MAFIA WEDDING

Beberapa jam kemudian.

"Kau sangat cantik honey..."

"Benarkah, apa menurutmu aku tidak terlihat aneh?" Seorang pelayan menarikan kursi sebelum wanita berperawakan anggun duduk menghadap tepat ke arah lelaki pirang di sebrang meja bundar yang ada.

"Aku suka riasan wajah itu dan pakaian seksimu, semuanya sangat sesuai dengan seleraku honey"

Setelah barisan kalimat tak terduga itu terlontar, Sakura hanya bisa menunduk dan tersipu. Ia merasa cukup malu jika Naruto terus memujinya, terlebih ia sendiri tak bisa menilai rupa paras-nya sendiri yang dilihat oleh kedua manik biru-violet milik Naruto.

Bisanya jika mood Naruto sedang baik. Lelaki itu akan selalu bercanda dan tak segan untuk berbohong usil padanya. Tapi dari kelembutan ucapannya barusan, sepertinya kali ini Naruto cukup tulus memujinya.

Sakura juga awalnya tak meminta dipermak ulang oleh penata rias, akan tetapi mereka bilang jika tidak merias Sakura maka Naruto akan memecatnya.

Jelas Sakura tak mau menambah jumlah manusia malang yang akan menjadi pengangguran, jika sampai benar Naruto tega memecat para penata rias yang sengaja ia panggilkan untuk mendandani ulang si putri Haruno.

--

--

Kali ini Naruto mengajak Sakura untuk makan siang di bagian restoran mewah, milik Matata resort tempat mereka menghabiskan waktu hari ini.

Restoran tematik yang menonjolkan kesan elegan, dan tentunya tak ketinggalan juga segala tektek-bengek kemewahan yang ada. Menciptakan kesan romantis yang amat sangat kental.

Mereka berdua duduk disebuah meja bundar, dekat dengan kaca tebal pembatas panorama indah sebuah tebing yang rata ditumbuhi oleh barisan hutan lebat di sebrang sana.

Matata Resort adalah sebuah resort yang memang dibagun khusus berlokasi di sebuah tepian tebing. Untuk mencapai bangunan utama resort tersembunyi ini.

Mobil pengunjung harus melawati jalanan menurun dengan panorama hutan teduh. Tak salah jika tempat ini menjadi rekomendasi destinasi terbaik bagi Naruto.

"Naruto..."

Lelaki yang memakai setelan kemeja berlengan pendek, dengan warna tosca itu menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan kekasihnya.

"Naruto, terimakasih untuk hari ini... Aku tidak percaya jika kau akan mengajakku ke sini, maaf aku selalu merepotkanmu dan membuatmu kesal karena aku tidak bisa-..." Sakura menggigit bibir bawahnya. Ia tau jika saat ini Naruto tengah menatapnya bulat-bulat.

"-Tidak masalah... Bagiku, kau itu tidak merepotkan, justru aku merasa sangat senang jika kau banyak menuntut dariku... Tuntutanmu seperti pecut bagiku honey dan dengan senang hati aku akan menurutinya..."

"Tapi aku merasa tidak pantas meminta hal yang macam-macam padamu!"

Naruto nampak sedikit menyisir helaian rambut pirangnyadengan jari. Cukup gerah rasanya, bila Sakura sendiri masih sungkan untuk meminta sesuatu padanya. Padahal Naruto sendiri sudah sering menyuruhnya untuk membuang jauh-jauh perasaan sungkannya itu kepada kekasih sendiri.

Cukup katakan apa yang ada dipikiranmu maka Tuan Muda Namikaze akan menurutinya!

Haruskah Naruto menulis peraturan seperti itu untuk Sakura? Agar ia bisa bersikap lebih baik lagi didepan wanitanya.

Siapa tau kan, wanita itu tidak menyukai beberapa hal yang telah Naruto lakukan, baik sengaja ataupun tidak sengaja selama mereka menjalin hubungan.

"Kau itu kekasihku honey! Hanya kau satu-satunya wanita yang pantas menuntut segala hak atas diriku... Jangan membuat sesuatu yang bisa menyulitkan dirimu sendiri, karena perasaan sungkanmu padaku... Lagi pula sebentar lagi kita akan resmi menjadi pasangan suami-istri... Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku." Nasihatnya dengan lembut.

"Baiklah, aku akan mencoba untuk membiasakannya... Maaf telah membuatmu tersinggung, aku akan berubah untukmu Naru-kun"

"Permintaan maafmu kuterima, ini baru wanitaku... Ayolah kita makan, aku sudah sangat lapar honey~..."

Sakura dibuat terkikik singkat. Suara lantang kekasihnya yang mengeluhkan rasa lapar begitu lucu menggelitik indranya. Sakura sangat antusias mengangguk, ia mempersilahkan kekasihnya itu untuk mengicip-ngicip semua hidangan yang sudah tersedia lebih dulu.

"Permisi!" Sakura mengacungkan tangannya, sampai pada batas pelipisnya. Kemudian seseorang langsung melesat kearahnya.

Waiters dengan dandanan tuxedo hitam-putih, membungkuk hormat sebelum ia menjalankan perintah dari wanita cantik itu.

"Ada yang bisa saya bantu?" Ucapnya.

Sakura tersenyum tipis. "Tolong hidangkan sesuatu untukku" Pintanya.

Naruto menggerakan tangannya, ia meminta pelayan tersebut untuk mengambil sebuah hidangan steak, lalu Naruto juga memintanya untuk memotong kecil-kecil seukuran dadu, dari daging sapi panggang tersebut sebelum memberikannya pada Sakura.

"Silahkan nona" Pelayan itu selesai dengan tugasnya.

"Apa disini ada hidangan yang terbuat dari bahan jamur?" Tanya Sakura sebelum pelayan itu hendak beranjak.

"Tentu, kami sudah menyajikan sup mushroom istimewa untuk anda berdua, Tuan dan Nyonya" Jawabnya.

"Oh tidak! Sebelum terlambat, tolong kau singkirkan hidangan itu. Jika ada makanan lain yang berbahan sama. Maka bawalah kembali. Karena kekasihku memiliki alergi terhadap masakan berbahan jamur" Pinta Sakura. Sementara itu dari sebrang meja, Naruto kelihatan tersenyum lebar.

Sakura cukup cekatan untuk memeriksa semua hal. Karena memang itulah kebiasaannya, ia tak mau lagi mengulang kejadian buruk. Dimana Naruto mengalami keracunan saat makan malam dirumahnya. Waktu itu Mebuki tak sengaja menghidangkan sayur tumis yang berisikan potongan-potongan kecil dari sayuran jamur tiram.

Pengalaman buruk yang membuat Sakura belajar serta wajib mengingat jika Naruto tidak boleh mengomsumsi apapun yang berhubungan dengan makhluk sebangsa fungi itu. Meskipun mereka termasuk jenis bahan makanan yang memiliki cita rasa gurih yang menggoda. Naruto tetap tak boleh menyantapnya!

"Terimakasih honey... Hampir saja aku memakan sup yang tadi" Ucap Naruto. Ia'pun kembali melanjutkan kegiatannya tanpa merasa terusik dengan kesibukan waiters yang menyisihkan sup jamur tersebut.

"Setiap saat dan apapun akan aku lakukan untuk membuat kekasihku nyaman..." Sakura rupanya cukup handal untuk meniru ucapan Naruto yang sudah-sudah teruntai padanya.

"Hahaha... Tetaplah seperti itu, aku sangat menyukaimu yang bersikap take care seperti ini honey~ Sangat so sweet!"

--

--

Matahari perlahan menyerong ke ufuk barat, saat ini Sakura tengah duduk di sebuah sofa hitam yang sangat empuk. Ia terisolasi di sebuah ruangan, tak banyak yang bisa ia lakukan karena ini pertama kalinya Sakura diajak mengikuti aktifitas rutin kekasihnya.

Sakura sudah ditinggal sendirian di ruangan itu selama 20 menit yang lalu. Naruto belum juga kembali dari acara pangkas rambutnya. Kata lelaki itu, dia sangat ingin tampil rapi dan tampan dengan rambut pendek cepak, di hari pernikahannya besok. Jadi Naruto meminta Sakura untuk ikut mengantarnya memangkas rambut. Meskipun Sakura tidak benar-benar yakin bisa menilai apakah kekasihnya itu akan terlihat lebih baik tanpa gaya rambut pirang gondrong khas serupa buah durian itu.

"Honey..." Sakura buru-buru berdiri ketika panggilan itu menyentaknya.

"Kau sudah selesai?"

"Iya, dan aku merasa lebih percaya diri dengan model rambut baru ini, ayo kita pulang... Kau pasti lelah, maaf aku mengajakmu ke banyak tempat hari ini"

Naruto mengamit pergelangan tangan Sakura, mereka berdua beranjak meninggalkan ruang khusus milik barbershop tersebut.

"Tidak apa... Aku belum merasa lelah, justru aku merasa senang karena bisa kemana-kemana bersamamu" Balas Sakura, langkahnya dua kali lebih kecil dari pria didepannya. Otomatis membuat kaki ringkihnya bekerja ekstra untuk membuntuti dan mengimbangi langkah kekasihnya.

"Kita akan segera pulang... Ada seseorang yang ingin bertemu dengamu" Tutur Naruto. Ia mempersilahkan Sakura untuk masuk ke dalam limosin lebih dahulu.

BLAM!

Pintu limosin'pun akhirnya tertutup rapat. "Siapa?"

"Kau penasaran?" Pancing Naruto.

"Tentu saja... Memangnya siapa yang ingin bertemu denganku?" Sakura menatap paras Naruto, namun lelaki itu tak mau membocorkan apapun dari mulutnya.

"Sabar... Ini kejutan lain untukmu" Isengnya lagi. Hal itu sukses membuat Sakura cemberut.

"Ish! Katakan siapa!..." Paksa wanita itu. Hingga pada akhirnya Sakura tak kuasa menahan gemasnya dengan mencubit pinggang lelakinya.

"Aw!!... Sakit hahaha... Tidak akan aku beritahu!" Sesat Naruto.

"Apa dia seseorang yang dekat denganmu?"

"Iya..."

"Seberapa dekat?"

"Sangat-sangat dekat!"

"Apa mereka keluargamu?"

"Hampir benar"

"Jangan bermain teka-teki Naruto!"

"Dengar honey, tidak semua anggota keluargaku bisa aku anggap keluarga... Cobalah tebak lagi" Paksa Naruto.

Sakura menggulirkan matanya. Ia berpikir cukup keras untuk mengingat atau sekedar menebak siapa gerangan orang spesial dari kekasihnya yang ingin bertemu dengannya.

"Apa mereka Ayah dan Ibumu?"

Raut wajah Naruto seketika berubah. "Kau akan tau nanti!" Balasnya agak dingin. Untungnya Sakura cukup peka merasakan perubahan aura kekasihnya. Memang Naruto itu lelaki yang sulit ditebak dan suasana hatinya sangat mudah berubah. Sakura harus ekstra hati-hati dalam menghadapi orang seperti ini.

"Baiklah... Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya" Akhir wanita pinkis itu

Limosin hitam dengan plat nomor berwarna putih TKY 1 NKZ melesat lurus dijalanan. Bahkan lampu lalu lintas'pun mereka terobos, ya begitulah. Siapa yang berani menghalangi jalannya para bos-bos Mafia ini, akan ditabrak tanpa terkecuali! Jadi kalian jangan main-main dengan mereka!

Sampai di sebuah wilayah khusus kompleks apartemen elit. Mobil tersebut berhenti perlahan. Itachi membukakan pintu untuk majikannya. Tentu Naruto menyambut hangat perlakuan sopan bodyguardnya.

"Ayo honey..." Ajaknya pada sang kekasih.

"Dan tolong jangan tanya apapun!" Pinta Naruto seolah membaca isi pikiran Sakura. Baru saja mimik bibirnya ingin menyampaikan pertanyaan yang ada dikepalanya, tapi Naruto lebih cepat memotongnya.

Ting!

Pintu lift terbuka. Naruto, Sakura serta Itachi masuk secara bersamaan. Hanya keheningan yang mengantar mereka bertiga ke lantai apartemen tuannya.

Ting!

Kembali dentingan lift memecah suasana. Pintu metal tersebut terbuka, Itachi melangkah lebih cepat. Ia kemudian menempelkan secarik kartu pada sebuah pintu didepan sana. Tak lama, apartemen tersebut langsung terbuka, dan Naruto mengajak Sakura masuk ke dalam.

"Kaa-san, Nee-san!..." Setelah sekian lama mendekap. Suara maskulin itu akhirnya mengudara kembali.

Sakura sampai merinding mendengar teriakan Naruto yang menggema di seluruh ruangan apartemen.

"Kemana mereka?" Naruto menoleh cepat ke arah Itachi. Lelaki itu menegang setelah mendapat tatapan tajam bak mata elang dari Tuan Mudanya.

Sial!

Harusnya Itachi ingat untuk memberitahukan pesan Hotaru pada majikannya. Kakak angkatnya itu sempat mengirimi adiknya pesan email yang masuk ke ponsel pribadi Naruto dan Itachi sendiri sudah membacanya. Sayangnya karena kurang fokus Itachi sedikit lupa untuk mengatakannya.

Matilah Itachi sekarang!

Mood Naruto juga terlihat kurang bersahabat. Apa perlu Itachi berbohong pada Tuan Muda Namikaze sekarang?

Ah tidak! Jika hal itu dilakukan maka Naruto bisa bertambah murka.

"Ano-..." Itachi mulai gugup dan gelagapan.

"Apa? Kau pasti tau mereka berdua kemana?"

Sakura hanya berdiri kalem. Ia tak mau ikut campur dalam masalah kali ini.

"Sebenarnya... Nyonya besar dan Nona Hotaru ijin keluar sebentar. Nona Hotaru mengirimkan pesan email pada anda dan saya sendiri sudah membacanya. Maafkan saya yang terlambat memberitau, anda" Sesal Itachi begitu dalam.

"Kemana!?" Tuntut Naruto lagi seakan sangat kurang puas.

"Nyonya besar dan Nona Hotaru pergi ke rumah sakit. Mereka pergi untuk menjenguk Minato-sama"

Napas Naruto kian memberat. Tak lain pasti Yahiko yang memberitau, Hotaru atas kondisi mengenaskan ayahnya itu.

Tapi ada sesuatu yang janggal!

Mengapa juga ibunya mau menjenguk lelaki berengsek seperti ayahnya di rumah sakit?

Justru harusnya Kushina merasa senang, karena pria laknat itu sudah terbujur kaku di rumah sakit.

Atau jangan-jangan ibunya masih memiliki sedikit perasaan pada ayahnya, hingga wanita itu enggan mengajukan surat perceraian, Kushina malah memilih pergi menjauh dengan masih mempertahankan status perkawinan mereka.

Aneh!

Naruto mengepal kuat. Ia tak suka jika sampai Minato mendapat perhatian lebih dari ibunya. Apalagi berkaca dari kejadian kemarin, Minato memang tidak pantas dikasihani, dosanya terlampau besar. Siapapun tak akan memandangnya iba, melainkan kata jijik lah yang pantas untukknya.

Setelah menarik napas panjang, Naruto bertanya kembali, ia menahan gemeretuk giginya yang tak tertahankan "Sudah berapa lama mereka pergi?"

"Pesan emailnya sampai pukul sepuluh pagi... Jadi saya rasa sudah hampir enam jam mereka pergi" Balas Itachi.

"Itachi sebaiknya kau pergilah, sebelum aku melakukan hal buruk padamu!..." Bisik Naruto amat tajam. Tentu ia melakukannya agar Sakura tak mendengarnya.

Tanpa ba-bi-bu lagi, pria pendek itu menunduk dalam lalu berjalan cepat menuju ke luar apartemen.

"Naruto ada apa?" Setelah Itachi pergi akhirnya Sakura berani bersuara.

Naruto melirik sudut, setelah merasa suaranya mulai normal dan gemeretuk giginya hilang, barulah ia berani membalas pertanyaan kekasihnya.

"Tidak ada. honey kau pasti sangat lelah huh, sebaiknya kau beristirahat saja dulu!..." Perintah Naruto begitu mutlak.

Sakura menengguk ludahnya perlahan, lalu mengangguk paham. Tak ada perlawanan berarti yang bisa Sakura berikan.

"Ayo, biar aku antar kau ke kamar!..."

--

--

--

tbc.

selamat datang desember, liburan sudah menanti :")