HUNjustforHAN

Presents

.

.

.

.

.

.

.

BLACK PIANO

.

Chapter 7

.

.

.

.

.

.

.

Jika penyesalan bisa menebus sebuah akhir

Aku akan bersujud di kakimu

Meletakkan hatiku dalam genggamanmu dan kamu boleh meremasnya

Lalu aku hancur dalam kesedihanmu

Larut dalam memorimu

Setidaknya,

Kehancuranku leleh melalui celah jarimu

.

.

.

.

.

.

.

Bukan tanpa sebab Baekhyun meletakkan nama Letisha sebagai makhluk yang harus diperlakukannya secara menyebalkan, dia punya alasan. Meskipun alasannya sedikit kekanakkan, Baekhyun tidak peduli.

Kejadiannya beberapa bulan lalu, ketika dia dan Chanyeol mengunjungi apartemen Sehun kemudian bertemu Letisha yang keluar kamar hanya menggunakan bathrobe. Rambutnya setengah kering dengan aura pucat yang menggoda. Baekhyun awalnya tidak masalah meskipun dia harus mencubit pinggang Chanyeol sampai biru karena lelakinya tertangkap basah menelan ludah secara kasar.

Empat hari. Sehun memaksa Baekhyun –atau hanya sekadar basa basi-menginap diapartemennya selama empat hari dan selama itu pula Letisha berada disana. Menempeli Sehun seperti anak ayam membuntuti ekor induknya. Baekhyun risih, kata kasarnya dengki. Dia dan Chanyeol tidak punya banyak waktu untuk saling menempeli seperti itu. Hanya di hari-hari libur, atau dihari-hari terdesak ketika mereka berdua tidak tahan lagi terhadap hormon manusiawinya.

Ketenaran Baekhyun tidak mengizinkan mereka berciuman di depan pintu mobil dan Chanyeol sangat peduli terhadap profesi pacarnya.

Malam terkutuk tiba. Ketika mereka berempat bersila di ruang tengah apartemen Sehun dengan kaleng-kaleng bir jatuh berguling-guling dan tiga kotak pizza. Potongan pizza Chanyeol yang tinggal setengah jatuh di atas meja, cukup untuk menunjukkan bahwa kesadarannya mulai dipertaruhkan. Baekhyun melirik jorok sebelum mengambil tissu, membersihkan apa yang sudah pacarnya produksi. Sebuah kotoran keju yang mulai membeku dan potongan-potongan daging tipis.

Dua makhluk lainnya tidak kalah buruk dari Chanyeol. Bahkan kepala Sehun sudah menelungkup, sepenuhnya kehilangan dunia.

Sedangkan Baekhyun, sorry, alkohol membuat tenggorokannya perih, paru-paru terbakar dan dia sangat tidak suka bangun pagi langsung menghadap lubang closet untuk memuntahkan ususnya. Sangat jorok, tidak etis. Menjijikkan. Baekhyun hanya mengkonsumsi air mineral, Chanyeol sudah membelikannya dua botol.

Dia pergi mencari toilet beberapa menit kemudian. Sebentar lagi jam tidur, Baekhyun akan tidur nyenyak kalau wajahnya bersih. Namun malam itu untuk pertama kalinya Baekhyun menyesal mencuci wajahnya, karena ketika dia kembali dengan senyum mengembang untuk sebuah pemikiran bagus tentang meminjam satu kamar Sehun bersama Chanyeol mabuk yang seksi, Baekhyun harus menjerit dan mengumpati seluruh hasratnya yang hangus.

Si keparat Chanyeol sedang bermain bibir dengan wanita iblis itu, Letisha. Ciuman mereka berhasil membuat Baekhyun terkapar di atas kakinya yang berdiri. Panas sekali disini!

Teriakan Baekhyun cukup keras, bahkan Baekhyun yakin itu teriakan terkeras yang pernah kerongkongannya hasilkan. Lalu ketika dia menjambak rambut Chanyeol hingga terlentang di lantai, laki-laki itu malah tidur, tidak, tapi pingsan, mabuk, entahlah, atau mati ? Dan hal paling menyebalkan berikutnya adalah ketika Chanyeol tidak mengingat apa-apa di esok paginya, sedikitpun. Oh Tuhan, itu suram!

Mungkin dia sengaja. Ataupun menyengajakannya. Sial!

Dan terkutuklah wanita bernama Letisha karena dia memproduksi penyakit demensia yang sama.

.

.

.

.

.

"Tidak, Fan. Aku tidak akan menerimanya."

"Luhan. Ini hak-mu."

"Tolong, bisakah hargai aku sebagai manusia yang punya rasa malu?"

Yifan menghela napas, melirik gusar pada amplop coklat yang meringkuk di atas meja setelah menerima penolakan dari gadis itu. Dia tidak mengerti, sama sekali tidak. Luhan membutuhkan uang, lalu kenapa dia harus menggunakan otak batunya sekarang.

"Dengar, Luhan. Aku menghargaimu, sangat. Tapi apa masalahnya dengan menerima kebaikan hati orang lain?"

Kau tidak mengerti, Yifan. Tutup mulutmu!

"Memangnya semulia apa hati orang itu? Mengapa harus memberiku dua kali lipat dari perjanjian sedangkan aku sudah menghasilkan lagu yang berantakan? Apa kondisiku membuat hatinya pilu? Kasihan? Mengiba? Oh, sungguh mulianya dia. Kenapa tidak sekalian memintanya memberiku dua bola mata bangkai kucing ?"

"Pikiranmu terlalu melebih-lebihkan. Dia tidak bermaksud demikian, aku yakin. Mungkin hanya efek kebahagiaan dari lamarannya yang positif."

Luhan tersangkut pada antusiasnya menyerang Yifan. Dadanya penuh oleh sesuatu yang mendongkolkan dan itu membuatnya ingin menangis. Dia menginginkan sebuah tanda negatif dalam saku celananya dan mengalikannya dengan hasil lamaran pemuda itu.

Mereka tidak boleh positif. Luhan tidak mengerti kenapa.

Pikiran jahat menyelubungi hatinya untuk seseorang yang membuatnya tersiksa tanpa alasan yang logis.

"Ah," dia mendesah, menggigit bibir. "Lamarannya diterima ? dan itu… atas bantuanku ?"

Terima kasih, Tuhan.

Kalimat ini membuat Luhan ingin meraung, meringkuk dalam selimut dan mati. Hati kecilnya bersikeras menolak. Apa yang sesungguhnya terjadi ?

.

.

.

.

Dia diam lagi.

Diri dalam Sehun berteriak nyaring bahwa dia tidak menyukai sisi Luhan yang sunyi, matanya yang lemah dan bibirnya yang pasif. Seperti kupu-kupu yang kepatahan sayap, Luhan terperangkap dalam negara kepulauan yang terisolasi dan hampa.

Stir mobil di pegangan Sehun minggir ke kanan. Setelah memastikan rem tangan berfungsi dengan baik, Sehun memperhatikan gadis disampingnya. Redup dan nyaris putus asa.

Luhan mengerjab beberapa kali sebelum membuang napas. Mungkin dia tau bahwa Leo- Sehun, tidak menyukai sensasi senyap mengerikan seperti apa yang sedang mereka serap sekarang. Luhan menciptakan suasana itu lewat muram wajahnya.

"Kenapa berhenti ?" pertanyaan Luhan keluar, sedikit tersendat dan terdengar jelek. Luhan sempat bergidik kecil saat kedua bahunya di pegang. Apa ini berarti Sehun sedang bertanya? Bertanya apa? Gunakan pita suaramu, tolong. "Kau khawatir? Apa aku benar?"

Tangan kanannya dijalari, jawaban 'Ya'.

Sepantasnyakah Sehun merasa khawatir ?

Meskipun sedikit terpaksa, Luhan mengulaskan sebuah senyuman. Tidak ada kebahagiaan berlebih dibalik senyumannya, Sehun tau. Bibir Luhan berdenyut. Dia terpaksa, sungguh jelas.

"Aku tidak apa-apa. Jumlah mataku masih dua, telingaku masih bisa mendengar dan mulutku masih bisa mengeluarkan kalimat-kalimat tolol. Lalu apa yang membuatmu khawatir? Jenis kelaminku? Aku masih perempuan, Leo. Tenang saja."

Tawa Luhan mengeluarkan nada yang asik, Sehun tidak bisa menahan sudut bibirnya untuk berhenti melengkung ke atas. Dia tidak peduli lagi pada gravitasi yang menarik ujung kakinya ke bawah. Melihat Luhan dihadapannya, menjemput dan mengantarkan gadis itu pulang ke rumah, ini seperti musim semi yang tiba di bulan November.

Tapi bukan semi seperti ini yang diharapkan para bunga. Tidak di akhir November kemudian disambut keluh kesah Desember yang terlalu cepat muncul. Karena Sehun terlalu mengenal ekspresi Luhan dengan sangat sempurna. Gadis itu murung, seketika.

"Aku berbohong," katanya kemudian menunduk, mata Luhan perih. Wajahnya terlalu getir untuk ditengadahkan. Tebakan Sehun sudah benar dari pertama. "Aku menyanyikan sebuah lagu rindu di atas piano hitamku untuk mengiringi sebuah lamaran," Luhan terdiam lama, tangannya mengepal di ujung dress magenta selututnya, membentuk garis-garis kusut yang membuat Sehun cemas. "Tapi laguku berantakan, aku mengacaukan acaranya. Lalu Yifan memanggilku keruangannya untuk memberikan bayaran dua kali lipat. Kau pikir itu masuk akal? Apa orang itu sedang pamer akan kemuliaan hatinya? Seharusnya dia tidak begitu."

Luhan tersengal, emosi di ujung hidungnya menandakan sesuatu. Sehun hanya mengamati. Apa yang bisa dia lakukan ketika orang yang dimaksud Luhan adalah dirinya?

Luhan melanjutkan, masih dengan lidah terburu-buru. "Aku tersinggung, Leo. Aku sungguh tersinggung. Dia tidak membayarku untuk lagu yang kumainkan, tapi dia membayarku atas rasa ibanya terhadap seorang gadis cacat yang malang, yang buta dan tidak bergairah hidup."

Tidak! Bukan begitu maksudku! Kau salah Luhan, Kau salah!

"Jika kau menjadi orang itu, Leo. Jangan pernah melakukannya. Jangan membayar kebutaanku, dan jangan membayar harga diriku. Karena aku merasa diludahi, ditelanjangi dan dipertontonkan untuk dijadikan bahan lelucon. Aku malu, sungguh."

Maaf..

Bagaimana caranya Sehun mengatakan kata maaf yang sudah menggumpal memenuhi lehernya?

Dia terus berpikir, berpikir dan berpikir sampai otaknya menyerah. Namun disisi lain dewa batin Sehun berteriak keras bahwa ini terlalu cepat untuk mengibarkan bendera putih. Sehun berperang melawan batin dan opininya lagi, nyaris kembali buyar sebelum dia mematahkan segalanya dengan merengkuh kepala Luhan membentur dadanya. Menyampaikan kata-kata yang tak mampu terucap dan ribuan maaf yang tak sanggup terlantun.

Aku bersalah. Maafkan aku.

Sehun menghirup aroma Luhan, seolah memberikan sepasang paru-paru baru baginya. Seperti udara baru saja keluar dari pohon. Harum stoberi dari lebat rambut hitamnya menguar mengisi kerinduan. Hati Sehun yang penat, Luhan adalah obatnya. Tolong berikan Oh Sehun obat yang banyak.

Namun ketika bahu gadis itu bergetar dalam pelukannya, juga gelisah tangan Luhan meremas kemeja dibalik punggungnya, Sehun meresapi kesedihan Luhan. Mempersembahkan jantungnya, Sehun benar-benar menghantarkan sebuah permintaan maaf.

Dia hanya berpikir untuk membuat Luhan senang, mungkin dengan mengisi amplop coklat itu dua kali lipat, karena dia kira itu yang paling dibutuhkan Luhan. Tapi ternyata caranya salah. Luhan merasa terlecehkan dengan uang yang Sehun tawarkan secara cuma-cuma.

Mungkin benar. Pantas Luhan terluka jikalau gadis itu tau bahwa dia dibayar untuk sebuah lagu atas lamaran kekasihnya sendiri, meskipun beribu kali lipat, tidak akan pernah cukup membayar kesalahan Sehun.

"Pelukan ini," Luhan bersuara setelah mengecilkan tangisnya, sedangkan Sehun mengusap punggung belakang gadis itu dengan sabar. "Kenapa terasa seperti sebuah permintaan maaf bagiku? Apa yang telah kau lakukan, Leo?"

Sehun tidak menanggapi, dia tidak punya sedikitpun argumen untuk menentang pendapat Luhan, yang dilakukannya hanyalah mengeratkan pelukannya pada Luhan. Bersyukur ketika gadisnya memperbolehkan.

Gadisnya..

"Aku selalu memaafkanmu. Apapun yang kau lakukan."

Apa kau mengerti bahwa akulah yang sedang memohon permintaan maaf itu?Oh Sehun. Bukan orang lain.

Sehun menarik diri, matanya jatuh pada tetes-tetes basah di wajah Luhan sedangkan tangannya berayun pada kedua rahang Luhan yang lemah.

Bibir mungil merah ranum milik Luhan, pipi kelopak mawarnya yang indah, juga dagu lancipnya yang tirus, semua ini membuat gejolak pertahanan diri Sehun meledak.

Ketika dia mendekatkan diri, berbicara lewat napasnya yang sampai pada wajah Luhan dengan kehangatan yang lembut, Sehun tau Luhan tersengat. Tangan Sehun berpindah menuju dua bahu Luhan, bertanya,

boleh atau tidak? Bibir kita ….

Kelopak mata Luhan yang menakjubkan bergerak dua kali, otot disekitar mulutnya berkedut memohon untuk melarikan diri sedangkan wanita itu nampak kebingungan. Pipinya memerah, terlihat sangat cantik.

"Apa yang kau inginkan, Leo ?"

Sehun menjawab dengan satu hembusan napas lagi di wajah Luhan, menyampaikan pesan.

Aku menginginkanmu, disini, dibibirku. Dan ini aku, Oh Sehun… Lelaki yang setengah mati menelan rindu…

Pikiran Luhan terlalu banyak pertimbangan sementara Sehun mengerang akan kerinduannya yang menggila. Ketika Luhan masih bimbang akan segala jawabannya, Sehun tidak memerlukan itu lagi. Dia lepas. Bibirnya menyapu Luhan dalam sebuah ciuman yang alami, berpedoman pada kepercayaan dan cinta yang bercampur aduk.

Lembab dan penuh rindu, di bibir Luhan. Berharap Luhan dapat menangkap sinyal permintaan maafnya lewat ciuman yang mereka geluti.

Detik berhenti, begitu pula langit.

Sehun merasa meriang diseluruh tubuhnya namun berhasil membuatnya menikmati setiap penatnya. Bibir Luhan terasa hangat sedangkan bibir Sehun terlalu dingin. Pembuluh darah Sehun bersorak kencang ketika bibir Luhan menyambutnya dengan ramah. Kenyal ciuman ini menghalau Sehun untuk meloncatkan diri pada jurang dengan senang hati, menikmatinya terlalu semangat sampai Luhan memberi peringatan lewat dorongan kecil di dadanya.

Tolong, aku butuh napas.

Gadis itu terengah dan Sehun sangat suka melihat Luhan dalam kondisi menyerah dengan bibir lembab luar biasa. Sehun mengulaskan sebuah senyuman menyadari Luhan memerintah bola matanya ke bawah dengan gerakan malu yang mengagumkan.

Dia tetap Luhan. Yang bersemu setelah ciuman.

Ada satu butir kecanggungan saat mereka menggigit bibir masing-masing setelah ciuman berakhir. Luhan merasakan dadanya bergemuruh antara rasa riang gempita dan …. Sedih, tersayat? Tapi dia tidak menyesal secuil pun.

Bibir Leo terasa familiar, mengganggu Luhan, menyiksa inderanya. Tapi ini adalah bentuk sentuhan yang sangat dia rindukan dengan seluruh ketulusan batinnya.

"H-hampir tengah malam." Oh buruk, Luhan tergagap karena sebuah ciuman. "Kau jelas tau bagaimana cara Kyungsoo memanfaatkan mulut cantiknya mengumpat dengan sangat ahli. Karena itu… karena itu kita harus berada di rumah sebelum dia mengacungkan pedang di depan pintu. Kau mau perutku bocor ?"

Kalimat tanya yang membuat Sehun tersenyum, lagi.

Tentu saja tidak.

Kesedihan Luhan seolah hanya sebuah peribahasa lama yang maknanya telah ditelan masa ketika Sehun memberikan jawabannya di tangan kiri, 'Tidak', menautkan jemari mereka secara terus terang dan menjadi alasan perjalanan itu sangat mendamaikan.

Ketika Sehun bisa merasakan jemari gugup Luhan terselip diantara miliknya, keajaiban yang selalu dimimpikan menari diantara bintang-bintang.

.

.

.

.

"Kau manusia atau kambing ? Aku bisa memotong rumput dihalaman untuk memberimu makan."

Baekhyun meletakkan sumpitnya, sedikit nyaring ditepi piring keramik putih berisi tumpukan selada, mentimun, tomat dan mayonaise. Dagunya terangkat pongah, lengkungan eyelinernya cukup membantu menguliti Junhyung yang duduk diseberang.

"Lelaki seribu tahun sebelum masehi sepertimu tidak akan pernah tau betapa nerakanya seorang wanita mendapati berat badannya naik dua kilogram dalam seminggu. Jadi diam saja dan berkati uban dikepalamu."

"Byun Baekhyun, kau itu kampungan sekali ya. Warna rambutku silver, bukan uban seperti yang mulut kampunganmu katakan. Ini yang dinamakan style!"

"Oh, ya? Mungkin kau benar. Aku pernah melihat warna rambutmu di acara pemakaman nenek," Baekhyun mencebik jijik, "Sangat mirip seperti abu orang mati. Death style?"

"Sialan!"

Ting…. Ting….

Dua ketukan sendok dari Sehun menarik dua kepala menunduk lalu mengambil

sumpit masing-masing. Baekhyun menyikut siku Chanyeol disampingnya, mencari pembelaan dan berakhir mengkerut kesal ketika Chanyeol lebih peduli pada cumi panggang dipiringnya.

Ini makan siang yang kebetulan. Ya, kebetulan menyebalkan.

Dari lokasi shooting, Baekhyun sudah merencanakan hal gila yang luar bisa menakjubkan. Memesan satu ruang VIP tertutup, menu makanan seafood kesukaan Chanyeol, dua cangkir anggur dan sepaket tindakan tidak senonoh untuk pacarnya. Arwah Baekhyun sudah melambung tinggi memikirkan bagaimana jari-jarinya bermain diperut Chanyeol sambil menggigit Crunchy Fried Shrimp dengan gairah yang begitu gurih. Membiarkan tenggorokannya yang sehat dicemari anggur berwarna merah pekat dan mereka akan berciuman lengket sebelum….

…. Sebelum bertemu Sehun dan Junhyung di pintu masuk yang mengusulkan untuk makan bersama.

Oh Shit! Baekhyun mengumpat keras dalam hati ketika harus merelakan gairahnya tenggelam dalam lumpur dan dipatuk oleh bebek-bebek lapar.

Betapa malang nasib seorang Byun Baekhyun. Dan sialnya, tidak ada yang peduli dengan nasibnya.

"Hari ini kau resmi kembali ke Seoul ?"

Oh sayang, itu suara Chanyeol yang berat dan serak. Baekhyun melirik pacarnya, menggigit bibir dengan fantasi liar tentang bagaimana seksinya jika Chanyeol menggunakan suara itu untuk mendesahkan namanya, di atas meja penuh hidangan ini.

"Ya, bos-ku sudah kembali."

Oh keparat. Musuh bebuyutan seorang Byun Baekhyun, Yong Junhyung. Mereka sudah mengenal sangat lama, dan selama itu pula selalu menikmati peran sebagai anjing dan kucing.

Baekhyun meraih gelasnya, "Kurasa belum pernah kutemukan orang sebodoh dirimu, Yong Junhyung. Menjadi assistan orang lain daripada menjadi direktur di perusahaan ayahmu sendiri," dan meminum air mineralnya.

Junhyung mengendikkan bahu, "Memperebutkan kedudukan dengan saudara sendiri, itu tidak termasuk dalam kriteria hidup bahagia bagiku. Lagipula, bos-ku bukan seseorang yang buruk dalam beberapa hal," kepalanya menggangguk kecil, seperti bergurau.

Alis Baekhyun terangkat, "Dalam beberapa hal? Hidungku mencium ada bau pengecualian disini. Bisa kau jelaskan padaku?" bibirnya membentuk seringai jahil.

"Pengecualian dalam hal, wanita?Dia… ya, begitulah."

"Spesies lelaki rapuh yang menangis karena ditinggalkan wanitanya. Payah!"

Tawa Baekhyun meledak, tepuk tangannya gembira, sementara Sehun sudah kehilangan nafsu makannya sekaligus. Dia melirik kesal pada Junhyung yang terkikik dan mendengus melihat Baekhyun memegang perutnya. Hanya Chanyeol yang bisa diajak bersahabat, tidak juga, karena kenyataannya kedutan disudut bibir pria itu menunjukkan bahwa dia juga merasa lucu. Oh, menertawakan seorang Oh Sehun apakah termasuk jenis humor yang baik ?

"Berhenti menganggapnya sebuah lelucon, kumohon," ujar Sehun, serius.

Seluruh tawa dibungkam. Denting sendok Sehun bukan bernada komedi dan mereka tidak sepatutnya tertawa.

"Kalian tidak tau betapa sulit aku memperjuangkan wanita itu. Dan sekarang aku menemukannya, lagi, dalam keadaan tidak bisa melihat apa-apa, bahkan untuk melihatku mati sekalipun," Lirih Sehun, kemudian mendorong kursinya ke belakang. "Belajarlah untuk tidak menertawakan hidup orang lain," dan pergi.

Selamatkan Baekhyun. Salah apa yang telah dilafalkan mulutnya? Kenapa Sehun jadi sensitif sekali.

"Dia, kenapa ?" cicitnya pada Junhyung yang meletakkan sumpit dengan tenaga sia-sia.

"Aku lupa. Yang kita bahas adalah gadis itu."

"Siapa ?"

"Luhan."

Luhan ?

"Luhan itu siapa ?"

"Kenapa aku harus memberitahumu?"

"Karena aku manusia, kau juga, dan kita punya otak untuk bergosip di siang hari. Mari bersahabat selama 15 menit."

"Sinting," umpat Junhyung, namun dia malah memperbaiki posisi punggung belakangnya. "Kau ingat saat Sehun pergi dari rumah karena seorang wanita ?"

"Ya. Dan dia sangat menyusahkanku karena ibunya terus menangis ditelingaku sepanjang malam, sampai aku tertidur."

"Wanita itu Luhan."

"Shit! Jadi alasan dia pergi dari rumah benar-benar karena seorang wanita? Apa Sehun sudah menyumbangkan otaknya ke kebun binatang ?"

"Hampir, mungkin."

"Ceritakan! Ceritakan padaku tentang mereka!"

.

.

.

.

.

Hari akan terlewati seperti ini, seluruh detik Letisha habis hanya untuk menunggu Sehun. Raganya bersikeras mencoba baik-baik saja, sekiranya Letisha pikir dia masih punya tangan untuk membuang seluruh rasa lelah dipipinya. Rasa sabarnya mungkin hampir sama tingginya dengan langit. Demi Sehun. Demi mencintai pria itu.

Dia memakai mini dress merah maroon terbaiknya, Sehun memberikan itu setahun lalu saat mereka berada di Dallas untuk merayakan hari lahir Letisha yang ke dua puluh lima.

Tali yang mengikat pinggang rampingnya berakhir menjadi sebuah pita yang cantik disebelah kiri. Letisha tersenyum riang, berputar beberapa kali di depan cermin sambil merapikan jepit bulan sabit di cepol tingginya.

Merpati di luar jendela akan mengatakan bahwa langit bisa saja runtuh karena kecantikan Letisha. Dia hanya perlu mekar dan terang, menunggu dengan kaki bersilang di kursi taman sambil mendekap kabar bahagia sampai lelakinya menemukan jalan pulang.

Tidak banyak yang Letisha ketahui tentang hatinya, mungkin, tapi satu yang pasti, dia menginginkan Sehun. Menginginkan Sehun beserta seluruh hatinya dan pengharapan hidup bersama.

Namun sepertinya Sehun punya sudut pandang yang melenceng.

.

.

.

.

.

Kalau bisa, Luhan ingin menghilangkan kegelapan ini untuk bertemu laki-laki yang memberinya segelas coklat hangat tanpa mesti larut dalam kesunyian, di sofa tengah, tempat biasa Leo mendengarkan mulutnya berceloteh sampai berbuih. Luhan ingin melihatnya. Bentuk wajah manusia ini, apakah sesempurna yang dirasakan tangannya? Batang hidung yang keras, tulang pipi tinggi, alis lebat yang sombong dan rambut kasarnya, warna apa mereka? Tolong beritahukan pada mata Luhan.

"Menyenangkan. Sembilan hari bersamamu terasa luar biasa. Mulutku hampir kram karena terus mengoceh tapi rasanya aku masih punya baaaaanyak sekali cerita. Salah satunya mungkin tentang Kyungsoo yang pernah memukul kepala Jong In dengan tutup panci karena Jong In masih menyimpan foto mantan pacarnya di ponsel. Ya Tuhan, bunyinya keras sekali. Aku bahkan bisa mendengarnya dari dalam kamar."

Sehun mendengarkan, meletakkan kepala di atas lengannya yang menumpuk di sandaran sofa. Tawa kecil Luhan mengiringnya untuk melakukan hal yang sama. Namun matanya tertuju pada coklat hangat di tangan Luhan, berjaga barang kali wanita itu memiliki gerakan yang salah pada tangannya.

"Beberapa hari ini terlalu banyak kisah Jong In dan Kyungsoo yang kuceritakan. Mungkin sekarang saatnya aku bicara sedikit tentang diriku."

Oh jahat sekali, kenapa Luhan jadi lupa bagaimana caranya memulai. Jantungnya nyaris lepas saat deru napas Leo terdengar berharap ditelinganya. Lalu Luhan akan menjadi seonggok kelinci betina gugup yang butuh air minum.

"Kau lihat piano hitam disudut sana ?" Luhan menunjuk, tapi mungkin meleset beberapa derajat karena Leo membetulkan arahnya. Dia tersenyum kikuk, "Ah, bagaimana aku bisa salah? Kyungsoo tidak bilang kalau dia mengubah letak pianonya."

Coklat hangat milik Luhan diraih Sehun, diletakkan ke meja selagi hatinya bergurau, sudah tiga tahun, Luhan, dan pianonya tidak bergerak satu inci pun.

"Itu dari… pacarku."

Dalam pandangannya, Sehun tau telunjuk Luhan bergetar sebelum terjatuh dipangkuannya. Tapi apa yang bisa dikatakan lelaki bisu pada wanita buta? Mencolok mata Luhan dan mengatakan bahwa Oh Sehun ada disini! Didepanmu! Sedang berusaha menusuk seluruh kebohongan sialan ini dengan batinnya sendiri.

"Setidaknya dia masih pacarku saat menghadiahkan piano hitam itu. Hadiah yang kudoakan setiap malam natal selama bertahun-tahun. Namun sayangnya, aku terlalu tidak tau diri."

Sudut bibir Luhan, bagaimana caranya untuk menariknya ke atas? Lagi-lagi dia kehilangan senyuman dan tolong katakan padanya Sehun tidak menyukai itu.

"Aku menyuruhnya pergi dan berkata bahwa dia bukan lagi seseorang yang kuinginkan. Itu bohong , Leo. Ada golongan manusia yang sangat peduli tentang kelas sosial di dunia ini, dan orang itu adalah ayahnya. Menyedihkan saat kupikir reaksi ayahnya terhadap hubungan kami merupakan suatu kewajaran, sangat wajar. Pembelaanku kosong, ayahnya terlalu benar dan itu membuatku menangis. Tidak ada seorang raja yang ingin puteranya menikahi gadis yatim piatu di tengah lumbung padi jika banyak mawar hidup subur dipekarangan istana. Tapi apa kau tau, puteranya yang bodoh itu mengatakan padaku bahwa dia tidak akan menyerah mengenai kemustahilan hubungan kami. Aku punya kalimat yang sama bodohnya, namun aku tidak punya kotak suara untuk berpendapat. Dia peduli padaku, tapi satu hal yang tidak diketahuinya bahwa kepeduliannya semakin mendorong kami pada suatu akhir."

Kita belum berakhir. Dengarkan aku. Kita belum berakhir!

"Kebohongan semakin menjadi-jadi keluar dari mulutku seperti aku menghapal satu kitab penuh yang berisi ayat-ayat untuk melukainya. Setiap kali dia bicara maka aku membalasnya dengan kebohongan lain lalu bertimpa dengan kebohongan lain lagi, seolah kebohongan merupakan satu-satunya cara yang dapat menyelesaikan sebuah masalah. Terlalu banyak mengendap, dan itu membuatku tersika saat dia berusaha percaya pada kebohonganku setelah lelah bertengkar pada suatu keputusasaan."

"Semuanya berakhir. Keberuntunganku tidak menunggu lebih lama sehingga dia pergi bersama lukanya dan aku duduk sendirian di balik piano hitamku, menunggu setiap hari di tempat yang sama, di rumah ini. Agar nanti jika dia kembali, dia bisa menemukanku lagi disini. Karena akan sulit bagiku untuk menjadi pihak pertama yang menemukannya bahkan saat dia berada dihadapanku. Dia hanya akan menjadi titik kecil dalam kegelapan dimana tidak berarti apapun dimataku. Dia memang tidak terlihat, namun aku menunggunya dengan hatiku dan dia akan kembali dengan hatinya. Suatu hari nanti. Cinta yang akan menuntunnya pulang."

Begitu saja. Cerita Luhan luruh bersamaan dengan air matanya. Sesuatu yang menguasai hatinya terasa hancur, seolah dia baru saja bertemu lagi dengan sisi lain dari kenangannya yang mengerikan.

Katakan pada Sehun bahwa bukan begini cara lelaki bereaksi. Membiarkan tetes-tetes dipipinya mengemasi seluruh masalahnya dalam diam lalu hanyut dalam bekas luka yang tak tersampul.

"Leo…"

Ya, kenapa sayang?

"Dia mungkin telah mendapatkan hidup yang layak, seseorang yang baru, gadis cantik dengan mata sempurna. Apa menurutmu aku harus berhenti menunggu?"

Tidak! Kau tidak boleh!

Larangan. Luhan merasa dua lengannya diremas dan itu pertanda Leo melarang. Atas dasar apa Leo mengeluarkan petunjuk tersebut? Kenapa jangan? Kenapa tidak boleh?

"Aku hanya seorang gadis buta yang bahkan tidak bisa membedakan matahari dan bulan. Masih pantaskah aku –… "

Rasanya seperti menulis sebuah fiksi, ketika Leo memulai alinea pertama dengan ciuman seperti tidak ada satupun yang salah. Ucapan Luhan terpotong, dirinya mengeras dalam kelembutan ciuman Sehun dibibirnya. Terlalu mendadak, terlalu familiar dan itu membuat Luhan hanyut dalam cerita bahagia dalam kesedihannya.

Tak benar bagi mereka untuk berakhir. Sehun akan menulis lagi kisahnya meskipun harus menjadikan darahnya sebagai tinta. Penderitaan yang sukar sembuh akan dirawatnya baik-baik hingga hanya tersisa kebahagiaan di ruangan tanpa jalan keluar.

Kehilangan Luhan menjadikan Sehun penulis yang lupa pada alur ceritanya, lupa pada latarnya dan lupa bagaimana cara mengakhiri kisahnya. Ciuman yang mereka bagi kedua kalinya malam ini menanti langit runtuh menghancurkan seluruh bumi.

Kerinduan ini, sampaikanlah terhadap dia yang benar. Kenapa harus terasa benar? Kenapa harus menjadi lemah? Kenapa balas menikmati? Akal sehat, dimana kalian?

Jangan sentuh pundaknya! Jangan bertanya pada Luhan! Jangan mendorong tubuhnya jatuh! Karena sesungguhnya Luhan tidak punya keinginan menolak. Dosa akan membungkus jiwanya dan bara api menyala di bawah telapak kakinya.

Jangan mengangkatnya! Jangan menggiringnya ke kamar! Jangan menjatuhkannya di ranjang! Tolong hentikan!

Teriaki telinga laki-laki itu untuk berhenti karena Luhan telah kehilangan suara dalam gelutan ciumannya.

Mereka akan mati di atas neraka yang terbahak-bahak selaras dengan jatuhnya pakaian dari tubuh gadisnya dan sang lelaki yang terlalu amat merindu. Ini masalah tanpa perlu sebuah kesimpulan. Hanya biarkan gadisnya terlentang bersama tubuh telanjangnya dan kerinduan akan tersampaikan lewat jalan pintas. Meskipun itu salah!

.

.

.

.

.

"Kyungsoo, bukan begitu!"

"Apalagi?! Mau bilang aku kekanakan?! Pecemburu?! Berlebihan?!"

"Dengarkan aku!"

"Bukan sekali, Jong In! Jika masih belum bisa melupakan dia kenapa mencoba ajang pelampiasanmu padaku?!"

"Kau bukan pelampiasan! Beratus kali kubilang kau bukan!"

Kyungsoo menepis sentuhan Jong In di helai rambutnya, wajah basahnya tersimpan acak-acakan dibalik kedua telapak tangannya. Mobil menepi dipinggir jalan nyaris pukul satu malam dan keadaan tidak membaik sejak tiga puluh menit lalu. Masalah yang sama. Jong In yang payah dan Kyungsoo yang terlalu sensitif.

Bermula dari gelembung-gelembung pesan di ponsel Jong In –yang mungkin lupa dihapusnya— berisi tentang seorang gadis mengatakan rindu pada mantan kekasihnya. Percaya pada Kyungsoo, selama tiga tahun menjalin hubungan, masalah yang mereka hadapi selalu sama.

Jong In yang masih tidak bisa memutuskan secara benar perasaannya terhadap gadis itu meskipun Kyungsoo sudah tersaji disisinya untuk dicintai.

"Aku kekasihmu Jong In, pikirkan perasaanku."

"Soo.."

"Dia mengajakmu bertemu dan kau dengan senang hati bertanya dimana tempatnya. Sudah lupakah kalau dia membuangmu demi laki-laki lain? Lalu fungsiku disini apa? Aku tidak ingin bertanya seberapa lama kalian menjalin hubungan ataupun seberapa cintanya kau pada wanita itu, tapi tiga tahun Jong In, tiga tahun! Hubungan kita sudah berjalan tiga tahun dan sekarang rasanya aku seperti tidak punya kuasa yang banyak atas hatimu."

Sekarang apa yang bisa Jong In katakan? Apa yang bisa dia lakukan untuk menenangkan Kyungsoo sementara gadisnya sedang membara-bara. Mendadak Jong In menyesali janji yang sudah dia ketikkan di kotak pesan untuk menemui gadis itu di kursi taman kota besok sore. Sayangnya, Kyungsoo lebih dulu mengetahui semuanya sebelum Jong In sempat mengucapkan kata 'batal'.

"Aku tidak akan pergi, aku tidak akan menemuinya jika itu yang kau inginkan. Kumohon jangan menangis, Soo. Maaf."

"Karena aku mengetahui tentang ini terlebih dahulu makanya kau bilang tidak akan menemuinya. Lalu saat kesempatan lain datang, baik hatimu tidak akan menyimpan sebuah penolakan. Pada akhirnya aku kalah. Rasanya seperti kita berjalan bergandengan tangan menuju masa depan sedangkan kepalamu terus melirik ke belakang. Kau membuat fungsiku habis."

"Ini yang terakhir, aku janji."

Kyungsoo menggeleng. Otaknya bilang dia tidak boleh terus-terusan menjadi gadis lugu dan menulikan diri dari apa yang selalu dikhawatirkannya. Perasaan Jong In belum seutuhnya bisa dilegalkan jika kerap kali Kyungsoo menemukan Jong In secara sembunyi-sembunyi masih berhubungan dengan mantan kekasihnya.

Kini rasa muak itu seolah naik ketenggorokan hingga Kyungsoo nyaris muntah. Dia merasa sedih karena kenyataannya tiga tahun tiga cukup membuat Jong In cukup mengadap ke satu arah.

"Sepertinya kau terlalu banyak memaksakan," lirih Kyungsoo, menghapus jejak air mata dipipinya dengan cepat. "Mungkin kau butuh waktu untuk bertanya pada hatimu siapa yang sebenarnya kau inginkan. Aku tidak akan berada ditempat yang sama selagi kau memilih. Sekarang aku mengangakat tangan, tidak mengerti bagaimana caranya membuatmu berhenti. Temui saja wanita itu sebanyak-banyaknya, dan jika sudah selesai, kau bisa menemuiku lagi," tarikan napas Kyungsoo yang kencang, "Dan saat itu kupastikan kita sudah menemui sebuah akhir."

Retak. Seluruh persendian Jong In tidak lagi terletak pada tempatnya. Hanya rasa dingin yang bersarang di telapak tangannya sedangkan dalam tubuhnya terasa panas luar biasa. Bukan ini kalimat yang biasa mereka bicarakan sambil tertawa di dalam mobil. Bukan juga Kyungsoo yang bergerak keluar dan menangis begitu sedih.

Seberapa kurang ajarnya makhluk bernama Kim Jong In?

"Kyungsoo! Berhenti!"

Bergerak Jong In!

Dia sedang melakukannya! Mengejar Kyungsoo yang mulai tidak peduli.

Memikirkan bahwa kursi penumpang disampingnya terasa sangat kosong tanpa Kyungsoo, Jong In tau itu merupakan hal yang dibencinya. Bagaimanapun, telinganya terlalu hapal dengan suara Kyungsoo dan tidak mendengarnya membuat Jong In sakit.

Kakinya bergerak cepat, Seoul yang dingin terabaikan. Jong In sedikit menyesal karena saat dia meraih tangan Kyungsoo, sentakannya terlalu kuat. Air mata gadisnya melayang.

"Kita bicara dalam mobil."

"Tidak! Aku sudah cukup."

"Aku belum."

"Bukan urusanku!"

"Soo.."

"Lepaskan, Jong In!"

"Kita bicara lagi."

"Lepaskan sialan!"

Demi Tuhan, maafkan Jong In untuk satu bentakan ini.

"MASUK! SEKARANG!"

.

.

.

Pintu mobil ditutup kasar oleh Kyungsoo. Seluruh permintaan maaf Jong In disepanjang jalan seolah tidak memberikan efek yang signifikan. Dan mereka berakhir dengan saling diam lalu saling meninggalkan di gerbang rumah. Kyungsoo menuju pintu sedangkan Jong In bergegas pulang. Mereka lelah, istirahat sangat dibutuhkan.

Rambut Kyungsoo tergerai saat dia menjarinya ke atas. Dia tidak peduli pada wajah sembabnya, Luhan tidak akan tau selama Kyungsoo bisa menjaga nada suaranya sebaik mungkin.

Sampai di depan pintu, Kyungsoo mendongak untuk mengambil napas dalam-dalam. Semoga saja Luhan sudah tidur agar besok Kyungsoo bisa menemuinya dengan suara dan emosi yang lebih teratur.

Jari Kyungsoo bergetar ketika memasukkan kunci pada lobang pintu, sempat merengek kenapa lobang kuncinya terlalu kecil. Sesungguhnya tidak ada yang salah, hanya saja konsentrasinya terlanjur hilang. Dia mengidamkan segera membenamkan kepalanya ke bantal lalu menangis sepuas-puasnya. Dada Kyungsoo terasa penuh oleh rasa sesak yang dihadiahkan begitu manisnya oleh Jong In.

Sial! Emosinya meningkat lagi.

Kyungsoo ingin berlari menerjang pintu kamarnya. Namun ketika menyadari ada sepasang sepatu asing tergeletak di balik pintu, dia tau tersimpan masalah yang lain lagi disini. Langkah Kyungsoo tersusun halus, keringat dingin membuat anakan rambutnya lepet.

Dia ingin mengemukakan pikiran positifnya, namun ruang tengah yang kosong tidak mendukung, lebih tidak mendukung lagi saat sebuah dasi hitam tergeletak tepat di lantai depan pintu kamar….

Luhan…..

Oh Tuhan! Katakan sebuah kemustahilan! Berikan kata itu sekarang! Tolong napas Kyungsoo. Mereka tidak mungkin….

Clek!

Ya Tuhan…

Selamatkan Kyungsoo! Jantungnya luruh tepat mengenai ginjalnya.

Apa yang telah mereka lakukan?!

Kyungsoo berpegangan pada kusen pintu saat kepalanya berdenyut kencang dan tubuhnya hampir tumbang. Dia tidak pernah membayangkan bahwa semuanya menjadi seperti ini. Sama sekali tidak.

Dia percaya pada Sehun, sangat. Dia percaya bahwa Sehun akan menjaga Luhan lebih baik dari siapapun. Namun sayangnya, kali ini Kyungsoo meleset.

Sehun tidak sepatutnya dipercaya seratus persen jika pada akhirnya Kyungsoo menemukan laki-laki itu hadir kembali di bawah selimut Luhan. Memeluk tubuh telanjang Luhan yang lelap tanpa mengerti mengapa mereka saling menyetubuhi.

Kenapa Sehun tega memanfaatkan keadaan Luhan? Dimana letak otaknya?

Pakaian yang berserakan di lantai, rambut kusut Luhan serta beberapa warna kebiruan ditubuhnya membuat Kyungsoo memukul dadanya sendiri. Apa yang telah Sehun lakukan pada Luhan? Apa yang telah dia biarkan Sehun lakukan pada Luhan? Mengapa dia membiarkannya?

Tidak seharusnya Kyungsoo meletakkan Luhan pada kondisi dimana dia bisa telanjang bersama lelaki itu. Sekarang sudah terjadi. Sehun sudah mendapatkan pelayanan terbaik dari tubuh seorang gadis buta. Salahkah Kyungsoo jika sekarang dia ingin menikamkan sebilah pisau tepat pada jantung Sehun?

Kyungsoo mungkin akan melakukannya jika saja Sehun tidak mengerjabkan matanya untuk sesaat kemudian terbelalak. Seolah dia baru saja ditarik dari dunia lain dengan paksa.

"Kyung.." panggilnya dengan gerakan bibir.

Kyungsoo tidak sanggup mengeluarkan satu kata pun, apalagi sebuah makian. Amarah sudah mengendap sangat hebat dalam dadanya dan dia masih punya kesadaran untuk tidak membunuh Sehun di hadapan Luhan.

Dagunya memerintahkan Sehun untuk mengikutinya, untuk mempertanggungjawabkan dosanya sebelum Kyungsoo melemparnya ke dalam kawah merapi yang mendidih sampai tulangnya mencair seperti keju.

Ya, dan Sehun tau jika dia baru saja mendekati kematian.

.

.

.

.

.

PLAK!

Itu adalah tamparan kelima saat Sehun menyadari ujung bibirnya terluka. Di halaman depan rumah, tatapan Kyungsoo seperti bara api yang siap membuatnya terbakar. Sehun bukan tidak punya kekuatan, tapi dia punya otak untuk memikirkan apa yang seharusnya dia dapatkan dari setiap tindakannya.

Termasuk saat dia menelanjangi Luhan di atas ranjang lalu memuaskan dosa mereka, konsekuensi sebesar matahari tergantung di celah jendela.

"KEPARAT KAU OH SEHUN! KEPARAAAATTT!"

Jemari Kyungsoo bahkan gemetaran untuk merealisasikan cekikannya di leher Sehun. Airmatanya untuk Jong In baru saja berhenti dan sekarang Sehun sudah membuatnya tumpah lagi, mungkin lebih parah. Bagaimanapun juga, Luhan adalah salah satu hal terpenting dalam hidupnya dan sekarang tubuh Kyungsoo seakan tidak sanggup mengungkapkan betapa bergejolak rasa benci dan putus asa dalam raganya.

Banyak sekali yang bisa Kyungsoo umpatkan ataupun lakukan sesuka hati pada Sehun yang tampaknya sudah mengibarkan bendera putih. Tidak ada perlawanan dan jika Kyungsoo ingin membunuh Sehun, itu akan menjadi hal paling mudah. Namun pada akhirnya Kyungsoo hanya bisa meremas kerah kemeja Sehun sebelum jatuh meraung di atas tanah yang tidak memberinya kepuasan.

Kenapa dunia ini jahat sekali pada gadis seperti mereka? Apa salahnya terlahir sebagai yatim piatu? Kenapa tidak ada yang menghargai kelahiran mereka?

"Kyung…" ragu-ragu, Sehun melirih. "A-aku…"

"Aku menyesal! Sepenuh hati aku menyesal telah membiarkan iblis sepertimu menyentuh Luhan lagi! Tidak ada yang bisa kau lakukan selain pergi. Pergi!"

"Kyung.."

"Jangan pernah berpikir untuk memperbaiki segalanya, Oh Sehun! Kau sudah merusak satu-satunya jalan dengan cara menyetubuhi Luhan di atas ketiktahuannya! Jelaskan padaku bagaimana cara kau memperbaiki segalanya jika pada kenyataannya kau akan pergi bersama gadis lain setelah mendapatkan Luhan untuk memenuhi tubuhmu! Kau keparat, Oh Sehun! Bajingan!"

"Aku merindukan Luhan, terlalu merindukannya. Dan itu membuat seluruh kesalahan ini menjadi benar. Aku menginginkan Luhan."

"Tutup mulutmu! Bukan begini caranya seseorang merindu! Bukan dengan menelanjangi gadis buta lalu menyetubuhinya dan membuatmu melayang dalam kenikmatan! Biadap! Kau biadap Sehun!"

"Ya! Itu aku! Seorang laki-laki biadap dengan lidah sempurna namun tidak bisa bicara satu katapun dihadapan wanitanya! Kalian membunuhku. Ini membunuhku!"

"Persetan dengan hatimu! Kau! …."

Umpatan Kyungsoo terhenti. Sesuatu menghentikannya, mendorong Kyungsoo dari puncak alam bawah sadar tertingginya dan terhenyak ke tengah lautan.

Oh astaga! Apalagi sekarang?

Sebentar lagi, sebentar lagi kepala Kyungsoo akan meledak hingga seluruh isinya berhamburan.

Satu-satunya hal setinggi langit yang tidak ingin Kyungsoo dapati sekarang adalah melihat Luhan berdiri di celah pintu dengan remasan gelisah diujung dress sederhananya. Kyungsoo bahkan yakin reksletting dipunggung belakang Luhan belum terkait. Namun itu terjadi. Luhan berada disana, bersama telinga dan seluruh pendengarannya.

Lalu Sehun yang hampir menyerah pada hidup secepat kilat membalik tubuh, bernapas sekali untuk kemudian terhempas ke bumi. Luluh lantak. Apa Luhan mendengar semuanya? Dia tidak boleh! Bagaimana caranya Sehun menemuinya lagi jika Luhan tau sebelum permainan ini berakhir? Dan bahkan sebelumnya Sehun pikir bahwa mereka tidak memiliki sebuah akhir.

"Luhan…"

Itu lirihan Kyungsoo. Dia ingin bergegas menarik Luhan masuk dalam pelukannya dan meminta maaf atas penghianatan ini, namun Kyungsoo bahkan tidak sanggup untuk berdiri tegak. Kakinya lemah, begitupula hatinya.

Saat Sehun tertatih menyeret langkahnya kemudian berhenti di jarak lima langkah dari Luhan, Kyungsoo tidak mampu berbuat banyak selain merunduk dan menangis. Dia sendiri bahkan tidak tau harus menangisi masalah dihadapannya ataukah masalahnya yang belum terselesaikan dengan Jong In. Yang pasti, Kyungsoo ingin menangis.

Lalu bagian kisah ini kembali lagi pada Sehun. Ketika dia merasa bahwa ada jutaan pecahan botol kaca antara mereka, yang terbuat dari kesalahannya pada Luhan dan akan melukainya jika Sehun berani melangkah sekali lagi.

Apa yang bisa dibaca dari garis wajah wanita ini? Sudut bibirnya yang berlabuh ke bawah ataukah alisnya yang berkedut menahan ketidaksenangan? Apa yang bisa dipahami selain sebuah kesedihan?

"L-Lu… "

Hanya satu panggilan kecil, namun rasanya Sehun telah mengeluarkan separuh tenaganya. Dia meringis atas perasaan menakutkan dihatinya. Takut Luhan tidak bisa menerima dia yang ingin kembali namun tidak tau cara yang benar.

"L-Luhan…"

Oh, Sehun benar-benar akan kehabisan tenaga. Melihat raut kesedihan masih tersaji di wajah Luhan seolah membuat pecahan botol kaca diantara mereka semakin meruncing. Perih. Sehun bahkan merintih sebelum terluka.

"I-ini a-aku—"

"Bahkan tanpa penglihatan dan pendengaran sekalipun, dari awal aku tau bahwa itu adalah kau, Oh Sehun."

Apa? Apa maksudnya?

"Dan aku hanya gadis buta malang yang bahkan terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku mengenalmu sejak langkah pertama kau kembali di rumah ini. Malu untuk mengetahui bahwa kau mungkin sudah jijik untuk mencintai gadis buta sepertiku lagi."

Lalu ketika Sehun mengabaikan perih seolah pecahan kaca menembus telapak kakinya, Luhan menemukan tangisannya tumpah ruah dalam pelukan laki-laki itu. Mengingat bahwa dia juga menangis seperti ini setelah pintu tertutup dan Kyungsoo membawa Sehun sebagai seorang Leo. Sembilan malam yang lalu.

Luhan mengenal segalanya tentang Sehun, namun mereka bermain-main di atas matanya yang buta dan melupakan bahwa Luhan mengenal laki-laki itu dengan sangat baik melalui hatinya. Luhan hapal jenis tangisan dipipinya, karena setiap kali Sehun pulang atas nama Leo, maka dia akan menangis di atas ranjangnya dan memikirkan betapa malunya dia betemu Sehun dalam kondisi seperti ini.

Benar telak apa yang dikatakan Sehun, bahwa tidak akan ada yang mampu mencintainya seperti apa yang telah Sehun lakukan, jikalaupun ada, itu Sehun yang kembali,

bukan orang lain.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Okkeh. Chapter 7 selesai. Sedikit ingkar janji bahwa chapter ini bisa gue apdet 2minggu dari chapter sebelumnya. Tapi ya, lagi banyak jadwal manggung dari kampung ke kampung, jadinya telat apdet deh. /Goyang gergaji/

Eh, awalnya gue mau bikin adegan NC loh di chapter ini, tapi kagak jadi karena ngerasa lucu aja. Gue gak bisa jabarin gimana Luhan yang ngeraba-raba (?) sehun trus ntar kalo salah raba gimana? Bisa-bisa malah gue yang keraba. /Raba aku masss.. ahhhh/ Anjir lah, mesum banget readersnya. Boahahahaha Lemparin beha satu-satu baru tau rasa lu. Wkwkwk

Sebenernya ada yang pengen gue omongin banget di a/n ini, tapi nyampe ngetiknya gue lupa apa yang mau gue sampein. Mungkin utang panci ami dio kali ya. Kekeke

Sumpah, gue lupa beneran.

Mungkin gue lupa kalo ada kelezatan baru misedap white curry.. kekekeke

Oh iya, selamat ulang tahun buat Nurul Basyariyah. Sorry telat banget ngucapinnya :D

Betewe, tanggal 29 gue udah masuk kuliah. Bisa gak sih langsung nikah aja. /eh, jomblo, sok banget lu pengen nikah/

.

.

AI LOP YU :*