"Rukia!" seseorang berteriak pada Rukia. Meski Rukia sedikit risih mendengarnya karena banyak orang yang melihatnya. "Syukurlah kau belum pergi." Rukia masih terdiam.
"Apa yang kau lakukan?" ia tidak menyangka ada orang yang mengenalinya. Setelah semua usahanya untuk berubah menjadi laki-laki.
"Kau Rukia Kuchiki bukan? Yang selalu kuajak bicara di atap sekolah?" Rukia tidak berniat mengangguk pada makhluk biru di depannya, "He? Aku benar 'kan?" lebih heran kenapa makhluk biru itu membawa dua koper besar.
"Kau mengenaliku Grimmjow?" Rukia bahkan tidak memakai aksesoris apapun tapi masih saja ada yang mengenalinya, "Apa kau mempunyai urusan denganku?"
Grimmjow menggeleng, "Hei! Dengan wajah manismu itu aku sudah dapat mengenalimu. Kau akan melarikan diri bukan?" Rukia menggeleng pelan, "Kau bercanda."
"Tidak. Aku serius. Aku hanya akan sekolah di luar negeri." Dalih yang hebat untuk menutupi kebohongan yang Rukia sembunyikan. Tapi sepertinya Grimmjow tidak menyerah.
"Aku ikut denganmu." Itu hanya sebagian kecil kegilaan Grimmjow.
Lost in Korea
.
.
.
Lost in Korea
Disclimer : Om Tite Kubo
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Ichigo K. Rukia K.
Rated : T+
Genre : Romance/Drama
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
Sudut pandang berbeda setiap scene
.
.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Mempersembahkan
"Raku kau ada di dalam?" Ichigo sudah mengetuk pintu kamar itu berkali-kali tapi tidak ada sahutan.
Ichigo membukanya dengan perlahan, "Dia tidur." Ia melihat Raku tidur dengan terlentang. Ia ikut berbaring di sana, "Kau tahu Raku. Aku masih tidak percaya kau adalah laki-laki." Gumam Ichigo pelan.
Ichigo mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu, dengan semua kegilaannya di hari itu ia mengatakan hal bodoh pada Rukia, ia terlihat seperti orang bodoh. Beruntung Rukia tidak begitu mempermasalahkannya, "Raku bolehkah aku mencintai Rukia?" ia tahu Raku tidak akan menjawabnya.
"Maafkan aku – Hisana." Sudah berapa kali sejak kejadian di pesta pernikahan itu Hisana mengirimkan pesan seperti itu padanya. Apa yang dikatakan Raku benar jika Hisana merasa bersalah padanya.
Kenapa ia tidak menyuruh saja Hisana berhenti minta maaf, bukankah itu lebih mudah tapi kenapa ia tidak menyuruhnya. Kenapa dengan dirinya. Itulah yang harus ia ajukan untuk dirinya sendiri, "Kenapa? Ada apa denganku sebenarnya?! Aku membencimu Hisana." Membenci Hisana hanyalah sebuah kebohongan yang terucap di mulutnya. Nyata itu tidak akan mungkin.
Ia memutuskan untuk membalas pesan Hisana, "Berhentilah – Ichigo." Ia menekan tombol send. Ia hanya mengetik satu kata sekaligus perintah. Ichigo meletakkan ponselnya sembarangan.
Ichigo menutup matanya dan memilih tidur tanpa tahu mata Raku membuka, "Aku kasihan padamu." Gumam Raku pelan.
.
.
.
Identitas
.
.
.
"Ichigo?" Ichigo tersenyum senang melihat perempuan yang sedang melambai padanya. Dia sudah menunggu perempuan itu dan juga ia dengar perempuan itu tinggal di Seoul sekarang ini.
"Mencariku hm? Aku mengerti jika aku begitu terkenal." Ichigo mulai merasa nyaman tapi dengan semua sifat Rukia yang sama seperti Hisana, "Apa yang terjadi dengan wajahmu?" hingga ia melupakan satu hal. Dia Rukia bukan Hisana.
Rukia menghela nafas pelan, "Raku dia tidak membalas pesanku. Dia jahat bukan?" tapi entah kenapa nasibnya terasa sama. Rukia sudah mempunyai Raku, dia tidak bisa memilikinya.
"Kau kesal dengannya?" Rukia mengangguk pelan, "Itu yang aku rasakan setiap hari jika bersama dengannya." Rukia melihatnya sebentar kemudian perempuan itu tersenyum lagi.
"Karena Raku memang seperti itu mungkin untuk itu aku ada." Ichigo diam mendengar kalimat Rukia. Ia berpikir mungkin karena Hisana seperti itu maka ia harus ada, "Kau pernah merasa seperti itu Ichigo?"
Ichigo menutup buku materi kuliahnya, "Pernah. Jika ditanya kapan jawabannya adalah saat ini." Ichigo memandang Rukia, "Rukia apa arti Raku bagimu?"
"Raku? Dia bukan segalanya bagiku." Rukia meminum jus dalam genggamannya.
"Bukankah kau mencintainya? Berarti dia adalah segalanya untukmu." Perempuan mungil itu menggeleng pelan.
"Tidak. Cinta tidak perlu serumit itu." Rukia melihat ke arah langit sore, "Cinta hanya perlu kau lakukan dengan sederhana. Dia bukan seorang teman tapi seseorang berani berdiri di sampingmu selamanya. Tentu saja dengan semua kekurangan dan kesulitan yang kau berikan."
Ichigo tersenyum, "Jadi aku hanya perlu berani berdiri di sampingmu selamanya untuk menjadi kekasihmu?"
.
.
.
Identitas
.
.
.
Mata ichigo mengecil melihat perempuan di pelukan Grimmjow, "Kucing sialan lepaskan dia!" Ichigo menghampiri Grimmjow, "Rukia kau baik-baik saja?" mata Rukia sembab. Hei Ichigo baru pulang kuliah dan menemukan adegan Grimmjow memeluk Rukia di tempat kerjanya. Itu mengejutkan.
"Tidak ada yang terjadi." Rukia berbicara seperti berbisik. Mata ungunya melirik ke arah Grimmjow.
"Hei Orange. Ia berkata baik-baik saja. Jadi tinggalkan saja kami." Grimmjow menyeringai senang melihat raut kesal Ichigo. "Kau mendengarkanku Orange?" Grimmjow memegang pundak Rukia.
Ichigo memandang tajam Grimmjow, "Lepaskan tanganmu darinya Kucing." Itu bukan ancaman yang menakutkan bagi Grimmjow. Terlihat dengan jelas aura Grimmjow tenang-tenang saja tidak seperti Ichigo.
"Berhentilah bertengkar. Aku muak melihatnya setiap hari." Rukia memelankan ucapannya di akhir kalimat. "Aku baik-baik saja Ichigo. Aku bersumpah." Rukia tersenyum tipis berusaha meyakinkan Ichigo.
"Kau tidak bisa berbohong padaku?" Mendengar itu Grimmjow menyeringai senang, "Apa maksud senyumanmu Grimmjow?" Ichigo hanya merasa sedikit ganjal dengan ini. Terutama melihat Grimmjow sangat tenang melihat Rukia menangis, bukankah terasa ada yang aneh tapi pada dasarnya Grimmjow seorang playboy yang hanya bisa merayu.
"Raku mengakhir hubungan mereka. Itu saja." Rukia mengangguk setuju. Tidak heran jika Rukia menangis tadi, dasar laki-laki pendek kurang ajar gerutu Ichigo dalam hati.
"Apa yang membuatnya meninggalkanmu Rukia?" Rukia terdiam. Mungkin itu pertanyaan terbodoh dari Ichigo untuk seorang gadis yang baru ditinggalkan kekasihnya. Sudah jelas terlihat bagi Rukia itu menyakitkan.
Grimmjow menyentil dahi Ichigo pelan, "Bodoh. Kau harus bertanya sendiri pada Raku. Rukia ada kencan denganku. Jangan terlalu keras pada Raku oke?"
"Sakit bodoh. Aku janji akan menghajar Raku karena sudah meninggalkanmu Rukia." Ia mengelus puncak kepala Rukia, "Berhenti menangis. Kau terlihat sangat jelek ketika menangis." Bisik Ichigo berhasil membuat Rukia cemberut.
"Aku membencimu." Ucap Rukia disertai juluran lidah ke arah Ichigo. Hei bukankah ini aneh Raku dan Rukia terlihat saling mencintai tapi kenapa laki-laki bodoh itu memilih meninggalkan gadis cantik seperti Rukia. Lebih aneh kenapa hatinya begitu senang akan hal itu.
.
.
.
Identitas
.
.
.
Ichigo membuka pintu kamar Raku pelan, kamar itu kosong. Raku memejamkan matanya dengan posisi duduk di balkon apartemennya, "Aku ingin bicara padamu." Beberapa detik setelah ucapan Ichigo Raku masih diam dan menutup mata. "Kau mendengarkanku Raku?" Ichigo mendekatkan wajahnya.
"Hn." Raku membuka matanya membuat Ichigo terkejut dengan terus menatap kelopak mata Raku yang besar, "Rukia. Kau ingin membahas Rukia denganku? Kau bisa memilikinya. Aku sudah selesai dengannya." Lanjut Raku dengan tenang. Tidak ada raut penyesalan di sana.
"Apa kau sedang sakit?" tanya Ichigo mencoba mencairkan suasana. Raku menggeleng pelan. "Apa kau akan pergi jauh? Hingga membuang perempuan yang begitu mencintaimu."
Raku kembali memejamkan matanya, "Kenapa kau begitu khawatir padanya? Kau menyukai Rukia?" Ichigo melihat Raku yang sedang terpejam. Semilir angin sedikit menerbangkan helaian rambut Raku. "Jawab pertanyaanku Ichigo." Suara Raku begitu kalem.
"Aku memang khawatir tapi untuk suka kurasa tidak."
Raku bersenandung pelan, "Kau yakin dengan dirimu sendiri?"
"Hei! Kenapa kau bertanya seperti nenek-nenek padaku. Aku yakin. Aku. Tidak. Menyukainya." Raku mengangguk pelan mendengar ucapannya. Ichigo khawatir pada Rukia hanya sebatas karena perempuan itu mirip dengan Hisana.
"Sebagai laki-laki kau harus memegang ucapanmu Ichigo. Meski nanti Rukia dan dirimu menjadi kekasih. Kau tidak boleh menyukainya." Raku membuka matanya, "Alamat apartemenmu ada di sebelah bukan?"
Ichigo menatap was-was ke arah Raku, "Bagaimana kau bisa tahu?" Raku tersenyum, "Apa aku harus pindah? Aku lebih suka berada di sini."
"Orange kau harus pindah. Beritahu aku alasanmu tidak memberitahuku jika kau sudah menemukan alamat apartemenmu dan aku akan memberitahumu putusnya hubunganku bersama Rukia. Kau mau?" itu sebuah kesempatan bagus bagi Ichigo. Terutama hanya ditukar dengan informasi sepele darinya.
"Baiklah." Ichigo menarik nafas pelan, "Aku nyaman denganmu. Entah kenapa itu aneh bukan? Aku juga merasa seperti itu. Sekarang giliranmu Pendek." Raku melirik tajam ke arah Ichigo.
Raku berdiri dari duduknya, "Aku adalah perempuan."
.
.
.
To be Continued
A/N :
Huft. Akhirnya selesai juga, nantikan Hisana jadi Rukia ya nanti. Mind to review?
Balasan Review :
Rini desu : wajar aja. Perlahan aku ngerasa cerita ini mulai nggak menarik setelahku tinggal ngerjain UTS. Terima kasih udah review
Guest : Okey. Terima kasih udah review.
