Inshi: Hi there! Err… lama tidak berjumpa? *senyum seinosen mungkin*
Raizu: *jitak kepala Inshi* Tentu saja, kamu menghilang selama 3 bulan!
Kumato: *geleng-geleng* Sungguh keajaiban kalo masih ada yang menunggu fic ini.
Inshi: Maaf karena chapternya lama keluar DX *ojigi* Sebenernya aku berniat untuk merombak fic ini karena terlalu banyak plot-hole (kesalahan plot), apalagi masalah usia Fang dkk. Ada yang bilang mereka terlalu muda untuk masalah seperti ini. Tapi gak sempet karena beberapa minggu terakhir kami terlalu sibuk T^T)/
Raizu: Trus?
Inshi: Untuk Chapter kali ini, aku akan melanjutkan dari chapter sebelumnya. Tapi aku minta dengan sangat para reader untuk review 'apa kalian mau aku merombak fic ini?', 'sebenernya kalian terganggu gak dengan usia mereka yang terlalu muda?', dll.
Kumato: Speak up your mind, yooo~
Inshi: Kalo kalian pengen aku merombak fic ini, maka fic ini bakalan di hapus. Dan versi remake bakal di publish seminggu ke depan. Tentu aja dengan jalan cerita yang lebih bagus dan sifat karakter yang lebih kuat… Versi yang lebih baik lah.
Raizu: Seriously, kenapa gak replace aja chapternya? Gak perlu dihapus segala…
Inshi: Soalnya bakalan ada perbedaan yang terlalu besar. Plotnya juga mungkin bakalan beda.
Kumato: Kalo kalian oke sama fic ini, Inshi bakalan ngelanjutin fic ini tanpa merombaknya… yah, dengan segala plot-hole, romansa abal-abal, kegaringan dan kegajeannya.
Raizu: Oke, kayaknya para reader dah ngerti. Silahkan nikmati chapter ini.
Inshi: Semoga ini bisa menebus segala penantian para reader ^w^)/
Kumato: Without further ado, ENJOY and HAPPY READING! XD
Fang kecil duduk di teras dojo, memeluk kedua kakinya hingga menyentuh dadanya. Tangannya yang terlipat di atas lutut menjadi bantalan untuk kepalanya. May mengintip dari pintu dojo dengan ekspresi cemas. Fang lagi-lagi dimarahi oleh Ayah, kali ini sangat hebat. Biasanya Fang segera berlatih tanpa banyak mengatakan apapun, bukan duduk sambil terisak begini. Membulatkan tekadnya, May mendekati Fang.
"Fang..." panggil May sepelan mungkin, tidak mau mengejutkan anak kecil itu.
"Apa." jawab Fang dengan parau, tidak seperti pertanyaan.
May terdiam. Dia ingin menghibur Fang, tapi tidak tau apa yang harus dikatakan. May memposisikan dirinya di samping Fang, masih memikirkan apa yang harus dia katakan pada Fang. Sayangnya tidak ada satupun yang keluar. Kesunyian mengisi tempat itu, tak ada satupun yang bicara. Fang terus membenamkan wajahnya, tidak mengharapkan May mengatakan apapun.
"Hei, ayo kita makan ice cream sama-sama."
"…"
"Bagaimana kalau kita main di taman?"
"…"
"Jangan sedih," ucap May pelan. "Nanti aku juga sedih."
"..."
May menunduk. Itu semua tidak berhasil. Dia tidak suka ketika Fang bersikap begini. Adik kecilnya seharusnya tersenyum dan ceria, bukan menangis begini. "Maaf." Tanpa May sadari, kata-kata itu keluar begitu saja. "Semua ini salahku. Maaf Fang."
Fang bergeming, mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya sendu dan matanya tampak membengkak karena menangis. Tapi ekspresinya seperti baru menyadari sesuatu. Dan ekspresi yang sama ada di wajah May.
'Ini semua salahnya...'
'Ini semua salahku...'
..
..
Deep Inside Chapter 7
Disclaimer: BoBoiBoy punya kami! XD (*dilototin sama pengacara*) Euh, yah… mungkin bukan… (*deathglare semakin intens*) Ok, ok! BoBoiBoy BUKAN PUNYA KAMI!
Genre: Family (obviously), Hurt/Comfort (gak meyakinkan), Romance (abal-abal), Angst (gak ngena)
BoiFang (sedikit?)
Warning: OOC, TYPO, alur kecepatan/kelambatan maju-mundur, abal, bahasa gak nentu, angst & romance gagal, TOTALLY EXTREME SLOW UPDATE.
Sho-AI
(if you don't like it, back off)
Flame akan digunakan untuk membakar semangat… dan mungkin untuk masak mie juga. Kami lavarr… :v
..
..
Akhirnya Fang selesai memakan habis buburnya, meskipun dengan ekspresi terpaksa dan setengah hati. Boboiboy tersenyum puas melihat hasil jerih payahnya. Sulit untuk membuat Fang yang selalu gengsian dan keras kepala mau menuruti perintahnya, jadi bagi Boboiboy ini adalah pretasi yang membanggakan.
Tapi ketika Fang mencoba kembali berbaring, Boboiboy menghentikannya. "Kamu harus minum obat dulu." ucap Boboiboy tegas. Fang mengkerutkan dahinya. Boboiboy bertaruh sekarang anak keturunan china sedang ada konflik batin, mau menurutinya apa tidak. Syukurnya Fang tampak berpikir logis dan menuruti Boboiboy, tentu saja dengan wajah cemberut.
Kemudian Fang memberinya tatapan tajam yang seakan berkata, 'Sudah puas sekarang?'.
Boboiboy tertegun. Itu adalah ekspresi yang sangat dirindukan Boboiboy, raut wajah yang akhir-akhir ini jarang terlihat, mimik yang menandakan Fang adalah… yah, seorang Fang. Anak yang sombong, selalu sok pamer, tempramen dan penuh gengsi. Hal itu membuat Boboiboy menyadari sesuatu, dan Boboiboy tersenyum getir.
"Yeah, aku puas sekarang. Dan kau boleh tidur." Boboiboy berdiri dan menepuk kepala Fang dengan lembut. Fang awalnya tampak bingung, kemudian ekspresinya jadi gak kebaca. Dia hanya makin menunduk dan memalingkan wajahnya. 'Eh? Dia gak suka?' Boboiboy hampir panik, tapi kemudian sadar kepala Fang kan sedang pusing. "Mimpi indah ya," Fang menjawab singkat dan Boboiboy segera meninggalkannya agar Fang bisa mendapatkan istirahat yang diinginkannya.
…
Boboiboy melangkah pelan ke dapur dan melihat May sedang duduk sambil bertopang dagu di meja makan, melamun menatap semangkuk bubur panas di hadapan kursi ksosong. Boboiboy berpikir May pasti menyiapkan bubur itu untuknya.
"Kak May, Fang udah makan dan minum obat," Boboiboy tidak ingin mngejutkan gadis itu jadi dia menyapa dengan pelan, tapi sepertinya May justru tidak mendengarnya. "Kak May?" Kali ini Boboiboy berkata dengan lebih nyaring. Dan benar saja, itu membuat May tersentak kaget.
"Akh! Boboiboy jangan bikin kaget begitu," ucap May sambil mengurut dada. "Itu sama sekali gak baik untuk jantung…"
"Maaf, tadi saya sudah panggil tapi Kak May gak denger," ucap Boboiboy seadanya sambil meletakkan mangkuk bubur yang sudah kosong di tempat cuci piring, membelakangi May ketika ia mengisinya dengan air keran. "Kak May lagi mikirin sesuatu?"
May berubah panik dan agak pucat. "Ye-Yeah, begitulah. Kakak bingung…" May seperti kesulitan mencari kata-kata. "… bagaimana cara menjelaskan semuanya padamu. Kamu ingin penjelasan kan?"
Saat Boboiboy berbalik kepada May, May tampak berhasil menenangkan dirinya sendiri. "Soal itu… Sepertinya tidak perlu, kak," ucap Boboiboy singkat.
"Apa maksudmu?" May menatapnya dengan tatapan bingung.
"Boboiboy sadar beberapa hari ini Boboiboy terlalu memaksa Fang untuk cerita, dan ujung-ujungnya malah menyakiti Fang, membuat dia mengingat lagi hal yang gak mau diingatnya…" Boboiboy menarik napas dalam. Dadanya terasa nyeri ketika mengingat wajah Fang yang menangis. "Tapi pas dikamar tadi, Boboiboy melihat ekspresi Fang yang… biasanya. Itu membuat Boboiboy sadar kalo selama ini Fang baik-baik saja. Selama dia bisa tetap tersenyum dan bersikap seperti itu, seharusnya itu sudah cukup." Boboiboy hampir tercekat pada kalimat. Kalimat itu terasa ganjal, namun juga terasa benar adanya. Boboiboy mencoba menyakinkan dirinya.
May tertegun. Mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu, namun ia segera menutupnya. Yang keluar justru tawa geli. "Hahaha…"
"Kak May?" Tanya Boboiboy bingung sekaligus sedikit takut ketika tawa May tiba-tiba terhenti dan ekspresi May berubah sama cepatnya menjadi serius dan tajam.
"Benar-benar ironi… Rasanya hampir sangat mengesalkan." May menggigit bagian bawah bibirnya dan tangannya yang mengepal bergetar sedikit bagaikan kata-kata itu terasa sangat pahit di lidahnya, tapi Boboiboy tidak yakin kata-kata itu ditujukan padanya. "Boboiboy… Kau sangat menyayangi Fang ya?"
"H-Hah?" Boboiboy tergagap, dan mengubah posisi berdirinya dengan canggung. "A-Apa maksud kakak? Kenapa tiba-tiba…"
"Hah. Kakak tau. Pertanyaan bodoh ya? Tentu saja kau sayang padanya." Boboiboy baru akan mengatakan sesuatu, tapi May memotongnya. "Aku juga sayang padanya. Sangaaatt sayang."
May melempar senyum pada Boboiboy, membuat Boboiboy tertegun. Meskipun bibirnya hampir membentuk huruf 'U', tapi matanya menyinarkan kesedihan yang mendalam. Bagi Boboiboy, itu adalah teriakan kesedihan. Boboiboy menggelengkan kepalanya, seakan ingin menyadarkan dirinya sendiri. "Boboiboy gak maksa, kak. Kalau kakak gak mau cerita, gak apa-apa."
"Yah, kakak mau cerita. Kamu mau mendengarkan tidak?" Tanya May dengan nada serius. "Kakak gak punya banyak waktu lagi…"
Boboiboy tampak ragu sejenak, sebelum menarik kursi maja makan sebelum duduk di hadapan May, menunggu apa yang akan disampaikan oleh gadis itu. May tersenyum kecil, terlewatkan oleh Boboiboy.
"Oke, sebelum kakak mulai ada satu hal yang harus kamu ketahui. Kakak sebenarnya bukan kakak kandung Fang. Kakak adalah anak dari pernikahan pertama Ayah kami. Ayah dan Ibu bercerai, dan kakak tinggal bersama Ibu selama beberapa tahun,"
Boboiboy mengangguk. "Ya, Boboiboy sudah tau tentang itu. Kalian bertemu pertama kali ketika Ayah Fang memperkenalkan kakak saat Fang berumur 8 tahun, kan?" Meskipun begitu, Boboiboy tidak menyangka May adalah kakak tiri Fang. Tapi itu menjawab kenapa mereka berdua sangat mirip.
"Ya, itu adalah pertama kalinya Fang bertemu kakak tapi itu bukan pertama kali kakak bertemu Fang," jawab May singkat. "Sebelumnya Ibu sering datang ke rumah Ayah untuk mengurus beberapa hal penting. Dan kakak beberapa kali melihatnya berlatih di dojo yang dikelola Ayah."
Boboiboy tampak agak terkejut dengan fakta bahwa Ayah Fang mengelola dojo sendiri. Pantas saja Fang sangat lincah, bahkan bisa melompat dari satu atap ke atap lainnya. Pasti ayahnya melatihnya sejak kecil. '… dan sangat keras mendidiknya.' Ucap Boboiboy dalam hati.
"Kalau mendengar dari kisah Fang, kamu pasti tau betapa Ayah sangat keras pada Fang. Itu karena Ayah ingin menjadikan Fang sebagai penerus dojo," jelas May.
"Lalu, bagaimana Kak May sekarang tinggal bersama Fang?"
"Ibu kakak meninggal karena sakit. Karena Ibu tidak punya kerabat lain, kakak tinggal bersama Ayah dan bertemu Fang," jawab May. Boboiboy mengangguk tanda ia mengerti, jadi May melanjutkan kisahnya. "Sejak pertemuan kakak yang pertama kali dengan Fang di dojo, kakak sangat tertarik dengan bela diri, dan kakak pikir kalau kakak belajar bela diri juga maka kakak bisa akrab dengan Fang yang saat itu masih canggung jika bersama kakak… Nyatanya, kakak ternyata lebih baik dari pada Fang. Ibu Fang tidak suka melihat itu dan menekan Fang untuk menjadi lebih baik dari kakak. Dan Ayah… jadi lebih sayang pada kakak dibandingkan Fang.
"Meskipun begitu, Ayah tetap melatih Fang karena Fang tetaplah penerus dojo. Latihan itu semakin hari semakin keras dan ketat. Fang tidak punya waktu untuk melakukan kegiatan seperti anak pada umumnya seperti bermain atau bahkan bergaul bersama teman-temannya sekalipun, demi memenuhi keinginan orangtuanya. Tapi, bagi Ayah dan Ibu Fang… semua itu gak cukup baik."
Tubuh Boboiboy menegak. Kalimat itu mengingatkannya pada sosok Fang di taman.
"Fang tidak bisa bilang pada siapapun kalau dia merasa tersiksa dengan semua itu. Ayahnya tidak menyayanginya lagi, Ibunya terus menekannya, dan kakak… Well, untuk apa curhat pada kakak yang telah menghancurkan keluarganya yang hangat? Kakak sudah mencoba mendekatkan diri dengannya tapi Fang…" May tersenyum getir sambil mengangkat bahu dengan sikap pasrah. Boboiboy tidak mengatakan apa-apa, dan May melanjutkan. "Kakak gak mau melihat adik kecil kakak terus-terusan sedih. Apa yang harus kakak lakukan supaya Adik kakak gak perlu melakukan latihan yang menyiksa itu?"
May mencondongkan tubuhnya dan menumpukan wajahnya di telapak tangannya. Wajahnya menunjukkan ekspresi berpikir keras yang dibuat-buat, sebelum berganti dengan ekspresi 'Aha!' dan berceloteh riang. "Oh, kakak tau! Kakak yang lebih hebat darinya ini bisa menggantikannya! Jadi dia tidak perlu berlatih dan bisa punya waktu untuk dirinya sendiri seperti anak pada umumnya! Ide yang brilian, kan? Jadi kakak berlatih keras, sengaja memamerkan kakak lebih baik darinya dan meminta pada Ayah untuk menjadikan kakak penerus dojo. Dan tebak Ayah bilang apa? Ayah bilang IYA!"
Boboiboy menelan ludah, punya gambaran ke mana arah ide 'brilian' ini. May bersedia menjadi penerus dojo demi Fang. Tapi bagi Fang, May mengambil satu-satunya kesempatan untuk membuktikan diri pada Ayahnya. Boboiboy menatap mangkuk bubur yang mulai dingin di hadapannya. Tiba-tiba semua terasa masuk akal, dan disaat yang bersamaan terasa menyesakkan hingga ia tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Fang membenci kakak sejak saat itu… ah, sejak awal juga dia sudah membenci kakak. Jadi dia pergi dari rumah. Dia bilang pada Ayah mau hidup mandiri demi melatih diri sendiri di sebuah daerah kecil bernama Pulau Rintis, yang mungkin adalah nama pertama yang dia lihat di peta Malaysia," Nada riang yang tak wajar itu berganti menjadi nada datar tanpa emosi. "Kakak berusaha menolongnya. Tapi justru menyakitinya lebih dalam lagi… Ini semua salah kakak."
Boboiboy terdiam. Ia mulai memainkan sendok bubur di tangannya, mencoba menghilangkan perasaan sedih di dadanya. "Jadi karena itu Kak May datang kemari? Supaya bisa berbaikan dengan Fang?" Tanya Boboiboy.
May terdiam. Boboiboy tidak mau menekannya. Ia membiarkan May tidak menjawab pertanyaannya dan justru mulai menyuap sendok demi sendok bubur dingin di hadapannya. Rasanya sangat enak. Anehnya sedikit pahit, tapi hanya samar-samar dan yang penting rasanya lezat. Boboiboy heran kenapa Fang tidak menyukainya. Boboiboy sangat menikmati bubur itu, namun terganggu ketika ia mendengar bisikan pelan.
"Sakit… sakit… aku gak mau… dia membenciku… gak… bawabawabawaakugakmausendirianlagi… gak gak gak…"
"…untuk apa? Membawa Fang… dia membenciku tapi bukan bukan itu itu Boboiboy jam kuasa.. eh kenapa? Kenapa? Kenapakenapakenapa…"
"Kak May?" Tanya Boboiboy heran.
"Sakitsakitsakitsakit kenapakenapakenapakenapa akusayangpadanyakenapakenapa Fangbencipadaku… akubencibencibenci…." May terus menggumankan kalimat yang tidak jelas dengan amat pelan sambil memegangi kepalanya.
Boboiboy menyadari sikap May yang mendadak jadi aneh dan tubuhnya yang gemetaran, dan segera berdiri untuk menenangkan gadis itu. Namun sebelum ia melangkahkan kakinya, Boboiboy merasa pandangannya mengabur dan keseimbangannya goyah. Boboiboy hampir tersungkur ke lantai jika ia tidak segera berpegangan pada meja.
"A-Apa ini…?" Pandangannya berputar dan ia tidak bisa focus. Kesadaran Boboiboy semakin menghilang, sementara May tampak memberontak sendiri.
"Argh!" May berdiri dengan kasar hingga kursi yang didudukinya terjatuh. Tangannya masih mencengkram kepalanya sendiri. "Gakgakgakgak! Aku kesini untuk membawa Fang! Dia adikku! Gak!" Meskipun hampir kehilangan kesadaran, Boboiboy bisa melihat ekspresi takut dan kesakitan dari raut wajah May.
"Kak… May…" Usaha Boboiboy untuk melawan rasa pening di kepala dan lemas pada tubuhnya sia-sia. Setiap kali ia ingin menggerakkan tubuhnya, ia justru kehilangan keseimbangan. Boboiboy pun ambruk ke lantai. Kontak kasar dengan lantai tidak membuat semuanya membaik, namun dengan sisa kesadaran yang tersisa Boboiboy bisa melihat kaki May, yang tidak banyak bergerak lagi, menandakan gadis itu kembali tenang. Boboiboy hampir bernapas lega. Ya, hampir. Karena detik kemudan ia mendengar sesuatu yang sangat buruk.
"…ambil jam kuasa…" Boboiboy melihat kaki May berjalan perlahan menuju dirinya. "…Tuan Adudu…"
'Adudu?!' Jantung Boboiboy berdetak 2 kali lebih cepat. 'Kenapa Kak May bisa tau nama Adudu?! Dan barusan dia memanggilnya Tuan?!' Kaki May semakin dekat. Tanpa pikir panjang, Boboiboy bangun dan melesat mundur. Langkahnya goyah dan gerakannya serampangan, tapi Boboiboy tidak peduli. "Boboiboy Kuasa Tiga!"
Minus aksi melompatnya, Boboiboy tetap bisa berpecah tiga. Sekarang dihadapan May berdiri 3 sosok Boboiboy. Boboiboy Halilintar tampak bersiaga, sementara Boboiboy Taufan kelihatan berusaha menahan kantuk yang melanda. Keduanya memasang posisi bertahan satu langkah di depan Boboiboy Gempa, melindungi sosok yang kelihatan paling rapuh saat ini itu.
"Akh… Lemas sekali…" Boboiboy Taufan menguap lebar. "Ngantukk…"
Boboiboy Halilintar menahan wajahnya untuk tetap datar dan tenang, melirik mangkuk bubur di atas meja. "Kak May pasti memasukkan sesuatu di bubur itu.."
Boboiboy Gempa tidak mengatakan apa-apa, fokus untuk tidak ambruk di tempat itu.
"Serahkan Jam Kuasa…" Suara lirih May membuat ketiga Boboiboy menatap gadis itu. "Tuanku Adudu menunggu." May tampak pucat tanpa ekspresi. Matanya kosong, namun terpaku pada Boboiboy dengan tatapan tajam dan terfokus… seakan siap menyerang kapan saja.
Boboiboy Halilintar menghela napas. "Ini tidak akan berakhir baik."
..
..
Inshi: Dah. Bersambung ._.)a Yang penting aku apdet.
Raizu: Lagi-lagi apdetan yang singkat dan menggantung setelah waktu yang lama ya "=_=)
Kumato: Itulah keahlian Inshi! X3
Raizu: Keahlian macam apa itu!
Inshi: Sudah, sudah… Jangan bertengkar.
Raizu: Kamu pikir ini gara-gara siapa hah?!
Inshi: Anyway, makasih udah mampir dan membaca! Terima kasih juga untuk yang sudah mereview, dan special thanks untuk Nakemi Indo yang stia mengingatkan :D Sekali lagi maaf karena lama menunggu m(_ _)m
Raizu: *sigh* Jangan lupa review. Kalo hasilnya masih abu-abu, mungkin fic ini bakalan…
Inshi: Jangan mengancam begitu woi!
Kumato: Pokoknya nasib fic ini ada di tangan kalian! ^w^)/
Inshi: True. So please review and STAY AWESOME! XD *thumbs up*
