Title: Akatsuki Nonton...
Author: MiraiIzError
Chapter: 7 - Finally... Or not?
Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei dan Yasuhiro Wada-sensei... Awwhhhh!!! Maafkan dakuuuuu!!!!! Jangan dirajam!!!!
Note: Jangan-jangan-jangan! Kenapa harus selesai?
Semua anggota keluarga Akatsuki udah duduk manis di dapur, siap nonton. Bahkan udah nonton.
"WOOIIII!!! Pada ngapain kalian di dapur?! Katanya mau nonton film? Gimana, sih?" Pein teriak-teriak nggak jelas.
"SSSSSTTTTT!!!! Diem, un! Lagi seru-serunya, nih!" kata Deidara dengan semua mulutnya, menyebarkan air suci ke mana-mana.
"Kalia nggak jadi nonton?" tanya Pein, kali ini dengan telepati.
"Lah, pi, ini kan lagi nonton," kata Hidan, memandangi microwave dengan penuh kekaguman.
"Hah?" Pein celingukan nyari TV, sementara yang lain tutup hidung.
3 hari berlalu. Pein masih celingukan. Yang lain masih nontonin microwave.
"Kalian nonton apa, sih? Papa nggak ngeliat ada TV di sini," kata Pein akhirnya.
"Ini, loh, daddy. Film horror. Gila, serem banget," kata Sasori sambil masih memandangi microwave dengan ketakutan.
"Nggak, bukan, ini film thriller. Aduh! Pasti sakit, deh, digituin!" kata Itachi, makan...ralat, gigit bantal.
"Salah, salah. Ini film humor. WAHAHAHAHAHAHAH!!!!!!!!!!!" kata Hidan, ketawa-ketawa sendiri.
"Salah semuanya, un! Ini film roman, un... Hiks hiks hiks..." kata Deidara, nangis dan senyum-senyum sendiri.
"Yang bener tuh film kuliner gitu, tau!" kata Zetsu yang ilernya udah bikin sungai.
"Yang mana, sih?! Jangan bikin papa bingung, dong!" Pein kesel karena semuanya jawab beda-beda.
"Horror Thriller Humor Roman Kuliner!!!!!!!!" kata semuanya serempak dengan semangat '90 bagi dua kali dua bagi dua.
"GYAAAAAAAAAAAHHHHHH!!!!!!!!! YANG MANA YANG BENER??????!!!!!!!"
"AKU!!!!!!"
"..........." Pein nggak bisa ngomong lagi. Menyerah.
Pein kemudian sadar apa yang mereka tontonin: MICROWAVE SUCI-nya yang udah nangkring selama 1579 tahun di atas meja dapur. Di atasnya ada debu setebal 30 cm yang tertata dengan rapi.
"Kalian ngapain nontonin microwave?" tanya Pein, merhatiin apa isi microwave itu.
Karena nggak ada yang jawab, Pein semakin merhatiin microwave itu.
Rinnegan-nya ditarik sampai sepanjang 10 meter. Alisnya dikerutin sampai hilang. Pein mulai bertapa.
Setelah mendapat pencerahan, Pein tahu isi dari microwave itu. Isinya adalah.....
"AYAM GORENG!!!! HOREEE!!!! AYO KITA MAKAN!!!!!" Tobi yang tiba-tiba dateng teriak di kuping Pein.
Tobi dijitak Pein.
"Ayam goreng? Jadi itu film-nya?" tanya Pein, memastikan.
"Iya, dong. Film horror, kan? Kan nyeremin, tuh. Bagi umat ayam," kata Sasori.
"Nggak, thriller. Itu kan penyiksaan, nggak berperi-keayam-an," ujar Itachi.
"Humor, lah. Kan lucu, tuh, ngeliat matanya keluar-keluar gitu, bulu-bulunya pada rontok, (kata-kata selanjutnya disensor karena melanggar hukum umat ayam)" Hidan masih ngakak.
"Yee, roman, tau! Liat tuh, cumi-cumi yang di baskom itu nangis-nangis ngeliatin ayam pacarnya disiksa, un. Air matanya sampai menuhin baskom, tuh," kata Deidara, menunjuk cumi-cumi yang ada di baskom penuh air (habis dicuci terus direndam sama Konan, pink. Kenapa pink? Udah bosen sama red).
"Nggak, itu sih kuliner. Kan nanti ayamnya kita makan," kata Zetsu yang kelelep karena liurnya udah jadi laut.
Pein sweat-dropped.
Saat makan siang pun berlangsung dengan indah dan harmonis di kamar mandi.
"Oh ya, tadi ayamnya kok masih ada bulunya gitu?" tanya Pein sambil berusaha ngeluarin bulu-bulu ayam yang tadi secara nggak sengaja ketelan lewat teliga.
"Oh, itu sih karena kita masukin ayamnya langsung ke microwave, nggak kita kulitin dulu," jawab Sasori.
"Hah? Kok gitu?" Pein udah berhasil ngeluarin bulu-bulu ayam yang udah jadi kemoceng, tapi lewat hidungnya.
"Ya, soalnya waktu kita cabutin bulu-bulunya, ayamnya teriak 'petok-petok' terus gitu, sih. aripada tetangga marah-marah, mendingan langsung kita masukin aja ke microwave," jelas Itachi sambil makan daging ayam yang dibentuk dango.
"Oh, gitu. Terus, kalian dapat ayamnya dari mana?"
"Kivha wemui idhu avaw fi vegawangang bekangwa sewevah, wadi nganggulhf. Whavewa kiwa sifir ngwa avha gaw dunwa, fha uwa, vwiva emvwak awa," Hidan jelasin dengan mulut penuh dan robek, sampai-sampai peluru(baca: nasi)-nya ngejotos Tobi sampai koit.
"Ogh, vwifu. Ewhang kawfian uwa bwebeyan tavhu, ivwu awam awa wang fuwa avha wak?" Pein juga bicara dengan mulut penuh, mebuat piercing-nya keluar semua dan nusuk-nusuk Deidara dan Kakuzu yang ada di sebelahnya sampai anemia.
"Nggak tau juga, pi. Tapi katanya Hi-nii nggak apa-apa kalau kita ambil, jadi ya kita ambil aja," jawab Itachi.
"Wawan givhu, ghong. Kawo ikhu wuvfha ovwaw, wimawa?"
"Itu sih urusan lain, daddy. Katanya Kaku-nii," jawab Sasori.
"Vavhi Weiyn viwang gifhu, wavi kowk vhafhi Weiw veveth mwavan, vi?" tanya Hidan.
"Tunggu-tunggu, papa sama Hi-chan ngomong apa, sih? Jangan pakai bahasa bintang utara, dong! Zetsu nggak ngerti, nih! Kok Ita-chan sama Saso-chan bisa nyambung, sih?" Zetsu ngomel-ngomel karena nggak tega ngeliat kupingnya tersakiti oleh suara-suara merdu dari mulut papa dan adiknya (tapi tega ngeliat adik-adiknya yang lain berkunjung ke alam baka dan nggak balik-balik).
"Hi-chan udah ngomong biasa, kok, tadi. Emangnya Zetsu-nii kopoken (sakit telinga, red), jadi nggak bisa denger apa yang Hi-chan sama papi Pein omongin tadi?" tanya Hidan, setelah puas nelen bulet-bulet makanan yang udah selama 25 menit diemutnya.
"Iya, Zetsu-chan, kok nggak bisa denger, sih? Mau ke THT?" Pein kembali berbicara dengan normal setelah muntahin isi mulutnya ke atas jenazah Tobi, Kakuzu, dan Deidara.
"Gimana bisa tau apa yang diomongin, kalau papa sama Hi-chan aja ngomongnya nggak jelas gitu?!" Zetsu menolak kenyataan bahwa dia emang udah harus ke THT karena belum bersihin telinga sejak lahir, karena nggak bisa kalau pakai kaki (dan nggak ada yang mau bantuin dia).
"Tadi Hi-nii ngomong, 'Kita nemuin itu ayam di pekarangan tetangga sebelah, lagi nganggur. Karena kita pikir nggak ada yang punya, ya udah, kita ambil aja'," jelas Sasori.
"Terus, papi bales, 'Oh, gitu. Emang kalian udah beneran tau, itu ayam ada yang punya apa nggak?'," tambah Itachi.
"Setelah Ita-nii ngomong, daddy ngomong, 'Jangan gitu, dong. Kalau itu punya orang, gimana?',"
"Dan, Hi-nii bilang lagi, 'Papi Pein bilang gitu, tapi kok papi Pein tetep makan, sih?',"
"Oh..." Zetsu manggut-manggut.
Sedetik kemudian, Tobi, Deidara, dan Kakuzu bangkit lagi dari mati surinya sambil geleng-geleng plus slow motion dan nunduk, mencoba buat suasana serem, ngelawan Zetsu yang lagi manggut-manggut.
Zetsu berhenti manggut-manggut. Kelompok Tobi-Deidara-Kakuzu pun berhenti geleng-geleng.
"Ngomong-ngomong, Tobi-chan, Kisa-nii mana? Kok kamu pulang sendirian, sih?" tanya Deidara, kembali duduk dan makan.
"Hah? Emangnya Kisa-nii kenapa? Tobi-chan nggak tahu apa-apa," jawab Tobi, polos dan tak berperasaan.
"Heh? Loh, kamu nggak sama-sama Kisa-nii? Terus, Kisa-nii sekarang ada di mana, sih?"
Sementara itu, di Jogjakarta...
"Papiiiii!!!! Mamiii!!!! Ita-chaaaannnn!!! Tolongin Kisa-chan!! Kisa-chan bukan hiu!!!" Kisame teriak-teriak dari dalam akuarium Sea World.
Kisame tengok kiri. Tengok kanan. Depan. Belakang.
Semuanya air. Ikan. Dan...
"HIUUUUUU!!!!!!!!!!!! TIDAAAAAAAKKKKK!!!!!!!!"
Kisame cepat-cepat berenang ke hulu dan berakit-rakit ke tepian.
Sementara Kisame teriak-teriak parno di dalam akuarium, orang-orang yang di luar pada denger suara 'blup-blup-blup-blup-blup'.
"Ini udah sehari, kok belum ada yang ngambil, ya?" kata petugas yang masukin Kisame ke dalam akuarium.
"Tau tuh. Tapi katanya kan dia dititipin di sini sampai 3 hari aja. Kalau nggak ada yang punya, katanya mau dibebasin ke laut lepas, kan?" balas temannya.
"Gimana kalau kita usulin ke bos, itu hiu biar di sini aja? Soalnya kayaknya si Sharkie (hiu betina yang dilihat Kisame tadi, red) suka sama dia, deh. Biar mereka pasangan aja. Lumayan kan, bisa ngembang-biakkin hiu?"
"Iya juga, yah. Biar hiu nggak terancam punah lagi, tuh,"
Kembali lagi ke markas Akatsuki yang dipenuhi oleh tikus dan orang-orang yang (nggak) waras.
Mereka lagi asyik-asyik makan ayam yang, anehnya, dari tadi nggak habis-habis walaupun yang makan nggak lain adalah 7 makhluk aneh.
Tiba-tiba...
BRAAAKKKKKKK!!!!!!!!!!
"Uhuk uhek ohok ehok ehuk!!!!!!!!" Mereka semua kesedak gara-gara bunyi keras yang tiba-tiba meluncur dengan lemah gemulai di udara.
"KALIAN!!! APA-APAAN KALIAN???!!!" teriak seseorang.
Mereka semua menoleh ke arah sumber suara: pintu depan. Tapi ternyata pintu depannya nggak kelihatan karena mereka ada di kamar mandi yang ketutup pintunya.
Pein pun keluar dari kamar mandi dan menghampiri 'tamu'-nya.
"Ada apa ya, pak?" tanya Pein, mukanya yang kedua diperlihatkan: ramah dan murah senyum yang bikin muntah setiap orang yang lihat wajahnya dalam jarak kurang dari 10 meter.
Pein merhatiin orang itu. Matanya jelalatan, sampai-sampai orang itu ngerasa nggak sreg banget.
'Orang ini mirip petani yang di Harvest Sun, deh,' pikir Pein.
"Oh... Nggak apa-apa, pak. Saya cuma pengen ketemu sama anak-anaknya bapak," kata orang itu, nahan supaya nggak muntah.
"Oh, gitu. Yang mana, ya, pak?"
"Semuanya aja,"
Pein buru-buru balik ke kamar mandi lagi.
"Woi, kalian dicari tuh!" kata Pein yang disambut dengan gelegekan dari semua mulut yang ada di sana.
"BUSET! Sopan dikit, dong, sama papa sendiri! Kalian dicari tamunya, tuh! Sana, cepetan keluar! Ngotor-ngotorin kamar mandi aja!"
Anak-anak nggak tahu sopan santun itu pun berjalan ke ruang tamu, menemui tamu yang sama nggak tahu sopan santunnya tadi.
"Halo, bu!" Tobi nyalamin tamu itu dengan sok kenal sok deket sok akrab, sampai-sampai mereka foto mesra bareng.
"Ba-Bu-Ba-Bu! Saya ini laki-laki, tau!"
"Nggak. Habisnya Tobi pakai topeng, sih. Jadinya nggak kelihatan jelas. Maaf yah, tante,"
"Bapak!"
"Bapak,"
"EHEM, kenapa bapak nyari kami, ya? Ada perlu apa sama kami, pak?" tanya Itachi.
"Oh, itu... Oh ya, sebelumnya, boleh saya minta kantung muntah?"
Setelah diambilkan oleh Deidara, tamu itu muntah-muntah.
"Makasih, ya,"
"Emangnya bapak kenapa, kok mau muntah?" tanya Sasori.
"Nggak, ngeliat tampangnya bapak kalian itu buat saya pengen muntah,"
"Oh ya, bapak ngapain, kok nyari kami? Ada urusan apa ya, pak?" Itachi mengulang pertanyaannya.
"Gini, saya cuma mau bilang ke kalian..."
Orang itu diam sejenak. Kemudian menatap mereka dengan perlahan tapi pasti. Dan ia membuka mulutnya lagi, berkata...
"BALIKIN SI PLEKI!!!!!!!!!"
Itachi kaget tapi pura-pura tenang.
Tobi nangis.
Sasori mulai retak.
Kakuzu buru-buru ngejahit badannya lagi.
Deidara meledak.
Zetsu lenyap ke dalam tanah.
Hidan nusuk-nusuk badannya sendiri.
Kisame naik motor boat, menghindari kejaran fans-nya (Sharkie).
"...Maaf pak, Pleki itu sapa yah? Kami nggak kenal, tuh .....Kayaknya," kata Deidara yang entah bagaimana udah kembali jadi asal lagi.
"JANGAN PURA-PURA NGGAK TAU, YA! CEPETAN BALIKIN PLEKI!!!"
"Maaf ya pak, TAPI PLEKI ITU SIAPA???!!! KAMI NGGAK KENAL ITU MAKHLUK, TAU!!!" Hidan akhirnya ngomong.
"JANGAN BOHONG! PASTI KALIAN YANG NYULIK PLEKI KESAYANGAN SAYA! CEPAT BALIKIN!"
"PLEKA-PLEKI! SIAPA LAGI ITU PLEKI, KITA AJA NGGAK KENAL, GIMANA MAU NYULIK??!!"
"PLEKI ITU PELIHARAAN KESAYANGAN SAYA!!"
"KAMI SAMA SEKALI NGGAK NIAT NYULIK ANJING, PAK! TOLONG DIINGAT, DICAMKAN, DIHAPALKAN, DAN DITURUTI SAMPAI NANTI WAKTU ULANGAN!!"
"Emang ulangannya kapan, pak Hidan? Saya kok nggak tahu, sih?"
"Ulangannya minggu depan! Dicatat di agenda, ya!"
"WOIII!!!!!!" Yang lain neriakin 2 orang yang udah berubah posisi jadi guru dan murid itu biar sadar.
"Oh iya, ehem, SEKARANG BALILKIN PLEKI!"
"UDAH DIBILANGIN KAMI NGGAK NIAT NYULIK ANJING, PAK! BAPAK INI GIMANA, SIH??!!"
"Hah? Anjing? Pleki kan bukan anjing,"
"Bukan anjing? Tapi, Pleki itu kan nama anjing, pak,"
"Memangnya Pleki itu harus nama anjing, ya?"
"Uh... Eh... Ng... Nggak juga, sih..."
"Nah, ya udah! Jadi kan nggak ada masalah, dong, Pleki itu anjing apa ayam!"
"AYAM??!!" Sasori yang lagi merekatkan kembali retaknya tiba-tiba teriak, membuat retaknya malah jadi nambah.
Sedetik kemudian, Sasori baru menyadari apa yang baru saja dia lakukan dan nutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Oh... Jadi kalian tahu di mana Pleki, ya..."
Mendadak, langit gelap. Lampu mati. Halilintar menyambar-nyambar, membentuk siluet dari petani itu.
Semuanya berubah menjadi horror...
"GYAAAAAA!!!!!!!" Semuanya teriak lebay, nangis, meringkuk di pojok, memeluk satu sama lain.
Tiba-tiba...
PET!
Lampunya kembali menyala.
"Ada apaan, sih? Kirain tadi lampu mati, tapi ternyata bisa dinyalain. Bikin kaget aja," Konan tiba-tiba muncul, bawa belanjaan banyak, "Ngomong-ngomong, kalian ngapain? Bapak siapa, ya?"
Anak-anak itu pun berlinangan air mata haru.
"Ma... Mama..."
"Hah??"
"MAMAAAAAAA!!!!! HUWEEE!!!!!" Mereka semua langsung lari ke arah Konan dan meluk-meluk Konan dengan nista.
"Udah, udah. Ngomong-ngomong... Bapak siapa, ya?"
".......Ayam saya mana?"
"PLEKIIIIII!!!!!!!!!!!!" Sebuah teriakan membumbung tinggi ke angkasa.
"Pleki... Pleki... Mengapa ini harus terjadi padamu?? Ple...ki... PLEKIIII!!!!! Huk huk huk..." Petani itu berlutut di depan piring berisi tulang-belulang Pleki.
"Udahlah pak, ayam aja disesali. Kan masih bisa beli yang baru," kata Deidara dengan tenangnya.
"ENAK AJA KAMU NGOMONG! PLEKI ITU AYAM KESAYANGAN SAYA YANG NGGAK ADA DUANYA, TAU! KAMU MALAH NGOMONG SEENAK PERUTMU SENDIRI!! HUWAAAAA!!!!!!" Petani itu ngambil goloknya dan ngejar-ngejar Deidara tanpa ampun.
"Aduh, aduh, maaf pak, maaf!! HUWA!!!"
"Yah, biar kapok dia," Petani itu duduk, memandangi bunshin-nya yang sedang mengejar Deidara.
"Maaf pak, emang kenapa sih, kok ayam aja dijadiin peliharaan? Mana kesayangan, lagi? Buang-buang waktu dan tenaga cuma buat nyayangin ayam seekor," tanya Kakuzu.
"YA JELAS BUAT DIMAKAN LAH! Makanya saya kesel, karena kalian udah makan Pleki duluan! Padahal saya baru saja mau sembelih itu ayam sebelum kalian curi!"
Yang lain bengong, sementara Deidara masih jogging.
Matahari berganti bulan. Terang berganti gelap. Ayam berubah jadi burung hantu. Malam pun tiba.
"Hmm, nggak nyangka kalau tujuan itu petani nyayangin Pleki cuma buat dimakan," kata Zetsu.
"Tobi-chan kira Pleki itu peliharaannya beneran! Eh, nggak tahunya... Malang sekali nasibmu, Pleki-chan... Semoga kau tenang di sana..." Tobi berdoa di depan makam Pleki.
"Jangan pakai dupa! Mahal!" Kakuzu ambil dupa yang ada di depan makam Pleki dan nyimpen lagi dupa itu di lemarinya.
"Ngomong-ngomong, Dei-chan masih belum balik juga, yah?" tanya Sasori.
"Kayaknya belum, deh. Dia di mana, ya?" Itachi melihat ke luar jendela. Sepi.
Deidara emang nggak bakalan ditemuin cuma dengan ngeliat ke luar jendela, karena dia lagi main lumpur di Sidoarjo.
"Loh, kalian belum tidur? Ayo cepetan tidur, udah malam!" kepala Pein muncul tiba-tiba dari balik pintu.
"Iya, iya..."
Mereka semua langsung beranjak pergi. Kecuali Hidan yang ternyata udah ngorok di lantai.
"Hi-chan, bangun! Tidur di kamarmu sana!" Pein dengan tidak berperasaan nendang Hidan.
Hidan masih nggak bangun, tapi udah nyampe kamarnya dengan sukses karena tendangan maut Pein.
"Woi Hi-chan, jangan ngotor-ngotorin lantai dong, tidur di tempat tidurmu, sana!" Zetsu mau nendang Hidan ke tempat tidurnya, tapi Itachi menghentikannya.
"TUNGGU! Lihat deh yang dipeluk Hi-nii apaan," kata Itachi, mencoba mengambil sesuatu dari pelukan Hidan.
Setelah berhasil diambil dan dilap (karena ada bekas liur Hidan), mereka menyadari bahwa...
"KITA BELUM NONTON 'TOILET'!!!!!!!!"
~Chapter 7: Finally... Or not?~End~
Euh, maaf deh kalau mereka nggak jadi-jadi nonton filmnya, apalagi di chapter kali ini cuma bagian terakhirnya yang nyambung sama 'Toilet'!
Tapi kalau diubah, agak susah juga sih...jadi saya memutuskan, tujuan dari chapter ini adalah untuk 'take a break' dari 'Toilet'!
Chapter berikutnya bener-bener balik lagi, nyambung sama 'Toilet'! Tapi masih belum tahu apakah mereka akan jadi menontonnya atau tidak...
Ya udah, gitu aja! Sekali lagi maaf, dan terima kasih karena udah baca fic dan chapter ini!
Saksikan acara berikutnya pada jam dan saluran yang sama! Sampai jumpa! ^^
