Memori berbicara pada kisah di gang gelap malam itu. Masih Chanyeol ingin malam saat dia menyusuri setapak pada dinding pembatas, mengikuti setapak lain yang bercicit cepat untuk sampai pada pemukiman warga. Kengerian tentang cerita vampir sudah banyak Chanyeol dengar. Di antara dari mereka ada yang benar sedang lainnya terlalu berlebihan.
Utara dan selatan hidup berdampingan sudah beratus tahun yang lalu. Cerita ini bukan dongeng apalagi fiksi. Banyak pertanyaan yang mencuatkan rasa penasaran; mengapa harus terpisah oleh dinding tinggi jika hidup berdampingan bisa saja mempermudah jalannya hidup?
Tapi perjanjian tetaplah perjanjian. Tidak semua manusia bisa menerima keberadaan kaum vampir. Berselaras dalam kehidupan tidak semudah itu. Karena pada kenyatannya beberapa dari bangsa vampir memiliki ambisi lain pada manusia untuk menuntaskan pencapaian terbesar yang sayangnya bisa merugikan dua pihak yang terpisah tembok itu. Termasuk eksistensi yang sedang menautkan dua mata dengan penjara tangan pada sosok di hadapannya.
Keadaan ini tak seharusnya terjadi karena Chanyeol tahu betul, menyetubuhi manusia hingga menumbuhkan keturunan baru dari perpaduan vampir dan manusia, bukanlah pekara mudah untuk diselesaikan. Tapi itu bukan urusan Chanyeol, sebenarnya. Keegoisan untuk bertahan hidup menjadi hal yang perlu ia pegang erat untuk keabadiannya. Dia akan pergi; tak menghiraukan bagaimana raungan persetubuhan terlarang itu mendekati penyelesaian pada hentakan yang dilakukan pihak lelaki.
Tapi bagaimana jika Chanyeol tiba-tiba harus berbalik arah? Dia yang semula akan kembali menyongsong angin malam dengan kecepatannya berpindah tempat, terpaksa kembali berpijak pada bumi untuk seorang saksi yang mematung dari kejauhan.
Ketakutan itu tergambar jelas. Kaleng yang tak sengaja terinjak menjadi penyebab mengapa sasaran baru telah ditetapkan dalam waktu singkat.
"Oh, kau Byun Baekhyun."
Tidak. Jangan dia.
Kaki Chanyeol bergegas mendekat. Selaan tubuhnya menjadi penghalang utama agar si wanita yang masih mematung itu tak terluka sedikitpun.
Menoleh ke belakang sebentar, kilau merah mata Chanyeol menyerang pada kejahatan yang berpendar. Tak peduli jika dia berada di kaum yang sama, jika sudah menyentuh kehidupan Byun Baekhyun sama saja mengibarkan permusuhan.
Batu merah di leher Chanyeol berkedip. Telapaknya dengan cepat menutup penglihatan sang wanita yang terlanjur merekam kejadian laknat itu. Chanyeol tak ingin siapapun terlibat. Termasuk Baekhyun yang memiliki sebuah keistimewaan
Kejadian itu belum terlalu lama untuk dilupakan. Chanyeol bahkan terang mengingat bagaimana kisah gelap itu menjadi parasit dan mengacau semua yang telah direncanakan. Terlalu sulit untuk ditinggal, karena pada kenyataannya kejadian malam itu terus membuntut meminta secercah harapan.
Resikonya besar jika terlibat. Tak akan ada kemungkinan untuk membantu karena Chanyeol tahu keberadaannya tidak berpengaruh apa-apa.
Tapi ini Baekhyun.
Parasit itu jelas menginginkan Baekhyun dan dia berani datang sejauh ini. Beruntung parasit ini satu dari jajaran eksistensi kuat yang diam-diam menyusun rencana. Chanyeol bisa mengatasi dengan memanipulasi Baekhyun tentang wanita di ujung lorong yang menerima telunjuknya.
"Dia seorang parasit!"
Hanya saja Baekhyun tak begitu mengerti. Memorinya tidak menjangkau pasti sebuah alasan mengapa Chanyeol dengan lantang mengatakan wanita di ujung lorong itu adalah parasit.
Fisiknya bahkan tak lebih baik dari lusuh bajunya. Rambutnya sama berantakan dengan isaknya yang tertahan.
Dengan merambat seadanya di dinding, wanita berperut buncit itu datang bersama seruan serak meminta pertolongan dari mulutnya.
Baekhyun masih manusia dengan keberadaan istilah manusia makhluk sosial. Terlebih dia juga seorang wanita; kesakitan itu turut membuat Baekhyun merasa pilu hingga ke ulu hati.
Tapi Chanyeol mencegah. Dua tangan Baekhyun ditahan kuat-kuat, rahangnya jelas menegaskan jika dia tidak peduli seberapa sakit wanita itu dalam langkahnya, mendekat bukan pilihan yang benar.
"Kau tidak lihat keadaannya?!""
"Ku mohon jangan mendekat." Hela napas itu menahan amarah Chanyeol. "Dia berbahaya."
"Kau perlu belajar menjadi manusia untuk tahu apa itu makhluk sosial!" Menghempas tangan Chanyeol, Baekhyun lantas beralih pada wanita yang kini limbung di atas lantai. "Apa kau baik? Astaga, biar aku membantumu."
Baekhyun membopong masuk ke dalam flat dan mengabaikan Chanyeol yang mengerang kesal. Persetan tentang parasit, Baekhyun bukan manusia tak tahu aturan jika ada yang meminta pertolongannya.
Di dalam flat ada Kyungsoo dan Kai yang sedang duduk bersandingan di sofa. Keduanya beralih atensi pada Baekhyun yang susah payah membawa wanita itu. Detik ketiga dari keterdiamannya, Kyungsoo turut membantu Baekhyun membopong dan membaringkan wanita itu di ranjang Baekhyun.
"Siapa dia, Baek?"
"Aku tidak tahu, Soo. Aku menemukannya di depan."
"Kita harus panggil dokter."
"T-tidak perlu." Suara serak wanita itu mencegah Kyungsoo. Wajahnya sudah pucat pasi. "Hanya biarkan aku beristirahat sebentar."
"Tapi—"
"Tidak apa. Aku biasa mengalaminya karena kehamilanku ini istimewa."
Baekhyun dan Kyungsoo saling bertukar pandang. Mereka tidak begitu tahu tentang kondisi-kondisi yang terjadi pada ibu hamil. "Aku buatkan teh hangat. Kau temani dia, Baek."
Wanita itu sesekali mengerang sambil memegang perutnya yang membuncit. Tak pelak bintik-bintik keringat itu muncul dan menetes dengan intesistas lebih banyak.
"Kau yakin tidak perlu ke telfon dokter? Sepertinya bayimu akan segera lahir."
"Tidak. Bayiku bahkan belum genap 7 bulan. Ini biasa terjadi karena dia istimewa."
"I-istimewa?"
Entahlah apa itu arti istimewa yang berkali-kali dikatakan. Mungkin sang bayi dalam keadaan tertentu sehingga sebutan istimewa itu berkali-kali di sebut.
"Istirahatlah sebentar. Jika lebih baik aku akan mengantarmu pulang—"
"Luhan. Namaku Luhan."
"Ya. Luhan-ssi. Setelah lebih baik aku akan mengantarmu pulang."
Kyungsoo kembali dengan segelas teh hangat yang ia buatkan setelah menyempatkan diri mengantar Kai pulang sampai batas pintu. Mau tidak mau dia meresapi kekhawatiran ini melihat seorang wanita hamil dengan kesakitan yang luar biasa.
Wajah pucat Luhan mungkin saja menandakan sedang terjadi hal buruk. Kyungsoo dan Baekhyun tidak bersiap apapun selain menyediakan hal-hal sederhana seperti ranjang untuk berbaring, teh untuk penenang, sekaligus kain untuk mengusap keringat yang bercucuran.
"Kita butuh bicara!" Chanyeol datang dan menarik tangan Baekhyun. Aura kemarahannya masih terasa oleh Baekhyun yang menanggapinya dengan dengusan kesal.
Mereka mudah sekali terlibat perselisihan. Dua kepala itu mengeras dengan jalan pikiran masing-masing. Dan Baekhyun lelah jika harus mengikuti perintah Chanyeol akan sebutan parasit yang ia sematkan pada Luhan.
"Apa?!" mata Baekhyun menyalak lebih dulu saat Chanyeol membawanya ke dapur. "Jika kau memintakku mengusir Luhan, kau sudah sangat tahu jawabanku apa."
Tubuh Baekhyun terpojok di lemari es. Chanyeol mengapit dengan dua tangan sebagai penjara. Matanya tajam menghunus tentang kekeraskepalaan Baekhyun yang membuatnya hampir gila.
"Kau baru saja mempertaruhkan nyawamu! Susah payah aku melindungimu tapi kau malah menyerahkan diri pada singa kelaparan?!"
Tak menanggapinya, Baekhyun justru menatap sinis pada Chanyeol yang kian menggebu dalam keseriusannya berbicara. Mata yang belakangan Baekhyun lihat mulai melembut, kini berubah tajam. Bahkan sekali melihat saja akan ada sayatan tak berdarah tapi menyakitkan.
"Pikirkan sekali lagi untuk menampungnya!"
"Kalau ku bilang aku tidak peduli dengan pendapatmu, apa yang akan kau lakukan?" kali ini Baekhyun yang menajam, membuat Chanyeol berkali-kali mengacak rambutnya karena Baekhyun bahkan lebih keras dari batu.
"Baekhyun, kau tidak tahu bagaimana kehidupan ini mencoba mempermainkan kita. Dengarkan perkataanku, sekali ini saja."
Tapi Baekhyun tetaplah Baekhyun. Seburuk apapun itu akibatnya nanti, dia memiliki rasa kemanusiaan untuk peduli pada sesama. Omongan Chanyeol dan segala macam yang belakangan membuatnya penat tentang dunia vampir, Baekhyun ingin mengenyahkan jauh-jauh karena dia rasa itu tidak penting.
Tanpa ada pembicaraan lebih lanjut, Baekhyun berlalu begitu saja dengan keadaan dingin yang melingkup. Apapun yang Chanyeol katakan membuatnya jengah dan ingin berhenti dari takdir konyolnya sebagai seorang Clar Frost.
Baekhyun hanya butuh keadaan yang lebih terlihat realistis. Pikirannya masih menggunakan logika manusia, sulit mencerna kenyataan yang membawanya sebagai keturunan manusia setengah vampir.
Chanyeol mengkhawatirkan keadaan-keadaan terburuk yang bisa saja terjadi. Baekhyun dan segala macam yang ia miliki sebagai keturunan Clar Frost mengakibatkan rasa dengki dan iri yang meraja lela. Bukan hanya status yang akan direbut, tapi eksistensinya bisa saja menjadi pilihan terakhir untuk diambil agar perasaan tamak itu terpuaskan.
Dan Chanyeol mengkhawatirkan semua itu demi seluruh kehidupannya. Demi perasaannya pada Baekhyun.
.
Paginya Luhan terbangun dalam keadaan lebih baik saat Kyungsoo datang dengan nampan berisi makanan dan segelas susu.
Keadaannya sedikit segar. Rasa sakit di perutnya tidak lagi muncul sehingga Luhan bisa membawa dirinya duduk untuk mengucapkan terima kasih pada Kyungsoo.
"Aku pasti sangat merepotkan kalian."
Kyungsoo tersenyum hangat. Dia mengambil duduk di samping Luhan dan memeriksa suhu tubuh Luhan.
Normal.
"Apa kau sudah lebih baik, Luhan-ssi?"
"Hm. Ya. Berkat kalian aku sekarang lebih baik."
"Aku membuatkan bubur untukmu. Jangan ragu untuk menghabiskannya karena aku yakin si kecil yang di dalam perutmu pasti juga kelaparan"
"Terima kasih. Sekali lagi maaf sudah merepotkan kalian."
"Tidak apa. Oh ya, bagaimana kau bisa berakhir seperti semalam?" Kyungsoo mulai menginterogasi. Jujur saja, sedari semalam dia ingin tahu mengapa Luhan bisa berada dalam keadaan seburuk itu hingga Baekhyun menemukannya. "Kau sangat pucat dan aku hampir mengira kau mayat hidup."
"Bukan mayat hidup. Kau sudah seperti zombie yang ku lihat di film." Baekhyun datang dengan keadaan segar dan rambut terikat satu simpul di belakang. Menghampiri Luhan sebentar, Baekhyun lantas sedikit membungkuk untuk menyapa kehidupan yang ada di dalam perut Luhan. "Hai, kid."
Baekhyun menarik kursi untuk duduk di dekat Luhan. Tangannya terulur untuk menyentuh dahi Luhan dan semua sudah normal.
"Jika berkenan kau bisa menceritakan pada kami tentang..emm..well, tentang mengapa kau bisa ada di depan flat dalam keadaan seperti semalam."
Terlihat keraguan dari dua mata lemah Luhan. Kepalanya tertunduk untuk menatap pada perutnya yang membuncit.
Ada sekumpulan gagak hitam yang menyesakkan dada Luhan. Banyak pertimbangan yang mengacu tegas pada takdir hidupnya kali ini. Dia bahkan tak tahu apakah kejujuran atau dusta yang akan ia ceritakan.
Tapi melihat sosok Baekhyun dalam jarak dekat dan bagaimana dia meyakini akan satu keadaan yang selama ini ia ragukan, Luhan membuka cerita dengan isak tangis.
"Sebenarnya..aku ingin bertemu denganmu, Baekhyun."
Kyungsoo dan Baekhyun saling bertukar pandang.
"A-apa kita, pernah mengenal?"
"Tidak. Kita tidak pernah saling mengenal. Aku.." Luhan meragu lagi. Tapi di dua detik berikutnya dia tampak tegas dengan pandangannya pada Baekhyun. "Aku tahu jati dirimu yang sebenarnya. Kau seorang Clar Frost, bukan?"
Seketika Baekhyun membatu. Bagaimana bisa identitasnya sebagai Clar Frost diketahui Luhan yang bahkan baru ia temui semalam? Mulut Baekhyun terkatup rapat, wajahnya terlihat menegang dengan fakta yang baru saja Luhan katakan.
Jangan ditanya bagaimana dia bisa mempertahankan keterkejutan ini. Nyatanya identitas sebagai keturunan Clar Frost hanya terselip di beberapa pihak saja yang sedari awal mengetahui keberadaan Baekhyun.
Tapi Luhan?
Dia bukan vampir. Dia manusia biasa.
"B-bagaimana..b-bagaimana.."
"Maaf untuk keterkejutan ini. Aku tahu jika aku datang tidak pada saat yang tepat. Aku hanya..hanya..hanya ingin meminta pertolongan padamu." Tangan Baekhyun di raih, Luhan menggenggam erat dengan derai air mata yang luruh penuh kepasrahan. "Hanya kau yang bisa membantuku. Kau seorang Clar Frost. Ku mohon, bantu aku."
Di saat seperti ini Baekhyun tak memiliki banyak hal untuk dilakukan. Dia sendiri belum mengetahui bagaimana Clar Frost melakukan pekerjaannya.
Dia masih baru.
Petunjuk tentang bagaimana kastil Clar Frost saja Baekhyun tak tahu. Jadi apa yang bisa dia lakukan jika Luhan memohon separah ini.
"Anak dalam kandunganku, sama sepertimu. Dia memiliki darah vampir dari lelaki yang menghamiliku." Sebenarnya ada gejolak yang tengah menampar Luhan tentang kehamilan ini, tapi dia bertahan untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya agar Baekhyun bisa membantu sebagai seorang Clar Frost. "Anakku terbentuk dari darah manusia dan vampir. Aku tahu jika hal itu sangat dilarang oleh kaum vampir. Karena aku tahu, setiap keturunan yang berasal dari vampir dan manusia akan menjadi pemusnah utama. Keberadaannya sangat membahayakan, untuk itu jika keberadaannya diketahui, anakku akan dimusnahkan sebelum dia sempat lahir ke bumi."
Cerita itu seperti memutar Baekhyun pada riwayat hidupnya. Tidak tahu bagaimana situasi yang terjadi saat dia masih dalam kandungan, Baekhyun seperti melihat keadaan ini sama seperti keadaan ibunya.
Khawatir akan pemusnahan sebelum lahir, ibu pasti mengalami kesulitan itu. Baekhyun yakin.
Terlihat jelas bagaimana kesedihan merayap saat tahu ada hukum pemusnahan sebelum lahir. Luhan menangis dengan belaian pada perutmya, dia sesekali menggeleng untuk menepis kemungkinan buruk jika keberadaannya diketahui.
"Aku tahu Clar Frost adalah pemimpin tertinggi. Dengan segala harga diri yang masih ku miliki, tolong ubah peraturan itu. Tolong biarkan anakku untuk bisa hidup, setidaknya biarkan aku mendengar tangisnya saat dia lahir lalu memberinya sebuah nama."
Apa yang harus Baekhyun lakukan? Ini masih terlalu pagi untuk meratapi identitasnya sebagai seorang Clar Frost.
Apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Luhan?
Baekhyun butuh pencerahan, dia buta untuk statusnya sebagai Clar Frost.
"Ku mohon.."
Sekali lagi, apa yang harus Baekhyun lakukan?
Kyungsoo menanti Baekhyun dalam tatapan cemas. Begitu juga dengan Luhan.
Sepagi ini, Baekhyun tidak tahu kemana dia harus bergerak menyusuri kebingungan di posisinya. Belum selesai dengan semua itu, tangannya di tarik keluar kamar dan lagi-lagi di sudutkan di lemari es.
Chanyeol yang melakukan.
"Jangan gegabah. Kau belum tahu bagaimana kuatnya hukum Clar Frost berkuasa. Jika kau salah langkah, eksistensimu menjadi taruhan sekalipun kau bagian dari mereka."
Terucap tegas, menusuk Baekhyun dalam kebingungan lain tentang dua kubu yang mempengaruhinya.
"Baekhyun, aku paham tidak mudah bagimu menerima jati diri sebagai Clar Frost. Tapi kumohon, mengertilah jika bayi dalam kandungan parasit itu membahayakan. Biar saja dia dimusnahkan, keberadaannya tidak akan berpengaruh apa-apa bagimu."
Semudah itu Chanyeol bebicara. Dia tidak melihat bagaimana Baekhyun tercengang dengan kata 'bahaya' akan seorang bayi yang tidak bersalah tetapi harus dimusnahkan.
"Usir parasit itu. Dia hanya ingin memanfaatkanmu. Jangan dengarkan apa yang dia inginkan darimu. Sekali kau membuat keputusan yang salah, eksistensimu akan menjadi pertaruhan. Bayi itu membahayakan, dia tidak pantas hidup."
"Kau bilang tidak pantas?"
Rahang Baekhyun mengatup keras. Kejenuhannya sudah di level teratas. Chanyeol kelewat batas dengan apa yang ia katakan. Tidakkah ia sadar Baekhyun pernah ada di posisi bayi itu? Jika bayi itu dikatakan tidak pantas hidup, bukankah berlaku hal yang sama tentang keberadaan Baekhyun saat ini?
Telunjuk itu mengacung tegas di depan mata Chanyeol. Air bening itu luruh dari pelupuk mata Baekhyun. Entah sakit hati atau apa, dia merasa Chanyeol tidak sepantasnya berkata pada janin yang bahkan tak mengerti akan seperti apa dirinya kelak ketika hidup di atas bumi.
"Memanfaatkanku?! Tck! Katakan itu pada dirimu sendiri! Aku muak mendengar perkataan yang seharusnya kau tuduhkan pada dirimu sendiri! Mulai detik ini, berhenti mengusikku. Atau aku, aku akan meremas eksistensimu tanpa belas kasih!"
.
Dua puluh tiga minggu yang lalu Luhan adalah seorang yang hanya tahu bagaimana bertahan dari kerasnya kehidupan. Tubuh ringkihnya memikul banyak kesulitan untuk mendapat sesuap nasi. Pagi hingga malam, yang Luhan tahu hanya bantingan tulang dan perasan keringat dari banyak kerja paruh waktu yang ia miliki.
Setidaknya Luhan masih memiliki asa pada dirinya yang hidup sebatang kara di kota berkonflik. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya jika takdir hidup berbelok pada peetahanan terakhirnya sebagai seorang wanita.
Di ujung gang malam itu, tepat di hari Rabu berselimut sisa mendung di tembok pembatas yang menjulang, Luhan mengejang nyeri pada kewanitaannya atas hujaman benda tumpul mengeras. Tubuhnya ditarik paksa, pakaianya serupa kain tak bernilai setelah dicabik-cabik.
Ingin rasanya berteriak, tapi kuat tubuh yang menghimpitnya melemahkan sisa tenaga yang Luhan miliki. Buliran air mata tak terhirau, apalagi teriakannya yang terbungkam keras.
Malam itu hanya pasrah yang Luhan miliki. Pertolongan apapun itu sepertinya berpresentasi kecil. Meski begitu, Luhan masih mengharap ada yang bisa menyelematkannya dari pemaksaan ini. Siapapun itu.
Lalu ketika buram mata Luhan menangkap seseorang di kejauhan yang menyaksikan semua ini, tangannya terlurur seadanya meminta bantuan. Luhan kira dia akan memiliki secercah harapan untuk diselamatkan, tapi itu seperti kesemuan yang mengguncang karena yang ia tahu setelahnya, wanita di kejauhan itu hilang kesadaran saat ada kehadiran lain yang menghalangi.
Luhan tidak tahu lagi apa yang harus dia harapkan dari hidupnya. Malam mencekam itu ia hadapi seorang diri, begitu juga fakta pada tanda dua garis merah yang ia dapati 3 minggu setelah keperawanannya hilang. Apa yang harus dia lakukan? Tak ada pendamping hidup, pertanggungjawaban hanya ucapan semu.
Rendahnya pemikiran itu membawa Luhan berjalan di tepi sungai. Mungkin kematian bisa mengakhiri kesedihan ini.
Selangkah saja nyawa Luhan sudah berada di batas kematian. Harusnya dia terhempas bebas di dasar sungai, bukan jatuh dalam dekapan lain yang menariknya pada semak rerumputan.
Mengingat itu semua membuat Luhan kembali berduka. Tangisnya kembali luruh. Isaknya mendera dan sebuah tangan mengusak puncak kepalanya.
Dia datang dari jendela kamar Baekhyun yang terbuka setengah.
"Oh Sehun."
"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini." Sehun mengambil duduk di samping Luhan, mengusak air mata wanita itu dalam senyum hangat di wajahnya yang putih pucat.
"Aku tidak tahu ini benar atau salah. Aku benar-benar butuh bantuan Baekhyun untuk anak ini. Keputusanku tidak salah, kan?"
Sehun hanya memberikan sedikit senyum.
Benar atau salah, dia tak berani menentukannya.
.
Setelah pertengkaran pagi itu, Baekhyun tak lagi melihat Chanyeol kembali ke flat. Keberadaannya seperti hilang entah kemana tanpa ada satu kabar.
Saat di kampus, biasanya Baekhyun melihat Chanyeol duduk di bawah pohon dekat perpustakaan dengan tumpukan buku anatomi. Atau saat siang menjelang, Chanyeol duduk di pelataran lab dengan jas putih panjang tersampir di pundak. Tapi tak ada keadaan seperti itu.
Bagaimanapun Baekhyun menyimpan kekhawatiran pada keadaan Chanyeol yang tanpa batu merah. Tahu betul jika batu itu belun ditemukan, Chanyeol hanya bisa bertahan dengan batu pengganti yang harus selalu diganti tiap satu jam.
Seharusnya Baekhyun tidak semarah itu. Tapi dia terlalu kecewa dengan apa yang Chanyeol katakan.
Tapi sudahlah. Dia tak lagi memperdulikan itu semua karena percaya jika Chanyeol bisa bertahan hidup.
Dua hari.
Tiga hari.
Tetap tidak ada kabar.
Baekhyun sengaja membuka buku dan menyalakan lampu belajar di meja makan. Pikirnya dia bisa tahu bukaan pintu flat itu menunjukkan eksistensi Chanyeol.
Tapi tidak ada.
Hingga hari keempat masih tetap sama.
Pada akhirnya Baekhyun bersembunyi dalam penyamaran seadanya memasuki area kampus Fakultas Kedokteran. Hoodie itu ia gunakan menutup kepala. Masker yang dia beli di apotik dekat kampus menyembunyikan sebagian wajah. Ini bukan area-nya. Baekhyun buta arah kemana dia harus pergi untuk mencari keberadaan Chanyeol.
Hampir satu jam mengitari dan hasilnya nihil.
Mungkin Chanyeol pergi ke suatu tempat. Atau dia sedang merengek kembali ke Du Barry untuk meminta batu yang akan cocok dengan jati dirinya.
Tapi tak menutup kemungkinan Baekhyun memiliki pemikiran tentang hal-hal buruk yang bisa saja menimpa lelaki itu. Tubuh Chanyeol tak ubahnya manusia biasa dengan ketegasan hidup tak lebih dari 30 persen. Jika tak ada hal yang bisa membuatnya tetap sadar, Chanyeol bisa tumbang di mana saja seperti yang selama ini Baekhyun khawatirkan.
"Bagaimana? Apa sudah ketemu?" Kyungsoo datang ketika Baekhyun menghentikan pencarian dan duduk di salah satu sudut foodcourt.
"Siapa?"
Kyungsoo menyenggol kecil tangan Baekhyun, tersenyum penuh misteri dengan sodoran jus jeruk dingin pada temannya itu. "Ya Tuhan! Tidak usah berpura-pura padaku, bee. Aku sangat tahu siapa gerangan yang membuatmu harus mengenakan hoodie dan masker itu di saat cuaca sangat panas."
"Kau terlelalu mengenalku. Setidaknya biarkan aku berpura-pura tidak melakukan apapun, Soo."
"Ayolah. Kau tidak perlu menyembunyikan apapun padaku. Okay?"
"Hasilnya nihil." Ucap Baekhyun lemah. Isi jus jeruk dalam botol itu ia minum perlahan, membasahi kerongkongannya yang mengering karena satu jam lebih mencari keberadaan Chanyeol. "Aku tidak menemukannya. Ku rasa dia pulang ke rumah."
"Ke flat?"
"Bukan." Mendekatkan dirinya pada Kyungsoo, Baekhyun lantas membisikkan istilah rumah yang ia sebut sebagai tempat Chanyeol kembali. "Du Barry. Sebut saja begitu."
"O-oh, okay. Itu tidak seperti Busan atau Daegu."
"Mungkin dia pulang. Kemana lagi dia harus kembali saat aku berkata sangat membencinya."
"Dan kau menyesal?"
"Sedikit?" Baekhyun mengedikkan bahu, "Aku hanya tidak suka dia berkata semudah itu tentang seorang anak istimewa. Kau tahu, kan, aku pernah ada di posisi bayi yang Luhan kandung. Hanya saja aku tidak tahu apa yang membuatku bisa bertahan sampai sekarang meskipun aku memiliki kemampuan memusnahkan."
"Mungkin karena kau dari kasta tertinggi?"
"Ayolah, apa itu masuk akal? Seharusnya jika aku seorang dari kasta tertinggi yang bisa dilindungi, kelompok lain juga bisa."
"Baekhyun, kau perlu belajar apa itu sebuah keistimewaan jika kau berada di keluarga yang terpandang." Kyungsoo memutar kursinya, menghadap langsung pada Baekhyun yang tengah mengusap peluh. "Hukum bisa berlaku tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Peraturan dibuat untuk menertibkan rakyat, dan para petinggi yang membuatnya bisa bernegosiasi untuk itu."
"Jadi maksudmu, Clar Frost melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri demi menyelamatkanku?"
"Aku hanya menganalogikannya dengan keadaan hukum di negara ini. Aku tidak tahu apa yang Clar Frost lakukan saat mereka tahu tentang dirimu. Yang jelas, jika sebelumnya ada larangan tentang hubungan manusia dengan kalian dan kau bisa selamat sampai sekarang, ku rasa ada jalan lain yang bisa ditempuh."
"Entahlah." Baekhyun melempar maskernya, "Itu semua membuatku pusing." Kali ini melempar botol kosong ke tempat sampah yang ada di jarak 3 meter di depannya lalu seseorang memekik dengan suara melengking.
"Kau lagi?!"
Hari tersial Baekhyun datang lagi. Lisa datang dengan kemarahan membara karena botol itu mengenai dirinya yang sedang berjalan.
Sebenarnya Baekhyun lelah jika harus beradu mulut dengan Lisa, tapi berhubung dia butuh pelampiasan, apa salahnya di lakukan? Tapi Baekhyun cukup tahu sampai di mana kemarahanya harus keluar. Dia tidak ingin rambutnya tiba-tiba berubah menjadi pirang dan batu itu menyala terang tepat di dahinya.
"Ya. Aku lagi. Kenapa?"
"Kapan kira-kira kau akan pergi sehingga mataku bisa bersih dari kuman?"
Tubuh Lisa menjulang tinggi di depan Baekhyun yang masih duduk. Seakan acuh pada kesombongan yang Lisa tunjukkan, Baekhyun memilih decihan menyebalkan yang nyatanya semakin menyulut emosi Lisa.
"Sialan!" mengambil sisa minuman yang ada di tangan Kyungsoo, Lisa berniat akan menumpahkan tepat di atas kepala Baekhyun
Tapi bukan kebasahan yang menyertai tubuh Baekhyun, melainkan tubuh Lisa sendiri karena ada tangan lain yang mencengkeram kuat tangan Lisa hingga minuman itu jatuh di atas kepalanya.
"Tck! Aku ragu manusia sepertimu pernah diajarkan sopan santun. Gayamu boleh berkelas, tapi tindakanmu sangat rendahan sekali."
Baekhyun tak lagi peduli dengan Lisa yang menghentak kesal karena tubuhnya basah. Dia juga tidak peduli dengan ledakan tawa orang di sekitar karena Lisa dipermalukan di depan umum. Baekhyun hanya peduli pada punggung yang kini menjauh setelah memberikan Lisa hukuman.
Wajah itu pucat pasi. Baekhyun jelas melihatnya dan terpaku beberapa saat karena Chanyeol tampak seperti seorang yang berbeda.
Auranya dingin.
"Ba-baek.."
"Ya, Soo. Aku tahu itu dia."
"Jadi?"
"Entahlah" Baekhyun menoleh sedikit sayu, Kyungsoo segera mencubit pipi Baekhyun gemas karena masih berdiri dan membiarkan Chanyeol menghilang berbelok ke arah gedung fakultasnya.
.
Chanyeol mulai bisa ditemui. Meski tidak langsung bertatap mata, setidaknya Baekhyun bisa memantau dari kejauhan keadaan lelaki itu.
Aura dinginnya menguar hebat. Apatis seperti menjadi bagian dirinya yang lain karena ketika teman-temannya berbaur membahas sesuatu, Chanyeol hanya akan duduk seorang diri dengan buku di tangannya.
Bibirnya sulit melakukan sebuah senyum apalagi sapaan. Sebelumnya dia teramat mudah berucap manis untuk menarik lawan jenis mendekat. Tapi sekarang berbeda, dia acuh pada level tertinggi dan seperti memasang pengumaman besar-besar untuk tidak mendekatinya.
Hanya sebatas ini yang bisa Baekhyun lakukan. Chanyeol tak lagi kembali ke flat dan tak ada kabar lebih lanjut.
Keegoisan ini, Baekhyun bertanya dalam hati kapan akan diselesaikan? Ternyata terasa tidak nyaman. Di hari-hari kemarin Baekhyun terbiasa memberi sentuhan fisik untuk tubuh Chanyeol yang cepat melemah. Tapi sekarang, mereka sedang membuat jarak sedikit jauh dan memutus ketergantungan itu begitu saja.
Baekhyun tentu tidak merugi.
Tapi Chanyeol? Apa yang bisa dia lakukan jika tak ada kekuatan dalam tubuhnya? Bahkan Baekhyun pernah menjumpai Chanyeol terlihat sudah tidak kuat menyanggah tubuh saat masuk di aula kampus.
Wajahnya bertambah pucat, bibirnya berubah keunguan dengan mata yang sayup-sayup terpejam.
Lalu ketika Baekhyun menyadari jika sudah seharusnya ego di buang jauh-jauh, dia menyusup di antara kerumunan mahasiswa kedokteran yang melakukan kuliah umum lalu duduk tepat di samping si lelaki pucat.
Tangannya menelusup di jari-jari kokoh itu. Bibirnya tak membuka suara apapun sampai akhirnya Chanyeol menyadari ada mahasiswa jurusan lain yang duduk di kuliah umum mahasiswa kedokteran.
"Baekhyun?"
"Kau ingin membuat keributan saat kuliah akan berlangsung?"
"T-tapi,"
"Kalau begitu diam. Mari lewati perkuliahan ini dengan tenang."
Memang tidak mungkin mengacau perkuliahan dengan suara lantang mengapa Baekhyun ada di sini dan menggenggam tangan kanannya di bawah meja. Tapi Chanyeol terlalu penasaran, apa yang menjadikan wanita itu terpaksa mengikuti perkuliahan yang bukan dari jurusannya dengan keadaan tangan saling bertaut.
Tiga puluh menit pertama Baekhyun berusaha terlihat antusias dengan memasang telinga lebar-lebar. Tapi Chanyeol bisa membaca jika dalam hati sebenarnya Baekhyun sangat bosan.
Mengambil pena yang ada di depannya, Chanyeol lantas menuliskan sesuatu di bukunya lalu menyodorkan pada Baekhyun.
Tidak ada kuliah?
Baekhyun menggeleng.
Kenapa kau ada di sini?
Kepalanya melempar pandang pada dosen tamu yang sedang berbicara di podium aula.
Ini bahkan bukan tentang Aljabar. Kau bisa memahaminya?
Mengedikkan bahu.
Apa kau mengkhawatirkanku?
Pertanyaan itu membuat Baekhyun termangu sebentar. Tubuhnya ia buat semakin mendekat, cengkeraman itu ia buat semakin rapat sekalipun jari lentiknya tak bisa menggenggam penuh tangan Chanyeol yang kokoh.
"Jawaban apa yang kau inginkan, hm?" Baekhyun berbisik dengan mentup mulutnya menggunakan buku.
Baekhyun itu manis. Bukan hanya parasnya, tapi situasi yang ia ciptakan melebihi kadar gula normal untuk secangkir teh hangat.
Chanyeol yakin Baekhyun masih memiliki sarang kekesalan karena pertengkaran pagi itu. Dia sendiri yang mengatakan untuk tidak mengusik, tapi semua dipatahkan oleh fakta jika Baekhyun menjadi yang pertama mendekat ketika jarak susah payah Chanyeol bentangkan.
Setelah ini jangan menyesal karena kau yang mendekat lebih dulu.
Matanya menyipit, bibirnya mengerucut kecil dan Chanyeol hampir saja lupa situasi untuk tidak mencium bibir itu.
Marahnya sudah?
Baekhyun mengedikkan bahu.
Setelah ini kita harus bicara.
Bukan Baekhyun yang kali ini merekatkan tangan, tapi Chanyeol. Lelaki itu bahkan mulai berani mengusakkan ibu jarinya di punggung tangan Baekhyun dalam tempo yang mendayu.
Perkuliahan anatomi perlahan hilang dari pendengaran Chanyeol, yang dia fokuskan saat ini bagaimana Baekhyun berada di dekatnya lagi dengan kekhawatiran yang malu-malu ia utarakan. Sebenarnya Chanyeol bisa bertahan karena Sehun secara rutin memberi stok batu pengganti. Tapi belakangan ia terlalu malas jika setiap jam harus bersembunyi di tempat sepi untuk mengganti, jadi Chanyeol memilih bertahan dengan kekuatan apa adanya sampai di hari ini Baekhyun tiba-tiba datang dengan genggaman tangan yang kokoh.
Dua jam atau tiga jam?
Baekhyun tak mengerti. Baginya perkuliahan anatomi ini seperti berjalan lebih dari satu abad untuk menuju salam penutup sang dosen tamu yang datang dari Singapore. Cukuplah hadir Aljabar Abstrak di barisan mata kuliah Baekhyun, jangan ada sejenis Anatomi di antara itu semua.
Baekhyun melepas tautan tangannya untuk ia luruskan di atas meja. Kepala tarantuk pada sanggahan tangannya, matanya terasa panas untuk sekedar terbuka dan jiwanya terasa lelah setelah melewati perkuliahan panjang itu.
Aula perlahan mulai sepi. Hanya ada Baekhyun dan Chanyeol yang duduk berdampingan di salah satu sudutnya.
"Jadi bagaimana rasanya ikut kuliah kedokteran?" Chanyeol menyeka rambut liar yang ada di sekitar pipi Baekhyun dan menyingkapnya di belakang telinga. "Minggu depan ada kuliah umum lagi tentang Ilmu Bedah, minggu depannya lagi ada Parasitologi Kedoktera—mmmh!"
"STOP!"
Mulut Chanyeol terbungkam tangan Baekhyun. Lelaki itu lantas melakukan hal yang sama seperti Baekhyun, menjulurkan tangan di atas meja dan menopang sisian kepala untuk menghadap Baekhyun langsung.
"Aku butuh jiwaku kembali. Otakku rasanya penuh mendengar istilah-istilah itu."
"Capek, ya?"
Mengangguk kecil. Jangan lupakan bagaimana bibir itu masih mengerucut dengan wajah lelah yang berarti.
"Susah juga ternyata menjadi mahasiswa kedokteran."
"Tapi lebih susah lagi mendapatkanmu." Chanyeol menyentil ujung hidung Baekhyun, mengusak puncak kepala wanita itu sebentar lalu beralih pada pipi. "Terima kasih sudah bersusah payah datang untuk tenaganya."
"Ketahuilah itu tidak gratis." Chanyeol mengerutkan alisnya, "Ada harga yang harus kau bayar."
"Hm?"
"Pantai."
"Hm? Ada apa dengan pantai?"
"Aku butuh pantai."
.
Baekhyun hanya bercanda, tapi Chanyeol menanggapi terlalu serius. Kata Pantai itu sebenarnya tidak perlu dilakukan detik itu juga. Mereka masih bisa menyusun rencana lebih matang daripada berangkat hanya dengan bekal buku kuliah.
Perjalanan menuju pantai mereka lewati dengan mobil yang Chanyeol minta dari Paman Sehun. Baekhyun mulanya tak yakin dengan kemampuan Chanyeol mengemudi. Tapi lelaki itu menjunjung tinggi kesombongan yang tersemat dari caranya mengemudi membelah jalanan kota lalu berbelok pada jalan sedikit lengang bebas kemacetan.
Sebelah tangannya memegang kemudi, tangan lain disanggahkan di kaca jendela dan kacamata hitam tergantung elegan di tulang hidungnya. Bibirnya bergumam pada lagu yang diputar, sesekali menghentakkan jari tangan yang memegang kemudi seolah dia adalah satu-satu yang terlihat mempesona.
Satu setengah jam berlalu, Chanyeol masuk ke jalanan dengan pohon-pohon rindang di kanan kiri. Dari kejauhan telah terlihat genangan air biru dengan ombak mendayu cantik sebagai penghias.
Setelah berbelok pada jalanan kecil sejauh 500 meter, surga dunia seperti tersaji nyata di depan mata. Baekhyun tak henti-hentinya berseru jika ini sangat indah. Tak ada pengunjung, air yang masih jernih, dan pasir putih beradu warna dengan kulit kaki Baekhyun.
"Aku menemukan pantai ini bersama Paman Sehun."
Memicing sebentar, Baekhyun mengalami keganjilan mengapa Chanyeol bisa menemukan ini dengan Paman Sehun.
"Jangan berpikir macam-macam."Pipi Baekhyun di cubit, "kami menemukannya secara tidak sengaja saat ada tugas dari ayahku."
"Lihat!" Baekhyun menunjuk gulungan ombak yang datang, mengabaikan Chanyeol yang siap berfilosifi tetapi batal karena tahu Baekhyun tak tertarik.
Tangan Baekhyun ditahan sewaktu akan berlari menerjang ombak. Chanyeol sudah berjongkok, melepas satu persatu sepatu yang Baekhyun kenakan lalu menaikkan ujung celana itu.
"Kita tidak membawa pakaian sama sekali. Jadi usahakan kau tidak basah."
Penggambarannya cukup rumit. Tapi Baekhyun mengerti jika pipinya terasa panas, ada semu merah yang bercerita jika tindakan itu membuatnya terpesona dalam keadaan yang berlimang bunga.
Chanyeol berjalan mendekati ombak kecil itu. Tangannya masuk dalam saku celana, matanya seakan mengajak matahari jingga berbicara dalam bahasa kalbu dan tak mengijinkan satu orang-pun untuk tahu.
"Tadi kau bertanya apa aku mengkhawatirkanmu."Baekhyun memulainya setelah berdiri menyejajari Chanyeol. "Ya, aku mengkhawatirkanmu."
Matahari jingga terlupakan, Chanyeol menoleh pada direksi kanan di mana Baekhyun melepas pandangan ke pantai dengan rambut yang tersapu angin.
"Kau tahu, sesungguhnya aku tidak benar-benar serius dengan ucapanku kala itu. Aku hanya...sedang bingung." Tarikan napasnya sedikit berat, "Aku tidak banyak tahu tentang Clar Frost, bagaimana sistematika aturan yang dibuat, aku buta tentang semua dunia vampir ini. Aku mengetahui diriku berbeda, itu sudah cukup mengejutkan. Aku merasa asing, semuanya menjadi aneh tapi aku sama sekali tak ingin mengelak. Bisa berdiri dengan perbedaan seperti ini, ku pikir ada yang sudah berkorban banyak demi nyawaku. Benar, kan?"
Ada senyum sedikit pahit yang Baekhyun ulas. Kepalanya tertunduk untuk melihat kakinya yang menggenang di batas pantai sampai di mata kaki, mengulang kembalinpikiran-pikiran yang belakangan ia jadikan pertimbangan untuk jati diri seorang keturunan Clar Frost.
"Aku tidak tahu bagaimana Ayah dan Ibuku, perjuangan apa yang mereka lakukan untukku, aku tidak mengetahui barang seujung kuku. Tapi aku percaya, ada satu waktu di mana mereka berkorban banyak untuk aku yang bahkan sudah di cap buruk karena dua darah berbeda yang mengalir."
"Kau tak seperti itu, Baek."
"Itu menurutmu." Mendongak sedikit, Baekhyun menatap Chanyeol dalam lembut kedua matanya, "Tapi kenyataannya persepsi tentang darah manusia dan darah vampir yang bersatu selalu dianggap awal dari kehancuran dunia vampir. Aku memiliki sebuah keistimewaan, aku bisa memusnahkan siapapun jika aku ingin. Sekalipun aku tidak ingin melakukannya atau bahkan tidak akan pernah melakukannya, mereka tetap memandangku sebagai sosok yang menyeramkan. Apa aku salah dengan hal itu?"
Alih-alih menjawab, Chanyeol membawa Baekhyun masuk dalam dekapan dan mengusak halus punggung sempitnya. Tak ada yang bisa Chanyeol katakan jika dia pernah berada dalam payungan persepsi itu.
"Para vampir akan merasa eksistensinya terancam hanya karena aku datang dalam perbedaan. Mereka terlalu cepat berspekulasi, padahal aku tak memiliki niat untuk memusnahkan siapapun. Aku tidak seperti itu, Chanyeol."
"Jika mereka tidak mempercayaimu, masih ada aku. Tidakkah itu sudah cukup?"
"Kau berkata seorang keturunan manusia dengan vampir-"
"Keadaanmu berbeda dengan parasit itu, Baek."
"Tapi Luhan—"
"Bisakah kita berhenti membicarakannya? Membiarkanmu menampunganya di flat itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin hal itu merusak apa yang baru saja kita perbaiki." Menjauhkan pelukannya sebentar, Chanyeol sedikit menunduk untuk mengusak pipi Baekhyun dengan ibu jari. "Aku akan melindungimu. Apapun yang akan terjadi, aku akan melakukannya."
"Chanyeol,"
"Hm?"
"Apa yang sebenarnya kau ketahui tentang diriku?"
"Apa yang ingin kau ketahui?" Chanyeol balik bertanya.
"Aku adalah pihak tidak tahu apa-apa. Kalau kau bertanya seperti itu, akan ku jawab aku ingin mengetahui segalanya."
"Kau adalah Byun Baekhyun yang sangat ku cintai."
"Aku serius!" Rengekan itu berbarengan dengan hentakan kakinya yang mungil. Chanyeol tak kuasa untuk tidak mencubit pipi Baekhyun, lalu sedikit merunduk untuk mencuri cium di bibir wanita itu dan kembali memeluknya.
Tapi Baekhyun buru-buru menjauhkannya lagi.
Dalam hembus angin itu mereka saling menggenggam tangan. Deru ombak mengiring dua eksistensi dengan batu saling menyala pada tempat masing-masing.
Pandangan terjalin, sel penghidup seorang vampir menemui gelenyar menyenangkan ketika kedekatan itu menepis sisa ruang.
Sentuhan pertama; Baekhyun memulai dari ujung kering bibirnya. Sedikit berjinjit untuk mengimbangi tinggi mereka yang rumpang. Melaju tanpa batas pada sapuan yang ia sebut sebagai kasih.
Ini bukan tentang energi.
Perasaan berkata ini adalah ketulusan.
Bagaimana mereka saling menyentuh dalam kecup dua bibir, bagaimana kelembutan itu menuntun pada keadaan lebih intim, semua memiliki cerita tersendiri pada keseriusan yang Chanyeol sodorkan dari kotak merah kecil yang ia rogoh dari saku celananya.
"A-apa ini, Chanyeol?"
"Ini? Ini adalah keseriusanku padamu."
.
.
TBC
Basyud : ciyeeeee ada yang mau diseriusin haha.. selamat yaaa Baek!
Chapter ini update bareng kesayangan Barbie, si eneng Incess CHANBAEXO yang belakangan ngeluh soal WB. Aku ajakin up bareng, udah dari minggu kemarin sih sebenernya. Cuma karena lagi sama-sama belum kelar ketik jadi harus mundur seminggu..llalaalala..
Aku mau bilang terima kasih udah baca FF genre (percobaan) ini. Yakin deh kemampuanku nulis fantasi masih amat sangat kurang, jadi mohon dimaklumi yaaa kalo ada bagian-bagian yang agak aneh hehe..
Selamat menikmati hari minggu! Besok Senin yay! yang besok unas semoga sukses, yang udah unas juga semoga sukses selalu. Muuaahhhhh
