Naruto by Masashi Kishimoto.
I just borrow some characters and don't take any profit from this story.
Dalam Hatimu
Bagian Tujuh
Selamat buat pijar religia yang akan yudisium Senin besok! Semangat, Dear! :D
Kakashi tidak pernah tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang menentukan bagi hubungan mereka selanjutnya. Apakah Sakura akan menerimanya sepenuh hati atau malah meninggalkannya karena kesalahan yang dibuatnya?
.
.
Kakashi dan Sakura sudah kembali dari kencan mereka. Kencan kedua mereka boleh dibilang berhasil kali ini. Tidak seperti tempo hari di mana Hanare muncul dengan tiba-tiba, yang membuat sedikit kesalahpahaman timbul di hati Sakura.
Kini mereka sudah berada di pondok Sakura. Sakura sedang membersihkan diri, sementara Kakashi memilih duduk di ruang tengah menonton berita tentang pacuan kuda yang sedang berlangsung di distrik sebelah.
"Menonton apa?" Sakura muncul dari arah dapur, meletakkan secangkir cokelat hangat di atas meja, lalu mengambil tempat di sebelah Kakashi.
Kakashi mengalihkan atensinya kepada Sakura. Sosok Sakura yang sehabis mandi, memakai kaus rumahan berwarna putih gading dipadukan dengan celana panjang bahan katun yang berwarna coklat madu. Rambut Sakura masih basah. Bulir-bulir air masih terlihat jatuh membasahi kausnya dari rambutnya yang tergerai.
"Pacuan kuda," jawab Kakashi. "Kau tidak mengeringkan rambutmu?"
Sakura menggeleng. "Hanya menggosoknya dengan handuk."
"Kau bisa sakit." Kakashi tampak khawatir, sementara Sakura tersenyum geli.
"Aku sudah terbiasa seperti ini. Nanti juga kering sendiri." Sakura mengangkat bahu, mengalihkan perhatiaannya ke arah televisi. Pacuan kuda masih berlangsung. Kuda nomor tiga dengan surai keemasan masih memimpin jalannya perlombaan.
"Keringkan dulu rambutmu." Kakashi tidak peduli dengan bantahan Sakura. Dia masih mempermasalahkan rambut Sakura yang masih basah.
Sakura menarik perhatiannya dari lomba pacuan kuda ke arah Kakashi. "Aku sudah terbiasa seperti ini, Kashi," katanya. "Lagi pula rambutku terasa kering jika aku menggunakan pengering rambut."
"Kau bisa menambahkan tonik." Kakashi bersikukuh pada pendiriannya.
"Aku tidak-"
"Jangan bilang tonikmu habis. Rasanya kemarin rambutmu masih beraroma tonik."
Sakura mendelik. "Baiklah. Aku malas mengeringkan rambutku."
"Kau tidak boleh malas," kata Kakashi. "Kau bisa masuk angin, Sakura. Apa perlu aku yang mengeringkan rambutmu?"
Sakura tertawa geli. Kakashi, seorang polisi dengan otot kekar yang disegani oleh bawahannya kini menawarkan diri untuk mengeringkan rambutnya. "Memangnya kau bisa?"
Kakashi menyeringai. "Jangan remehkan kemampuanku." Kakashi mendekatkan mulutnya ke telinga Sakura, berbisik pelan, meski masih dapat didengar dengan jelas oleh Sakura. "Kemampuanku bisa diuji di mana saja kamu mau."
Sakura merasakan wajahnya memanas mendengar bisikan Kakashi. Kalimat yang sederhana tapi entah kenapa bisa berarti sesuatu yang membuat isi perutnya bergolak, mengerang penuh janji kenikmatan.
Kakashi bangkit dari duduknya. "Nah, di mana pengering rambutmu?"
Buru-buru Sakura bangkit dari duduknya. "Tidak perlu. Biar aku yang ambil," katanya. Sakura perlu menghindar sejenak dari Kakashi. Efek kalimat Kakashi masih berbekas pada seluruh sensor tubuhnya. Sakura butuh ruang untuk menetralisir keiintiman yang didapatnya dari lelaki itu.
Kakashi tersenyum kecil melihat tingkah Sakura. Menggoda Sakura adalah hal yang disukainya. Kakashi seratus persen yakin kalau Sakura memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia hanya butuh kekuatan untuk meyakinkan wanita itu bahwa pekerjaan yang dilakoninya bukan penghalang bagi cinta mereka. Memang butuh kesabaran dan akal yang cukup untuk menaklukan pendirian Sakura. Tapi Kakashi akan terus berusaha sampai wanita itu membalas ikrarnya di altar pernikahan.
Sakura kembali dengan sebuah pengering rambut dan sisir di tangannya. Setelah menghubungkan pengering rambut itu dengan aliran listrik, dia menyerahkan benda itu ke tangan Kakashi. Sementara sisir itu ditaletakkan di atas meja.
"Buktikan kalau kau berkompeten dengan alat ini."
Kakashi menaikkan alisnya, menyunggingkan sebuah senyuman, kemudian berkata, "Kujamin besok kau akan merengek ke pondokku, menginginkan hal ini lagi."
Sakura tertawa mendengar perkataan Kakashi yang terdengar sombong. "Seperti biasa, Tuan Percaya Diri."
"Terima kasih, pujian darimu sangat berarti untukku." Kakashi mengedipkan sebelah matanya.
Sakura tersenyum geli. Di hadapannya kini ada sosok Kakashi yang memegang sebuah pengering rambut dengan lengannya yang kekar dan berotot. Pekerjaan rumah seperti memperbaiki pipa ledeng memang butuh otot dan menambah kemaskulinan seorang lelaki. Tapi melihat Kakashi memegang sebuah pengering rambut, entah kenapa membuat lelaki itu tampak seksi, dengan arti yang Sakura tidak dapat mengerti. Dia menyukai setiap gerakan dan sikap yang dilakukan lelaki itu. Kealamian dan ketulusan Kakashi sudah lama menyentuh relung hatinya.
Kakashi memutar ke belakang Sakura, berdiri di belakang wanita itu; Sakura duduk membelakanginya. Ketika jemari Kakashi sudah mulai menyentuh rambut Sakura, mengeringkan rambut wanita itu dengan gerakan yang kompeten, membuat Sakura tersenyum tipis. Kegiatan ini terasa intim baginya. Hanya Kakashi-lah satu-satunya lelaki yang menyentuh rambutnya selembut dan seintim ini sejak gugurnya Sasuke di zona merah. Keintiman yang bukan hanya dirasakan oleh Sakura, tapi juga oleh Kakashi.
Rambut Sakura sudah kering. Sekarang Kakashi sedang menyisir rambut halus Sakura. Setelah itu, tangan Kakashi mengambil alih, menyentuh dan membelai lembut helaian rambut Sakura. Kakashi merasakan napasnya memburu. Aroma Sakura dapat dengan jelas tercium olehnya dari posisinya sekarang, membungkuk kecil, dengan wajahnya tepat di perpotongan leher dan bahu wanita itu. Aroma yang memabukkan. Kakashi hanya lelaki biasa. Gairahnya sudah naik ke permukaan.
Kakashi berusaha mengalihkan dirinya dari gairah yang semakin mencekiknya, dengan menjauhkan wajahnya dari posisinya semula. Kakashi memilih untuk memijat-mijat pelan tengkuk Sakura, berusaha mengalihkan pikirannya dari keinginan untuk memiliki wanita itu malam ini juga. Namun Kakashi menyesali pilihan yang dibuatnya. Menyentuh kulit Sakura, ditambah lagi dengan lenguhan kecil dari Sakura akibat pijatannya membuat Kakashi sulit mengontrol gairahnya yang sudah di ubun-ubun.
Maka ketika Sakura berbalik ke arahnya, menatapnya lembut, dengan tatapan kekhawatiran, Kakashi tidak lagi mampu menahannya. Kakashi mencium bibir Sakura dengan lembut dan mesra. Dia mencintai wanita itu. Entah bagaimana caranya, kini posisi mereka begitu dekat dan intim.
"Sakura," bisik Kakashi mesra, bibirnya menjilat lembut tulang telinga Sakura.
Sakura mendesah pelan. Sentuhan Kakashi begitu lembut dan memabukkan secara bersamaan. Membuat gairahnya perlahan-lahan naik. Sejak Sasuke meninggal, praktis Sakura menutup hatinya dari lelaki lain. Fokusnya hanya kepada membesarkan Kei dengan kasih sayang ibu dan ayah sekaligus.
Namun dengan datangnya Kakashi, perlahan-lahan hatinya mulai kembali terbuka. Kegigihan dan ketulusan lelaki itu mampu membuat dinding es yang sengaja disiapkan Sakura untuk membentengi hatinya dari perasaan-perasaan sentimentil dari lawan jenis mencair. Sakura bisa melihat dan merasakan cinta yang besar dan tulus dari kedua mata Kakashi yang menatapnya dengan lembut dan mesra. Hal yang terpenting adalah Kakashi bisa menerima kehadiran Kei dan menyayanginya seperti anaknya sendiri. Kei tidak pernah mengenal sosok ayahnya. Kehadiran Kakashi membuat Kei merasakan kasih sayang seorang ayah. Tanpa mengurangi rasa cintanya pada mendiang suaminya, Sakura sadar dirinya telah jatuh hati pada Kakashi. Kakashi-nya yang kini sedang mencumbunya dengan penuh kasih sayang.
"Aku mencintaimu, Sakura."
Dan Sakura pun mengalah pada hatinya. Dia menginginkan Kakashi. Dia mencintai lelaki itu. Maka dengan penuh kesadaran dia membalas pernyataan cinta Kakashi dengan lembut. "Aku juga mencintaimu, Kashi."
Rinai hujan di luar tidak menyurutkan esensi kenikmatan yang dicapai Kakashi dan Sakura malam ini. Keduanya kini telah menyatu, berterus terang dengan perasaan mereka masing-masing. Kakashi mengecup lembut kening Sakura. "Selamat tidur, Sakura."
.
.
Kakashi sudah terbangun; Sakura masih terlelap dalam dekapan lelaki itu. Bukti percintaan mereka semalam masih membekas di beberapa titik tubuh polos Sakura yang dibalut selimut. Kakashi membelai lembut rambut Sakura, menyelipkan anak rambut yang terpisah ke balik telinga wanita itu.
Sakura menggeliat dalam tidurnya. Matanya yang terbuka langsung berhadapan dengan lengan kekar Kakashi yang memeluknya dengan penuh kehangatan. Seketika bayangan percintaan mereka semalam muncul ke permukaan, membuat Sakura bisa merasakan wajahnya yang memanas.
"Selamat pagi, Saki," bisik Kakashi.
Alih-alih menatap dan menjawab pertanyaan dari Kakashi, Sakura mengalihkan wajahnya pada apa pun asal bukan wajah Kakashi.
Kakashi mengerti. Sakura pastilah merasa canggung dengan keadaan mereka saat ini. Namun dia tidak akan membiarkan Sakura tenggelam dalam pemikiran yang akan berujung pada sikap wanita itu yang akan menghindarinya. Dia membimbing Sakura agar menatapnya.
"Lihat aku, Sakura," pinta Kakashi. "Kumohon jangan jadikan apa yang telah kita lakukan semalam menjadi alasanmu untuk menjauhiku."
Sakura diam. Dia bukannya tidak memikirkan arti dari perkataan Kakashi, melainkan dia sendiri pun tak tahu mau dibawa hubungan mereka saat ini. Lelaki itu memang pernah melamarnya, tapi apa benar lamaran itu masih berlaku saat ini? Pun dengan syarat yang diajukannya saat Kakashi melamarnya. Sakura mungkin bisa menerima Kakashi. Tapi dia tidak bisa menerima pekerjaan Kakashi. Kakashi harus tetap memilih dia atau pekerjaannya.
"Anggaplah ini sebuah ... kesalahan," kata Sakura pada akhirnya.
"Jangan pernah sekali-kali berpikiran seperti itu, Sakura!" Nada suara Kakashi meninggi. Dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa Sakura begitu keras kepala.
"Aku tidak bisa merasakan hidup seperti itu sekali lagi!"
Sakura tidak ingin lagi merasakan ketakutan itu. Rasa gelisah yang terus-menerus menghantuinya sejak dini. Bagaimana ibunya meninggalkannya ketika masih bayi akibat kematian ayahnya di medan perang; bagaimana dia diliputi kegelisahan dan ketakutan saat tahu bahwa Sasuke memilih tentara sebagai profesinya; bagaimana dia menghabiskan sebagian besar kehidupan rumah tangganya dengan perasaan cemas dan was-was menanti kabar keadaan Sasuke; bagaimana kecewanya dia saat Sasuke lebih memilih maju ke medan perang dibandingkan berada di sisinya, menanti kelahiran buah hati mereka; dan klimaksnya adalah bagaimana hancurnya hatinya saat mendengar kabar bahwa Sasuke gugur di medan perang.
Sakura tidak bisa merasakan semua perasaan itu sekali lagi. Semua itu membawa trauma yang cukup dalam pada dirinya. Tidak bisakah Kakashi memilih pekerjaan yang jauh dari kata bahaya. Sakura hanya ingin hidup normal seperti wanita dan istri kebanyakan. Duduk mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak, sambil menanti sang suami pulang kerja dari kantor di sore hari. Tidak bisakah dia seperti itu?
"Menjadi polisi bukan berarti aku akan meninggalkanmu, Sakura," kata Kakashi. "Semua pekerjaan memiliki resiko, bukan hanya menjadi seorang tentara atau polisi."
"Bisakah kau meninggalkan pekerjaanmu demi aku?" Sakura sadar dia egois dan terlihat kekanakkan saat kembali mengajukan permintaan ini. Namun dia tidak peduli. Dia hanya tidak ingin kembali terluka dan ditinggalkan.
Kakashi mengusap wajahnya. Di hadapannya kini ada wajah Sakura yang tersiksa, menunggu jawabannya. Kakahi mencintai Sakura, tapi dihadapkan pada permintaan seperti ini tetap saja tidak bisa dijawabnya begitu saja. "Maaf, aku tidak bisa."
Sakura tersenyum, mencoba menutupi rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya. "Ya," katanya dengan suara parau. "Aku tahu."
"Sakura, jangan memiliki pikiran bahwa aku mengatakan itu karena aku tidak mencintaimu," kata Kakashi. Dia tidak ingin Sakura meragukan cintanya setelah hubungan mereka terjalin sejauh ini. "Ada hal-hal yang harus kau mengerti."
Sakura memalingkan wajahnya. "Aku tidak apa-apa."
Kakashi memaksa Sakura agar menatapnya. Posisi mereka masih berbaring, besebelahan. Kakashi menarik Sakura ke dalam dekapannya. Tubuh polos mereka bergesekan, menimbulkan gelenyar hangat yang melingkupi mereka.
"Rasakan Sakura, rasakan bahwa setiap inchi tubuhku menginginkanmu. Aku mencintaimu. Jangan pernah meragukan hal itu sedetik pun," kata Kakashi. "Hanya kau, Sakura."
Sakura bisa merasakan sesuatu yang panjang, basah, dan berurat menekan inti gairahnya. Pusat gairah Kakashi menunjukkan bahwa lelaki itu menginginkannya.
"Aku mencintaimu Sakura."
.
.
Hubungan Kakashi dan Sakura bagai sebuah layangan yang diterbangkan di musim panas. Tarik ulur benangnya membuat pasang surut hubungan mereka tetap berada di satu titik. Sejak malam penyatuan mereka, hubungan mereka tampak kembali normal. Sakura memilih menganggap itu semua tidak akan berpengaruh pada kehidupannya, meski dia mengakui bahwa ada malam-malam di mana dia merindukan kenangan bersama Kakashi. Sedangkan Kakashi memilih bersikap normal karena tidak ingin kembali pada konversasi mengenai pilihannya. Saat ini mungkin Sakura masih menawarkan pilihan itu. Tapi Kakashi akan bersabar sampai Sakura mau menerimanya tanpa memedulikan pekerjaannya. Dia akan terus menunggu saat itu tiba.
"Dari tadi kau melihat ke arah pondok itu terus. Apa Kakashi hari ini belum mengunjungimu."
Sakura tersentak dari lamunannya. Dia buru-buru menutupinya dengan menambahkan krim ke dalam kopi yang sedang dibuatnya untuk Itachi. "Niisan bicara apa? Aku tidak memikirkan Kakashi."
Itachi tertawa kecil. "Aku tidak bilang kau memikirkan Kakashi. Aku bilang kenapa kau melihat pondok itu terus."
Pipi Sakura memerah, menyadari kesalahannya. Secara langsung dia mengungkapkan apa yang dilamunkan olehnya barusan. Sudah dua hari Kakashi tidak mengunjunginya. Pondoknya pun tampak sepi dan tak berpenghuni. Kakashi tidak memberinya kabar apa pun mengenai keabsenannya. Hal itu sedikit memenuhi pikiran Sakura dua hari ini.
"Bagaimana hubunganmu dengan Kakashi?" Itachi bertanya saat Sakura duduk di sampingnya setelah meletakkan cangkir kopi di atas meja.
"Aku tidak mengerti maksud perkataan niisan."
Itachi menyesap kopinya, menyeruput kopi itu pelan-pelan, sebelum meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. "Sakura," katanya. "Aku sebagai lelaki mengerti kalau pendekatan yang dilakukan Kakashi bukan sekadar main-main."
Sakura diam dalam duduknya. Dia mengerti arah pembicaraan Itachi. Tapi dia tidak bisa memberikan gambaran apa-apa mengenai hubungannya dengan Kakashi saat ini. Sejak Kakashi menolak meninggalkan pekerjaannya demi Sakura, Sakura tahu dia dan Kakashi seolah memainkan peran di zona aman mereka. Tak pernah lagi sekali pun mereka membahas kelanjutan hubungan mereka.
"Apa lelaki itu sudah melamarmu?"
Pertanyaan Itachi membuat Sakura terkejut, tapi dia segera memulihkannya. "Kakashi sudah melamarku."
Itachi terkekeh mendengarnya. "Rupanya dia benar-benar sudah gerak cepat," katanya. "Nah, bagaimana? Kau sudah menerimanya 'kan?"
"Aku menolaknya."
Itachi cukup tercengang mendengar jawaban Sakura. Dia sedikit banyak bisa melihat kalau Sakura juga memiliki perasaan hangat pada Kakashi. Entah apa yang membuat Sakura menolak lamaran lelaki itu.
Awalnya Sakura enggan menceritakan masalahnya dengan Kakashi pada Itachi. Itachi adalah lelaki, bukan tidak mungkin kalau dia tidak akan mengerti ketakutan yang dirasakan Sakura. Namun Itachi adalah kerabatnya satu-satunya, dia merasa perlu untuk menceritakan kegundahan hatinya.
Itachi mendengarkan untaian kata yang keluar dari mulut Sakura mengenai hubungannya dengan Kakashi dengan seksama. Dia mengerti kekhawatiran Sakura, tapi dia tidak bisa menyalahkan Kakashi. Jika dia berada di posisi Kakashi, dia pun akan sulit untuk memenuhi persyaratan Sakura.
Itachi menepuk lembut punggung tangan Sakura. "Dengar, aku tidak akan menyalahkanmu. Tapi ketahuilah bahwa kematian bukan ditentukan dari profesi seseorang," terjadi jeda sebentar, "melainkan goresan takdir dari Kami-sama. Kau hanya perlu memanfaatkan waktu yang kaumiliki sebaik-baiknya. Hingga pada saat waktu itu habis, kau telah memberikan yang terbaik pada orang yang kaukasihi."
Itachi lalu bangkit dari duduknya. "Aku ingin menengok Kei dulu di kamarnya."
Sakura hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Perkataan Itachi masih membekas di ingatannya.
.
.
Sakura merasa akhir-akhir ini ada perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Payudaranya terasa semakin penuh dan berisi, pinggangnya pun menebal. Apalagi perutnya kadang mual-mual saat pagi hari. Kondisi ini serta merta membawanya pada ingatan saat pertama kali dia mengandung Kei.
Sakura menghitung masa datang bulannya. Sudah tiga minggu dia terlambat datang bulan. Sebuah dugaan membuatnya khawatir. Sakura ingat dia dan Kakashi sama sekali tidak menggunakan pengaman saat melakukan hubungan intim. Apalagi mereka melakukan itu di saat masa subur Sakura. Sakura gelisah. Bagaimana jika dia mengandung buah percintaannya dengan Kakashi?
Sakura pergi ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan. Dia segera menggunakannya sesampainya di pondoknya. Simbol yang tertera di alat itu membuat Sakura membekap mulutnya.
"Ya, Tuhan! Aku..."
Seharian ini Sakura gelisah. Dia dilema, apakah dia harus mengatakan pada Kakashi bahwa sekarang dia tengah mengandung buah dari percintaan mereka atau menyimpannya sendiri. Sakura bersyukur saat ini Kei sedang menginap di rumah neneknya. Saat ini Sakura tidak bisa berpikir dengan jernih. Apa yang harus dia lakukan?
Sakura sudah berada di depan pesawat teleponnya. Sakura mengangkat gagang telepon, tapi sedetik kemudian meletakkannya lagi di tempatnya. Dia ragu. Haruskan dia memberitahu perihal kehamilannya kepada Kakashi?
Pada akhirnya Sakura mengalah pada nalurinya sebagai seorang wanita. Dia memutar nomor telepon Kakashi, mendengar nada tunggu di seberang sana dengan gelisah. Ketika Kakashi menjawab teleponnya, Sakura hanya bisa berkata, "Bisakah kau ke pondokku sekarang?"
Tidak perlu menunggu lama, Kakashi kini sudah berada di muka pondok Sakura. Sakura sendiri yang membuka pintu pondoknya dan membawa Kakashi masuk ke ruang tengah pondoknya.
"Ada apa?"
Kakashi tampak khawatir. Tidak biasanya Sakura meneleponnya hanya untuk meminta dirinya datang ke pondok wanita itu. Pasti ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan Sakura. Apalagi raut wajah wanita itu tampak menyimpan kegelisahan yang besar.
"Kakashi, aku...," kata Sakura, dia sedikit ragu untuk meneruskan perkataannya. "Aku ... hamil." Akhirnya berita itu terucap dari mulut Sakura.
Kakashi merasa kehilangan orientasinya sejenak. Hamil. Kata itu berputar-putar di kepalanya. Sampai dia sadar bahwa itu berarti Sakura sedang mengandung buah hati mereka. "Sakura, kau..."
"Ya, aku hamil, Kakashi."
Kakashi merasa sangat senang dan bersyukur. Dia menarik Sakura ke dalam pelukannya. Dikecupnya lembut kening Sakura. "Terima kasih, Sakura," kata Kakashi. Suaranya agak serak, menahan gejolak bahagia yang membuncah dalam hatinya. Wanita yang dicintainya kini tengah mengandung buah percintaan mereka.
Sakura sedikit terkejut dengan respons Kakashi, tapi dia lega mendapati bahwa Kakashi menerima kehadiran calon bayi mereka dengan penuh kebahagiaan.
"Kita harus segera memikirkannya, Sakura. Kita harus menikah secepatnya. Aku akan mengurus pernikahan kita secepatnya."
Tubuh Sakura mendadak membeku mendengar perkataan Kakashi. Menikah. Secepatnya. Kashi, apa kau...
"Kau menjebakku?"
Kali ini giliran tubuh Kakashi yang membeku di tempat. "Apa?"
"Kau menjebakku. Kau menjebakku dengan kehamilanku. Kau ingin menjadikan kehamilanku sebagai alasan agar aku tidak punya pilihan lain selain menikah denganmu?"
"Apa?! Sakura, aku..." Kakashi tidak bisa melanjutkan perkataannya. Sejujurnya dia memang sempat memikirkan apa yang dituduhkan Sakura padanya. Jika Sakura hamil karena percintaan mereka, maka wanita itu tidak punya pilihan selain menerima Kakashi sebagai suaminya. Melihat sifat keibuan Sakura, dia tidak mungkin menggugurkan janinnya. Namun Kakashi sadar pikiran itu begitu picik. Maka dia berusaha menghapus pikiran itu dari benaknya.
Diamnya Kakashi diartikan lain oleh Sakura. Sakura tidak menyangka bisa-bisanya Kakashi melakukan hal sepicik ini padanya. Dia kecewa pada Kakashi. "Keluar," katanya.
"Sakura, aku, dengarkan aku. Aku tahu aku salah, tapi aku bersumpah aku-"
"Keluar!" Sakura sudah tidak bisa menahan rasa kecewanya. Tega-teganya Kakashi menjebaknya seperti ini.
"Sakura, aku memang sempat memikirkan hal itu. Tapi aku bersumpah aku tidak-"
"Kubilang keluar dari sini!" Pertahanan Sakura runtuh. Dia berlari, masuk ke kamarnya. Dikucinya kamar dari dalam. Tubuh Sakura merosot. Air mata mengalir dengan deras di pipinya. Kondisi kehamilannya sedikit banyak mempengaruhi perasaannya.
"Sakura, kumohon dengarkan aku."
Kakashi berdiri di balik pintu kamar Sakura. Dia bisa mendengar isakan Sakura. Tapi Sakura seolah menulikan telinganya. Dia merasakan kekecewaan yang amat besar. Mengapa Kakashi tega menjebaknya seperti ini?
.
Bersambung
.
A/n:
Terima kasih untuk semua yang mau baca dan menyempatkan diri untuk review fic ini.
Maap kalau saya belum sempat membalas beberapa review yang masuk di kotak review. Tapi saya sangat berterima kasih dan membaca setiap review yang masuk, baik saran, kesan, maupun kritik. Terima kasih ya. Saya usahakan akan membalas review via pm.
Btw, maaf saya baru bisa melanjutkan fic ini. Ya ampun, hampir satu tahun saya tidak melanjutkannya. :( maaf. Kemungkinan chapter depan adalah chapter terakhir fic ini. Semoga endingnya nanti memuaskan para reader. :)
Terima kasih
Ay
