Janji Di Bawah Sunset
By: Haruno Tsubaki
Chapter 7
Janji 10 Tahun Lalu
"Bicara apa?"
"Tapi berjanjilah kau tak akan marah."
"Tentu saja tidak, pinky. Kau mau bicara apa?"
"A-anu, aku…" Gadis itu pun kini menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau ini kenapa sih?"
"Haaaaah…." Sakura pun mengelah nafas. "Sebentar." Lalu gadis itu pun beranjak ke kamarnya dan tak lama dia pun kembali. "Apa kau begitu mirip dengan anak yang ada dalam foto ini?" Sakura pun menunjukan foto yang diberikan Sasuke.
"…." Sasuke tak menjawab.
"Kenapa diam?"
"Apa kau merasa lelah karena aku terlalu memaksakan kalau kau adalah gadis masa kecilku?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku hanya bertanya saja dan pertanyaanku itu membutuhkan jawaban." Sasuke pun diam sejenak.
"Ya, kau sangat mirip dengannya. Tapi aku sadar, dia sudah lama tiada. Seharusnya aku tidak meyakini hal-hal bodoh seperti itu."
"Jika anak itu masih ada, apa yang akan kau lakukan?"
"Menepati janjiku dan takkan ku biarkan dia pergi lagi." Kini raut wajah Sasuke berubah menjadi murung, tapi anehnya saat ini Sakura malah tersenyum mendengar perkataan Sasuke tadi.
"Kalau begitu tepatilah janjimu, aku akan menunggu hingga saat itu tiba." Sasuke pun membulatkan matanya.
"Apa maksudmu?"
"Ya aku akan menunggu. Karena aku adalah anak dalam foto itu." Sasuke sangat terkejut mendengarnya, dia tak kuasa menahan tumpahan emosinya dan langsung saja memeluk Sakura. "Maaf, aku meninggalkanmu begitu lama." Pipi sakura pun mulai basah.
"Tidak, bagiku tidak masalah jika aku harus menunggumu begitu lama. Asalkan akhirnya kau kembali, itu sudah cukup untuk membayar semuanya." Sasuke sadar, saat ini Sakura sedang menangis. dia pun segera melepaskan lepukannya. "Kenapa kau menangis? seharusnya saat ini kau tersenyum." Sasuke pun menghapus air mata di pipi Sakura. Sakura pun tersenyum. "Lihat betapa cantiknya dirimu sekarang, kau sama sekali tak pernah berubah." Mereka pun kembali berangkulan.
Kali ini Sasuke benar-benar merasa bahagia, tak ada kata-kata lagi untuk menggambarkan kebahagiaanya saat ini. Sakura, belahan jiwanya dari sejak kecil kini telah kembali. Ternyata firasat dari sejak pertama kali bertemu itu benar, memang pada awalnya sulit untuk dipercaya, tapi inilah yang sedang terjadi sekarang. Hanya pelukan hangat yang bisa mewakili semuanya, sebuah pelukan kasih sayang untuk sang belahan jiwa.
"Sasuke…" Sakura pun melepaskan pelukannya. "Kau tidak marah, kan?"
"Kenapa aku harus marah?"
"Karena baru sekarang aku memberi tahumu."
"Memangnya dari sejak kapan ingatanmu itu kembali?"
"Sejak aku tersadar dari kejadian di tempat loker siswa itu." Sasuke pun tersenyum.
"Sepertinya kau harus banyak-banyak berterimakasih kepada Karin."
"Benar kau tidak marah?" Sasuke pung menggelengkan kepalanya. " Terimakasih….." Sakura pun kembali tersenyum.
"Tapi kenapa baru sekarang kau mengatakannya?"
"A-aku hanya menunggu waktu yang tepat, waktu dimana hanya aku dan kau, Sasuke. Selain itu…." Kata-kata Sakura terpotong.
"Selain itu Gaara juga menyatakan cintanya padamu, kan?"
"Jadi kau sudah tahu hal itu?"
"Ya."
"Dari mana kau tahu?" Sasuke pun kembali tersenyum.
"Saat hari itu aku masih berada di kelas, tanpa sengaja aku melihat kalian berada di taman belakang. Aku memang tak mendengarkan apa yang kalian bicarakan, tapi tiba-tiba saja Gaara bejongkok di depanmu dan aku langsung bisa menyimpulkan apa yang sedang dia lakukan." Sakura pun menundukan kepalanya. "Hey, kau kenapa? apa aku mengatakan hal yang salah?"
"Tidak, maafkan aku. Aku pikir, waktu itu kaulah yang menyipannya di sana."
"Menyimpan? Menyimpan apa?"
"Surat."
"Oh, jadi dia mengirimu surat ya?" Sakura menganggukan kepalanya. "Aku tak perlu repot-repot melakukan hal itu."
"Kenapa? padahal aku sempat kegirangan mendapatkan surat itu, karena aku pikir itu adalah surat darimu."
"Jadi, kau ini menyukaiku ya?" Sasuke pun mengacak-ngacak rambut Sakura dan wajah gadis bermata hijau itu pun mulai merona. "Pantas saja kau menolaknya, karena aku jauh lebih keren kan? hahaha."
"Hentikaaann! Rambutku berantakan."
"Maaf… maaf.." Sakura pun membereskan rambutnya.
"Em.. kenapa kau tidak perlu melakukan hal itu?"
"Karena dengan janji itu saja sudah cukup." Sakura pun mengerutkan keningnya. "Nanti kau akan tahu jawabannya. Ngomong-ngomong akhir minggu nanti kita akan ke sana kan?"
"Tentu saja…" Jawab Sakura.
Di kediaman keluarga Uchiha, saat ini terlihat uchiha muda sedang mondar-mandir kesana-kemari di ruang tengah. Sesekali dia melirik kalender yang terpasang di dinding tuangan itu.
'Aku harus beli apa ya? Akhir pekan ini adalah ulang tahunnya, tapi sampai sekarang belum terpikir aku akan memberinya apa.' Gumam Sasuke.
"Kau kenapa dari tadi kau mondar-mandir begitu?" Tanya Itachi yang baru kembali dari ruang makan sambil membawa setoples cemilan kesukaannya, macaroni rasa keju. (sejak kapan Itachi suka macaroni rasa keju? Hahaha) Sang kakak pun melirik pada kalender yang ada di sana, terlihat ada tanda merah di salah satu tanggalnya. "Tanda apa ini, apa akan yang ulang tahun nanti?" Itachi pun beranjak dan duduk di kursi sambil membuka toples yang dia pegang. Dia pun mulai memasukan cemilan itu ke mulutnya.
"Ya, itu ulang tahun Sakura." Jawab Sasuke.
"Sakura, bukannya dia sudah meninggal 10 tahun lalu kenapa kau masih pusing-pusing memikirkan hari ulang tahunnya?"
"Dia belum meninggal." Jawab Sasuke dengan datar.
"Uhk.. uhk…. Uhkkk… apa kau bilang?" Itachi kaget dengan apa yang dia dengar.
"Dia belum meninggal, dia masih hidup."
"Benarkah?"
"Tentu saja, jika kau ingin tahu sekarang dia satu kelas denganku." Sasuke pun duduk di samping kakaknya dan ikut mencomot cemilan itu.
"Kau bercanda kan?"
"Tidak, jika kau tidak percaya datang saja ke sekolah besok." Lagi-lagi Sasuke mencomot isi toples itu dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Lalu sekarang kau mau apa?" Itachi kembali mencomot cemilannya.
"Em,, aku ingin berikan dia kado. Kira-kira kado apa ya?"
"Memangnya Sakura suka apa?"
"Em….. em…." Sasuke mulai berpikir, dia pun ingat suatu memori waktu mereka masih kecil. "Oh aku tahu.." Sebuah lampu pun muncul dan bersinar terang di atas kepala Sasuke.
"Tahu apa?" Sasuke pun membisikan sesuatu pada telinga kakaknya. "Ya, boleh juga."
"Hihihihihi…"Sasuke pun nyengir. "Oh iya kakak, tadi kau sempat tidak percaya Sakura masih hidup, kan?"
"Lalu?"
"Kau ingin bertemu dengannya atau tidak?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu tolong bujuk ayah dan ibu agar meminjamkan kunci rumah kita yang ada di sana?"
"Untuk apa?"
"Karena…bla.. bla … bla… bla….." Sasuke pun mulai menjelaskan suatu rencana pada kakaknya sambil diselingi comotan-comotan macaroni keju. Akhirnya sang kakakpun setuju dengan rencana besar adiknya.
Tibalah saatnya sang kakak beraksi untuk membujuk ayah dan ibu mereka. saat itu mereka sedang berada di taman belakang. Seperti kebiasaan setiap sore mereka, ayah sedang duduk-duduk sambil minum teh dan ibu sedang menyirami bunga kesayangannya. Itachi pun bergabung dengan mereka dan duduk di sebelah ayahnya.
"Ayah.." panggil Itachi.
"Apa?" Tanya ayahnya.
"Sudah berapa lama kita pulang ke sana?"
"Pulang ke mana?"
"Tentu saja pulang ke kampung halaman kita."
"Sekitar satu tahun yang lalu, memangnya kenapa?"
"Apa boleh aku ke sana?"
"Mau apa kau ke sana?"
"A-anu, ada yang harus aku kerjakan di sana."
"Memangnya kau mau mengerjakan apa?" Tanya ibunya.
"Ada sesuatu yang harus aku ambil di sana."
"Memangnya apa yang ingin kau ambil, biar ayah saja yang ambiklan." Ujar ayahnya sambil meneguk teh dari cangkirnya.
"Jangan, jangan… biar aku saja sendiri yang ambil." Sang ayah pun tersenyum.
"Kau berbohong kan?"
"Tidak, aku tidak bohong."
"Sejak kapan ayah mengajarkan kau berbohong, Itachi?"
"Haaaaaah,,,,," Itachi pun mengelah nafas. "Baiklah, ayah memang hebat."
"Bicaralah, sebenarnya yang sebenarnya.!"
"Iya…iya. Sasuke yang akan menjelaskannya. SASUKE…. CEPAT KEMARI..!" Ternyata saat ini Sasuke sedang mengintip mereka dari dalam rumah. Terlihat Sasuke pun memukul jidatnya karena sang kakak sama sekali tak melancarkan aksinya dengan baik. Sasuke pun segera menghampiri mereka.
"A-ada apa kakak?" Sasuke pura-pura tak tahu.
"Jangan berlaga tak tahu, sudah aku bilang kan aku tidak bisa berbohong di depan ayah. Cepat jelaskan semuanya!"
"I-iya, ayah aku minta maaf… aku hanya ingin meminjam rumah kita yang ada disana untuk akhir pekan ini saja."
"Memangnya apa yang akan kau lakukan disana?" Tanya ayahnya.
"Em…. Anu… aku …ayah,,, em…"
"Kau ini bicara apa, bicaralah yang jelas! Bagaimana bisa ayah memberimu izin jika kau tidak memberikan alasan yang jelas.?"
"A-anu, akhir pekan nanti Sakura ulang tahun. Jadi aku ingin…" Kata-kata Sasuke pun terpotong.
"Sakura pulang tahun? Bukannya dia sudah tidak ada, kenapa kau repot-repot ingin merayakannya?"
"Ayah… ayah tidak boleh bilang begitu! Sakura masih hidup."
"Sakura masih hidup? Kau tidak sedang bergurau kan?" Tanya Ibunya yang kini bergabung dengan pembicaraan mereka.
"Kau pasti bercanda kan, kau hanya membuat alasan agar ayah memberikanmu izin untuk memperbolehkanmu…"
"Tidak… tidak… aku tidak membuat alasan, ayah aku mohon! Hanya akhir pekan ini saja. Ibu, tolong bujuk ayah!" Tapi sang ibu tak bicara apapun, karena mereka mengira Sasuke sedang membuat alasan saja.
"Memangnya apa yang sedang kau rencanakan?"
"Aku ingin bla…bla…bla….bla…bla…" Sasuke pun menjelaskan panjang lebar tentang rencananya dan Sasuke juga menceritakan kisahnya dari awal mereka bertemu hingga saat ini. Mereka pun mengangguk-anggukan kepala, tanda mereka paham dengan apa yang Sasuke bilang.
"Em, begitu ya. Ayah jadi penasaran dengan apa yang kau bilang barusan."
"Ibu juga, jika menurut ibu jangan hanya kau saja yang mempersiapkan semuanya. Kau juga harus meminta izin pada ibunya Sakura tentang hal ini. Siapa tahu dia sudah mempunyai rencana sendiri. Nanti rencanamu bisa berantakan." Kata Ibunya.
"Benar juga apa yang ibu bilang. Hey Sasuke, ibunya Sakura kan bukan orang sembarangan. Memangnya kau dekat dengan ibunya yang sekarang?" Tanya Itachi.
"Tentu saja, bahkan dia memintaku untuk menjaganya." Jawab Sasuke.
"Jadi Sakura itu pacarmu?"
"Belum…." Jawab Sasuke dengan datar. "Em, begini saja. Mungkin sekarang aku akan menelpon ibunya Sakura dulu untuk membicarakan hal ini.
"Ya, itu bagus." Ujar ayahnya. Sasuke pun beranjak ke ruang tengah dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan sebuah telpon rumah. Sasuke pun mulai memegang gaganng telonnya dan memencet-mencet nomor yang akan dia tuju. Lalu dia pun menempelkan telpon itu di telinganya.
Tuuuut….. tuuuuutt… tuuuut…
"Halo.." Terdengar seorang wanita mengankat telponnya.
"Ha-halo, apa bisa bicara dengan Nona Tsunade?"
"Ya ini saya sendiri, ini siapa?"
"Ini aku, Sasuke."
"Oh Sasuke, ada apa?" Sasuke pun mulai menjelaskan maksudnya, untuknglah ibu angkat Sakura ini belum sempat menjalankan rencananya dan Sasuke mempunyai kesempatan itu. Sang ibu angkat ini pun setuju dengan rencana Sasuke dan memintanya untuk mengatur semuanya termasuk para tamu undangan. Sasuke meminta Nona Tsunade agar tidak membicarakan hal ini pada Sakura, agar seakan-akan dia sangat lupa dengan hari ulang tahunnya. "Baiklah aku mengerti, aku sangat mendukung rencanamu. Nanti aku akan mengirimkan barang-barang yang diperlukan ke rumahmu."
"Ya, terimakasih."
"Baiklah, sampai nanti." Tsunade pun menutup telponnya.
Keesokan harinya, saat ini bel istirahat sedang berbunyi. Para Siswa pun behamuran keluar, begitu juga dengan Sakura dang Tenten yang langsung tancap gas ke kantin sekolah. Tapi inilah saat-saat yang Sasuke tunggu-tunggu, dikelas itu terlihat hanya sebagian murid yang belum keluar. begitu juga dengan Shikamaru yang kini masih duduk di tempatnya. Sasuke pun segera menghampirinya.
"Shikamaru.." Panggil Sasuke
"Ada apa?"
"Apa boleh aku meminta nomor ponsel pacarmu?" Shikamaru pun langsung membulatkan matanya.
"Memanya kau mau apa meminta nomornya?"
"Jangan salah paham dulu, Sakura bilang pacarmu itu dulu satu panti dengannya. Aku hanya ingin mengubungi beberapa temannya yang ada di sana."
"Memannya ada perlu apa kau menghubunginya?"
"Akhir pekan nanti adalah ulang tahunnya Sakura, aku ingin mengundang mereka."
"Apa ualng tahunnya Sakura?" Gaara pun ikut nyaut dengan pem bicaraan itu.
"Benar, aku punya rencana pesta untuknnya."
"Pesta, kenapa kau tidak bilang?" Sai pun kini juga kut-ikutan
"Hey-hey kenapa aku tidak diberi tahu kalau ada persta." Kata Naruto yang mulai bergabung dengan mereka.
"Apa aku boleh ikut?" Tanya Kiba.
"Tentu saja, tapi jangan bilang pada Sakura tentang rencana ini. Ibunya mengundang kita semua dan juga beberapa teman panti Sakura." Ujar Sasuke. "Apa kalian mau membantuku untuk mempersiapkan semuanya?"
"Tentu saja." Kata Naruto dan Kiba sambil nyengir. Sasuke pun mulai menjelaskan rencananya, bagaimana pesta itu berjalan dan tempat diadakannya. setelah mereka mengangguk-anggukan kepalanya, mereka pun bergegas untuk mengubungi yang lain tanpa sepengetahuan Sakura tentunya.
Singkat cerita, bell pulang pun berbunyi. Biasanya sebagian besar dari penghuni kelas ini langsung saja tancap gas untuk pulang, tapi kali ini beberapa diantara mereka yang masih berdiam diri di kelas.
"Tenten, ayo kita pulang..!" Ajak Sakura.
"Maaf, kau duluan saja. Aku menunggu guru Kakashi, katanya ada tugas tambahan untukku." Tenten berbohong.
"Ya Sudah kalau begitu." Sakura pun beranjak dari tempat duduknya. "Sasuke, aku duluan ya." Kata Sakura sambil melewatinya.
"Ya.." Jawab Sasuke dan gadis itu pun meninggalkn kelasnya. "Baiklah saatnya bekerja, Naruto kau buntuti dia! pastikan dia pulang dijempun oleh ibunya."
"Rebes..!" Naruto pun keluar dan membuntuti Sakura. tak berapa lama dia pun kembali. "Dia sudah pulang." Ini dia saat pertempuran mereka, mereka mulai menyusun semuanya dari awal sampai akhir. Banyak ide ini itu yang keluar, banyak candaan ini itu dan banyak juga yang lainnya yang mewarnai pekerjaan mereka.
Mereka pun terbagi menjadi 2 tim, ada yang langsung meluncur ke TKP dan ada juga yang membawa barang-barang ke rumah Sasuke. Di TKP ternyata telah ada yang siap membantu juga, teman-teman Sakura dari panti. Dengan tambahan personil ini, pekerjaan pun menjadi lebih cepat selesai dari apa yang mereka perkirakan. Butuh 2 hari memang, tapi terasa lebih santai tanpa dikejar-ketar waktu.
Tibalah saatnya perjunjukan.
Teeeeet…. Teeeeeet…. Bel pulang pun kembali dibunyikan. Seperti biasa, semua murid berhamburan ke luar kelas.
"Sakura.." Panggil Sasuke sambil menghapiri gadis itu.
"Apa?" Terlihat Sakura sedikit kesal hari ini.
"Kau kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa." Sasuke pun tersenyum, dia tau apa yang menyebabkannya seperti ini. Tak ada satu pun teman yang ingat hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Ayo kita pulang.! Kau tidak mau kan kita terlambat melihat matahari terbenam?"
"Ya, baiklah." Sakura pun berdiri dengan sedikit malas.
"Kau tidak mau ke sana?"
"Mau, tentu saja mau." Jawab Sakura dengan semangat.
"Nah begitu." Mereka pun beranjak meninggalkan kelas, sedangkan yang lainnya pun segera tancap gas untuk pulang ke rumah masing-masing dan langsung pergi ke TKP.
Di gerbang sekolah.
"Ayo naik!" Kata Sasuke sambil membawa moge birunya itu, Sakura pun segera naik. Sasuke pun segera tancap gas ke rumah Sakura, setelah itu giliran ke rumahnya. Dan saat ini mereka sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sana. Sasuke pun mengeluarkan mogenya dari halaman rumah. "Sakura, tolong tutup gerbangnya..!"
"Ya, sebentar." Gerbang pun ditutup dan kembali naik di motor Sasuke.
"Pegangan..!"
"Nanti saja…"
"Sekarang! Aku tak mau seperti waktu itu."
"Ya, ya…" Sakura pun melinkarkan tangannya di pinggang Sasuke. Mereka pun mulai melaju. Perjalanan untuk sampai di pantai memang lumayan jauh, membutuhkan waktu satu jam untuk sampai di sana.
Singkat cerita mereka pun telah sampai di teluk tempat mereka bermain waktu masih kecil.
"Akhirnya sampai juga…" Ujar Sasuke. Sakura pun segera turun dari motor itu dan Sasuke memarkirkan motornya. Lalu mereka pun segera duduk di sebuah gubuk yang sering mereka gunakan untuk mengabiskan waktu ketika mereka masih kecil.
"Matahari terbenamnya masih lama ya?" Tanya Sakura.
"Ya…"
"Em, aneh sekali. Terakhir kali kita ke sini tempat ini sangat kotor, kenapa sekarang jadi bersih?"
"Mungkin ada yang membersihkannya.." Jawab Sasuke dengan datar, padahal kemarin dia yang membersihkannya.
"Oh…."Jawab Sakura tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Kini mata Sakura tertuju ke pesisir pantai yang ada di depan mereka. dia memandangi ombak-ombak yang saling berkejaran. Sakura pun tersenyum, teringat dulu dia sering bermain air dengan Sasuke hingga lupa waktu.
"Kita main air yuk!" Sakura terkejut, ternyata Sasuke memikirkan hal yang sama dengannya.
"Iya.." Sasuke pun segera melepas sepatun dan jaketnya, begitu juga dengan Sakura. Setelah itu, Sasuke pun menggenggam tangan Sakura dan berlarian ke pinggir pantai. Mereka saling menyiramkan air dan berlarian ke sana kemari. berlari-lari menghindari ombak yang datang, meskipun akhirya basah juga terkena ombak. Mereka sagat terlihat bahagia, seakan mereka kembali kemasa kecil mereka.
'Kau tahu Sakura, rasanya hari ini aku kembali ke masa lalu. Kembali bermain bersamamu, berkejar-kejaran seperti ini. Bagiku 10 tahun berlalu tanpamu tak masalah, karena saat ini kita sedang menebus 10 tahun itu. terimakasih telah kembali.' Gumam Sasuke.
'Seandainya aku bisa menghentikan waktu, aku akan hentikan untuk beberapa saat. Aku ingin lebih lama bersamamu seperti ini. Aku adalah orang yang paling bahagia sekarang. Aku beruntung bisa mengingat kembali semuanya dan kembali bersamamu. Aku harap, kita bisa seperti ini selamanya." Gumam Sakura.
"Sasuke… ombaknya datang…." Sakura pun berlari mengindari ombak tanpa melihat kedepan dan..
BUKK…. Sakura menabrak Sasuke, mereka pun terjatuh dengan posisi berpelukan.
"Maaf…" Kata Sakura.
"Tidak apa-apa.." Mereka pun bangun dan duduk di sana. "Apa kau tidak terlukan?"
"Tidak… aku tidak apa-apa." Sakura pun tersenyum.
"Haaaaaaah…." Sasuke pun mengempaskan badannya ke pasir dan berbaring di sana, tangannya pun dia jadikan sebagai bantalan. "Aku cape sekali… bermain air seperti ini ternyata masih membuat kita lupa waktu."
"Ya, kau benar. Aku harap hari ini tak akan berakhir."
"Ya, aku juga." Sasuke pun memejamkan matanya.
Ckrek… tiba-tiba saja suara itu terdengar hingga membuat Sasuke membuka matanya.
"Hey apa yang kau lakukan?" Sasuke pun bangkit dan duduk.
"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin mengabadikan ini saja."
"Berikan padaku…" Sasuke berusaha merebut ponsel Sakura.
"Tidak mau…" Mereka pun saling rebut, tapi akhirnya terebut juga oleh Sasuke.
"Coba aku lihat, ternyata aku tampan juga ya.?" Sakura pun mengerutkan keningnya. "Aku tidak akan mengapusnya, tenang saja."
"Ya baiklah…"
"Kau bilang ingin mengabadikannya, kan?" Sakura pun mengangguk. "Kemari lah!"
"Kau mau apa?"
"Kemari saja!" Sakura pun mendekat dan Sasuke pun juga mendekat. Sakura pun mengerti apa yang akan dilakukan Sasuke, Sasuke mulai mengangkat ponsel itu dan…
Ckrek…
"Lumayan…." Kata Sasuke sambil melihat hasinya. "Sekali lagi..!" Mereka pun kembali mendekat.
Cupp… Ckrek…..
"Sasuke apa yang kau lakukan?" Sakura kaget dengan apa yang dilakukan Sasuke karena telah mencium pipinya.
"Aku tidak melakukan apa-apa." Sasuke pun berlaga watados [wajah tanpa dosa].
"Hapus…. Cepat hapus…! Nanti bagaimana jika ada yang melihatnya.?"
"Ya berarti kau jangan memperlihatkannya pada orang lain." Jawab Sasuke dengan datar, Sakura hanya memandanginya dengan kesal. "Sudahlah, lihat mataharinya terbenam." Mata mereka pun kini tertuju pada sunset yang memancarkan cahaya jingga. "Selamat ulang tahun, Sakura…" Sakura pun terkejut dan tak menjawab apapun, sementara Sasuke hanya tersenyum memandangi ekspresi Sakura. "Sekarang usiamu genap 17 tahun kan?"
"Ya terimakasih, lalu?" Sasuke pun kembali tersenyum.
"Ini saatnya aku menepati janjiku, kau ingat kan?" Sasuke pun meraih kedua tangan Sakura. "Saat itu aku bilang akan menunggumu disini, tapi aku rasa aku lah yang membawamu ke sini. Tak apa lah. Saat ini saat senja yang istimewa, matahari pun bersaksi untuk kita, bahkan suara deburan ombak pun berusaha memberi tahu jika aku sangat menyayangimu. Aku mencintaimu Sakura, jadilah kekasihku untuk yang pertama dan terakhir dan jangan pernah lagi tinggalkan aku. Aku janji kita akan bahagia asal kau mau bersamaku disini. Kau adalah cinta pertamaku, kau mau kan?" Sakura masih tak menjawab apapun, dia hanya menatap lekat mata Sasuke. "Sakura…" Sasuke berusaha memanggilnya, tapi spontan Sakura langsung memeluk Sasuke. Sasuke sangat kaget dan membalas pelukannya.
"Tentu saja aku mau, tak ada alasan bagiku utnuk mengatakan tidak."
"Terimakasih, Sakura….."Sasuke pun mengeratkan pelukannya.
Sementara itu di TKP.
'Kemana dia? kenapa lama sekali….. aku sudah lapar ini. Makanannya terlihat enak, tapi aku tak bisa memakannya. Cepatlah… pestanya dimulai. Aku sangat lapar.' Gumam Naruto sambil memandangi makanan yang ada di depannya.
"Kau lapar ya, Naruto?" Tanya Hinata yang tiba-tiba saja ada di sampingnya.
"Ti-tidak, aku tidak lapar." Tapi perutnya pun berbunyi, Hinata pun tersenyum.
"Ini aku bawakan kau steak, aku sendiri yang memasaknya tadi."
"Tapi yang lain….."
"Sudah jangan dipedulikan, sekarang makanlah.!" Tanpa basa-basi, Naruto pun menyuapkan Steak itu ke mulutnya.
"Enak sekali….."
"Benarkah?" Pipi Hinata pun mulai merona.
"Iya, nanti kau masak dirumahku ya! Aku ingin ayah dan ibuku tahu jika ada gadis yang sangat pintar memasak." Nauto pun kembali memasukannya dalam mulutnya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk. Dia pun langsung membukanya.
From : Sasuke
Sebentar lagi kami sampai.
Naruto pun membulatkan matanya.
"Hey, Sasuke akan segera tiba. Cepat matikan lampunya…!" Naruto pun berteriak. Mendengar hal itu, Sai langsung mematikan lampunya. Ternyata benar saja, beberapa saat kemudian terdengar suara motor Sasuke berheti di depan rumah itu.
"Kenapa kita ke sini?" Tanya Sakura sambil turun dari motor Sasuke.
"Ini tempat penginapan kita, agar kita tak menyewa hotel. Lagi pula aku sudah meminta izin pada ayah dan ibu."
"Oh, begitu ya." Mereka pun segera beranjak menuju pitnu rumah. Sasuke pun membuka kunci rumah itu, dan membuka pintunya. Sakura tak melihat apapun karena lampu belum dinyalakan. Lalu mereka melangkahkan kaki ke dalam dan lampu pun dinyalakan oleh Sasuke.
"SELAMAT ULANG TAHUN SAKURA…." ucap mereka bersama-sama. Sakura sangat kaget, dia tak menyangka teman-teman kelas, teman-teman panti, ibunya, orang tua Sasuke dan kakanya, sampai tuan Kabuto pun hadir di sana. mereka pun menyalakan lilin dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Sakura. Gadis itu pun membuat permintaan dan meniup lilinnya. Sakura pun memotong kue, suapan pertama dia berikan pada ibunya dan yang kedua pada Sasuke. suapan ke tiga, dia makan sendiri.
"Sakura, lihat ini! Ini adalah kado dari Sasuke.." Kata Itachi. Ternyata ada sebuah boneka kelinci raksasa berwarna merah muda yang masih di bungkus plastic besar.
"Ya ampun besar sekali…" Itachi dan Naruto pun membawanya ke hadapan sakura.
"Kau suka?" Tanya Sauke.
"Tentu saja aku sangat suka. Terimakasih Sasuke, ini adalah ulang tahun terindah dalam hidupku." Sakura pun tersenyum dan Sasuke pun membalas senyumannya. Pesta ini pun berlansung sangat meriah. Banyak sekali kado dan ucapan selamat dari teman-temannya.
Tanpa terasa 8 tahun setelah itu berlalu begitu cepat. Kini Sasuke dan Sakura sudah menikah, mereka tinggal di rumah Sasuke yang dulu [itulah maksud Sasuke mengatakan 'tinggal bersamaku disini']. Ternyata orang tua Sasuke memberikan rumah itu untuk mereka. Sakura pun kini tengah hamil besar, usia kandungannya sudah 8 bulan.
"Tinggal satu bulan lagi…" Kata Sasuke.
"Iya…" jawab Sakura. Saat ini mereka sedang berada di gubuk tempat mereka menghabiskan waktu masa kecil. Sasuke pun menempelkan telingannya pada perut Sakura. "Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?"
"Em….. Ya ampun..!"
"Kenapa?" Sasuke langsung mengankat kepalanya dan tersenyum.
"Sepertinya anak kita laki-laki, barusan dia menendang kepalaku."
"Semoga saja laki-laki." Sakura pun tesenyum dan Sasuke juga membalas senyumannya sambil mengelus-elus perut Sakura.
-The End-
Mas bro, mbak bro, BEERRREEEESSSSS hahahaha, akhirnya beres juga fic yang pertama. Makasih sudah membaca sampai akhir. Makasih… makasihh…. Makasihhhh….. maaf, kalo lagi seperti ini gaje saya makin memuncak.
Maaf jika di chapter pertama sampe chapter terakhir ini masih banyak yang harus di perbaiki. Mengolah kata dan mencari ide lalu dikemas jadi fic yang menarik itu ternyata bukan hal yang mudah… haaaaaaaaaaaahhh….
Makasih banyak untuk akbar123 dengan lanjut… lanjutnya, hanazono yuri dengan update kilatnya, Uchiha Sakura, Melody in Sky10, Mega dwi, Hikary Cresenti Ravenia, dan juga teman-teman yang lainnya.
Ok lah kalo begitu, gak usah banyak basa-basi dan busu lagi. Sekali lagi saya ucapkan banyak-banyak terimakasih dan sampai jumpa di fic selanjutnya. '^_^'
