia mengingat Luhannya, orang yang dulu sangat ia cintai saat di Cina. Orang yang membuatnya menjadi anak yang melawan orangtuanya sendiri. Namun semua itu terlupakan karena kecelakaan yang harusnya dialami Luhan tapi digantikan oleh Kris hingga ingatannya hilang dan tak mengingat siapapun. Akhirnya orangtua Luhan dan Kris sama-sama menjauhkan anak-anaknya. Apalagi Kris yang hilang ingatan membuat semuanya terkendali. Kejadian-kejadian disekolah saat dirinya hilang ingatan dan temannya yang selalu menanyakan Luhan Luhan dan Luhan padanya. Namun ia hanya menjawab bahwa Luhan itu sama sekali tak ia kenal. Ia tak mengenal nama itu. Karena saat mengetahui Kris hilang ingatan, Luhan memilih menerima tawaran akselarisasi menjadi murid Senior High School ditempat Chen sekolah. Hingga Kris dan Luhan tak pernah bertemu lagi.
"Ukh! Lulu.. Maafkan gege.." Luhan terdiam, airmatanya terjatuh lagi dengan deras. Mungkinkah Kris sudah mengingatnya? Jangan.. Jangan ingat aku Kris. Batin Luhan.
"Hiks.." Isakan Luhan lolos begitu saja dari bibir manis itu. Kris tersadar bahwa ada seseorang disampingnya yang sedang menangis sama sepertinya.
"Luhan?" Luhan masih menunduk dengan isakannya. "Lulu.. Maaf.." Dan panggilan itu sukses membuat Luhan bangkit dari duduknya, ia ingin pergi dari situ. Namun Kris tak membiarkan itu terjadi, ia menarik tangan Luhan dan memeluk sosok yang baru kembali diingatannya itu. Luhan semakin terisak dan dadanya sangat sesak.
"Lulu.. Aku ingat semuanya. Kemana kau selama ini? Kenapa malah meninggalkanku tanpa mencoba mengingatkan aku tentangmu?" isakan Luhan mulai mereda.
"Gege -hiks- maaf -hiks- gara-gara aku hiks gege jadi.." Tangis Luhan pecah lagi dalam pelukan Kris. Ia tahu semua itu salahnya. Kris menggeleng dan tersenyum kecil, ia mengusap punggung Luhan untuk menenangkannya.
"Ssstt.. Sudah jangan menangis lagi. Aku sudah ingat.. Dan perasaanku juga masih sama. Bahkan saat belum mengingatmu aku jatuh lagi dalam pesonamu.." Luhan sudah berhenti menangis dan memikirkan kata-kata Kris, namun tak melepaskan pelukan hangat orang yang dulu sangat ia cintai itu. Tiba-tiba saja ia seperti merasakan membaca pikiran Kris. Mata Luhan melebar tak percaya.
"Lu?" Suara seseorang dengan wajah datar yang berada diambang pintu sukses membuat dua insan yang sedang berpelukan itu terlepas. Luhan menunduk dan segera menghapus airmatanya. Sedangkan Kris menatap orang itu dengan tatapan tidak suka karena mengganggu acara berpelukannya dengan Luhan.
"Oh Sehun.."
"Hei hyung sudah sadar?" Tanya Sehun -orang yang berada diambang pintu- namun ia tidak berniat masuk kamar itu.
"Ya, kau mau kemana dengannya?" Tanya Kris sambil menoleh kearah Luhan. Luhan masih menundukkan kepalanya.
"Maaf ge- hm maksudku, Kris.. Maaf hubungan kita sudah lama berlalu. Lupakan saja perasaanmu padaku. Maaf telah membuatmu kecelakaan. Harusnya aku yang tertabrak.." Ucap Luhan dengan sangat pelan seperti berbisik, namun masih terdengar oleh Kris. "Aku sebenarnya ingin mengucapkan sesuatu jika kau sudah mengingatku.." Luhan menjeda, "Aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau telah menyelamatkanku dari kecelakaan itu, dan maaf karena aku kau yang jadi kecelakaan.." Lanjut Luhan dengan senyumannya. Kris merasakan sakit yang amat pada dada sebelah kirinya. Ia tak percaya setelah mengingat semuanya akan seperti ini.
"Lu! Ayo!" Sehun bersuara lagi dengan tatapannya yang berubah menjadi dingin. Luhan mengangguk.
"Aku permisi dulu. Senang kau sudah sadar dan sudah mengingat ingatan yang tak pantas kau ingat. Terimakasih, maaf tolong rahasiakan tentangku yang sebenarnya disekolah. Annyeong!" Dan Luhanpun keluar bersama dengan rangkulan Sehun. Kris tak mampu mengatakan apa-apa. Ia membisu dan perlahan airmatanya pun kembali turun. Kris dan Luhan tak mengetahui bahwa sedari tadi ada yang mendengarkan percakapannya dibalik pintu sebelum Sehun datang. Namun Sehun mengetahuinya, orang itupun tersenyum tipis lalu masuk kekamar Kris.
-BEAUTIFUL SECRET-
"Apa yang terjadi? Bisa kau jelaskan?" Tanya Sehun pada Luhan yang masih betah diam menatap taro bubble kesukaannya dengan pandangan kosong. Sekarang mereka berdua sedang duduk ditepi Sungai Han, sebelum disana Sehun sempat membelikan Luhan bubble kesukaannya. Namun sama sekali tak ia minum bahkan disentuh. Hanya dipandangi dengan tatapan kosong. Sehun yang kesal sedari tadi tak dianggappun bangkit ingin meninggalkan Luhan disana.
"Sehun.." Panggil Luhan dengan suara yang sangat pelan, namun Sehun masih bisa mendengarnya lalu berbalik menatap punggung itu. Ia diam, tak menjawab panggilan Luhan. "Kenapa seseorang dengan seenaknya pergi dan kembali sesukanya?" Tanya Luhan. Namun Sehun hanya diam melihat Luhan dari belakang punggungnya. "Apa kau marah? Kau kemana?" Luhan kembali bertanya, pandangan matanya kosong lurus kedepan. "Maaf.. Tadi aku tak menjawabmu.." Sehun tak bergeming. "Apa kau juga pergi meninggalkanku?" Luhan terus bertanya tanpa berniat membalikkan badannya. Ia mengira Sehun sudah pergi karena tak ada jawaban apapun dari lelaki bertubuh putih susu itu. "Mengapa kau juga pergi? Mengapa kau juga meninggalkanku?" Tubuh Luhan mulai bergetar, airmatanya pun kembali jatuh membasahi pipinya yang mulus. "Apa aku salah tak ingin semua orang yang ada dekatku pergi? Apa aku egois? Ukh!" Tangis Luhan pecah, Sehun tetap diam membisu ditempatnya berdiri. Ia merasakan dadanya terasa sesak melihat Luhan menangis seperti itu. "Jangan tinggalkan aku hiks.."
GREP!
Luhan membatu seketika tubuhnya ditarik kedalam pelukan hangat yang menenangkan. Tangis Luhan makin menjadi, saat mengetahui itu Sehun. "Ssstt... Aku tak akan meninggalkanmu. Jadi berhentilah menangis." Luhan membalas pelukan Sehun dengan sangat erat dan menyembunyikan wajahnya yang basah karena airmatanya didada bidang Sehun. Sehun mengelus punggung Luhan, menenangkan lelaki manis itu.
Mereka tak menyadari sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua dari balik pohon. Ia tersenyum tipis lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan keseseorang. Iapun sempat memandang ke orang yang masih berpelukan itu dengan senyum sebelum pergi dari sana.
"Ayo pulang." Ajak Sehun pada Luhan yang masih betah memeluknya sembari jalan kearah parkiran motor. Sehun sedikit frustasi karena sikap Luhan yang seperti ini. "Hei Lu, mau sampai kapan kau memelukku seperti ini? Aku susah berjalan!" Namun bukannya melepaskan, Luhan malah mengeratkan pelukannya.
"Siapa yang menyuruh kau berjalan?"
"Kau tak ingin pulang?!"
"Tidak. Aku tak ingin pulang!"
"Kalau begitu lepaskan! Aku ingin pulang!"
"Kau bilang tak akan meninggalkan aku? Kau berbohong!" Ucap Luhan yang langsung melepas pelukannya dari Sehun dan memanyunkan bibirnya. Lihat, sekarang Sehun benar-benar jengkel dengan sikap Luhan yang sekarang. Apakah ia kesambet sesuatu saat menangis? Pikir Sehun. Semua orang yang lewat melihat mereka sambil tertawa. Membuat Sehun malu. Mereka mengira Sehun dan Luhan sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Sehun menghela napas berat lalu menarik Luhan dan menggenggam tangan itu erat. Membuat wajah Luhan merona, iapun mengikuti Sehun dengan senyuman manisnya. Entah mengapa hari ini sangat bahagia bagi Luhan.
"Dasar gege menyebalkan! Dia tak membalas pesanku?! Ia tak menyambut kedatanganku?! Hanya karena orang yang seperti albino itu?! Dasar menyebalkan! Gege sudah tak sayang lagi padaku!" Gerutu seorang anak lelaki yang terlihat baru berumur 14 tahun itu. Ia membawa koper dan menggendong tas ransel yang lumayan besar seperti baru datang dari negara lain. Tangan kanannya sibuk memainkan ponselnya, tangan kirinya menyeret kopernya itu. Ia terus berjalan dan bergerutu, tak melihat sekitar.
BRUK!
"Aw! Sakit... YAK! Ponselku?!" Teriak anak itu. Ia terduduk dijalan karena tertabrak seseorang. "YAK KAU! Tanggung jawab! Lihat ponselku!" Lanjut anak itu sambil menunjuk orang yang terduduk juga didepannya, sepertinya yang menabrak anak itu. Ia melihat anak itu dengan dingin.
"Apa maksudmu bocah?! Itu salahmu sendiri!" Ucap orang itu sambil menunjuk kearah anak itu.
"Aku bukan bocah! Dan aku tak akan jatuh kalau bukan kau yang berjalan seperti cacing kepanasan! Gantikan ponselku!" Teriak anak itu sambil menunjukkan ponselnya yang rusak karena terjatuh hingga berserakan saat tabrakan tadi. Dua orang itu terus saja saling menyalahkan namun tak kunjung bangun dari duduknya. Membuat semua orang yang lewat melihat kearahnya dengan tatapan yang susah diartikan. Lihat saja, seorang lelaki yang terlihat berumur 18 tahun beradu mulut dengan anak yang berumur 14 tahun. Benar-benar terlihat seperti bocah yang saling beradu mulut karena mainan.
"Yak hyung! Mengapa kau duduk disini? Apa kau lupa kita sedang buru-buru? Dan siapa bocah itu?" Tanya seseorang yang tiba-tiba datang, melihat hyungnya dengan seorang anak yang membawa koper terduduk dijalanan, dua orang yang masih terduduk itupun menoleh bersamaan.
"YAK! Bilang pada hyungmu itu harus ganti ponselku! Dan bilang padanya kalau jalan tuh pakai mata!" Ucap anak itu.
"Heh bocah! Dimana-mana juga jalan tuh pakai kaki bukan mata!" Orang yang baru datang itu hanya menepuk jidatnya sendiri. Kenapa hyungnya bisa bertingkah seperti bocah juga. Jangan-jangan sisi lain hyungnya sedang muncul. Batin orang itu. Iapun berjongkok menghadap anak itu.
"Annyeong, maafkan hyungku ya? Akan kuganti ponselmu, hmm aku Kai, ini hyungku Suho. Lalu siapa namamu?" Tanya Kai ramah. Anak itu tersenyum sekilas mendengar ponselnya akan diganti, namun langsung kembali memasang muka dingin.
"Aku Tao. Kalau begitu ganti ponselku! Aku ingin pulang!" Jawabnya sembari berdiri. Suho ikut berdiri juga dan memberi death glare pada Kai.
"Untuk apa kau menggantinya? Jelas dia yang salah!" Ucap Suho, Kai hanya menatap datar hyungnya itu. Tao hanya melihat kedua orang itu dengan tatapan dinginnya. Iapun melebarkan matanya baru menyadari dua orang itu adalah orang yang penting.
"Eh Suho? Kai? Sedang apa disini?" Tanya seorang yang sangat tampan menghampiri tiga orang itu. "Hei.. Kau bukannya Tao? Xi Tao?" Tanya orang itu lagi pada anak itu. Tao mengangguk sebagai jawabannya.
"Jin ssaem? Kau mengenalnya?" Tanya Kai dan Suho bersamaan. Jin hanya mengangguk.
"Tentu saja, dia adik Luhan. Tao, apa kau ingin pulang? Biar aku antar ne?" Ucap Jin, dan Tao hanya mengangguk.
"Bagaimana bisa ssaem mengenal adik Luhan?" Tanya Kai, Suho hanya diam menatap datar kearah mereka.
"Aku lebih tahu tentang Luhan, aku wali kelasnya bukan? Yasudah aku antar Tao dulu. Kalian hati-hati ya. Annyeong.." Jin mengambil alih koper Tao dan menggandeng tangannya. Kai dan Suho saling berpandangan, namun Kaipun tersadar bahwa harus buru-buru ke cafe diseberang jalan sana. Ia langsung menarik Suho pergi dari situ.
"Kau pintar sandiwara, mengapa tak jadi aktor?" Tanya Tao dingin. Jin hanya tertawa.
"Kau sudah mengetahuiku Tao? Luhan sungguh sangat menyayangimu ya, hingga bercerita hal itu juga padamu?" Tanya Jin. Tao langsung cemberut mendengar itu.
"Mengetahui bahwa kau adalah anak haram dari keluarga Kim? Ibumu memberitahumu sebelum meninggal? Dan kau membuang marga ibumu ataupun marga Kim semenjak itu? Kau sekarang hidup sendiri hingga menjadi guru gegeku. Itu cerita yang menyenangkan." Ucap Tao masih dengan wajah cemberutnya. Jin tersenyum miris mendengar kata 'haram' dari mulut Tao. "Tapi sekarang Lu ge sudah tak sayang padaku. Ia bahkan tak menjemputku atau menyambutku." Lanjutnya dengan bibir yang semakin maju. Jin tertawa melihat tingkah anak kecil disampingnya ini.
"Mungkin dia lupa kau hari ini datang. Seorang hyung pasti akan selalu menyayangi adiknya sampai kapanpun." Ucap Jin sambil mengacak rambut Tao.
"Apa kau juga menyayangi dua orang tadi?"
-BEAUTIFUL SECRET-
"Ayolah Sehun.. Kumohon antarkan aku kebandara. Demi Tuhan aku lupa jika adikku akan datang hari ini. Aku tak mengecek ponselku. Ayolah hun~" Mohon Luhan sambil meniup-niup tengkuk Sehun. Sehun bergidik ngeri, takutnya keseimbangannya hilang, motornya akan oleng dan bisa kecelakaan. Mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju rumah Luhan, namun tiba-tiba Luhan memohon minta antarkan kebandara karena adiknya hari ini datang dan meminta jemput olehnya.
"Apa kau gila?! Hentikan melakukan itu! Kenapa kau jadi murahan begitu terhadapku?! Dan memang jam berapa dia minta jemput?!" Teriak Sehun, ia tak habis pikir semenjak kejadian tadi Luhan jadi manja padanya. Luhan langsung mengerucutkan bibirnya.
"Iya-iya maaf huuuh.. Jam... 6..." Ucap Luhan pelan. Sehun langsung melirik jam tangannya.
"Kau gila Lu?! Sekarang sudah jam 9! Mana mungkin dia betah menunggumu. Pasti sudah dirumah. Kita kerumahmu!" Luhan hanya mempoutkan bibirnya mendengar perkataan Sehun. Dan merekapun menuju rumah Luhan.
Tao POV
"GEGE!" Aku langsung memeluk orang yang baru membukakan pintu ini. Sungguh aku sangat merindukannya, yaa walaupun bukan hyung kandungku. Sedangkan hyung kandungku sedang asik berduaan dengan mayat hidup. Uh! Menyebalkan!
"Tao? Kenapa tak memberitahu gege kalau kau pulang hari ini?" Tanya Chen -Orang yang Tao peluk- iapun membalas pelukan Tao, lalu melepaskannya dan mengusap-usap kepalanya lembut dengan muka yang terlihat khawatir?
"Tadi Tao mengabari Lulu gege ge, tapi dia tak membalas pesan Tao. Dia malah berduaan dengan mayat hidup dipinggir sungai Han saat Tao berjalan-jalan dulu sebelum pulang, aku kesal sekali melihat gege seperti itu. Saat ingin menelepon gege ponselku terjatuh dan rusak. Tapi untung saja aku bertemu dengan Jin ahjussi. Dia mengantar Tao!" Jelasku panjang lebar pada Chen gege. Chen gege sudah seperti gege kandungku sendiri.
Author POV
"Tadi Tao mengabari Lulu gege ge, tapi dia tak membalas pesan Tao. Dia malah berduaan dengan mayat hidup dipinggir sungai Han saat Tao berjalan-jalan dulu sebelum pulang, aku kesal sekali melihat gege seperti itu. Saat ingin menelepon gege ponselku terjatuh dan rusak. Tapi untung saja aku bertemu dengan Jin ahjussi. Dia mengantar Tao!" Jelas Tao panjang lebar. Chen yang mendengar nama Jin disebut langsung melebarkan matanya dan melihat orang itu dibalik pagar. Seperti tak berniat masuk kerumah itu. Chenpun tersenyum kearah Tao.
"Tao sana masuk. Mandi, lalu kita makan malam. Tak apa kan makan jam segini? Pasti Tao lapar?" Taopun mengangguk senang dan berlari masuk kedalam rumah menuju kamarnya. Chen keluar untuk menemui sosok dibalik pagar itu dengan tersenyum.
"Hei hyung, masuklah dulu.. Aku ingin berterimakasih karena kau mengantarkan Tao kesini." Jin yang tadinya menatap jalanan segera menoleh kearah orang yang menyuruhnya masuk itu. Dan betapa kagetnya Jin melihat sosok dihadapannya ini. Chen sudah bisa mengira bahwa respon Jin akan seperti ini. Pasalnya Jin saat bercerita pada Luhan, Luhan tak memberitahu bahwa putra sulung keluarga Kim itu ada dirumahnya. Dan tentu saja Luhan bercerita semuanya pada Chen. Awalnya juga Chen tak percaya akan kenyataan itu. Tapi ia percaya saat ingat bahwa saat ia kecil, ayahnya pernah mengenalkan anak lelaki yang sangat tampan mengenakan seragam JHS dengan perempuan yang cantik saat mereka jalan-jalan ditaman. Ayahnya bilang itu kerabat ayahnya dulu. Chen hanya mengangguk-angguk saja, karena memang ia tak mengerti. Anak lelaki itupun mengajak bermain sedikit menjauh dari ayah dan ibu anak itu yang sedang mengobrol serius. Chen langsung tersadar jika itu adalah Jin.
"Jongdae? Kau Jongdae?"
To Be Continue
Kyaaaa... mianhae baru update sekarang-_- aku gak sempet on pc. dan 4hari yang lalu aku mau on tapi ffn gak bisa dibuka. jadi baru sekarang deh aku on. MIANHAE~~
BIG THANKS FOR REVIEWNYA~~ ^^
kalau ada yang ingin ditanyakan PM saja ne~
REVIEW AGAIN PLEASE~?
