-00-

The Last Train

BTS Fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon. Misteri!

Warning: setiap tanda membedakan alur (maju atau mundur)

-00-

[Taehyung-sentris]

Jimin tidak hadir di kelas. Sama sekali. Sejak kuliah jam pertama hingga jam terakhir. Taehyung sudah berkali-kali mencoba menghubunginya tapi hasilnya nihil. Jimin sama sekali tidak menjawab telpon ataupun membalas pesannya. Nomornya aktif. Itulah yang membuat Taehyung geram setengah mati. Ada apa dengan laki-laki ini?

Sepulang kuliah Taehyung langsung saja pergi ke apartemen sewaan Jimin dengan menaiki kereta jam 5 sore. Ia pergi ke sana dengan bermacam pikiran yang menghantuinya sepanjang waktu, baik itu tentang Jimin, tentang Jungkook, juga Yoongi. Sesungguhnya ada yang harus ia katakan pada Jimin dengan jujur setelah ia dengan sengaja menghubungi nomor ponsel Yoongi kemarin. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan dan juga ia pastikan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Hanya saja diketuk dan dipanggil berapa kali pun tak ada yang menyahut dari dalam sana. Apartemennya terkunci. Slotnya dirantai. Itu berarti Jimin tidak ada.

Ia mencoba mengetuk pintu lain di kanan atau kiri untuk menanyakan perihal keberadaan Jimin. Ada yang membukakan pintunya, dan orang itu menjawab kalau Jimin sepertinya memang tak pulang ke apartemennya sejak kemarin. Biasanya derit pintu dan suara-suara kegiatan di dalam kamar itu akan terdengar oleh yang di sebelahnya. Tapi sejak semalam lampunya tidak menyala. Sepi. Hening. Pagi hari pun biasanya Jimin akan keluar dan berdiri di depan kamarnya untuk melihat matahari terbit. Tapi pagi ini pintunya masih tetap terkunci, dan lampunya masih padam. Taehyung mulai berpikir bahwa Jimin mungkin saja pulang ke Busan karena ada urusan mendadak. Tapi rasanya tak mungkin juga karena laki-laki itu tipikal yang akan memberitahu apapun termasuk hal-hal kecil. Apalagi jika menyangkut keluarganya di Busan. Ia pasti akan mengatakan sesuatu; pamit pulang setidaknya. Taehyung betul-betul hapal akan itu.

Lantas, kemanakah ia?

Pertanyaan yang sama kemudian tetap menggantung di kepala Taehyung sampai tiga hari setelahnya. Jimin tidak kuliah, tidak pulang ke apartemen dan tidak menjawab panggilan telponnya. Nomornya tidak aktif sejak hari ke dua ia menghilang. Ya, Jimin menghilang karena tidak ada yang tahu laki-laki itu pergi ke mana. Teman sekelas, tetangga apartemen pun sama tak tahunya. Sedangkan jika Taehyung menghubungi orangtua Jimin di Busan, mungkin ia akan menyebabkan kekhawatiran. Ia tak ingin mereka juga ikut-ikutan cemas sepertinya. Jimin adalah laki-laki, dan ia mungkin punya alasan yang membuatnya harus pergi tanpa memberitahu siapapun.

Tapi…

Tetap saja.

"Akh!" Taehyung mendecak frustrasi. Ia mengacak rambutnya kasar hingga menjambak-jambaknya beberapa kali. Sesungguhnya suara tembakan peluru dan teriakan para angkatan darat Amerika dari film itu makin memperburuk suasana hatinya. Tapi ia bahkan terlalu pusing untuk sekedar mengambil remote dan mematikan televisi. Ia menghempaskan kepalanya ke sofa, bersandar dan memandang langit-langit.

Tiba-tiba saja perkataan Jimin terngiang di telinganya.

"Dia pulang kerja mendekati jam 11, kami pasti bertemu di sana tanpa harus membuat janji."

Ia menyambar jaket tanpa basa-basi. Niatnya adalah untuk pergi ke stasiun. Sebentar lagi pukul sebelas. Entah mengapa, keputusannya terasa benar meski ia tahu itu salah. Amat salah dan mungkin hanya akan membuatnya semakin terlihat bodoh. Tapi, ia akan pergi.

Ping! Ponselnya berdering. Ada pesan masuk. Taehyung membacanya.

From: Hwang-ahjumma

Tae, Jungkook tidurnya lelap sekali, Bibi tidak berani membangunkannya. Kalau dia menginap di sini saja tidak apa-apa 'kan? Besok pagi akan Bibi antar dia ke rumahmu.

Begitu pesannya. Dari tetangga yang biasa menjaga Jungkook ketika Taehyung kuliah.

To: Hwang-ahjumma

Ya. Tidak apa.

Dia hanya membalas sekenanya, lantas melempar ponselnya ke sofa dan mengambil kunci pagar.

.

Ia memang orang bodoh. Orang bodoh yang berharap. Orang bodoh yang percaya pada harapannya dan menyangkal logikanya. Tapi ia bodoh untuk sekali ini saja, demi menghentikan kekacauan dalam kepalanya dan kegundahan dalam hatinya. Ia masuk stasiun, menempelkan e-ticket di scanner, melewati portal seperti seseorang yang hendak menaiki kereta. Tapi memang, ia hendak naik kereta.

Kereta di peron 2 adalah tujuannya. Ia masuk dari gerbong paling belakang, bertepatan dengan itu, peringatan bahwa kereta akan segera berangkat pun menggema. Sebelum pintu menutup otomatis dan kereta mulai berlari di atas rel, ia berjalan menyusuri gerbong. Inginnya ia mencari. Mencari seseorang yang selalu pulang dengan kereta ini setiap jam 11. Seseorang yang selalu duduk di gerbong kosong. Dan Taehyung memang mencarinya, mencari dengan melewati gerbong-gerbong itu, satu-satu hingga menemukan sebuah gerbong yang benar-benar diisi satu orang saja. Tapi, ia telah melewati tiga gerbong kosong, yang benar-benar kosong. Masih ada 3 gerbong lagi memang, lantas, akankah yang ia cari itu ada di sana?

Menyangkal logika memang seperti berjalan dalam mimpi. Tapi ia melihatnya.

Seseorang yang duduk sendirian dalam sebuah gerbong yang kosong.

Taehyung mematung tepat setelah ia masuk ke gerbong itu, berdiri memunggungi pintu penghubung. Kereta berguncang dan sesekali menimbulkan suara benturan kecil. Handle gantung pada besi penyangganya berayun-ayun tak henti. Tapi orang itu masih di sana. Dan kini menoleh padanya dan memberinya setatap mata sehitam arang.

Taehyung memejamkan mata dan mengusap dahinya sendiri. Merasa lucu. Merasa benar-benar tertelan mimpi. Ia jelas-jelas tidak mungkin terjadi. Melihat seorang Min Yoongi.

Ia berjalan gontai mendekati laki-laki itu. Tentu dengan balas menatapnya lamat-lamat. Taehyung mungkin jadi gila.

"Kau benar Min Yoongi, 'kan?"

Dia persis dengan yang Jimin ceritakan. Berkulit seputih kapas, dengan rambut hitam legam berkilau, dan setatap mata yang menawan.

Dan seperti kata Jungkook.

Wangi.

Aroma lembut tipis yang merasuk seakan meluruhkan segala kebingungannya dan menggantinya menjadi sebuah kekaguman. Kekaguman yang sedikit membuat tangannya mendingin dan bergetar. Juga napasnya tercekat.

"…ya."

Jawaban dengan satu nada itu membuat Taehyung ingin memastikan bahwa ia masih ada dalam sadarnya. Ia menarik napas panjang dan membuangnya dengan pelit. Laki-laki itu masih menatapnya dalam duduk, mendongak. Dan Taehyung juga tak beranjak dari hadapannya. Hanya berdiri dengan bertahan pada handle gantung.

Mereka sama-sama diam untuk jeda yang cukup lama. Tenggelam dalam keheningan di dalam kereta.

"Jimin menghilang. Kau tahu di mana dia?"

Dengan pertanyaan itu seharusnya Yoongi sudah tahu kalau Taehyung adalah teman Jimin tanpa perlu memperkenalkan diri. Tapi Taehyung sendiri sangsi ia akan mendengarkan sebuah jawaban dari mulut itu. Mulut yang terkatup.

"…aku tak tahu."

Suaranya berat dan pelan. Gelengnya menggerakkan kepala itu sedikit. Taehyung masih tak melepaskan matanya dari sosok itu. Ia butuh sesuatu untuk meyakinkan diri. Butuh bukti bahwa ia tak benar-benar tertelan oleh mimpi.

"Kau sudah mati, Min Yoongi. Bagaimana bisa kau terlihat begitu nyata?" lirihnya.

Manik itu bergerak turun tak lagi memandang Taehyung, tapi tangannya. Lantas Taehyung merasakan segenggaman tangan yang begitu dingin. Amat dingin seperti dicumbu salju bulan Desember. Ia merubah arah pandangnya pada genggaman itu. Tangannya yang terjuntai bebas telah berada dalam sentuhan Yoongi yang beku.

"… mungkin memang begitu. Aku terlihat nyata bagimu. Dan ya, kau benar. Aku sudah mati."

Taehyung butuh pembuktian lebih. Ia membalas genggaman tangan itu, merasakan dingin yang kontras dengan panas tubuhnya sendiri. Tapi kulit dingin itu nyata, dan lembut sekali. Lalu muncul sebuah perasaan di mana ia tak ingin melepaskan tangan itu.

"Lantas mengapa kau masih di sini?" pertanyaan itu Taehyung layangkan sementara ia mendudukkan diri tanpa melepaskan tangan itu sama sekali. Ia tak mau melepasnya, pun dengan tatapan itu. Ia tak mau berpaling.

"Aku tak bisa pulang."

Mata itu menggambarkan beberapa kepingan memori. Taehyung bagai tersedot ke dalamnya.

[…]

"Halo?"

"Halo, Yoongi? Benar ini nomor Yoongi?" tanyanya memastikan.

"Oh… maaf… Anda siapa? Saya ibunya Min Yoongi."

"Saya…" Taehyung butuh alasan untuk berbohong. "Saya teman lamanya Yoongi. Saya baru mendapat nomor ini setelah lama lost contact dengannya."

Taehyung sedikit menggigit bibir bawahnya. Yang sudah ia katakan itu benar atau tidak, ya? Batinnya resah. Ia tidak menyangka kalau yang mengangkat telpon itu bukanlah si pemilik nomornya. Sial. Jika tiba-tiba ia putus sambungan telpon itu, sungguh tak sopan sekali. Tapi apa yang harus ia katakan pada wanita di line seberang ini?

"Apa saya bisa bicara dengan Yoongi?"

"Ah, maaf jika Anda belum tahu, tapi anak saya… dia sudah tidak ada."

"M-maksud Anda?" Taehyung mencelos.

"Yoongi sudah meninggal."

Ia memalingkan wajahnya sesaat. Ini tidak mungkin.

"Oh, maaf… saya benar-benar tidak tahu-menahu soal ini. Maafkan saya. Tapi saya kira… Anu, saya mendapat nomor ini dari mantan rekan kerja Yoongi. Saya kira ini nomor ponselnya." bohongnya. Taehyung benar-benar berpikir keras untuk mencari alasan. Ia sungguh tak merencanakan semua ini, termasuk mendengar ucapan wanita di telpon itu yang mengatakan… bahwa Yoongi sudah tidak ada.

"Dulu memang iya, Yoongi sempat menggunakan nomor ini tapi kemudian ia memberikannya pada saya."

"Maaf, bu. Saya benar-benar tidak tahu. Saya minta maaf…"

"Tidak apa-apa."

"Kalau boleh saya tahu, kapan Yoongi meninggal?"

"Dua tahun lalu."

"Dia… sakit?"

Taehyung hanya mendengar desisan. Ada jeda agak lama sampai kemudian ibu Yoongi bicara lagi.

"Dia tidak sakit, dia… dibunuh."

Taehyung terdiam. Ia menelan ludah. Satu kata yang terucap dari mulut ibu Yoongi itu membuat segalanya seakan berhenti. Dibunuh?

Ia menggenggam ponsel hitam itu dengan erat, mencoba mengembalikan ketegarannya yang sempat hilang setelah tahu Yoongi sudah meninggal dengan cara yang...

"Ah… anu…" dia gemetaran. Benar-benar merasa terguncang mendengar berita itu. "Mengapa… ia bisa…?" Taehyung bahkan tak berani menyebut kata itu.

"Saya tidak tahu apakah saya harus membicarakan ini, tapi karena Anda teman Yoongi, Anda punya hak untuk tahu…" ibu Yoongi terdengar ragu untuk bicara. "Dia dibunuh oleh orang suruhan bosnya. Saya tidak mengerti, saya tidak mengerti mengapa ada orang sekeji itu yang tega membunuh Yoongi. Dia anak yang baik, saya tahu mungkin dia tak banyak bicara dan tak pandai bergaul, tapi saya yakin Yoongi tak seharusnya meninggal dengan cara yang mengerikan seperti itu… Anak saya, tidak mungkin menyakiti hati orang 'kan?"

Nada-nada itu semakin emosional dia setiap kalimatnya. Taehyung mendengar ibu Yoongi menangis, dengan isak yang tertahan. Wanita ini pasti adalah wanita yang tegar, ia mampu menceritakan peristiwa kelam yang dialami anaknya. Taehyung menggigit bibirnya sendiri. Dia tak tahu kalau kenyataan benar-benar menyakitkan. Sakit mendengar tuturan dari seorang ibu yang ditinggal anaknya dengan cara yang tragis.

"Saya hanya bisa berdoa untuk Yoongi, dan untuk Anda. Pasti berat sekali, tapi saya rasa Anda wanita yang sungguh tegar. Terima kasih telah menceritakan ini pada saya. Sekali lagi terima kasih, dan maaf telah menanyakannya."

"Tidak apa, sungguh tidak apa. Maaf jika saya bicara terlalu banyak." Ada tawa yang dipaksakan keluar di ujung kalimat itu. Setiap manusia memang tak sesungguhnya tegar seperti karang, tapi manusia mencoba. Mencoba menjadi pribadi yang tegar. Bagi Taehyung, tawa itu berarti usaha ibu Yoongi untuk tak membuat dirinya merasa khawatir.

"Maaf saya telah mengganggu. Tapi terima kasih karena telah menjawab telpon saya…"

"Ya, sama-sama…"

"Tae, sedang apa kau di situ? Memangnya Ibu Nam tidak masuk kelas?"

[…]

Taehyung mengikuti laki-laki itu turun dari gerbong sesaat setelah pintu terbuka.

Dia yang berkemeja putih itu berjalan dengan memantulkan suara pantofelnya di peron beraspal. Bunyinya tap-tap pelan tapi merobek keheningan di malam yang semakin larut di stasiun.

"Dan kau akan diam disini, menunggu hingga esok tiba."

Yoongi berhenti untuk menoleh ke belakang.

"…ya."

Min Yoongi hanyalah seorang karyawan biasa. Bekerja sebagai salah satu staff di kantor konsultan keuangan bernama Zahl. Ia bolak-balik kantor menggunakan kereta tiap harinya. Pergi pagi dan pulang pukul tujuh malam. Jika ada lembur, terpaksa ia pulang sangat larut dan harus naik kereta terakhir.

Kehidupannya berjalan normal di minggu-minggu pertama ia bekerja. Namun semakin hari gelagat atasannya semakin membuat Yoongi tak nyaman. Laki-laki itu sering datang padanya hanya untuk memberikan setumpuk pekerjaan, kadangkala membawakannya kopi dan kue, atau menggodanya dengan mengambil kursi di depan meja Yoongi tanpa ada niat untuk pergi selama beberapa jam. Awalnya hanya begitu. Yoongi merespon alakadarnya, dengan rasa hormat sebagai bawahan. Hanya saja lama-lama perlakuannya jadi tak wajar. Sikapnya jadi tak lagi sebagaimana mestinya; dari atasan pada bawahan. Laki-laki itu sering masuk ke ruangan Yoongi, mengunci pintu, kemudian memeluknya, menyentuhnya, dan menciuminya dan melukai Yoongi bila ia melawan. Sikapnya sangat kasar jika menerima penolakan. Dan lagi, Yoongi tak berdaya. Ia takut oleh ancaman orang besar macam laki-laki yang kaya dan berkuasa itu. Yoongi hanya takut, karena sumpah serapah berupa ancaman yang telak membuatnya tak berkutik itu menyangkut keluarganya. Ia tak bisa lari.

Namun, di kemudian hari ia berniat untuk benar-benar lari. Pergi. Laki-laki itu telah merenggut segalanya di suatu malam lembur. Yoongi membiarkan laki-laki bangsat itu tertawa selama satu hari. Esoknya ia datang ke ruangan atasannya hanya untuk menyiram wajah laki-laki itu dengan air keras, kemudian pergi dari hadapannya tanpa mengatakan apa-apa. Kesakitan dan luka yang didapatnya dari laki-laki itu telah membangkitkan agresi dalam dirinya. Ia ingin membalas dan tertawa kemudian, setidaknya melihat atasannya yang congak itu menderita membuat pedihnya sedikit terobati, meski ia telah kehilangan dirinya sendiri.

Sayang, kepulangannya malam itu diikuti oleh tiga laki-laki yang ternyata adalah suruhan atasannya. Ia disiksa dan dilecehkan dalam sebuah gerbong kosong. Napasnya berhenti dalam cekikan setelah perlawanannya yang terakhir. Yoongi tewas dalam kereta itu. Tubuhnya kemudian dibuang tak jauh dari stasiun S tempat nyawanya dihabisi.

Taehyung terbangun oleh panggilan seorang pegawai stasiun pagi itu. Ia telah menghabiskan malamnya di bangku stasiun, tidur meringkuk seperti gelandangan. Orang-orang melirik-lirik ke arahnya sesekali.

Ingatannya hanya sampai pada ketika ia mengikuti Yoongi keluar dari kereta. Selebihnya tak ada yang tergambar dalam kepalanya sama sekali. Meski ia tak menemukan laki-laki itu di sampingnya, atau di bagian manapun di stasiun itu saat ia berkeliling untuk mencari, ia tahu Yoongi memang nyata; dan ada.

Ia tahu bahwa yang ia dengar dari telpon dengan ibu Yoongi, dan kejadian yang entah bagaimana, samar namun betul melekat dalam ingatannya itu membuka lapang sebuah tabir yang tersembunyi. Hanya saja ia belum tahu kemana Jimin pergi, dan mengapa Yoongi terikat pada tempat itu.

Ia harus menemukan Jimin sekarang juga.

-00-

TO BE CONTINUED

Jeng jeng jenggggg! Identitas Yoongi udah terbongkar huahahahaha *proud*

Yang selama ini udah nebak Yoongi hantu, selamat Anda benar *tebar confetti*

Jadi kenapa harus ragu? Kenapa yakin nggak yakin? padahal udah bener dari awal lho xD