Behind The Scene – The Cursed Soul (Part One)
Disclaimer : Asal tahu saja kalau Bleach itu bukan punya saya, tapi punya Tite Kubo Sensei
Warning : Membosankan. Jelek. Ngaco. dsb.
******************************TCS$$$TCS&&***************************
~=Alasan pembuatan Fic The Cursed Soul=~
Suatu hari, Author yang lagi pusing gara-gara skripsi numpuk, bete berat gara-gara suara bising dari lappie di ruangan sebelah. "Berisik loe, Ka! Bisa dikecilin ga sih tuh suara bumblebee (nama lappienya Genka)? Maen game kok suaranya kayak bikin seisi ramah kena gempa!" omel sang Author stress.
Sang adik yang masih berusia 12 tahun dengan muka polosnya ngelancarin puppy dog eyes, "Udah deh, Mbak. Sekaliii aja! Biar seru! Lagian nggak asyik kan kalo musti sunyi keik di kuburan! Hiyyyy!" (Author sweatdrop)
Saking penasaran dengan game yang dimainin sang adik, Author pun mendekat dan bertanya, "Ntu game apaan sih? Ceritanya tentang apaan?"
"Fire emblem. Isinya sih tentang perburuan setan gitu deh. Kenapa? Tertarik?" tanya sang adik dengan gaya sok nantanginnya.
Author yang kebetulan lagi puyeng langsung murka. "Heh, gue nggak bisa main game action tahu! Kalo game Yugioh sih, gue jabanin dah!"
Sang adik nggak mempeduliin kemurkaan kakaknya dan nerusin maen game. Akhirnya sang Author pun lama-kelamaan tertarik buat nontonin game RPG itu dan sejak hari itu mulai mencari data-data tentang game tersebut. Hari berikutnya, sang adik yang imut-imut nyebelin itu nanya, "Ngapain loe? Kepengen maenan juga?"
Sang Author cuma meratiin setiap adegan di game tersebut dan mulai bicara sendiri ga jelas. "Keiknya yang jadi tokoh utamanya lebih pas kalo diperanin sama Ulquiorra, mode bertarungnya pas banget. Trus cewek yang jadi sanderanya itu pas banget kalo diperanin sama Orihime. Dan yang jadi pembantainya ..." (dicut, nanti bisa kepanjangan kalo dijelasin semua)
Mendengar itu, Genka mengernyitkan alis. "Jadi kesimpulannya?"
Mendengar itu, sang Author mulai tersenyum dengan gajenya seraya menjawab.
"Mantap..."
Genka : (sweatdrop)
~*Pembuatan Fic The Cursed Soul*~
Author pun mulai mengumpulkan semua tokoh Bleach (nggak semuanya sih, paling yang penting-pentingnya aja) buat meranin tokoh utama, figuran, dn staf-staf perlengkapan.
Author (Anne) : Baiklah para pemeran fic 'The Cursed Soul' silakan lihat skripnya! Para figuran dan sie perlengkapan juga harus tahu hendak mengerjakan apa di sini!
Ulquiorra : (wajah stoic, masih tetep baca skrip) Humm, aku jadi ksatria pedang berkuda ya, di sini? Lumayan lah! Meski aku lebih suka pake sonido.
Author (Anne) : (sweatdrop denger komentar Ulqui)
Starrk : (mata terbelalak,wajah horor) HOI! FIC MACAM APA INI? KENAPA AKU JADI PSYCOPAT GAJE GINI? MANA AKU DI SURUH MAKAN JANTUNG LAGI! SARAP LOE, THOR!
Ichigo : (nahan muntah pas baca skrip)
Rukia : (nangis sesengukan gaje) A...aku di bunuh... T_T
Mayuri : (tampang sewot) Apa maksudmu membuatku menjadi sie perlengkapan? (narik kerah baju Author)
Hichigo : (tak kalah sewotnya) dan aku menjadi asistant sie perlengkapan? Aku tak sudi menjadi asistant dari ilmuwan gila keparat ini! (nunjuk Mayuri pake jari tengah)
Mayuri : (langsung ngamuk tingkat tinggi) DASAR CEREWET! DIAM KAU KAKEK HOLLOW TELMI!
All : (sweatdrop)
Author (Anne) : (ngelepasin diri dari cengkeraman maut Mayuri) Sudahlah! Jangan pada ribut! Biar saya jelaskan satu persatu! Untuk Mayuri! Tugasmu sebagai sie perlengkapan! Kau harus bisa menyediakan semua perlengkapan yang di butuhkan dalam pembuatan fic! Pertama, karena fic ini bernuansa zaman abad pertengahan di Inggris dan bertema dark magic, saya butuh sebuah tempat luas dengan setting hutan yang lebat plus salju karena settingnya musim dingin! Itu artinya, kami pinjam ruangan rahasia dan alat-alat lainnya dari divisimu untuk sementara!
Mayuri : (ngamuk gaje) APA? TIDAK! TIDAK BISA! AKU TAK MAU ASET-ASETKU KAU JADIKAN SEBAGAI PROPERTY FIC ANCUR INI! TIDAK MAU!
Author : (senyum iblis, berubah kepribadian) Oh, nggak masalah kok! Tapi aku nggak mau tanggung jawab kalo semua barang-barang divisimu hancur kena badai apinya Jigoku no Mugen, ya? (ngacung-ngacungin Amasunahime)
Mayuri : (berdecak kesal) Damn it! YA SUDAH AKU PINJAMKAN! SEKARANG, CEPAT SINGKIRKAN PEDANG JAHANAM ITU!
Author (Rinne): (cengengesan gaje) Oke! Setting hutan dan yang lainnya udah siap! Tinggal perlengkapan lainnya! Umm...ah iya! Darah! Aku butuh darah untuk scene pembantaiannya!
Ulquiorra dkk : Da...darah? O.O'
Author (Rinne) : -_-' Bukan darah beneran dodol!
Mayuri : Yare, yare... (langsung ngotot) JANGAN SURUH AKU LAGI UNTUK MENYEDIAKAN PERLENGKAPAN ITU! AKU BENCI DARAH! DAN AKU JUGA SUDAH MENGORBANKAN RUANGAN RAHASIA DAN BARANG-BARANG DIVISIKU!
Author (Rinne) : (terdiam) /waduh marahnya sudah stadium tinggi nih, nggak bisa ngebujuk lagi gue! Bisa kena konjiki ashishogijishou kalo maksa. Khhh! Merepotkan!/ Ok, buat darahnya biar urusannya Shirosaki Hichigo saja!
Hichigo : O.O' WHOT?
Author (Rinne) : OKE! SEMUANYA BERES! AYO KITA LAKUKAN SYUTINGNYA! ^_^
Hichigo : (ngamuk-ngamuk gaje) Dasar Author sinting! Awas kau! Ggrrrooooaaaaarrrrr!
All : (sweatdrop)
~*Scene-Scene THE CURSED SOUL*~
Scene 1 : At the Devil Castle part one, Camera! Rolling! ACTION!
Kuhampiri salah seorang serdadu yang tengah menggeliat kesakitan, ia nampak ketakutan saat melihatku. Aku berpikir ia mungkin takut dibunuh olehku, setelah semua teman-temannya tewas dibantai oleh anak buahku. Yaah, dugaannya hampir sepenuhnya benar. Tapi, aku menginginkan sesuatu darinya sebelum ia berakhir di ujung pedangku atau di mulut pistolku.
Aku menunduk dan berjongkok di dekat tubuh sang serdadu dan menjambak rambutnya. "Katakan. Di mana harta karun kastil ini disimpan?" tanyaku sambil menatap tajam ke arah serdadu itu. Kulihat serdadu itu terdiam cukup lama, ia malah memalingkan wajahnya dariku. Kuraih wajah serdadu itu dan memaksanya untuk menatap ke arahku. "Jawab pertanyaanku! Aku tak akan mengulangi pertanyaanku dua kali!" gertakku seraya mengacungkan pedang ke arah matanya.
Kurasakan getaran tubuh serdadu itu bertambah, ia menatapku dengan penuh ketakutan. Ya, ekspresi yang sangat kusukai, rasa takut akan kematian dan juga penderitaan.
Sang pemeran serdadu : (tiba-tiba kepalanya menelungkup di lantai, badan gemetaran)
Author (Rinne): CUT! CUT! ADA APA INI? NGGAK ADA SCENE TENGKUREP KAN DI SKRIPNYA?
Ulquiorra : (keheranan, mata masih natap ke arah sang pemeran serdadu) Kamu kenapa? Bangunlah. Aku kan nggak serius mau bunuh kamu.
Sang pemeran serdadu : (tidak menjawab, badan masih gemetaran, dan sukses bikin semua orang di studio cemas stadium 7)
All : (masih natap cemas)
Sang pemeran serdadu : (terdengar kekehan pelan, kemudian pecah menjadi tawa terbahak-bahak) BWAHAHAHAHAHA! OHOHOHOHOH! HIHIHIHI!
All : (sweatdrop, ngomong dalem ati) /lah ini orang udah sinting apa?/
Ulquiorra : (sebelah alis terangkat saking herannya) Ka, kamu kenapa? Apanya yang lucu?
Sang pemeran serdadu : (Masih berusaha keras buat menghentikan ketawanya) Ma, maaf Mas Ulquiorra! A, anoo... (tangannya nunjuk-nunjuk ke arah Ulquiorra) Buh... hehe... re-re-res... resleting Mas kebuka lebar, tuh! Hahahahahahahahahaha!
All : (semua mata langsung tertuju pada Ulquiorra dan melihat resleting celana aktor itu terbuka lebar, mereka langsung tertawa)
Ulquiorra : (langsung kabur dengan wajah merah padam)
Author (Rinne) : (sigh) Kayaknya dia nggak bakalan keluar lagi dari sana.
Scene 2 : Bertemu perampok di Hutan
Author : take 2 : bertemu dengan perampok di hutan! camera rolling! Action!
Pemuda setinggi 169 cm itu membakar tumpukan kayu itu dan menaruh panci di atasnya. Dia memasak sup untuk mengisi perutnya yang lapar, sekaligus mengusir rasa dingin yang mulai menyelusup ke sela-sela tubuhnya. Setelah matang, ia segera menyantapnya dengan lahap hingga tak bersisa.
Saat pemuda stoic itu sedang membereskan perbekalannya, mendadak ia mendengar suara yang mencurigakan. Ulquiorra segera memasang sikap waspada. Mata hijaunya mengawasi tempat itu, dan menatap curiga ke arah pepohonan yang berada tak jauh dari tempatnya beristirahat.
Ulquiorra tidak menyadari kalau dirinya tengah diintai oleh seseorang dari belakang dan langsung menyergapnya. Laki-laki berkepala botak yang menyergap Ulquiorra itu menodongkan pisau ke leher Ulquiorra. Ulquiorra tak bisa berbuat apa-apa, karena kalau ia salah bergerak ... maka nyawanya sendiri yang akan melayang. Ia hanya menghela nafas perlahan.
Laki-laki botak itu tersenyum licik dan berbisik di telinga Ulquiorra. "Hooo, rupanya ada pengembara yang tersesat ke wilayah kami, ya? Manis sekali!"
Ulquiorra merutuk dalam hati. Sial! Kenapa di saat seperti ini aku bertemu dengan sampah masyarakat macam ini?
Melihat pemuda yang sedang ditahannya terdiam, sang perampok itu jadi berang. "Serahkan barang berhargamu atau kau akan mati!" ancam sang perampok sambil mendekatkan pedang yang dipegangnya ke leher Ulquiorra. Tetesan darah mulai mengalir di leher putih pemuda berambut hitam dan bermata hijau zamrud itu. Namun, pemuda itu memilih untuk diam dan tidak melawan.
Rupanya sang perampok sudah habis sabar. Dia bersiul kencang untuk memanggil teman-temannya yang bersembunyi tak jauh dari tempat itu. Sekelompok orang-orang yang mengerikan keluar dari balik pohon yang berada tak jauh dari tempat Ulquiorra dan segera menghampiri pemuda berkulit pucat itu. Salah seorang di antara mereka memukul perut Ulquiorra dengan sebatang kayu dengan sangat keras.
Starrk, Zommari, Ikkaku : (melongok panci yang masih ada di atas tungku, mengaduk isinya, dan memakannya) O.O Eh, buset! Enak banget nih soup! Gebleeekkk! (nerusin makan dengan lahap, nggak inget kalo lagi syuting)
Ulquiorra : (sweatdrop)
Author (Rinne) : CUT!
Ulquiorra, Starrk, Zommari, Ikkaku : (melongo) Ke...kenapa?
Author (Rinne): Itu beneran soup buatanmu sendiri, Ulqui-chan? Emangnya loe bisa masak?
Ulquiorra : (sewot) YA IYALAH! ITU SOUP BUATANKU SENDIRI RINNE-SAMA! TENTU SAJA AKU BISA MASAK!
Starrk, Zommari, Ikkaku : Masakannya Ulquiorra enak banget! Coba aja dicicipin!
Author (Rinne) : (dengan perasaan was-was mulai mencicipi) /Ya, Tuhan, semoga Hamba selamat setelah memakan soup ini/ ... O_O'
Ulquiorra : (serius) Ke…kenapa? A…apa tidak enak?
Starrk, Zommari, Ikkaku, Mayuri, Hichigo, Uryuu : (mulai serius ngeliatin author)
Author (Rinne) : T_T Waaaoooo, Ma... Masakan ini...Huks, huks, masakan ini begitu...
Mayuri dkk : begitu...?
Author (Rinne) : Begitu... UEENNAAAKKKK! MAKNYUS! INI BARU NAMANYA MASAKAN! SEMRIWING, COY! MANTAP! T_T (nangis darah karena terlalu senang)
Hichigo dkk : O_O' WHOT! (langsung mencicipin masakan Ulquiorra) OMG! BENERAN UEEENNNAAAAAKKKKK TENAN, BOS! T_T (juga nangis darah)
Ulquiorra : Heh! Masakan buatanku enak kan? (mata menatap tajam)
Author (Rinne) : OKEH! SUDAH KUPUTUSKAN! KARENA SOUPNYA ENAK BANGET DAN JUGA GUE UDAH KELAPARAN, KITA TUNDA DULU SYUTINGNYA! AYO KITA MAKAN-MAKAN BARENG!
Hichigo dkk kecuali Ulquiorra : Yahoooo! Yeaaaahhhh! Kapan lagi bisa makan enak! ^_^ (langsung ngambil piring dan nasi, trus mulai ngegasak makanan yang tersedia di tempat itu)
Ulquiorra : O_O' WOI! WOI! GIMANA SIH! KAPAN MAU SYUTINGNYA, RINNE-SAMA?
Author (Rinne) : ULQUI-CHAN BUATIN LAGI SOUPNYA SEPANCI YA! SOUPNYA YANG INI KURANG!
Ulquiorra : (sweatdrop) Dasar author Stress...
Scene 3: Ulquiorra mandi di sungai... Woooowww, pemandangan indah! Camera, rolling, Action!
Keesokan paginya ... Ulquiorra bangun pagi-pagi sekali. Ia pergi ke sungai bersama Toushirou. Anak kecil berambut putih itu mengambil air di sungai, sementara Ulquiorra pergi ke tempat yang agak jauh dari tempat Toushirou mengambil air. Ia ingin membersihkan dirinya, sekaligus membersihkan bagian tubuhnya yang terluka gara-gara dipukuli oleh perampok beberapa hari yang lalu.
Ulquiorra mulai melepas pakaiannya satu persatu, dan membasuh dirinya dengan air sungai. Toushirou yang sedang mengambil air, tertegun melihat bekas luka yang sangat besar di punggung Ulquiorra. Bekas luka itu menyerupai tanda salib dan di sekeliling bekas luka itu terdapat simbol-simbol aneh yang artinya tidak diketahui oleh bocah itu.
Toushirou meletakkan ember berisi airnya di dekat kakinya, dan menoleh ke arah kakak perempuannya, Orihime, yang sedang mengamati mereka berdua dari kejauhan. Gadis berambut orange kecoklatan itu tengah memandangi tubuh kurus Ulquiorra yang sedang mandi di sungai. Ia juga memperhatikan bekas luka besar di punggung pemuda itu dan juga simbol-simbol aneh yang memenuhi tubuh pemuda berkulit pucat itu.
Ulquiorra yang merasa dirinya sedang diamati oleh seseorang segera berbalik dan melihat Orihime tengah memperhatikannya. Gadis itu segera menyembunyikan wajahnya yang blushing di balik pohon. Ulquiorra sendiri segera menyelesaikan acara mandinya dan buru-buru mengenakan pakaiannya setelah mengeringkan badannya.
Di tempat Orihime, entah kenapa jantung gadis itu merasa dag-dig-dug nggak karuan saat melihat Ulquiorra. Apalagi saat ia melihat pemuda itu ketika sedang mandi. Wajahnya tiba-tiba blushing mengingat kejadian tadi.
Orihime: (nosebleed)
Author (Rinne) : WOOOOOOIIIII! CUT! CUT! CUUUUUUUTTTTT! (ngamuk gaje)
Orihime : (gelagepan) Ke, kenapa Rinne-sama?
Author (Rinne) : (marah) Dasar otak kotor loe! Baru lihat badan Ulqui-chan aja loe udah nosebleed! Payah loe!
Orihime : (blush) Go, gomen! Habis badannya Ulquiorra bagus banget! Udah gitu mulus tanpa cela lagi!
Ulquiorra : (udah pake baju, blush) Hah? !
Author (Rinne) : (ngamuk gaje) Ulqui-chaaaaannnn! Hukuman loe menanti di Child Play! Ntar loe mesti pake baju gothic Lolita! Gue nggak mau tahu!
Ulquiorra : (muka pucet) OoO NOOOOO~!
All : (jawdrop, keringet dingin)
Scene 4: Masa lalu Ulquiorra, ketika diusir dari rumah... Camera Rolling! Action!
Ulquiorra menatap gelisah ke arah Nnoitra yang memberikan isyarat padanya, bahwa ia akan menyiksa Ulquiorra jika anak lelaki berambut hitam dan bermata hijau itu menerima tawaran dari ayahnya itu. Namun, tanpa diancam oleh Nnoitra pun Ulquiorra sebenarnya ingin menolak keinginan ayahnya untuk menjadikannya seorang Pendeta. Ia merasa kurang pantas, dan juga kurang cakap untuk menjadi seorang Pendeta.
Ulquiorra menarik nafas dalam-dalam. Ia menatap ke arah iris hitam kelam milik ayahnya itu dan berkata. "Saya tak mau menjadi Pendeta, Ayah. Kenapa Ayah tidak memilih Nnoitra saja yang menjadi Pendeta? Dia kan lebih tua dari saya."
"Tidak bisa, Ulquiorra! Ini sudah keputusan final para Dewan Pendeta! Kau harus menjadi pimpinan Pendeta atau kau pergi dari sini!" tukas Baraggan ketus dibarengi ancaman.
Mendengar itu Nnoitra tampak sangat bahagia. Rahang kecil Ulquiorra langsung mengeras karena marah.
"Baik. Kalau itu memang mau Ayah, saya akan segera pergi dari sini!" ujar Ulquiorra tak kalah ketus. Bocah berusia 13 tahun itu segera membalikkan badannya dan bergegas menuju ke pintu depan. Ia menulikan telinganya dari suara ayahnya yang menyuruhnya untuk kembali ke hadapannya.
Tepat saat ia membuka pintu besar itu ... tiba-tiba saja ada sesosok makhluk bertudung hitam yang menebasnya dengan pedang api yang berkobar-kobar. Setelah itu, pandangan Ulquiorra menjadi gelap dan ia tak ingat apa-apa lagi ...
Nnoitra : (marah gaje) OH, SHIT! DAMN!
Baraggan : (melotot horror) WHAT THE F**CKING HELL?
Ulquiorra : (panik gaje) DARAH! MAMAAAAA! KEPALAKU BERDARAH!
Yumichika : (lari-larian gaje sambil nutupin muka) GYAAAAAAAA! WAJAHKU YANG CANTIK!
Chojiro : BLOODY HELL! LEHERKU KEPOTONG!
Ginrei : (ngamuk-ngamuk gaje, muka angker) F**KER! SIAPA ORANG B****AT YANG NEBAS PAKE PEDANG DAN MERCIKIN API BENERAN!
[Maaf atas gangguan. Untuk sementara waktu studio tidak bisa digunakan. Terima kasih.]
Hallibel dan Szayel terdiam menatap papan dan segel kuning polisi yang menghiasi pintu studio.
"What the heck?"
TBC...?
A/N : Behind Scene of The Cursed Soul...
Maaf bila jelek, payah, dan tidak menghibur Anda.
Akan ada wawancara terhadap para tokoh "Bleach" yang memerankan "The Cursed Soul" di chapter setelah Behind The Scene part two, jadi...
Bila ada yang ingin anda tanyakan pada mereka dan pada saya sebagai author mengenai cerita, silahkan tulis pertanyaannya melalui review.
Sekali lagi, maaf ceritanya jelek.
Please review, if don't mind.
...
With younger spirit, white edelweiss, and red stigmata,
Marianne der Marionettenspieler.
