Why Monster Born?

Chara: Dazai Osamu x Akutagawa Ryuunosuke, Nakahara Chuuya

Genre: Family, hurt/comfort.

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Warning: OOC, typo, ending maksa parah, alur kecepetan, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta diikutkan pada event "dazai multiship 2019" di tumblr.


Day 7: Freudenschade/Monster


"Ryuunosuke-kun tahu kenapa monster diciptakan?"

Usai pertanyaan itu diajukan, hening kembali dipecahkan oleh suara televisi, dan kunyahan seorang bocah bernama Ryuunosuke. Cara makannya berantakan membuat nasi berceceran di sana-sini. Sendok yang telah disediakan pun jatuh ke bawah meja tanpa niat diambil, karena Ryuu lebih menyukai tangan untuk menyuap sosis, serta menjauhkan brokoli ke pinggir piring.

"Jawabannya sederhana sekali. Manusia sangat lemah sehingga menciptakan makhluk yang lebih kuat dari mereka." Brokoli yang Ryuu sisihkan digelindingkan menggunakan sendok, agar kembali ke tengah piring. Pandangan mereka bertemu sejenak. Ryuu tampak membenci perbuatan pria itu.

"Tidak boleh begitu, Ryuunosuke-kun. Kamu harus makan sayur biar gizimu seimbang " Sendok yang terjatuh diambil olehnya, lantas diberikan pada Ryuu. Bocah berpiama itu memiringkan kepala, dan sekadar memperhatikan pria di seberangnya.

"Cara memegangnya seperti ini. Ayo diikuti."

Contoh telah diperlihatkan. Hanya saja, Akutagawa justru menggigitnya membuat Dazai Osamu–pria di seberang meja menjauhkan sendok dari jangkauan sang bocah. Nasi dan lauk yang tersisa kembali Ryuu lahap dengan tangan. Entah masakan sesederhana sosis goreng terlalu nikmat atau bagaimana, Ryuu sampai menjilat permukaan piring begitupun jari-jarinya.

"Ya ampun~ Apa yang sebenarnya kulakukan? Jika Mori-san tahu Ryuunosuke-kun kuberi makanan manusia, dia pasti marah." Skenario yang seharusnya Dazai ikuti adalah, ia mengurung Akutagawa di ruang bawah tanah. Memborgol kaki dan tangan bocah itu, lantas menyuntikkan obat penenang.

Mori Ougai adalah pimpinan di asosiasi ilmuwan Yokohama. Tiga tahun belakangan, Dazai bekerja di bawah komandonya untuk menciptakan 'mahakarya' yang suatu hari nanti, akan menyelamatkan umat manusia dari kepunahan. Dua minggu terakhir, televisi gencar memberitakan meteor yang sesegera mungkin menghancurkan bumi. Berita tersebut telah ada sejak dulu. Namun, semua menganggap remeh bahkan berpikir; 'itu hanya hoaks'.

Hanya Mori Ougai yang memercayainya, sehingga ia mengumpulkan orang-orang dengan memaksa mereka. Tiga tahun penciptaan 'mahakarya' itu jatuh-bangun, akhirnya berhasil dan diresmikan seminggu lalu.

"Memberi nama padanya juga kesalahan, karena aku semakin melukai diriku sendiri."

Guru IPA berkata hujan terbuat dari panas matahari yang membuat laut menguap. Uap menciptakan awan. Awan pun perlahan menjadi besar, dan menjatuhkan titik-titik air ke bumi. Namun, Dazai tidak memerlukan proses serumit itu karena ia hanya membutuhkan jam saku, untuk menciptakan gerimis di sepasang mata yang entah berapa lama lagi harus terjaga dalam kegundahan, frustrasi dan rasa lelah.

"Bagaimana pendapatmu soal ini, Chuuya? Aku jadi semakin takut untuk menemuimu di surga," tanya Dazai kepada selembar foto di jam saku. Wanita berambut senja itu memiliki senyum yang cantik, dan Dazai menyesal sempat melupakannya.

Selain wanita bernama Chuuya, ada juga dirinya dan seorang cowok berusia delapan tahun. Chuuya adalah janda beranak satu–bocah di foto ini merupakan putra semata wayangnya. Mereka menikah empat tahun lalu. Dazai jatuh cinta, karena Chuuya memiliki rambut yang cantik sewaktu dikuncir.

"Chuuya pasti kesepian, karena aku merebut dia darimu. Di sana pasti membosankan. Tetapi, jangan pernah kembali ke sini untuk menghantuiku."

Jika Chuuya (juga) kembali, Dazai semakin tidak tahu alasannya hidup.

"Dunia yang ini lebih mengerikan, Chuuya. Kamu hanya boleh memarahiku saat aku tiba di sana."

Cita-cita Dazai bukanlah ilmuwan, walau ia mencintai IPA sejak kecil. Dazai hanya menginginkan peran sebagai guru menggambar, suami yang baik untuk Chuuya, dan menjadi heroin bagi bocah itu. Berkeliling dunia sembari Dazai membawa kanvas, palet, cat air serta kuas pasti menyenangkan. Ia bisa melukis berbagai pemandangan, sementara Chuuya bersenang-senang dengan sang putra.

Jam Big Ben pasti lebih besar dari jam di rumah, bukan? Meskipun Dazai sebatas melukiskannya di benak, khayalan itu tetap terasa salah karena Dazai tahu, ia tak lagi berhak memegang kuas setelah menciptakan 'mahakarya'

"Maaf, Ryuunosuke-kun. Aku hanya sedikit sakit. Apa kamu sudah–"

Hilang. Ryuu tidak ada di seberang meja. Televisi masih menyala, ketika Dazai memasuki ruang tamu. Sebatang krayon merah menggelinding ke arahnya. Ia pun tidak sengaja menginjak HVS yang berserakan.

"Ayo cuci tangan dulu. Nanti Ryuunosuke-kun boleh–"

Tanpa menjelaskan apa pun, Ryuu memberikan krayon cokelat pada Dazai. Ilmuwan muda itu menerimanya–semakin bertanya-tanya ketika Ryuu menyodorkan HVS.

"Menggambar."

"Kutemani saja, ya? Aku tidak bisa menggambar."

"Menggambar." Tangan Dazai ditarik agar mendekat ke meja. Ryuu memperlihatkan HVS yang telah dipenuhi warna-warni krayon.

"Bukankah ini ..."

Ketika telunjuk Ryuu mengarah pada pigura di atas lemari, Dazai seketika paham apa maksudnya. Tangan sang ilmuwan gemetar membuat krayon di genggamannya terjatuh. Lutut Dazai bahkan melemah, dan ia terjatuh di hadapan Ryuu yang masih berwajah datar.

"Papa. Menggambar."

"Dari mana kamu mempelajari kata itu?" Kini telunjuk Ryuu terarah ke televisi. Acara yang semula berita telah berganti menjadi drama keluarga.

"Aku bukan papamu, tetapi tuanmu. Tuan yang menciptakanmu, sang 'mahakarya' untuk menghancurkan meteor."

"Papa. Menggambar."

"Berhenti, Ryuunosuke-kun. Kalau Mori-san tahu kamu bisa bicara, kau akan disiksa."

"Menggambar. Mama. Papa."

"Bagaimana kalau menggambar anjing? Lihat. Seperti itu bentuknya." Adegan di mana bocah perempuan dan laki-laki mengejar anjing Dazai tunjukkan pada Ryuu. Bocah itu mengangguk sekilas, kemudian meniru Dazai yang tersenyum.

"Mama. Papa. Anjing."

"Hanya anjingnya saja. Lucu, bukan? Itu jenis labrador." Tidak. Dazai mohon jangan melebihi ini. Ia harus berhenti, karena Dazai tak ingin membiarkan luka menggerogoti napasnya di masa kini.

"Mama. Papa. Labrador. Anjing."

"Terbalik. Harusnya anjing labrador." Bodoh sekali. Terlalu idiot membuat Dazai kehabisan tawa, dan malah sesak yang mengisi dada. Tahu-tahu pula ia menangis, walau kali ini hujan bukan diciptakan oleh jam saku -melainkan dari kesalahan di waktu lalu, yang baru sekarang ini mendatangkan sesal.

"Anjing. Labrador."

"Ya. Benar begitu. Ryuunosuke-kun pintar." Rambut hitam sang bocah dielus lembut. Dazai memutuskan beranjak, setelah memantapkan niatnya untuk mengulang hubungan mereka dari awal. Namun, Ryuu menarik ujung kaus Dazai membuat sang ilmuwan kembali berjongkok.

"Kenapa, Ryuuno– maksudku B714?"

"Papa. Menangis."

DEG!

Apa pun selama bukan telunjuk Ryuu yang ingin menghapus air matanya. Apa pun boleh asalkan Dazai berhenti diperhatikan oleh Ryuu. Apa pun boleh menghancurkannya, maka dari itu jauhkan Ryuu yang kehadirannya ingin Dazai berhenti sesali!

(Namun, tidak satu pun doanya didengarkan. Dazai sangat takut sekarang. Menggigil sampai ia memejamkan mata)

PLAKKK!

Sebelum telunjuk Ryuu menghapus air matanya, Dazai lebih dulu menepis lantas merengkuh Ryuu. Menangis amat deras seolah-olah esok air matanya akan kering abadi -tidak mungkin lagi turun barang setitik, karena memang Dazai meniatkan demikian. Benaknya sudah bertekad untuk hancur, sembari memeluk masa lalu di hadapannya ini. Salam perpisahan sengaja Dazai ucapkan dengan cara begini, agar ketika dikenang ia menjadi sosok seorang ayah.


"Aku setuju untuk bekerja denganmu. Kenapa kau membunuh Ryuunosuke-kun?"

Sebelumnya adalah Chuuya. Kini giliran Ryuu yang terkapar di pelukan Dazai. Ia hanya guru menggambar biasa. Kenapa harus menjadi ilmuwan, demi menciptakan 'mahakarya' berupa monster? Menghancurkan meteor yang belum tentu jatuh ke bumi?

"Monster ini membutuhkan wadah seorang anak kecil. Putra angkatmu mungkin bisa berguna, Dazai-kun."


Ryuu tak lebih dari kenangan yang bangkit, dan hadir sebagai hantu dari masa lalu karena sesungguhnya, bocah itu meninggal usai dibunuh Mori.

Jika seseorang bertanya, 'kenapa Mori-san memilihmu?', maka Dazai menjawab, 'dia adalah guru IPA-ku di SMA'. Bakat sains Dazai terlalu sayang apabila disia-siakan. Intuisi Mori terbukti benar, karena Dazai menjadi pencipta 'mahakarya' setelah mereka gagal puluhan kali.

"B714 menyayangi papa?"

"Sayang. Papa." Entah Ryuu sekadar mengulang ucapannya atau serius merasa demikian, Dazai tahu jawaban itu lebih dari cukup. Seorang ayah harus percaya pada putranya, bukan?

"Jika B714 sayang papa, keluarkanlah rashomon untuk membunuhku. Kamu tinggal memanggil nama monster itu, dan dia akan menjawabmu."

"Rashomon."

"Ucapkan juga dalam hatimu. B714 harus yakin, baru rashomon akan menjawabmu."

"Rashomon. Bunuh."

"Awal-awal memang sulit. Tetapi–"

Pelukan Dazai gemetar, karena pinggangnya digores dari dua sisi. Dia tinggal mengarahkan Ryuu untuk menusuk jantung–sedikit lagi hingga Dazai bisa menebus kesalahannya yang kelepasan, memberi nama 'Ryuunosuke' pada monster ini–karena telah merawat, mengajari Ryuu cara memegang sendok, bahkan membiarkan ia menggambar foto keluarga di atas lemari.


Hanya raganya yang seperti Ryuunosuke, tetapi dia bukan Ryuunosuke karena monster ini bukan putra Dazai dan Chuuya. Anak mereka hanya satu. Sudah mati gara-gara nasib melimpahkan kesialan pada keluarga kecil mereka.


"Papa. Gemetar."

"Sebenarnya papa sedang demam, karena itu gemetar. Namun, B714 tidak perlu khawatir. Penderitaan papa akan segera berakhir, jika kamu menusukkan rashomon ke-"

Hiks ... hiks ...

Suara tangisan? Dazai sedikit meregangkan pelukan mereka, dan mendapati mata Ryuu basah. Rashomon di belakang punggung Dazai bukan lagi monster bergigi tajam, melainkan bunga mawar yang menghadiahkan kelopaknya kepada Dazai. Tiruan kembang itu seolah-olah Dazai terima dengan jemarinya sendiri, lantas menghilang serta kembali pada tubuh Ryuu.

"Papa. Maaf. Bikin. Nangis. Papa."

"B714 kenapa menangis?" Apa karena Dazai berhenti memanggil namanya? Namun sejak awal, bukankah Ryuu tidak peduli karena dari seluruh kata yang ia dengar, 'Ryuunosuke' selalu luput untuk diingatnya?

"Rashomon. Monster."

"A-ah ... itu ... nanti B714 akan mengerti, kok. Mori-san yang bakal menjelaskannya padamu."

"Aku. Bukan. Monster."

"Namamu kan B–", "Aku. Ryuunosuke-kun. Kamu. Papa," ucap Ryuu menunjuk dirinya dan Dazai bergiliran. Mawar dari rashomon menjadikan lidah Dazai kelu, juga membuatnya bertanya-tanya kepada diri sendiri.


Apa yang sebaik ini bisa dinamakan monster?

Yang sebaik ini hanyalah Ryuunosuke. Bagaimana Dazai tega menyebutnya monster?


"Aku. Sayang. Papa."

"Maaf, Ryuunosuke-kun. Maaf ... papa juga menyayangimu sebenarnya." Menyayangi yang menurut Dazai tidak melulu harus dikatakan, karena jika diucapkan terlalu sering perasaannya menjadi bertambah jelas.

"Rashomon. Suka. Bunga. Rashomon. Baik."

"Nanti buatkan lagi, ya? Papa tunggu bunga darimu. Sekarang kita menggambar."

"Jam. Raksasa. Papa."

"Namanya Big Ben. Setelah semua ini berakhir, ayo ke sana."

Meski Dazai tahu ketika meteor berhasil dimusnahkan, Ryuu akan dibunuh oleh Mori.

Tamat.

A/N: Harusnya ide buat day 7 bukan begini. aku awalnya udah bikin cerita drabble tentang DaChuu, DaAku sama DaAtsu yang berkaitan dengan monster. tapi oh tapi, dokumennya hilang~ sayang banget padahal reav dah kasih idenya. gambaran juga dah lengkap, tapi aku emoh kalo disuruh nulis ulang lagi hehehe~ jadilah ganti baru aja. ini juga idenya dadakan banget, dapet dari pas lagi ngantuk2nya jaga toko.

oke thx buat yang udah follow, fav, review atau sekedar lewat, aku menghargai apapun yang kalian berikan padaku~

Balasan review:

Vira: kuingin sujud sukur karena ternyata fic di day 6 enggak burik, dan malah menghangatkan hati hehehe. thx ya udah mampir. semoga enjoy juga sama ide dadakan di day 7 ini.