Chapter 7 : Case Closed

Langit sudah gelap. Udaranya dingin, cukup menusuk sampai-sampai Namjoon dan setiap orang yang setia diruangan itu--menunggu kedatangan Seokjin--pun mulai menggigil. Meskipun setiap orang diberikan secangkir cokelat panas, namun tetap tidak cukup untuk menghangatkan udaranya.

Atau memang dikarenakan oleh suasana yang tak bersahabat di ruangan ini?

Baik Namjoon maupun yang lainnya hanya terdiam. Tak ada seorang pun yang berinisiatif membuka suara.

Hingga beberapa langkah kaki terdengar berasal dari salah satu lorong di rumah mewah milik Jungkook itu. Bisa Namjoon pastikan bahwa itu adalah Seokjin, dan ia berhasil membawa kemari suami Natalie.

"We've brought him, Sir," ujar Seokjin sesaat ia sampai di ruangan yang kini Namjoon, Sihyuk, Yoongi dan Jungkook tempati.

"Oh?" Sihyuk menolehkan kepalanya ke samping, menatap ketiga sosok yang kini dengan berdiri sembari menatap Namjoon dan yang lainnya, terkecuali seorang pria yang sedari awal telah menundukkan kepalanya. "Just have a seat. Detective Namjoon will ask questions for you. Don't worry, not much."

Segera lelaki itu duduk, tepat disebelah Bang Sihyuk dan Natalie yang tanpa henti mengelus pergelangan tangan suaminya, sementara Seokjin memutuskan untuk tetap berdiri.

"Okay, My name is Kim Namjoon, detective from South Korea. What is your name?" tanya Namjoon, mengawali interogasi. Lelaki itu tak langsung menjawab. Ia tertunduk, seperti enggan untuk menatap setiap orang di sekelilingnya.

"J-John..." jawabnya dengan suara pelan.

"You look weird tonight. Something happened?"

Pertanyaan Namjoon sepertinya hanya dianggap sebagai angin lalu bagi John. John terdiam. Namun, wajahnya semakin pucat.

Namjoon mengernyitkan dahinya kala melihat wajah John. Sejenak ia tersenyum--lebih tepatnya menyeringai--pada sosok John.

"Oh, do you remember this house? Park Jimin?" kembali Namjoon bertanya dengan tujuan menekan mental John.

Sontak John mengangkat kepalanya, dan terkesiap kala netranya menangkap sosok Jungkook yang tepat berada di hadapannya.

"Y-you..." gumamnya dengan nada bergetar. Tiba-tiba John berdiri seraya menunjuk Jungkook dengan telunjuknya.

"YOU SON OF A DEVIL!!! IF YOU WANT TO GO TO THE HELL, JUST GO ALONE!!! "

John memekik dengan sangat kencang, hingga urat-urat di lehernya nampak dengan jelas. Terlihat bahwa itu adalah raut kemarahan dan dendam yang mendalam, karena wajahnya mengeras dan bola matanya yang memerah melotot dengan lebar.

"I DON'T WANT TO BE A DEVIL LIKE YOU--YOU DAMMIT!!!" kembali John memekik, namun kini disertai dengan tindakannya yang cukup anarkis--menarik kerah baju yang digunakan Jungkook--membuat Namjoon dan Sihyuk turut berdiri untuk menjauhkan John.

"John, calm down!!!" seru Namjoon. "So, is it right that Jungkook force you to kill Jimin?"

"I even don't know what's that kid's name," jawabnya. "Hiks... I feel so sorry..."

Pengakuan Jungkook yang diperkuat oleh bukti dari John membuat Phillipe datang ke kediaman Jungkook lalu menangkap Jungkook juga John. Kini keadaan pergelangan tangan Jungkook cukup mengenaskan; kedua tangannya diborgol.

Sungguh, Namjoon sama sekali tak menyangka bahwa Jungkook-lah dalang dari kasus besar ini. Kini Yoongi tengah menangis sesegukkan. Ya, pasti hal ini cukup berat bagi pemuda manis itu.

"Jung... hiks Jungkookie... kumohon, jangan pergi..." isak Yoongi. Jungkook pun hanya tersenyum sembari mengusak surai gelap Yoongi.

"Maafkan aku, hyung. You deserve better than me," ujarnya, menanggapi permintaan Yoongi. Segera Jungkook menghampiri Namjoon lalu berbisik padanya, "mohon jaga Yoongi. Aku tahu kaulah yang terbaik." Setelah berucap begitu, Jungkook segera berlalu, meninggalkan Namjoon yang hanya bisa terdiam, mencerna seluruh kata-katanya.

Tangisan Yoongi menyadarkan Namjoon dari lamunannya. Segera dirinya menghampiri pemuda manis itu, bermaksud untuk meredakan tangisnya.

"Yoongi," panggil Namjoon. Yoongi pun menolehkan kepalanya, menatap lelaki jangkung itu dengan linangan air mata.

"Hiks... Joon..."

Sontak Namjoon menarik Yoongi kedalam pelukannya yang erat.

"Maafkan aku... maafkan aku..." ujar Namjoon penuh sesal. Yoongi pun menggeleng pelan.

"Aku... hiks--aku ingin membencimu karena telah membawa Jungkook ke balik jeruji besi. Namun, itu adalah kesalahannya... hiks--aku sangat menyayangi Jimin, seperti adik kandungku sendiri."

Sihyuk yang melihat itu pun lantas menghampiri mereka lalu menepuk lembut bahu Namjoon.

"Detektif Kim," panggilnya. Segera Namjoon melepaskan pelukannya dan berbalik menghadap Sihyuk.

"Ya, Sihyuk-nim?"

"Tugas anda sudah selesai. Anda bisa kembali ke Korea kapanpun anda mau. Terima kasih atas bantuannya. Tanpa anda, kasus ini pastilah takkan selesai."

Namjoon menggaruk kepalanya yang tak gatal--merasa malu, entah karena apa.

"Ah, saya juga berterima kasih karena anda telah melibatkan saya dalam kasus besar ini," ucap Namjoon yang dibalas dengan kekehan dari Sihyuk.

"Ah, bicara soal kasus... Tuan Min Yoongi, saya pikir tak baik jika anda terus berada disini. Setidaknya, pindahlah ke suatu tempat untuk sementara. Saya yakin anda pasti masih shock. Oleh karena itu, rentan bagi anda untuk mendapat trauma."

Mendengar usul Sihyuk, sang detektif tampan itu pun kembali menggulirkan netranya--menatap Yoongi.

"Yoongi. Kurasa, ucapan Sihyuk-nim ada benarnya."

Terlihat Yoongi tengah menimang usul dari Sihyuk. Sedetik kemudian, dirinya mengangguk pelan.

"Baiklah... aku akan membereskan barang-barangku dulu."

Cukup lama Namjoon menunggu Yoongi membereskan barang-barangnya, ditemani Seokjin dan keempat pelayan dirumah itu. Sihyuk sudah meninggalkan kediaman Jeon terlebih dahulu. Dia akan mempersiapkan laporan hasil kasus pada rapat besar ICPO esok hari.

Kini Yoongi sudah berdiri di hadapan Namjoon dan Seokjin dengan sebuah koper yang dibawa oleh tangan kirinya.

"Kau sudah siap?" tanya Namjoon setelah dirinya berdiri dari sofa. Yoongi hanya mengangguk pelan. Sejenak kemudian pemuda pucat itu membalikkan tubuhnya, menghadap keempat pelayan yang selama ini banyak membantunya selama menjadi tunangan Jeon Jungkook.

"I want to say thank you for all of you. Please, take care when I leave."

Terlihat Agatha, Angela dan Dan tengah menahan tangisnya. Sementara Christina sudah terisak sejak beberapa saat yang lalu.

"Master Yoongi... if I can, I want to say thanks for you, too." ujar Christina dengan air mata yang turut membanjiri kedua pipinya yang pucat.

Kembali Yoongi menatap Namjoon, kemudian mengangguk pelan. Dan tak lama kemudian, mereka bertiga pun pergi, meninggalkan kediaman Jeon yang pastilah memiliki banyak kenangan bagi Yoongi.

"Yoongi," panggil Namjoon kala mereka tengah berada di perjalanan, memakai mobil yang dikemudikan Seokjin. Tanpa menatap Namjoon, Yoongi menjawab, "apa?"

"Kau akan tinggal dimana setelah ini?"

"Entahlah. Mungkin di sebuah hotel dekat sini? Uang yang diberikan Jungkook padaku masih sangat banyak."

'Jungkook pasti bekerja sangat keras untuk dapat membahagiakan Yoongi,' batin Namjoon sembari tersenyum tipis. Cukup sakit memang, tapi itulah kenyataannya.

Sejujurnya, Namjoon sangat ingin membawa Yoongi ke hotel dimana ia menginap. Tapi, siapa dirinya? Hanya masa lalu seorang Min Yoongi saja. Jika ia memaksa pemuda itu, pasti terkesan seperti dirinya tengah memanfaatkan keadaan--saat Jungkook sedang berada di penjara--dengan cara mendekati Yoongi demi mendapatkannya kembali.

Tidak, Namjoon bukan orang yang selicik itu.

"Baiklah," katanya kemudian lalu merobek selembar kertas dari buku di dalam tasnya dan mengambil sebatang pulpen.

"Apa kau punya akun KakaoTalk?" tanya Namjoon yang dibalas dengan anggukan pemuda mungil itu.

"Iya, aku punya."

"Baguslah," kembali Namjoon berujar dan segera menuliskan id KakaoTalk miliknya lalu disodorkannya selembar kertas itu pada Yoongi. "Ini."

Yoongi mengambil kertas itu dengan penuh keraguan.

"Hubungi aku jika ada sesuatu. Aku akan berada disini hingga esok." ujar Namjoon.

Nada bicara detektif tampan itu mutlak. Yoongi bahkan tak sanggup membantahnya.

Namun, tentu saja hatinya dilanda perasaan bersalah.

Lagi-lagi ia akan merepotkan Namjoon, sang mantan pujaan hati yang dulu pernah dicampakkannya.

"Ba-baiklah--" jawab Yoongi sembari memasukkan selembar kertas itu ke dalam saku jaketnya. Kembali mobil itu dilanda keheningan. Hingga saat mobil yang dikendarai mereka melewati sebuah gedung hotel, Yoongi segera berseru, "berhenti!"

Seokjin pun mendadak menepikan mobilnya.

"Ada apa?" tanya Seokjin.

"Kupikir aku akan bermalam di hotel itu saja," jawab Yoongi sembari menolehkan kepalanya ke belakang, menatap sebuah hotel yang cukup mewah.

Namjoon menghela nafasnya. Ia tak bisa mencegah. Itu adalah hak Yoongi untuk memilih dimana tempat ia akan bermalam untuk sementara waktu. Segera Seokjin membuka pintu mobil, keluar lalu membuka bagasi mobil dan mengeluarkan koper milik Yoongi. Yoongi pun turut membuka pintu mobil dan keluar.

"Ah, terima kasih," ucap Yoongi diiringi senyuman tipis pada Seokjin. Seokjin lantas membungkukkan sedikit tubuhnya.

"Tidak masalah. Ah, apa anda ingin ditemani hingga ke kamar?"

Pemuda manis bersurai gelap itu menggeleng.

"Tidak perlu. Saya sudah banyak merepotkan anda dan Namjoon. Saya dapat pergi ke kamar sendiri."

"Yoongi," panggil Namjoon yang entah kapan sudah berada di belakang dirinya, membuat ia menolehkan kepalanya ke belakang.

"Ingat pesanku. Hubungi jika ada apa-apa."

Sejenak Yoongi menunduk, lalu menganggukkan kepalanya. Sedetik kemudian Namjoon dan Seokjin pun kembali ke dalam mobil dan melenggang pergi, meninggalkan Yoongi sendiri yang terus menatap kepergian mereka.

.

.

.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, namun Sihyuk belum saja kembali. Kecanggungan terjadi diantara Seokjin juga Namjoon--mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Ingin saling mengungkapkan, namun pada kenyataannya lidah mereka sama sekali tak sanggup.

Hingga...

"Namjoon-ssi--" "Seokjin-ssi--"

Dua suara saling menyatu dalam satu waktu.

Mereka saling bertatapan.

Sejenak seperti ada suatu gelombang yang membuat fraksi aneh di setiap sendi tubuh mereka.

"Ah..." Namjoon menggaruk kepalanya yang tidak gatal--sedikit gugup. "Silahkan, anda duluan."

Seokjin pun tersenyum canggung.

"Baiklah, saya duluan, ya?" ujarnya lalu menghela nafas.

"Saya tahu, ini melanggar janji saya dan pasti akan menyakiti hati anda. Namun... hati saya tak dapat menahannya lagi," ucap Seokjin. Kini bulir-bulir air mata siap untuk membasahi kedua pipinya.

"Saya... saya sangat merindukan anda. Kim Namjoon, adik kandungku."

Seketika itu tangisan Seokjin pecah, dan kata-kata Seokjin berhasil membuat Namjoon bungkam dengan air mata yang mulai turun. Bibir detektif tampan itu kelu, ia tak dapat bicara sepatah katapun. Hal ini terlalu mendadak untuknya.

"Ja-jadi... kau adalah... hyungku?"

Butuh waktu lama bagi Seokjin untuk mengangguk, diiringi dengan gemetar pada tubuhnya.

"Maafkan aku, Namjoon... aku tahu, aku tak layak untuk kau panggil hyung," ujar Seokjin sembari menangis hebat. Dan layaknya seorang profesional, Namjoon berhasil menghentikan keinginan dirinya untuk kembali menangis.

"Katakanlah. Katakan mengapa kita terpisah dan aku tak dapat mengingat dirimu."

.

.

.

[ Seoul, Musim Semi, 2000 ]

Siang itu sangat cerah. Seoul kini dihiasi dengan bunga-bunga bermekaran. Setiap penghujung jalan semakin indah dengan adanya cherry blossom yang mulai tumbuh. Demi Tuhan--! Seokjin sangat menyukai suasana ini! Ingin rasanya ia mengajak sang adik--Namjoon--untuk pergi bersama menikmati seluruh keindahan ini.

Namun, sebuah tepukan pada pundaknya sukses menghancurkan imajinasinya.

Itu adalah sang ibu, Kim Eunji.

"Ibu..." panggil Seokjin yang pada saat itu masih setinggi perut sang ibu. Eunji pun tersenyum manis. "Kau ingin ikut dengan ibu hari ini?"

Alih-alih menjawab pertanyaan sang ibu, Seokjin hanya mengerutkan dahinya.

"Kemana? Aku belum menjemput Namjoon di sekolahnya. Lagipula, bukankah ini aneh melihat Ibu ada bersamaku di siang hari? Ibu sedang bebas tugas?"

Mendengar pertanyaan beruntun dari sang anak membuat Eunji kembali mengulas senyum tipis.

"Ibu sedang bebas tugas, sayang. Ayo, kita jemput Namjoon bersama-sama. Ayah sudah menunggu di sebuah restoran. Seokjin ingin makan enak, 'kan?"

Setelah mendapat ajakan seperti itu, Seokjin pun menyetujuinya dan mereka segera pergi ke sekolah tempat Namjoon belajar untuk menjemputnya.

Selama di perjalanan, Seokjin dan Eunji saling bersenandung. Yah, diberkatilah Seokjin memiliki Ibu dengan suara yang amat indah. Namun, entah mengapa Ibunya tak mengambil profesi menjadi seorang penyanyi, melainkan mengambil pekerjaan yang cukup mempertaruhkan nyawa; seorang agen FBI.

Meskipun Seokjin cukup bangga dengan Ayah dan Ibunya karena dikenal sebagai agen yang handal, namun tetap saja terbersit kekhawatiran dalam diri Seokjin, bahwa...

mereka bisa tewas kapanpun disaat menjalankan tugas.

Seokjin memanglah masih anak kecil, namun jangan sekali-kali kau menganggap remeh otaknya.

Setengah jam berlalu sampai Namjoon sudah berada di mobil bersama mereka. Terlihat keletihan dari wajah sang adik, membuat Seokjin menatapnya iba.

"Ibu..." panggil Seokjin pada Eunji. "Namjoon terlihat sangat lelah..."

Mendengar itu, segera Eunji menolehkan kepalanya ke belakang--hanya untuk sedetik dan bicara, "Namjoon, apa kau kelelahan?" Yang ditanya pun mengangguk sembari mengusap pelan sebelah matanya dengan punggung tangannya yang mungil.

"Iya, Joonie lelah..." jawab anak kecil itu dengan suara parau. Eunji tersenyum.

"Kalau begitu, Joonie tidur saja dulu. Jika sudah sampai, hyung akan bangunkan," ujar Eunji dengan nada keibuan. Mendengar itu, segera Namjoon kecil merebahkan tubuhnya di jok dan sejenak kemudian sudah tertidur, terbang di alam mimpinya.

Getaran ponsel milik Eunji memecah kesunyian. Segera Eunji mengangkat telepon itu.

"What's wrong?" ujarnya. Cukup lama Seokjin melihat sang Ibu terdiam. Namun, di setiap detiknya raut wajah Eunji semakin mengeras.

"WHAT THE FUCK?! LISTEN!! I WILL PROTECT MY SEOKJIN AND NAMJOON, NO MATTER WHAT!!!" pekiknya kala itu diiringi dengan bantingan ponsel oleh Eunji. Terlihat Eunji kini tengah diselimuti emosi, hingga air matanya keluar.

"Ibu..." panggil Seokjin gemetar. Ini adalah pertama kali bagi dirinya melihat sang Ibu semarah itu. Sedetik kemudian Eunji menghapus air matanya, menatap Seokjin dan tersenyum.

"Maafkan Ibu, ya. Ibu tadi tidak bisa mengendalikan emosi. Kau tidak apa-apa, 'kan?"

Mendengar itu, Seokjin kecil pun hanya sanggup mengangguk.

.

.

.

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai mereka kini sudah sampai di halaman sebuah restoran mewah bergaya Eropa. Seokjin memandang restoran itu dengan takjub.

"Ibu, Ibu baru saja terlibat suatu kasus besar, ya?" tanya Seokjin.

"Mengapa?"

"Restoran ini mewah. Tidak mungkin Ibu mengajak kami kesini jika tak punya uang."

Sontak gelak tawa terdengar dari bibir cantik Eunji.

"Kau anak yang cerdas, Seokjin."

Seokjin hanya tersenyum menanggapi omongan Eunji dan segera membangunkan Namjoon dari tidur lelapnya. Tak lama kemudian, mereka bertiga--dengan bergandengan tangan--memasuki restoran itu sembari menyapa Kim Joonmyun, sang kepala keluarga Kim yang sedang duduk bersama dengan seseorang yang Seokjin ketahui adalah atasan kedua orang tuanya di FBI--Jones--dengan seorang pria yang selama ini selalu menjaga dirinya dan Namjoon, Bang Sihyuk.

"Ayaaaahh~" panggil Namjoon dengan riang lalu berlari menghampiri Joonmyun. Melihat itu, Joonmyun pun segera memeluk tubuh mungil sang anak bungsu.

"Uh~ jagoan Ayah," ujar Joonmyun, membuat Namjoon tersenyum lebar.

Eunji pun mendudukkan dirinya di samping Joonmyun yang tengah memangku Namjoon. Tiba-tiba terdengar kekehan mungil yang keluar dari bibir Jones.

"Kau tidak bisa meninggalkan kedua anakmu saat mengetahui bahwa kalian menjadi target, ya?" ujar Jones dengan bahasa Korea, meski terdengar cukup aneh karena bagaimanapun juga lidahnya adalah lidah orang barat.

"Tentu saja," jawab Eunji ketus. "Disaat aku dan suamiku menjadi target, bukan hal yang tak mungkin jika kedua anakku juga ikut terlibat."

Joonmyun pun berdeham pelan.

"Jujur saja, meski kami dianggap sebagai agen yang handal, bukan berarti kami siap dengan segala sesuatunya setiap saat." Joonmyun berujar seraya mengelus sayang kepala Namjoon.

Jones menghela nafasnya.

"Aku mengerti."

"Tujuanku dan Eunji mempertemukan kalian berdua dengan anakku disini adalah... aku ingin meminta sesuatu pada kalian."

Sihyuk mengerutkan dahinya.

"Apa?" tanya pria itu.

Terlihat Joonmyun menghela nafasnya sembari menutup kedua mata. Seperti banyak beban yang kini dipikulnya.

"Jika suatu saat aku dan Eunji berhasil menjadi target pembunuhan mereka... aku ingin kalian memilih salah satu diantara kedua anakku, siapa yang lebih pandai diantara mereka."

Segera Jones menatap Joonmyun dengan pandangan tajam.

"Apa maksudmu?"

"Aku tahu, kedua anakku ini pintar. Namun, diantara mereka pastilah ada yang hanya pintar, dan ada yang pintar namun juga jenius. Aku yakin, dengan sekali lihat pun kalian akan dapat membedakan mereka."

"Lalu... apa sebenarnya tujuanmu?" desak Jones.

"Jika kalian sudah tahu...

aku ingin kalian rawat anak yang hanya pintar itu sampai besar, dan membiarkan anak yang pintar juga jenius hidup seorang diri tanpa bantuan kalian."

TBC