Bab 7

Jimin ada di sana. Menatap dari kejauhan di dalam sebuah rumah yang tepat berada di depan rumah putih itu. Jimin memang sengaja membeli rumah ini jika saatnya tiba. Matanya terus menatap ketika Yoongi memasuki rumah itu. Dia tidak bisa menahankan apa yang bergejolak di benaknya dan memejamkan matanya. Akankah Yoongi menyadarinya? Menyadari Jimin yang menunggu saat-saat ini tiba? Menunggu sekian lama dalam kegelapan untuk Yoongi?

Matanya menyorot tajam ketika melihat pintu rumah itu terbuka dan Namjoon menggendong tubuh Yoongi yang pingsan terkulai tak berdaya. Gerahamnya mengeras, menatap sosok Namjoon yang lengannya melingkari tubuh Yoongi.

Tidak bisa dibiarkan...memang waktunya akan segera tiba.

.

.

.

Aroma kopi yang familiar menyentuh hidung Yoongi, membuatnya mengerjapkan mata dan mengernyitkan keningnya, kepalanya terasa pening seperti dihantam sesuatu, dia membuka matanya dan menyadari bahwa dia berada di dalam kamarnya sendiri.

"Kau sudah sadar? Kau ingin secangkir kopi?" ranjangnya bergemerisik ketika Namjoon duduk di kaki ranjangnya, membawa secangkir kopi yang mengepul panas. Yoongi berusaha duduk pelan, dan menatap Namjoon yang tersenyum penuh rasa bersalah.

"Aku tidak tahu orang yang habis pingsan boleh minum kopi atau tidak." Namjoon menatap Yoongi lembut, "Hanya saja aku tahu kau menyukainya." Yoongi mau tak mau membalas senyuman lembut itu, "Terima kasih." Bisiknya pelan ketika Namjoon menyodorkan cangkir kopi itu ke bibirnya, dia menerimanya dan menyesapnya pelan.

Rasa pahit bercampur manis yang tajam langsung mengembalikan kesadarannya, Yoongi menyerahkan kembali cangkir kopi itu kepada Namjoon dan lelaki itu meletakkannya di meja kecil di dekat ranjang.

"Aku pingsan." Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Namjoon menganggukkan kepalanya, "Langsung pingsan setelah melihat lilin berwarna biru itu, sama seperti kejadian di restoran itu."

Yoongi menghela napas panjang, kelebatan ingatan itu membuat jantungnya berdenyut pelan. Lilin berwarna biru sejumlah Sembilan buah yang disusun setengah melingkar di dalam kamar rumah itu memang tidak menyala, berbeda dengan yang direstoran. Tetapi efeknya sama, menghantamnya sekeras badai. Pertanyaannya...Kenapa?

Yoongi mulai merasa pening karena tidak menemukan jawaban. Dengan lembut Namjoon mendorongnya kembali ke ranjang dan menyelimutinya, "Jangan dipaksakan, kau akan ingat nanti, pelan-pelan ya, sekarang istirahatlah." Lelaki itu berdiri lalu membungkuk di atasnya, sejenak meragu, tetapi kemudian mengecup keningnya, membuat Yoongi memejamkan mata.

Ketika Namjoon melangkah meninggalkan kamar itu, Yoongi menatap nyalang ke langit-langit kamarnya, merasa bingung.

.

.

.

"Aku tidak tega melakukan ini kepadanya, sepertinya setiap dia berusaha mengingat, dia pingsan." Namjoon bergumam kepada atasannya melalui telepon. Atasannya terdiam, tampak berpikir, kemudian berkata, "Kau harus membuatnya ingat, Namjoon. Hanya ingatannya lah yang bisa membantu kita menemukan Sang Pembunuh. Kau tahu hanya Yoongi dan Ayahnya lah yang pernah bertatap muka dengannya. Ayah Yoongi sudah meninggal, jadi hanya Yoongi satu-satunya harapan kita."

Namjoon menghela napas, menyadari kebenaran kata-kata atasannya. Tetapi melihat Yoongi yang pucat dan begitu rapuh itu membuat hatinya sakit. Bagaimana nanti kalau Yoongi menyadari kebenarannya? Sekarang Namjoon tidak boleh mengatakannya, tetapi pada saatnya nanti, Yoongi akan tahu, dan dia akan...hancur.

.

.

.

"Kami harus menjagamu, berbahaya kalau kau ada di rumah sendirian, Sang Pembunuh bisa datang kapan saja dan membunuhmu." Yoongi mengernyit mendengar perkataan Namjoon. Entah kenapa batinnya masih belum siap. Kemarin hidupnya baik-baik saja, tanpa kecemasan apapun, mulai menapak hidup seperti manusia biasa saja. Tetapi sekarang hidupnya dipenuhi kecemasan dan konspirasi rumit yang masih sulit dipercayainya, dan nyawanya terancam.

Kenapa hidupnya tidak bisa biasa-biasa saja seperti orang-orang kebanyakan?

"Kami akan memindahkanmu ke tempat perlindungan yang tidak terlacak, kau akan berada di dalam pengawasan kami, dua puluh empat jam." Namjoon melanjutkan ketika melihat Yoongi tidak berkata apa-apa.

Yoongi membelalakkan matanya, menatap Namjoon dengan marah, "Apakah kau akan membuat hidupku dalam penjara Namjoon? Selalu dalam pengawasan hanya karena ancaman yang bahkan belum terbukti kebenarannya? Apakah kau akan merenggut kehidupan normalku ini dariku? Tidak!" Yoongi menatap Namjoon penuh tekad.

"Aku tidak akan membiarkan kau melakukan itu kepadaku!" Namjoon menatap Yoongi seolah kesakitan, "Ancaman itu benar adanya Yoongi, kau dalam bahaya, bagaimana agar aku bisa membuatmu mengerti?" suaranya tampak frustrasi.

Tetapi Yoongi memang tidak mau mencoba mengerti, dia tidak akan membiarkan Namjoon tiba-tiba datang kembali ke dalam kehidupannya dan merubah semua, apalagi setelah semua sandiwara palsu yang mengacak-acak seluruh perasaan Yoongi. Yoongi tidak mau menyerah lagi pada Namjoon dalam cara apapun.

"Aku tidak mau kau terus ada di sini mengawasiku. Aku ingin kau dan teman-temanmu pergi. Aku tidak butuh penjagaanmu!" Yoongi mengangkat dagunya dan menatap ke pintu, "Silahkan, kau tahu dimana pintunya bukan? Atau aku harus mengantarmu?" Namjoon terpaku mendengar pengusiran Yoongi yang terang-terangan.

Tetapi dia kemudian mengangkat bahu dan mendesah. Yoongi pantas membencinya, apalagi setelah tahu bahwa alasan Namjoon mendekatinya dulu adalah demi pekerjaan, meskipun pada akhirnya Namjoon benar-benar memiliki perasaan kepada Yoongi, perempuan itu tampaknya tetap tidak bisa memaafkannya.

Namjoon memutuskan akan memberi Yoongi ruang sambil berharap pada akhirnya perempuan itu akan berpikiran panjang dan mau menerima keadaan ini. Sementara itu, dia dan rekan-rekannya akan terus menjaga Yoongi diam-diam.

"Selamat tidur Yoongi." Namjoon menatap Yoongi dan tersenyum tipis ketika Yoongi memalingkan muka dan tidak menjawab. Lelaki itu lalu membuka pintu dan melangkah pergi, meninggalkan kamar Yoongi.

.

.

.

"Kau sakit Yoongi?" Suara Sulli di telepon tampak cemas, apalagi ketika mendengar suara lemah Yoongi saat menjawab teleponnya. Yoongi mendesah, dia masih berbaring di ranjang, merasa tubuhnya lemas dan tidak enak. Ingatan akan lilin-lilin berwarna biru itu membuat dadanya sesak, karena itu Yoongi berusaha menutup benaknya.

"Aku tidak apa-apa Sulli, hanya sedikit kurang darah."

"Mau kucarikan darah?" Sulli terkekeh, dalam keadaan cemaspun sahabatnya itu masih bisa bercanda, membuat Yoongi tertawa. "Ada-ada saja." Gumam Yoongi dalam tawanya, tetapi kemudian dia menghela napas panjang.

"Kenapa Yoongi?" Sulli langsung bertanya. Sahabatnya itu memang mempunyai insting hebat dalam mendeteksi sesuatu yang tidak beres, dan kadangkala Yoongi memang sulit menyembunyikan sesuatu darinya. Mereka memang baru mengenal sebentar, Sulli adalah pegawai lama, dan ketika Yoongi masuk pertama kali ke perusahaan sebagai pegawai baru, Sulli yang pada dasarnya ramah dan baik menyapanya lebih dulu...dan kemudian mereka menjadi semakin akrab seiring dengan berjalannya waktu.

"Tidak...aku cuma sedikit pusing." Yoongi tidak berbohong dia memang merasa pusing. "Kau ingin aku ke sana?"

"Tidak. Jangan. Tidak apa-apa kok. Aku akan tidur saja dan beristirahat, besok pagi pasti sudah baikan kok." Sulli menghela napas panjang di seberang sana. "Oke. Kalau ada apa-apa beritahu aku yah."

"Terima kasih Sulli." Yoongi tersenyum sebelum menutup teleponnya. Dia bersyukur bisa memiliki teman seperti Sulli karena sekarang dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.

.

.

.

"Tenanglah Namjoon, aku sudah mengirimkan agen terbaik untuk menggantikanmu mengawasi rumah Yoongi, mereka ada di sana dua puluh empat jam, Sang Pembunuh itu tidak akan bisa lolos dari pengawasan mereka, Yoongiakan baik-baik saja. Lagipula ini kan hanya semalam, besok kau sudah bisa kembali ke sana lagi dan mengawasi Yoongi." Atasannya bergumam panjang lebar untuk menenangkan Namjoon, dia memang merasakan nada gelisah dalam suara Namjoon.

Namjoon menghela napas sambil memegang ponselnya. Lelaki itu melirik jam tangannya, sebentar lagi dia akan menaiki penerbangan terakhir menuju kantor pusatnya, tempat atasannya bertugas. Ada informasi penting dan pembahasan strategi yang harus mereka lakukan segera menyangkut beberapa misi.

Sebenarnya Namjoon tidak ingin meninggalkan pengawasannya atas rumah Yoongi, tetapi atasannya meyakinkannya bahwa ini hanya semalam, dan seperti malam-malam yang lain, Yoongi akan baikbaik saja. Tetapi bagaimanapun juga, perasaan tidak enak itu menggayuti benak Namjoon. Instingnya sebagai seorang agen terlatih seolah-olah menusuk-nusuk punggungnya dari belakang, membuatnya merasa tidak enak. Seperti ada bahaya yang mengintai dan semakin dekat...

Panggilan terakhir kepada penumpang terdengar dan Namjoon bergegas melangkah, sebelum dia mematikan ponselnya dia menelepon.

"Bagaimana?" tanpa basa-basi Namjoon langsung bertanya, tahu pasti bahwa orang di seberang sana tahu arti pertanyaannya.

"Semua OK." Jawab lawan bicaranya di ponsel singkat. Namjoon menghela napas panjang, lalu memutuskan pembicaraan, dia menatap ponselnya, sejenak meragu, lalu menghela napas lagi dan mematikan ponselnya.

Yoongi akan baik-baik saja. Namjoon meyakinkan dirinya dalam hati.

.

.

.

"Semuanya OK." Zelo bergumam tegas, karena dia tidak menemukan apapun yang mencurigakan dalam pengawasannya, nada suaranya meyakinkan, membuat Namjoon yang sedang meneleponnya di sana terdengar puas. Setelah menutup telepon, dia tersenyum kepada rekannya yang ada di sebelahnya di dalam mobil itu.

"Kau mengantuk ya." Zelo tersenyum kepada rekannya yang entah sudah berapa kali menguap di sebelahnya. Mereka memang dipanggil untuk bertugas malam ini secara mendadak tanpa ada persiapan apapun, memang sudah tugas mereka untuk siap sedia kapanpun itu, tetapi rekannya itu tampaknya memang sedang benar-benar tidak siap secara fisik untuk berjaga malam ini, isterinya Himchan, baru melahirkan dan seperti Ayah baru lainnya yang baru membawa pulang bayinya, lelaki itu pasti kurang tidur.

"Kau bisa tidur dulu Yongguk hyung, aku akan berjaga." Zelo menawarkan dengan iba. Lagipula tidak ada salahnya menyuruh rekannya tidur sebentar karena malam ini tampak tenang dan tampaknya apa yang ditakutkan oleh Namjoon tidak akan terjadi, tidak akan ada penyusup, penculik atau bahkan Sang Pembunuh yang akan datang. Zelo mengusap pistol yang tersembunyi di balik saku jasnya, lagipula dia akan siap sedia menembak penjahat itu kalau dia berani-beraninya muncul.

Yongguk menatap Zelo dengan penuh rasa terima kasih, "Mungkin aku akan tidur sebentar ya Zel. Seperempat jam." Matanya tampak merah, dia benar-benar kurang tidur dan berjaga malam ini terasa sangat berat baginya. Zelo menganggukkan kepalanya, menegaskan persetujuannya,

"Tidurlah hyung." Lelaki itu mengedarkan pandangannya keluar menatap ke arah rumah mungil Yoongi dari jendela mobilnya. Dia akan berjaga di sini sementara rekannya tidur, nanti kalau rekannya sudah bangun, dia akan melakukan patroli ulang mengitari seluruh sisi rumah Yoongi, memastikan tidak ada apa-apa.

Dalam sekejap terdengar suara dengkuran Yongguk, membuat Zelo melirik dan tersenyum geli. Dasar. Rupanya rekannya itu sudah sangat mengantuk. Malam makin larut dan Zelo pun tetap berjaga, berusaha menajamkan telinga dan pandangan matanya terhadap gerakan apapun yang sekiranya mencurigakan, meskipun suara dengkuran Yongguk yang riuh rendah sedikit mengganggu konsentrasinya.

Lalu sebuah gerakan secepat kilat yang terlambat disadarinya membuatnya waspada. Sayangnya, dia lengah. Sebuah jarum suntik tiba-tiba melewati jendela yang terbuka itu, dipegang oleh tangan yang cekatan dan menancap di lehernya. Matanya seketika membelalak kaget sebelum akhirnya menutup, kehilangan kesadarannya.

Yongguk yang masih tertidur pulas merupakan sasaran yang sangat mudah. Hanya beberapa detik untuk menyuntikkan obat bius itu dan membawanya tidur lebih dalam.

Jimin tersenyum sinis menatap dua agen yang sekarang tertidur pulas di dalam mobil. Mereka akan tertidur sampai pagi, tergantung bagaimana reaksi tubuh mereka akan obat bius itu.

Minimal mereka akan terlelap beberapa lama dan membiarkan Jimin bergerak bebas, lelaki itu tidak butuh waktu lama, hanya beberapa menit untuk mengambil kembali Yoongi.

Tubuh tinggi dan ramping Jimin melangkah tenang menuju rumah Yoongi, menuju perempuan yang mungkin sekarang sedang tertidur lelap, tidak tahu bahaya apa yang akan mendekatinya.

.

.

Ketika malam itu bergayut, Yoongi duduk termenung di atas ranjang, entah kenapa malam ini tidak seperti biasanya. Yoongi merasa ngeri, rasa ngeri ini hampir sama dengan kengerian yang selalu menyerangnya di malam-malam dulu. Burung di pepohonan depan yang rimbut berbunyi-bunyi dengan suara menakutkan, mencicit seolah memberi pertanda.

Tetapi pertanda apa?

Yoongi bolak-balik memeriksa alarm pintunya, dan menghela napas panjang. Alarm sudah terpasang dengan sempurna, pintu sudah tertutup rapat dengan kunci dan gerendel terpasang. Tetapi kenapa dia tetap merasa takut?

Yoongi masuk lagi ke kamar dan berbaring, menarik selimutnya sampai ke punggung. Seharusnya dia sudah merasa bebas, seharusnya dia tidak didera ketakutan lagi. Tetapi kenapa perasaan ini sama? Rasanya sama seperti dulu, jauh di masa lalu, dimana kenangan buruk menyeruak, kenangan yang sangat ingin dilupakannya.

Tiba-tiba terdengar suara keras di pintu belakang rumahnya. Yoongi begitu terperanjat sampai terlompat dari tempat tidurnya. Jantungnya berdebar dengan keras, dia menatap ke arah pintunya dan meringis...

Apakah dia tadi lupa mengunci pintu kamarnya...? Apakah ada seseorang yang menerobos pintu belakangnya? Bagaimana kalau orang itu masuk ke kamarnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu mendorong Yoongi melompat panik, dan kemudian memeriksa kunci pintu kamarnya.

Terkunci...

Yoongi menghela napas panjang, dan menyandarkan tubuhnya di pintu. Lama dia menunggu, mungkin akan ada suara-suara lagi diluar sambil menahankan debaran jantungnya yang membuatnya makin sesak napas. Tetapi suasana sungguh hening, tidak ada suara apapun. Yoongi bahkan merasa bahwa dia hampir mendengar debaran jantungnya sendiri yang berpacu dengan begitu kuatnya.

Apakah suara di pintu belakangnya tadi hanyalah halusinasinya?

Setelah menghela napas panjang, Yoongi membuka kunci pintunya. Dia tahu bahwa dia telah melakukan tindakan bodoh seperti di film-film horor yang sering dilihatnya, mendengar suara aneh...bukannya lari dan bersembunyi tetapi malahan mendatangi bagaikan ngengat yang tertarik mendatangi api yang akan membunuhnya.

Rumah Yoongi kecil sehingga kamarnya langsung mengarah ke ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga dengan TV besar mendominasi bagian tengahnya, lalu ada lorong kecil ke area dapur, dapur tempat suara itu berasal. Yoongi menyalakan lampu ruang tengah dan menghela napas panjang ketika menyadari bahwa tidak ada siapapun di sana.

Jantungnya makin berdebar ketika menunggu melangkah ke arah dapur, di sana gelap dan pekat. Dengan hati-hati Yoongi menyalakan saklar lampu tetapi langsung mengerutkan kening

ketakutan ketika saklar itu putus. Lampu dapur tidak menyala dan Yoongi mengernyit menyadari kegelapan di depannya. Tangannya meraba-raba mencari ponsel yang selalu tadi sempat dimasukkannya ke dalam saku piyama. Dengan pencahayaan ponsel yang seadanya, Yoongi melangkah maju memasuki area dapur itu. Cahayanya gelap dan remangremang,

membuat Yoongimerasakan bulu kuduknya berdiri. Tampaknya di dapur tidak ada siapapun. Tetapi kemudian mata Yoongi terpaku pada sesuatu di dapur. Sesuatu yang membuat jantungnya berpacu cepat dan wajahnya pucat pasi. Sesuatu yang menguarkan cahaya lembut berwarna kuning redup terselubungi lilin yang berwarna biru.

Masa tenang kehidupannya sudah berakhir, impian untuk menjalani hari-harinya seperti orang biasa musnah sudah. Yoongi berpegangan ke dinding untuk menopang kakinya yang gemetaran, matanya menatap ke arah benda itu. Sebuah tanda, tanda yang samar-samar menyeruak ke dalam alam bawah sadarnya, menarik ingatan Yoongi yang telah lama hilang dan mengingatkannya.

Seketika pengetahuan mendalam muncul di benak Yoongi, membuatnya merasakan ngeri yang luar biasa. Lilin berwarna biru yang menyala itu adalah tanda, tanda yang ditinggalkan oleh sang pembunuh paling kejam yang dia tahu entah kenapa. Pembunuh itu sudah menemukannya.

Selesailah sudah. Nyawa Yoongi mungkin tinggal beberapa saat lagi. Matanya melirik ketakutan ke arah tanda di meja dapurnya. Lilin berwarna biru itu...jumlahnya ada sembilan buah...diletakkan dengan rapi dan diatur indah di atas meja dapurnya, cahaya redupnya

tampak kontras dengan ruangan dapur yang gelap gulita. Lalu seperti muncul begitu saja dari bayangan gelap di belakangnya, jemari yang kuat tiba-tiba menyentuh lehernya dari belakang, lembut dan tenang. Yoongi tercekat, tetapi tidak bisa memberontak, pada akhirnya yang bisa dilakukannya hanyalah memejamkan matanya.

.

.

Tanpa perlawanan yang berarti tubuh Yoongi lunglai dalam pelukan Jimin, ada rasa sakit dan terkejut luar biasa di sana. Mata Yoongi yang membelalak mengatakan demikian ketika menyadari bahwa Jimin yang ada di sana, hingga beberapa detik kemudian, mata Yoongi kehilangan cahayanya, menutup dengan lemah, meninggalkan bercak gelap yang merintih tak bersuara disana.

Jimin, alih-alih melarikan diri terburu-buru mengingat ada dua agen yang mungkin bisa bangun kapan saja di luar, malahan dengan tenang mengangkat tubuh Yoongi dengan kedua tangannya, ke sudut ruangan, ke bagian ruang tengah rumah berlantai kayu yang dipernis mulus itu. Dia duduk di sana dan memangku tubuh Yoongi yang lunglai tanpa daya, dibelainya rambut hitam panjang Yoongi, diciuminya aroma leher perempuan itu. Sungguh diperlakukannya Yoongi bagai kekasih tertidur yang akan ditinggal pergi diam-diam. Sorot mata Jimin adalah sorot mata kekasih, penuh cinta dan harapan yang meluap-luap.

Bukan sekali dua kali ini dalam tugasnya sebagai seorang pembunuh, Jimin membereskan seseorang yang lemah seperti Yoongi, ia sering menyebutnya 'order kecil'. Cepat, mudah dan tak jarang korbannya cantik luar biasa, seperti apa yang dilihatnya sekarang pada diri Yoongi.

Anehnya Jimin langsung menetapkan harga yang amat sangat tinggi untuk menghabisi Yoongi. Tanpa alasan jelas, ia selalu bilang begitu kepada kliennya, karena tak mungkin mereka mengetahui bahwa Jimin memuja Yoongi, butuh pengorbanan besar dari nurani untuk membunuh seseorang, tetapi bahkan ia akan mengorbankan lebih besar lagi untuk membunuh Yoongi, satu-satunya wanita yang telah menyentuh hatinya.

Bibir Jimin menyentuh bibir Yoongi, melumatnya lembut penuh cinta. Sebelum akhirnya gelap dan pekatnya malam yang semakin dalam, menelan mereka berdua.

.

.

.

Yoongi terbangun dalam nuansa kamar remang-remang, temaram oleh cahaya lilin. Dia merasa pusing dan sedikit mual, lalu mengerjap-ngerjapkan matanya, merasa bingung dan kehilangan orientasi. Ketika dia membuka matanya, dia menyadari bahwa dirinya berada di dalam sebuah kamar yang gelap pekat, hanya diterangi oleh cahaya lilin yang berkedip-kedip di kaki ranjang. Ingatan Yoongi langsung berkelebat, ingatan di dapur yang menakutkan itu langsung membuatnya terperanjat dan terduduk dari ranjang itu, hanya untuk menyadari bahwa tangan dan kakinya terikat di kepala dan kaki ranjang.

Yoongi menatap ketakutan, kedua tangan dan kakinya direntangkan masing-masing di kaki dan kepala ranjang dan masing-masing diikat dengan sebuah borgol. Yoongi semakin ketakutan ketika menyadari bahwa dia hanya terbungkus selimut sutera berwarna hitam yang ketika dia bergerak menggesek tubuhnya secara langsung, membuatnya sadar bahwa dia telanjang bulat dibalik selimut itu.

Ketika Yoongi mendongakkan kepalanya dia melihat pemandangan yang menakutkan itu terhampar di depan matanya. Tepat di meja besar yang menempel di kaki ranjang, sembilan lilin berwarna biru yang ditata setengah melingkar menyala temaram, menjadi satusatunya pencahayaan di ruangan kamar yang lebar itu. Yoongi panik, dia berusaha menggerak-gerakkan tangan dan kakinya untuk melepaskan diri, tetapi percuma karena borgol besi itu begitu kuatnya. Pergelangannya mulai terasa sakit dan berbekas karena usahanya itu.

"Jangan melakukan sesuatu yang percuma, kau hanya akan melukai dirimu sendiri." Suara itu muncul dari kegelapan, membuat Yoongi menolehkan kepalanya dan memucat, menyadari Jimin lah yang berdiri di sana. Lelaki itu hanya mengenakan jubah tidur sutera hitam, yang membungkus tubuhnya dengan begitu pas, membuatnya tampak berbahaya. Segelas anggur ada di sebelah tangannya, dan Jimin menyesapnya dengan santai, sama sekali tidak melepaskan pandangan tajamnya kepada Yoongi.

"Lepaskan aku." Yoongi berusaha berani meskipun jantungnya berdebar begitu kencang. Disini, berbaring terikat dalam keadaan setengah telanjang dan tak berdaya, di bawah kekuasaan lelaki arogan seperti Park Jimin membuat tubuhnya mulai gemetaran.

"Kenapa kau melakukan ini kepadaku?"

"Kenapa?" Jimin berdiri di sisi ranjang, lalu meletakkan gelas anggurnya di meja di samping ranjang, "Bukankah kau sudah mendengarnya dari Namjoon? Kau adalah satu-satunya korbanku yang pernah lolos, yang gagal kubunuh." Lelaki ini adalah Sang Pembunuh yang dibicarakan oleh Namjoon. Sudah pasti. Yoongi memejamkan matanya, merasakan penyesalan yang mendalam karena waktu itu dia tidak mempercayai dan meragukan Namjoon. Kalau saja waktu itu Yoongi mengungkapkan kecurigaannya akan Park Jimin kepada Namjoon, mungkin sekarang dia tidak akan berakhir di sini, tak berdaya dalam kekuasaan Sang Pembunuh.

"Menyesal Yoongi?" suara Jimin terdengar dalam dan menakutkan, membuat Yoongi tidak berani membuka matanya, dia merasakan ranjang bergerak ketika Jimin duduk di sebelahnya.

Yoongi merasakan bulu kuduknya berdiri ketika tiba-tiba jemari Jimin menyentuh keningnya lembut, turun merayapi pipinya, membuat Yoongi memalingkan mukanya berusaha menjauh.

Jimin terkekeh, "Kau tidak tahu berapa lama aku menunggu di sini Yoongi, menunggu untuk menempatkanmu dalam posisi ini, terbaring dan tidak berdaya." Tiba-tiba lelaki itu merenggut dagu Yoongi dan mengarahkannya ke arahnya, "Seperti kubilang, kau milikku, Yoongi."

Yoongi langsung membuka matanya, menatap Jimin dengan tatapan mata menantang.

"Apakah kau akan membunuhku?"

Jimin terkekeh, tetapi jemarinya yang menyentuh dagu Yoongi melembut, merayapi bibir Yoongi yang ranum. "Menurutmu?" Mata Jimin mengikuti jemarinya, meredup ketika merasakan kehangatan dan kehalusan bibir Yoongi di sana.

"Sepertinya aku akan bersenang-senang denganmu dulu." Lalu kepala lelaki itu menunduk, dan dengan jemari masih memegang dagu Yoongi sehingga membuat perempuan itu tidak bisa memalingkan wajahnya, Jimin memagut bibir Yoongi dengan lembut dengan sepenuh keahliannya. Yoongi terkesiap, tidak bisa menghindar karena ketika dia mencoba menggelengkan kepalanya, cengkeraman Jimin di dagunya terasa begitu kuat dan menyakitkan. Pada akhirnya dia menyerah merasakan bibir kuat Jimin melumat bibirnya penuh gairah.

Ini hampir seperti sama persis seperti mimpinya, bibir Jimin terasa sama, kuat tetapi lembut dan panas ketika menyatu dengan bibirnya, membuatnya mengerang antara ketakutan dan menahan gairah. Lalu lidah lelaki itu menyelinap dengan ahli, memilin lidahnya dengan panas. Ciuman itu lama dan begitu sensual, sehingga ketika Jimin melepaskan bibirnya Yoongi terengah dengan wajah merah padam. Senyum Jimin tampak puas, matanya menatap Yoongi dengan penuh gairah.

"Kau benar-benar perempuan yang menggairahkan." Ketika mengatakan itu, bibirnya tersenyum sensual dan suaranya serak. "Aku sangat ingin menidurimu sampai kau tidak bisa berjalan." Lelaki itu sangat vulgar dan menakutkan, tetapi entah kenapa kata-kata Jimin malahan membuat tubuh Yoongi menggelenyar oleh perasaan asing yang merayapi tubuhnya. Apakah Yoongi bergairah kepada Jimin? Bagaimana mungkin dia bisa merasa bergairah kepada pembunuh yang bisa membunuhnya kapan saja?

"Lebih baik kau bunuh saja aku." Yoongi bergumam pedas, menutupi rasa malunya karena bergairah atas ciuman lelaki itu. Tetapi rupanya kata-katanya malahan membuat Jimin geli, lelaki itu melirik ke arah puting payudaranya yang menegang, tidak bisa disembunyikan oleh selimut sutera tipis yang menutupi payudara telanjangnya. Dengan menggoda Jimin melewatkan jemarinya sambil lalu di sana, menyentuh puting Yoongi dengan gerakan seringan bulu di sana. Membuat puting itu langsung berdiri menegang, lebih keras dari sebelumnya.

Jimin mengangkat alisnya, menatap wajah Yoongi yang merah padam, dan karena tidak tahan dengan tatapan Jimin yang penuh penghinaan itu, Yoongi memalingkan mukanya. Seandainya saja tangannya tidak terborgol, Yoongi pasti sudah menampar Jimin sekeras mungkin.

"Mulutmu bisa berbohong dengan pedas, tetapi tubuhmu tidak akan bisa sayang." Tiba-tiba saja jemari Jimin menurunkan selimut Yoongi di bagian dada, membuat Yoongi panik, Yoongi meronta berusaha mencegah apapun yang diniatkan oleh Jimin, yang sama sekali tidak digubris oleh lelaki itu. Jemari Jimin menarik selimut itu sampai ke bawah payudara Yoongi, dan payudara Yoongi langsung terpampang jelas dihadapan Jimin, dengan puting yang menegang keras, dan warna pucat payudaranya yang begitu kontras dengan selimut sutera hitamnya.

Dan kemudian kepala Jimin turun, dengan bibirnya yang panas menuju ke payudaranya...

Nafas Jimin terasa hangat di dekat payudaranya, lelaki itu sengaja membuka bibirnya meniupkan uap panas yang mau tak mau membuat payudara Yoongi semakin menegang dan nyeri oleh antisipasi. Kemudian tanpa ragu-ragu, bibir Jimin mengecup ujung puting payudaranya dengan lembut, membuat Yoongi tidak bisa menahankan erangannya. Mata Jimin terus mengawasi Yoongi, ada senyum di sana ketika menyadari betapa Yoongi sudah luluh di dalam godaan cumbuannya.

Kemudian, tanpa peringatan, bibir Jimin mengangkup payudara Yoongi dan menghisapnya lembut, sangat lembut dan sangat menggoda hingga Yoongi terkesiap sekaligus merasakan seluruh tubuhnya dijalari oleh perasaan panas yang luar biasa, membakar dirinya kuat-kuat…

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Skip dulu~ Haha

Gimana nih? Jimin udah berhasil nyulik Yoongi, trus digrepegrepe gitu deh. Mulut bisa nolak, tapi tubuh Yoongi keknya gak nolak tuh Wkwkwk

Ah ya tebak-tebakan kalian gak akan aku jawab yaa, biar nanti rahasianya terungkap dengan sendirinya, aku gereget sih pengen jawab pertanyaan-pertanyaan dugaan kalian tapi aku tahan biar surprise Haha

Yang pasti yang pernah baca novel aslinya udah tau Hihi, tapi sekali lagi aku bilang, tolong jangan spoiler di review yaa Hehe

Okedeh, See u yaaa~

Gomawo :*

Paipai

Dyah Cho