UPDATE BECAUSE TODAY'S BAEKHYUN BIRTHDAY!
And this is special present from me to all of you, my sweety readers….
.
.
.
.
I Can't
.
.
Dia tak pernah menyesali atau menyalahkan siapapun dengan apa yang sudah terjadi. Hanya saja, dia merasa tak siap, dia merasa takut dan yang paling penting dia merasa tak pernah sanggup. Tak ada yang bisa menebak masa depan, tapi 8 dari 10 prediksi orang lain terbukti kebenarannya.
Jika kemarin orang lain masih memuji dan mencintainya, bagaimana dengan nanti. Disaat semua orang tahu dengan keadaan dirinya yang sekarang. Bagaimana jika mereka mengejek, mencemooh atau lebih parahnya menghinanya karena dia cacat.
Benar. Cacat. Bagaimana Baekhyun tidak berpikir begitu jika seorang penyanyi tidak bisa bernyanyi lagi. Dan bagaimana dia tak berpikir seperti itu jika sesuatu paling penting dalam dirinya menghilang. Seperti sebuah guci yang retak, walaupun hanya se-inchi, orang lain tak akan mau memilikinya atau bahkan membelinya. Itu semua karena dia cacat.
.
.
.
"—Ikutlah pulang bersama kami."
.
.
Baekhyun sontak langsung tertegun saat kalimat terakhir itu masuk kegendang telinganya. Dia memutus kontak mata dengan Ibunya dan menunduk. 'Pulang...? Bersama Kalian? Apa itu berarti aku takkan pernah kembali lagi kesini?'
.
Jauh didalam lubuk hatinya, dia masih ingin tetap tinggal. Tapi disisi lain, tidak ada gunanya lagi dia disini. Dia bisu, dan tak ada alasan lagi dia bisa terus bersama mereka. Benar. Dia sudah tidak berguna lagi. Semuanya sudah berakhir. EXO sudah tidak membutuhkan orang cacat sepertinya. Mereka pantas mendapatkan yang lebih hebat. Tapi...
'Apa itu artinya aku harus berpisah dengan Chanyeol?'
.
.
Dia tidak akan pernah bisa melakukan hal itu, tapi...
.
.
Baekhyun mengangguk dan Nyonya Byun langsung tersenyum lega.
.
.
Tepat pukul 6 di sore hari, kedua orang tua Baekhyun akhirnya memutuskan pamit pulang setelah hampir seharian menemani anaknya. Baekhyun memang setuju dengan permintaan Ibunya untuk ikut pulang bersamanya, tapi dia juga meminta satu permintaan yang bagi dirinya itu sangat penting.
Dia hanya meminta waktu sehari untuk tetap tinggal bersama para member, sehari yang berarti hanya 24 jam ditambah satu malam nanti. Hanya 30jam, untuk tetap bersama teman-temannya. Hanya 30jam tersisa untuk tetap berada disamping Chanyeol. Untuk tetap bisa memeluknya. Untuk tetap bisa menciumnya. Untuk tetap bisa bersama dengan Park Do-bi—nya.
Dia sudah menceritakan segalanya, segala yang terjadi pada dirinya kepada kedua orang tuanya. Tidak ada alasan lagi untuk tetap menyembunyikan hal semacam itu.
Jika dia bersikap besok seperti hari terakhirnya, itu memang benar. Ini adalah akhir, akhir dari kebahagiannya.
...
"Aku pikir, mereka akan membawa Baekhyun hyung pulang."
"Kau pikir Baekhyun hyung barang? Bisa dibawa pulang seenaknya." Ucap Kyungsoo dengan nada sedikit jengkel. Dia kembali sibuk dengan novel ditangannya ketika seorang pemuda disampingnya memandangnya dengan bibir sedikit dimanyunkan.
"Bukan begitu maksudku, hyung. Aish!"
"Mereka adalah orang tuanya, jadi wajar saja jika mereka meminta kembali anaknya untuk pulang. Terlebih melihat kondisi Baek-hyung yang seperti ini, mana ada orang tua yang tega melihatnya?" perkataan Kai barusan sukses membuat perhatian pemuda bermata bulat itu teralih. Dia menghela napas sejenak sebelum mengeluarkan suaranya. "Kau benar Kai."
"Jika aku berada diposisi yang sama seperti Baekhyun hyung, mungkin aku akan...—"
"—aku tak tahu, mungkin aku tak sanggup hidup lagi."
"Dan aku lebih tak sanggup hidup lagi, jika kau saja tak sanggup hidup." Kyungsoo sedikit terkejut dengan ucapan Kai barusan. Tapi disisi lain dia merasa begitu berharga bagi pemuda tan itu.
"Aku tak tahu hyung, mungkin ini sedikit berlebihan. Tapi aku tak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpamu, aku tak akan membiarkan siapapun mencoba menyakitimu, hyung. Bahkan jika itu hanya goresan kecil diujung jarimu. Aku tak ingin melihatmu bersedih, apalagi menangis. Aku benar-benar tak ingin kehilanganmu, hyung..."
"Jong In..." Kyungsoo tertegun mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut pemuda berkulit tan itu. Dia tak pernah tau, sang dancing mechine ini begitu serius dan bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Aku bersumpah tak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk sampai menimpamu." Kai langsung tertegun begitu sepasang lengan ramping itu melingkar dibahunya. "Terima kasih Jong In... tapi kau tak perlu melakukan hal seperti itu. Aku merasa tak pantas menerima semua itu."
Kai menggeleng pelan, lalu mulai membalas pelukan Kyungsoo dengan melingkarkan kedua lengan kekarnya dipinggang pemuda berambut hitam tersebut. "Kau pantas, hyung. Karena kau adalah orang yang paling ku cintai dan paling berharga dalam hidupku. Itu berarti aku akan selamanya melindungimu."
Kyungsoo memejamkan matanya sejenak begitu Kai selesai dengan kalimatnya, tanpa dasar setetes cairan hangat merembes dari sudut matanya. Tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara beberapa saat, hingga akhirnya Kyungsoo berbicara lagi. Dan kalimat itu sukses membuat hati milik Kai berkali-kali lipat terasa lebih hangat dan bahagia.
.
.
.
.
"Aku mencintaimu... Jonginie."
.
.
.
"Aku juga mencintaimu, hyung..."
"Selamanya."
.
.
.
.
"Kkamjong! Kyungsoo! Pizzanya sudah dat—" Jongdae menghentikan kalimatnya begitu saja saat memergoki pasangan KaiSoo tengah berpelukan didalam kamar. Sementara itu, baik Kai maupun Kyungsoo langsung melepas pelukannya masing-masing dan mulai salah tingkah karena malu.
Chen kini sudah berdiri diambang pintu sambil melipat kedua lengannya didepan dadanya. "Masih sempat berlovey dovey, huh?" mendengar hal itu langsung membuat Kai berdecih pelan. "Ck. Dasar cockbloker, tidak bisakah kau datang disaat yang tepat. Menyebalkan." Gumamnya diakhir kalimat, tapi Jongdae masih bisa mendengar hal itu.
"Ini memang saat yang paling tepat, pizzanya sudah datang dan sebentar lagi saatnya makan malam. Ck, kalau bukan Minseokie hyung yang menyuruhku memanggil kalian, aku tidak akan mau. Lebih baik aku memakan jatah pizzamu saja."
"Apa!? Hey, mana bisa seperti itu!"
"Tentu saja bisa, dan hey! Kkamjong! Tidak bisakah kau bersikap lebih sopan dengan orang yang lebih tua darimu?" Kai mulai memutar bola matanya malas menanggapi orang yang sok tua ini. Dia lebih memilih keluar dan tentu saja menggandeng Kyungsoo bersamanya dari pada mendengar ocehan tidak penting dari pemuda yang dua tahun lebih tua darinya.
"ck, tidak adakah satu orang pun didorm ini yang menghargaiku sebagai hyung, hah!?" ucap Jongdae kelewat dramatis sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
Sedangkan Kai dan Kyungsoo sudah terkikik diam-diam melihat nasib mengenaskan dari 'hyung' mereka.
...
Chanyeol baru saja membuka pintu kamarnya berniat ingin masuk, tapi aksinya terhenti begitu melihat Baekhyun yang kini sudah duduk diatas tempat tidur dengan sebelah tangannya berusaha melepas jarum infus yang ada dipunggung lengannya yang lain.
.
Melepas infus?
.
"Baekhyun apa yang kau lakukan!?" pemuda tinggi itu langsung berlari kearah Baekhyun dan berusaha menghentikan aksi 'melepas infus'nya. Disisi lain Baekhyun langsung tersentak kaget begitu mendengar suara yang cukup tinggi itu hingga membuatnya sedikit takut. Dia mendongak dan mendapati Chanyeol tengah menatapnya dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan.
Beberapa saat mereka masing saling menatap sebelum akhirnya Baekhyun menunduk dan kembali mencoba melepaskan jarum infus yang masih menempel dipunggung tangannya, tapi aksinya tentu saja dihentikan oleh Chanyeol. "Baekhyun ada apa denganmu? Kenapa kau melepas jarum infusmu sembarangan?"
Tak ada jawaban. Tentu saja, semenjak Baekhyun tak dapat berbicara. Hal itu semakin membuatnya frustasi karena tak bisa mendengar jawaban apapun yang keluar dari mulut Baekhyun. Terlebih jika Baekhyun tak mau merespon apapun. Seperti saat ini, Baekhyun masih tetap diam dan menyembunyikan wajahnya.
Chanyeol menghela napas berat dan mulai berlutut agar dia dapat meihat wajah Baekhyun dengan jelas. Entah kenapa, tapi dia dapat menangkap raut wajah ketakutan yang terpancar dari sepasang mata sipit itu.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud memarahimu. Aku hanya khawatir." Ucapnya penuh penyesalan.
Baekhyun mengangkat wajahnya dan menatap Chanyeol. Dia mulai menggerak-gerakkan kedua tangannya mencoba berkomunikasi dengan bahasa isyarat seadanya, semenjak dia tak terlalu banyak belajar. Walau Chanyeol sedikit bingung, tapi dia masih bisa mengerti apa yang Baekhyun inginkan.
"Kau ingin makan malam bersama mereka?"
Baekhyun mengangguk tapi Chanyeol malah sebaliknya, dia menggeleng pelan. "Tidak, baek. Kau masih sakit, bagaimana jika kau pingsan lagi seperti tadi?"
Baekhyun kembali menatapnya seolah memohon, tapi lagi-lagi Chanyeol masih tetap menolak. "Lebih baik kau beristirahat disini, aku bisa mengambil pizzanya jika kau mau." Tanpa menunggu respon apapun dari Baekhyun, dia kembali berdiri dari posisinya dan berniat melangkah pergi tapi gagal saat melihat sekilas raut kekecewaan yang diciptakan oleh pemuda mungil itu.
Chanyeol menutup kedua matanya sejenak dan menghela napas berat. Mungkin tidak ada salahnya jika Baekhyun ingin makan bersama yang lain. Kondisinya juga sudah sedikit membaik, walau memang masih panas. Dan Chanyeol pikir, Baekhyun tidak akan kembali pingsan lagi seperti tadi pagi.
.
"Baiklah, ayo kita makan malam bersama."
.
Begitu kalimat itu sukses keluar dari mulutnya, dia tak bisa memikirkan apa-apa lagi selain sebuah senyum yang terpatri indah dikedua sudut bibir Baekhyun.
Biasanya akan ada sejuta kupu-kupu yang terbang tak beraturan didalam perutnya ketika pemuda mungil itu tersenyum. Tapi kali ini ada yang terasa berbeda.
Dan dia hanya berharap apa yang ada di didalam pikirannya saat ini hanya sekedar perasaannya saja.
...
Setelah selesai membantu Baekhyun melepas infusnya, dia mulai melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping milik Baekhyun dan menuntunnya berjalan. Hanya sekedar memastikan jika si mungil ini benar-benar aman, maksudnya dia tak ingin Baekhyun ambruk atau bahkan pingsan lagi seperti beberapa jam yang lalu.
.
.
"Hyung! Kau benar-benar mengambil jatah makananku!?"
"Aku tidak mengambilnya, aku hanya ingin mencicipinya sedikit." Jongdae langsung mengambil gigitan kecil pizza yang sudah berada ditangannya lalu meletakkannya kembali di box pizza yang berada didepan Kai. Jongdae menatap pemuda tan itu dengan sebuah cengiran evil-nya sedangkan Kai hanya menatap horor pada bekas gigitan pizza miliknya.
"Kim Jongdae!"
"Baekhyun?"
"Ha!?"
"Apa?"
.
.
Bukan hanya perhatian Kai dan Jongdae yang langsung teralih, bahkan semua pasang mata yang berada disana langsung tertuju pada seorang pemuda bersurai maroon yang sedang berjalan berdampingan dengan pemuda tinggi disampingnya.
Berbagai ekspresi tergambar jelas diraut wajah para member, Kai yang tadinya berniat memarahi Jongdae sekarang malah terlihat bingung sambil masih menatap Baekhyun yang sekarang sudah mendekat di salah satu sisi meja makan dan duduk diatas kursi setelah sebelumnya dibantu oleh Chanyeol.
Disisi lain, Baekhyun yang sedari tadi terus menunduk perlahan mulai mengangkat wajahnya. Hal ini terasa sangat aneh dan canggung baginya saat semua pasang mata memperhatikannya. Padahal baru sehari dia tak berkumpul dengan semuanya, tapi rasanya sudah seperti setahun. Seperti saat pertama kali dia bergabung dengan EXO. Betapa dia merindukan saat seperti ini.
Baekhyun kembali menundukkan kepalanya cepat, dan menutup matanya sejenak lalu menghirup napas perlahan. Dia mencoba mengontrol perasaannya saat ini. Dia tak ingin hancur sekarang juga didepan semuanya, dia hanya tak bisa. Karena dia merasa tak pantas.
Byun Baekhyun yang malang.
Byun Baekhyun yang penuh dengan belas kasihan.
Dia tahu, semua orang pasti menganggapnya seperti itu. Dan dia hanya berharap mereka tak beranggapan sama seperti orang lain.
.
"Ehm! Bisa kita makan... sekarang?" semua mata langsung teralih pada sosok pemuda berkulit tan. Merasa mendapat tatapan aneh dari semua member, membuatnya sulit menelan ludahnya sendiri karena saking gugupnya. "K-kenapa kalian menatapku seperti i-itu?"
Pukk!
"Aww!"
Kai tersentak kaget saat sebuah benda mendarat dikepalanya, secepat kilat dia langsung menoleh kearah samping dan mendapati sosok pemuda yang beberapa saat lalu sempat membuatnya jengkel, kini sedang menatapnya serius dan tak lupa sebuah garpu masih tergenggam erat ditangannya. Jongdae memukulnya dengan garpu, huh?
"Dasar anak kecil tidak tahu diri."
"A-apa!?"
"Kau tidak peka terhadap suasana."
"Kau bilang apa tadi?"
"Tsk! Selain tidak peka sepertinya kau mulai bermasalah dengan pendengaranmu. Benar begitu?"
"Kau—"
Semua member mulai memutar bola matanya malas mendengar percek-cokan tidak jelas antara sang dancing machine dan yang dibilang 'the real' dancing machine itu. Sepertinya perseteruan mereka belum berakhir.
Melihat hal itu membuat Baekhyun ingin tertawa. Tapi bukan suara tawa yang dihasilkan melainkan genangan cairan hangat yang sudah berhasil menumpuk di pelupuk matanya. Dia merasa bahagia, tapi disaat yang bersamaan hal ini membuat hatinya sesak.
Bagaimana bisa dia sanggup berpisah dengan mereka?
...
Sudah lebih dari 9 kali pemuda bersurai coklat itu menghela napas berat. Rasanya seperti ada beban 1kilo yang terus hinggap dipundaknya. Dia sangat paham bagaimana tanggung jawab menjadi seorang leader. Awalnya memang cukup berat, tapi seiring waktu berselang dia menjadi lebih percaya diri dan semakin bertanggung jawab.
Terkadang tak semua hal bisa dia tanggung sendiri, dia kerap meminta bantuan atau sekedar pendapat dari sesama leader, Kris. Tapi sepertinya kali ini lain ceritanya.
Percakapannya dengan manajer Im beberapa waktu lalu terus berputar-putar dipikirannya. Dia tak bisa sedetikpun tak memikirkan hal itu. Pernyataan Manager Youngjun tentang member baru itu memang benar adanya. Tapi siapa orang yang mungkin dianggap beruntung untuk menggantikan posisi Baekhyun, dia sendiri tidak tahu. Manager Im masih merahasiakan hal itu dari semua member termasuk dirinya sendiri.
Walau alasan dibalik pergantian 'sepihak' member EXO ini sudah jelas, tapi sebenarnya ada sesuatu dibalik itu semua. Sesuatu yang terkesan sebagai sarana balas budi tapi bagi Suho itu malah terdengar lebih egois.
Manager Im memang tak menceritakan segalanya, tapi semua itu sudah cukup untuk membuatnya tak bisa tidur nyenyak sepanjang malam.
Ide mengenai pergantian member baru itu bukan sepenuhnya keinginan pemimpin SM, Melainkan ide atau lebih tepatnya keinginan Tak YoungJun, pemimpin dari para manager EXO. Menurut apa yang diceritakan Manager Im padanya, PresDir Kim atau yang lebih dikenal dengan Young Min tak akan semudah itu mengambil keputusan mengganti member baru dalam waktu singkat. Terlebih group yang akan digantikan sedang hangat-hangatnya menikmati puncak kesuksesan karir mereka. Dan akan sangat fatal akibatnya jika satu skandal saja muncul ke permukaan. Bukan hanya group itu yang akan hancur, tapi Young Min sendiri juga akan mendapatkan kerugian besar.
Jadi yang menjadi permasalahan disini adalah Manager YoungJun dan calon member baru itu sendiri. Sedikit banyak yang manager Im ceritakan padanya, Young Min mempunya semacam hutang –bukan dalam artian nominal uang atau sebagainya—, melainkan lebih kearah balas budi. Entah pertolongan apa yang manager YoungJun berikan pada Young Min dimasa lalu, yang jelas ini bukan hanya balas budi biasa, karena ini sudah menyangkut masa depan perjalanan karir dan perusahaannya.
Dan sebagai bentuk balas budi dari PresDir Kim pada Manager YoungJun, dia mengabulkan satu permintaan penting dari manager yang menjadi pemimpin manager EXO itu.
Memasukkan salah satu keponakannya, untuk bisa masuk dan bergabung dengan group EXO.
Tentu saja 'calon member baru' ini bukan hanya orang asal-asalan yang langsung disetujui YoungMin begitu saja. Tanpa penampilan, skill dan sebuah prestasi dia tak akan berarti apa-apa dimata YoungMin.
Walau Suho rasanya ingin menangis mengetahui hal itu, tapi sebagian kecil dari dirinya mulai menyimpan rasa penasaran yang luar biasa tentang sosok 'keponakan' manager Youngjun yang akan entanlah, Suho sendiri merasa tak sanggup jika pemuda misterius ini benar-benar akan menggantikan posisi Baekhyun.
Dia tak pernah tahu berapa atau siapa saja keponakan Manager berambut cepak itu. Apa dia termasuk traine SM juga atau bukan dia tak tahu menahu.
Terlalu lama tenggelam dalam pikirannya sendiri, dia bahkan tak menyadari kehadiran pemuda lain hingga sepasang lengan tiba-tiba melingkar diperutnya.
.
"Katakan padaku apa yang sedang kau pikirkan, heum?"
Suara lembut itu berhasil masuk kegendang telinganya, dan membuat Suho menghembuskan napas lega kali ini. Dia memutar kepalanya kesamping dan memberi kecupan singkat dipelipis pemuda berdimple yang masih setia memeluknya dari belakang.
"Tidak, aku hanya merasa sedikit pusing."
"Hah, benarkah?" Lay langsung melepas pelukannya dan memutar tubuh Suho hingga tepat menghadap kearahnya. Dia mulai mengangkat kedua tangannya dan memainkan jari-jarinya di pelipis Suho.
Lay memijit kepalanya.
Mendapat perlakuan tidak disangka dari pemuda didepannya mau tak mau membuat sudut bibirnya sedikit terangkat. Pemuda asal China itu terlihat sangat serius dan telaten memijit pelipis dan kedua sisi kepalanya hingga tak merasa terganggu sedikitpun dengan tatapan yang diberikan Suho sedari tadi.
Baru saja Suho akan membuka mulutnya, Lay sudah terlebih dulu angka bicara. "Aku tahu kau tak akan menceritakan apapun padaku."
Mendengar hal itu membuat Suho sedikit tertegun, dia mulai memegang kedua tangan Lay yang masih bermain dikepalanya lalu menatap sepasang manik mata coklat gelap yang selalu membuatnya tenggelam semakin dalam tiap detiknya.
"Yixing, dengarkan aku.—"
"Tidak, Joonmyeon. Kau yang harus mendengarku." Kali ini Lay balas menatap Suho dan kembali berbicara. "Aku tahu, kau menyembunyikan sesuatu dari kami semua. Tapi bukan berarti hal itu harus kau tanggung sendiri. Jangan membuat dirimu terlalu stres. Aku tidak memaksamu untuk menceritakannya sekarang, mungkin nanti jika saatnya sudah tiba."
Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya Suho angkat bicara. "Maafkan aku..."
"Aku tidak butuh kata maaf darimu." Ucapnya tanpa ekpresi lalu memalingkan wajahnya kearah lain kecuali mata itu.
"Yi-yixing..." desisnya hampir tak terdengar. Dia hampir kehilangan kata-katanya begitu melihat sikap kekasihnya yang berubah secara mendadak.
Suho mengangkat kedua tangannya lalu menangkupkan wajah manis itu kedalam kedua telapak tangannya. Tampak jelas raut kesedihan disana begitu dia mencoba mengamati wajah manis itu.
Setelah beberapa detik terlewat dengan hanya menatap satu sama lain, akhirnya Suho menenggelamkan tubuh ramping milik Lay kedalam pelukannya.
"Aku merindukanmu..." terdengar gumamam kecil dibelakang kepalanya.
"Aku juga,"
Dan dengan seulas sunyum yang langsung terpatri di kedua sudut bibirnya, dia merasa semua beban yang setiap hari selalu bertengger dipundaknya musnah.
Sepertinya malam ini dia bisa tidur nyenyak tentu saja dengan pemuda manis dipelukkannya ini.
...
"Tidurlah yang nyenyak..."
Dia baru saja akan bangkit tapi sebuah cengkeraman dipergelangan tangannya sukses menghentikan aksinya. Chanyeol menoleh kesamping dan mendapati sepasang bola mata itu tengah menatapnya. Dia melepas cengkeraman tangan itu dan berbalik menggengamnya. "Ada apa, heum?" tanyanya pelan sembari mencoba mengulas senyum selembut mungkin.
Baekhyun menggeser tubuhnya sedikit kesamping dan menepuk sisi tempat tidur yang masih diduduki Chanyeol dengan sebelah tangannya yang lain. Tanpa bertanya Chanyeol sudah sangat paham dengan apa yang dimaksud Baekhyun. "Tapi..."
Baekhyun masih menatapnya dengan tatapan memohon, hal itu tentu saja membuat Chanyeol tak bisa berbuat apa-apa kecuali mulai naik ke atas tempat tidur dan berbaring disamping pemuda mungil itu. Bukannya Chanyeol tak ingin tidur bersamanya, tapi dari awal dia memang sudah memikirkan bagaimana kondisi Baekhyun. Tempat tidur yang mereka tempati tak seberapa besarnya, dan dia tak ingin membuat Baekhyun merasa tak nyaman jika dia ikut bergabung disaat kondisinya masih sakit.
Dia memang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu ada disamping Baekhyun, tapi bukan berarti hal itu membuatnya bersikap egois untuk tak memberi sedikit ruang untuk Baekhyun. Terutama kenyamanannya.
Dan jika boleh jujur, dia tak akan bisa tidur nyenyak sebelum menghirup aroma berry menyejukkan dari surai maroon itu atau bahkan memberi kecupan singkat di pelipis, sepasang kelopak mata, hidung, pipi atau bagian yang paling dia sukai, bibir cerry mungil itu.
Dia menyukai semua yang ada didalam diri Baekhyun. Suara lembutnya, tawa merdunya, celotehannya, bahkah kemarahannya. Tapi sekarang dia tak bisa mendapati hal itu lagi. Semuanya terasa hilang atau pada kenyataanya memang sudah hilang.
Betapa dia merindukan suara indah itu menggema ditelinganya. Tapi sebesar apapun Chanyeol berharap agar suara indah itu bisa segera kembali lagi, dia tetap memikirkan bagaimana kondisi Baekhyun.
Bagaimana perasaannya, apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Dia benar-benar sangat ingin tahu.
"Berjanjilah satu hal padaku..." Setelah beberapa menit terlewat, Chanyeol mulai memecah keheningan diantara keduanya.
Baekhyun pun mendongak dan manik matanya langsung bertemu dengan sepasang manik coklat gelap milik Chanyeol. Walau hanya ada sedikit cahaya didalam ruangan itu, tapi dia masih sanggup melihat sepasang bola mata itu tengah menatapnya serius.
Mereka masih menatap satu sama lain beberapa saat. Tanpa sadar Baekhyun ikut menahan napas menunggu kalimat apa yang akan keluar selanjutnya dari mulut Chanyeol.
"Berjanjilah, kau akan tetap disampingku apapun yang terjadi."
Begitu kalimat itu akhirnya keluar, dia bisa merasakan perasaan nyeri mendadak menyerang jantungnya. Butiran-butiran peluh mulai merembes dari sela-sela rambutnya. Tanpa sadar jari-jarinya mencengkeram erat ujung piyama milik Chanyeol.
Jika Baekhyun boleh meminta, maka dia akan selalu berharap bisa selalu ada dan selalu bersama dengannya.
Tapi dia tak bisa. Tidak kali ini.
.
.
.
.
'Maafkan aku... Aku tidak bisa.'
.
.
.
.
To be Continued...
.
.
.
A/N : Guess who's not update in almost pass three weeks? Am I don't think it's me...
Maaf karena kali ini saya belum bisa bales review dari kalian, tapi saya udah baca semuanya koq. Swear ^^V . Eum dan mengenai isi percakapan Suho dan manager Im, diatas udah dijelaskan. Tapiii, itu baru satu dari banyak 'sesuatu' lagi yang 'masih' belum terungkap. Sooo, saya berharap kalian tetep stay tune karena ini masih jauh dari 'unexpected thing' yang bakal muncul di chapter-chapter selanjutnya.
Some silly KaiChen, unfluffy Kaisoo and gentle(?) Lay ft. poor my guardian angel... Sorry for not making some fluffy Baekyeol. Kalian tahu, ini angst jadi saya gak yakin bisa buat banyak fluffy or sweetie moment for our cutie couple. Tapi tenang aja saya bakal berusaha buat koq, itupun kalo mereka masih bisa bersama lagi. /oopss/
OMG, please jangan lemparin saya pake kolornya om YoungMin karena saya kejem banget sama si bekunnn... /hide/
.
.
.
Sekali lagi HAPPY BIRTHDAY for my Cutest Little Bunny
errgghh nih anak ya, makin tambah umur gak makin tua malah makin imutt. Makin Cantik-coret- Ganteng, makin sexy, dan makin buat saya jatuh cinta.
.
.
See you in the next or next(?) Friday, and thanks for all your support. I'm really appreciate it^^
.
.
.
Hey... Don't forget to leave the coments^^
.
.
[Preview] Chapter 8
.
"EXO BAEKHYUN BUNUH DIRI?"
.
"Aku paling tidak suka jika ada yang menyela pembicaraan seseorang."
.
"Wow, Tuan Xi. Sejak kapan sikapmu menjadi lebih brutal seperti ini?"
.
"Jangan pernah sekalipun menyebut Baekhyun dengan sebutan seperti itu!"
.
-[Take Me Back to the Start]—
babybyunsoo © 2014-05-06
