"Yuu! Titi! Ke –kenapa... Kenapa mereka menjadi seperti ini," seru Kenta hampir menangis melihat kedua temannya terkapar mengenaskan di ranjang rawat. Madoka sendiri sampai menggeleng-geleng tidak percaya, dan Ginga yang merasa...
"Ck –Sepertinya ini bukan perbuatan manusia," gerutu Ginga terus mengikuti kedua temannya yang di dorong ke ruangan gawat darurat –serta Kenta dan Madoka juga ikut.
"Siapa, sih, yang tega berbuat sekejam ini..." tambah Madoka yang sudah panik setengah mati. Langkah mereka terhenti begitu perawat menyuruh mereka untuk tidak ikut masuk ke dalam ruang rawat dan tetap tinggal di luar.
"Terakhir kita melihat Yuu itu kemarin, 'kan? Saat dia ingin menemui Tsubasa dan Titi yang katanya bermain di taman –" perkataan anak terpendek dari ketiganya itu terhenti, bertukar pandang dengan Ginga. Mereka melihat ke sekitar untuk memastikan bahwa...
"Sepertinya Tsubasa ada hubungannya dengan semua ini,"
INVERTED CROSS
.
Ch 7: Meet The Fate
.
Made By © IllushaCerbeast
.
Disclaimer MFBeyblade © Takafumi Adachi
.
Rate: T (for Yunani Kuno trick and the case)
.
WARNING(s): NO PAIRING, OOC, OC, CANON, MISSTYPO, and ALL.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
"Tuh, 'kan! Apa kubilang, aku tidak sakit! Kenapa kalian tidak percaya, sih?" gerutu Masamune begitu ia dibawa –dengan paksa– oleh pemilik Dungeon ke rumah sakit. Demi temannya, Zeo dan Toby pun menyusul mereka ke rumah sakit. Tapi begitu diperiksa, Masamune tidak terdeteksi penyakit apapun. Aneh...
"Jangan bilang begitu, Masamune. Kan kami hanya khawatir padamu. Tapi syukurlah kalau kau baik-baik saja," sahut Toby tersenyum senang. Sekarang mereka berempat sedang berjalan keluar dari rumah sakit yang baru saja didatangi satu jam yang lalu.
"Hah, baguslah kalau kau tidak sakit, bocah! Sekarang kalian banyak-banyak latihan saja! Aku ingin pergi membeli minuman dulu!" dengan itu, pria tanpa rambut itu segera pergi mendahului mereka.
"Hei, Masamune, aku... ingin menanyakan sesuatu. Tapi bukan tentang kau sakit atau apa," sahut Zeo kemudian membuat langka ketiganya berhenti. Masamune langsung menengok ke arah Zeo dengan polosnya, sedangkan Toby yang ada di sisi kiri Masamune mengangguk ke arah Zeo.
"Tanya soal apa?" ujar anak berambut jabrik hitam itu kedengarannya lugu. Tanpa buang banyak waktu, Zeo langsung menepuk pundak Masamune dan bertanya,
"Kemarin Ginga menghubungiku dan Toby, tepatnya saat kau ke rumah sakit. Mereka bertanya 'apa ada salah satu dari kalian yang bisa melihat cahaya aneh?', begitu. Sebelum kau betul-betul diseret waktu itu, kau bilang kau melihat cahaya, 'kan?" tanya si brunet secara perlahan tapi detail. Masamune menautkan alisnya.
"Ya, aku benar-benar melihatnya. Tapi sekarang, aku tidak melihat cahaya apa-apa lagi. Kenapa Ginga bisa sampai tahu dan menanyakan itu?" tanya Masamune balik sambil menggaruk-garuk rambut hitamnya. Zeo dan Toby langsung bertukar pandang setelah itu.
"Ehm, masalahnya cukup rumit untuk diceritakan, bahkan bisa dibilang tidak masuk akal." Jawab Zeo setengah hati. Kemarin Ginga memang tidak menceritakan secara detailnya, apalagi mereka berkomunikasi dengan cara jarak jauh seperti itu.
"Sudahlah, nanti Ginga akan coba berkunjung ke sini untuk melihat keadaanmu. Pada saat itu kau bisa menanyakannya, 'kan?" usul si rambut perak memiringkan kepalanya, tapi mendengar itu Masamune langsung cengo berdiameter 10 cm.
"APA? KESINI? OMAY... AKU BUKAN ANAK KAMBING SESAR YANG HARUS DIJENGUK, BAYANGKAN GINGA JAUH-JAUH DATANG KE AMERIKA CUMA INGIN MELIHAT TUBUHKU YANG LANGSING BAK SEHAT INI?" teriak Masamune tepat di depan muka Zeo...
"Baka! Suaramu kurang keras, bodoh! Jangan teriak-teriak di depanku, lagipula darimananya tubuhmu yang langsing?" bentak Zeo kesal, tapi langsung saja Toby yang ditengah-tengah mereka melerainya.
"Sudah, sudah! Jangan bertengkar disini! Masamune, apa yang dikatakan Zeo ada benarnya juga. Zeo, kau tidak perlu membentaknya," bujuk Toby berusaha untuk menenangkan keduanya. Alhasil, keduanya langsung diam. Suasana tenang kembali.
"Gomen, gomen. Ngomong-ngomong, ayo kita bertanding! Pelatih Steel juga mengijinkan kita, 'kan?" seringai Masamune menunjukan bey kebanggaannya. Melihat itu, Toby dan Zeo tersenyum lalu mengangguk. Ketiganya pun pergi ke arena bertanding bey yang tepat berada di seberang rumah sakit itu.
:InvrtdCrss:
"Haah..." seseorang menghembuskan nafas. Tempatnya berada sekarang adalah di atap salah satu gedung yang berakar di kota Metal Bey City ini, tentu saja tanpa diketahui siapapun. Sosok itu berbaring di alas atap dengan santai, seakan-akan atap itu berbahan bantal yang empuk. Di sampingnya, sesosok yang kelihatannya menganggur hanya duduk dengan memeluk kedua lutut.
"Aku tidak menyangka, kau bisa menjadi pengangguran memuakan seperti ini," tawa yang tengah berbaring, Damian Hart, yang entah sejak kapan bisa datang ke daratan Jepang dan keluyuran seenaknya disana.
"Berhenti mengataiku seperti itu, Damian." Sahut si peramal yang masih duduk diam bingung mau melakukan apa. Bola ramalnya masih belum ditemukan, juga identitas dirinya yang sudah ketahuan. Sosok yang tengah berbaring tadi terdiam, lalu ia bangkit berdiri dan menghampiri peramal itu yang masih terduduk, memeluknya dari belakang, dan membisikan sesuatu...
"Hei, kapan bola ramalmu ditemukan? Bukannya kita tidak punya banyak waktu, hm?" bisik Damian memeluk erat sosok itu entah dalam artian apa. Peramal itu hanya terdiam,
"Mungkin sebentar lagi, aku sudah meminta bantuan untuk mencarinya dan membawakannya padaku," jawab peramal itu sekenannya, karena yang ia tahu hanya itu saja. Damian memasang tampang misterius yang biasanya ia gunakan untuk menghadapi orang lain, kemudian seulas senyum tersungging di wajahnya.
"Begitu, ya..." dengan itu Damian melepas pelukannya dan bangkit berdiri, berjalan satu dua langkah ke arah lain, lalu membentangkan kedua tangannya ke atas.
"Kau tahu..." mendengar itu, sang peramal menoleh ke arah Damian yang ada di belakangnya, "...sebelum ini, keadaanku sangat terpuruk. Apalagi saat aku kalah dari Tategami dan mimpiku hancur seketika..." guman Damian dengan suara parau yang penuh misteri dan tidak bisa ditebak oleh sang peramal.
"Tapi, begitu kau datang padaku dan mengabarkan wahyu itu, rasanya aku mulai menyayangi nyawa ini," sambil mengucapkan itu, Damian menurunkan kedua tangannya dan mendekapnya didepannya. Angin yang menghembus di sekitar mereka serasa terabaikan.
"Keberadaanku sangat berguna untuk Babylonia ini, karena itu..." Damian membalikan badan dan menatap peramal itu dengan lekat, "...tetaplah disisiku, sampai dunia ini kiamat."
"A –" peramal itu kehilangan kata-kata mendengar permohonan dari Damian, lalu tertunduk sesaat.
"Hanya kau satu-satunya orang yang tidak mungkin berkhianat padaku. Yah, walaupun kau itu menyedihkan, sih..." kalimat terakhir membuat peramal itu speechless melihat Damian yang tertawa kecil.
"Tapi aku sangat senang begitu kau datang padaku waktu itu, dan menarikku dari keterpurukan," sekali lagi Damian memandang tulus ke langit sana, diikuti sang peramal yang masih tetap pada posisinya.
"..." tidak ada jawaban dari sang peramal. Kemudian Damian kembali menatap sang peramal dengan singkat.
"Hei, jangan begitu. Kau sudah diberikan 'tubuh' olehNya, bukankah dengan itu kau masih bisa jalan-jalan di dunia sempit ini? Sebelum Dia menggantikannya dengan Babylonia generasi baru?" lanjut Damian berkacak pinggang. Peramal itu tetap diam, sekarang menunduk pelan. Damian menghela nafas lalu menunduk tepat di depan peramal itu, menyentuh wajahnya dan menarik pelan ke atas,
"Apa?" tanya peramal itu dengan tampang datar pada Damian. Anak yang lebih pendek di depannya lagi-lagi mengulas sebuah tersenyum misterius.
"Kau tidak perlu bersedih, karena semuanya pasti akan berjalan seperti keinginanNya. Ya, 'kan, Eva?"
:InvrtdCrss:
"Ba –bagaimana? Mereka baik-baik saja, 'kan? Me –mereka akan selamat, 'kan?" seru Kenta begitu seorang perawat keluar dari kamar pasien Yuu dan Titi. Sang perawat terdiam, Ginga dan Madoka yang berada di belakang Kenta hanya bisa berharap-harap kesehatan kedua orang temannya.
"Ehm, siapa kalian? Apa kalian keluarga pasien ini?" tanya sang perawat balik. Kenta menunduk dan menggeleng.
"Aku bukan saudaranya, tapi aku teman dekat mereka. Tolong beritahukan kabar mereka sekarang!" ujar Kenta tetap bersikeras untuk kesehatan teman-temannya. Sang perawat tersenyum miris lalu berjongkok di depan Kenta, tinggi mereka pun kini setara.
"Anak manis, kedua temanmu sedang dalam kondisi kritis. Tapi kami akan mengusahakan yang terbaik untuk keselamatan mereka," jelas sang perawat dengan detail, "mereka sudah boleh kalian temui, tapi tolong jaga ketenangan."
"Terima kasih, ya." Sahut Ginga lalu ketiganya membuka knop pintu dan masuk ke dalam ruangan bercat putih itu.
Begitu ketiganya masuk, sekali lagi mereka membulatkan mata tidak percaya melihat kedua teman mereka terbaring dengan kondisi mengenaskan. Hampir diseluruh tubuh mereka berdua penuh luka bakar, juga luka baretan yang masih baru. Anak kecil dengan kondisi seperti itu tidak bisa sadarkan diri. Madoka mengambil kursi dan duduk di samping ranjang yang dibaringi Yuu,
"Kenapa bisa sampai seperti ini..." guman gadis berambut pendek itu cemas, separah-parahnya dulu terluka, tidak pernah sampai separah ini. Ginga dan Kenta menunduk, tidak bisa memberikan jawaban. Suasana ruangan serasa mencekam dan mencekik tiap hembusan udara yang lewat.
"Apa mereka bermain api, sampai terbakar seperti ini–"
"Tidak," jawab Ginga dengan tegas sebelum Kenta mengira-ngira. Kenta dan Madoka bersamaan menengok ke arah Ginga yang bersandar di dekat jendela ruangan yang terbuka, "...kalau mereka bermain api, tidak mungkin ada luka goresan sampai seperti itu." Lanjutnya. Kenta dan Madoka kembali merenungkan analisis dari Ginga.
"Benar juga, apa mungkin mereka ditodong sekawanan perampok yang membawa senjata tajam?" tebak Madoka kemudian. Ginga diam, kembali melirik keseluruhan tubuh temannya yang terluka itu.
"Senjata seperti pisau tidak mungkin membuat goresan tipis seperti ini. Luka ini mirip seperti sebuah cakaran atau serangan dari benda tajam yang kasar," sahut Ginga kemudian. Lalu Kenta memiringkan kepala.
"Sejak kapan kau jadi bisa menganalisis seperti ini, Ginga? Tapi ucapanmu ada benarnya juga, sih..." ujar Kenta sedikit kagum pada analisis temannya. Ginga kemudian memutar bola matanya.
"Eh? Iya, ya... Sejak kapan aku jadi bisa... Ah, lupakan saja, deh. Sekarang Yuu dan Titi lebih penting." Seru Ginga mengepalkan tangannya. Kemudian ia mengambil Pegasis yang selalu berada disisinya kemanapun ia pergi. Menatapnya leket-lekat.
"Pegasis..." gumannya dalam hati. Ia sangat yakin kalau masalah yang menyangkut teman-temannya ini, pasti ada hubungannya dengan Babylonia baru yang dikatakan peramal itu. Tadinya ia ingin berjuang bersama Pegasis dalam menyelesaikan masalah ini, tapi kalau ia terus bertanding, mungkin kiamat akan semakin dekat. Dan beyblade yang memiliki kekuatan dewa tidak hanya Ginga seorang. Masih banyak di luar sana, dan mungkin saja mereka masih asyik bertanding dengan beybladenya, tanpa mengetahui nasib dunia ada di tangan mereka.
"Ginga! A –apa itu?" seru Madoka menunjuk keluar jendela. Ginga yang terkejut spontan meletakan Pegasis-nya dan menengok ke luar jendela, tampak sekawanan burung yang kelihatannya ingin...
PRANGGG!
"Uwaaa! Hati-hati, Ginga!" seru Kenta dengan kedua tangannya berusaha berlindung dari pecahan-pecahan kaca jendela yang berhamburan di ruangan. Burung-burung itu dengan paksa ingin masuk ke dalam ruangan, kemudian mereka berterbangan menuju ke arah...
"Madoka, bola ramalnya!" teriak Ginga begitu burung-burung itu menghampiri sebuah tas bawaan Madoka yang memang isinya adalah bola ramal itu. Madoka ingin mengambil tas itu, tapi serangan burung-burung ganas itu membuat gadis berambut pendek ini mengurungkan niatnya.
"Ah! Sebenarnya apa yang terjadi, sih! Kenapa burung-burung itu mengincar bola ramal itu?" tanya Kenta berusaha mengambil tas yang dibawa terbang burung itu, begitu juga dengan Ginga. Tapi sebagian burung yang tidak mengangkat tas malah menyerang mereka dengan cakaran kasar, sulit untuk dilawan karena jumlah mereka juga banyak.
"A –aku tidak tahu!" jawab Ginga diselah-selah kegiatannya untuk berlindung dari serangan burung-burung kecil yang tidak bersahabat itu. Dengan sukses, sekawanan burung-burung membawa tas itu keluar dan menjatuhkannya ke bawah. Ginga yang berada di lantai dua mustahil untuk meloncat turun, ia pun melihat ke arah bawah jendela sana dan...
"Eh..." Ginga membelalak mata begitu menemukan sesosok familiar yang menangkap tas tadi dan... mengambil sesuatu yang menjadi miliknya. Sosok yang memakai jubah hitam sampai selutut juga tudung hitam yang menutupi wajahnya, Ginga betul-betul mengenal siapa itu...
"Blessed? Ke –kenapa kau bisa tahu bola ramalmu ada disini?" tanya Ginga setengah berteriak agar peramal yang ada di bawah sana bisa mendengarnya. Tidak ada reaksi, peramal itu bertindak seakan-akan tidak mendengar Ginga, berbalik badan lalu pergi.
"Blessed... Kau Blessed, 'kan? Tolong jangan lari dariku! Aku sangat membutuhkan bantuanmu!" seru Ginga sekali lagi. Dengan bantuan peramal yang misterius itu, pasti masalah ini bisa terbaca apa adanya, begitulah pikir Ginga. Tapi tetap saja sosok itu tidak mendengarnya, berjalan semakin jauh dari gedung rumah sakit.
"Kh..." Ginga meremas kayu yang menjadi bingkai jendela tadi, kesal karena ia gagal menghentikan anak yang tidak jelas identitasnya itu. Tapi kemudian Ginga melihat Kenta yang sudah ada dibawah, mengejar peramal itu.
"Ke –Kenta! Sejak kapan kau–"
"Aku akan mengejarnya, Ginga! Tenang saja!" dengan itu Kenta berlari menyusul peramal itu. Kalau jalan dikejar lari, pasti Kenta bisa menyusul sosok misterius itu dalam waktu singkat. Ginga menghela nafas, berharap pada keberhasilan Kenta nantinya.
Ternyata anak beriris coklat ini pintar juga, begitu mengetahui bola ramal itu dijatuhkan, anak itu langsung berlari keluar ruangan dan turun melalui tangga darurat yang pas sekali berada di samping ruang inap tadi. Begitu turun, dengan muda ia menemukan sosok berjubah hitam itu, tanpa pikir panjang Kenta langsung mengejarnya.
TAP TAP TAP TAP!
Tepat sekali kamar inap Yuu dan Titi berada di posisi belakang rumah sakit, dan di belakang rumah sakit adalah hutan kecil yang berada di tengah kota seperti ini. Sesosok anak berambut hijau terus saja berlari ditengah rindangnya hutan. Sosok yang dikejarnya sudah ada di depan mata, mungkin tinggal beberapa meter lagi ia bisa menghentikannya. Nafasnya bergemuruh, tapi sepertinya Kenta sendiri tidak peduli. Ia terus berlari berharap bisa menghentikan sosok itu.
GREPP!
Kenta menarik jubah peramal itu dengan keras, membuat langkahnya terhenti. Kemudian Kenta mengarahkan dirinya tepat di depan peramal misterius tanpa ekspresi itu.
"Apa?" tanya sang peramal dingin. Kenta mengkerutkan dahinya kemudian–
"Kau! Kenapa kau lari? Kau datang kesini tidak hanya untuk mengambil benda itu, bukan?" seru Kenta setengah emosi. Kenta bisa merasakan peramal itu seperti menyembunyikan banyak sekali fakta, dan hanya beberapa keping fakta yang ia beritahukan. Itu membuat Kenta menjadi jengkel seketika.
"Aku datang kesini hanya untuk mengambil apa yang menjadi milikku." Jawab peramal itu kemudian bermaksud mengambil langkah lagi, tapi Kenta langsung melentangkan tangannya.
"Jangan pikir aku bodoh, aku tahu kalau suaramu itu adalah suara buatan, dan aku tahu kalau kau begitu menyembunyikan banyak fakta dari masalah ini. Jadi jangan berpura-pura lagi!" bantah Kenta menahan peramal itu untuk kabur. Hening, hembusan angin kencang pun membuat hutan yang rindang itu menjadi sangat sejuk untuk dipandangi.
"Apa maumu sekarang?" tanya sang peramal itu lagi. Kenta meneguk ludah, ia muak akan masalah-masalah yang datang beruntun seperti ini, tapi orang yang bisa 'membaca' ini tidak mau memberitahukannya sama sekali.
"Tunjukan aku wajahmu!" seru Kenta dengan mantap. Mendengar itu, sang peramal menghela nafas. Sosok bertudung hitam itu lalu meletakan bola ramalnya di tas selempang miliknya. Kemudian ia kembali menatap Kenta yang berada di depannya.
"Kau yakin?" tanya peramal itu. Kenta menautkan alisnya bingung.
"Apa–"
"Apa kau yakin ingin melihat wajahku?" ulang peramal itu –lagi. Kenta terdiam mendengar itu, ia jadi teringat akan ucapan Watarigani, yang berkata bahwa wajah sang peramal sangat menyeramkan. Tapi bagi Kenta masa' bodoh, karena ia sudah siap, seseram apapun wajah yang dilihatnya.
"Te –tentu saja aku yakin, ayo buka tudungmu dan perlihatkan wajahmu," ucap Kenta kali ini semakin diperhalus. Hembusan angin kembali menerpa mereka, sang peramal itu tertunduk.
"Yang dilihat orang waktu itu adalah wajahku yang asli, tapi untuk sekarang kau tidak bisa melihat wajahku yang sesungguhnya, Yumiya Kenta." Ucap peramal itu dengan nada datar. Kenta yang bingung kemudian...
"Apa maksudmu?" tanya anak yang lebih pendek itu dengan raut wajah serius. Bahkan hempasan angin lembut pun tidak dipedulikan keduanya. Serasa dunia ini hanya ada Kenta dan si peramal itu.
"Seseorang memberikanku tubuh manusia, yang bisa kupakai untuk berkeliaran di dunia ini sebelum Babylonia baru akan datang," Kenta mengkerutkan dahinya begitu mendengar kata kiamat itu lagi. Tapi begitu mencerna baik-baik ucapan orang itu, mata Kenta sukses membulat.
"Kau... bukan manusia, ya?" tanya Kenta dengan takut-takut. Bahkan tanpa ragu, sang peramal itu mengangguk dan menjawab kembali...
"Ya, aku bukan manusia seperti kalian. Pertama kali kita bertemu, aku memakai alat pengubah suara untuk mengelabui kalian, para manusia. Sekarang kugunakan lagi karena mungkin kalian tidak tahu. Tapi ternyata tidak berguna..." dengan itu sang peramal membetulkan posisi tudung hitamnya sesaat, sedangkan Kenta hanya mengamatinya.
"E–" Kenta tidak sempat bicara begitu melihat sebuah alat pengubah suara dikeluarkannya dari dalam tudung. Dugaan Kenta benar, tapi dugaan itu juga yang membuatnya takut. Bagaimana dengan suaranya yang sekarang...
"Aku memang bukan manusia, dan yang sekarang kau lihat bukanlah diriku yang sesungguhnya," dengan itu sang peramal tanpa ragu melepas tudung beserta jubahnya, sedangkan Kenta yang sedari tadi sudah tidak sabar pun kini bisa melihat keseluruhan sosok itu. Jubah beserta tudung hitam itu sempurna terkulai di hamparan rumput, membiarkan sosok itu kini terhembus angin seluruhnya.
"Kau... terlihat seperti manusia..." ucap Kenta bingung. Padahal tadi peramal itu bilang ia bukan manusia, tapi apa yang dilihatnya sekarang benar-benar sosok yang menyerupai manusia. Sosok itu memiliki mata bagaikan merah darah yang kelam, warna kulit yang putih, berambut sepanjang punggung bewarna hitam, tangan dan kaki pun semuanya persis seperti manusia. Pakaiannya terlihat seperti seragam biasa. Tidak ada tanda-tanda janggal bahwa ia adalah...
"Ya, ini adalah tubuh yang diberikan seseorang untukku sementara. Setidaknya aku bisa leluasa berjalan di dunia dengan tubuh ini. Tidak akan ada yang mencurigaiku maupun memburon diriku," jelas sosok itu dengan tatapan datar. Kenta membulatkan mata tidak percaya, hal yang dilihatnya sekarang ini bagaiman kisah legenda yang tidak ada faktanya.
"Ini tidak masuk akal," gerutu Kenta mengacak-ngacak rambutnya frustasi, tapi sosok 'perempuan' di depannya tetap memasang tampang biasa, yang mungkin sudah menjadi ciri khasnya.
"...sekarang tolong minggir, biarkan aku lewat." Ucapnya tanpa ragu untuk melangka. Tapi kemudian Kenta kembali mencegahnya.
"Tu –tunggu! Kau jangan seenaknya pergi seperti itu!" seru Kenta menahannya. Ia bermaksud untuk mengajak peramal itu bekerja sama dan segera menyelesaikan masalah ini. Sosok itu menggeleng.
"Maaf, aku tidak bisa membantumu. Karena aku punya tugas lain yang jauh lebih penting. Jadi tolong minggir," sahut peramal itu berusaha untuk menyingkirkan Kenta dari hadapannya. Tapi Kenta tetap menahannya dengan keras. Sang peramal itu menghela nafas, kemudian...
"Suatu kekuatan yang meluap bagaikan ombak, berderu kencang bagaikan guncangan rasio, juga menghantam semua yang dilihatnya," ucapan peramal itu membuat si rambut hijau menghentikan pertahanannya dan mendongkakan kepalanya ke atas, menatap peramal yang jauh lebih tinggi darinya itu.
"Apa maksudnya–"
"Teman dekat kalian telah melihat 'cahaya' dan dikuasahi dewa yang memiliki kekuatan seperti itu," ucapnya lagi membuat Kenta terkejut. Peramal itu memberinya petunjuk, bahkan tanpa melihat bola ramalnya sendiri yang berdiam di dalam tas.
"A –apa yang kau–"
"Hanya itu yang bisa aku beritahukan sekarang. Jadi, bisakah kau membiarkan aku pergi?" entah kenapa Kenta langsung menghentikan perlawanannya dan bergeser, membiarkan sosok wanita itu pergi entah kemana tujuannya, giliran Kenta yang menatapnya dengan raut wajah senang karena mendapatkan petunjuk.
:InvrtdCrss:
"Kyoya-san, kau yakin ingin melakukan itu?" tanya sesosok tubuh yang lebih gemuk dari sosok yang dipanggil Kyoya tadi. Keduanya berjalan sembari berbincang-bincang singkat, melewati jalanan kota yang amat ramai itu. Sosok dingin itu mengangguk perlahan,
"Ya, kalau tidak yakin aku tidak akan pergi sekarang," dengan itu Kyoya melangkah semakin cepat disusul Benkei di belakangnya. Mereka melangkah semakin cepat menuju ke suatu gedung –atau lebih tepatnya stadium. Stadium tempat tanding bey di Metal Bey City.
Mereka terhenti sejenak begitu tiba di depan pintu stadium besar itu, di sekitar mereka begitu ramai dikelilingi banyak bladers yang setia mengunjungi stadium ini untuk bertanding. Memang sejak Rago kalah, dunia kembali normal, dan semua pun bertanding bey dengan leluasa. Tapi dengan adanya kabar buruk dari Ginga, Kyoya sedikit cemas kalau-kalau mereka terus bertanding bey maka akan memperburuk kondisi siklus dunia.
"Ayo, Benkei. Kita masuk dan beritahukan mereka untuk menghentikan pertandingan ini," sahut Kyoya disambut anggukan dari patner setianya itu. Mereka pun masuk, kiri kanan mereka tampak beberapa bladers yang berbisik-bisik. Sepertinya nama 'Kyoya Tategami' tetap terkenal di kalangan bladers. Maklum saja, Kyoya 'kan mantan pemain 'The Wild Fang' yang terkenal waktu itu.
Mereka berdua melangka melalui lorong yang gelap, di depan mereka tampak sinar dari pintu menuju arena stadium. Tak butuh waktu lama, Kyoya dan Benkei kini tiba di dalam stadium, dimana banyak sekali ribuan anak-anak yang bersorak-sorai menonton pertandingan, maupun para peserta yang dengan antusias mengadu kekuatan beyblade mereka. Pemandangan yang sudah biasa...
"Kyoya-san, ayo kita beritahukan mereka melalui MC! Pasti akan lebih cepat!" usul Benkei dengan semangat. Tidak menjawab, Kyoya pun melangka mendekati MC yang sedang seru-serunya memandu pertandingan di stadium pertama. Mereka berdua sama sekali tidak memerhatikan bahwa MC kali ini adalah MC yang berbeda, bukan MC yang mereka kenali sebelumnya. Dan yang menyadari itu pertama kali adalah...
"Kyoya-san, sepertinya MC-nya diganti, ya? Aku merasa tidak mengenali suara ini," bisik Benkei merasa terheran-heran, ia pun menatap ke podium atas, tempat biasanya MC memandu pertandingan. Sayangnya ia tidak bisa melihat dengan jelas karena terlalu tinggi dan pengaruh teriknya matahari.
"Hm? Apa itu?" tanya Kyoya mengkerutkan dahinya begitu melihat ke atas –bermaksud untuk memanggil MC itu dan menyampaikan maksud mereka. Tapi begitu ia mendongkakan kepalanya, tepatnya di podium MC, sepasang mata birunya malah menangkap sesuatu yang aneh yang ada di langit. Seperti sebuah garis-garis hitam yang membentuk spiral.
"Nee, lama tidak berjumpa, Tategami," ucap MC itu kemudian menatap ke bawah, tepat dimana Kyoya dan Benkei berdiri. Mendengar namanya dipanggil, Kyoya menjadi heran lalu menajamkan penglihatannya. Begitu ia lihat samar-samar, ia seperti...
"Aku seperti mengenalinya..." ujar Kyoya masih belum jelas melihat sosok itu karena gangguan sinar matahari. Melihat itu, sang MC baru tersenyum licik lalu bersandar di podium. Kalau dilihat dari posisi Kyoya, MC itu tepat bersandar di samping spiral yang ada di langit itu. Kini tangan sosok itu bergerak seakan-akan menyentuh spiral itu.
"Kalau kau berpikir untuk menghentikan pertandingan bey demi dunia, sayangnya kau tidak bisa. Karena kau harus melangkahi mayatku dulu, hehehe." Sosok itu menyeringai lebar, pandangan Kyoya kini sudah menjelas. Dan dapat dilihat siapa MC baru itu, yang dengan enaknya tahu apa maksud kedatangan Kyoya padanya.
"Da –Damian Hart? Kenapa–"
"Aku yang akan menjadi lawanmu, tidak akan kubiarkan kau menghentikan proses bangkitnya Babylonia baru," sahut sosok itu –Damian, yang entah sejak kapan kini berprofesi sebagai MC bladers di Jepang. Kyoya menggertakan rahangnya kesal, ia tidak menyangka sosok itu masih hidup dan sehat-sehat saja sampai sekarang. Belum lagi, apa yang diucapkannya seperti Damian ada sangkut pautnya dengan masalah ini.
"Kenapa... Kenapa kau bisa datang kesini? Dan apa maksudmu tentang Babylonia?" tanya Kyoya dengan suara lantang, terlihat menantang Damian yang santai-santai disana. Damian memutar bola matanya lalu menghela nafas pendek.
"Ah, tidak ada yang harus kujelaskan sekarang..." dengan itu Damian menggerakan tangannya ke atas, dan dengan itu dapat dilihat Kyoya bahwa terjadi perubahan pada spiral hitam yang dilihatnya itu. Spiral hitam itu kini semakin besar dan meluas, sampai akhirnya mengitari stadium itu. Kyoya maupun Benkei melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang.
"...orang yang melawan generasi baru adalah musuh, dan musuh harus dibasmi..." ucap Damian dengan keras, dan hal itu diikuti perubahan aneh yang terjadi pada anak-anak yang menonton maupun yang bertanding. Pandangan mata mereka kosong seketika dan perlahan turun dari kursi penonton dengan tatapan tidak bersahabat. Pintu ruangan pun semuanya tertutup keras tiba-tiba, Kyoya mendecih melihat keanehan ini.
"...Selamat bersenang-senang, Tategami." Ucap Damian lalu tertawa sekeras-kerasnya, tawaan yang terdengar sangat memuakan. Dan tanpa sadar, sekeliling mereka pun tampang ribuan anak-anak yang kelihatannya sudah kehilangan akal sehat, hendak menyerang kedua sosok insan itu.
:InvrtdCrss:
"Asyik, beli permen sebelum pulang!" seru Masamune sembari memeluk sebotol permen yang kelihatannya enak. Sudah langganan bagi Masamune untuk membeli camilan sebelum pulang ke Dungeon. Kali ini pun sama. Zeo dan Toby yang berjalan di belakang Masamune hanya bisa sweatdrop dengan tingkah temannya.
"Hei, Zeo..." bisik Toby dengan perlahan –sepertinya tidak ingin yang berjalan di depan mereka mendengar. Zeo memiringkan kepalanya lalu menjawab...
"Apa?" tanyanya bingung, kelihatannya Toby sedikit cemas.
"Tadi kau tidak lihat, saat kita bertiga bertanding tadi. Bukannya kita sering menang dari Masamune. Tapi kok tadi, Masamune menang mudah, ya?" tanya Toby dengan nada penasaran. Zeo mendengar itu terkekeh sedikit.
"Mungkin anak itu sedang beruntung, aku juga tidak menyangka. Dari 10 kali bertanding, kita tidak satu pun menang," keluh Zeo sebenarnya juga heran. Padahal mereka paling tahu kalau cara bertanding Masamune itu asal-asalan dan gerakannya gampang dibaca. Tapi tadi, Masamune kelihatannya menguasahi arena. Gerakan ataupun strategi Zeo dan Toby dapat dibacanya dengan baik.
"Heh, tapi tetap saja, 'kan aneh. Padahal terakhir bertanding sebelum tadi, kita lagi-lagi mengalahkannya," sahut Toby memutar bola matanya. Keduanya terus berbisik-bisik heran, sedangkan Masamune yang di depan mereka ...
"Aku bisa merasakan kekuatan yang aneh, seperti bisa membaca strategi dan jalan pikiran lawan saat bertanding bey. Kenapa, ya? Apa ini keberuntungan untukku? Atau..." guman Masamune seorang diri. Tanpa sadar kalau dirinya tengah diambang dalam bahaya yang tidak bisa dilihat manusia biasa...
:InvrtdCrss:
TO BE CONTINUED
AuthorNote (IllushaCerbeast): Yooo, minna-san! XD Lagi update gentar untuk fic IC, nih, hehehe. Dan pada akhirnya kami memutuskan untuk membuat peramal itu menjadi OC. Bagi yang ingin tahu bagaimana tampangnya, kami sudah menggambarnya, kok XD Yang mau lihat, bisa PM untuk minta alamat fb kami karena gambarnya ada di fb *plak* :D Untuk sekarang, masih belum ingin memasukan translate bahasa Yunani lagi, hehehe. Mungkin belakangan nanti baru ada kata Yunani baru, jadi tunggu saja, oke! Dan menurut minna, enaknya fic ini kapan tamat? XD Kami sendiri bingung kapan tamatnya. Soal target, kami pengen membuat fic ini sampai lebih dari 40 chapter /gila. Kebanyakan nggak, tuh? Atau masih kurang? XD Ya, sekian, deh. Review, ya! Review kalian membuat kami semangat untuk melanjutkan fic ini lagi, ehehehe.
SEND BACK REVIEW FROM YOU:
For Lordest Sweetest: TFR, ya. Yup, karena namanya juga fic misteri, jadi kami mulai sedikit demi sedikit memberikan trailer, hehehe. Baguslah kalau kamu suka dengan bagian trailernya. Dan 'Lord Never See Your Majesty' mmng jadi quote fic ini, kok, hehe. RB!
For Chii EmeraldRose: TFR, yo. Soal Blessed, dia jadi OC disini, hehe. Chik-chan sendiri sudah lihat 'kan gambarnya di fb :D Watarigani memang asli dari sananya lebay, sih *geplak* RB!
For AN Kozato Gravity Spheres: TFR, ya. Soal adegan 'perang'nya pasti ada, kok. Ditunggu, ya, ini saja sudah masuk ke bagian 'war'nya, hehehe. Identitas peramal sudah terbongkar di chapter ini. RB!
For GummieRobot1698: TFR, yo. Wah, direview sampai dua kali, arigatou, ya! Yup, mulai dari kemarin-kemarin kami akan terus memberikan trailer untuk perkembangan fic ini, hehe. Semoga suka, ya. RB!
For Daimaru: TFR, ya. Soal review, nggak apa-apa, kok, dibaca dan direview untuk chapter kemarin saja kami sudah senang. Terima kasih atas pujian dan tanggapannya juga, bikin kami bersemangat, hehe. RB!
For Sosogu Yoru: TFR, yo. Yup, selama liburan kami akan update kilat, jadi ditunggu, oke :D Pasti dilanjutkan sampai tamat, kok, hehehe. RB!
For Tai Naka: TFR, ya. Iya, reviewmu pasti akan selalu dibalas disini, hehehe. Ini sudah dilanjutkan, semoga memuaskanmu oke! RB!
For Tsubakiyoma: TFR, ya. Selamat nih sudah bisa review lewat kompinya, hehe. Ginga akan menemukan misinya sekitar dua chapter kedepan, ditunggu saja, oke :D RB!
For D'Espada: TFR, ya. Dan terima kasih atas pujian dan dukungannya :D RB!
For Tamae: TFR, yo. Oke, kami akan usahakan update kilat selama liburan, ya! RB!
For Domba: TFR, ya. Hmmm, siapa, ya, hehehe. Reviewnya ganti nama terus, nih, bingung :D Iya, ini sudah dilanjutkan, semoga senang :D RB!
For Rafa YoshitoHyouma: TFR, yo. Hehehe, gomen, nih, bikin jantungan terus, kebawa mimpinya jangan sampai bagian perang saja, hehe :D Salam hangat untuk adikmu juga, RB!
For Anon: TFR, ya. Oke, kami usahakan mendeskripsikan masalah sesimpel mungkin agar pembaca tidak bingung, terima kasih masukannya. RB!
For Liana Adivorgoreth Chukichu: TFR, ya. Turut berduka cita atas hilangnya akun lamamu, tapi berjuang dengan akun barunya, ya! :D Peramal itu OC, kalau mau tahu mukanya bisa PM kami :D RB!
*TFR: Thanks For Review.
*RB: Review Back.
TRAILER Chapter 8:
"Aku hanya alat bagi 'kreator', dan aku hanya melakukan apa yang diperintahkanNYA padaku,"
"Tsubasa sudah pulang ke WBBA, kok. Sepertinya ia tidak ada sangkut pautnya dengan Yuu dan Titi."
"Tanpa kalian sadari, Babylonia generasi baru sudah perlahan terbentuk, hanya saja kalian tidak tahu dimana letaknya. Ahahahaha!"
INVERTED CROSS
-"Lord Never See Your Majesty."-
