—Flavored of Love—
(Sequel of Two Faced Lovers)
Author: Rin
Chapter: 7/8
Disclaimer: All casts is belong to themselves.
Rated: T
Pair: YeRy (Yesung x Henry) – KiHyun (Kibum x Kyuhyun), slight ZhouRy, ZhouWook, HanChul, KangTeuk, KyuMin, WonMin, dll.
Genre: Romance – Friendship – Hurt/Comfort
.
Inspired by Utada Hikaru – Flavored of Love
.
Warning: AU, Shonen-ai, crack pair, OOC, misstypo(s), dll.
.
.
Kyuhyun duduk di pinggir tempat tidurnya, kedua iris gelapnya berusaha ia alihkan secepat mungkin ketika tanpa sengaja bertemu pandang dengan sepasang iris tajam milik Kibum. Tadi memang ia yang memaksa untuk masuk ke kamar, tapi setelah berada di dalam ia justru bingung dengan apa yang sebaiknya ia lakukan—atau setidaknya bisa ia ucapkan. Keheningan yang tercipta benar-benar terasa awkward, ia benci itu dan sikap Kibum sejak tadi benar-benar tidak membantu sama sekali. Kalau seperti ini sih, lebih baik ia tidak usah masuk saja tadi.
Ia menggelengkan kepalanya perlahan. Serasa ingin memukul kepalanya sendiri ketika pemikiran itu sempat terlintas di kepalanya. Itu sama saja dengan membiarkan hal ini berlarut dan nantinya akan semakin sulit untuk diselesaikan. Setidaknya ia sudah masuk, dan masih ada waktu sampai makan malam—walau sebenarnya ia tidak punya selera makan sama sekali sejak tadi.
Jadi intinya, sekarang... atau tidak sama sekali.
"H-hyung...?" Kyuhyun sedikit merutuki nada suaranya yang terdengar gugup. Kalau seperti ini sih, ia malah jadi mengkhawatirkan bagaimana kelanjutannya nanti.
"Hm?"
Reaksi yang benar-benar tidak ia harapkan sama sekali. Rasanya Kyuhyun ingin sekali membenturkan kepalanya, dan berharap efeknya adalah amnesia, jadi ia tidak usah lagi mengingat situasi awkward yang menyebalkan ini. Mana sebelum ini ia sempat menangis pula. Oh, jangan sampai Kibum tahu, atau ia tidak akan punya keberanian untuk menatap hyungnya itu lagi.
"Hyung marah padaku?"
Jeda sekian menit, dan tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali di antara keduanya. Kyuhyun memilih diam, walau dalam hati sedikit panik juga dengan jawaban apa yang akan dikeluarkan Kibum. Lebih baik ia menghadapi Heechul yang sedang marah dibandingkan menghadapi Kibum yang selalu diam ketika marah. Itu jauh lebih menyeramkan, dan membuatnya jadi bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Diam saja, itu salah. Mencoba mengatakan sesuatu, itu sama saja.
"Aku tidak marah..."
Kyuhyun mendongakkan kepalanya. Ia menatap hyungnya tidak mengerti. Kalau tidak marah, lalu kenapa ia didiamkan seharian ini? Apa namanya itu kalau bukan marah?
"Daripada marah padamu, aku mungkin lebih ingin merutuki diriku sendiri. Aku tidak punya hak untuk marah walau aku tahu kau dipeluk oleh orang lain, karena kita berdua juga pernah berada dalam posisi yang sebaliknya kan..."
Kyuhyun ingat, dulu memang pernah terjadi hal seperti ini—hanya saja posisi mereka saat itu berbalik. Tapi itu dulu, sebelum mereka menjadi sepasang kekasih. Jadi biarpun ia marah sekalipun, faktanya ia tidak punya hak sama sekali untuk itu.
"Tapi setidaknya hyung bisa mengatakannya padaku kan? Aku jadi seperti orang gila karena tidak tahu apa kesalahanku..."
"Kau mau aku menyakitimu lebih jauh lagi? Tidak, terima kasih. Aku tidak marah, tapi aku hanya butuh waktu—setidaknya untuk membiarkan kepalaku jadi lebih dingin..."
Kyuhyun diam, menatap hyungnya sementara ia sendiri bingung harus mengatakan apa. Tapi... kalau dipikir lagi, jadi apa yang dilakukannya sejak tadi itu sebenarnya sia-sia saja? Kalau saja ia mau bersabar jadinya ia tidak perlu membuang tenaga untuk hal yang tidak perlu kan? Seperti menangis...
Kibum beranjak dari tempatnya lalu mendekati Kyuhyun. Ia berjongkok di depan kekasihnya itu. Digenggamnya sebelah tangan Kyuhyun erat, seakan tidak ingin melepaskannya lagi. Kyuhyun berjengit pelan, merasakan kehangatan yang disalurkan tangan Kibum.
"H-hyung?"
"Maafkan aku..."
Namja berambut coklat itu diam, kedua iris gelapnya menatap hyungnya itu tanpa berkedip. Rasanya sudah lama sekali tangannya tidak digenggam seperti ini, padahal waktu baru berjalan selama beberapa jam saja.
"Aku tahu kalau mungkin sikapku hari ini benar-benar menyebalkan—"
"Kau memang menyebalkan, hyung! Kau tidak tahu aku benar-benar gila hari ini. Tidak tahu harus kemana, dan malah berakhir dengan mengobrak-abrik kamar orang lain. Bahkan aku juga jadi menangis di atap—"
Kyuhyun membulatkan kedua matanya, sontak ia langsung menutup mulutnya dengan tangannya yang masih terbebas. Ia kelepasan!
"Aku ta—hah? Kau apa?" Kibum mendongakkan kepalanya. Ia mengerutkan alisnya. Rasanya telinganya salah dengar atau apa? Anak ini menangis?
"A-aku tidak bilang apa-apa!" Tapi ucapan dan tindakan benar-benar tidak sinkron sama sekali. Rona merah muncul di kedua pipinya, menjalar hingga sepasang telinganya. Kyuhyun langsung berdiri, dan itu cukup untuk mengembalikan kesadaran Kibum kalau apa yang didengarnya tadi memang tidak salah.
Menangis? Rasanya manis sekali...
"A-aku mau keluar dulu, h-hyung..."
Kyuhyun baru akan melangkahkan kakinya menuju pintu, ketika Kibum tiba-tiba menarik tangannya dan membuatnya terjatuh di atas tempat tidurnya. Tak menyia-nyiakan itu, Kibum langsung memposisikan dirinya di atas Kyuhyun, menahan namja itu untuk tidak beranjak kemanapun.
"H-hyung..." Kyuhyun merasa kalau pipinya semakin memanas. Posisi seperti ini benar-benar bisa membuat jantungnya berhenti berdetak. Wajah Kibum terlalu dekat dengannya dan hembusan nafasnya terasa hangat menerpa wajahnya. Jarak mereka hanya sekian sentimeter dan kalau bergerak sedikit saja bisa dipastikan bibir mereka akan bersentuhan.
Kibum menyeringai. "Aku kan belum selesai bicara, Kyuhyunnie~"
Rasanya ia ingin sekali membenturkan kepalanya. Ini Kibum yang biasanya. Dan entah kenapa biarpun terdengar menyebalkan, di saat yang bersamaan dia juga malah terlihat sexy.
Tuhan, kenapa dengan otakku?
Bisa-bisanya ia malah berpikiran kalau Kibum itu... err, ya begitulah... walau sebenarnya itu memang fakta sih. Tapi tetap saja. Biasanya otaknya seperti itu kalau mereka sedang berhubungan intim—walau sebenarnya jarak mereka sekarang juga terbilang intim sih... tapi tetap saja... arrggghhh!
"Aku benar-benar minta maaf untuk hari ini. Dengan apa yang terjadi padamu dan juga apa yang kulakukan. Well, yah... aku baru pertama kali ini merasa seperti ini dan rasanya... benar-benar membingungkan..."
Kibum mendekatkan wajahnya ke telinga kekasihnya itu. "Saranghae..."
"N-nado... hyung..."
Detik berikutnya, jarak keduanya benar-benar tereliminasi dengan bibir keduanya yang bertautan.
.
.
.
"Kau benar-benar sudah yakin dengan ini?" Hankyung menatap khawatir pada salah satu dongsaengnya yang berasal dari China ini. Bukan karena apa yang sudah dikatakannya, tapi lebih kepada gesture yang ditunjukkannya. Ragu, gelisah, di lain sisi juga... takut. "Henly-ah?"
Henry hanya berusaha untuk tidak menatap ke arah mata Hankyung, karena disukai atau tidak, sorot matanya benar-benar terasa seperti mengintimidasinya untuk menceritakan segalanya. Ia tidak ingin mengatakan apapun—tidak sedikit pun. Bahkan walau mungkin jika dipaksa. Ia hanya ingin secepatnya menghilang dan melupakan semuanya. Tempat ini sekarang malah jadi mimpi buruk baginya.
Dua kali kehilangan, memangnya itu sedikit?
Kalau memang akan jadi seperti ini pada akhirnya, harusnya ia tetap di China—kalaupun tidak, pulang saja ke Canada. Ia tidak perlu mengetahui pengkhinatan Zhou Mi ataupun bertemu Yesung, bersikap biasa walau kenyataan tersembunyi darinya. Itu jauh lebih baik. Ia tidak perlu banyak mengeluarkan air mata dan tidak akan mengenal siapapun di sini.
Terdengar pengecut memang, tapi terus menghadapi hal seperti ini hanya akan membuatnya gila.
"Kau baik-baik saja?" Ada nada khawatir yang kentara dari suara Hankyung, dan itu cukup untuk membuat Henry untuk tersadar dari lamunannya.
"Aku... baik-baik saja... gege..."
Hankyung tahu kalau anak ini berbohong, tapi ia lebih memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Walau dipaksa, dia tidak akan mengatakan apapun—kalau bukan karena keinginannya sendiri.
"Lalu?"
"Aku hanya ingin pulang saja..."
Hankyung menghela nafasnya. "Kau sedang berbohong, aku tahu itu... Apa ada sesuatu yang terjadi? Kau sudah mengatakan ini pada Yesung?"
Namja bertubuh jangkung itu mengernyit, sedikit heran ketika melihat Henry sedikit berjengit mendengarnya menyebut Yesung. Ada apa sebenarnya?
"Aku sudah mengatakannya..."
"Lalu?"
Henry menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu..."
.
.
.
Hari berikutnya, semua berjalan hampir seperti biasanya—kecuali fakta bahwa terjadi perang dingin antara Yesung dan Henry. Keduanya masih sekamar, tapi hanya sebatas itu. Tidak ada lagi komunikasi berarti di antara keduanya. Tidak di asrama, di sekolah atau bahkan di kamar. Tidak ada yang tidak menyadarinya sebenarnya, tapi ikut campur masalah mereka nantinya malah akan membuat segalanya jadi lebih rumit dari seharusnya.
Kyuhyun mengerutkan alisnya. Lagi-lagi keheningan yang menurutnya menyebalkan. Hei, ini bukan pemakaman, jadi setidaknya suasana tidak seharusnya sepi seperti ini.
Ia baru saja pulang, mendapati suasana asrama yang sangat sepi—padahal ada beberapa orang di ruang tengah. Bahkan suasana pemakaman kemungkinan jauh lebih baik lagi daripada tempat ini. Tahu begini tadi lebih baik ia menunggui Kibum keluar dari kelasnya saja. Setidaknya itu jauh lebih baik.
"Heechul-hyung~!" Kyuhyun beranjak dari pintu depan, sedikit berlari mendekati meja di mana siswa tertua di asrama ini sedang diam—tidur sebenarnya. Tapi bukan Kyuhyun namanya kalau ia peduli dengan hal semacam itu.
"Hyung! Hyung!" Kyuhyun mengguncangkan tubuh namja berwajah cantik itu dengan brutal—sementara Jaejoong yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa satu toples kue kering hanya menatapnya horror. Membangunkan paksa seseorang dengan golongan darah AB adalah hal paling menakutkan di dunia ini, selain bertemu dengan hantu. Dan namja berpredikat evil maknae—padahal masih banyak siswa lain yang jauh lebih muda darinya—ini malah membangunkannya dengan tidak berperikemanusiaan sama sekali.
"Yak! Kim Heechul~!"
Jaejoong langsung melesat, menuju tangga—tidak ingin ada di sana ketika Cinderella jadi-jadian itu bangun dari tidurnya, lagipula salah sendiri kenapa malah tidur di ruang tengah padahal gangguan hampir pasti selalu terjadi.
Plak!
"Aww~!"
Kyuhyun mempoutkan bibirnya, ketika balasan yang ia terima adalah sebuah buku yang dipukulkan tepat di dahinya. Kim Heechul menatapnya garang, seolah dengan tatapan mata saja itu sudah cukup untuk mengutuk Kyuhyun.
"Apa?"
"Aku mau bicara!"
Heechul mengerutkan alisnya. Bicara? Bicara apa?
"Ini bukan masalah antara kau dengan Kibummie lagi kan? Bukannya kemarin itu sudah selesai?"
"Bukan! Ini masalah lain, ada yang ingin kutanyakan. Pokoknya hyung ikut aku!" Kyuhyun menarik tangan Heechul, menyeretnya paksa hingga lantai tiga. Mereka berhenti di depan kamar Heechul, dan Kyuhyun hanya bisa nyengir menatap hyungnya itu.
Heechul mengerutkan alisnya—sepertinya ia bisa menebak sesuatu. "Jangan bilang kalau kau lupa kunci pintu kamarmu, jadi kau ingin membicarakan—apapun itu—di kamarku?"
Kyuhyun menggaruk pipinya pelan. Itu memang benar. Kunci kamarnya tertinggal di dalam, jadi ia harus menunggu sampai Kibum kembali, baru ia bisa masuk.
Namja berwajah cantik itu memutar kedua matanya. Ia langsung membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam, diikuti oleh Kyuhyun. Kamarnya kosong, mungkin karena Hankyung masih di sekolah atau di manalah...
"Jadi?" Heechul duduk di sisi tempat tidurnya, melipat kedua tangannya dan menatap Kyuhyun yang duduk di kursi.
"Ng... hyung tahu sesuatu soal... apa yang terjadi pada Mochi China dan Yesung-hyung?"
"Hah?"
"Maksudku... begini, aku tidak tahu kapan mulainya, tapi rasanya ada sesuatu yang aneh dengan mereka berdua hari ini..."
Heechul diam. Ia sebenarnya juga ingin tahu. Tapi sejak kemarin ia benar-benar tidak bertemu muka dengan Yesung. Tidak benar-benar seperti itu sih, hanya saja mereka memang tidak benar-benar terjebak dalam kondisi yang mengharuskan mereka berdua berada dalam satu kondisi. Di kelas, entah disengaja atau tidak, Yesung seperti menghindarinya. Dan ia juga sedikit sibuk dengan urusannya sendiri. Ini tahun terakhirnya, dan tentu saja banyak hal lain yang mau tidak mau harus menjadi prioritas utamanya.
"Mereka memang bermasalah kan?"
Kyuhyun mengerjapkan kedua matanya. "Hyung tahu?"
"Tidak juga. Tapi ada banyak hal yang seolah mengatakan kalau mereka memang tidak berada dalam kondisi yang baik-baik saja—maksudku mungkin pikiran, dan hati mereka. Hanya saja..."
Heechul mengerutkan alisnya. Apa jangan-jangan sebenarnya masalah itu yang jadi penyebabnya? Ia tidak terlalu memperhatikannya—malah hampir saja lupa, karena ia lebih terfokus pada apa yang terjadi dengan Kibum dan Kyuhyun. Tapi mungkin kalau dipikirkan kembali segalanya bisa jadi masuk akal.
"Apa ini bermula dari permasalahan Henry-ah yang harus pulang ke Canada?"
Ia sedikit tersentak. Itu bisa jadi alasan utama, tapi kenapa?
"Henry-ah tidak juga mengatakannya pada Yesung-hyung. Apa jangan-jangan ketika ia mengatakannya lalu terjadi sesuatu di antara mereka?" Kyuhyun menatap Heechul khawatir—rasanya ini seperti melihat bagaimana hubungannya dengan Kibum kemarin, tapi tidak seekstrim ini. Ini jauh terasa lebih... rumit?
Hanya perasaannya saja, tapi ia bahkan baru menyadari kalau keduanya tidak lagi saling bertatapan sejak tadi pagi.
"Kemungkinan lainnya.. si bodoh itu tahu dari orang lain dan itu justru yang menjadi masalah mereka sekarang!"
Heechul langsung beranjak, keluar dari kamar dan meninggalkan Kyuhyun yang masih berusaha mencerna apa yang tengah terjadi. Detik berikutnya ia langsung melesat pergi, mengikuti jejak hyungnya, setelah sebelumnya mengunci kamar milik dua tertua di asrama ini—ia bisa dibunuh kalau meninggalkannya begitu saja.
.
.
.
Hankyung baru saja melangkahkan kakinya masuk ke asrama ketika ia berpapasan dengan kekasihnya yang sepertinya berlari dari lantai atas hingga ke sini. Peluh sedikit mengalir turun dari pelipisnya dan nafasnya sedikit terengah.
"Kapan anak itu pergi?"
"Hah?" Hankyung hanya bisa mengerjapkan kedua matanya. Ia bingung, kaget dan heran. Ia baru saja pulang dan langsung disambut dengan pertanyaan tidak jelas. Kyuhyun baru saja turun dan anak itu berdiri tepat di belakang Heechul.
"Henry-ah, pabo... kapan anak itu pulang ke Canada? Akhir semester kan?"
Hankyung diam. Namja China itu terlihat sedikit bingung—antara ingin mengatakannya, atau justru lebih memilih diam.
"Hyung..."
Ia menghela nafasnya lalu menggelengkan kepalanya. "Dia pulang besok siang. Aku tidak tahu apa alasannya tapi dia memutuskan untuk pulang lebih cepat..."
"Mwo!?"
"Eh, wae? Lalu bagaimana dengan Yesung-hyung?"
Hangeng mengendikkan bahunya. Selain apa yang diucapkannya ia memang tidak tahu apapun—termasuk apa alasan Henry mempercepat waktu kepulangannya yang tadinya akhir semester, menjadi besok siang.
"Di mana anak itu sekarang?"
"Dia masih di sekolah, kurasa dia sedang mengurus soal kepindahannya..."
.
.
.
Henry sedikit meregangkan tubuhnya. Rasanya sedikit lelah juga, padahal tidak banyak yang ia lakukan sejak kemarin. Hanya saja mungkin hati dan pikirannya yang terasa lelah, dan ini benar-benar mengganggunya. Banyak hal yang mengganggunya dan rasanya semuanya tidak berjalan ke arah yang baik—malah lebih terkesan buruk.
Ia menghela nafas. Ini memang serba mendadak, dan itu adalah keputusan yang baru diambilnya kemarin. Memang lebih terkesan terburu-buru dan ia jadi seperti pengecut, tapi mungkin itu adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukannya sekarang. Lebih baik pergi secepatnya daripada jadinya malah semakin berat untuk meninggalkan semuanya.
"Hhh..."
Namja berpipi chubby itu baru akan melangkahkan kakinya ketika seseorang membuatnya mengurungkan niatnya.
"Annyeong, boleh kita bicara... berdua?"
.
.
.
Henry tidak pernah merasa segugup ini—mungkin pernah, tapi dalam situasi yang jelas berbeda dan tidak seawkward ini. Di sebelahnya, seorang namja berwajah manis hanya diam menatap ke depannya. Dan justru inilah yang membuatnya jadi merasa gugup dan awkward. Sejak kejadian dimana ia putus dengan Zhou Mi, ia memang tidak punya keberanian untuk sekedar bertatapan dengan Kim Ryeowook—mungkin lebih tepatnya ia sedikit segan.
Ia tidak dekat dengan namja itu. Berbeda dengan Kyuhyun, Hankyung atau bahkan Heechul yang sedikit galak. Dan mungkin itu jugalah yang membuatnya sedikit merasa bingung ketika namja yang sedikit lebih pendek darinya itu mengajaknya berbicara—di halaman belakang sekolah.
"Kita tidak pernah bicara berdua seperti ini kan?"
Henry mendongakkan kepalanya. Ryeowook telah lebih dulu memecah keheningan dan itu tetap saja terasa awkward.
"Kurasa apa yang terjadi sebelum ini memang tidak membuat kita punya alasan untuk bicara kan ya..."
Namja China itu tidak tahu harus mengatakan apa, maka dari itu ia lebih memilih untuk diam.
"Maafkan aku..."
"Eh?"
"Aku punya banyak kesalahan—sengaja ataupun tidak—padamu, dan aku belum sekalipun mengatakan apapun. Mengenai Zhou Mi dan juga mungkin hal lainnya. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk seperti itu... hanya saja..."
"Aku sudah tidak memikirkannya." Potong Henry. Rasanya terdengar aneh, melihat seseorang meminta maaf untuk sesuatu yang bahkan hampir ia lupakan sekarang. "Kurasa setiap orang juga pasti akan membuat kesalahan ataupun berubah—dan mungkin itu juga yang sedang terjadi pada.. kita..."
"Mungkin saja..." Ryeowook diam, ia masih melihat ke depan. Halaman belakang sekolah memang sepi—bukan saja karena ini memang sudah jam pulang, kecuali untuk siswa kelas 2, tapi juga tempat ini memang sangat sepi. "Yesung-hyung orang yang baik. Sekali ia mencintai seseorang, ia akan terus menjaganya. Kuharap kau tidak menyesalinya nanti..."
Namja berwajah manis itu beranjak pergi, meninggalkan Henry yang sedikit mematung.
"Dia... tahu?"
.
.
.
Kyuhyun sedikit gelisah ketika masuk ke kelasnya pagi ini. Sesuatu mengganggu pikirannya dan itu adalah Henry. Ini harinya. Tapi ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bicara banyak padanya. Hanya beberapa menit dan itu bahkan tidak berarti apapun untuknya. Lebih parahnya lagi, ia tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan Yesung. Seolah sepupunya itu menggunakan sihir untuk menghilangkan jejak keberadaannya.
Henry tidak masuk sekolah hari ini. Itu jelas saja. Faktanya kemarin adalah saat terakhir mochi China itu terdaftar sebagai siswa di sekolah ini. Ia ingin membolos sebenarnya mengantar namja berwajah chubby itu pergi. Karena bagaimanapun, di antara banyaknya siswa kelas 1 di sekolah ini, hanya Henry—dan juga Changmin—yang benar-benar dekat dengannya.
Tapi beberapa situasi membuatnya tidak bisa benar-benar melakukannya. Ini mendekati akhir semester, dan absensinya jelas berpengaruh untuk nilainya—lagipula Kibum sudah melarangnya untuk absen dari sekolah, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kalau kau terus melamun, justru hanya akan ada hal buruk saja yang terjadi..."
Kyuhyun menoleh. Changmin menatapnya khawatir, tapi tidak berkata-kata lagi. Setiap kata memang tidak akan berpengaruh apapun padanya dan ia tidak berharap ada orang lain yang akan menghiburnya. Mungkin ia akan lebih berharap bahwa waktu bisa diulang, dan surat sialan dari Canada itu tidak pernah datang ke asramanya. Semuanya mungkin akan jadi baik-baik saja sekarang... mungkin...
Tapi tetap saja, segalanya sudah terjadi—dan bukan hal bagus yang menanti.
.
.
.
Henry menarik kopernya dan juga barang bawaannya yang lain. Waktu menunjukkan pukul 11 pagi dan tentu saja di asrama tidak ada seorang pun yang tinggal kecuali Leeteuk. Ia sengaja memilih waktu ini karena tidak ingin kepergiannya diantar siapapun. Semakin banyak orang yang mengantarnya, justru akan semakin sulit baginya untuk pergi. Mungkin juga ia harus bersyukur—atau sekaligus juga merasa miris dan sedih—karena Yesung tidak menampakkan batang hidungnya sedikit pun.
"Ini memang terlalu singkat—aku bahkan tidak pernah mengalami perpisahan dengan penghuni asrama secepat ini. Kau yakin akan baik-baik saja?"
Henry menganggukkan kepalanya. Ini memang terlalu singkat, ia bahkan belum mengenal seluruh penghuni asrama ini dengan baik. Benar-benar menyedihkan...
"Aku akan baik-baik saja... kurasa..."
Leeteuk tersenyum lembut. Sebelah tangannya terulur mengelus surai hitam milik namja bermarga Liu itu. "Aku tidak akan melarangmu kok, kalau kau ingin menangis. Tapi aku yakin kau tidak ingin melakukan itu... berhati-hatilah, kuharap kita bisa bertemu lagi nanti..."
Aku tidak tahu kalau kehilangan salah satu penghuni asrama akan terasa menyedihkan seperti ini. Mungkin Heechul-ah benar—aku sudah terlalu menganggapnya sebagai dongsaengku sendiri.
"Gege... ng... hyung... gomawo..." Henry memeluk tubuh Leeteuk. Rasanya seperti ia akan berpisah dengan hyungnya sendiri—bahkan perpisahan dengan keluarganya pun tidak terlalu membuatnya merasa sedih.
Leeteuk membalas pelukannya, menyadari kalau anak ini tidak akan melepaskan pelukannya selama beberapa saat. Kemeja bagian depannya terasa sedikit basah, dan ia lebih memilih untuk tidak mengatakan apapun. Biarlah anak ini menangis, toh itu memang haknya...
"Kalian akan bertemu lagi nanti, aku yakin itu..."
.
.
.
Yesung memeluk kedua lututnya, membiarkan hembusan angin menerpa tubuhnya. Ini di atap, dan entah sudah berapa jam ia berada di sini—yang pasti sejak tadi pagi. Ini bukan hari yang bagus untuknya—malah mungkin yang terburuk. Terasa lebih menyakitkan jika dibandingkan ketika ia mengetahui bagaimana Ryeowook sebenarnya tengah mengkhianatinya. Hari ini ataupun kemarin sama—dan itu pula yang membuatnya menghindari banyak orang dan banyak hal.
Semuanya akan menyalahkan dirinya—dan memang sebagiannya ia patut untuk dipersalahkan.
Pengecut.
Ia tahu itu.
Dan ketika semuanya sudah terlambat, dan ia kehilangan semuanya, ia memilih untuk diam, berdiri di balik bayangan dan membentuk tembok untuk dirinya sendiri.
Ia yang memutuskan hal itu—dan tentu saja, ia tidak punya hak sedikit pun untuk menariknya kembali.
Yesung menundukkan kepalanya, menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya, jatuh merembes ke tempatnya berpijak. Ia tidak ingin siapapun melihat ini, dan lebih menyalahkannya lagi—menyudutkannya kembali.
Isak lirih semakin jelas terdengar, lalu tenggelam dan diterbangkan oleh angin. Ia hanya ingin menyesalinya—karena sudah terlambat untuk melakukan sesuatu...
"Maafkan aku..."
.
—To Be Continued—
.
a/n satu chapter lagi, dan akhirnya beres. ^^ Saya sedang ingin melanjutkan ff ini karena mood saya yang makin baik dan membayangkan dalam benak saya bagaimana real ending dari ff ini. Gaya tulisan saya sedikit aneh sekarang ini, dan saya tahu itu. Tapi ff ini terlalu tanggung untuk dibiarkan hiatus lebih lama lagi.
Untuk ff yang lain, mungkin sementara saya akan fokus dengan ff yang hampir tamat—yang artinya itu gak termasuk My Heart is Yours, Till The End of Time, Compass, dan Nosferatu. Setelah ff ini beres, kemungkinan besar saya akan mulai fokus menamatkan Mine & Yours yang sebenernya cuma tinggal 4 chapter lagi. ^^
Untuk yang bertanya kapan Addicted update, saya sedang berusaha mengingat kembali apa yang sudah saya tulis sebelumnya di chapter 9 yang hilang gara-gara virus, jadi mungkin bakal kena update sekitaran bulan puasa atau setelahnya. :D
Kayaknya segitu aja ya... RnR? ^^
See You Soon
.
BEST REGARDS
—ReiRiN—
.
