Stupid one sided love
"I'm not sure what scares me more, that you will never start loving me, or that I will never stop loving you."
Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook
...
Jeon Jungkook memandang senja dengan manik indahnya, memotret indah Seoul yang berhiaskan jingga disore hari, mendudukkan diri di tepian Han seorang diri. Menikmati sisa-sisa pantulan matahari di atas beningnya permukaan Han, matahari yang mulai mundur dari tugasnya, bersiap digantikan sang lawan.
Pemuda itu mendesau lirih.
Jungkook membiarkan surainya tertiup angin dingin. Membiarkan kelopaknya terpejam agar ia merasa apa yang mampu ia rasa dengan baik sampai menusuk tulang.
"Hei."
Si Jeon mendongak, telah mendapati kawan baiknya berdiri dengan senyum tulus, membawa sebuah mantel tebal di tangan kanannya. Shin Minji menempatkan diri, duduk di sudut bangku yang berlawanan dengan Jeon Jungkook, ada cukup jarak diantara keduanya dimana Minji leluasa meletakkan mantel yang ia bawa lalu mendorongnya lebih dekat pada Jungkook.
"Dingin Kook." Minji berucap singkat saat Jungkook menatap diam mantel itu beberapa waktu.
Jungkook terkekeh kecil. "Terimakasih Minji-ya." Sebelah tangan Jungkook meraih mantelnya lalu dengan cepat memakaikan benda itu untuk melingkar hangat pada tubuh proporsionalnya.
Gadis muda itu melirik sekilas Jeon muda dan di detik yang sama perih menguasai hatinya, luar biasa sesak membayangkan akan jauh dari Jungkook. Seoul-Busan mungkin memang tidak sejauh Korea dengan negara manapun itu, mereka bahkan masih di negeri yang sama. Tapi—Shin Minji terlalu terbiasa melihat Jeon Jungkook setiap hari dalam hidupnya, sejak mereka masih ingusan— masih bayi yang memakai pampers kemana-mana, sejak masa sekolah masa dimana mereka dipukul pubertas bersama-sama, mereka tidak pernah mau berpisah sama sekali. Berbagi makanan yang sama, saling memaki satu sama lain, saling menghibur, saling mengejar maaf setelah bertengkar dan banyak hal yang tidak akan pernah mampu Minji kisahkan. Dan kali ini membayangkan ia akan jauh dari Jeon Jungkook, Minji benar-benar tidak menyukainya.
"Kookie..." Jungkook menoleh, matanya membola tepat ketika menemukan Minji telah berlinang diantara dua pelupuk cantiknya.
Pemuda Jeon itu kebingungan.
"Do you really have to go?" Shin minji sebisa mungkin menahan diri untuk tidak terisak. "For real?" Jungkook bisa melihat bola mata gadis itu bergerak dalam linangan air mata yang nyaris membludak.
Pemuda itu hanya mampu mengangguk kecil. Membiarkan Minji gagal membendung air matanya.
"Kau sialan." Dengan kasar Minji menghapus air matanya yang terlanjur lolos ketika Jungkook mengangguk tanpa ragu. Lalu tersenyum terpaksa.
"Tidak usah berlebihan. Kau kan bisa pulang ke Busan sesekali menemui aku, atau aku bisa ke Seoul untuk menemui dirimu jika perlu. Jika kau benar-benar rindu aku sampai tak tertahankan." Barangkali Jungkook berniat melucu, meskipun untuk saat ini keduanya tahu tidak ada apapun yang lucu dalam suasana macam ini. Tapi Minji tetap mengangguk.
"Kau sudah beli tiketnya?"
"Sudah, aku berangkat besok pagi." Minji diam, lalu mengalihkan pandangnya ke arah Han di depan sana. Matahari mulai benar-benar lelap dan hari makin dingin karenanya. Shin Minji menangkupkan kedua tangannya lalu meniupkan udara hangat dari mulutnya, melawan dingin yang begitu menusuk.
"Ku pikir kau sama seperti mataharinya Jeon." Gadis itu bersuara lirih, Minji menggosok-gosok kedua tangannya, merasa nyaman ketika gelenyar hangat itu ia dapatkan. Jeon Jungkook memincing heran di tempatnya. Kebingungan tak mengerti.
"Tidak ada matahari maka akan gelap, tidak ada matahari maka menjadi dingin. Seperti sekarang." Gadis itu menoleh sekilas, memasukkan tangannya ke saku mantel ketika lawan bicaranya hanya bisu layaknya orang idiot, tak menjawab dan itu berarti bisa dipastikan Jeon Jungkook tidak mengerti apa maksud nona Shin barusan. "Kau ini memang bodoh Jungkook, capek bicara padamu." Minji bangkit dari duduknya menghetak kakinya kesal, badannya sedikit bergetar kedinginan.
"Ayo pulang, aku tidak mau sakit gara-gara kedinginan." Dengan langkah sewot Minji meninggalkan Jungkook, membuat kawannya itu tertawa lepas melihat Minji merajuk padanya.
"Heh tunggu aku." Jungkook mengekor, berlari kecil untuk menyejajarkan langkahnya dengan Minji.
...
Tidak bisa Jungkook pungkiri ketika desah berat itu berhembus dari dirinya, ia mati-matian—sekuat tenaga berdamai dengan hatinya. Membisikan puluhan kata-kata menenangkan pada dirinya sendiri agar tidak pernah lagi melampaui batas aman miliknya. Pemuda itu berdiri kaku dengan koper di sisi kanannya dan sebuah ransel kecil di punggungnya, diam menyaksikan sosok yang begitu tidak ingin ia temui berjalan mendekat ke arahnya, setidaknya bukan untuk saat ini.
Kim Taehyung.
Jungkook melirik ke bawah tepat pada genggaman tangan Taehyung pada seorang gadis yang berdiri di belakangnya. Gadis cantik yang begitu pas bersanding dengan Taehyung. Gadis yang selalu sukses membuatnya iri.
"Hai hyung—kau datang?"
Harusnya jangan hyung. Aku butuh lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri.
Jungkook luar biasa hebat ketika ia mengembangkan senyumnya yang nampak luar biasa tulus. Meskipun remasan tangannya menguat pada gagang koper miliknya.
"Tadinya aku tidak berniat kemari—aku." Tutur kata gugup Taehyung nyatanya menunjukkan bahwa tidak ada yang baik di antara ketiganya, terjebak dalam suasana entah yang bahkan tak seorang pun bersedia merasakannya. "Ku pikir aku perlu mengucapkan selamat tinggal, dan sampai jumpa."
Jungkook terkekeh, "Hanya Busan hyung. Itu begitu dekat." Pandang matanya beralih pada gadis milik Kim Taehyung yang begitu hening dalam tegapnya. "Dan— dia?"
Ada gerak panik ketika tangan Taehyung menarik Seohye lebih maju, berdiri sejajar dengan pemuda itu. Jungkook bisa melihat si Kim itu menjilat bibirnya yang kering.
"Yang Seohye." Taehyung berucap singkat.
Seohye diam ketika Taehyung mengenalkan dirinya pada Jungkook, sedikit kaku ketika tangannya terulur perlahan untuk menjabat Jungkook. Maka Jungkook tidak berdusta ketika ada denyut nyeri yang tidak biasa menyerang dadanya ketika ia benar-benar mengalah untuk menjabat tangan gadis itu.
"Senang berkenalan denganmu Seohye-ssi." Gadis itu tersenyum, senyum yang tidak bisa Jungkook baca. Mungkin nyaris separuh makna senyumnya adalah senyum simpati.
"Maaf tidak menyapamu dengan baik sebelumnya Jungkook-ssi. Senang mengenal dirimu."
Jungkook menerka, hal apa yang sebenarnya ingin gadis ini sampaikan padanya. Dengan pandang matanya yang begitu tulus dan lengkung bibir nya yang begitu manis. Karena sungguh ia benar-benar tampak begitu lugu jika maksud ucapannya adalah sesuatu untuk menjatuhkan Jungkook.
"Tidak apa. Itu salahku karena tidak meluangkan waktu untuk menemuimu." Karena aku terlaku sibuk terluka sebelumnya. Jungkook membatin tanpa melepas senyum menawannya.
Lalu dalam detik selanjutnya ketika netranya bertubruk dengan milik Taehyung.
Jungkook menemukan jawabannya.
Manik bening itu seolah mengungkap seluruh resah yang sebelumnya ia rasakan pada Jungkook.
Bahwa kini Taehyung tengah berusaha membagi bahagianya bersama Jungkook, seperti yang Jungkook katakan sebelumnya. Karena itu, Jungkook menyadari satu hal—
Di sini— dalam kisahnya tak pernah ada peran antagonis.
Seberapa besarpun Jungkook terluka, itu bukan salah Taehyung maupun Seohye. Karena sebagaimana ia yang tak ingin di salahkan karena menaruh hati pada Taehyung, maka Jungkook juga tidak bisa menyalahkan siapapun jika Taehyung mencintai seseorang dalam hidupnya.
Karena dalam hal ini tidak ada yang bersikap jahat. Mereka hanya menjadi jujur.
Dan sedikit rasa lega itu nyata, meski tetap dilingkupi sesak yang menyiksa, karena dengan begini Jungkook mungkin memang telah mendapat akhir dari kisahnya. Bahwa mungkin memang ini kisah terbaik untuk mereka. Untuk dirinya.
Jungkook mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam tangan miliknya sebelum melempar senyum ke arah dua orang di hadapannya. "Sepertinya aku harus pergi sekarang."
"Hyung—aku menunggu kabar bahagia dari kalian."
Butuh dua detik bagi Kim Taehyung untuk mampu menjawab Jungkook tanpa melepas tatapnya pada pemuda kelinci itu. "Pasti Kook-ah, dan kau juga harus pastikan kau akan datang." Jungkook mengangguk begitu mantap setelahnya.
"Aku pamit hyung, sampaikan salamku pada Minji."
Bersamaan Jungkook membawa langkahnya menjauh, pemuda itu membiarkan dunianya runtuh.
Membiarkan dirinya sendiri tidak baik-baik saja.
...
"Kau sudah di kereta?"
"Eum." Jungkook menjepit ponselnya diantara telinga dan bahu, dua tangannya sibuk menata sedikit barang-barang yang ia bawa dalam ransel kecilnya ketika Minji menelfon, gadis itu memang sudah bilang bahwa ia tidak bisa menemani Jungkook ke stasiun dan itu membuat Jungkook berakhir menerima banyak sekali pesan dan panggilan dari Minji sejak pagi-pagi buta.
"Tadi Taehyung datang?"
"Iya datang." Jungkook mengambil tempat duduk, menempatkan diri begitu nyaman. "Bahkan membawa kekasihnya."
"Benarkah?"
"Kau oke?" Pemuda itu tidak bisa menahan tawanya, karena nada khawatir Minji baru saja.
"Oke Minji-ya. Jangan khawatir, aku tutup ya nanti aku telfon jika aku sudah sampai Busan."
"Ish...arraseo."
Jungkook tersenyum mendengar nada tak rela dari sahabatnya, entah kenapa Minji selalu saja mampu membuatnya merasa baik dengan sikap anehnya.
Tepat ketika Jungkook menutup telfonnya. Pop up pesan muncul di ponselnya.
Dari Taehyung.
Jeon Jungkook menggigit bibir bawahnya membuka pesannya ragu-ragu.
From : Taehyung Kim.
Aku benar-benar berharap kita bertemu lagi dalam keadaan yang jauh-jauh lebih baik Jungkook-ah. Dengan kita yang sudah baik-baik saja. Maaf tidak mengucapkan salam perpisahan dengan baik, jujur aku sedikit takut apakah aku melakukan hal yang benar ketika aku membawa Seohye untuk menemuimu. Aku hanya berharap bahwa kau tahu aku berusaha membagi bahagiaku denganmu.
Tadinya aku merasa takut kau akan salah mengerti maksudku. Aku takut aku kembali membuatmu terluka.
Tapi aku rasa kau mengerti maksudku. Kau selalu jadi seseorang yang mengerti aku kan haha. Mari tetap berteman dan Maaf untuk sikap burukku sebelumnya Kook-a.
Titip salamku untuk paman dan bibi di Busan. Jaga kesehatanmu di sana, dan mari bertemu lagi dengan lebih bahagia Jungkook-ah. Aku benar-benar menunggu waktu itu tiba.
Entah bagaimana menjelaskan perasaannya, ada haru yang Jungkook rasa meskipun rasa kecewa tidak pernah bisa Jungkook ingkari, tentang kenyataan bahwa pertemanan mereka tidak akan menjadi lebih, "Dasar bodoh." Jungkook tersenyum, menghapus air matanya yang terlanjur lolos.
Sedikit buru-buru dan berantakan mengetikkan pesan balasan untuk Taehyung.
To : Taehyung Kim.
Hyung—i always ask myself, about what scares me more, beetween the fact that I will never stop loving you or that you will never start loving me. But today i realized something—
That i'm no longer afraid for those reasons.
gokchonghajima hyung, nan gwaenchana.
Jinjjaro.
Tbc...
Sejauh ini aku tidak ada keinginan mempersatukan vkook.
Kalau kalian gimana?
