Pain#7
Main cast YEWOOK
Other cast akan muncul seiring berjalannya cerita
Rated : T
Warning : YAOI, AU, OOC, alur lambat, typos, dan kekacauan lain, GS for some cast
Genre : romance, angst, drama,
Enjoy!~~
################################################## #########################
0000000000000000000000000ooooooooooooooooooooooo00 00000000000000000000000
himalayavenus
/XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
"Junsu, apa sudah beres?" tanya seseorang di seberang telepon.
"Ne. Tapi, aku ketahuan, bagaimana ini?" tanya Junsu cemas saat ini ia berada di Incheon Airport..
" Apa kau sudah akan berangkat?"
"Ya, sebentar lagi aku akan berangkat ke sana. Kau hati-hati." jawab Junsu.
"Sebaiknya kau yang lebih berhati-hati." suara itu membalas sambil terkekeh.
Pip. Telepon ditutup. Junsu kembali duduk tenang di boarding room, sebentar lagi maskapai Korea Airlines dengan tujuan Jepang berangkat. Ia akan segera pergi dari Korea. Sementara Yoochun suami Junsu baru sampai di rumah mereka. Ia menggeledah semua ruang di rumahnya, tapi nihil Junsu tak ditemukan. Ia terduduk di lantai, pakaiannya berantakan, rambutnya awut-awutan. Ia tidak menyangka bahwa istrinya akan menjadi tersangka utama dalam kasus ini. Dan yang semakin membuatnya kecewa adalah ia tidak mendapati Junsu di rumah mereka.
Tak lama Changmin sampai di rumah Yoochun. Ia langsung membopong Yoochun ke sofa. Changmin segera datang karena Yoochun mengirim pesan kepada Changmin. Ia mengatakan bahwa Junsu sudah tidak ada di rumah. Semua barang-barang Junsu pun tidak ada.
"Yoochun ssi, apa yang akan anda lakukan setelah ini?" Changmin bertanya setelah memberikan segelas air putih.
"Molla, aku tidak mengerti mengapa istriku melakukan semua ini. Aku yakin ada orang yang memanfaatkan istriku, Changmin-ah." Yoochun berkata sambil memandang kosong, ia nampak sangat frustrasi.
"Aku harap begitu." Changmin yang sedari tadi berdiri, mulai mengetik-ngetikkan sesuatu di handphonenya. Ia mengirim email kepada Henry dan mengirim sms kepada Siwon, bosnya.
000000000
Siwon baru saja mendapat sms dari Changmin. Ia mengacak rambutnya. Ia awalnya berpikir untuk memproses kasus ini lewat hukum. Tapi setelah mengetahui bahwa memang Junsu pelakunya, ia tidak tega melakukan hal itu. Junsu istri dari sahabatnya sendiri Lee Yoochun, bagaimanapun persahabatan mereka selama puluhan tahun lebih penting. Siwon memikirkan pilihan kedua, yakni berunding dengan Yoochun dan melupakan semuanya. Tapi itu juga tidak mungkin berjalan mulus. Kalau ia melakukan itu, sama saja ia menyakiti hati Jongwoon anaknya yang menjadi korban dan dipandang sebagai orang yang bersalah dalam kasus ini. Padahal Jongwoon sudah meminta maaf kepada publik dan sedang menjalani hukumannya.
Henry sudah rapi, ia duduk di hadapan meja kerjanya. Menyusun laporan sambil menunggu sang bos pulang dari acara olahraga paginya. Tak lama Jongwoon muncul sambil bersenandung senang. Henry otomatis heran melihat tingkah Jongwoon yang akhir-akhir ini memang sangat berwarna. Sungguh merupakan peningkatan kualitas hidup.
"Henry-ah, tolong kosongkan jadwalku sore ini. Bisa kan?" Jongwoon bahkan memohon, padahal gayanya adalah memerintah.
"Sore ini kau ada pertemuan dengan kepala resort, bos." Henry menjawab.
"Kau saja yang wakilkan aku, bisa kan? Paling-paling sore ini aku hanya melakukan survei ringan di sekitar sini. Kau catat semua yang penting dan harus aku tangani, setelah itu laporkan." Jongwoon yang tadinya berada di depan kamarnya sekarang melancarkan puppy eyes gagal di depan Henry.
"Ya,.. kalau sudah begini aku bisa apa..." Henry menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Gomawo." Jongwoon berterimakasih kemudian melengos pergi meninggalkan Henry yang hanya geleng-geleng kepala.
Jongwoon sedang senang, Ryeowook sudah mengingatnya kembali dan tidak menolak ajakannya untuk berteman. Sore ini saja Jongwoon akan mengantar Ryeowook pulang ke Seoul. Awalnya Ryeowook menolak mentah-mentah, tapi bukan Jongwoon namanya kalau ia tidak berhasil memaksa seorang Tan Ryeowook. Jongwoon sengaja berbohong, ia bilang pada Ryeowook bahwa ada dokumen pentingnya yang ketinggalan di Seoul. Jadi dia ingin mengambil sekalian mengantarkan Ryeowook pulang. Padahal demi apapun Jongwoon bisa saja menyuruh Henry untuk melakukan hal itu.
Siwon menelepon Jongwoon. Ia ingin mengatakan pada anaknya kalau ia tidak ingin melanjutkan penyelidikan atas kasus ini. Siwon tidak tega melihat Yoochun yang sekarang ditinggal Junsu tanpa penjelasan apapun. Siwon juga sudah akan menghentikan kontrak kerja Jongwoon di Yongin, ini sebagai permintaan maafnya pada Jongwoon kalau-kalau Jongwoon merasa marah terhadap dirinya. Tapi sedari tadi sudah 10 panggilan Jongwoon belum menjawab.
000000000
Kyuhyun dan Sungmin sampai di bandara Narita. Sungmin sedang berdiri menunggu Kyuhyun yang mengambil bagasi mereka. Sungmin senang setengah mati, ia tidak berhenti senyum dari tadi. Cita-citanya ke Jepang tercapai, bukan hanya itu, ia malah akan menemui keluarga pacarnya di sini. Lamunannya terhenti ketika ia bertabrakan dengan seseorang.
"I'm sorry." Sungmin hanya berkata pelan saat ia mendapati orang itu membersihkan bajunya yang kotor karena milkshake Sungmin yang tumpah. Orang itu hanya mendelik ke arah Sungmin tapi kemudian ia berjalan membawa kopernya kembali. Sungmin hanya tertegun.
"Kaja, Minnie!" Kyuhyun datang dari belakang sambil membawa 2 koper. Ia tersenyum cerah mendapati Sungmin. Sungmin hanya bisa membalas senyum Kyuhyun lalu mereka berdua pergi dengan menggunakan taksi menuju rumah orang tua Kyuhyun.
Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sederhana bergaya kuno. Sungmin menggunakan sandal rumah yang telah disediakan. Ia menggandeng lengan Kyuhyun erat. "Tidak apa-apa, Min. Orangtuaku pasti akan senang melihatmu." Kyuhyun hanya menenangkan Sungmin yang nampaknya takut ditolak oleh keluarga Kyuhyun. Mereka sampai di ruang tamu, di situ sudah berdiri umma, appa, dan kakak Kyuhyun, Cho Ahra.
000000000
Yoona memarkirkan mobilnya di depan Kim Resort. Ia buru-buru berlari ke dalam melewati beberapa pegawai resort yang lalu lalang. Hari sudah sore menjelang malam tapi tidak menyurutkan niat Yoona untuk mencari sang namja pujaan hati, Kim Jongwoon. Ia berlari melewati taman belakang resort yang ditumbuhi berbagai bunga warna-warni. Ada dua orang berjas di situ, yang lainnya hanya tamu resort dengan pakaian santai. Yoona melihat salah satu orang berjas itu, yaitu Henry yang memegang buku dan pulpen tampak antusias mendengar penjelasan dari namja tinggi berjas yang satunya.
"Henry! Mana Jongwoon?" Yoona langsung mengganggu aktivitas dua namja itu. Henry dan namja itu langsung melihat siapa orang tidak sopan yang mengganggu pekerjaan mereka.
"Zhoumi ssi, joesunghae-yo. Aku akan kembali sebentar lagi." Henry langsung undur diri dan menarik lengan Yoona.
"Yoona ssi? Bisakah kau berlaku normal sebentar saja? Aku sedang bekerja, kalau ada perlu denganku kau bisa menelepon atau bicara baik-baik, bukan berlaku tidak sopan begini." Henry marah kepada Yoona.
"Hei, aku tidak ada perlu denganmu. Kau tidak dengar aku bicara apa tadi? Aku bertanya, mana Jongwoon. Aku ada perlu dengannya, bukan denganmu." Yoona mendamprat Henry dengan kata-kata pedasnya, dengan matanya yang melotot juga. Nampaknya Henry lupa, yeoja di depannya ini adalah debu kaki Jongwoon. Tujuannya seumur hidup adalah Jongwoon.
"Mian, aku tahu kau pasti mencari bos. Tapi dia sedang dalam perjalanan ke Seoul."
"MWO?" Yoona berteriak heboh. Ia merasa usahanya sia-sia. Sudah jauh-jauh datang untuk menikmati suasana berdua dengan Jongwoon, giliran ia sampai Jongwoon malah sedang dalam perjalanan menuju Seoul. Henry hanya menatap dengan wajah datar, merasa kasihan dengan yeoja yang cintanya tak pernah terbalas ini. Henry langsung menyusul Zhoumi, meninggalkan Yoona yang terduduk lemas di tanah. Yeoja itu terlalu lelah untuk melakukan perjalanan kembali ke Seoul.
Jongwoon menyetel radio mobilnya. Mencoba mencari lagu-lagu yang enak didengar supaya suasana mobil tidak begitu canggung. Ryeowook hanya memeluk tasnya, namja kecil itu melihat pemandangan luar yang sebenarnya tidak terlalu menarik jika dibandingkan dengan Jongwoon. Bunyi lagu yang tidak karuan karena berganti-ganti agak mengganggu. Jongwoon tidak tahu Ryeowook suka lagu apa, lagi pula dari tadi lagunya aneh-aneh semua. Tapi Jongwoon bersikeras untuk mendapatkan lagu yang bagus.
PLUK
Tangan kiri Ryeowook terulur, ia menahan tangan kanan Jongwoon yang sibuk memencet layar tak berdosa itu. Jongwoon kaget, ia menolehkan kepalanya melihat wajah Ryeowook.
"Tidak perlu, kita sudah hampir sampai. Kau memilih memutar lagu, tidak ingin berbincang denganku?"
"Aku pikir, kau lelah. Kita sudah banyak bicara tadi. Kau tidak ingin tidur, sambil mendengar lagu?"
Ternyata Jongwoon memutar lagu untuk membiarkan Ryeowook rileks lalu tidur. Tapi gagal.
"Sok tahu sekali. Memangnya semua orang akan tidur kalau mendengar lagu?" Ryeowook pura-pura mencibir. Ia senyum padahal.
"Haha, aku pikir begitu. Aku sok tahu sekali ya?" Jongwoon hanya tertawa garing, ia malu sekali.
"Ne, kau sok tahu sekali. Jongwoon ssi, apa kau punya makanan?" Ryeowook bertanya.
"Apa kau lapar? Sepertinya akan ada tempat makan sebentar lagi. Kau masih bisa tahan kan?" Jongwoon khawatir. Ia melajukan mobilnya, takut kalau-kalau...
"Kau sok tahu lagi. Aku bertanya padamu, Jongwoon ssi apa kau punya makanan? Seharusnya kau menjawab, aku tidak punya, Ryeowook ssi. Atau, aku punya beberapa makanan, Wookie-ah. Ini malah meramal dan langsung menentukan kalau aku lapar. Tapi biarpun kau sok tahu, kau tidak salah, aku memang lapar." Ryeowook berbicara lancar. Ia tidak ragu lagi untuk tersenyum, Jongwoon hanya memegang setir kuat-kuat, tubuhnya bergetar melihat Ryeowook begini.
Ryeowook membuka tasnya, mengeluarkan kotak makan persegi panjang. Tutup kotak makan itu dibuka dan nampaklah kimbap yang tersusun rapi. Sangat menggoda untuk segera dilahap. Ryeowook mengambil satu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Jongwoon ikut lapar melihat kimbap dan Ryeowook yang makan dengan gaya begitu menggoda itu, pipinya menggembung.
"Kau mau? Ambillah." Ryeowook menawarkan kotak makan itu ke Jongwoon dengan dua tangannya. Jongwoon hanya diam lalu tersenyum menyeringai.
"Aku sedang menyetir, dua tanganku sibuk. Bisakah kau –"
"Tadi kau masih bisa mengutak-atik radio mobil selama kurang lebih 10 menit. Apa ada masalah memegang setir dengan satu tangan saja?"
"Aigoo, tanganku kotor sekali. Lihat Wookie-ah, mobil ini sudah 3 bulan tidak dicuci, semuanya kotor. Perutku lapar sekali... Suapkan?" lihatlah Kim Jongwoon, ia tidak kehilangan akal.
"Araseo, araseo. Buka mulut."
Jongwoon langsung menyambut suapan Ryeowook, ia tersenyum senang sekali. Mata sipitnya sampai kelihatan segaris. Ryeowook juga tersenyum melihat orang di sampingnya kegirangan. Mereka makan sampai kimbap yang Ryeowook beli tadi siang itu habis. Mereka sekarang benar-benar sudah sampai di Seoul. Ryeowook akhirnya tidur juga. Ia mendekap erat tasnya, posisinya miring menghadap Jongwoon, Jongwoon sudah menyetel AC supaya tidak terlalu dingin tapi nampaknya Ryeowook masih dingin juga. Jongwoon berhenti sebentar, ia mengambil selimut yang tersembunyi di dalam tasnya yang ditaruh di jok belakang mobil Henry ini. Jongwoon meminjam mobil Henry karena ia tidak membawa mobilnya saat ke Yongin. Jongwoon sudah bersiap, ini salah satu peralatan penting kalau bepergian sampai malam hari begini. Jongwoon segera menyelimuti Ryeowook, Ryeowook diam saja. Ia nampaknya keenakan dan merasa hangat, namja mungil itu malah makin menenggelamkan tubuh dibalik selimut. Jongwoon yang melihat hanya tersenyum cerah, ia ingin berteriak bahagia sekarang.
000000000
Henry mengistirahatkan tubuhnya yang pegal. Ia berbaring di kamarnya. Sebentar kemudian namja itu bangkit lalu mengambil buku catatannya dan beberapa map plastik. Henry mengambil kacamatanya lalu mulai membuka buku catatannya. Ia melihat tulisan-tulisan tangannya. Ia teringat namja kepala resort yang menjelaskan semua hal dengan sabar tadi siang. Zhoumi, namja itu sunbaenya waktu kuliah dulu. Henry menyukai Zhoumi diam-diam. Tapi waktu itu Zhoumi cukup populer dan bisa dipastikan ia tidak mengenal Henry. Tapi tiba-tiba Henry pindah ke Korea mengikuti orangtuanya. Begitu pula dengan Zhoumi, setelah lulus kuliah, ia direkomendasi untuk bekerja di resort Kim Group ini. Siapa yang menyangka mereka berdua bertemu lagi?
Henry hanya senyum. Ia seperti remaja jatuh cinta, melompat-lompat senang. Ia tidak pernah melupakan Zhoumi sedikitpun. Ia ingin memulai hidup yang lebih bahagia lagi. Namja pendek itu langsung mengemas berkas-berkas dan membawa catatannya ke dalam kamar. Ia tidur nyenyak sekali malam ini.
Jongwoon sudah sampai di depan gang rumah Ryeowook. Jongwoon lelah sekali, badannya pegal semua. Tapi ia tidak ingin Ryeowook melihatnya lesu begini. Ia cepat cepat mengambil botol air mineral dan menyipratkan wajahnya dengan air. Bermaksud mencuci muka, supaya kelihatan segar lagi. Setelah selesai, ia ingin membangunkan Ryeowook. Sebenarnya Jongwoon ingin melakukan cara yang lebih praktis yaitu menggendong Ryeowook saja. tapi ia tidak mau dihajar tetangga-tetangga Ryeowook. Ia juga tidak mau Ryeowook salah sangka padanya, mengira ia ingin melakukan hal yang aneh-aneh. Jadi Jongwoon mulai menggenggam tangan Ryeowook untuk membangunkannya.
Cara yang Jongwoon lakukan termasuk unik, ia membangunkan orang dengan mengelus tangannya. Sebenarnya Jongwoon bukan membangunkan Ryeowook, ia malah membuat Ryeowook kegelian. Jongwoon akui dia sangat ingin memegang tangan Ryeowook dari tadi, kalau bukan sekarang entah kapan lagi kesempatan emas ini akan menghampirinya. Selimut Ryeowook juga sudah turun hanya menutupi paha sampai kakinya.
"Engh..."
"Wookie,.. kita sudah sampai..." Jongwoon berbisik. Kepala besar ini sungguh tidak tega membangunkan Ryeowook. Ryeowook hanya menggeliatkan badannya. Ia meregangkan otot tangannya, tangan kanannya menyentuh bagian depan mobil Jongwoon. Tangan kirinya menyentuh kaos Jongwoon. Jongwoon yang melihat itu hanya bisa tersenyum, ia melihat lengan kiri Ryeowook yang memarnya sudah hilang. Ia juga melihat gelang perak bandul kristal yang sangat indah milik Ryeowook itu, mengingatkannya akan sesuatu. Ryeowook sekarang mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menormalkan penglihatan.
"Kita sudah sampai? Gomawo Jongwoon ssi,.. mian merepotkanmu."
Jongwoon diam, ia masih melihat wajah Ryeowook dengan mata tajam.
"Jongwoon ssi?" Ryeowook bertanya.
"Ah, ne. Kau tidak merepotkan aku sama sekali, Wookie. Aku malah senang bisa mengantarmu ke Seoul." Jongwoon menjawab.
"Ne. Terimakasih sudah mengantar, aku masuk dulu." Ryeowook hendak membuka pintu mobil. Tapi Jongwoon mencegatnya.
"Tunggu dulu, Wookie."
000000000
Siwon menggenggam handphonenya erat. Ia mondar-mandir di ruang kerjanya dengan cemas. Ini sudah berlalu 3 jam sejak ia menghubungi Jongwoon tadi, tapi tidak ada jawaban atau balasan atas semua pesannya. Siwon sudah mengantuk, ia hampir jatuh tertidur, tapi tiba-tiba handphonenya berdering.
"Appa, mian. Handphoneku baru ketemu. Ada apa appa?"
"Jongwoon-ah. Appa tidak ingin melanjutkan kasus ini. Kau juga sudah boleh kembali bekerja di Seoul lagi. Appa akan segera memutuskan kontrak kerjamu di Yongin." Siwon berbicara.
"Wae?" Jongwoon bertanya.
"Appa rasa kita tidak perlu membesarkan masalah ini. Belum pasti Junsu adalah pelakunya, kita terlalu gegabah kalau memvonisnya langsung begitu." Siwon menjelaskan.
"Aku tidak masalah jika appa ingin menutup kasus ini. Tapi aku ingin meminta dua hal. Tolong jangan putuskan kontrak kerjaku di Yongin, aku masih ingin membuktikan pada publik bahwa aku manusia yang bertanggung jawab, appa." Jongwoon menjelaskan.
"Jika itu maumu, baiklah, appa akan mengabulkannya. Kau bebas bekerja di Yongin sampai batas waktu yang kau tentukan."
"Dan satu lagi, appa. Jangan memberitahu siapapun bahwa kita berdua sudah melupakan dan tidak ingin melanjutkan kasus ini. Aku takut, media akan membahayakan posisi Junsu ahjumma dan Yoochun ahjussi."
"Ne, kau benar. Appa akan merahasiakannya." Siwon mengangguk.
"Gomawo, appa. Hari sudah malam, selamat tidur." Jongwoon mengucapkan kalimat itu kemudian menutup telepon.
Jongwoon meletakkan handphonenya di meja. Ia baru saja sampai di rumahnya 15 menit yang lalu setelah mengantar Ryeowook. Saat ia datang rumahnya kosong melompong. Ia tahu sudah kebiasaan appanya jika ada masalah pasti akan memilih tidak tidur di rumah. Sedangkan ummanya juga akan melakukan hal yang sama jika sang suami tidak pulang. Yeoja paruh baya itu akan berkelana mencari kasih sayang di luar rumah.
Jongwoon berlari kecil, ia membuka laci ranjangnya. Ranjang Jongwoon berbahan kayu, di sisi kiri kotak kayu itu, ada laci kecil yang tidak akan terlihat jika kita tidak menyingkap sprei yang menyentuh lantai. Dengan buru-buru Jongwoon menarik laci kecil itu, ia mengambil sebuah kotak. Dibukanya dan nampaklah gelang perak berbandul kristal. Gelang itu indah tapi agak kusam. Jongwoon mengambil handphone yang ada di sakunya. Ia membandingkan foto di handphonenya dengan gelang itu.
"Kenapa bisa sama begini?.."
Flashback
"Tunggu dulu, Wookie."
"Wae?" Ryeowook membalikkan badannya lagi.
"Itu,. Gelangmu. Indah sekali, bolehkah aku melihatnya?" Jongwoon meminta izin.
"Ini? Tentu saja. Tapi mengapa Jongwoon ssi tiba-tiba tertarik dengan gelang ini." Ryeowook melepas kaitan gelangnya menyerahkan pada Jongwoon. Jongwoon memandang gelang dengan teliti.
"Aku hanya merasa ini mirip dengan punyaku yang ada di rumah.." Jongwoon menjawab, matanya masih tak lepas dari gelang itu.
"Jinjja? Tapi gelang ini hanya ada 2 di dunia ini..." Ryeowook masih memandang Jongwoon.
"Bagaimana bisa?" Jongwoon langsung menatap Ryeowook. Yang dipandang hanya kaget.
"Ani... aku hanya berkata asal.." Ryeowook langsung meralat ucapannya.
Jongwoon langsung memotret gelang itu. Setelah selesai, ia mengembalikannya pada Ryeowook.
"Ini. Gomawo Wookie." Jongwoon tersenyum sambil memasangkan gelang itu di tangan kiri Ryeowook.
"Ne. Aku masuk dulu. Jongwoon ssi hati-hati di jalan." Ryeowook berkata dengan cepat, mukanya merah karena tingkah Jongwoon barusan. Jongwoon hanya tersenyum ria dengan tingkah Ryeowook. Ia menunggu Ryeowook masuk ke rumahnya. Setelah itu Jongwoon langsung melaju ke rumahnya sendiri.
End of flashback
Tbc
Hai ! ini pain chapter 7. Saya rasa ff ini membuat readers pusing... kalo ada yang pusing silakan review saya, setelah itu beli obat pusing. *ditampol* selama berdiam diri di rumah saya memikirkan beberapa hal yang menyangkut ff ini. Dan dari otak saya yang tidak beres lahirlah semua yang di atas itu *tunjuk atas* saya sendiri bingung akan seperti apa jadinya nanti. Tapi saya akan berusaha menyelesaikan ff ini, masalah yang sudah saya ciptakan akan saya selesaikan dengan cara saya.. tapi saya mungkin tidak bisa selalu update cepat dikarenakan ya kalian tahulah, otak saya ngepas. Tapi tidak henti-hentinya saya ucapkan terimakasih. Terimakasih. Terimakasih. Seribu terimakasih (readers : mana? Baru empat tuh ?) buat semua readers yang dengan setia menunggu, membaca, mereview, menanti, memimpikan, memikirkan, jatuh cinta, mencintai, menyayangi ff ini . walaupun saya sudah tahu persentasenya sangat rendah, saya sangat berterimakasih..
GOMAWO READERS! I LOVE YOU! *teriak di lampu merah
Ada niisaa9 , dyahYWS , Nuraya sarang , Yewook Turtle , ichigo song , EternalClouds2421 , ryeofha2125 , hideyatsutinielf , meidi96 , SarangRyeong9 , Cloud246 , Reyna Kim ,
ada dua readers lagi yang saya belum sebut karena saya tidak tahu kenapa setiap saya ketik selalu namanya hilang lagi... ah, aku benar-benar menyesal karena gaptek begini. . jeongmal mian
kalo masih ada yang lewat , protes lewat review oke?
Percaya atau tidak, saya senyam-senyum sendiri ketika membaca feedback kalian..
*digiring masuk ambulans*
