Nam and Jin's fict

.

.

.

Kim Namjoon | Kim Seokjin | Jung Hoseok | Min Yoongi | Park Jimin | Kim Taehyung | Jeon Jungkook

.

.

.

"Acting is magical. Change your look and your attitude, and you can be anyone." -Alicia Witt

.

.

.

.

.


Seokjin memang bukan penggemar berat olahraga. Yang ia lakukan hanya pergi ke gym dua kali seminggu itu pun sekedar untuk menjaga bentuk tubuhnya mengingat profesinya sebagai aktor. Tapi siapa yang tahu hal sepele seperti itu dapat membuat Seokjin berada jauh di atas Kim Namjoon soal kebugaran.

Suara rintihan, jeritan kesakitan, serta kata-kata makian yang diproduksi Namjoon memancing habis tawa Seokjin. Mereka berada dalam ruang persegi yang luas, di kelilingi dinding dan atap plafon berwarna putih gading, kecuali salah satu dindingnya yang keseluruhannya merupakan cermin besar. Lantainya beralas matras biru yang tebalnya kira kira lima centimeter membuat siapapun yang terbanting di atasnya akan merasa minim sakit, well, Seokjin sudah membuktikannya beberapa kali, apalagi Namjoon, jangan ditanya.

Sang aktor saat ini sedang duduk manis bersandar pada dinding cermin disana bersama sebotol air mineral yang tersisa setengahnya. Jika diperhatikan lebih jauh lagi, ia terlihat seperti sedang bersantai di rumah menonton film komedi karena tawanya tak pernah berhenti terdengar. Dan yang menjadi objek tontonannya adalah sang calon lawan main di film terbarunya, yang untuk kesekian kali terjatuh akibat salah mengambil langkah dalam gerakan yang diajarkan pelatih mereka.

"Namjoon-ssi, paling tidak pertahankan posisimu selama sepuluh detik."

Namjoon sama sekali tak berpikir ucapan pelatihnya barusan adalah sebuah solusi. Kedengarannya memang seperti hal paling sederhana yang dapat dilakukan setiap manusia, andai saja gerakan yang dimaksud bukan berdiri tegak lurus dengan kedua kaki rapat menghadap ke depan. Mungkin dulu Tuhan lupa menambahkan keseimbangan ke dalam unsur kehidupan Kim Namjoon, karena jangan kan melakukan kuda-kuda moa seogi dalam Taekwondo, saat berjalan normal pun ia sering tersandung dan jatuh sendiri.

Ia sudah akan mencoba lagi, tapi suara tawa yang terdengar seperti saat kaca digesek itu semakin menganggu konsentrasinya.

"Yah! Bisa diam? Setidaknya buat dirimu sedikit berguna disini!" Sebenarnya Namjoon tak bermaksud menaikan intonasi ke nada orang marah, hanya saja rasa lelah bercampur frustasi sudah mengambil alih emosinya.

Seokjin menghentikan tawanya saat itu juga, matanya yang terbuka lebar menatap Namjoon telah mengekspresikan keterkejutannya. Mereka telah berlatih nyaris setengah hari dan tidak hanya sampai gerakan dasar kuda-kuda sederhana saja, ada gerakan menendang dan lainnya, Namjoon yang mengulang berlatih moa seogi-nya adalah keinginan pelatih mereka yang menganggap Namjoon sama sekali tak menguasai gerakan itu. Jadi Seokjin berusaha sekuat tenaga agar emosinya tak terpancing, Namjoon hanya lelah dan ya mungkin tidak seharusnya Seokjin terus menertawakannya sejak tadi.

"Sudah, sudah. Saya rasa latihan kali ini cukup sampai disini. Manejer kalian akan menghubungi kita jadwal latihan selanjutnya. Istirahatlah. Terimakasih atas kerja keras kalian hari ini, Namjoon-ssi, Seokjin-ssi."

Pelatih, yang kira-kira umurnya dua kali lipat Namjoon dan Seokjin, menepuk bahu keduanya sebelum melangkah pergi, meninggalkan dua orang laki-laki yang masih diliputi situasi tak mengenakan berkat bentakan Namjoon tadi, tapi tetap berusaha sopan dengan balas membungkukan badan serta ucapan terimakasih.

"Jadi, kau ingin bantuan seperti apa dariku?"

Saat Seokjin akhirnya bangun dari duduk bersilanya, Namjoon dibuat kesulitan menelan ludah, terpaku di tengah ruangan menunggu sang aktor dibawa mendekat oleh langkahnya. Sebelum memulai latihan tadi, Seokjin berinisiatif mengganti bajunya dengan yang lebih nyaman yaitu celana training hitam dan kaos putih bergambar kepala Super Mario besar di bagian dada yang sedikit kebesaran dikenakan olehnya. Untung saja Namjoon baru sadar sekarang betapa cocoknya pakaian itu dikenakan Seokjin yang habis bermandi keringat.

"Serius, Namjoon, apa yang bisa kubantu?"

"Tak ada, tubuhku memang seperti ini sejak lahir."

"Seperti apa maksudmu?"

"Payah dalam olahraga."

Dan Seokjin tersenyum tepat di hadapannya. Entah sudah berapa kali Namjoon melihat Seokjin tersenyum, baik secara langsung ataupun dalam foto dan video, tapi ia tidak ingat pernah melihat yang seperti di depannya ini. Seokjin bersama senyumnya seperti bertransformasi menjadi sosok baru yang lebih menyenangkan, yang menawarkan sebuah pertemanan.

"Persis seperti Yoongi."

"Yoongi siapa?" Beberapa memori di otak Namjoon langsung otomatis terputar mencari dimana ia pernah mendengar nama itu.

"Tidak perlu membahasnya." Seokjin masih tersenyum, kali ini ditambah meletakan tangan kanannya di pinggang. "Kau masih ingin berlatih? Aku bisa membantumu sebisaku." Entah Seokjin memang diciptakan dengan rasa tolong-menolong yang tinggi.

Seperti ini Namjoon baru sadar kalau bentakannya tadi sama sekali tidak pantas. Meminta Seokjin sedikit berguna? Well, sejak membuka mata tadi pagi pun Seokjin sudah membantu seluruh aspek di kehidupan Namjoon, justru Namjoon lah satu-satunya orang yang tak berguna disini.

"Maaf soal tadi."

"Yang mana?" Uh, sedikit menggoda sang rapper Seokjin rasa tidak ada salahnya.

Senyuman yang menawarkan pertemanan perlahan berubah menjadi seringaian yang seolah segera mendatangkan malapetaka. Namjoon rasa menjadi aktor memudahkan Kim Seokjin mengubah-ubah ekspresi serta suasana perasaan orang-orang seenak jidatnya.

"Kau membuatku jadi ingin menarik kata maafku."

"Tak bisa, sudah kuterima dan kusimpan baik-baik disini." Katanya, menunjuk dada kirinya menggunakan jari telunjuk untuk menambah kesan gombal kalimatnya.

Namjoon melepaskan tawanya tanpa beban. Sekali lagi, Seokjin membuktikan kemampuannya mengubah situasi dalam sekejap, juga semakin menyadarkan Namjoon tentang alasan seluruh masyarakan Korea menerima eksistensinya beserta pilihannya yang masih di anggap tabu. Seokjin sungguhan orang baik, bukan salah satu wujud kemampuan aktingnya. Mungkin pertemanan di antara mereka akan menciptakan kembali energi positif yang baik untuk hidup sial Kim Namjoon.

"Baiklah, simpan saja sesukamu." Merasakan atmosfir yang semakin aneh berada dalam jarak sedekat itu dengan sang aktor, Namjoon berinisiatif mundur, berjalan menuju ke salah satu sudut ruangan tempat tas dan berbagai minuman penambah energi disiapkan. "Jadi, berapa banyak waktu yang kau punya sebelum jadwalmu selanjutnya?" Tanyanya, memperhatikan Seokjin dari jaraknya sekarang sambil menenggak isi botol pocari sweat.

"Hmmm.." Ia memperhatikan jam tangannya sejenak, "Sekitar setengah jam lagi sebelum manajerku menelpon untuk ceramah." Sementara Seokjin masih berdiri di tengah ruangan, tak tahu apa menyusul Namjoon duduk di sudut sana adalah pilihan yang baik, ia punya firasat bahwa sang rapper sedang menghindarinya. "Kau sendiri?"

"Well, tidak tahu, mungkin aku harus menunggu kabar dulu soal manajer pengganti?"

"Serius, Namjoon, yang kalian butuhkan hanya saling bicara sebagai sahabat."

"Aku dan Hoseok? Sahabat?" Ia mendecih tanpa sadar.

Kelebatan wajah Jung Hoseok sehabis terkena pukulannya kemarin kembali menghantui, sekaligus mengejek segala keraguannya tentang status pertemanan mereka. Sahabat mana yang memukuli sahabatnya sendiri yang sedang berusaha menunjukan rasa pedulinya? Orang seperti Namjoon sama sekali tak pantas memiliki teman.

"Setahuku teman yang baik adalah yang tetap bersamamu di saat terburuk dalam hidupmu." Akhirnya Seokjin berjalan mendekat, hanya untuk mengambil ransel miliknya disana. Menekan mati-matian emosinya agar tidak meledak dan kembali melampaui batas. "Dan Rap Monster-ssi, satu-satunya orang yang kulihat di sisimu sekarang hanya Jung Hoseok."

Setelah mengatakan itu menggunakan ekspresi wajah serta intonasi minim emosi, Seokjin memutar cepat langkahnya. Ia menyampirkan ransel di pundaknya sambil mempercepat jalannya menuju pintu keluar aula latihan. Sebisa mungkin mengabaikan gambaran berbagai kemungkinan reaksi sang lawan bicaranya. Seokjin hanya berharap Namjoon segera sadar dimana ia berdiri sekarang, juga keterbatasan jumlah orang yang ikut berdiri bersamanya.

"Ck, dia menganggap hidupku yang sekarang adalah saat terburuk, aku penasaran apa yang akan kau katakan jika bertemu diriku di tiga tahun lalu." Gumaman dalam seringai Namjoon mengiringi tertutupnya pintu ruangan yang membawa tubuh Seokjin menghilang di baliknya.

.

.

.

Andai dulu Jung Hoseok tahu kalau keputusannya menjadi manajer utama Rap Monster akan menambah rumit kerumitan hidupnya, ia bersumpah akan tetap memilih menjadi asisten manajer seumur hidupnya.

Setelah kepulangan Seokjin dari kunjungan dadakannya, ada dua orang lagi yang menghubunginya kemarin. Pertama, tentu saja sang CEO, yang tanpa perlu mempekerjakan otaknya untuk berpikir pun, Hoseok tahu pasti apa yang beliau inginkan. Jadi tanpa basa-basi apapun lagi, ia segera menyetujui ajakan makan malam dari atasannya. Lalu penelpon kedua ini yang sama sekali di luar prediksi.

Hoseok keluar dari mobilnya dengan dandanan lengkap ala selebriti yang sedang menyamarkan penampilan. Coat panjang selutut warna hitam melapisi kaos hitam garis-garisnya, topi baseball putih bertuliskan 'HOPE' warna hitam yang ujungnya diturunkan sejauh mungkin agar menutupi wajahnya, celana jeans sobek-sobek warna hitam, dan terakhir, benda klasik dan wajib untuk sebuah penyamaran, yaitu masker wajah.

Ia berjalan lurus menuju pintu kafe yang menjadi tempat kesepakatan mereka bertemu. Saat di jalan tadi, sebuah pesan Hoseok terima berisi detail dimana mereka akan duduk dan bicara, tepatnya di lantai dua cafe dengan meja nomor 17 yang letaknya agak di sudut dekat counter pramusaji. Jadi tanpa membuang-buang waktu melihat sekeliling, Hoseok langsung membawa pasti langkahnya menuju meja yang disebutkan.

Disana duduk seorang wanita muda yang kira-kira umurnya sama dengan Hoseok atau bahkan lebih muda, mengenakan dress biru gelap dengan rambut coklat agak keriting yang ia biarkan tergerai sebahu. Semakin dekat Hoseok menghampirinya, fokus sang wanita beralih sepenuhnya padanya. Ia bahkan berdiri, mengulurkan tangan untuk dijabat dengan sebuah senyum kecil menghias wajahnya.

"Hoseok-ssi, terimakasih sudah menyempatkan untuk datang."

Hoseok menurunkan maskernya sambil mengangguk kecil dan berharap senyuman balasan yang ia berikan tidak terlihat terlalu kaku, lalu menjabat tangan yang terulur "Ya, senang bertemu Anda, Eunjung-ssi."

Mereka duduk saling berhadapan, Hoseok kini menyadari kalau selera Namjoon memang tidak pernah buruk. Si brengsek itu hanya 'memakai' barang-barang bagus dan berkelas, tapi tetap saja otak jeniusnya tak pernah dipakai sepenuhnya untuk berpikir tentang moral.

Seorang pelayan menghampiri meja mereka. Hoseok putuskan untuk memesan segelas Americano saja, karena ia tidak yakin akan sanggup makan selama mengobrol dengan wanita di hadapannya ini. Pesanan dicatat dan sang pelayan pun pergi. Eunjung sudah memesan terlebih dulu, di depannya ada sepiring waffle coklat yang tinggal setengah dan segelas besar cairan kental warna hijau, Hoseok tak ingin menebak apa itu, selera wanita memang aneh dan sulit dimengerti.

"Jadi, saya dengar Namjoon sudah mengambil keputusan."

Jantung Hoseok sepertinya sempat berhenti sedetik saking kagetnya dengan kalimat barusan. Pandangannya kembali fokus pada sang lawan bicara, hanya untuk menemukan ketenangan yang terpancar dari cara Eunjung duduk dan memulai tujuan utamanya tanpa basa-basi.

"Ah itu.. sebenarnya dia masih ingin mempertimbangkannya lagi, bisa kah kau menambah jangka waktunya?"

Oke, Hoseok berbohong, entah apa ini demi kebaikan Namjoon atau ia hanya dengan bodohnya semakin menenggelamkan diri dalam kesulitan. Paling tidak dengan begini, Hoseok bisa memastikan lagi kalau Kim Namjoon benar-benar menggunakan kinerja otak ber-IQ tingginya untuk mengambil keputusan.

"Benarkah? Kurasa namjoon bukan tipe yang seperti itu."

Hoseok nyaris bergidik ngeri melihat gerakan Eunjung menyesap minumannya, ew, wanita memang aneh. Ia menggeleng kecil untuk menghilangkan pemikiran yang tidak perlu dan kembali ke topik pembicaraan mereka. "Eunjung-ssi, saya hanya tidak ingin dia menyesali keputusan gegabahnya."

Tatapan wanita itu kini sepenuhnya mengarah pada Hoseok, seolah-seolah sedang mengobservasi kebenaran dari setiap kata yang sejak tadi Hoseok keluarkan. Hoseok bukan aktor, jadi jangan harap aktingnya akan mampu mengelabui intuisi tajam seorang wanita.

Pelayan datang membawakan Americano-nya beriringan dengan decakan keras Eunjung, disini Hoseok tahu ia benar- benar gagal.

"Baiklah, saya berikan waktu lagi sampai besok malam." Meskipun begitu Hoseok dapat menghembuskan nafas lega, karena setidaknya aktingnya yang buruk menimbulkan rasa iba penontonnya. Hoseok kini memperhatikan gerakan Eunjung yang sedang membuka tas jinjing hitamnya, lalu tak lama mengeluarkan map warna coklat dari sana. "Dan ini surat perjanjian, saya mau dia menandatanganinya apapun keputusannya nanti."

Adanya surat perjanjian harus sudah bisa diprediksi, biar bagaimanapun, keduanya sama-sama sedang di hadapkan pada keputusan hidup tersulit. Walaupun surat perjanjian terlihat lebih menguntungkan pihak Eunjung, tapi jika Namjoon mau menggunakan sedikit otaknya untuk berpikir, Hoseok yakin mereka akan sama-sama mendapat keuntungan di akhir.

Hoseok menyesap Americano-nya sebentar, lalu mengajukan pertanyaan lagi sembari menerima map yang terulur "Kemana Anda akan pergi?"

Hoseok melihatnya tersenyum lagi, masih sulit diprediksi arti dibaliknya. "Yang pasti sejauh mungkin supaya sama sekali tak ada kesempatan kami bertemu lagi. Itu kan yang Namjoon inginkan?"

"Saya benar-benar minta maaf, Eunjung-ssi, atas nama Kim Namjoon."

Jika pada kenyataannya Namjoon tidak merasa menyesal, Hoseok tetap berpikir bahwa wanita ini layak mendapatkan sebuah permohonan maaf. Tak ada unsur kebohongan sama sekali kali ini, hanya sebuah rasa empati murni yang berusaha Hoseok sampaikan karena biar bagaimanapun ia memiliki kakak perempuan, dan andai kakaknya yang berada di posisi Eunjung sekarang, hal paling sederhana yang ia minta sebagai keluarga hanyalah permohonan maaf. Walaupun yang sebenarnya, sudah pasti Hoseok akan langsung membunuh Namjoon jika berani-berani menyentuh kakaknya.

"Namjoon sudah saya maafkan, Hoseok-ssi. Mungkin dengan jalan ini saya dapat menikmati hidup yang lebih baik." Dia menyesap lagi minumannya, matanya melirik ke berbagai arah asalkan itu bukan lawan bicaranya. Lalu meneruskan ucapannya dengan nada jauh lebih rendah. "Bersama anak saya nanti."

Selain payah dalam berakting, Hoseok juga tak terlalu baik dalam hal menebak-nebak isi pikiran dan perasaan seseorang. Mana yang benar dan mana sebuah kesalahan yang ditutupi kebenaran. Mana yang disembunyikan dan mana yang sedang terang-terangan diperlihatkan. Wanita memang rumit, atau bahkan manusia secara keseluruhan. Hoseok hanya tahu detik ini ada rasa lega yang mereka bagi bersama.

"Terimakasih banyak, saya harap kalian selalu bahagia." Ucapnya tulus sebagai penutup pertemuan mereka. Ia bangkit berdiri dan menuju kasir, tentu merasa bertanggungjawab membayar semua pesanan mereka hari ini.

.

.

.

.

Jimin tak datang saat jam makan siang. Hanya sebuah pesan singkat yang Yoongi terima berisi alasan mengapa ia tidak bisa datang.

'Hyung, aku ada latihan sepanjang hari ini. Maaf tak bisa datang, juga maaf atas sikapku tadi pagi. Aku tahu aku sudah berlebihan. I love you!'

Lalu satu pesan lain segera menyusul.

'ah ya, jangan lupa makan! (walau tanpaku hehe)'

Dua pesan tersebut bagi Yoongi cukup menjadi alasannya mematikan semua peralatan komputernya di jam tiga sore. Keputusannya sudah bulat untuk menemui sendiri Jimin di tempat latihannya demi menjelaskan masalah tadi pagi di antara mereka, karena Yoongi punya firasat kalau bukan hanya hari ini saja Jimin akan menghindarinya. Selama ini Jimin selalu menjadi pihak yang mengalah dalam setiap konflik mereka, awalnya atas saran Seokjin yang mengingatkan tentang betapa keras kepalanya seorang Min Yoongi, namun seiring berjalannya waktu Yoongi merasa Jimin yang mengalah sudah murni karena inisiatifnya sendiri.

Yoongi tidak ingin situasi hubungannya terus seperti itu, seolah hanya Jimin yang berjuang untuk bertahan. Segala hal yang pernah dilaluinya telah mengajarkannya untuk belajar mempertahankan apa yang ia miliki dan membuatnya bahagia. Kalaupun pada akhirnya Jimin tetap ingin meninggalkannya karena kebodohannya di masa lalu, setidaknya ia sudah berani jujur untuk memperjuangkan hubungan mereka. Oh, tidak. Mengapa sekedar membayangkan hal itu terjadi saja Yoongi sesakit ini?

Saat berjalan menuju lift, Yoongi merasa seluruh pasang mata yang ada disana tertuju ke arahnya, lengkap dengan bisikan-bisikan penuh rasa heran ketika melihat salah satu produser mereka berada di luar ruangan dalam satu waktu yang sama dengan matahari. Sebagian dari mereka menyapanya dan Yoongi berusaha seramah mungkin menyapa balik. Seokjin pernah bilang kalau kita harus banyak-banyak tersenyum agar tidak cepat tua, entah otak Yoongi agak bergeser sedikit saat mulai percaya kata-kata sahabatnya itu.

Omong-omong tentang Seokjin, Yoongi jadi ingat ia harus memberitahu kabar kepergiannya ini pada sang aktor, karena jika Seokjin yang seringnya punya keinginan mendadak berkunjung ke studio Yoongi dan menemukan ruangan tersebut kosong, Yoongi yakin Seokjin tak akan ragu untuk segera menghubungi 911 atas kasus orang hilang.

'Seokjin, aku tidak ada di studio sore ini. Jadi jangan datang.' begitu isi pesan singkat yang Yoongi kirimkan pada Seokjin, sama sekali tak mengharapkan balasan, Yoongi memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket dan lanjut memasuki lift. Ia sudah akan menekan tombol lantai basement parkir mobil, sampai ia ingat kalau tadi pagi Jimin menjemputnya. Yoongi menghela nafas berat saat jarinya berakhir menekan tombol lantai lobby gedung. Perjuangannya menemui Jimin sepertinya akan bertambah berat saja tanpa mobilnya.

.

Jarak halte bis dengan gedung tempat Yoongi bekerja tidak sampai berjarak satu kilometer, jadi ia putuskan untuk jalan kaki saja sekaligus olahraga, mengingat Seokjin yang selalu mengingatkannya untuk sekedar bergerak lebih membuatnya meringis. Lagipula, entah kapan terakhir kali Yoongi menikmati suasana sore kota Seoul yang sudah hampir lima belas tahun ia tinggali.

Ponselnya berbunyi nyaring beriringan dengan hembusan angin sore yang lewat. Tadinya Yoongi ingin mengabaikannya dan pilih menikmati angin dalam perjalanannya, tapi menyadari ringtone-nya adalah Awake, lagu terbaru milik Kim Seokjin yang seenak jidat di atur sendiri oleh sang penelepon, Yoongi menyerah karena telinganya sedang tidak siap menerima berbagai ocehan panjang lebar.

"Yah! Berani-beraninya kau melarangku datang ke studiomu!"

Yoongi sampai menjauhkan ponsel dari telinganya, entah apa yang dimakan Kim Seokjin selama ini hingga gelegar suaranya nyaris menyamai perlengkapan pengeras suara Yoongi di studio sana.

"Benar sekali, studioKU." Jawabnya, suku kata terakhir sengaja ditekan lebih untuk sekedar mengingatkan siapa pemilik studio itu sebenarnya. Yoongi masih terus berjalan, halte bus yang menjadi tujuannya sudah terlihat beberapa meter di depan.

"Ck, memang mau kemana?"

"Pergi melihat Jimin latihan."

"Woaaahhh akhirnya si pemalas Min Yoongi keluar dari sarangnya juga."

Sampai detik ini Yoongi masih butuh diingatkan tentang alasan ia dan Seokjin tetap berteman di tengah sifat-sifat menyebalkan sang aktor.

"Aku bukan malas, hanya menghargai waktu untuk bersantai."

"Ya, ya, terserah. Sampaikan salamku pada Jimin kalau begitu."

"Hmm.." Gumamnya mengiyakan. Jeda sebentar untuk Yoongi mempertimbangkan jika ini saat yang tepat memberitahu Seokjin tentang apa yang terjadi antara ia dan Jimin sejak semalam, karena secara tidak langsung Seokjin terlibat di antara mereka. Dan, Seokjin?"

"Yes, Yoongichi. Aku masih setia disini mendengarkan." Sepertinya juga tak butuh banyak penjelasan bagi Seokjin untuk bisa tahu bahwa Yoongi sedang mempertimbahkan sesuatu.

"Jimin mendengar pembicaraan kita kemarin malam."

"Pembicaraan yang mana.. Oh!"

Mudah saja membayangkan ekspresi Seokjin saat ini. Ia tahu seberapa besar rasa benci Yoongi setiap kali Seokjin mencoba kembali membahas masa lalunya, dan Park Jimin yang tidak sengaja tahu setengah dari cerita sebenarnya, sama sekali bukan hal yang baik.

"Ya, yang itu." Yoongi menjawab lemah. Di saat yang bersamaan, ia telah sampai di halte bus. Ada beberapa orang yang juga ikut menunggu disana.

"Yoongi, maafkan aku."

"Bukan salahmu." Biar bagaimanapun Yoongi tak akan pernah menyalahkan Seokjin atas masalah ini. Ia pikir satu-satunya orang yang harus disalahkan yaitu dirinya sendiri, yang selalu menunda-nunda untuk lebih terbuka pada kekasihnya. "Kuceritakan detailnya nanti, oke? Bus-ku sudah sampai."

"Kau naik bus?! Kau tidak bangkrut dan menjual mobilmu kan?"

Terkadang Yoongi masih sulit memercayai kemampuan Seokjin mengalihkan pembicaraan dari yang emosional menjadi super menyebalkan.

"Tidak, Jimin menjemputku tadi pagi dengan motor jeleknya."

"Yoongi, terakhir kucek harga motor Jimin seharga mobilmu."

"Terserah. Aku pergi."

"Hati-hati! Hubungi aku kalau sudah sampai bertemu Jimin, mengerti?!"

"Ya, eomma~"

Yoongi memutus sambungan mereka tanpa menunggu balasan lagi. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum menjadi penumpang terakhir yang menaiki bus di halte tersebut.

.

.

Lapangan sepak bola milik Universitas Yonsei faktanya mempunyai tempat istimewa di ingatan Yoongi. Bukan karena ia pernah kuliah disana, melainkan disanalah tempat pertama kali ia dan Park Jimin bertemu yang lagi-lagi melibatkan Kim Seokjin di dalamnya. Saat itu Universitas Yonsei merupakan salah satu lokasi pengambilan gambar dari drama yang sedang dimainkan Seokjin, dan Yoongi datang kesana untuk menjemput Seokjin karena mereka memiliki janji untuk menonton film terbaru di bioskop.

Lalu, Park Jimin, yang timnya menjadi cameo, datang menghampiri mereka untuk sekedar menyapa 'hai!' dimana Seokjin membalasanya menggunakan nada kelewat ceria yang sama karena memang posisi mereka saat itu sudah saling kenal berkat proses pengambilan gambar seharian. Tapi dengan kurang ajarnya, Jimin malah menjawab, 'oh maaf, hyung. Kali ini aku menyapanya, bukan dirimu.' sambil mengerlingkan matanya ke arah Yoongi lengkap dengan senyuman lebar yang menyilaukan. Jujur saja Yoongi tidak bisa menahan tawanya setiap kali mengingat ekspresi Seokjin yang bagai dikhianati oleh seisi dunia, 'aura selebriti' yang selama ini ia banggakan setengah mati nyatanya dipatahkan oleh Jimin demi Yoongi.

Nyaris pukul empat sore, ia tiba di gerbang utama gedung setelah berjalan lima menit dari halte bus tempatnya turun. Selanjutnya ia masih harus menempuh jarak sekitar 700 meter untuk menuju stadion sepak bola. Sampai disini ia mulai sangat merindukan mobilnya, kenapa juga Jimin harus 'ngambek' padanya disaat ia yang memaksa Yoongi untuk meninggalkan mobilnya di basement apartemen.

Ia telah memasuki area stadion dan tengah berjalan dalam lorong yang seingat Yoongi akan membawanya menuju lapangan utama tempat para pemain berlatih. Dua tahun berkencan dengan Jimin, nyatanya kunjungan Yoongi kesana masih bisa dihitung dengan jari.

"Hyung?! Yoongi hyung!" Teriakan heboh dari siluet sosok di ujung lorong sana, dimana Yoongi mulai dapat melihat hamparan hijau rumput lapangan. Yoongi memilih berhenti melangkah, sementara orang itu berlari tergopoh-gopong menghampirinya, seolah telat sedetik saja Min Yoongi akan menghilang dari penglihatannya. "Aigoo~ kau benar Yoongi hyung-ku kan? Atau hanya alien yang sedang menyamar?"

Selanjutnya sebuah pelukan menerjang tubuh kecil Yoongi. Tangan-tangan yang melingkari pundaknya begitu erat, hingga baju latihan lumayan lepek yang dikenakan sang pelaku terasa jelas oleh indra-indra perasa di kulitnya, meskipun hal itu masih belum cukup menjadi alasan buat Yoongi menolak pelukannya.

"Tidak lucu, Jimin." Suaranya nyaris tak terdengar karena secara harfiah Yoongi benar-benar ditenggelamkan dalam sebuah pelukan.

"Kau lucu kok, hyung." Jika memungkinkan ia memeluk Yoongi lebih erat lagi tanpa harus membuatnya kehabisan nafas, maka akan Jimin lakukan sekarang juga. "Ah aku merindukanmu."

"Kita baru bertemu tadi pagi omong-omong."

"Dan aku meninggalkanmu. Maaf."

Seketika kelebatan percakapan mereka tadi pagi serta kalimat Seokjin semalam menyerbu pendengaran Jimin seperti sekoloni lebah. Berdengung nyaring untuk mengejek sikapnya yang terlalu kekanak-kanakan dalam menghadapi masalah. Ia mengenal Yoongi bukan sebatas hitungan hari, setidakpeduli apapun Yoongi melihat hubungan mereka, harusnya Jimin menjadi satu-satunya orang yang merasakan bahwa Yoongi peduli, bahwa memang seperti itu cara Yoongi menunjukkannya. Hubungan yang mereka jalani sekarang sama sekali tak ada kaitannya dengan Yoongi yang memilih bungkam tentang masa lalunya, Jimin hanya perlu membuktikan diri sedikit lagi kalau ia pantas mendapatkan kepercayaan Yoongi hingga sampai tahap tak ada lagi yang Yoongi ingin sembunyikan darinya.

"Tidak, itu kesalahanku. Aku yang minta maaf, Jimin. Kau boleh menanyakan apapun, aku akan menjawab semuanya."

Sebenci apapun Min Yoongi membicarakan masa lalu, ia lebih membenci fakta kalau hal itu lah yang akan menjadi pemicu retaknya hubungan ia dan Jimin.

"Bagaimana kalau kita tidak perlu membahasnya lagi? Karena mulai sekarang hanya ada kau dan aku."

Karena yang sebenarnya Jimin juga takut mendengar secara langsung apa yang pernah terjadi dengan hyung kesayangannya dulu hingga pernah nyaris membuat Jimin di masa yang akan datang kehilangan kesempatan mengenalnya apalagi mencintainya. Jimin tidak berani membayangkan hidupnya yang sekarang tanpa pernah bertemu Yoongi. Dia juga tidak ingin dihantui rasa khawatir lebih dari yang sudah ia rasakan, karena memang Yoongi bahkan selalu memprotes sikap protektif dan kekhawatiran berlebihannya. Yoongi sudah baik-baik saja, dan mereka akan selalu baik-baik saja.

"Oke, aku setuju dibagian 'hanya ada kau dan aku mulai sekarang'."

Yoongi menarik diri dari dekapan Jimin setelah sejak awal merasa sangat terbantu dalam hal menyembunyikan ekspresi wajahnya disana, tatapan Jimin saat ini menawarkan rasa aman dan kenyamanan lebih dari yang selama ini Yoongi harapkan.

Senyuman Jimin perlahan mengembang semakin sempurna, lalu mendaratkan kecupan di dahi Yoongi dan menahannya disana dalam hitungan detik, masih dengan lengan-lengan yang mendekap pinggang pria yang lebih kecil membuat Yoongi tak pernah merasa dicintai sebesar ini selain dalam detik yang lewat tersebut.

"Aku akan minta izin pada pelatih untuk pulang cepat agar kita bisa makan malam bersama."

"Jimin, kurasa itu bukan alasan bagus."

"Ck, cukup bagus untuk kapten yang terlalu mendedikasikan hidupnya pada tim. Pelatihku akan senang karena aku akhirnya punya prioritas lain."

"Oh, senang menjadi pengalih prioritas utamamu, Kapten Park."

Jimin tak pernah tahu kalau memang ada cara untuk berhenti mencintai pria yang sedang tersenyum lebar di hadapannya ini.

.

.

.

Selesai membersihkan diri dan membereskan barang-barangnya, Namjoon menyampirkan asal ranselnya di salah satu pundak, lalu mulai berjalan meninggalkan ruang ganti. Mungkin kembali ke apartemennya dan tidur sepanjang hari dengan sedikit harapan untuk tidak bangun lagi saja. Dering ponselnya berbunyi nyaring mengagetkan si pemiliknya sendiri, masih tetap sambil melangkah, Namjoon memeriksa ponselnya dan sama sekali tidak terkejut dengan nama kontak yang muncul disana.

Dari dulu Jung Hoseok tak akan pernah membiarkannya hidup tenang terlalu lama.

"Kau tahu kita tetap harus bicara bagaimanapun juga?" Tanyanya dari seberang sana tanpa perlu repot menyapa.

"Ya, karena itu aku mendengarkan."

Namjoon mendorong keluar pintu utama, dimana sinar matahari sore langsung menyorotnya dan menyadarkannya kalau cukup lama ia merenung di dalam ruang ganti tadi setelah kepergian Seokjin. Lucunya orang yang membuatnya merenung lama kini sedang tersambung dengannya lewat telepon.

"Tidak lewat telepon juga, Namjoon. Kita harus bertemu."

Sebuah helaan nafas panjang dari Namjoon yang merasa cepat atau lambat ia dan Hoseok memang harus bicara empat mata, mereka bukan anak kecil yang bertengkar karena berebut mainan, tapi dua pria dewasa yang tingkat kebodohannya nyaris setara dan menyebabkan keributan disana-sini.

"Baiklah, dimana?"

"Aku sedang di kafe, kukirimkan alamatnya lewat ka'talk."

"Yap."

"Tak ada yang mau kau katakan padaku sebelum kita bertemu?"

"Apa? Aku mencintaimu? Aku tidak ingin kau muntah-muntah."

"Baguslah. Membayangkannya saja aku sudah mual."

Tawa mereka melebur menjadi satu, sepenuhnya sudah lupa bahwa dua hari yang lalu mereka saling berteriak dan memukul di depan umum. "Seseorang bilang kau teman yang baik, Jung Hoseok."

"Dan tentu saja seseorang itu bukan dirimu."

"Setidaknya aku tidak akan mengatakan ini secara langsung." Namjoon mengedikkan bahu meski tahu lawan bicaranya tidak bisa melihat itu. Ia juga iseng menendangi beberapa kerikil yang dekat dengan langkahnya. "Tapi.. terimakasih, sudah bersedia bekerja bersamaku selama ini, sekaligus menjadi teman yang baik."

"Aish, aku merinding! Pokoknya kesini sekarang dan kutantang untuk mengatakan semua itu di hadapanku."

"Brengsek, aku sudah bilang tak akan mengatakannya secara langsung!"

"Peduli setan!"

Panggilan terputus oleh pihak Jung Hoseok, menyisakan cengiran lebar Namjoon yang entah kenapa merasa memenangi apapun itu nama kompetisi yang barusan mereka lakukan lewat sambungan telepon. Bisa ia bayangkan seorang Jung Hoseok yang sedang menyeka airmata harunya seperti saat pertama kali Namjoon mendapat penghargaan Penyanyi Rap Terbaik dua tahun lalu. Ah, persahabatan memang selalu baik.

Suara klakson mobil terdengar nyaring dari arah parkiran sana, Namjoon pun menoleh dan menemukan Toyota Rush hitam milik Seokjin masih terparkir di titik yang sama lengkap dengan sang pengemudi yang sedang menatapnya lewat kaca mobil yang diturunkan. Namjoon tetap diam di tempatnya, sementara Seokjin melajukan mobil untuk menghampirinya. Sang rapper dibuat sibuk berpikir berbagai kemungkinan alasan bagi Seokjin masih berada disini setelah perpisahan yang sangat tidak ramah tadi. Sampai mobil itu tiba di hadapannya pun Namjoon belum menemukan jawaban yang tepat, jadi ia putuskan bertanya langsung pada sang objek.

"Kenapa masih disini?"

"Pertama, jadwal pemotretan soreku dibatalkan karena istri dari si fotografer mendadak melahirkan. Kedua, aku merasa bertanggungjawab mengantarmu pulang karena aku tahu bus umum bagi orang-orang seperti kita adalah neraka. Ketiga, maaf soal ucapanku tadi yang mungkin melanggar privasimu. Keempat, jangan bertanya apapun lagi, masuk ke mobil, dan aku akan mengantarmu kemanapun kau mau karena setelah ini manajerku bilang aku harus ke salon untuk mengganti warna rambutku."

Wow. Namjoon tak pernah menyangka Seokjin punya kemampuan rap di atas rata-rata setelah mengucapkan semua kata tersebut hanya dalam hitungan detik. Walaupun sesudahnya Seokjin bernapas seperti orang yang tidak pernah mengenal udara sebelumnya. Well, itu cute, umm.. maksudnya lucu, apalagi dengan wajah yang memerah sampai ke telinga.

Namjoon sengaja memberi waktu Seokjin untuk mengatur pernapasannya dan baru mulai bicara setelah Seokjin terlihat lebih tenang.

"Uuuhhh.. Jung Hoseok menelepon." Ia mengangkat ponselnya dan menggerak-gerakannya sebagai gesture tambahan, "Dan kami akan bertemu."

Untuk beberapa saat Seokjin terlihat hanya membuka-tutup mulutnya, seolah sedang menunjukkan proses otaknya memilah-milih kata. Namjoon menunggu lagi. Sampai akhirnya Seokjin terlihat menelan ludah sebelum berhasil bersuara, nyaris teriak, "Lalu apalagi yang kau tunggu?! Cepat naik!"

Namjoon mendadak panik, meski beberapa detik kemudian ia justru tertawa keras, berjalan memutar sisi lain mobil untuk naik ke kursi penumpang di samping Seokjin. Di dalam sana ternyata Seokjin juga sedang tertawa. Padahal keduanya sama-sama tidak tahu pasti apa tepatnya hal yang mereka tertawakan. Mereka hanya tahu ada beban yang terlepas bebas bersama tawa yang mengalir.

.

"Sampaikan salamku pada Hoseok."

Namjoon menunda gerakannya melepas sabuk pengaman demi menatap Seokjin penuh curiga lengkap dengan kerutan di kening. "Akrab sekali kedengarannya."

"Berisik. Cepat turun! Aku sudah terlambat!"

Walaupun telinga Seokjin yang mulai memerah lagi menjadi topik bahasan yang menarik, Namjoon menyerah karena tatapan Seokjin bagai siap mengulitinya kapan saja. Baginya mungkin salon memang jauh lebih penting dibanding nyawa manusia seperti Kim Namjoon. "Oke, oke. Selamat menambah rusak rambutmu, Tuan Aktor."

"Terimakasih kembali, hoobae-ya."

"Jadi hubungan kita sekarang sudah ke tahap sunbae-hoobae, hmm?" Kali ini ia telah berhasil melepas sabuk pengamannya, tapi justru kalimat Kim Seokjin berhasil menggeser lagi fokusnya. Namjoon ingin sekali meledek telinga Seokjin yang sekarang merekah merah karena pemiliknya sedang dibuat frustasi oleh rasa malu.

"Kau serius akan membahasnya lagi setelah beberapa detik yang lalu aku bilang aku sudah terlambat?"

"Baiklah baiklah aku turun, sunbae-nim."

Namjoon turun dari mobil. Tapi sebelum menutup pintu, ia kembali bicara, "Serius, terimakasih banyak untuk hari ini, Jin."

Seokjin mendadak gugup ditatap intens oleh Namjoon, keintensitasan yang mampu membuat Seokjin merasakan segala ketulusan yang coba disampaikan oleh pemiliknya. Terlebih nama panggilan di akhir ucapannya. "Yap, sama-sama. Aku hanya ingin menciptakan awal yang baik untuk kerja sama kita nanti."

"Kalau begitu senang bisa bekerja denganmu. Aku janji akan mencoba serius kali ini, bye!"

Namjoon menutup pintu mobil dan lari menjauh karena tidak tahan oleh rasa malu yang mulai menular membakar wajahnya. Entah kapan terakhir kali seseorang membuatnya blushing sendiri seperti ini, Namjoon tak ingin mengingatnya, karena hal itu masuk ke dalam salah satu memori yang menyakitkan untuk sekedar diingat.

Sementara Seokjin di dalam mobil dibuat komat-kamit menggumamkan satu kalimat yang sama.

"Profesional, Seokjin, profesional. Jangan libatkan perasaan apa-apa. Profesional profesional profesional."

.

.

Sampai di pintu depan kafe, Namjoon dikejutkan oleh sosok Hoseok yang mengenakan dandanan ala selebritis menyamarnya berdiri disana dengan dua gelas Americano berukuran besar di kedua tangannya. Ia segera mendekat sesaat pandangannya menemukan Namjoon disana.

"Untukmu." Ia mengulurkan salah satu gelasnya, yang Namjoon terima sambil memasang ekspresi bingung. "Ayo pergi!" Lalu tanpa basa-basi lagi Hoseok melanjutkan langkahnya melewati Namjoon.

"Kemana? Kukira kita akan bicara di dalam?"

"Di dalam membosankan. Aku sedang ingin jalan sehat."

Ingin sekali Namjoon teriakan bagaimana lelahnya tubuh yang sehabis dipakai latihan beladiri sejak pagi. Tapi mendadak ia ingat kalau dirinya berada disana adalah untuk memperbaiki masalah, bukan menambah situasi panas dengan manajernya itu. Bisa Namjoon bayangkan, satu teriakan dan Jung Hoseok pasti akan kembali mengamuk dan mungkin akan tega membalas tinjunya dua hari lalu.

"Kenapa masih disana?!" Lihat kan? Namjoon tak bicara apa-apa saja, emosinya sudah naik begitu. Jadi sambil berdecak jengkel Namjoon membawa langkahnya mengikuti Hoseok yang sudah mulai berjalan lagi.

Sepanjang perjalanan Namjoon menghargai usaha Hoseok dalam hal membuat percakapan terus berjalan, karena mereka sama-sama tahu suasana canggung akan langsung menguasai keheningan yang tercipta. Meskipun beberapa topik jelas sekali dipaksakan, seperti 'Seoul ramai sekali ya?' atau 'Udara yang sejuk untuk berjalan-jalan kan, Namjoon?' dan tugas terberatnya ada di Namjoon yang harus memberi tanggapan dengan seminim mungkin kekakuan. Tapi tetap saja, begitu lebih baik daripada saling diam di dalam mobil.

Atas alasan menyelamatkan kelangsungan percakapan mereka juga, Namjoon jadi menceritakan semua kegiatannya sejak pagi tadi. Memang rasanya sedikit aneh karena biasanya Hoseok selalu menjadi bagian dari aktifitas hariannya, tapi melihat bagaimana antusiasnya Hoseok mendengarkan, ia jadi semangat melanjutkan. Sayangnya, otak milik Jung Hoseok yang sepertinya lebih kecil dari milik orang lain, hanya mampu menggarisbawahi bagian 'Kim Seokjin mengantar jemput Rap Monster'.

"Aku masih tidak percaya Kim Seokjin melakukan semua itu padamu." Untuk kesekian kalinya bahasan mereka mengarah kesana, bahkan setelah mereka tiba di taman Ttukseom, menyusuri jalan setapak ditemani sisa-sisa kehangatan matahari yang mulai tenggelam.

Namjoon menyeruput es kopinya yang sudah tidak dingin, sebelum menjawab hal yang sama untuk kesekian kali juga, "Aku sendiri juga tidak percaya, Hoseok, tapi itu kenyataannya."

"Hmm.. mungkin akan kutanyakan nanti dengan Sungwon hyung."

"Siapa Sungwon?"

"Manajernya Kim Seokjin."

"Apa salah satu hobi para manajer adalah menggosipkan artisnya?!"

"Tepatnya hobi utama kami." Ia memberikan kerlingan mata di akhir untuk melengkapi sikap menyebalkannya di mata Namjoon.

Sampai disini kesabaran Namjoon terus diuji, berusaha lebih keras lagi menahan tangannya yang gatal agar tidak melayang ke kepala manajernya seperti biasa. Sementara Jung Hoseok, yang tahu telah berhasil memancing kekesalan artisnya, memasang cengiran lebar sejuta watt andalannya.

"Jung Hoseok yang kukenal punya hobi menari bukan menggosip."

Dalam sekejap senyuma Hoseok menghilang begitu saja, "Bagus sekali, Namjoon, bagus." Katanya, mengandung sarkasme yang kental hingga orang paling tidak peka sedunia seperti Namjoon pun akan segera menyadari kesalahannya.

"Hoseok-ah, maaf. Bukan maksudku.."

"Aha! Siapa kau?! Kim Namjoon yang kukenal tidak mengucapkan maaf semudah itu!"

Namjoon tak mengerti bagaimana orang-orang seperti Kim Seokjin dan Jung Hoseok mampu merubah suasana di sekitar mereka bagai jalannya rollercoster, atau memang salah Namjoon sendiri yang begitu mudah terbawa suasana sekeras apapun ia berusaha tidak peduli dan mengabaikannya.

"Kau pikir itu lucu?"

"Lupakan! Ayo duduk disana!" Lalu Hoseok menarik tangan Namjoon tanpa peduli lagi reaksi sang pemilik. Mereka menuju salah satu bangku taman yang tersedia di sepanjang jalan setapak yang mereka lalui.

Beberapa menit mereka lewati dengan saling diam, tak ada lagi usaha Hoseok untuk membuat percakapan terus berjalan. Mereka memanfaatkan waktu untuk menyesap habis isi gelas kopi mereka masing-masing. Tempat duduk mereka sekarang menghadap langsung pada aliran Sungai Han yang warnanya semakin cantik karena membias sisa-sisa cahaya matahari di atasnya. Namjoon suka Ttukseom yang seperti ini, tenang dan tak merepotkan seperti bagian-bagian dunia yang lain.

Hoseok menghabiskan isi gelas kopinya lebih dulu, Namjoon menyusul, yang gelas plastik kosongnya segera dirampas Hoseok untuk dibuang ke tempat sampah terdekat. Saat itu Namjoon merasa kalau sudah saatnya mereka bicara ke tahap yang lebih serius dan profesional. Sebelum kembali duduk, Hoseok menyempatkan diri membuka isi tas ranselnya, lalu menarik keluar sebuah amplop coklat dari sana untuk diulurkan kepada temannya.

"Apa ini?" Namjoon memperhatikan amplop di tangannya dengan seksama, mencoba menerawang isi di dalamnya sehingga ia tak perlu repot membukanya.

Sementara Hoseok yang telah kembali duduk di tempatnya menjawab ringan, "Aku bertemu Eunjung-ssi tadi siang. Dia mau kau menandatangani surat keputusan itu."

"Apa agensi tahu soal ini?!"

Hoseok menoleh, bukan karena terkejut oleh nada tinggi yang dipakai Kim Namjoon, lebih kepada ingin menatap langsung mata temannya untuk memastikan mereka saling mengerti melebihi kata-kata yang ada. "Tidak. Bahkan mereka tidak tahu aku bertemu dengannya."

"Kau gila, Hoseok."

"Namjoonah, aku tidak akan ikut campur lagi urusanmu, aku juga tidak akan menilai hasil keputusanmu. Tanda tangani ini dan berikan padaku besok malam dalam amplop yang tersegel, akan segera kusampaikan pada Eunjung-ssi."

Sang lawan bicara mendadak tidak tahu lagi harus seperti apa menanggapinya. Dia hanya diam, memperhatikan Hoseok yang tatapannya lebih banyak bicara dibanding mulutnya. Sebenarnya Namjoon benci memercayai hal-hal di luar nalar seperti telepati dan semacamnya, tapi menatap Hoseok bicara sekarang ini cukup membantu Namjoon mengerti sebuah ketulusan seseorang yang menginginkan hal terbaik untuk temannya.

"Kita berdua sama-sama pernah merasakan bagaimana menyakitkannya rasa penyesalan itu kan?" Hoseok melepas kontak mata mereka lebih dulu, membiarkan Namjoon terikat dengan pikirannya sendiri yang mendadak sibuk memutar ingatan masa lalu. "Ayo berharap hal tersebut tidak akan pernah kita rasakan lagi nantinya."

Jujur saja jika diberi pilihan, Namjoon akan memilih cara Hoseok memaksa untuk menuruti ucapannya dibanding lewat kata-kata sederhana bernada penuh unsur positif yang barusan terlontar lancar, karena baginya Hoseok yang seperti ini hanya menegaskan bahwa dia benar dan Namjoon yang salah.

.

.

.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

.

.

.


Kabar baik buat kalian, sekaligus kabar buruk buatku sebagai author haha. Aku putusin bakal masukin satu dua adegan drama mereka disini sebagai side story yang entah mau ditaruh di awal setiap chapter kaya Second atau di akhir chapter? (atau mau jadi ff baru dengan judul baru?) dan ACT disini akan berisi segala hal di balik layar serta permasalahan pribadi orang-orang yang terlibat dalam drama tersebut. So, menulis ini akan jauh lebih sulit dibanding Second, aku tunggu feedback yang baik dari kalian di kotak review~

P.s: Taehyung dan Jungkook akan muncul di chapter depan :')