Author's note:
MikoRei Week 2016 day 6: Conflict, with a bit prompt from one of 7 sins: Wrath. I'm so sorry for the late update orz yet since I'm also an Indonesian citizen (which is GMT+7), using my hometown local time it's not too late, isn't it? #doubleslapped. But anyway, happy reading and hope you like it!
...
K Project (c) GoRa & GoHands
SEVEN SINS' KALEIDOSCOPE ~Thousands of Anger's Splinters~
Dedicated for MikoRei Week 2016, Day 6: Conflict
.
"... Hanya aku yang mengetahuinya, dan tidak denganmu. Tidak pula kau akan peduli dengan apa yang kurasakan. Bukan begitu, Suoh Mikoto?"
.
.
.
.
.
Munakata Reishi tidak tahu sudah sejauh apa kakinya membawanya melangkah. Tidak ada arah yang pasti. Tidak ada yang menemaninya. Bahkan setelah kepergian Totsuka Tatara, barulah ia menyadari bahwa kebersamaannya dalam sepi bersama pemuda itu nyatanya mampu menawarkan tenteram di sukmanya.
Sementara ia kini seorang diri. Berjalan dalam sunyi. Di antara kerumunan siluet-siluet nyawa yang telah mati.
Serta membawa gelegak di dadanya yang menjerit perih.
Reishi tidak mengerti dengan dirinya. Dengan apa yang menjadi kemelut dalam benak. Amarah yang begitu meluap-luap, yang bahkan tidak sanggup lagi dibendung oleh logikanya. Jalan pikirnya kerap berusaha memikirkan solusi akan segala tanya yang seolah berteriak dari batinnya. Alasan mengapa Suoh Mikoto menolak pertolongannya. Alasan mengapa laki-laki itu menuntut balas pada Raja Tanpa Warna. Alasan mengapa harus ia yang mencabut nyawa Suoh Mikoto.
Karena Suoh tidak bisa menerima uluran tangannya begitu saja. Karena Suoh merasa memiliki kewajiban untuk membalaskan dendam Totsuka Tatara, serta melampiaskan duka klan merah atas rasa kehilangan yang mereka tanggung bersama. Karena, terlepas dari siapa saja yang sanggup membunuh Suoh, pria barbar itu telah mempercayakan eksekusi mati itu di tangannya.
Sekeras apapun otaknya berusaha menjawab, kata-kata tersebut lantas hanya terasa bagai pembenaran-pembenaran semata, yang mengantarnya pada pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tanyanya akan eksistensi dirinya, peranannya, arti hidupnya, jika dikaitkan dengan sang pemilik nama Suoh Mikoto.
Mengapa Suoh memilih dirinya? Mengapa Suoh mempercayainya? Apa yang Suoh lihat dari dirinya? Dan semudah itu Suoh menentukan segalanya, tanpa berpikir mengenai perasaan yang harus dihadapinya setelah mengakhiri nyawa Suoh? Apa arti dirinya bagi Suoh?
Mengapa… harus dirinya?
Jawaban-jawaban tidak lagi terdengar dalam kepalanya. Sementara runtut kata mengapa yang terputar ulang di telinganya. Bagai mantra yang perlahan menggerogoti akal sehatnya. Dihantar luapan emosinya, menjalar hingga ke sela sendi-sendinya.
Lalu gaung suara serak nan berat di kejauhan. Mengiringi derap langkahnya. Percakapan dari penggalan masa lalunya yang terdengar begitu mencemooh.
.
"Maaf, Munakata. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu menolongku."
.
Diam.
Diam. Diam. Diam.
Ia tidak ingin mendengarnya. Ia tidak akan mendengar apapun lagi. Ia menutup telinganya. Mengosongkan pandangan matanya. Membiarkan kedua kakinya refleks membawa tubuhnya bersama arus kerumunan ramai bayang-bayang hitam.
"Munakata! Munakata!"
Ada gema suara lain yang bertumpuk. Seruan yang memanggil namanya. Tidak. Seluruh suara itu pasti berasal dari sumber yang sama. Dari dalam kepalanya. Dari rintangan lain yang tengah menjemputnya, atau mungkin telah mulai dijalaninya. Tidak ada gunanya untuk menggubris. Ia harus tetap berjalan. Ia tidak boleh berhenti melangkah.
"Oi! Munakata! Kau dengar aku?! Oi—"
.
"Pada akhirnya, aku tetap membuatmu melakukan pekerjaan kotor ini."
.
Tidak. Ia tidak mendengar panggilan itu. Ia tidak mendengar apa-apa.
"Munakata."
.
"Sudah cukup, Munakata. Jangan katakan apa-apa lagi."
.
Ya. Ia tidak akan lagi membuka mulutnya. Ia tidak akan lagi berargumen. Ia akan membawa seluruh bara di dadanya, sejauh apapun. Toh apa yang ada di sekelilingnya adalah maya. Toh semua rintangan yang dilaluinya hanyalah sekedar masa lalu yang tidak bisa diubah sehingga tidak bisa pula membawanya maupun Suoh Mikoto kembali hidup di dunia.
Ia ingin kembali pada perahunya. Ia ingin mengayuh sampannya sendiri. Atau biarkan arus sungai membawanya berlayar pada yang manapun kehidupan reinkarnasi akan menjemputnya. Ia lelah. Ia muak. Akan tanya yang tidak akan pernah terjawab. Akan kebenaran yang tidak pernah terjamah olehnya. Akan alasan yang terlanjur terkubur bersama jasad Suoh Mikoto hari itu.
"Munakata."
Satu genggaman di pergelangan tangannya. Menahannya untuk memberhentikan langkah kakinya. Tangannya yang sontak bergerak. Mengibas—
"Reishi."
—dan suara itu yang terdengar begitu jelas di telinganya. Tidak terkungkung dalam gaung. Begitu lugas. Begitu tegas, meski lembut di saat bersamaan. Ia lantas berbalik. Menemukan sosok itu telah tiba di sampingnya. Menggenggam tangannya. Berhasil menemukan dirinya.
"Su…oh…?"
Meski seketika dunia di sekelilingnya meruntuh. Ia kemudian terjatuh. Jemari yang menggenggam pergelangannya terlepas, diiringi suara pria itu yang meneriakkan namanya. Meski ia bergeming. Tubuhnya kaku terikat. Dan kesadarannya yang dilalap cahaya putih. Begitu terang. Membutakannya.
...
Butiran salju terinjak di bawah kakinya. Dingin menyelusup balutan seragamnya. Uap membumbung tinggi dari tiupan napasnya. Tenrou tergenggam erat di tangan kanannya. Nyeri menusuk pada abdomen sisi kirinya, dengan darah menembus membasahi seragamnya. Sakit yang semula tidak ia acuhkan. Namun ketika ia menerima serangan Suoh Mikoto baru saja (yang bahkan berhasil meretakkan lensa kacamatanya), ngilu itu kembali menggerayangi tubuhnya. Sebelah tangan yang refleks menekan lukanya. Mengotori tangannya dengan darah segar.
Satu tatapan terkejut dari pria yang tengah menjadi lawan duelnya itu.
"Oi, Munakata… kau terluka?"
Ia terkekeh seraya menarik napas panjang. Berusaha menyeimbangkan ritme jantungnya yang mengguruh akibat nyeri yang ditahannya. "Sepertinya demikian. Rupanya luka tusukan yang diarahkannya padaku, efeknya tidak seringan apa yang kuperkirakan."
"Siapa yang melakukannya?"
Ada geram di nada bicara itu. Reishi dapat membedakannya. Suasana hati Suoh Mikoto yang kemudian berubah. Murka yang tampak menggarang di raut wajah keras itu. Seandainya saja dirinya sanggup untuk berpura-pura lebih baik dari ini.
"Orang yang mengaku sebagai Raja Tanpa Warna, Suoh. Ya, aku bertemu dengannya. Ia merasuk ke dalam tubuh anak buahmu, dan ia menyerangku ketika aku tengah menolongnya, menghalangi reruntuhan puing bangunan agar tidak mencelakainya."
Aura merah kian mengganas, menguar dari sekujur tubuh laki-laki di hadapannya. Untuk pertama kalinya, Reishi merasakan kengerian dari kekuatan itu. Tampak begitu berbahaya. Meletup membinasakan. Meski ia tidak boleh gentar. Ia harus mengulur waktu agar Suoh mencurahkan seluruh energi aura padanya. Hingga jika tiba saatnya Raja Tanpa Warna muncul di hadapan mereka, dirinyalah yang akan melakukan eksekusi itu.
Meski perhitungannya meleset. Kata-katanya tadi rupanya terlanjut menjadi penyulut sebentuk amarah lain bagi Mikoto.
"Minggir, Munakata. Kau tahu ada perhitungan yang harus kulakukan dengan bedebah sialan itu."
Remang di bulu tengkuknya. Gemetar merayapi tubuhnya. Entah dari rasa sakit yang melanda, atau dari kata-kata dingin laki-laki itu.
"Tidak, Suoh. Aku tidak akan membiarkanmu melangkah sedikit pun dari tempat ini."
Karena aku akan menolongmu. Aku ingin menolongmu.
"Menyingkir, Munakata!"
Seruan pria itu seakan genderang perang babak dua yang dibunyikan di telinganya. Lawan tandingnya yang kemudian melempar satu bolah api raksasa ke arahnya, untuk kemudian melompat ke samping, mencari celah kosong darinya. Meski matanya tidak bisa dikelabui begitu saja. Dengan seluruh kekuatan aura birunya, Reishi menghadang setiap serangan yang dilontarkan untuknya, hanya demi menyejajarkan langkahnya dengan pria itu. Berusaha membarikade setiap celah yang digunakan Suoh Mikoto untuk lolos dari cengkeramannya. Tidak ada serangan yang sanggup dilancarkannya. Ia hanya menangkis, menghalau bola-bola api, kemudian menghalau Mikoto, sesekali mengangkat pedangnya hanya sebagai bentuk pertahanan dari serangan-serangan langsung yang dilemparkan Suoh melalui tangan dan kaki.
Meski staminanya yang terasa merembes begitu cepat meninggalkan tubuhnya. Dadanya yang mulai memberat untuk menarik oksigen dari udara bebas. Dan Mikoto seolah mengetahui hal itu. Satu tornado api besar diiringi terjangan dari laki-laki itu, melesat cepat tanpa sempat ia menghindar. Tangan kekar Mikoto yang kemudian, sekali lagi, beradu dengan bilang pedangnya. Kubah aura biru dan merah yang menyelimuti mereka yang bertabrakan. Ia tidak menyerah. Ia tahu aura Mikoto tengah menekan seluruh bentuk pertahanannya.
Kedua bola aura kemudian dilemparkan dan menimbulkan ledakan dahsyat. Ia dan Mikoto sama-sama melompat mundur. Menarik napas. Seketika rasa ngilu pada abdomennya menyerang. Napasnya tersengal. Bilah pedangnya lantas tertancap di tanah. Membantunya untuk berdiri tegak.
"Munakata, hentikan semua usahamu. Kau berusaha membunuh dirimu sendiri."
"Lihat siapa yang berbicara, Suoh. Kau pikir, apa yang tengah kau lakukan dengan tubuhmu?" Ia menyeringai. Satir. Membalas segala raut gelap di wajah pria itu. Sakit yang semakin menjadi. Mengaburkan pandangannya.
"Hentikan, Munakata. Kumohon."
Kedua bola matanya melebar. Tawa yang lantas meluncur dari bibirnya yang gemetar. Memohon? Sejak kapan Suoh Mikoto bisa memohon dan mengiba?
"… beritahu aku alasanmu yang sebenarnya, Suoh."
"Munakata…."
Kepalanya terangkat. Mengadu ungunya pada emas itu. Berharap agar pria itu mengerti. Dalam putus asa, mengiba agar Mikoto mengerti jerit pilu batinnya.
"Aku gagal mengerti jalan pikiranmu, Mikoto. Karena itu… buat aku mengerti. Jelaskan berkali-kali padaku, hingga aku memahaminya… hingga aku bisa menerima ketidakberdayaanku untuk menolongmu dan menjagamu tetap hidup."
Gelegak panas menjelma di dadanya. Perih yang berkali-kali lebih menyayat dibandingkan luka yang tertoreh menembus organnya.
Hela napas dari pria di depannya. Langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Sepasang tangan yang kemudian menyokong kedua bahunya. Manik emas yang menatap jauh ke dalam dirinya. Menuang makna pada kata-kata yang terlontar setelahnya.
.
"Aku melakukan semua ini, untuk melindungi segalanya. Yata. Kusanagi. Anna. Dan kau. Ia bermaksud untuk membunuh semua yang kumiliki, agar ia bisa merebut kekuatanku, juga kekuatanmu, sehingga itu menjadikannya raja di antara para raja. Kalau kau menjadi diriku, bukankah kau juga akan melakukan hal yang sama?"
.
Reishi terdiam. Terbius oleh senyum pahit dan sirat sendu dari wajah keras itu. Tangannya lantas menghalau kedua genggaman Mikoto di pundaknya. Kepalanya tertunduk. Geram gemetar semakin merajai tubuhnya. Menguasai logikanya.
.
"Ya, Suoh. Jika aku jadi dirimu, besar kemungkinan aku akan melakukan hal yang sama. Meski begitu…."
.
Suaranya mendesis. Lirih. Parau. Seakan mengeluarkan seluruh amarah menghimpit benaknya, walau dalam sebentuk kepiluan.
.
"Meski begitu, karena aku berdiri di sini dengan kedua kakiku sendiri, maka aku tahu perasaanku. Perih memuakkan yang menggerayangi dadaku, yang hadir ketika aku harus membunuhmu, dan luka dari duka yang akan muncul setelahnya, yang kuyakin tidak akan pernah bisa kusembuhkan…. Hanya aku yang mengetahuinya, dan tidak denganmu. Tidak pula kau akan peduli dengan apa yang kurasakan. Bukan begitu, Suoh Mikoto?"
.
Telinganya kemudian menangkap satu kekeh tawa.
.
"Kalau begitu, sampai mati pun aku tidak akan berhenti meminta maaf padamu. Hingga kau memaafkanku, dan juga dirimu sendiri. Aku akan menunggumu, Munakata Reishi. Di alam kematian nanti, hingga kau menerima permintaan maafku."
.
"Kau—"
Mikoto melompat mundur. Dan ketika ia baru saja bersiap untuk melontarkan jurusnya pada laki-laki itu, satu cahaya perak bagai petir menyambar turun dari langit, menghalanginya. Sosok pemuda yang berdiri di antara mereka.
Wajah itu. Ya, ia mengenalinya. Pemuda berambut seputih salju yang menjadi tersangka utama kasus pembunuhan Totsuka Tatara. Seseorang yang mengaku sebagai Raja Tanpa Warna. Biang kerok dari tangan takdir yang akan menyeretnya untuk melangkah di atas neraka dunia.
"Laki-laki ini kah… yang kau cari? Cepat… lancarkan seranganmu. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi…."
"Begitu? Heh… terima kasih karena sudah menghemat waktu dan tenagaku untuk menemukanmu."
Aura merah masif yang terkumpul. Bola api raksasa yang siap meluluhlantahkan. Melupakan rasa sakitnya, ia berusaha menerjang tekanan kekuatan itu.
"Suoh! Jangan lakukan itu!"
Terlambat. Tangan Suoh Mikoto yang mencabik menembus tubuh pemuda itu, kemudian membakar tubuh itu hingga habis tidak bersisa. Tanpa tulang. Tanpa darah. Tanpa abu.
Dan Reishi tahu. Meskipun ia kembali, nyatanya tidak ada hal yang dapat diubahnya.
...
"Munakata…."
Putih menyilaukan di balik kelopak matanya. Hangat. Reishi terpejam dan tak ingin membuka matanya. Tubuhnya terasa melayang.
"Munakata, maafkan aku…."
Suara Suoh Mikoto menggema di telinganya. Dari kejauhan dan perlahan mendekat. Memanggil namanya berulang kali. Meski hangat di sekelilingnya terlalu melenakan. Meninabobokannya. Memanjakannya untuk tidak perlu lagi membuka kelopaknya.
"Reishi."
Panggilan itu berubah. Panggilan yang tidak pernah laki-laki itu ucapkan selain di waktu kebersamaan mereka. Menggelitik rasa dalam benaknya.
Sepasang tangan yang kemudian menyambutnya. Menariknya dalam dekapan. Begitu erat. Terasa menjaganya. Memberinya keamanan. Menjanjikannya ketenteraman dan kedamaian. Lalu wangi tubuh yang tersesap di indera penciumannya. Kombinasi wangi bara api, linting tembakau tersulut, hingga manis whisky dan stroberi. Serta desah napas yang bergetar hingga gendang telinganya. Hangat napas terembus di daun telinganya. Kepala yang dibenamkan di pundaknya.
"Maafkan aku."
Panas membungkus sekujur tubuhnya. Merayap hingga ke sudut kelopak matanya. Menitikkan bulir perak yang meluncur turun membasahi pipinya. Dadanya yang sesak, meski lega di saat yang sama.
"Reishi, buka matamu. Maafkan aku."
Dan ketika ia membuka matanya, yang pertama kali Reishi lihat dari seberang punggung pria itu adalah pecahan kaca besar, memperlihatkan masa lalu. Kenangan seorang bocah kecil menjinjing kotak serangga di tangan kiri yang tengah berkenalan dengan seorang lagi yang bersurai acak-acakan dan lebam berbentuk telapak tangan di pipi. Lalu kepingan-kepingan lainnya, mempertontonkan ingatan-ingatan yang bahkan nyaris hilang dari sudut memorinya. Pertemuan pertama mereka dalam status raja. Malam pertama di atas ranjang setelah diawali oleh insiden minuman beralkohol. Berlanjut pada pemandian umum maupun sauna bersama. Pertarungan demi pertarungan yang diadu. Hari-hari perayaan istimewa yang dilewati.
Jika memang sebanyak ini momen manis yang pernah dibangunnya, maka tidaklah mengherankan apabila setengah dunianya lebur bersamaan dengan kepergian laki-laki itu.
"Reishi…?"
Perlahan ia mengangkat kedua tangannya. Membalas dekapan tersebut. Sama eratnya. Sama-sama berusaha mempersempit jarak di antara keduanya.
"Kau bilang… kau tidak akan berhenti meminta maaf hingga aku… memaafkanmu dan memaafkan diriku sendiri?"
Laki-laki itu mengangguk di pundaknya.
"Kau mengubah masa lalu, Mikoto?"
"Hanya karena kau mau menampakkan keputusasaanmu yang begitu manis."
Mulutnya lantas mendengus tawa geli. "Oh ya, tentu saja. Anggaplah sebagai rasa terima kasih karena kau sudah bersusah payah memohon padaku dengan begitu… jujur dan polos. Aku harap aku bisa melihatnya lagi di kehidupan kita selanjutnya."
Punggung pria itu yang menegak dan kepala yang terangkat, hanya demi mempertemukan sirat matanya dan sorot pemilik sepasang emas itu yang serupa. Penuh rasa. Penuh rindu.
Penuh cinta.
"Jadi… kau memaafkanku?"
Ia menggumam nada ceria. Kedua tangannya sendiri yang lantas berpindah dari punggung itu, tertarik kemudian menyusuri sisi wajah pria yang tidak lepas mendekapnya itu. Kening keduanya lantas beradu. Saling merasakan embus napas masing-masing.
"Kau berhasil menemukanku. Lalu hal apa lagi yang harus kutunggu?"
Dengus tawa dari mulut itu. Jarak yang kemudian dinihilkan di antara mereka. Bibirnya yang dicumbu lembut. Penuh kehangatan. Melebur meluruhkan segala penatnya. Menguapkan resah dan gelisahnya.
"Aku pulang, Reishi."
"Bodoh. Kaulah yang selama ini menungguku. Jadi seharusnya akulah yang mengucapkannya. Aku pulang, Mikoto."
...
.
p.s. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca, dan sampai jumpa di prompt terakhir MikoRei Week 2016~!
