Terimakasih untuk yang sudah review, follow maupun fav.. Lagi pengen buat oneshot ini tapi belum dapat ide haha

Disclaimer : I only own the story

.

.

.

ALWAYS DELIVERED

.

.

.

Naruto menoleh ke arah Hinata, memandang iris amethyst yang selalu dimimpikannya ketika tidur. Selalu dirindukannya ketika tiba libur sekolah. Sambil berucap lirih..

"Maafkan aku.."

CHAPTER 7

Hinata menelengkan kepalanya ke samping, raut mukanya menandakan bahwa ia sedang bingung.

"Ke-kenapa Na-ruto-kun meminta maaf?" tanyanya berhati-hati.

Naruto semakin erat menggenggam tangan Hinata. Membawanya menyentuh pipi berkumisnya. Memejamkan mata saat saat kulit lembut Hinata bergesekan dengan kulit kasarnya.

"Na-naruto-kun?"

Semoga readers tidak lupa bahwa dengan kondisi seperti ini tentu saja Hinata sedang blushing akut. Ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Naruto karena sadar ini semua sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Namun, genggaman tangan besar Naruto tentu saja lebih kuat dari tenaga lemah lembut milik Hinata. Sejenak Naruto membuka mata secara perlahan, memperlihatkan iris safir bak samudera Hindia. Naruto menurunkan genggamannya ke bibirnya, niatnya hendak mengecup mesra punggung tangan Hinata.

Niatnya sih. Karena saat bibir Naruto sudah monyong-monyong-

JDUK!

Jidat Naruto justru terkena serangan mendadak. Tepatnya dari dompet kodok yang baru saja Hinata dapatkan darinya. Kebetulan bahan dompet itu cukup keras sehingga menimbulkan ruam merah di dahi si pemuda.

"Ittaaaiii.."

Rintih Naruto reflek melepaskan tangan Hinata. Tangannya mengelus-elus dahinya.

"Na-naruto-kun no baka!"

Hinata menghentakkan kakinya dan berlalu pergi meninggalkan Naruto.

"Oe Hinata.. Tunggu akuuuuu.. Kenapa kau meninggalkanku-ttebayo?"

Dan sebelum Hinata sempat berlari lebih jauh, Naruto sudah berhasil menangkap lengannya.

"Hinata. Tunggu dulu. Maaf aku minta maaf karena sudah lancang. Tapi kumohon jangan pergi dulu. Aku ingin melihat hanabi. Temani aku, ne?"

Naruto mengeluarkan puppy eyes no jutsu andalan yang dipelajarinya dari Akamaru, anjing Kiba. Kebetulan jutsu itu adalah jutsu rahasia turun temurun di keluarga Akamaru yang sudah tidak diragukan lagi keampuhannya. Terbukti dari anggukan lembut kepala Hinata disertai senyuman manis yang bisa bikin author menangis. Menangis bahagia.

.

Setelah berjalan selama kurang lebih 15 menit, keduanya sampai di sebuah gundukan tanah dan bebatuan yang biasa disebut bukit. Dari posisi mereka berada saat ini dapat dilihat dengan jelas bukit ini cukup landai dan di puncak bukit tersebut tumbuh sebatang pohon yang cukup besar. Sepertinya usia pohon itu sekitar 100 tahun (author ngarang, abaikan!).

"Na-naruto-kun, kita mau na-naik?"

"Iya Hinata. Tayuya–san bilang tempat ini paling bagus untuk melihat hanabi. Lagipula kau lihat sendiri tidak ada orang di sini. Jadi kita bisa lebih khusyuk."

"Khu-khusyuk?"

Hinata mengernyitkan dahi sementara Naruto tersenyum salah tingkah.

"Maksudnya bisa lebih tenang untuk melihat hanabi."

"Uh-um.. Ba-baiklah."

"YOSH! Ayo kita naik Hinata."

Kemudian kedua sejoli wanna be itu melangkah menaiki bukit. Sedikit memakan waktu lama untuk sampai ke puncak bukit karena Hinata mengalami kesulitan. Tentu saja karena saat ini ia mengenakan yukata. Naruto yang memimpin jalan sesekali membantu Hinata dengan menarik pelan tangannya. Setelah sampai di puncak keduanya segera duduk bersandar pada pohon tua yang ternyata adalah pohon sakura.

Nafas keduanya sedikit tersengal. Sambil berusaha mengatur nafas, mata Hinata beredar menikmati pemandangan di hadapannya. Wajar saja Tayuya merekomendasikan tempat ini. Terlepas dari posisi strategis untuk melihat hanabi, bukit ini sebenarnya merupakan titik tertinggi dari desa. Dari sini dapat dilihat seluruh bagian dari wilayah perkampungan. Bahkan festival yang baru saja mereka tinggalkan tampak indah seperti lampu warna warni yang berjajar.

Naruto hanya memandang intens Hinata. Entah mengapa Hinata benar-benar terlihat cantik dengan balutan yukata motif lavender yang dipakainya. Bolehkah Naruto sedikit berkhayal? Karena dengan memandang wajah ayu Hinata ia benar-benar membayangkan Hinata dalam balutan shiromuku, seluruh rambutnya bahkan kepalanya tertutup dengan wata boushi. Ia bisa melihat dirinya sendiri berdiri dengan gagah di samping Hinata mengenakan montsuki haori hakama. Oh benar-benar pasangan yang serasi menurutnya. Sambil memikirkan itu semua, bibir Naruto menyunggingkan cengiran lima jari seperti orang bodoh.

"..kun.."

"..To-kun.."

"NARUTO-KUUNN!"

"Huwaaaaaaa.."

Naruto terlonjak kaget mendengar teriakan Hinata tepat di telinganya. Sambil menggosok-gosok telinga yang sangat dikhawatirkan keselamatannya itu, ia memandang Hinata.

"Ada apa Hinata?"

"Huft.. Ba-ka." Gumam Hinata lirih.

"Ehehehe maaf Hinata, aku sedang tidak fokus tadi. Ng.. ada apa?"

"Ku-kurang dari dua me-menit lagi hanabinya a-akan dilepas."

Naruto melirik pergelangan tangannya.

"Ah.. iya kau benar Hinata. Ng.. Hinata biasanya kalau ada hanabi orang-orang melakukan apa ya?"

Naruto yang sudah tidak punya rasa malu lagi-lagi secara terang-terangan memberikan kode kepada gadis di sampingnya.

"Te-tentu saja menikmatinya Na-ruto-kun."

'Sabar Naruto'

"Dengan cara?"

"Me-melihatnya?"

'Huft.. breathe in.. breathe out.. in and out..'

"Selain itu Hinata?"

"Ng... AH!"

Naruto sudah mulai antusias mendengar jawaban Hinata.

"Memotretnya."

Kluk!

Naruto menyerah, ternyata Hinata bisa lebih baka dari dirinya. Sedangkan gadis yang sedang dipancingnya itu justru meraba-raba yukatanya.

"A-ano Naruto-kun, a-aku tidak mem-bawa ka-mera."

Kluk! Kluk!

"Lupakan Hinata."

Hinata hanya memiringkan kepalanya. Bingung mengapa tiba-tiba Naruto kehilangan antusiasme nya padahal baru lewat beberapa menit yang lalu dia terlihat begitu semangat. Keduanya malah saling menatap- Hinata menatap bingung dan Naruto menatap lembut-melupakan tentang hanabi yang baru saja mereka bicarakan. Riuh keramaian di bawah yang sedang melafalkan hitung mundur juga terabaikan.

"Hinata, jangan memiringkan kepalamu seperti itu!"

"Ke-kenapa Na-naruto-kun?"

"Aku tidak tahan." Sepertinya pertahanan Naruto sedang berada di ujung tanduk karena dia mulai mengeluarkan suara seraknya.

"HAH?"

Hinata justru menambah masalah dengan membuka mulutnya, melongo.

OK FIXED! Pertahanan Naruto benar-benar hancur. Diraihnya kedua bahu Hinata dengan gerakan secepat Konoha no kiiroi senkou.

DUUAAAAARRRR! DUAR! DUAR!

Bertepatan dengan pelepasan hanabi, bibir Naruto mengecup bibir Hinata. Hinata membulatkan matanya. Kedua tangannya menekan dada Naruto untuk mendorongnya. Tetapi Naruto yang sudah memprediksi hal itu akan terjadi, segera meletakkan sebelah tangannya di belakang kepala Hinata. Memaksa sang gadis untuk menyerah dalam kuasanya. Hinata yang tidak mampu mengimbangi kekuatan Naruto terpaksa menyerah, bahunya kembali rileks, memejamkan matanya meski keukeuh tidak mau membalas ciuman dari pemuda rubah itu. Melihat mata Hinata tertutup, Naruto mengikutinya, memenjarakan manik safir nya ke dalam kelopak mata. Bibirnya mengusap lembut bibir mungil sang gadis.

Oh betapa ia selalu memimpikan ini setiap malam. Terlepas dari hal-hal lain yang selalu ia mimpikan bersama sang gadis lavender, hal ini lah yang paling menghantui pikirannya kala matanya memandang Hinata. Apa? Mesum? Ya, Naruto tidak munafik. Dia mengakui jika dirinya memang mesum. Terbukti dari beberapa koleksi anime dan manga ecchi di laptop dan telepon pintarnya.

Merasa tidak mendapat respon maupun penolakan dari gadis yang sedang diciumnya, Naruto malah semakin memperdalam ciumannya. Menyesap rasa manis dari bibir mungil Hinata dan menggigitnya pelan. Naruto merasakan panas dan dingin menjalari tubuhnya. Apalagi Hinata masih belum memberikan penolakan, Naruto berusaha melesakkan lidahnya memasuki mulut Hinata. Hanya saja niatnya ia urungkan ketika ia menyadari tangan Hinata sudah tidak lagi berada di dadanya. Semakin bertambah rasa heran Naruto ketika Hinata tidak juga berreaksi saat tangan kekarnya meraba-raba lengan sang gadis. Bukankah Hinata sedikit mirip dengan Sakura jika mendapati Naruto mulai melakukan hal-hal seperti ini?

OK. Naruto memang tidak ingin mendapat penolakan. Tapi untuk yang terjadi saat ini rasa-rasanya sedikit aneh.

Naruto membuka matanya cepat, menjauhkan wajahnya dari wajah Hinata dan mendapati Hinata yang masih tetap memejamkan mata. Apa Hinata terlalu menikmati ciuman ini hingga tidak ingin mengakhirinya? Atau jangan-jangan?

"Hinata?"

Tidak ada respon.

"Hinata?"

Naruto mengendurkan cengkeramannya pada tubuh Hinata-

KLUK! BLEK!

"Hinataaaaa... Kenapa malah pingsaaaannn?"

.

.

.

Kelopak mata dengan bulu lentik itu perlahan membuka. Samar-samar suara cicitan burung memasuki telinganya. Pada awalnya hanya langit-langit berwarna putih yang tertangkap penglihatannya. Merasa sedikit asing dengan ruangan yang ia tempati saat ini, ia segera bangkit dan duduk. Diedarkan kembali pandangannya ke ruangan sekelilingnya. Ingatannya mulai mengumpul.

"Hahh.. Ternyata aku bermimpi. Ya Tuhan.. Benar-benar mimpi buruk." Gumam Hinata.

TOK.. TOK..

"Hinata.. Apa kau sudah bangun?"

"Su-sudah Tayuya-san. Si-silakan masuk."

Tayuya masuk dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Meletakkan nampan yang dibawanya di meja, wanita berrambut merah itu tersenyum penuh arti pada Hinata.

"Makanlah dulu. Setelah itu kau mandi. Sekitar satu jam lagi kendaraan yang akan membawamu ke Suna akan tiba."

"Ha-hai. Arigato Ta-tayuya-san."

"Oh iya, sudah kusiapkan pakaian bersih untukmu ya di depan kamar mandi."

"Ma-maaf merepotkan, a-arigato hontou ni a-arigato."

Tayuya mengangguk dan melangkah keluar kamar, meninggalkan Hinata yang mulai melahap makanan yang ternyata adalah bubur sup. Setelah selesai makan, Hinata segera menuju ke kamar mandi yang terletak di seberang kamarnya untuk membersihkan diri.

Beberapa menit berlalu, Hinata yang telah selesai mandi segera berkemas. Ingatannya tentang Tatsu-chan membuatnya ingin segera menuntaskan tugasnya, mengantar sang bayi kepada keluarganya. Hinata benar-benar ingin segera kembali ke rumah. Ingin secepatnya bertemu dengan ayahnya- meskipun ia tahu ayahnya sangat sibuk, ingin segera bertemu Hanabi dan mengajaknya berkebun, ingin segera bertemu Neji-nii sepupunya dan belajar bersama. Satu hal yang paling jelas, ia ingin segera kembali menjauhkan diri dari makhluk berrambut kuning yang selama beberapa hari ini ada di dekatnya. Bahkan makhluk bernama Naruto itu sampai masuk dan menjadi mimpi buruknya.

Lamunan Hinata terhenti kala disadari ada seseorang yang tengah duduk di tepi ranjangnya. Hinata menoleh dan terpaksa mempertemukan mata bulannya dengan mata samudera si pemuda rubah.

"Na-ruto-kun sudah si-siap?"

Naruto mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. Sejujurnya dia bingung mengapa Hinata tampak biasa-biasa saja pasca kejadian semalam.

"Ta-Tatsu-chan dimana?"

"Dia sedang bersama Tayuya-san. Sepertinya Tayuya-san juga akan ikut bersama kita."

"E-Eh? Benarkah? A-apa tidak me-merepotkan?"

Naruto menggeleng.

"Kata Hamura-san, Tayuya-san memang bertugas mengantar hasil panen yang akan dibawa ke kota."

"O-Oh.."

Setelah selesai mengemasi barang-barang Hinata, mereka berdua melangkah keluar. Ternyata mobil yang akan mengangkut mereka telah tiba di pekarangan rumah kepala desa. Setelah berpamitan kepada kepala desa dan keluarganya, mereka berdua bersama Tatsu-chan segera menaiki mobil bak terbuka itu.

Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak terdiam. Apalagi pengemudi yang mengantar mereka juga tidak terlalu banyak bicara. Sesekali Hinata menepuk-nepuk pelan pantat si bayi ketika mulai menggeliat. Sesekali pula melirik ke sisi kirinya dimana seseorang sedang tidur lelap dengan bersuara. Perjalanan yang mereka tempuh cukup lama dan melelahkan. Bayangkan saja selama 6 jam duduk berhimpitan di bagian depan mobil tersebut.

Terlalu lama termenung, sang gadis Hyuga pun merasakan kantuk menyerang dan segera menyusul pemuda di sebelahnya ke alam mimpi.

.

.

.

TBC

.

.

.

Huahhh.. ada yang nungguin update fic ini nggak sih? Enaknya Naruto nanti diterima sama Hinata apa ditolak aja ya? Hahahaha XD