Posted on 28 Februari 2013
Warning : Boys LOVE! Garing! OOC! AU! REAL PERSON! TYPO! Plot ngawur.
Disclaimer : Them self.
Rate : T
.
.
Last chap:
Junsu menatap Jaejoong tidak percaya, "Yunho-hyung tidak pernah cerita apapaun?"
Jaejoong menautkan alisnya, "Tidak. Kau siapa?"
Junsu menepuk dahinya, "Aish, si bodoh itu," dia tampak mengumpat pelan. Setelah itu kembali tersenyum ke arah Jaejoong, "Aku mantan kekasih Yunho, salam kenal. Dia banyak cerita tentangmu, loh."
.
.
CHANGE!
-Z-
.
YunJae Fanfiction
.
Wae?
Selama ini Jaejoong selalu rajin meceritakan apapun yang pernah dia alami pada masa lalu. Tidak ada setitik kebohonganpun yang pernah dia sampaikan kepada Yunho. Jaejoong bahkan mengaku walaupun dia berengsek seperti ini, Yunho adalah ciuman pertamanya dan sex pertamannya. Hal yang membuat dia liar di ranjang adalah kebiasaan yang sering di alami oleh para lelaki. Menonton film porno.
Yunho hanya bercerita pernah memiliki kekasih sekali dengan yeoja. Nama Junsu sama sekali tidak pernah keluar dari bibir Yunho.
Kini dirinya dan Junsu tampak sedang makan siang bersama. Jaejoong hanya diam melihat Junsu yang asyik bercerita. Makanan di hadapannya sama sekali tidak disentuhnya.
Junsu menepuk tangan Jaejoong yang ada di depan meja, "Kau tahu? Dulu sewaktu kecil, sebenarnya Yunho itu cengeng! Aku bersamanya dari kecil hingga dia berumur 17 tahun. Kami memutuskan untuk berada di universitas yang berbeda. Selain itu orangtuaku pindah ke Kanada. Kami hampir lost contact, tapi akhir-akhir ini kami kembali berhubungan. Dan dia mengatakan sudah memiliki kekasih yang cantik," cerita Junsu. Namun Jaejoong merasakan ada nada getir di akhir kalimat Junsu.
Jaejoong tersenyum tipis merespon ucapan Junsu. Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi. Tidak ada yang bisa dia banggakan dari hubungannya dengan Yunho sekarang. Karena Junsu yang memiliki semuanya!
Sejak kecil bersama Yunho—dan tentunya membuat pria itu mengetahui seluk-beluk sifat Yunho.
Kekasih pertama Yunho.
Ciuman pertama Yunho.
WTF?! Menyebalkan sekali. Apa dia harus mengatakan bahwa dirinya orang yang pertama melakukan sex dengan Yunho?! Oh itu terlalu frontal.
Dia mengangkat cangkir kopinya dan mulai menyesap kopi yang sudah tidak mengepul itu. Sedangkan Junsu asyik mengaduk-aduk ice cream di hadapannya.
"Jaejoong-ah"—ouch, Junsu sudah memanggilnya seolah mereka teman lama—"Habis dari sini kau akan ke rumah Yunho-hyung?"
"Tidak, memang kenapa?"
Junsu memasukkan satu sedok ice cream kedalam mulutnya, "Sayang sekali. Padahal aku mau kesana."
"Untuk apa?" balas Jaejoong dingin.
Dalam hati Junsu terkekeh melihat reaksi Jaejoong. Pecemburu sekali, "Hahaha, aku benar-benar merindukan Yunho-hyung. Niatnya aku akan menginap di rumah Yunho-hyung sebelum kembali ke Kanada."
"Oh," balas Jaejoong singkat. Tapi walaupun begitu, dalam hati pria itu sudah menyediakan setumpuk kata serapah untuk Junsu, 'Awas saja jika kau berani melakukan sesuatu terhadap Yunho,' geramnya dalam hati.
.
.
.
.
Sudah jam tujuh namun Yunho belum menjemputnya. Jaejoong melipat tangannya dengan manis. Sang ibu yang merasa aneh karena anaknya masih duduk anteng di meja makan pun angkat suara, "Tidak berangkat?"
Jaejoong mendongakkan kepalanya, "Yunho belum jemput," balas Jaejoong lirih. Kesal kekasihnya belum menunjukan tanda-tanda akan datang.
"Telfon saja."
Oh iya! Buru-buru Jaejoong mengambil ponselnya dan menghubungi Yunho.
Tuut Tuu—
"Yeboseo?"
Jaejoong tersenyum kecil Yunho menjawab telfonnya dengan cepat, "Yun! Kau dimana?"
"Aku sedang buru-buru sekarang Jae. Karena Junsu ada disini, kami berniat untuk menonton pertandingan bola. Maaf aku lupa bilang. Kau berangkat sendiri oke? Daah~"
Pik
Yunho mematikan telefonnya.
Jaejoong menatap nanar ponselnya. Ow, yeah… Junsu baru datang kemarin tetapi sudah berhasil mengambil semua perhatian Yunho! Shit.
Tanpa dirinya sadari, Jaejoong menggebrak meja dan langsung pergi begitu saja. Meninggalkan ibunya terbengong-bengong menatap tingkah anak semata wayangnya.
"Pabbo Jung…" desis Jaejoong tajam.
.
.
.
.
Jaejoong melipat tangan di dadanya dan memasang wajah kesal. Dosen yang sedang mengoceh sama sekali tidak dia hiraukan. Pokoknya dia sebal! Hanya karena kedatangan seorang Kim Junsu, Yunho bisa melupakannya? Memangnya Junsu penting sekali, eh? Sampai Yunho lebih memilih untuk pergi dengan Junsu dibandingkan mengantar dirinya?
Ato jangan-jangan Yunho masih menyukai Junsu.
Mereka sudah bersama sejak kecil dan putus karena Junsu berkuliah di Kanada. Berarti mereka berpisah karena terpaksa, kan?
Omona! Hasih, jangan dipikirkan, Jae… Lupakan-lupakaaan… Kalau kau mempermasalahkan hal-hal kecil seperti ini, bisa-bisa emosimu terpancing dan satu bulan perjuangan kerasmu sia-sia.
Jaejoong menopang dagunya dengan tangan kiri. Pokoknya dia harus bisa sabaar… Lagian Junsu hanya ada sebentar di Korea kan? Setelah itu dia akan kembali ke Kanada.
Berarti nanti malam dia akan menghubungi Yunho terlebih dahulu. Memastikan besok pria itu ada waktu untuknya. Tapi jika tidak ada waktu juga… Jaejoong sama sekali tidak bisa memaksa! Dia tidak boleh terlalu posesif, sesuai dengan peraturan mereka.
Huh, menyebalkan.
.
.
.
.
"Mwoya?" Jaejoong mengedipkan matanya, "Kau ada di Busan sekarang?"
"Ne… Aku, Junsu dan saudara kembarnya sedang ada di Busan sekarang. Minggu depan mereka sudah kembali ke Kanada, makanya kami berjalan-jalan dulu."
Jaejoong mendesah kecewa, "Padahal, aku sedang belajar membuat Kimchi," keluh Jaejoong, "Sampai kapan di sana?"
Yunho tertawa singkat, "Nanti hari Kamis kami akan kembali, kok. Nanti jika aku sudah kembali ke Seoul, kau boleh membuatkanku Kimchi lagi. Aku akan memakannya, janji."
Bibir Jaejoong melengkungkan senyuman. Yunho berhasil membuat mood-nya kembali naik, "Baiklah. Sampai hari Kamis. Saranghae," ucap Jaejoong malu-malu di akhir kata. Walaupun saling mencintai, Yunholah yang selama ini selalu aktif mengatakan perasaannya.
"Ne aku tahu. Bye."
Pip
Ha? Yunho tidak membalas ucapannya dengan nado saranghae?
Jaejoong hanya diam menatap layar ponselnya. Walau orang sebaiknya tidak boleh berburuk sangka, namun Jaejoong tidak melakukan hal itu. Dia merasakan rasa khawatir dalam dada. Sifat Yunho sudah tidak seperti biasanya.
Dan semua ini karena Junsu.
Entah apa yang pria itu perbuat. Dua hari pun belum ada tetapi Junsu sudah dapat 'menarik' Yunho.
Sejak kedatangan Junsu, Jaejoong merasa lebih sensitif. Tidak suka jika pria itu datang. Bagaimana jika Junsu merebut Yunho? Dari percakapannya kemarin terlihat jelas bahwa Junsu sebenarnya masih menyimpan perasaan pada Yunho.
Jaejoong mengusap sisi matanya. Ada air mata mengenang disana…
"Gwaenchana, Jaejoong. Yunho tidak akan aneh-aneh," bisiknya menyengamati diri.
.
.
.
.
Walau masih jam lima pagi, Jaejoong sudah bangun dan membuat sup Kimchi. Karena hari ini hari Kamis, dia berniat untuk berkunjung ke rumah Yunho sepulang kuliah. Dua hari tidak bertemu membuatnya rindu setengah mati.
Bibir Jaejoong menampilkan senyuman manis. Walaupun dirinya tidak sadar, namun bayangan Yunho yang senang akan hasil pekerjaannya membuat dia sumringah. Dengan telaten memotong bahan dan mencapurnya. Bibirnya menyenandungkan lagu yang semalaman dia dengar karena tidak bisa tidur.
Kemarin Jaejoong seharian dia tidak bisa mengontak Yunho. Entah apa yang terjadi pada ponsel pria itu. Sekitar jam 2 subuh baru dia mendapat pesan dari Yunho. Mengatakan bahwa pria itu sedang jalan-jalan dan ponselnya habis baterai.
Jaejoong tidak membalas berpura-pura kesal. Lalu dengan sup Kimchi ini datang ke rumah Yunho memberi kejutan. Pria itu sudah bilang akan pulang hari Kamis, kan?
Dan ngomong-ngomong soal Junsu, Jaejoong sudah berusaha untuk tidak memikirkan pria itu. Segala cara yang akan dilakukan Junsu pada Yunho, Jaejoong percaya pria itu tidak akan tertarik. Toh kalau dipikir-pikir dirinya tampak lebih menarik. Tabiat buruknya juga mulai berkurang drastis dan menjadi sangat manis sekarang.
"Aigo…"
Jaejoong menoleh dan mendapati ibunya menghampiri dengan pakaian berantakan.
"Apa yang dilakukan anak umma sepagi ini, hmm?" Heechul bersandar pada bahu putranya sambil menatap isi panci. Wanginya sangat sedap dan menggugah selera.
"Uh… umma bau!" keluh Jaejoong. Dia menutup hidungnya seolah terganggu dengan bau badan Heechul, "Seperti kudanil."
Tentu ibu beranak satu itu tidak terima, "Mwoya?! Sini kau," dengan senyuman kecil, Heechul memeluk tubuh anaknya dan mengusap-usap mukanya di pundak Jaejoong.
"Aaa…. eomma! Nanti aku ikut bau," pekik Jaejoong dalam tawa.
Dan berakhirlah ibu dan anak itu saling mengelitiki satu sama lain.
.
.
.
.
'Eomma, mungkin hari ini aku tidak pulang. Aku bawa mobil.'
Jaejoong mengetik pesan dengan cepat pada ibunya sambil berjalan ke mobilnya. Jika diizinkan—oleh Yunho—dia akan pergi ke rumahnya sekaligus menginap. Setidaknya berbagi cerita selama dua hari ini tidak bertemu.
Dia memiliki banyak cerita yang belum sempat terucap. Dari nilainya yang mulai naik sampai kedekatannya dengan sang ibu.
"Yunho-ah~ tunggu aku," senandung Jaejoong saat memasuki mobilnya. Menyalakan mesin dan mulai membawa mobilnya melintasi warna langit Seoul yang mulai menguning.
.
.
Tepat jam 5 sore saat Jaejoong sampai di depan rumah Yunho. Tangan kanannya membawa sup Kimchi yang dia buat tadi pagi.
Memencet bel sekali. Memencet bel dua kali.
Tak lama pintu sebesar 3×2 meter itu terbuka. Maid Yunho tersenyum dan menundukan kepalanya.
"Annyeong," ucap Jaejoong, "Yunho di mana?" dia berjalan masuk. Matanya masih menatap maid yang kini sedang menutup pintu.
"Tuan muda ada di atas," ucap wanita setengah abad itu.
Jaejoong tersenyum sekilas mengetahui Yunho sudah pulang. Dia menyerahkan sup Kimchi di tangannya kepada maid itu, "Tolong dipanaskan, ya. Aku mau keatas menyusul Yunho."
Wanita itu hanya tersenyum. Sepuluh tahun bekerja di tempat ini, dia sudah tahu tabiat kekasih tuan mudanya. Namun melihat pria itu berubah, ia menjadi senang.
Jaejoong menaiki anak tangga satu persatu dengan dada berdebar. Ish aneh sekali! Padahal dia sudah sering bertemu Yunho namun kali ini dia sangat berdebar-debar hanya untuk bertemu dengan kekasihnya.
Dengan perlahan Jaejoong membuka pintu kamar Yunho. Dirinya terkejut mendapati kamar itu…
Kosong
Aneh. Katanya Yunho ada.
Degup jantungnya berdetak kian cepat. Jaejoong tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Agak sedikit terburu-buru dia menengok ke arah tangga. Mendapati salah satu maid Yunho disana.
"Bibi, Yunho mana?"
Wanita itu terkejut melihat Jaejoong, "Tuan muda ada di perpustakaan bersama tuan muda Junsu," ucap wanita itu cepat dengan tubuh agak dibungkukkan.
Hah? Dengan Junsu? Tanpa berfikir panjang Jaejoong berjalan cepat menuju ruang perpustakaan di rumah Yunho. Tanpa diberi tahu arah oleh para maid, Jaejoong sudah hafal seluk beluk rumah kekasihnya.
Pikirannya memburuk.
Omona… kenapa harus dengan Junsu, sih? Sudah bagus dia melupakan tentang Junsu.
Jaejoong tidak langsung menerobos ke ruang perpustakaan. Dia mengintip dari sela pintu yang terbuka.
Buru-buru dia membekap mulutnya sendiri. Menahan pekikan yang sudah berada di pangkal lidah.
Junsu di sana. Duduk di atas meja dengan Yunho berada di sela kaki Junsu yang terbuka.
Merasa seperti diperhatikan, Junsu mengedarkan pandangannya. Tidak sengaja matanya bertemu dengan mata Jaejoong. Bibirnya langsung menyungingkan angelic smile. Dia menunduk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Yunho.
Dada Jaejoong sakit. Jantungnya berdetak memukul rongga dadanya, keras. Rasa panas sudah sampai diubun-ubun namun pria itu berusaha menenangkan diri.
Cup
Itu terjadi sangat tiba-tiba. Junsu mengecup sudut bibir Yunho. Junsu tertawa malu atas apa yang dia lakukan.
Dan Jaejoong segera berjalan masuk. Mengangkat tangannya hanya untuk menampar Junsu keras.
"BERENGSEK!" bentak Jaejoong keras. Junsu oleng dan terjatuh dari atas meja mengingat dia duduk di sudutnya.
Yunho yang tidak mengira Jaejoong akan melakukan hal ini terpaku. Namun saat Jaejoong bergerak untuk menghajar Junsu yang terjatuh, Yunho langsung angkat tangan dan memeluk kekasihnya.
Kuku Jaejoong mencakar punggung Yunho keras. Pria itu mendekapnya terlalu erat padahal dia ingin sekali memukul Junsu. Tabiat lamanya muncul seiring dengan kemarahannya yang memuncak. Lagi pula manusia mana yang tidak marah melihat kekasihnya bermesraan dengan orang lain?! Tangannya sudah gatal ingin mencabik pria yang menyentuh kekasihnya. Ia ingin menghilangkan rasa sakit dan sesak di dadanya.
"Lepaskan aku, bodoh!" Jaejoong berusaha mendorong bahu Yunho. Namun kedua tangan Yunho mendekap punggung dan pinggangnya. Mengunci pria itu agar tidak melakukan gerakan brutal.
Menghadapi tingkah Yunho yang seperti ini bukannya membuatnya tenang. Sebaliknya dia merasa semakin panas, emosinya yang meletup-letup tidak bisa disalurkan.
Bahkan ketika Jaejoong mengigit pundak Yunho keras, pria itu tidak bergeming.
Air mata Jaejoong mulai meleleh. Dia benci dengan ketidak berdayaannya di tangan Yunho. Dia ingin sekali marah. Memaki Yunho dan memukul Junsu.
Saat matanya semakin buram, Jaejoong melihat sekilas Yunho tersenyum simpul sebelum mencium bibirnya dalam. Berusaha mendominasi kekasihnya. Namun Jaejoong menolak! Ia mengatupkan bibirnya rapat dan kedua tangannya berusaha mendorong bahu Yunho. Memukulnya berkali-kali agar terlepas.
Memaksa Jaejoong untuk berciuman sudah tidak mungkin. Yunho melepas tautan mereka saat pukulan Jaejoong di pundaknya berhenti.
Masih dalam pelukan Yunho, Jaejoong menangkupkan separuh wajahnya. Dia memilih untuk mengeluarkan semua emosinya dengan tangisan.
"Aku membencimu, Yunho…" isak Jaejoong dengan nada sedih yang sangat ketara.
"Aku membencimu, Yun…"
Kata-kata yang sama terus terulang. Menampakan bahwa perasaan Jaejoong sangat tersakiti. Junsu datang. Dua hari berpisah. Mendapati kekasihnya berselingkuh. Lalu akan apa lagi?! Yunho meminta putus darinya?!
Perlahan Yunho menunduk dan mengecup mata Jaejoong. Dia sendiri pun bingung harus seperti apa. Tidak menduga bahwa reaksi Jaejoong akan seperti ini jika dia bermesraan dengan Junsu.
Yunho dalam diam mengecupi wajah kekasihnya walaupun terhalangi oleh tangan.
Saat Jaejoong mulai tenang, pria itu memberontak untuk dilepaskan. Yunho menurut. Melonggarkan pelukannya jadi hanya memegang pinggang Jaejoong.
"Aku membencimu," ucap Jaejoong lagi. Yunho hanya diam. Dia agak terkejut saat Jaejoong mendongak dan menatapnya tajam, "Kita berpisah saja!"
Yunho berasa di sambar petir.
"Aku ti—mpph!"
.
TBC dengan indahnya~
