Changmin pindah ke Seoul bersama keluarganya. Jeun hee merasa kehilangan. Baginya sulit mendapat teman sebaik Changmin dan sekocak dia. Dia melewati liburan sekolah hanya bersama keluarganya. Tentu tidak semenyenangkan saat ada Changmin. Dia hanya perlu menyesuaikan diri. Changmin juga sering menelponenya, atau berinteraksi di media sosial. Mereka juga masih bisa main game bersama lewat game online, tentu tidak seseru saat bertatap langsung.

Jeun hee masuk senior high school tanpa tes masuk. Melewati tahun pertamanya dengan tenang dan mengikuti ekskul musik. Dia menyukai bernyanyi. Sesuatu yang sangat dia sukai sejak dulu, namun tidak punya kesempatan untuk menjalaninya. Changmin mengetahui hal itu, dan dia sangat mendukung. Di ekskul musik dia mendapatkan banyak teman dan guru yang baik. Tapi tidak ada yang bisa diajak bermain game seperti Changmin. Kadang dia mengeluhkan kenapa Changmin harus pindah. Tapi Jonghyun hyung bilang, mereka akan ke Seoul jika ada kesempatan.

Jeun hee hanya tidak suka sendiri. jonghyun hyung sibuk mengurus skripsi. Sering melakukan riset dan sibuk pulang pergi. Terkadang tidak pulang dan membuat Jeun hee benar-benar kesepian. Hanya ada oemma setiap membuka mata. Bukan dia tidak suka, tapi dia merasa sangat kesepian. Appa juga sedang sibuk-sibuknya mengurus sesuatu. Jeun hee tidak suka tentang itu karena berhubungan dengan Seoul. Appa pernah bilang bisnisnya akan dikembangkan di Seoul. Itu yang dia lakukan sekarang. Pulang pergi Seoul.

Paginya terusik oleh seorang pengganggu yang dengan seenaknya menarik selimut yang menghangatkannya. Dia mengerang protes. Namun si pengganggu tidak bertoleransi. Dengan semangat si pengganggu menyingkap gorden besar yang menghalangi ruangan dari sinar matahari. Dia mengerang lebih keras merasakan ruangan kini jadi terang.

"Tutup lagi gordennya!"

"Ayo pemalas, bangun!" perintah si pengganggu dan menepuk keras bokongnya. Mendapat perlakuan sepert itu dia membuka mata lebar dan berteriak. Tapi si pengganggu justru tertawa ngakak.

"HYUNG!" teriaknya. Dengan kesal dia menarik selimut kembali menutupi tubuhnya hingga ke kepala.

"YA! Jeun Hee, jangan tidur lagi!" teriak si pengganggu langsung menerjang si pemalas yang bernama Jeun Hee. Mencoba membangunkannya dengan hal ekstrim. Menggelitik atau memaksa menegakkan tubuhnya. Tapi Jeun Hee tidak bergeming.

"Aku masih ngantuk, Jong hyung! Pergi, jangan ganggu aku!"

"Tidak bisa! Ayo bangun, bantu hyung masak!"

"Aigooo! Aku ini bukan perempuan hyung! Kau juga tahu aku tidak pandai masak! Kau ingin dapur oemma terbakar?!"

Kakaknya menghela nafas. Dia tahu adiknya tidak bisa memasak. Tahu betul malah. Jeun Hee sangat payah di bidang itu. Tapi harusnya Jeun Hee juga tahu bukan bantuan seperti itu yang dia maksud. Namun sepertinya percuma membangunkan Jeun Hee yang memang akan bangun sangat siang di hari minggu. Itu sudah jadi kebiasaan sejak dia masih menjadi Kyuhyun katanya. Lalu sebuah ide melintas di kepalanya. Jonghyun tidak lagi mengusik Jeun Hee. Sebaliknya dia mengambil sesuatu berwarna hitam diatas nakas dan berjalan menuju pintu. Sampai di ambang pintu dia berkata dengan lembut.

"Baiklah, teruskan tidurmu. Hyung akan masak untukmu. Menunya…" jonghyun sengaja memberi jeda. "PSP PANGGANG!"

Secepat lari Jonghyun setelah meneriakkan menu yang akan dia masak, secepat itu pula Jeun Hee membuka mata dan duduk.

"ANDWEEEEEEE!"

Setelah 15 menit teriak-teriak gaje, disinilah dia berada. Duduk di konter dapur, memeluk pspnya dengan posesif dan menghadiahi tatapan membunuh pada kakaknya. Sangat menggemaskan bagi Jonghyun. Menahan tawa, Jonghyun membuat coklat hangat. Setelah selesai minuman itu di letakkan di depan Jeun Hee.

Dengan wajah geli dia menggoda Jeun Hee. "Aigooo uri Jeun Hee jangan pasang wajah seperti itu. Nanti ada yang ingin memakanu, lho."

Hal itu membuat Jeun Hee berjengit dan semakin mengeratkan pelukanya pada PSP. Dia menatap horror pada sang hyung yang mulai tertawa. "HYUNG!" teriaknya kesal bukan main karena dikerjai. Dia memanyunkan bibir dan menggembungkan pipi. Jonghyun semakin gemas dan mencubit pipinya.

"Uri Jeun Hee kan manis, jangan ngambek terus, dong."

Jeun Hee mengelus pipinya yang dicubit.

"Habiskan coklatmu. Lalu gosok gigi dan cuci muka." intruksi Jonghyun selanjutnya.

"Nanti saja." Jeun hee meminum coklatnya dengan tangan kanan dan tangan kirinya masih memeluk PSP. Jonghyun terkekeh. Dia berbalik dan mengenakan apron dapur. Menyiapkan bahan yang akan dimasak dari kulkas. Kulkasnya penuh berkat oemma yang sudah berjaga-jaga sebelum beliau pergi dengan appa ke Seoul selama dua hari. Sedangkan yang dilakukan Jeun Hee hanya duduk dikonter dapur. Memperhatikan hyungnya memasak, atau kalau bosan bermain PSP sambil menghabiskan coklat hangat nya. Inilah yang dimaksud Jonghyun dengan 'membantu memasak'. Keberadaan Jeun Hee disana merupakan motivasi untuknya.

"Skripsi hyung sudah selesai?" tanya Jeun hee.

"Sudah. Tinggal menunggu hasilnya."

"Awas kalau hyung sampai tidak wisuda tahun ini!" ancam Jeun hee. Jonghyun tertawa.

"Oemma kapan pulang?"

"Kangen, ne?"

Jeun hee mengangguk. "Hem."

"Besok siang mereka sudah akan ada di rumah."

"Jinja?!"

"Nde."

"YEEEEI! Appa dan oemma pulang besok!"

Jonghyun menoleh ke Jeun hee, tertawa. "Aigooo berapa usiamu? Bertingkah seperti anak kecil."

"yang jelas aku lebih muda darimu, hyung!" balas Jeun hee menjulurkan lidah.

"Ke Seoul?!"

Jeun Hee menjatuhkan stik gamenya mendengar teriakan Jonghyun. Dia meninggalkan permainan dan pergi ke ruang depan. Disana ada Jonghyun dan kedua orang tuanya.

"Appa ini mendadak." Jonghyun memelas menatap kedua orang tua itu.

"Semua kepindahan sudah siap chagi." oemma yang bicara. "Kita sudah membicarakan ini, bukan? Kaliyan sudah setuju."

Jeun Hee duduk disebelah Jonghyun. Jonghyun menatapnya sejenak. "Kita akan pindah ke Seoul."

Jeun Hee terkejut dan hanya terdiam beberapa saat. Mereka menunggu reaksinya. Harusnya ini tidak jadi kejutan lagi. Sudah lama dia diberitahu kemungkinan untuk pindah ke Seoul karena perusahaan appa Lee sudah mulai dikembangkan di kota besar itu. Tapi tidak disangka sekaranglah waktunya.

"Apa tidak sebaiknya menunggu Jeun Hee selesai ujian?" Jonghyun mencoba menawar setelah lama Jeun Hee tidak mengatakan apapun.

"Tidak apa-apa jika kaliyan menyusul setelah ujian Jeun berakhir." kata appa menengahi. Dia juga memikirkan perasaan Jeun Hee yang akan kembali ke kota kelahirannya. Kota dimana dia meninggalkan semua kenangannya. "Kau bisa melanjutkan tahun keduamu disana, Jeun. Changmin sudah berada disana lebih dulu."

"aku akan berangkat bersama,"

Jonghyun menatap Jeun Hee tidak percaya. Dia mengatakan ingin berangkat bersama? "Tapi Jeun ujian hanya beberapa minggu lagi. Tidak apa kau menyelesaikan ujianmu dulu disini." Jonghyun mencoba membujuk. Lagipula tidak enak pindah disaat ujian semester akan berlangsung. Jeun hee sudah dikelas XI sekarang, dan akan segera melewati semester pertamanya. Sedangkan Jonghyun sudah selesai di wisuda dan langsung terjun ke perusahaan sang appa.

"Hyung akan kesulitan jika bertahan disini karenaku. Hyung orang baru di perusahaan, masih banyak yang harus kau pelajari. Tidak apa, kita akan pergi bersama-sama. Asal bersama kaliyan, aku akan baik-baik saja."

"Mianhe Jeun Hee,"

"Gweanchana appa. Sudah hampir tiga tahun, kurasa mereka juga sudah melupakan aku." Jeun Hee tidak bisa egois lagi. Bagi appa mengembangkan bisnis di Seoul adalah kesempatan baik. Mereka sudah menundanya tahun kemarin. Kali ini dia harus siap dengan semua kemungkinan.

Kedua mata itu terbuka dan bergerak dengan nyalang. Memimpikan masa lalu yang sangat menyakitkan membuatnya ketakutan hingga mencengkeram selimut biru yang menutupi tubuhnya. Dia meneguk ludahnya, terasa sakit. Ini seperti malam itu. Terbangun tengah malam dengan penuh keringat dan mulut kering. Dia memejamkan mata erat begitu merasa sakit di kepalanya.

"Minum Jeun,"

Jeun Hee membuka mata dan terlihat olehnya Jonghyun berdiri di sebelah ranjang , mengangsurkan segelas air putih. Jeun hee mengerjapkan mata. Jonghyun menatapnya khawatir. Dia meletakkan gelas dan membantu Jeun Hee duduk. Dia sendiri duduk di tepi ranjang, mengambil gelas dan meminumkannya pada adiknya.

"Kenapa tengah malam kesini?" tanya Jeun Hee setelah merasakan lega di kerongkongannya.

Jonghyun mengusap peluh di kening adiknya. Dia tersenyum melihat Jeun Hee menunggu jawaban. "Firasat."

Jeun Hee mengernyit tidak puas dengan jawabannya.

"Tidurlah kembali. Jangan memikirkan hal tidak penting seperti itu." Jonghyun hendak beranjak, tapi ditahan oleh adiknya.

"Sudah ada disini, temani aku tidur hyung." pinta Jeun Hee.

Jonghyun tersenyum. Dia segera melompat naik dan masuk ke selimut. Jeun Hee merebah, merapat pada kakaknya yang kemudian memeluknya. "Mimpi buruk menjauhlah, adik hyung yang tampan ini mau tidur. Jangan ganggu, pergi yang jauh."

Jeun hee terkekeh kecil mendengar mantra sang kakak yang cukup ampuh. Dia memejamkan mata segera. Tahu pasti mimpi buruknya tidak akan datang dan dia terlindungi oleh rengkuhan sang kakak. Dia akan tidur nyenyak dan bangun dengan tubuh segar bugar.

Jonghyun mengecup pucuk kepala adiknya. "Jaljayo nae dongsaeng," lirihnya kemudian ikut memejamkan mata.

Tbc-