Untuk yang terakhir kalinya, Risa yakinkan readers bahwa fic ini mengandung warning yang mengatakan ada adegan YAOI, jadi harap maklum jika pair SasuSaku bercampur dengan hal itu. tapi finalnya adalah SasuSaku.

Oke, kalian ingin SasuSaku? Akan Risa berikan. Sebelumnya, kita bahas Sasu dulu. Setuju?!

Disclaimer : Naruto characters belong to Kishimoto-sensei

Warning : Typo, OOC, AU, Yaoi, Gaje, Alur kecepatan, dll…

# # # # #

Sasori POV

BRAKKKK

Oh, baiklah. apakah di rumahku sedang ada ledakkan atau memang penghuni kamar di sebelahku sedang ingin menghancurkan pintu dengan membantingnya? Apapun itu, aku bermaksud untuk melihatnya dan berharap menemukan jawabannya.

Aku mengetuk pintu kamar sebelahku dimana tempat Sakura berada. Tidak ada jawaban. Samar-samar dari balik pintu kudengarnya menangis disana. Aku memang pendiam, tetapi jika melihat adikku menangis, tidak mungkin kubiarkan.

Tanpa ijinnya, kubuka pintu yang tidak di kunci itu dan kulihat sosok rambut merah muda sedang membenamkan wajahnya ke bantal berwarna putih dengan motif lingkaran. Suara tersedu-sedu membuatku semakin yakin bahwa Sakura memang sedang ada masalah.

"Sakura, ada apa?" tanyaku

Tetap tidak ada jawaban.

Aku mendekatinya dan duduk di pinggir ranjangnya. Tanganku kuulurkan ke kepalanya dan mengelus rambut merah muda yang halus miliknya perlahan.

"Ceritakan padaku."

Sakura mengangkat wajahnya. Matanya cukup bengkak dan aku mulai dilanda rasa bersalah karena sudah pulang terlebih dahulu seperti biasanya.

"Sasori-nii… " isaknya

"Kenapa kau menangis?" tanyaku

Sakura menggelengkan kepalanya. Jujur saja, aku tidak tahu bagaimana menghiburnya. Aku tidak pernah melihatnya menangis selama beberapa tahun ini. Sakura anak yang tegar dan ceria, tentu saja ia mempunyai masalah yang selalu ia pendam sendiri.

Dan kali ini, apapun masalahnya, aku yakin itu cukup untuk menyakiti adikku hingga seperti ini.

"Kau tidak mau bercerita?"

"Tidak, bukan begitu," ucapnya parau

"Lalu?"

Ia mendongak dan menatapku dengan mata hijaunya yang basah oleh airmata. Ah, kenapa kami sangat berbeda? Ia memiliki bola mata tercantik dan terunik yang kuinginkan. Dan kini ia memandangku dengan mata indah yang basah itu.

"Mungkin… aku jatuh cinta," ucapnya pelan tapi masih dapat kudengar dengan jelas

Mata hazelku melebar,"Dengan siapa?"

Ia melirik ke arah lain,"Kau tahu siapa orangnya, Sasori-nii."

Baiklah, aku akan menyelidiki tentang itu nanti. Sekarang aku harus bertanya sumber permasalahannya. Seharusnya jika orang jatuh cinta itu bahagia atau mabuk dengan aura merah muda di sekelilingnya. Bukan menangis tersedu-sedu seperti ini.

"Lalu, apa masalahnya?"

Sakura kembali menunduk. Aku dapat merasakan aura hitam di sekelilingnya saat ini.

"Ia… tidak akan tertarik padaku."

"Kenapa?"

Sakura kembali tidak menjawab dan itu semakin membuatku heran. Tentu saja, bukan karena aku jarang keluar kelas dan bergaul berarti membuatku juga tidak tahu tentang beberapa pria tingkat tiga yang terus mengejar-ngejarnya karena kecantikannya.

"Jika ia normal, ia pasti akan tertarik padamu."

Aku melihat Sakura membeku sedetik sebelum akhirnya airmata miliknya kembali keluar disusul oleh suaranya yang seperti tercekik. Aku sadar, pertanyaanku tepat sasaran dan aku merasakan firasat buruk yang akan menghantuiku.

"Siapa orangnya?"

Kuharap bukan dia. Kuharap bukan…

"Sasuke."

Pria itu.

Kali ini aku yang mematung. Mungkin wajahku sudah memucat. Berbagai pertanyaan muncul di benakku membuatku semakin merasa bersalah pada Sakura. Karena aku dan adikku, jatuh cinta kepada orang yang sama!

Pertanyaannya adalah, apakah sekarang Sakura tahu jika aku gay? Bagaimana dia tahu Sasuke gay? Apakah dia sudah tahu hubungan kami? Kepalaku terasa kacau sekarang.

"Sasori-nii. Bisakah… kau tinggalkan aku untuk sementara? Aku tidak ingin kau ganggu."

Aku melirik Sakura. Matanya sudah benar-benar bengkak sekarang dan memerah membuatku benar-benar tidak tega melihatnya. Aku hanya bisa memeluknya.

"Baiklah. panggil aku jika kau butuh sesuatu," ucapku

Ia mengangguk dan aku melepaskan pelukanku kemudian berdiri dan segera pergi keluar melangkahkan kakiku keluar dari kamarnya sebelum kudengar suara seraknya.

"Terima kasih, Sasori-nii."

Aku menoleh dan tersenyum padanya kemudian menutup pintu.

Sasuke, aku memang mencintaimu. Dan betapa bodohnya aku, aku telah membuat adikku bersedih. Bagaimanapun aku menginginkan kekasih atau dirimu, aku tidak ingin adikku tersakiti karena keegoisanku sendiri. Apalagi aku adalah seorang gay. Itu pasti akan lebih menyakitkan bagi Sakura.

Dan itu semua membuatku bertekad. Akan kubuat Sasuke menjadi hetero demi Sakura.

.

Sasuke POV

"Sasuke, kau sudah terlalu banyak minum."

Aku mendongak dan mendapati mata lavender itu menatapku kesal. Tanpa memperdulikannya, aku kembali menatap gelasku. Kepalaku terasa begitu ringan dan pandanganku sudah agak kabur. Mungkin memang benar apa yang ia katakan.

"Aku masih ingin disini."

"Aku tidak mengusirmu. Aku memperingatkanmu untuk berhenti minum sebelum kau jatuh ke lantai tidak sadarkan diri di bar milikku."

Aku mendengus,"Kau benar-benar kejam."

"Dan diperlukan untuk seorang pemabuk sepertimu."

Aku diam dan tidak mejawab celaannya. Ini akan semakin membuat kepalaku yang terasa ringan menjadi berat kembali. Entah sudah berapa gelas, atau lebih tepatnya botol yang kuhabiskan sejak sore tadi aku datang kemari.

Setelah semua yang terjadi tadi siang, yang tentunya mematahkan hatiku, aku ingin sekali menguburkan diri diantara mimpi. Meskipun aku tahu, apapun itu tidak akan merubah bahwa Itachi memutuskan segalanya.

Flashback on

Aku dapat merasakan kembali bibirnya yang selalu membuatku bermimpi itu. walaupun sikapku memaksa, aku tidak perduli. Ia ada dihadapanku, ia kembali dari manapun itu ia berada. Dan ia sudah berubah. Kurasakan dari dorongan tangannya yang memisahkan kami dan membuatku kehilangan keseimbangan.

Itachi mengusap bibirnya dengan kesal. Pandangan mata hitam miliknya semakin menggelap dengan kekesalan dan rasa dingin disana. Dalam sekejap aku tahu, dia sudah bukan lagi Itachi yang kukenal dulu. Yang menarikku ke jalan dimana aku mencintai kakak kandungku sendiri dan jenisku.

"Dengar, kita tidak lagi bisa seperti dulu, Sasuke."

"Karena kita bersaudara? Karena kita sesama jenis?! Oh, bullshit. Kau tidak pernah keberatan dengan semua itu dulu."

"Ya, dulu. Dan sekarang berbeda."

Aku menatapnya dingin,"Bisa kulihat itu."

Itachi diam sejenak. Ia mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya kembali dari mulutnya. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celana dan bersandar pada dinding di belakang tubuhnya kemudian menoleh pada langit.

Aku bertanya-tanya, apa yang ia pikirkan sebenarnya?

"I-"

"Shit! I screwed up!" ucapnya kesal

Entah kenapa, aku tidak ingin bertanya. Aku tidak ingin tahu. Dan aku tidak perduli dengan apa yang akan ia bicarakan setelah ini. jika saja… telingaku tidak mengkhianati otakku.

"Aku menghamili wanita, Sasuke."

Saat itu, kurasakan jelas bagaimana jantung ini siap hancur.

"Dan aku… tidak bisa meninggalkannya. Aku… membuang nama Uchiha untuknya."

BUG!

Sekali lagi, aku melayangkan tinjuku padanya hingga ia oleng dan akhirnya terjatuh ke tanah. aku sama sekali tidak merasa puas dengan itu. aku ingin sekali menghancurkannya. Aku ingin sekali… membuatnya merasakan penderitaan yang sama dengan yang kualami selama ini.

"Maafkan aku, Sasuke."

"Kau gay. Kau mengatakan itu padaku. Bagaimana bisa kau menghamili wanita, brengsek?!" berangku padanya

Ia menatapku dengan mata dinginnya. Tapi kali ini mata itu menyiratkan hal yang berbeda. Sebuah perasaan bersalah yang amat dalam padaku. Dan aku tahu, setelah kata yang meluncur dari mulutnya, hubungan kami sudah berakhir.

Baik itu sebagai kekasih, maupun sebagai saudara dalam nama Uchiha.

"Kurasa aku bi. Aku melakukannya saat aku dan dia mabuk. Dan yang lebih parah lagi, ia masih perawan. Kau tahu aku, aku tidak mungkin meninggalkannya."

Aku diam. Tanganku masih mengepal keras hingga kurasakan sebuah cairan hangat keluar dari sela-selanya. Rasanya ada yang menjerit di dalam sana, tapi telingaku masih ingin mendengarnya lagi untuk mengatakan sesuatu.

"Aku tidak bisa menceritakannya pada kalian. Dan jika aku mengatakannya, aku akan menyakitimu, ayah dan ibu. Terlebih… ia wanita yang rapuh dan membuatku sadar, betapa aku tidak ingin kehilangan dirinya."

Perasaan itu sudah beralih dariku. Itachi bukan milikku lagi setelah sekian lama. Bodohnya aku.

"Dan aku kembali ke Konoha, untuk meluruskan semua hal tentangku denganmu. Atas saran istriku."

Atas saran istriku?

"Kau… menceritakan hubungan kita padanya?"

Itachi mengangguk,"Ya. Dan dia menerimanya dengan lapang dada."

Tidak dapat kupercaya. Wanita itu… ia menerima begitu saja dengan mudahnya. Bahkan menyuruh agar Itachi menyelesaikan masa lalunya. Menuntaskan semuanya. Wanita seperti apa dia?

"Sasuke, percayalah. Untuk memperbaiki semuanya, aku ingin berada disampingmu lagi sebagai pengajar untuk membimbingmu. Tapi aku tidak bisa lagi menjadi kakakmu maupun keakasihmu. Aku ingin menjadi manusia yang baru… Maafkan aku."

Aku menggelengkan kepala. Tidak bisa mengatakan apapun. Tenggorokanku terasa tercekat seakan ada sebuah batu disana yang menahan semuanya. Airmataku mengalir begitu saja seperti tadi. Yang membuat semuanya lebih buruk lagi, kulakukan di depan Itachi.

"Sasuke… "

Aku mendongakkan kepalaku dan menatap bola mata kembar itu. masih ada secercah perasaan bersalah disana.

"Bolehkah aku… "

Itachi mendengarkanku dengan rasa penasaran.

"Bolehkan aku… memanggilmu Aniki lagi, kalau begitu? Kau bukan lagi kekasihku, tapi bagaimanapun aku masih adikmu."

Dan kali ini, ekspresi berbeda ia tunjukkan disana. Sebuah senyuman terukir dengan hangat seperti saat kami masih bersama. Saat kami masih menjadi saudara. Ia menepukkan tangannya pada kepalaku dan mengacak rambutku.

"Dengan senang hati, baka otouto."

Flashback off

"Bagaimana rasanya patah hati setelah kau mematahkan hati para gay, bi dan hetero?"

Aku melirik Neji yang sudah kembali dari tugasnya sebagai bartender. Ia duduk disampingku dengan seragam hitam putih ala bartender miliknya. Aku mengambil kesimpulan ia sedang istirahat jika memilih duduk daripada berada di balik meja dan membuatkan minuman.

"Darimana kau tahu aku sedang patah hati?"

Neji menaikkan bahunya,"Kau meremehkanku. Aku tetap mempunyai informan di luar sana."

Aku mendesah,"Sial, Kau memata-mataiku?"

Ia menyeringai,"Aku tidak akan mengatakannya secara gamblang seperti itu."

Tidak memperdulikannya lagi, aku meminum sisa-sisa brendi yang berada dalam gelasku hingga habis dengan sekali teguk. Rasanya aku ingin menceritakan semuanya pada Neji, tapi sepertinya tidak perlu. Dia sudah tahu semuanya.

"Patah hati itu pahit, bukan?"

Aku melirik dengan kesal,"Seperti kau pernah patah hati saja."

Ya, setahuku Neji tidak pernah mengalami yang namanya jatuh cinta apalagi patah hati. Ia bisa dengan gampang mendapatkan apa yang ia mau. Ia juga seorang bi yang benar-benar hebat. Hebat dalam segalanya, jika kalian tahu maksudku.

Menguasai kedua hal yang berbeda, baik pria dan wanita adalah hal yang luar biasa. Aku mengakuinya. Itulah yang membuatku nyaman berteman dengannya. Karena ia bi yang berbeda dengan Suigetsu.

"Aku punya solusi untukmu, jika kau membutuhkannya."

Aku menaikkan alisku,"Apa?"

"Bagaimana jika kau men-, ah! Bukankah dia kenalanmu?" ucap Neji tiba-tiba

Aku mengikuti arah pandangnya dan menemukan pria berambut merah dengan tubuh mungil sedang berusaha untuk menyeruak masuk diantara kerumunan orang yang sedang berdansa, mabuk dan menggoda satu sama lain.

Aku tidak mempercayai mataku hingga merasa ini adalah halusinasi, tapi setelah beberapa kali kukedipkan mataku, aku yakin bahwa itu bukanlah halusinasi. Tidak salah lagi.

Itu Sasori.

"Akan kususul dia," ucapku berdiri dan segera melangkah pergi

Tubuh pria itu sungguh mungil untuk pria kebanyakan dan aku tidak ingin ia hancur diantara ratusan orang disini- meskipun itu mustahil. Tapi setidaknya aku dapat menyapanya duluan.

"Sasori," panggilku

Ia menyadari keberadaanku dan dari matanya kutemukan sebuah kelegaan disana. Apakah mungkin ia datang kemari karena ingin menemuiku? Oh, tentu saja.

"Ayo kesini," ucapku menggandeng tangannya

Ia sedikit bergidik sebelum akhirnya memutuskan untuk pasrah dan mengikuti keinginanku untuk menyeretnya ke tempat dimana aku dan Neji duduk tadi. Tempat satu-satunya yang aman untuk berbicara karena suara musik tidak terlalu menggangu.

"Terima kasih," ucapnya setelah kami tiba

Aku mengangguk dan menyuruhnya duduk. Neji sendiri sudah kembali bekerja dan siap untuk melayani kami di balik meja bartendernya. Ia memasang sikap seolah menanyakan pesanan untuk Sasori maupun diriku.

"Ah, aku tidak minum. Tidak hari ini," tolak Sasori

Tentu saja aku dan Neji segera mengangkat alis heran. Lantas, untuk apa ia kemari?

"Untuk berbicara denganmu, jika itu yang membuatmu binggung."

"Keberatan jika aku bergabung?" tanya Neji

Aku menghela nafas,"Sasori, ini Neji. pemilik bar ini. dan Neji, ini Sasori. kakak kelasku."

Neji tersenyum dan mengulurkan tangannya,"Oh, Salam kenal. Maaf tentang yang dulu itu."

Sasori menerima jabatan tangan itu dan mengangguk,"Tidak apa."

"Sekarang jelaskan. Jika kau kemari bukan untuk minum, apalagi yang kau inginkan?" tanyaku

Mata hazelnya menatapku lekat-lekat, tetapi anehnya aku tidak bisa merasakan getaran kekaguman yang dulu pernah kurasakan saat bersamanya seperti ini. Sepertinya efek patah hati benar-benar fatal untukku.

"Aku ingin kau menjadi hetero, minimal bi." Ucapnya tiba-tiba

"Apa?"

Dengan spontan aku bertanya 'apa', tentu saja. Sasori selalu penuh dengan kejutan. Ia tiba-tiba muncul mengatakan telah jatuh cinta padaku, kemudian menyuruhku untuk bertanggung jawab atas perasaannya, lalu kudapati ia adalah kakak dari teman sekelasku yang juga teman dekatku.

Sekarang? Dia menyuruhku untuk menjadi hetero, minimal bi!

Apa dia gila?

Kudengar suara tawa keras dari balik meja bartender membuatku mau tidak mau mengalihkan perhatian kami kesana yang dengan segera membuatku menyesal. Neji tertawa puas disana, bahkan ia menahan perutnya untuk membuatnya tidak sakit perut akibat tertawa.

Aku menggeram,"Neji."

"Oh, Hahaha, Sasuke. Aku menyukai kakak kelasmu ini. Oh, man. Dia benar-benar luar biasa!"

Aku menghela nafas,"Berhentilah tertawa."

"Kau tahu? Sebenarnya aku sependapat dengan Sasori. Aku bahkan ingin menyarankanmu untuk menjadi bi tadi. Tapi menjadi hetero seperti yang pria mungil ini sarankan, aku benar-benar tidak bisa menahan tawa."

"Terima kasih," timpal Sasori

"Berhenti! Kalian berdua… sudah gila."

Sasori menatapku,"Aku harap kau mau mempertimbangkan hal itu."

"Tidak perlu, karena aku menolaknya," ucapku tegas

"Oh, tidak. tidak. aku bersikeras kau harus menerimanya, Sasuke."

Aku memandang Neji sinis,"Mudah bagimu, bi."

"Dan mudah bagimu juga, tuan gay yang sedang patah hati," balasnya

Sasori mendengarnya dan ia menatapku lebih dalam,"Kau sedang patah hati?"

Ya, karena guru baru tingkat tigamu itu. dialah yang membuatku patah hati. Tapi, mana mungkin kukatakan hal itu padanya?

"Begitulah."

Sasori terlihat lega,"Bagus. Kau bisa mencoba menyukai wanita kalau begitu."

Oh Tuhan! Kenapa semua makhluk di sekitarku mencoba untuk mendorongku menyukai wanita? Dan demi apapun itu, aku sedang patah hati! Sadarkah mereka, Aku butuh cinta baru disini, yang jelas juga dari seorang pria. Bukannya malah membebaniku dengan menyuruhku berubah haluan menjadi seorang hetero.

Tidak bisa seperti ini. aku harus mencari alasan.

"Kau tidak lupa jika kau seorang gay juga, bukan? Kau bahkan mengatakan menyukaiku. Katakan, apa yang membuatmu berubah pikiran?"

Sasori terdiam sebentar. Ia melirik sekeliling ruangan sebelum matanya yang berwarna hazel itu kembali menatapku.

"Karena aku sedang patah hati karenamu dan berusaha untuk berpikir menyukai wanita juga."

Great answer.

Itulah satu-satunya yang dapat kukatakan padanya meski hanya dalam hati. Dan alasan itu, mematikan semua pertanyaanku selanjutnya untuknya.

"Menyerahlah, Sasuke. Kau harus mencobanya. Dan setelah itu, kau pasti akan ketagihan" timpal Neji dengan cengiran menyebalkan

"Bagaimana?" tuntut Sasori

Dan kalimat selanjutnya yang keluar dari mulutku, membuatku sadar bahwa hidupku dan semuanya akan berubah 180 derajat.

"Ajari aku."

.

Mata onyx ku memperhatikan beberapa murid wanita yang berlalu lalang dibawah daritadi. Beberapa dari mereka sadar jika aku memperhatikannya dan histeris kemudian menyoraki namaku dengan keras bagaikan seorang raja.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, dimana ada Shikamaru sedang menggoda Temari di sekitar gerbang sekolah. Tentu saja, Temari berteriak-teriak tidak karuan karenanya. Aku harus belajar dari ketangguhan sikap Shikamaru atas penolakan Temari.

Di sisi lain, kulihat Naruto sedang berbicara santai dengan Hinata. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu hingga terlihat berbisik disana. Sedikit penasaran, tapi aku lebih memilih untuk bertanya nanti.

Kepalaku terasa sangat berat sekali. Aku hampir tidak sanggup untuk bangun pagi ini karena sudah menghabiskan kurang lebih tiga botol brendi semalam. Untungnya aku bisa mengistirahatkan tubuhku pagi tadi di ruang kesehatan hingga siang ini aku mencari udara segar di atap sekolah.

Mungkin benar apa yang pernah kubaca atau kudengar dulu. Bahwa, jika ingin sembuh atau melupakan rasanya patah hati, cara terbaik adalah mencari cinta yang baru. Tapi mungkin untuk kasusku, aku harus merubah separuh dari hidupku.

Aku harus berubah menjadi hetero, minimal bi. Menyukai wanita, berkencan dengannya, menikah dengannya kemudian bercin- hoek. Belum. Aku belum bisa ke tahap itu. betapa menyedihkannya diriku.

"Sasuke."

Kudengar suara halus nan anggun menyebut namaku. Kualihkan kepalaku dimana Hinata berdiri dengan senyuman hangat disana.

"Ya?"

"Aku dengar dari Neji-nii, kau akhirnya ingin menjadi hetero?"

Aku mendesah,"Bi."

"Baiklah, bi. Jadi, kau sudah menemukan wanita mana yang akan kau jadikan pasangan?"

Pertanyaan itu bahkan lebih sulit untuk kujawab daripada pertanyaan fisika manapun yang pernah diberikan padaku. Pertanyaan yang tidak aku ketahui apa dan bagaimana jawabannya.

"Dimana Naruto?" tanyaku mengalihkan perhatian

Hinata tersenyum lebar,"Dia mencarikanmu kekasih."

Aku menepuk jidatku. Si bodoh itu benar-benar sudah mendengar semuanya dari Neji. Aku jamin, Shikamaru akan bergabung dengannya cepat atau lambat setelah ia selesai menggoda Temari dibawah sana.

"Tolong hentikan si bodoh itu. aku masih bisa mencari satu untuk diriku sendiri."

Apa sulitnya mencari wanita dari sekian banyak yang memujaku di sekolah ini? meskipun sering kali perilaku mereka mengganguku. Tapi, kali ini masalahnya lain. Aku sudah berjanji pada mereka untuk mencoba menjadi hetero. Ah tidak, bi.

"Kau tinggal menyebutkan tipe wanita yang kau inginkan agar aku menghentikan Naruto."

Aku memutar bola mataku mencari-cari bagaimana wanita yang tepat untukku. Yang berbeda dari Itachi, tentunya. Aku tidak ingin patah hati kedua kalinya untuk orang dengan sifat sama.

Dan bayangan itu muncul.

"Mungkin… ia harus menarik, tidak harus cantik tentunya. Memiliki penampilan yang unik dan tidak tergantung padaku dalam berbicara, karena aku pasti canggung dan tidak banyak bicara jika sudah berhadapan dengan wanita."

Hinata mangut-mangut. Mata lavendernya yang mirip Neji bersinar saat kusebutkan ciri-ciri wanita yang ada pada bayanganku itu.

"Satu lagi, aku tidak ingin dia salah satu dari fansku. Mereka tidak bisa membedakan yang namanya pengagum dan… " aku ragu menyebutkannya

"Dan apa, Sasuke?"

"Err… dan cinta mereka padaku."

Rasanya memuakkan saat kusebut itu. tapi kurasa masih bisa kutoleransi.

"Baiklah. aku akan memberi tahu Naruto. Sebaiknya kau juga mencari wanita yang ada dalam bayanganmu itu. kurasa kau yang lebih tahu siapa dia, bukan?"

Aku berdecih sebelum Hinata pergi dan menyusul Naruto yang entah mencarikanku wanita dimanapun itu. Hinata benar-benar mirip sekali dengan Neji. Soal otak, tentunya. Entah dari mana wanita itu bisa tahu apa yang kupikirkan.

Memang benar, ada satu nama dan satu sosok yang muncul dalam bayanganku untuk menjadi patokan tipe yang kucari itu. tapi, aku ragu jika hal seperti ini merusak pertemanan kami yang baru saja seumur jagung.

Percaya atau tidak, beralih dari gay menjadi bi atau hetero dalam keadaan patah hati itu benar-benar susah. Jika seorang jenius sekalipun berada dalam posisiku, mereka pasti menyerah.

Tapi, saat arah mataku mengarah dimana sebuah pohon besar berada, wanita itu disana. Ia sedang duduk dengan sebuah bekal di pangkuannya. Ia makan sendirian tanpa ditemani siapapun membuatku merasa ingin menemaninya. Toh, aku juga sedang sendirian disini.

Dan kuputuskan untuk menemuinya. Jauh dalam hatiku, aku ingin mengenalnya dengan baik lebih dari yang sekarang ini. Mungkin patah hati membuatku dapat memandang wanita jauh lebih baik.

"Kau sendirian?" sapaku

Tubuhnya tiba-tiba terlihat kaku saat menyadari aku sudah berdiri tepat di sampingnya. Perlahan ia mendongakkan kepalanya membuat mata hijau yang… astaga! Apa yang terjadi dengan matanya? Keduanya bengkak dan memerah!

"Matamu… kenapa?"

Ia menggelengkan kepalanya dan kembali memperhatikan bekalnya. Entah kenapa sikapnya terkesan menghindar dariku. Apa salahku?

"Boleh aku duduk disampingmu?"

"Silahkan," jawabnya dengan suara parau

Aku duduk disampingnya dan bersandar pada pohon besar yang cukup membuat kami teduh dari matahari yang cukup panas. Aku merasakan sedikit desir angin dan harum rerumputan yang tumbuh subur di pekarangan sekolah kami.

Dan yang lebih penting, aku merasakan sesuatu menggelitik perutku saat berada disamping Sakura. Aku meliriknya dari ujung mata, melihat gerakannya yang lambat menikmati makanan. ia terlihat pucat, lemas dan tidak seceria biasanya.

"Apa yang terjadi padamu?"

Tangannya berhenti,"Maksudnya?"

Aku menghela nafas,"Aku juga sama sepertimu, masuk ke kelas khusus. Jadi, jangan coba untuk membodohiku, Sakura."

Ia mengangguk,"Aku mengerti. Tapi… aku tidak apa. Mataku ini karena aku menangis semalaman. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Kenapa kau menangis? Apakah ada yang menyakitimu?"

Ia terdiam sejenak. Matanya menerawang jauh ke lapangan dimana banyak murid tingkat tiga berkumpul sedang bermain bola.

"Cintalah yang menyakitiku."

Satu kesimpulan yang kudapat. Dia sedang patah hati sepertiku. Dan percayalah, aku tahu bagaimana rasanya.

"Aku juga," timpalku

Ia terlihat terkejut dan menoleh kepadaku. Kulihat mata hijaunya yang tadi terlihat redup sudah mulai menyala kembali. Sepertinya ia tidak menyangka bahwa seorang Uchiha Sasuke bisa patah hati? Yah, aku tidak menyalahkannya.

"Aku juga patah hati. Sepertimu, disakiti oleh cinta."

"Kau yakin?"

Aku mengangguk,"Yakin."

"Kau ditolak? Atau… "

"Ya, aku ditolak," jawabku cepat

Tidak ada jawaban lain yang lebih tepat daripada itu.

"Bagaimana denganmu?" tanyaku

Ia terdiam dan kembali menerawang ke lapangan itu. sial, apakah salah satu dari mereka ada yang membuatnya patah hati? Bodoh sekali pria itu. apakah dia gay atau memang buta? Karena setahuku, Sakura adalah wanita yang paling ingin dikencani di KHS.

"Aku melihatnya kemarin. Dia mencium orang lain… dan itu menyakitkan."

Cinta bertepuk sebelah tangan, jauh lebih menyakitkan daripada cinta yang ditinggalkan. Setidaknya aku pernah merasakan cinta itu. sedangkan Sakura, ia tidak diberi kesempatan apapun untuk itu.

"Kau akan menemukan cinta yang baru," ucapku berusaha menghiburnya

"Mungkin. Aku tidak tahu dimana aku akan menemukannya atau bagaimana caranya. Aku bahkan baru menyadari jika aku jatuh cinta pada pria itu setelah kulihat ia mencium orang lain. Aku benar-benar terlambat."

Sebenarnya aku tidak pernah tahu bagaimana cara seorang pria sejati menghibur seorang wanita. Tapi sering kali aku melihat di film atau buku, jika hanya ada satu cara untuk menghibur wanita yang sedang patah hati.

"Sa-Sasuke?!" pekiknya terkejut

Aku hanya bisa tersenyum. Ia terkejut saat kuulurkan tanganku ke belakang tubuhnya untuk merangkulnya kemudian menarik tubuhnya ke arahku. Kepalanya kusandarkan pada bahu lebarku agar ia merasa nyaman. Setidaknya itu yang kulihat.

Tapi, tindakan ini penuh resiko. Jantungku, ia berdetak dengan cepat. Jika aku punya suatu tombol untuk mematikannya, aku bersedia. Kemudian jika Sakura sudah tidak bersedih, akan kuminta dia menghidupkannya kembali.

"Jangan bersedih lagi. Itu benar-benar tidak cocok dengan dirimu."

Aku tidak tahu ekspresi apa yang saat ini ia punya, tapi kuharap tindakanku ini membuat kesedihannya berkurang.

"Terima kasih… Sasuke."

Dan suara isakan keluar setelahnya.

Sekali lagi, kupelajari dari sebuah film dan buku. Jika ada seorang wanita menangis dalam bahu atau dadamu, peluklah dia. Hingga seluruh kesedihan yang bagaikan duri menancap dalam hatinya tercabut seluruhnya.

Yang tentu saja, kulakukan saat ini.

# # # # #

TBC

Fiuh!

Apa yang memberi inspirasi fic ini? Kalian, para reviewers! Karena pertanyaan kalianlah yang memberi Risa inspirasi, jika boleh jujur.

Jika kalian ingin Risa update cepat seperti sekarang, beri inspirasi dengan pertanyaan, kritikan dan apapun itu :D

See ya!