Peringatan: Permainan pisau, oral dan seks, kekerasan.
Ringkasan: Leon Scott Kennedy selalu bisa memenuhi apapun.


Bab 7: Fold!


Bosan.

Bosan oleh gaya akting menyerah tapi bersimbolis makna buta.

Meski yang tersebut "salah paham" telah menaruh segala efek kerusakan dimensional untuk pikiran dan jiwanya... Chris tak mampu berpaling. Dan di detik inipun, ia masih menikmati keanehan pemberian Kennedy, dimana pria yang sejauh pelik bagi pemandangan kesalnya, tetap membuatnya terpana.

Kedua matanya memperhatikan pria itu membungkuk, mengambil pisau berburu dari tas duffel, dan tekankan ujung pisau di sepanjang paha kanan kala alun berdiri.

Lempeng disusurkan pada sembul di area privat, lalu ujung pisau diselipkan di balik garis celana... diteruskan dengan mengiris mudah kain itu hingga sabuk, dan celana dalam hitam terpajang dari kuak itu.

Kini membawa bilah tajam ke mulut... Chris menelan ludah saat pertunjukan sensual lidah yang menelusur secara perlahan dari ujung pisau seiring lempeng memasuki rongga mulut.
Menggigit seperempat panjang, kemudian membawa jemari kedua tangan menyisir lembar-lembar rambut lepek kala menekuk ke belakang, menarik kaos.

Begitu penutup kenaan atas dilepas, si agen memegang gagang pisau kembali, dan menyobek libatan kaos dan tali sabuk holster yang menggantung di lengan bawah.

Kali ini Chris tak hanya menelan ludah saat menyaksikan keindahan kulit berhiaskan bulir-bulir keringat yang sesekali menuruni lekuk-lekuk otot bidang dada dan perut. Benda pribadinya lumayan bereaksi. Sepertinya ia telah mengakui secara sadar bahwa dirinya serius terhipnotis oleh pesona Kennedy, dan ia... sungguh menanti.

Entah harus berterima kasih pada adik tercintanya- bisa saja obat pemberian memang salah... Tapi ia sendiri sudah terlanjur mengabadikan sejauh ini, kan?
Ciuman di awal pertemuan tadi adalah ungkapan jujur atas perasaannya yang lega melihat Kennedy kembali dari misi dengan keadaan utuh. Dan melihat bagaimana reaksi... Maknanya jelas seyakin realita. Namun seberapa jauh... Itu jadi pertanyaan.

Tiba-tiba hujam bilah pisau menembus sandaran sofa tepat se-centi dari lehernya. "..." Chris melirik kilau benda tajam di dekatnya.

Oh. Ia akan menyesali pertanyaan tadi.

Kennedy mendekat, buka kedua kaki dan mengambil porsi duduk pada kedua pahanya, pertemukan kemaluan yang masih terlindung di balik kain celana dalam pada area privatnya.
Bocah edan itu terlihat sangat puas atas posisinya kala menekan... "...Nnhh..." Seiring pejam erat kedua mata dengan berbagai rona ekspresi beserta desah kenikmatan selama ritmik menggesek, mengendarai, adukan dalam kontraksi gerakan.

'Duh... Sial. Bocah ini...' Chris sebenarnya ingin bertahan, tak mau menyentuh dulu. Sayangnya efek perlakuan ini terlalu mengundangnya.

Kedua tangan meraba kanan-kiri pinggang, perlahan ke belakang... merasakan lekuk "V" sembari menguak lingkar celana dalam dan turun meremas kedua bokong sekaligus membawa si agen merapatkan pertemuan seiring ia melebarkan kedua kaki. Dan mainkan jari tengahnya di pusat kerut dubur hanya untuk sebatas menggoda.

Si agen tak hanya mengerang berkadar permintaan... permohonan... Juga menyukai setir kendali. Itu ditunjukkan dengan menarik pisau, bilah ditempel di siku antara dagu dan jenjang leher- memaksanya mendongak tepat beranjak menangkap mulutnya.

Chris mengambil momen itu untuk menurunkan set celana si agen ke batas pangkal paha, dan menggerayangi keseluruhan tubuh tanpa perduli benda tajam yang masih berdiam sejalan kedekatan gairah intimasi... dan terus menanggapi serial ciuman kasar walau kutat darah mulai berputar dalam rona pertukaran saliva.

"...Mm-ahh..." Leon memutus ciuman tepat jari-jari tangan kanan Chris menggenggam batang penisnya. "...Chris... Ohh Chris..." Seraya menggerakkan pinggul demi kepuasan diri.

Tapi Chris tidak mengijinkan semudah itu.

Cekat menjauhkan kuncian pisau, langsung mendorong tubuh si agen ke panjang sofa, mengukung berikut menindih sisi pinggul. Pisau ditahan bersama rentang kedua tangan itu di atas kepala sementara ia melakukan peragaan bertema foreplay di sepanjang kulit yang terpajang bebas. Tubuh di bawahnya merintih penuh takluk saat tangannya bergerak mengocok pelan.

"...AHH... Chris... Mmhh..." Leon mengigit bantalan sofa saat meringkuk disertai antusias seluruh kontraksi otot-otot sepanjang punggung... Di sela itu, Chris memicing seketika menemukan bekas luka tembakan Shotgun di sayap punggung kiri.

Claire pernah cerita tentang Ada Wong, pembunuh dengan kecantikan eksotis Asia-Amerika yang berumur 5 tahun lebih tua dari bocah ini; wanita yang bukan hanya menempati hati, tapi "segala" untuk selamanya.

Rasa cemburu merebak.

Mengambil alih pisau, hentikan kocok dan menjauh dari kontak fisik. Si agen mendesah kecewa tepat ia kembali duduk.
"Turun, Kitty. Puaskan aku, maka aku akan memuaskanmu." Datarnya sambil membuang pisau ke tas duffel, dan menendang tas jauh-jauh... tanpa memperdulikan sorot pandangan kedua iris biru metal yang teracu kelam.

Kennedy tak lagi tunjukkan kemewahan parade gila layaknya tadi selain merangkak turun, dan berlutut di antara kedua kaki, kemudian jari-jari bekerja cepat membuka sabuk dan pengait celana berikut retsleting.

Mengamati tangan itu mengeluarkan dan mengangkat penisnya yang masih setengah keras... serta bagaimana detil lulur lidah merotasi dari pangkal ke kepala penis... Perasaannya tak lebih sewaktu menyeka rambut pirang kecoklatan Kennedy, menyibak dalam remas saat sengal nafas membuai di sela temuan tatap... dan ia mendesah kala kehangatan rongga mulut menyambut bersama sejenak kulum.

Kini jilatan diikuti libat aksi jari-jari... dilanjutkan menelan keseluruhan panjang walau miliknya termasuk ukuran yang relatif besar.
Tepat kepala penisnya mencapai kerongkong, ia menekankan lebih. Namun bocah ini mampu fleksibelkan rahang dan tak tersedak. Bahkan baris gigi tak menggesek dalam bilangan perih.

Chris semukan pandangan selama unjuk keahlian dari pria yang memberikan "kepala".

Ada sedikit besit ketidaksukaan di benak atas perannya bak penonton yang sakit jiwa. Berbagai ilustrasi kotor bergejolak dalam pikiran. 'Apakah Jack Krauser yang melatih begini...?' Sembari meraba dan memegang rahang Kennedy sebelum mulut itu mengambil porsi dari setengah- otomatis si pemilik mulut mengendurkan kuluman, dan melalukan lidah sembari menarik diri... wajah tampan itu mengikuti arah tangannya membawa.

Saat mulutnya menangkap mulut itu, ia proyeksikan perasaannya seiring pautan lidah... si agen melayaninya, membalas terus dan terus hingga masing-masingnya nyaris kehabisan nafas.

Sungguh. Chris tak bisa menyebut apapun atas aksi patuh dari Kennedy- atau lebih kepada tak ingin mengakui kata "pelacur" yang pernah keluar dari mulutnya.

Mungkin ini efek obat...?

Jari-jari masih bergerak untuknya. Chris segera memutus sesi ciuman dan menarik rantai borgol- mengangkat tubuh di depannya dan bantingnya ke dataran sofa.
Ia tak celahkan jeda, menahan rantai borgol di belakang pangkal leher sekaligus mengurung ke posisi telungkup seketika si agen sedikit berontak, "...wh-ah...! T-Tunggu- Pengaman-"

"Aku tak kotor kok. Apa kau sekotor itu?" Sarkastisnya berikut turunkan set celana si agen ke dengkul.

"...Bukan- C-Chr-AHH!" Tubuh itu langsung mengejang tepat 2 jari tanpa aturan pemoles menembus masuk pusat kerut dubur dan memaksa kuak.
Chris menempatkan ujung penisnya, dan mengawali invasi. Pria di bawahnya teriak, merenggang kesakitan seketika ia benamkan keseluruhan panjang dengan tekanan kuat dalam sekali dorong.

Tentu ia tak ingin bercinta dengan manekin. Bocah ini seharusnya selalu liar, ia inginkan sisi itu.

"...HAHH...! AGHH...!" Leon terenggah keras separuh terisak di bantalan sofa- gemetar, entah akibat dari syok atau pembukaan seks yang buruk. Bagi Chris, konsiderasinya adalah aroma khas dari cairan semen yang berantakan.

Itu ronde pertama untuk Kennedy dan waktu masih 4 jam lagi untuknya... kali ini benar-benar sesuai poin fuck untuk tantangan baik dini hari maupun tadi.

Meski dirinya masih terpukau oleh kenikmatan kalungan erat dan apit kontraksi otot-otot halus saluran anus, ia lanjutkan bergerak.
Si agen mengejang antara meringkuk dan mencoba bertahan dalam posisi setiap menerima hentakan memalu. Dan semakin Chris mencari titik terdalam, instrumen erangan bercampur rintihan bertambah nyaring.

Ini... Sejauh kesadaran akan pengertian SALAH. Tapi ia tak sanggah bahwa pria- JUGA merangkap partner seks ini telah membuatnya adiktif. Itu menjadikannya posesif.

Jari-jarinya menyentuh serat daging di sayap punggung kiri. "...Ada Wong. Walau dia menggunakanmu, meninggalkanmu, mengkhianatimu... Dia tetap wanita sempurna untukmu, huh?" Tak ada samar penekanan konotasi selain nada ironi.

Tapi sedikit yang Chris tahu tentang Leon untuk ruwetnya masalah "Ada Wong", seperti: pedihnya penantian, cinta tak terbalas, hati yang tak mampu melupakan... Sebanding untuk peliknya masalah "Chris Redfield".

"...GHH jangan bawa... Ad- AHH!" Merenggang tepat alur tarikan kasar pada rantai. Chris mengalungkannya ke belakang lehernya dan mengunci tubuh yang menderita itu dalam posisi bersandar ke dirinya demi hasrat intimasi penuh.

Kennedy memohon dan memohon berhenti selama kedua tangannya menjamah dan merajamkan kuku pada bagian tubuh yang dapat diraih. Ia inginkan "tanda" keberadaannya di tubuh bocah ini.

Sejalan itu, derik tekanan rantai borgol maupun telusur jari-jari di belakangnya terasa seakan hendak merobek kepalanya dari leher. Tapi dirinya terlalu hanyut, tak sadar bahwa komposisinya sendiri telah beralih pada kekerasan yang obsesif.

"...Kennedy... Kennedy gunakan pinggulmu..." Sementara tangan kirinya merambah kedua zakar si agen,

"...Bangsat...! Kau pikir aku... terbia- GAH- Ahh...!" Luncuran kalimat protes Leon langsung beralih rintihan-rintihan keras tepat tangan kanan Chris menggenggam erat batang penis, jempol mengincip tekanan pada ujung dari saluran urethra diteruskan mengocok kasar... buahkan keterpaksaan padu kesetaraan gerak.

"...Ayolah, Leon... Kau bahkan merangkak untukku, atau pada semua pria juga, hm...?" Bisik Chris sambil jejerkan kuluman di sepanjang sisi jenjang leher.

Leon memicing dan geratkan gigi. Kemarahan, kekesalan, kebencian bercampur aduk. "...Bajingan... Ini... aku baru..."

Pertama.

Chris mengacuhkan getirnya lintas apa kelanjutan kata disana dengan gigitan kuat pada pertengahan antara bahu dan leher. Jari-jari tangan Kennedy kontan mencakar punggungnya.
Tak perdulikan, ia dalamkan baris gigi selama kemaluannya mengoyak dalam dan semakin dalam di setiap dendang ulur... bahkan kala darah mengalir dari ujung bibirnya.

Tubuh Chris sudah di limit puncak. Ditambah temuan spot yang reaksikan perbedaan suara... itu terus memancing drastis.

"...Ouhh- AHH-H! CHRIS- OHHH CHRIS... CHRIS...!" Di detik intonasi perih dan frustasi, Leon mengerang keras atas pencapaian orgasme kedua.

'...Ah... Sial...' Chris melepas gigit dan menjatuhkan tubuh itu seiring menindih. Ia ingin "mengisi" dengan segenap perasaannya.

"...Chris... Ahh Chris jangan- di dalam... Kumohon- Nhhh..." Leon masih adakan perlawanan lemah.

"...Permainanku, peraturanku..." Sahut Chris seraya memacu gerakan sampai ia tak sanggup menahan lagi. "...Kennedy- Kennedy- Ahh...!" Muncrat cairan semen memenuhi ruang saluran anus, dan partner seks-nya tak menentang banyak meski tekanan batang penisnya masih menggali di kedalaman selama menghabiskan pengeluaran.

"...Kau... sungguh bajingan..." Desah Leon di tengah fase menenangkan diri, sedang Chris membebaskan diri dari kalungan tangan.

Rembes dan aliran darah terlihat saat menarik diri dari kontak benam.

Ah. Permainan tadi separah itu, huh?

Meraba bekas gigitan, kemudian kesampingkan tubuh lemas itu agar menghadapnya tepat ia mengukung kembali.
"...Kau sekarang puas...?" Sinis Leon kala rangka dada kembang-kempis cukup berat, tapi tak menolak membuka mulut saat ia mengulum bibir atas... bersambung serial ciuman pendek.

Puas? Satu kali takkan pernah memuaskannya. Bocah ini memiliki segala eksklusif yang diinginkannya.

'Eksklusif...' Senyum membayangi bibir di bawahnya. "2, 4 ronde sampai lebih, ingat?" Kedua tangannya segera membuka kancing dan melepas kemejanya yang basah.

Masukkan jari tengah dan jari manisnya di rongga anus yang becek. Rantai berderik saat jari-jari tangan Kennedy menahan bidang dadanya sembari memutus momen ciuman, "...sudah... Chris... Ch- A-ah..." Sayangnya tubuh itu tak kuasa berekspresi; mengangkat pinggul dan tekankan panjang kemaluan yang masih keras pada lekuk otot-otot perutnya saat ia memperdalam.

'Oh, manisnya...' Chris tertawa dalam hati selama si agen merenggang penuh konfrontasi antara lelah dan kenikmatan.

"...Haa...hhh... Obat ini... akan membunuhku..." Guman Leon begitu merasakan jari telunjuk yang imbuhi di kedalaman rongga anus.

"Aku disini. Jadi tak seburuk itu, kan?" Sahut Chris dengan kaidah canda saat menggerakkan ketiga jarinya masuk-keluar sesuai irama dan biarkan si agen memuaskan diri menggunakan porsi kedekatan dari tubuhnya.

Itu berjalan cepat, dan bocah ini terlihat lumayan stres seketika cairan mani melesat keluar hanya berdasarkan pemenuhan klimaks terpaksa.

Chris menarik ketiga jarinya dari pendam, lalu turun, menjilat puting dada kanan Kennedy dan mengulumnya secara perlahan sembari menempatkan ujung penisnya pada pusat kerut dubur.

"...Ohhh Chris... Istirahat... Nnh-hhh..." Namun Leon mendongak pasrah, mengatur kestabilan nafas selama meresapi proses tekanan keseluruhan besar dan panjang yang mengisi... membelah baik keutuhan badan dan jiwa.

4... 5 Jam kemudian...?

Chris terserah mau berapa jam yang berlalu. Pastinya sekarang ia benar-benar "habis". Setiapnya sungguh terbang kepuasan tak terkira. 3 Tahun kemarin terbayar sudah.

Sedang Leon? 7 kali total penyiksaan, dan sekarangpun serius menangis tepat Chris melepaskan orgasme di dalam untuk kelima kalinya. "...Agghh... ahhhh Chris... Berhenti... ahh Berhentiiii..."

Ia sangat menikmati melihat penderitaan seluruh lekuk otot-otot tubuh yang berkontraksi penuh forsir. Lagipula semua ini merupakan bantuan pelampiasan yang profesional. Tentu hitungan "semalam" masih rasional bagi versi "salah paham".
Mungkin selanjutnya ia akan memaksa bocah ini menegak obat ini lagi. Besok? Lalu besoknya lagi? Atau selamanya? Ia butuh tes satu pil kalau begitu...

"Benar-benar mainan seks yang luar biasa." Guyonnya saat memisahkan diri dari kontak.

"...Brengsek...!" Leon langsung pautkan kaki ke pinggang Chris dan bantingnya ke lantai, duduki perut dan rantai borgol mengekang leher penuh ketetapan membunuh.

Namun seketika ia menggiris perih... Tekanan mengendur, dan Leon menghela panjang.

"Dengar. Tak masalah pengertianmu tentangku sebatas mainan seks. Kau bisa meneleponku atau kemari kapanpun kau mau, sepuasmu, mau lantai atau ranjang manapun... asal hanya untukmu, aku sungguh tak keberatan. Tapi eksklusif bukan berarti bebas aturan. Ini... pembayaran sampai kita impas."

Chris kerutkan kedua alis dengan pemaparan tak suka. "Impas, eh?"

Bahkan HINGGA saat inipun...

Ia segera menangkap rantai dan menghajar keras pipi kiri si agen. Tubuh itu terbawa membal efek rantai dan jatuh meringkuk di sampingnya- momen itu digunakan untuk menarik kedua tangan itu ke atas kepala sebareng merangkap tindih.

"Pembayaran sampai akhir hayat, kau terima itu?" Tekannya. Chris tahu, perbuatannya dari dini hari dan detik ini sangat kejam. Seandainya Kennedy mau mengakui sedikit... mau seperti apapun ribetnya "salah paham" yang tersebut disini, basis epilog adalah suka sama suka, kan?

"Kau... sakit jiwa, Chris..." Sahut Leon setengah tersegal.

Chris menjilat darah yang mengalir keluar dari ujung mulut Kennedy. "Ya. Mungkin. Masalahnya... Aku menginginkanmu, Leon. Tak hanya tubuh. Dan aku tak perduli hatimu tertera nama Ada Wong." Tekannya kembali.

Leon menenangkan parau nafas selama kontes pandang, lalu menerangkan dengan sabar. "Chris. Aku tak bisa berikan ikatan komitmen. Suatu saat... satu di antara kita bakal berdiri di depan pintu dan menerima surat bahwa salah satu dari kita telah gugur melaksanakan tugas. Aku tak mau kehilangan kekasihku. Apa kau mengerti itu...?"

Chris terhenyak.

Begitu... Bocah ini...

Ia sandarkan dahi di bidang dada Kennedy. Kelegaannya tak terjabar untuk kata "kita" terhubung "kekasihku", dan gemetar menahan tawa atas apapun konteks "permainan" sarap ini.

"Oh, Tuhan. Kau tak mengerti." Geleng Leon.

"Aku mengerti banyak hal, Kennedy. Tapi tentang kita... Jalani saja, oke. Aku sudah memilikimu, kan?" Ujar Chris kala merapatkan bibirnya pada bibir di bawahnya, mengecup lembut.

Ia lepaskan pegangan rantai dan meraba sepanjang lengan, kemudian beranjak turun.
Jari-jarinya menyusuri batang penis si agen, telusur lidah menggoda di seputar kepala penis... mencoba sedikit memuaskan dengan aksi oral.

Tak ada yang memalukan untuk kelakuan ini. Toh bocah ini sudah ter-klaim label "kekasih", kan?

Ya. Sejauh itu.

Leon mengigit bibir bawah seakan penampakan arti "sesuatu" sejalan pertemuan tatap. Gemerincing rantai borgol sewaktu beranjak duduk, memisahkan mulut dari pautan... dan menuntun Chris merebah.

Set celana diturunkan ke pergelangan kaki sembari berlutut mengurung kepala Chris, kemudian mulut menyambut penis yang masih lunglai dan Chris membuka mulutnya untuk mengulum keseluruhan batang penis yang tersuguh.

Ia sangat menikmati setiap kali barang pribadinya mendapatkan kemewahan liar di rongga mulut Kennedy... dan jari-jari itu benar-benar ahli.
Begitu juga pria di atasnya yang mulai menjalankan gerakan pinggul... melakukan pemuasan seks dalam rongga mulutnya- meski sedikit membuatnya tersedak beberapa kali, tapi ia berusaha mengimbangi kenikmatan bagi Kennedy menggunakan jari telunjuk dan jari tengah kedua tangan pada lubang dubur.

22... 32 Menit? Chris nyaris menemukan puncaknya, dan si agen semakin "wah" dengan atraksinya.

Hitungan detik berlanjut... ia tak tahan lagi. Leon di lain sisi, tak kurang dan lebih serupa.
Begitu titik temuan pangkal kerongkong, Chris akhirnya lepaskan ejakulasi... bersamaan animasi orgasme ke-8 milik Leon di dalam mulutnya.

Ia masih meresapi "rasa" dari Kennedy saat pria itu mengambil posisi bangun, menaikkan set celana sebatas pinggul sembari berjalan mencari sesuatu... dan berikutnya sudah merebah di sofa panjang.
Ia beranjak duduk, membenahi celana dalam dan celana panjang tanpa di retsleting, lalu mengamati sosok di dekatnya sedang mengakali kuncian borgol memakai pisau berburu. Itu mudah untuk si agen.

Leon meletakkan borgol dan pisau sewaktu Chris bangun dan mengurungnya kembali dalam kedekatan intimasi... membuatnya meladeni beberapa kali adegan ciuman tanpa perduli aroma berbeda dalam masing mulut.

"Kurasa ini yang namanya bulan madu...?" Senyum si agen kala kulum tipis sebagai alunan penutup. Chris samai senyum, hendak mencium bibir di depannya lagi... Ujung matanya keduluan menangkap kedip lampu led dari ponselnya.

'Sepertinya aku melupakan sesuatu...' Berdiri dan mengambil benda tipis itu dari atas meja dan ia syok. '01.52 pagi?' Jari buru-buru menggeser pada layar sentuh.
14 Surel baru, 26 telepon yang terlewat dimana nama Claire mendominasi 18 kali, Barry dan Rebecca termasuk.

Ah, lupa juga. Chris menghela panjang sambil menggosok-gosok rambut cepaknya.

Tiba-tiba telepon video masuk, berlabel nama adik tercinta. Iapun pandangi layar dengan ekspresi horor.

Kalau bicara obat... Tebakan kandungan aphrodisiac terhubung keadaan ponselnya di mode hening... Dengan GPS masih berada di griya tawang Kennedy, sudah pasti Claire menduga dimana letak "kegunaan" dirinya selama 5- uh, 6 jam ini.

Bilang apa ya baiknya? Kakakmu dengan sahabatmu sekarang "best-fuck-buddies"? Itu tentu BUKAN keterangan yang wajar.

"Claire...?" Pertanyaan menyela dari samping, dan merampas benda di pegangan, pencet "terima" tanpa basa basi. [Chr- EH? Ha-haha…] Lengking tawa garing dari dalam ponsel.

Bagaimana tidak? Panorama rusuh situasi ruang keluarga dan pemaparan lengkap penampilan tak malu-malu si agen... dimana tubuh atas itu sangat berantakan oleh- uh...

"Claire sayang. Mau balasan versi apa, hm?" Ucap Leon sembari menyeka rambut lepek ke belakang. Chris memilih melarikan diri dari lingkup kamera ponsel, menuju minibar.

[Oh... ya... Hahaha... Ehem. Sori Leon. Ouch, Sayang! Kau H-O-T sekali~] Hampir terasa versi nyata dari gaya godaan nakal Claire. Sedang si pemilik nama duduk santai di sofa, dan berikan komentar, "Ha-ha." Ala tawa sarkastis, lalu geletakkan ponsel di dataran sofa,

"Katakan H-O-T lagi?" Tunjukkan memar-memar lecet di pergelangan tangan, sekaligus pamerkan borgol.

[OH! Ah... HAHAHAHA! Um... Oke, uh... HAHAHAHA~]

"Claire. Aku tahu imajinasimu. Kuharap kau juga tahu bayangan rencanaku untukmu." Lanjut Leon penuh ancaman begitu merebah pada sisi sofa, dagu menumpu pada telapak tangan kiri.

[Kuharap tak libatkan sandwich. Ehem... Chris mana?] Claire masih berusaha menahan tawa, sementara Kennedy layangkan pandang ke arahnya yang sedang berjalan membawa dua gelas.

Tangan menerima sodoran gelas, dan ia alihkan diri dari kuncian pandang dengan meminum seluruh isi gelas di pegangan.

"Tuanku lagi minum." Jawab Leon. Chris langsung tersedak, batuk-batuk sambil menutup mulut begitu suara tawa adiknya menggema kembali dari speaker ponsel.

[TUAN? Uh, WOW... akhirnya Leon dimiliki ju- CHRIS!] Seruan wajah kaget di layar sewaktu ia mengambil alih ponsel.
"Cla-" [Ah! Ya Chris. Ehem... sori, maksudku tadi... um, oh, sebentar. Chris, telepon masuk nih. Tha!] Koneksi ditutup dari seberang semudah luncur tawa kecil si agen.

"Adikmu itu iblis." Komentar Leon seraya mainkan jari-jari pada lingkaran gelas.

"Ya. Dan aku sekarang punya dua." Chris membuang ponsel ke sofa tunggal, lalu mengambil porsi duduk di pinggir sofa yang dihabitasi si agen.
"Sebenarnya aku punya perasaan kalau kalian berdua menyembunyikan sesuatu." Ujarnya dikemudian.

Leon hanya mesem-mesem arti misterius saat meneguk seluruh isi gelas. "Apa itu penting?" Pertanyaan arti "intrik" sewaktu meletakkan gelas di lantai.

'Penting... Hm, benar juga.' Chris menyeka lembaran-lembaran rambut lepek Kennedy, kemudian maju mencium kening, turun ke batang hidung, bibir. Mulut di bawahnya berikan sesi ciuman; mengikuti alur tepat ia menarik tubuh itu ke pangkuannya.

Ia menaruh jeda intimasi antar mulut. "Keluar saja dari pekerjaan agen, aku akan merekrutmu masuk BSAA."
Lawan mainnya tampak berpikir kala ia jejerkan kuluman di sisi rahang yang memar.

"Hm... Kurasa misi dan seks bukan kombinasi yang bagus."

Chris agak tersipu akan sahutan yang mengenai pokok sasaran dalam otaknya, dan ilustrasi semakin menjadi saat pria itu teruskan,

"Pekerjaanku sekarang, asal kau tak menolak bantuanku... Aku tetap bisa merancang situasi khusus untukmu, dan turun ke lapangan secara pribadi." Di akhir kata, inti tetap spesialkan sebuah subyek.

Keduanyapun saling refleksikan senyum.

Oh, Chris sudah pasti takkan sabar menunggu kejutan "situasi khusus" tersebut.


Di suatu tempat, sebuah ruangan apartemen elit...

Di sofa tunggal, wanita molek dalam kenaan gaun merah panjang berhias baris kupu-kupu pada sepanjang kain yang terbuka sebatas paha kanan... topangkan paha mulus di atas paha sepasangnya.

Kedua mata memandang penuh perhatian manis ke layar datar 70 inci dimana terdapat gambaran dua sosok pria, berambut pirang kecoklatan dan berambut hitam cepak, sedang membuka seluruh kenaan bawah sambil berciuman penuh sensualitas erotika diteruskan adegan bercinta di dalam ruang kamar mandi.

Akhirnya kamera-kamera mini yang diletakkan diam-diam di dalam griya tawang Leon berguna juga sebagai hiburan menarik.

"Chris Redfield..." Guman seraya goyangkan cairan anggur merah dalam gelas kristal. Refleksi wajah cantik campuran Asia-Amerika, Ada Wong, terbias di sisi cembung kaca.

"Mungkin aku harus menambah suasana permainan. Nanti malam, mungkin?" Bibir sintal menggaris senyum arti "neraka bagi Leon Scott Kennedy".


TBC? Nah...


A/N:
Terima kasih yang sudah membaca.