Title: SHOVE
Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura
Type: Multichapter
Rating: T
Genre: Romance, General
Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)
Non-edited. So all mistakes are mine.
::::
SHOVE
7
"Hotel Carlyle tidak tua," kata Ino saat aku bertanya padanya mengenai hotel itu. Aku belum pernah ke sana jadi tak ada salahnya bertanya lebih dulu 'kan? Mungkin aku harus jadi cleaning service dulu biar bisa masuk ke sana, hahaha. "Hotel itu klasik. In every possible way. Mick Jagger dan Paul McCartney masih sering ke sana. Brangelina juga masih mendatanginya."
"Brangelina?" Aku mengernyit. Nama aneh apa itu? Memangnya ada orang dengan nama seperti itu?
"Oh. My. Gosh." Ino berujar dengan penuh drama sambil mengayun-ayunkan jemari lentiknya. "Brad Pitt dan Angelina Jolie disingkat jadi Brangelina. Itu pas mereka masih bersama." Ino mengetuk-ngetuk kepalaku. "Kau tinggal di gua mana, sih?"
Aku hanya mengedikkan bahu. Aku tahu kedua selebriti itu tapi aku tidak tahu kalau mereka punya nama panggilan. Ino lalu bercerita siapa saja yang pernah menginap di Carlyle seperti Pangeran William dan Kate Middleton, George Clooney, Naomi Campbell, Vera Wang dan Sofia Coppola. Mendengarnya, aku seperti… wow, aku tahu nama-nama itu tapi kenapa aku tidak tahu Brangelina ya?
Ino lalu memainkan rambut pirangnya. Bibirnya yang glossy lalu berujar, "Orang-orang yang menginap di sana berkata kalau rasanya seperti rumah keluarga, dan itu benar. Saat kau memasuki satu tempat dan bisa berkata 'hai' pada semua orang yang kau temui, itu sungguh luar biasa. Omong-omong kenapa kau bertanya tentang hotel itu?"
"Um, aku ingin tahu jika ada lowongan kerja di sana," ujarku bohong.
"Oh, pasti ada. Cleaning service selalu buka," sahut Ino dengan santai sebelum mengambil selfie sekali lagi dan aku langsung kabur secepat mungkin.
Dan di sinilah aku sekarang. Di lobi Hotel Carlyle, menatap bayanganku yang memantul di lantai coklat. Ada banyak bunga di setiap pot besar, didominasi warna kuning, oranye, putih dan merah muda. Meja-meja yang terbuat dari kayu mahogani menyeimbangkan warna. Kandelar menggantung di langit-langit menyorotkan cahaya kuning keemasan. Kertas-kertas dinding berwarna merah marun dan coklat. Luar biasa. So vintage, so classy.
Aku memerhatikan orang-orang yang berlalu lalang sembari bersandar pada dinding, sesekali mengecek ponselku untuk melihat jam. Kurang lima menit jam sembilan malam. Aku segera mengirim pesan pada Kakashi.
Aku sudah tiba.
Aku memasukkan ponsel kembali ke saku jeans. Sesekali aku tersenyum pada orang-orang yang menyapaku dengan mengatakan 'hai' atau 'halo'. Jadi benar apa kata Ino. Aku baru pertama kali ke sini tapi kehangatan hotel ini dan orang-orang di dalamnya begitu terasa. Wait a minute… Aku memicing pada sosok wanita yang baru saja keluar dari lift. Holy shit! Bukankah itu Yukie Fujikaze?!
Untuk sesaat aku terpana menatapnya. Nona Fujikaze memakai gaunmusim semi biru navy off shoulder, memperlihatkan kulit ivory-nya yang lembut. Rambut hitamnya yang panjang bergelombang diurai menutupi punggungnya. Bibirnya yang penuh dipoles lipstik berwarna pink nude. Sepasang mata birunya bersinar saat melewati lobi dengan begitu anggun. Oh God, Picasso pasti menangis melihat kreasi Tuhan melalui Yukie Fujikaze. Dan saat wanita itu tersenyum? Tiap warna seolah menyatu membentuk spektrum di segala arah, mencari-cari kanvas yang tak tersentuh untuk segera meninggalkan jejak. Aku tersenyum bahagia melihat wanita itu. Nona Fujikaze tidak membutuhkan kanvas atau kuas, karena hanya dengan menyapukan jarinya saja dia telah menciptakan warna-warni kehidupan.
Saking terpesonanya, aku terdiam selama beberapa menit sebelum dengan panik mencari-cari alat tulis dan kertas. Pulpen, pensil, kertas, apapun itu. Aku mau tanda tangannya! Tapi melihat dia berjalan menuju pintu keluar, aku tidak memedulikan apapun lagi dan segera berlari mengejarnya sambil berseru. "Nona Fujikaze! Nona Fujikaze! Aku adalah fans beratmu! Apa aku boleh minta tanda tangan?!"
Semua kepala yang mengelilingi wanita itu seketika menoleh padaku. Dua pria yang ukuran tubuhnya sebesar kulkas tiga pintu langsung menghalangiku dan aku hanya meringis pelan sambil mengangkat kedua tanganku setinggi dada, menunjukkan bahwa aku bukanlah orang berbahaya, bahwa aku hanyalah seorang fans yang ingin minta tanda tangan artis idolanya. Kulirik Nona Fujikaze yang berbisik pada orang-orang itu. Tak lama wanita itu berdiri di depanku dengan senyum colgate-nya.
"Aku sangat beruntung bisa melihatmu di sini!" ujarku dengan napas tertahan. "Kau salah satu artis favoritku! Aku sangat menyukai peranmu sebagai putri dari Negara Salju! Kau menginspirasiku. Boleh aku minta tanda tangan?" Tanganku terulur dan telapak tanganku menghadap ke atas. Aku tidak menemukan secarik kertas dan alat tulis jadi aku hanya menyodorkan itu.
"Siapa namamu, hm?"
"Sakura. Sakura Haruno!" jawabku antusias saat wanita itu meminta sesuatu dari pengawalnya. Pulpen. Tapi dia tidak menandatangani telapak tanganku. Dengan santai dia menulis di jidatku. Yep, di jidatku. Tapi tidak masalah bagiku. Bagi artis sekaliber Nona Fujikaze, menyempatkan diri untuk melayani satu fans sepertiku saja itu sudah luar biasa. "Terima kasih, Nona Fujikaze! Sukses selalu! Tuhan memberkatimu!"
Orang-orang yang membawa Nona Fujikaze segera menghilang dari pandangan. Aku masih melambai, tak percaya dengan apa yang kualami hari ini saat sebuah suara mengejutkanku.
"Nona Haruno?"
Aku berbalik dan menemukan seorang wanita rambut merah tembaga berdiri menatapku dengan alis terangkat tinggi dan salah satu sudut bibirnya berkedut pelan. "Ye-yeah?"
"Ikut aku."
Huh, apa-apaan itu? Aku seperti seorang kriminal yang digelandang menuju kantor polisi. "Kenapa aku harus ikut denganmu? Aku tidak mengenalmu, mungkin saja kau adalah penculik."
"Aku Mei, asisten pribadi Kakashi Hatake. Dia sudah mengirim pesan ke ponselmu tapi karena kau tak kunjung datang jadi aku dikirim untuk mengecekmu. Kurasa…" Dia melirik ke arah pintu di mana Nona Fujikaze tadi keluar dan aku langsung tahu apa maksud lirikannya. Apa dia dari tadi berdiri di sana dan melihatku? Kurasa itu benar. "… kau cukup bersenang-senang di bawah sini."
Aku menunduk untuk menyembunyikan wajahku yang memerah. Uh, dingin sekali. Cara bicaranya seperti robot. "Maafkan aku. Aku lupa mengecek… maksudku, aku uh, tadi ketemu dengan…"
"Aku tahu," potong wanita itu cepat. "Siapapun yang bertemu dengan wanita itu akan bereaksi sama. C'mon. Kakashi sudah menunggumu."
…
Kamar yang kumasuki terlihat seperti sampul majalah. Aku bahkan takut untuk duduk, berjaga-jaga jika nantinya sampul itu akan kusut atau aku menumpahkan sesuatu di atasnya. Kamar itu sangat besar hingga membuatku sedikit tak nyaman. Mungkin karena aku terbiasa berada di ruangan kecil jadi yah… Kulihat sofa berwarna krem dengan bordiran hijau sutera yang pastinya butuh waktu lama untuk membuatnya. Lantainya dipoles mengkilap, gelap dan tanpa noda. Tentu saja, Sakura! Ini hotel terkenal! Hotel elit! Vas bunga yang dipenuhi mawar oranye menghias meja kaca. Tirai-tirai berwarna kecoklatan, tampak sempurna bersentuhan dengan cat kuning gading.
Aku masih berdiri di tengah ruangan saat pintu lain di kamar itu terbuka dan Kakashi keluar. Aku menoleh dan tiba-tiba saja rahangku sudah menyentuh lantai. Malam itu Kakashi memakai kaos biru muda, membungkus pundak lebar dan dada bidangnya. Eh, mungkin kalau aku menggantung di bisepnya, dia bisa mengangkatku hahaha. Jeans biru lusuh berlubang di kedua lutut, menggantung di pinggulnya yang ramping. Owh, every women in this world might have killed to see what's underneath the jeans, though. Aku menggigit bibir, berusaha menahan tawa mengetahui bahwa aku adalah salah satu gadis yang beruntung itu! Dan dia tidak pakai alas kaki! Yep, Kakashi tidak mengenakan alas kaki sama sekali di kamar ini. Suatu pemandangan indah yang sangat langka.
"Kau baik-baik saja?"
Aku masih menatap jari-jari kakinya saat Kakashi sekali lagi bertanya padaku, membuatku menengadah. "Huh? Oh yeah, apa pertanyaanmu tadi?" Aku mengumpulkan rahangku yang tadi jatuh ke lantai dan melihat Kakashi tertawa kecil. Dia lalu membawaku menyeberangi ruangan dan menemukan satu tempat yang tampaknya seperti dapur. Oh, ini memang dapur. Aku melihat Kakashi yang tersenyum.
"Aku selalu meminta kamar yang memiliki dapur pribadi karena aku senang memasak." Pria itu memutari konter, mengambil ketel lalu memanaskan air. "Duduklah."
Dengan canggung aku duduk di sebuah kursi kayu dan menatapnya takjub. Kurang apa lagi pria ini? Tampan, ramah, kaya, terkenal, jago memasak. Sempurna. Aku memainkan ujung kaosku."Apa kau baru pertama kali ke hotel ini?"
"Nope," ujarnya panjang hingga menimbulkan bunyi 'pop' pada huruf p.
"Jadi ini bukan pertama kali kau ke Konoha?" tanyaku lagi sambil menatap bayangan abs-nya yang tercetak di kaosnya. Aku menggigit bibir. Dia memang atraktif. Sangat-sangat atraktif. Tapi kenapa pria jenis ini tertarik padaku?
Kakashi menggeleng. Begitu air mendidih dia langsung mematikan kompor. "Kopi?"
"Mhmm," anggukku. "Apa kau tahu kalau Yukie Fujikaze ada di hotel ini?"
"Tentu saja. She's my co-star untuk proyek kali ini. Krim atau gula?"
"Oh," jawabku sambil mengangguk lagi. Pantas Nona Fujikaze ada di kota ini. "Krim saja."
Kakashi lalu meletakkan dua cangkir kopi. Satu untukku satu untuknya. "Dan apa dia yang melakukan itu padamu?" Dia menunjuk dahiku dan aku sadar jika Nona Fujikaze tadi menulis di sana.
"Oh! Ya Tuhan, aku lupa! Aku memang bertemu dengannya tadi. Aku mau minta tanda tangannya tapi aku bingung di mana menyimpan kertas dan-dan…" Kau meracau lagi, Sakura. Bagus. Tapi Kakashi justru tertawa keras membuatku mengerjap. "What? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
"Tidak, tidak, Sakura." Dia kembali tertawa. Oh God, aku rela mendengarkan tawanya seharian. Tawanya seperti musik di telingaku. "Tapi dahimu, apa kau tahu apa yang dia tulis?"
"Apa? Apa?" seruku. "Dia tidak menulis sesuatu yang membuatku tampak bodoh 'kan?"
Lengan Kakashi lalu terjulur dengan telunjuk menyapu dahiku. Dia berkata sambil bertopang dagu, "NICE TRY, FOREHEAD."
Dadaku mencelos. "Not funny, Kakashi."
"Dia memang menulis seperti itu." Kakashi lalu berdiri untuk mengambil gelas aluminium agar aku bisa bercermin. Kalimat yang disebut Kakashi tertulis jelas di sana. Aku berdecak pelan. Pantas saja Mei, asisten pribadi Kakashi, nampak berusaha menahan tawa saat bertemu denganku di lobi tadi.
"Bagaimana kau bisa tidak tertawa saat aku datang pertama kali ke sini?" Aku mengerutkan hidung.
"Aku ingin tertawa. Tapi tidak hingga kita menikmati kopi lebih dulu," ujarnya dengan seringai menawan membuat perutku semakin bergejolak. Apa ruangan ini semakin panas ya?
"Tunggu di sini." Kakashi berdiri, meninggalkan dapur dan beberapa menit kemudian dia kembali dengan sebuah tas kertas berwarna putih dan merah marun. Diletakkannya benda itu ke atas meja. "Bukalah."
"Apa ini?" Aku menatap benda itu, merasa ragu untuk menyentuhnya.
"Kau akan tahu saat membukanya." Kakashi berdehem sambil melipat kedua tangannya ke dada, membuat otot-otot bisepnya bertonjolan. Tidak ingin terdistraksi lebih jauh lagi, aku menarik tas kertas tersebut ke arahku dan membukanya.
Terdapat kotak putih kecil di dalamnya dengan gambar ponsel keluaran terbaru. Kotak itu terasa berat, pertanda memang ada isinya. "Smartphone?" Aku menatap kotak di tanganku namun belum berani membukanya.
"Untukmu."
"Untukku?" Suaraku berubah lirih. Bukan, bukan karena aku sedih atau terharu seperti anak kecil mendapat hadiah di hari kelulusan sekolah dasar. Tapi aku merasakan sesuatu yang lain yang masih sulit untuk kujelaskan. Aku menengadah pada Kakashi dan menemukan sepasang mata abu-abunya nampak berkilat penuh arti. "Benar-benar untukku?"
"Ya, kau dengar aku. Itu untukmu," sahutnya dengan menggunakan suara bariton rendah itu lagi.
"Tapi…" Aku menggenggam kotak kecil itu agak lama sebelum meletakkannya kembali ke atas meja dan mendorongnya ke arah pria rambut perak itu. "I can't." Kedua tanganku kembali berada di bawah meja, menggenggam jemariku dengan gugup, pandanganku tertunduk. Apa maksud semua ini? Kenapa tiba-tiba dia memberikan benda mahal itu untukku? Kudengar pria itu terdiam sebelum menarik napas panjang yang sepertinya sedari tadi ditahannya. Aku mengangkat wajah untuk menatapnya sekali lagi, mencari-cari jawaban atas berbagai pertanyaan yang mengisi kepalaku sejak tadi pagi, berharap aku bisa menemukannya di raut wajahnya saat ini.
"Aku tahu kau akan melakukan ini." Bibir tipis Kakashi membentuk sebuah senyuman meski kegugupan terpancar jelas di matanya. "Sebelumnya aku ingin bertanya."
"Shoot," ujarku singkat sambil meneguk ludah.
"Apa kau tahu istilah Sugar Daddy?"
::::
TBC
::::
Tinggalkan jejak, pals!
Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.
