"Kau serius minggu ini?" tanya wanita pirang bernama Ino saat wanita itu tengah duduk bercermin sambil berbicara dengan seseorang lewat ponsel yang kini menempel ditelinganya.

'Serius. Buat apa aku bohong. Kalau tidak percaya tanya saja pada Hinata atau Sasuke. Mereka baru saja memberikan undangannya.' ujar sang penelpon.

"I... Iya tapi aku kan sedang berada di luar kota Naruto. Dan hari minggu itu 2 hari lagi sedangkan aku pulangnya hari senin yang artinya 3 hari lagi. Jadi seper-"

'Aku tidak mau dengar alasan apa pun. Pokoknya kita akan datang ke acara reouni itu minggu ini.' potong sang penelpon yang bernama Naruto, tidak memperdulikan ucapan Ino sedikit pun.

"Shikamaru pasti tidak akan mengijinkan aku pulang lebih dulu." ujar Ino seraya menghela nafas dan berdiri lalu berjalan menuju ranjang kamar hotel.

Kalau kalian bertanya kenapa Ino ada di kamar hotel dan tidak bersama Naruto maka jawabannya adalah karena Ino sedang melakukan perjalanan dinas beberapa hari bersama atasannya, Shikamaru.

'Hei! Yang suamimu itu aku atau dia?!'

"Ya... Kau. Tapi dia kan bos ku."

'Dan aku suamimu.' seru Naruto langsung. 'Lagian kenapa harus kau yang ikut keluar kota segala sih.' lanjut Naruto dengan nada sebal.

"Ya karna aku kan sekretarisnya dia. Lagi juga ini bukan acara jalan-jalan kok. Ini cuma perjalanan dinas aja."

'Tetep saja ujung-ujungnya kau pergi dengan dia. Aku kan sudah menyuruhmu untuk berhenti bekerja tapi kaunya keras kepala.' ujar Naruto membuat Ino menatap layar telponnya dengan tatapan aneh. Walau pun pada kenyataannya Ino dan Naruto tidak melakukan video call.

"Hei nadamu seperti wanita yang lagi pms sih."

'Kau tidak tau sih. Aku disini galau, butuh teman. Tapi orang yang aku butuhin malah pergi jauh. Dan ini sudah hari keempat sejak kau pergi dinas. Harusnya si rusa pemalas itu minta tolong pada Temari kan bisa. Temari kan istrinya, wanita itu juga bisa mengerjakan tugas sekretaris.'

"Haha... Jadi kau secara tidak langsung mau bilang kalau kau rindu padaku begitu?"

'Tidak.' elak Naruto dengan cepat.

"Masa?"

'Pokoknya aku bilang tidak ya tidak titik. Dan kau harus datang ke acara reounian itu. Kalau tidak kau akan aku hukum.' ucap Naruto cepat dan langsung mematikan sambungan telponnya.

Ino yang mendengar sambungan telpon terputus hanya bisa menatap bingung ponselnya kembali. Detik berikutnya senyum manis pun terulas diwajah cantiknya.

"Dasar keras kepala."

.

.

Ayah? Ibu? by LYBP HiNa Sasa

Naruto by Masashi Kishimoto

T/T+

Family, Hurt/Comfort

Naruto U x Ino Y

Warning : AU, Typo, OOC, Pasaran dll.

Summary : Mereka egois! Mereka tidak pernah bisa memahami perasaanku yang menginginkan keluarga yang rukun, harmonis dan utuh. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan tentang aku?Apa aku memang tidak pernah diharapkan oleh mereka? Kalau memang benar kenapa mereka tidak berusaha untuk menggugurkanku saja, dari pada aku harus seperti ini.

.

.

Dua hari kemudian, acara reouni SMA.

"Ayo ayah kenapa lama sekali sih!?" Teriak Kou di depan pintu utama rumahnya.

Sekedar info sekarang Naruto, Ino dan Kou sudah tinggal bareng selama dua bulan. Bukan di tempat Minato atau Inoichi, melainkan rumah asli NaruIno.

"Sabar dulu, ibumu belum kasih kabar ke ayah sejak semalam." ujar Naruto yang sibuk dengan ponselnya seraya mendekati sang anak. "Kira-kira dia datang gak ya?" gumah Naruto pelan.

"Ibu pasti datang yah." mendengar ucapan Kou, Naruto langsung menatap anaknya.

"Serius?"

"Gatau." ujar Kou santai dan lebih memilih untuk langsung menaiki mobil ayahnya. Melihat Kou meninggalkannya Naruto pun segera menyusul, namun saat hendak menyusul ponsel Naruto bergetar menandakan adanya pesan masuk.

From: My darling wife

Subyek: sorry

Beruntung karena Shikamaru bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat sehingga aku bisa pulang lebih dulu hari ini. Tapi berhubung jarak antar kota yang jadi penghalang aku tidak bisa memastikan apakah aku akan datang ke reouni itu lebih cepat atau tidak sama sekali. Kalau langsung ke rumah itu sudah pasti bisa. Jadi kalau kau mau datang, datanglah bersama Kou sebagai perwakilan aku. Oke?

Sampai jumpa.

Setelah membaca pesan dari Ino, Naruto pun langsung lemas seketika. Dan dengan raut wajah bete Naruto langsung menghampiri Kou.

"Kou kita tidak usah pergi ya." ujar Naruto lemas.

"Kenapa?"

"Kita tunggu ibumu saja ya."

"..."

"Kau tidak mau bertemu mantan-mantanmu di sekolah Do- Naruto?" ujar seseorang secara tiba-tiba sehingga membuat Naruto dan Kou langsung menoleh.

"Bilang saja itu kau. Lagian ngapain kau kesini?" ucap Naruto saat melihat Sasuke berdiri di depan gerbangnya.

"Hanya ingin berangkat bareng ke sekolah."

"Maaf saja, aku sudah bekerja."

"..."

"Lagian kami tidak jadi datang. Ya kan Kou."

"Aku mau datang." ucap Kou dan langsung membuat Naruto sedikit kesal karena sang putra tidak mau meng"iya"kan perkataannya.

"Iss... Nih anak."

"Ayolah ayah... Nanti aku bujuk ibu untuk datang deh." bujuk Kou pada ayahnya.

"Bener ya?"

"Iya." sahut Kou membuat Naruto mengalah juga.

'Sekarang kau malah terkesan bergantung padanya ya Dobe?' ujar Sasuke dalam hati.

"Lebih baik kita segera jalan. Dan lebih baik kita naik mobilku saja. Hinata dan Aoko sudah menunggu dari tadi."

"Iya."

.

"Waw... Ini sekolah papa dan mama dulu?" suara Aoko terdengar saat rombongan Naruto sampai dilapangan parkir sekolah dan turun dari mobil berwarna hitam mewah itu. Dan saat ini lingkungan sekolah pun sudah mulai ramai dengan alumni yang pernah bersekolah di sekolah tersebut.

"Iya." sahut Hinata.

"Ayo kita masuk." ajak Sasuke dan mereka pun berjalan bersama menuju aula, tempat berkumpulnya pertemuan. Dan dari jarak yang cukup jauh ada seseorang yang terus menatap mereka semenjak mereka turun dari mobil dengan tatapan mata yang sendu.

'Naruto.'

.

"Kira-kira berapa lama lagi pak?" tanya Ino pada seorang tukang bengkel yang sedang membetulkan ban taxi yang bocor, sedangkan sang supir taxi pergi ke toilet. Ya, rupanya taxi yang di naiki Ino mendadak bocor bannya saat diperjalanan, hingga mau tidak mau taxi harus diperbaiki dulu dan mau tidak mau Ino harus menunggu dikarenakan setiap taxi yang lewat disekitar selalu ada penumpang di dalamnya.

"Sekitar setengah jaman lagi nyonya." ujar tukang bengkel tersebut.

Ino melihat jam dipergelangan tangannya. '10.30'

"Sepertinya kau sedang butuh tumpangan nona." ucap seseorang membuat Ino menoleh ke belakang. Dan saat melihat siapa orang tersebut Ino pun membulatkan kedua matanya.

"Kau-"

"Hai."

.

"Hei... hei... lihat! Itu Naruto Namikaze kan?" seru suara seorang perempuan dari jarak yang cukup jauh dari rombongan Naruto kepada teman-temannya (ada empat orang, si A, B, C, D).

"Mana?" sahut si B.

"Itu... Hei! Dia dateng bareng Sasuke Uchiha dan Hinata Hyuuga juga." tunjuk perempuan itu lagi (A).

"Eh? Iya." B.

"Naruto sama Sasuke yang mana sih? Kalau Hinata aku tau." tanya C.

"Itu loh Naruto yang pacarnya Sakura. Sedangkan Sasuke itu sahabat Naruto. Mereka berdua terkenal sebagai pangeran sekolah saat angkatan kita karena ketampanan mereka berdua." B

"Oh iya aku ingat. Naruto yang sering bertengkar sama cewek pirang itu ya, yang namanya... Siapa?" C.

"Ino." D.

"Iya. Kalau gak salah sempet ribut parahkan?" C.

"Sttt... jangan dibahas lagi. Itu udah lama nanti kalau Naruto denger kita bisa dibunuh." A.

"Ngomong-ngomong dua anak kecil itu siapa ya?" tanya D.

"Pasti anak-anaknya lah. Yang perempuan anak Sasuke dan Hinata, lalu yang laki-laki pasti anaknya Naruto dan Sakura." A

"Enak ya jadi Sakura. Bisa langgeng sama pujaan hatinya. Bahkan sekarang anak mereka sudah besar seperti itu." B.

"Kenapa cuma Sakura doang yang enak. Hinata juga enak, dia beruntung dapet Sasuke, padahal mereka berdua gak pernah deket waktu sekolah. Ngobrol juga enggak." A.

"Itu lah yang dinama kan jodoh. Kalau udah jodoh gak bakal kemana, mau dulunya deket atau enggak pasti ujung-ujungnya bersatu kalau emang udah jodoh." C.

"Tapi ngomong-ngomong Naruto kok cuma sama anaknya doang ya? Sakuranya mana?"

"Mungkin di toilet."

.

Ramai. Itulah gambaran yang ada di dalam aula sekolah yang kini sedang dipenuhi alumni yang datang untuk acara reounian ini. Semua tempat penuh dengan orang-orang yang berkumpul demi melepas rindu pada teman-teman sewaktu mereka bersekolah dulu. Begitu pula dengan Naruto dan Sasuke yang kini sedang berkumpul bersama teman sekolahnya dulu. Tidak jauh berbeda Hinata juga lebih memilih berkumpul bersama temannya dibanding teman-teman Sasuke yang semuanya bergender lelaki. Sedangkan untuk Kou, dia sedang menemani Aoko untuk mengambil beberapa makanan sebagai pengganjal perut karena sejak tadi gadis itu bilang lapar saat melihat banyak makanan yang tersedia.

"Apa kau sudah selesai dengan makanannya Ao?" tanya Kou.

"Sebenarnya belum." jawab Aoko dengan mulut penuh makanan.

"Coba katakan siapa yang doyan makan di dalam keluargamu?"

"Emmm... Paman Itachi." jawab Aoko yang sempat berhenti mengunyah makanan.

Kou yang mendengarnya hanya diam saja dan mulai mengambil minuman yang tersedia. Dan minuman yang menjadi pilihannya adalah orange jus. Sambil meminum jusnya Kou pun menatap jam ditangannya.

'Kenapa lama sekali ibu?' batin Kou sambil mengamati aula tersebut. 'Sebenarnya ada yang ganjil dari acara ini... tapi apa ya?'

"Eh, Ao-"

Brak...

Praang...

Saat Kou hendak berkata sesuatu pada Aoko dirinya malah menabrak seseorang saat hendak kembali menatap Aoko, sehingga gelas yang dipegangnya jatuh pecah. Beruntung suasana sedang ramai jadi tidak terlalu menimbulkan masalah besar.

"Maaf." ujar Kou menunduk.

"..." orang itu terdiam sejenak hingga tidak berapa lama ada tangan yang menyentuh surai pirangnya.

"Tidak apa." mendengar suara tersebut Kou pun mengangkat kepalanya dan menatap orang itu.

"!"

.

"Jadi? Apa benar ini acara reouni?" tanya Ino saat dirinya sampai di depan pintu aula dan melihat situasi dalam gedung.

"Seharusnya sih iya. Tapi aku merasa ini terlalu mewah untuk acara kumpul-kumpul." sahut orang di sebelah Ino.

"Kau benar. Ini justru seperti pesta pernikahan. Semua yang hadir juga memakai pakaian pesta." komen Ino.

"Dresscodenya memang baju pesta Ino. Naruto memang tidak memberitahumu?" Ino menggeleng.

"Berarti hanya aku yang pakai baju layaknya orang kerja?" ujar Ino seraya menatap pakaiannya sendiri. Kemeja merah marun dengan lengan seperti balon dan rok span hitam sedengkul. "Sih pirang berkepala durian itu! Awas saja dia."

Melihat Ino menggerutu sosok di sebelahnya pun tersenyum geli.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Ino heran.

"Tidak. Hanya... sudah lama saja aku tidak melihatmu bertengkar dengan Naruto."

"Suruh siapa ke luar negri. Udah gitu gak ada kabar lagi."

"Hihihi... maaf."

"Sudahlah. Aku ingin mencari kepala durian itu dulu." ujar Ino dan mulai melangkah masuk. Sosok yang semula berada di samping Ino tersenyum kembali.

"Akhirnya kau mendapatkannya juga." ujar pelan sosok itu sambil melirik makhluk yang berada di dekapannya.

"Sai ayo!"

"Iya."

.

"Sasuke." suara lembut menyapa indra pendengar Sasuke dan orang-orang yang berada disekitar bungsu Uchiha itu. Dan saat menoleh mereka pun langsung dapat melihat ada seorang wanita cantik bernama Hinata Uchiha yang sedang menghampiri tempat mereka.

"Hinata, mana Aoko?" tanya Sasuke.

"Sedang bersama Kou mengambil makanan." jawab Hinata.

"Hai Hinata, apa kabar?" sapa genit Kiba. Di sampingnya ada Jugoo, Kimimaru, Sakon dan lain-lainnya.

"Baik." jawab Hinata sambil tersenyum.

"Wah, kau makin cantik ya. Beruntung sekali Sasuke mendapatkanmu." ucap Kiba seraya merangkul leher Sasuke. "Hei Hinata, coba katakan. Apa Sasuke selalu menyakitimu?"

"Tidak. Sasuke sangat penyayang kok." ucap Hinata membuat Sasuke tersenyum dan langsung melepaskan rangkulan Kiba, serta lebih memilih mendekati sang istri.

"Hah~" dengus Kiba. "Ya sudahlah. Mungkin aku bukan yang terbaik untukmu Hinata."

"Mau ku lempar sepatu?" ucap Sasuke santai.

"Bercanda Sas. Ngomong-ngomong dimana Sakura, Naruto?" tanya Kiba kini pada Naruto.

"Mana ku tahu." sahut Naruto yang sempat berhenti meminum minumannya, tapi setelah berkata dia kembali meminumannya lagi.

"Kau kok cuek banget sama istri." Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Nanti kalau Sakura berpaling bagaimana?"

"...?... Hey! Kau itu ngomongin siapa sih? Istriku atau Sakura." ujar Naruto.

"Loh, memang istrimu bukan Sakura?"

"Bukanlah."

"Lalu?"

"Istriku itu I-"

"Kepala Duren!" seru suara Ino membuat sekitarnya langsung menatap kehadiran wanita bernama Ino itu.

"Sepertinya akan ada perang dunia ninja ke 5 nih." gumah Kiba sedangkan yang lain hanya diam.

"Waw, kau salah kostum lagi." ujar Naruto sembil memasang cengiran melihat Ino datang.

"Lagi? Hei, kau tidak memberitahuku masalah dresscodenya tau. Dan lihat sekarang, aku jadi pusat perhatian karena salah kostum, dan ini salahmu." sembur Ino.

"Owh iya, ku pikir kau memang suka memakai kostum beda dari yang lain. Dan sorry, aku lupa bilang." ujar Naruto tertawa. Namun saat melihat sosok lain yang datang bersama sang istri Naruto pun langsung memasang tampang bete.

"Sedang apa kau disini!?" tanya Naruto sinis pada Sai.

"Aku sedang menghadiri acara reouni."

"Sai itu anakmu?" tanya Kiba kepo.

"Iya."

"Akhirnya bisa lihat Sai dan Ino bahagia." ucap Kiba membuat Sasuke, Hinata, dan Ino menatap diam sedangkan Naruto mendelik tidak suka. Lain dengan Sai yang tersenyum terus.

"Apa iya aku dan Sai terlihat bahagia?" tanya Ino sambil melirik Naruto. Mendengar Ino berkata seperti itu Naruto makin emosi.

"Kau apaa-"

"Sangat." potong Kiba. "Ngomong-ngomong anak kalian berapa tahun?" tanya Kiba saat melihat anak perempuan Sai.

"5 tahun."

"Wah, berarti kalian kalah dari Sasuke dan Hinata ya. Mereka lebih cepat dapet anak, sedangkan kalian..."

'Yang lebih cepat sih Dobe.' batin Sasuke.

"Itu karena aku lebih dulu menyelesaikan pendidikan ku. Dan dulu aku belum kepikiran untuk menikah." ujar Sai.

"Apaan sih pada!" tegur Naruto pada mereka semua.

"Kau terlihat cemburu Naruto." ucap Kimimaru.

"Ck..." decak Naruto kesal.

"Mama." suara Aoko memanggil Hinata.

"Dari mana saja kau cantik?" tanya Sasuke sambil menyambut kedatangan putrinya.

"Cari makan sama dari toilet."

"Lalu mana Kou?" tanya Naruto.

"Pergi sama bibi berambut pink. Katanya aku suruh ke kalian semua." ujar Aoko.

"PINK!?" pekik Naruto dan Ino bersamaan dan Aoko pun mengangguk.

"Kemana?" tanya Naruto lagi.

"Tidak tau."

"Shit!" umpat Naruto dan langsung bergegas pergi.

"Naruto!" teriak Ino dan langsung menyusul Naruto.

"Yang dimaksud pink, Sakura kan?" tanya Kiba melihat Naruto dan Ino menjauh.

"Ya." sahut Sai.

"Memangnya kenapa kalau anak Naruto sama Sakura. Bukannya Sakura ibu dari anaknya."

"Kau bolot ya?" ejek Sakon. "Naruto kan tadi bilang istrinya dan Sakura itu orang yang berbeda, jadi kalau Sakura memang bukan istrinya wajar kalau Naruto khawatir anaknya dengan orang lain. Apa lagi Sakura mantannya. Setahuku Sakura tipe wanita yang egois. Apa yang tidak bisa dia dapatkan harus disingkirkan." tambah Sakon.

"Lalu ada apa dengan Ino?"

"Mungkin Ino lah istri Naruto yang asli." celetuk Jugoo.

"Haha... mustahil. Ino kan is-"

"Tapi itu kenyataannya." potong Sasuke membuat Kiba berserta temannya yang belum tahu hubungan Naruto dan Ino langsung terdiam.

"Serius? Bukan istri Sai?" Sai pun menggeleng sambil tersenyum. "Lalu anak itu?" tunjuk Kiba pada anak yang ada pada Sai.

"Ini memang anakku. Istriku sedang ke toilet tapi dari tadi belum muncul juga. Mungkin sebentar lagi."

"Katakan ini bercanda!" teriak Kiba sambil mencengkram kerah baju Jugo. "Katakan!"

.

Berkeliling mengitari ruangan yang penuh dengan orang-orang dewasa untuk mencari seorang anak remaja yang berada di sekitar mereka itu agak susah. Dan Naruro serta Ino pun mengalami sendiri akan hal itu. Tidak jarang pula mereka berdua bertabrakan dengan orang lain.

Karena kalau boleh jujur ruangan ini terasa sempit, padahal aslinya besar. Entah perasaan Ino saja atau memang yang hadir dalam acara ini bukan hanya angkatannya saja melainkan orang luar juga hadir? Entahlah. Ino tidak tahu. Yang penting sekarang adalah menemukan Kou, putranya.

"Bagaimana Naruto?" tanya Ino yang melihat Naruto mencoba menghubungi Kou.

"Tidak diangkat." jawab Naruto dan mencoba berulang kali. "Kou dimana sih kau?" gumah Naruto yang masih dapat terdengar orang lain.

"Kau Naruto kan?" ucap seseorang wanita yang sempat membicarakan Naruto tadi.

Mendengar ada yang menyapanya Naruto langsung menoleh, begitu juga Ino yang berada di samping Naruto.

"Iya. Ada apa?"

"Aku dan teman-temanku dari tadi melihat mu kesana kemari seperti mencari seseorang. Siapa yang kau cari? Mungkin kami bisa membantu." ujar A.

"Aku memang sedang mencari seseorang, lebih tepatnya anakku. Tapi aku rasa kalian tid-"

"Oh, anakmu yang berambut pirang berusia sekitar 12 tahun itu kan... Yang bersamamu tadi waktu datang bersama dengan putrinya Sasuke?" sahut B.

'Aslinya 14 tahun. Kau korupsi 2 tahun." batin Ino geli.

"Kau tau?"

"Ya. Kami sempat melihat anakmu seperti apa tadi saat kau masuk aula." B.

"Lalu dimana dia sekarang?"

"Sama istrimu, Sakura. Tadi aku lihat mereka jalan ke belakang panggung sana." mendengar perkataan itu Naruto dan Ino langsung berpandangan dan detik berikutnya mereka pun langsung bergerak untuk mencari Kou lagi.

"Eh, bukannya yang di sampingnya Naruto itu Ino ya?" tanya C.

"Eh? Masa sih?" B.

Keempat wanita itu pun saling menatap lalu berikutnya mereka serempak menggeleng.

"Tidak mungkin."

.

"Kou!" pekik Naruto dan Ino membuat wanita berambut pink yang berada 10 meter di depan mereka langsung menoleh. Dan saat itu juga ada dua penjaga yang langsung menghalang Naruto dan Ino.

"Kemana anakku Sakura?" teriak Naruto saat dihalangi orang bertubuh besar.

"..."

"Jika kau sampai menyakiti atau melukai anakku lagi kau akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah kau lakukan pada putraku!" ancam Naruto membuat Sakura menunduk sedih.

'Menyakiti atau melukai anakku lagi?' batin Sakura sedih. 'Maafkan aku karena sudah pernah menghilangkan darah dagingmu yang sudah kau titipkan padaku Naruto. Maafkan aku.' tambah Sakura sambil menuduk dan menutup matanya erat agat tidak ada air mata yang terjatuh.

"HEY! SAKURA! KAU DENGAR AKU! SAKURAA! SAKURAA!"

"Bisa kau jaga sikapmu tuan Namikaze?" muncul sebuah suara membuat Naruto dan Ino menoleh ke sumber suara.

"Siapa kau!?" tanya Naruto tidak suka.

"Perkenalkan namaku Gaara Sabaku." ujar Gaara seraya menghampiri Sakura. "Kalian bisa melepaskan mereka." perintah Gaara pada anak buahnya.

"Aku rasa kau bukan alumni sini. Aku tidak pernah melihatmu saat sekolah dulu." ujar Ino membuat Gaara tersenyum.

"Mungkin dia kebanyakan bolos sekolah." sahut Naruto kesal sambil menatap tajam anak buah Gaara.

"Tidak. Istrimu benar, aku memang bukan alumni sini. Aku dari sekolah lain. Dan alasanku berada disini karena menuruti semua permintaan tunanganku." jelas Gaara.

"Tunangan?"

"Ya. Dan tunanganku adalah... Sakura Haruno." Ino dan Naruto langsung menatap Gaara dan Sakura bergantian.

"Tunangan?" gumah Ino pelan, lalu melirik kearah suaminya yang menampakan ekspresi biasa saja. Mungkinkah Naruto memang sudah tidak punya rasa pada Sakura?

"Lalu mana anakku?"

"Tenang. Dia sedang mempersiapkan sesuatu untuk kalian."

"?" Naruto dan Ino.

.

"Apa tidak sebaiknya kita bantu mencari Kou juga Sasuke?" ujar Hinata sambil melihat sekitarnya. Siapa tahu Kou sedang di sekitarnya.

"Tenang saja. Selama anak mereka hilang di lingkungan sekolah itu tidak apa-apa." sahut Sasuke sambil sesekali meminum minuman yang ada ditangannya.

"..."

"Sas..." panggil Kiba dan Sasuke pun meliriknya. "Ino beneran istrinya Naruto ya?"

"... Menurutmu?" tanya balik Sasuke sedangkan Kiba hanya menggeleng.

"Kalau mereka beneran suami istri aku masih tidak bisa percaya. Mereka kan dulunya kayak tom and jerry. Aku bahkan masih ingat saat Ino kena hukumanan gara-gara Naruto mengenai majalah itu. Kejadian itu kan yang paling parah dari pertengkaran mereka yang lainnya. Aku masih tidak percaya saja. Apa mereka berdua benar-benar cocok? Dan ap-hmmpp..."

"Kau berisik Kiba." ucap Kimimaru sambil menutup mulut Kiba yang berisik.

"Puuah... Aku kan hanya bertanya."

"Itu kepo namanya."

"Biar-"

"Tes... Tes... Tes..." semua tamu yang berada di dalam aula sekolah terdiam semua saat mendengar suara yang berasal dari mic di atas panggung. Dan saat semua mata tertuju ke atas panggung dapat mereka lihat seorang pemuda berambut merah sedang berdiri dengan gagah di atas panggung. (Gaara gak punya tato tapi punya alis.)

"Selamat siang untuk semua hadirin yang sudah hadir dalam acara reouni yang diadakan oleh SMA Konoha ini." sapa Gaara. "Saya Gaara Sabaku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian semua..." Gaara menatap seluruh tamu yang hadir.

"Mungkin diantara kalian ada yang bertanya atau mungkin ada yang merasa aneh dengan acara reouni kali ini yang terkesan sangat meriah dan mengharuskan kalian memakai dresscode gaun pesta untuk wanita dan tuxedo untuk pria ." sayup-sayup suara bisikan mulai terdengar. Ada yang baru menyadarinya dan ada yang memang sudah menyadarinya sejak awal.

"Sebenarnya selain untuk mempertemukan kalian kembali sebagai teman sekolah acara ini juga bertujuan sebagai pesta pertunangan saya dengan salah satu alumni sekolah ini yang sangat menginginkan teman sekolahnya bisa datang dalam pesta pertunangan kami. Dan bila kalian bertanya siapakah alumni itu maka akan saya panggilkan. Dia adalah... Sakura Haruno."

Dan dari sudut panggung sosok bernama Sakura pun perlahan berjalan menghampiri Gaara.

"Loh? Itu bukannya Sakura yang pernah jadi pacarnya Naruto Namikaze kan? Ku pikir dia sekarang sudah menikah dengan Naruto."

"Ku pikir Sakura juga istrinya Naruto."

"Iya. Ku pikir juga gitu."

"Lalu yang bersama Naruto itu anaknya dengan siapa?"

Begitulah tanggapan dari orang-orang yang mengetahui hubungan Naruto dan Sakura sebelumnya.

"Terima kasih kepada semuanya karena kalian sudah bersedia hadir dalam acara reouni kali ini. Maaf sebelumnya karena tidak menyantumkan acara lain dalam undangan, karena memang sengaja kami rahasiakan agar menjadi sebuah kejutan. Terutama untuk seseorang." semua orang berbisik kembali.

"Seperti yang kalian ketahui bawah dalam acara reouni kali ini bukan hanya sekedar sebuah pertemuan antara teman lama saja, melainkan juga ada pesta pertunangan saya, Sakura Haruno dan pasangan saya, Gaara Sabaku."

"Pesta ini saya sengaja buat juga demi seseorang yang pernah sangat saya sayangi." 'bahkan sampai sekarang.' tambah Sakura dalam hati. "Mungkin kalian juga tahu siapa dia... Ya dia adalah Naruto Namikaze..."

Semua mata langsung mencari sosok Naruto dan menatap pria pirang yang mengerutkan kedua alisnya tersebut.

"Naruto bisakah kau naik ke panggung ini?" tanya Sakura dengan q-nya.

Naruto diam hingga akhirnya Ino menyenggol lengan sang suami. "Apa?" tanya Naruto menatap Ino.

"Sakura menyuruhmu naik ke atas panggung."

"Tidak mau." ujar Naruto seraya membuang muka kearah lain.

Sakura yang melihat penolakan Naruto tertunduk sedih sampai Gaara mulai menyentuh bahunya lembut.

"Ayah!" panggil suara Kou membuat Naruto kembali menoleh dan mendapati sang anak sedang berdiri di atas panggung juga. Ino pun kaget. "Kemari!" pinta Kou dan Naruto langsung naik ke panggung meninggalkan Ino yang masih terdiam.

"Darimana saja kau!?" omel Naruto di atas panggung tanpa sadar saat berada di depan sang anak hingga semua orang melihatnya. Sedangkan Kou hanya meringis melihat ayahnya mengomel.

"Aku abis menelpon kakek untuk datang kemari."

"Untuk?"

"Membawakan sesuatu yang seharusnya ada di antara ayah dan ibu."

"?"

"Sakura!" teriak seseorang yang tidak lain adalah Kiba hingga membuat semua mata tertuju pada pria penyuka anjing itu. "Apa benar pria berambut merah itu tunanganmu? Ku pikir kau dan Naruto sudah menikah dan anak berambut pirang itu adalah anak kalian."

Sakura tersenyum. "Iya, Gaara Sabaku adalah tunanganku. Aku tidak pernah menikah dengan Naruto. Sedangkan anak itu... Dia adalah anak Naruto dan Ino." ucapan Sakura membuat beberapa orang yang mengetahui hubungan Naruto dan Ino saat masih sekolah dulu langsung kaget seketika.

"Ino? Maksudmu Ino Yamanaka?" ucap Kiba lagi.

"Ya, ibuku Ino Yamanaka. Wanita berambut pirang cantik yang terlihat seperti barbie hidup." ucap Kou seraya menatap Ino. Ino tidak bisa berkata apa pun selain bersemu. "Ibu kemari."

Ino menggeleng. Malu.

Kemari Ino, pesta ini juga untukmu." ucap Sakura.

"Ino kemari, atau aku yang akan membawamu kemari." ucap Naruto. Ino tetap menggeleng hingga Naruto akhirnya menghampiri Ino, namun karena Ino memang tidak mau wanita cantik itu pun menjauh dari Naruto dengan cara berlari memasuki kerumunan tamu.

"Serius mereka suami istri?" tanya seseorang.

"Kok bisa?"

"Masa sih?" ucapan tanya yang masih belum bisa percaya terus menggema saat aksi kejar-kejar Naruto dan Ino terus terjadi.

"Hei, Ino berhenti! Jangan kayak anak kecil gitu dong."

"Aku tidak mau di paksa Naruto."

"Aku tidak memaksamu, aku hanya mengikuti permintaan anak kita. Ayolah." Naruto pun berhenti berlari namun Ino masih saja berlari hingga wanita itu jatuh menabrak seseorang.

Brukk...

"Aduh~"rintih Ino.

"Jangan sok sinetron deh." ucap orang itu membuat Ino mendongak kaget.

"Kak Deidara?"

"Kalian kalau mau main india-indiaan jangan disini." ucap Deidara saat Naruto menghampirinya dan membantu Ino berdiri.

"Siapa juga yang main indiaan." sahut Naruto. "Sedang apa kau di Jepang? Bukannya kau harusnya di Kanada?"

"Apa salahnya kalau aku ada di tempat kelahiranku?"

"Tidak ada sih. Tapi kenapa kau disini?"

"Aku disuruh datang oleh keponakanku. Katanya ada sesuatu yang penting di sekolah lama kalian, jadi aku kesini deh."

"Sendiri?"

"Tidak. Sama keluargaku dan keluargamu."

"Un-"

"Paman Dei mana yang ku pinta?" tanya Kou tiba-tiba dari belakang tubuh Naruto.

"Nih sayang." ucap Shion yang sudah masuk bersama keluarga Namikaze seraya memberi sebuah paper bag pada Kou.

"Apa itu?" tanya Naruto menaikan alisnya bingung.

"Rahasia. Ayo ibu." seru Kou dan berlari sambil menarik ibunya menuju Sakura dan semua itu terus menjadi tontonan gratis para tamu. "Ini barangnya bibi Sakura."

"Bagus. Sekarang bawa ibumu ke ruang ganti. Berikan apa yang harus kau berikan dan simpan apa yang harus diberikan belakangan, mengerti."

"Yaps. Ayo ibu." Kou pun pergi lagi sambil menarik Ino.

"Sambil menunggu mereka selesai bagaimana kau kalian tukar cincin dulu. Ini pertunangan kalian juga kan?"" ujar Sasuke tiba-tiba dan langsung disetujui oleh Gaara dan Sakura.

.

Menit berganti menit. Acara pertunangan Gaara dan Sakura pun sudah terjadi. Para tamu sudah kembali menikmati hidangan yang tersedia, sedangkan Naruto mundar-mandir di atas panggung.

"Sebenarnya apa yang kau rencanakan Sakura?" tanya Naruto yang mulai kelihatan lelah.

"Aku hanya ingin memberikan sebuah kejutan sekaligus hadiah untuk kalian. Itu saja."

"Aku-"

"Bibi Sakura sudah siap!" seru Kou yang hanya memunculkan kepalanya saja dari belakang panggung. Sakura mengangguk, lalu berdiri.

"Baiklah semuanya!" ucap Sakura mencari perhatian kembali orang-orang diruangan itu. "Setelah pertunanganku dengan Gaara kali ini aku akan memberikan kejutan untuk Naruto dan Ino sebagai suatu hadiah yang mungkin bisa menjadi kenangan terindah bagi mereka berdua... Baiklah, tolong bukakan tirainya."

Perlahan tirai panggung mulai terbuka dan semua mata tertuju pada objek yang akan dipersembahkan di atas panggung tersebut. Begitu pun dengan Naruto yang penasaran dengan objek dibalik tirai tersebut.

Perlahan tapi pasti tirai merah tersebut mulai terbuka sepenuhnya dan menampilkan sesosok wanita cantik berambut pirang yang disanggul cantik (sanggulnya princes cinderella) dengan gaun pernikahan yang sangat indah sedang berdiri menatap semua orang dari atas panggung layaknya cinderella yang baru datang kesebuah pesta dansa dan langsung menjadi pusat perhatian.

Wanita itu cantik. Kulit putih mulusnya, pipi merah merona, bibir pink yang menggoda serta garis mata yang menggambarkan keanggunan membuat wanita itu cantik luar biasa. Dan itu terbukti dari semua tamu yang terhipnotis oleh kecantikan wanita itu. Ino Yamanaka atau yang kini menyandang nama Ino Namikaze telah berhasil membuat semua orang terpukau. Tidak kecuali sang suami, Naruto Namikaze.

'Cantik.' puji Naruto dalam hati begitu pula semua orang.

'Kenapa aku rasanya seperti akan menikah lagi ya?' batin Ino.

"Ino kemari lah." pinta Sakura dan Ino pun berjalan diiringi oleh Kou disampingnya.

"Apa maksudnya ini semua Sakura?" tanya Naruto pelan dan Sakura hanya tersenyum.

Melihat sang istri sudah hampir tiba di dekatnya Naruto pun mengulurkan tangannya untuk menyambut kedatangan sang istri. Ino pun menerima uluran tangan Naruto.

"Kou mana yang lainnya?" tanya Sakura.

"Oh iya aku lupa." sahut Kou lalu berlari mengambil sesuatu.

"Apa maksudnya ini Sakura?" tanya Ino dan semua orang kembali memasang telinganya untuk mendengar alasan Sakura melakukan semua ini pada Naruto dan Ino.

"Mungkin seharusnya aku memberikan kejutan ini sekitar dua bulan lalu saat ulang tahun pernikahan kalian. Tapi karena ku tahu Ino sedang sakit akibat tabrak lari dan aku masih belum bisa menerima hubungan kalian, maka aku baru bisa memberikan ini semua sebagai kado pernikahan kalian yang ke 16 tahun hari ini."

'16?' batin Naruto lalu mulai menghitung dengan jarinya. 'Ini bulan September artinya bulannya Ino, lalu besok bulan Oktober bulanku. Kalau gak salah Kou hadir saat 6 bulan setelah pernikahanku. Jika juli pernikahanku maka 6 bulan selanjutnya... ?... Agus, Sep, Okto, Nov, Des, Jan... Ya ampun! Januari Kou sudah 15 tahun!?' Naruto menepuk dahinya. 'Gak kerasa anakku sudah besar dan aku makin tua? Ckck...'

"Ada apa?" tanya Ino pada Naruto.

"Ah? Tidak apa-apa."

"Bibi ini." ucap Kou memberikan kotak sedang berwarna merah dengan bentuk hati pada Sakura lalu kembali menjauh lagi untuk mengambil yang lain.

"Saat kalian menikah aku belum sempat memberikan apa pun pada kalian berdua, jadi ku putuskan aku akan memberikan ini padamu sebagai hadiah pernikahanmu dan juga ulang tahunmu Ino." ucap Sakura menyerahkan kota tersebut.

'Ino ulang tahun hari ini?'

"Apa ini?" tanya Ino.

"Bukalah." dan saat Ino membuka kotak tersebut dapat Ino lihat seperangkat perhiasan lengkap yang sangat indah tersusun rapi di dalam kotak perhiasan itu.

"I...ini untuk...ku?"

"Iya."

"Tapi ini terlalu mahal Sakura-"

"Tidak apa. Simpan saja hadiahku ini." Ino tersenyum.

"Tidak Sakura. Ini terlalu mahal dan aku tidak suka akan hal itu. Jika kau mau memberiku hadiah cukup ucapan selamat saja juga tidak apa-apa kok." Sakura terdiam.

"Aku tau pesta ini juga kau buat sebagai perayaan pernikahan ku dengan Naruto yang dulunya sama sekali tidak ada perayaan apa pun kecuali undangan orang terdekat yang justru kami malah tidak mengundangmu. Dan dengan pesta ini aku sudah merasa bahagia karena akhirnya semua orang bisa tau siapa aku dan ada hubungan apa aku dengan Naruto. Aku sudah cukup senang dengan pesta kejutan yang kau buat ini Sakura. Terimakasih."

Tidak bisa berkata lagi akhirnya Sakura pun langsung memeluk Ino.
"Aku salah sudah pernah membencimu. Ternyata kau memang wanita yang lebih pantas untuk Naruto. Kau baik dan juga cantik luar dalam. Maaf atas semua kesalahanku-"

"Aku sudah memaafkanmu." ujar Ino membalas pelukan persahabatan Sakura.

Mengingat mereka ada di depan umum Sakura pun melepaskan pelukan Ino dan dia pun mengingat sesuatu hingga membuatnya mengaduk-aduk isi tasnya.

"Ini." ucap Sakura memberikan sebuah kalung pada Ino.

"Aku kan suda-"

"Itu bukan pemberian dariku atau pun punyaku. Itu punya Naruto yang sempat dia berikan... ralat, dia titipkan padaku."

Ino menatap kalung putih dengan liontin love bermatakan mutiara biru simpel yang sangat cantik dan indah itu.

"Sekarang sudah waktunya aku memberikan kalung ini pada wanita yang benar-benar cocok menjadi istri Naruto. Dan wanita itu adalah kau Ino. Ambilah." mendengar ucapan Sakura, Ino masih bimbang untuk mengambilnya.

Di tengah kebimbangan itu tiba-tiba ada tangan tan yang langsung mengambil kalung cantik tersebut dengan cepat.

"Jika kau ragu biar aku saja yang memakaikannya untukmu." ujar Naruto seraya berdiri di belakang Ino dan mulai memasangkan kalung tersebut dileher jenjang Ino. 'Aku harus memberikan sesuatu yang lain pada leher ini.'

Saat Naruto memasangkan kalung tersebut Ino tidak bisa berkata apa-apa selain menyentuh kalung itu dengan tangannya.

"Baiklah semuanya, ayo kita nyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Ino Yama- Namikaze." seru Sakura keras saat melihat Kou membawa kue ulang tahun untuk sang ibu dan bersamaan itu Naruto sudah selesai memakaikan kalung tersebut.

Happy birthday to you...

Happy birthday to you...

Happy birthday, happy birthday, Happy birthday to you...

Semua orang pun bernyanyi sambil bertepuk tangan tanpa terkecuali. Menerima kejutan ulang tahun yang sangat special ini Ino pun sangat terharu dan bahagia atas semua yang terjadi hari ini kepada dirinya.

"Ibu tiup lilinya." ujar Kou. "Tapi sebelum itu berdoa dulu."

Ino memejamkan matanya dan berdoa lalu segera meniup lilin tersebut. Lilin pun padam disusul dengan tepuk tangan semua orang.

"Baiklah sebelum sesi memotong kue ada baiknya jika kalian melalukan reka ulang saat kalian menikah dulu." ucap Sakura sambil menunjukan sebuah kotak cincin dan membuat Naruto beserta Ino menatapnya.

"Maksudmu kami menikah lagi?" Naruto.

"Ya... bisa dibilang begitu. Anggap saja ini sebagai ganti undangan dan resepsi kalian waktu itu. Benarkan semua?"

"BENAR." sahut semuanya.

"Baiklah. Ma-"

"Oke. Gaara!" panggil Sakura dan Gaara pun menghampirinya lagi. "Ayo Gaara."

Gaara pun menghela nafas dan berdiri menghadap para tamu. Naruto dan Ino pun berjalan dan berdiri menghadap Gaara.

"Baiklah. Naruto Namikaze apakah kau bersedia menjadi suami dari Ino Yamanaka baik susah mau pun senang, kaya mau pun miskin, sedih mau pun bahagia dalam suka mau pun duka sampai maut memisahkan?" ucap Gaara seolah dirinya pendeta.

"Ya, saya bersedia." ucap tegas Naruto.

"Dan kau Ino Yamanaka, apakah kau bersedia menjadi istri dari Naruto Namikaze baik susah mau pun senang, kaya mau pun miskin, sedih mau pun bahagia dalam suka mau pun duka sampai maut memisahkan?"

"Iya, saya bersedia."

"Baiklah. Kalian bisa bertukar cincin sekarang." Sakura yang berdiri di samping Gaara maju selangkah sambil membuka dan menyodorkan kotak cincin itu pada Naruto dan Ino.

Ino dan Naruto yang melihat cincin tersebut langsung membulatkan matanya. Pasalnya apa yang mereka lihat adalah cincin pernikahan mereka yang asli. Cincin yang selama ini tidak pernah mereka pakai dan menganggap kalau cincin itu sudah hilang entah kemana.

"Itu-"

"Kou bilang ayah kalian berdua yang menyimpan cincin ini saat kalian menaruhnya sembarangan." ujar Sakura menjelaskan semuanya.

Tanpa bertanya lagi Naruto mulai mengambil cincin yang berukuran kecil lalu memasangkannya dijari manis Ino. Begitu pun dengan Ino.

Prokk... prokk... prokk...

Semua tamu bertepuk tangan atas reka ulang pernikahan yang dilakukan Naruto dan Ino. Walau pastinya reka ulang tersebut berbeda dengan yang aslinya.

"Cium Ino, Naruto!" teriak Kiba membuat semua ikut-ikutan bersorak juga.

Naruto yang melihat semua berseru kata cium langsung menatap Ino seolah meminta izin pada sang istri untuk menciumnya di depan umum. Ino mengangguk dan Naruto pun mendekatkan wajahnya. Kou bersiap untuk tutup muka namun berhenti saat melihat ayahnya malah mencium kening sang ibu dengan waktu yang cukup lama.

Awal menerima ciuman dikeningnya Ino terdiam namu detik berikutnya dia menutup kedua matanya karena dapat merasakan kasih sayang yang diberikan oleh suaminya.

"Untuk bibir aku akan memberikannya nanti malam. Bersiaplah Honey." bisik Naruto membuat Ino merah. "Bisa aku minta musik untuk berdansa?" tanya Naruto pada Sakura.

"Iya. Musik! Mainkan!" perlahan musik pun mulai mengalun membawakan sebuah lagu romantis untuk kedua pasangan tersebut. From this moment yang dinyanyikan oleh Shania Twani adalah lagu tersebut.

I do swear that I'll always be there.

"Ayo kita turun Ino."

"Iya."

I'd give anything and everything and I will always care.

Mendengar musik sudah diputar Naruto pun menarik tangan Ino perlahan untuk turun dari panggung agar lebih leluasa untuk berdansa.

Through weakness and strength, happiness and sorrow...

Semua yang melihat Naruto dan Ino turun dari atas panggung mulai menyingkir dan membiarkan pasangan tersebut menikmati waktu mereka berdua.

for better, for worse, I will love you... With every beat if my heart.

Mereka bagaikan pangeran dan cinderella yang sedang berdansa bersama sebelum tengah malam tiba.

Bergerak dengan perlahan-lahan sambil mendengarkan alunan musik yang indah. Mereka terlihat sangat serasi.

From this moment, life has begun

From this moment, you are the one

"Kau cantik malam ini." ucap Naruto ditengah dansa mereka.

"Itu berarti selama ini aku jelek begitu?"

Right beside you is where I belong.

From this moment on

"Emm... Mungkin." canda Naruto membuat Ino jengkel dan berniat untuk menjauh dari sang suami.

From this moment I have been blessed.

I live only, for your happiness

Namun sebelum Ino menjauh dengan cepat Naruto kembali menarik tangan Ino dan membawanya kedalam pelukannya. Dan dalam pandangan semua orang gerakan tersebut merupakan bagian dari dansa mereka.

And for your love

I'd give my last breath,

From this moment on

"Jangan pernah meninggalkanku sendirian. Kau sudah berjanji dihadapan semua orang untuk terus bersamaku." ucap Naruto masih seraya berdansa. Ino mendongak menatap wajah sang suami. "Teruslah di sampingku. Saat ini dan seterusnya."

I give my hand to you with all my heart,

Ino menatap Naruto dalam, begitu pun dengan Naruto.

I Can't wait to live my life with you

I Can't wait to start.

"Walau pernikahan kali ini hanya reka ulang tapi entah kenapa aku malah merasa bahagia dengan ini semua."

You and I will never be apart,

"Dan aku baru merasa kalau aku bodoh akhir-akhir ini karena pernah menyia-nyiakan wanita sepertimu."

My dreams came true because of you

"Tapi... mulai sekarang... aku tidak akan menyia-nyiakanmu lagi."

From this moment, as long as I live

I will love you.

"Aku tidak akan menyia-nyiakanmu lagi karena aku sudah berjanji untuk membahagiakanmu. Aku akan mencintaimu sampai mati."

I promise you this.

There is nothing I wouldn't give

From... this... moment on.

"Dan aku berjanji demimu dan anak kita. Aku akan mencintaimu mulai saat ini dan seterusnya." ujar Naruto lalu memeluk Ino erat sambil terus berdansa.

Disisi lain Keluarga Namikaze dan Yamanaka tersenyum melihat kemesraan yang diciptakan oleh anak-anak mereka. Begitu juga dengan Kou yang bahagia melihat ayah dan ibunya bisa seperti itu.

'Ayah, Ibu.'

You're the reason. I believe in love,

And you're the answer to my prayers, from up above

All we need is just the two of us.

My dreams came true because of you.

From this moment as long as I live

I will love you

I promise you this

There is nothing I wouldn't give

From this moment

I will love you

As long as I live

From this moment on

Mmmmmm...

.

.

Setelah berjam-jam terlewatkan acara pun selesai pada pukul 4 sore, dan tentunya semua tamu sudah pulang ke rumah masing-masing. Kini yang tinggal hanya keluarga Namikaze dan Yamanaka saja, tentunya keluarga Sakura dan Gaara juga masih ada.

Disisi lain Ino sedang berganti pakaian, selagi menunggu Naruto lebih memilih untuk duduk lesehan diatas panggung sambil bertopang dagu dan diam menatap para pekerja yang sedang merapihkan ruang ini. Dasi dan jas sudah terlepas dan kini berada di pangkuannya sendiri.

"Sedang apa kau Naruto?" tanya seseorang membuat Naruto menoleh dan mendengak menatap Sakura yang sudah berdiri di sampingnya. Setelah melihat Sakura, Naruto kembali menopang dagunya.

"Seperti yang kau lihat. Duduk sambil melihat para pekerja itu bekerja dan juga menunggu Ino." Sakura ikut duduk di sebelah Naruto.

"..." hening. Sampai akhirnya...

"Maaf." Naruto melirik Sakura. "A-"

"Tidak usah minta maaf." potong Naruto membuat Sakura menatapnya. "Kalau memang sudah terjadi ya sudah. Mau aku marah atau tidak itu tidak akan bisa terulang lagi kan." ujar Naruto tanpa menoleh kearah Sakura.

"..."

"Yah, walaupun aku kecewa dengan pengakuanmu beberapa bulan lalu. Tapi mau gimana lagi, semua sudah terjadi. Lagi pula sekarang aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku." Naruto menoleh ke Sakura.

"Dan aku berterima kasih padamu atas pesta ini. Aku tidak tau akan membalas semua ini bagaimana, untuk sekarang aku hanya bisa berdoa agar kau dan Gaara bisa terus bersama. Dan mungkin aku harus meminta maaf padanya." ujar Naruto diakhiri dengan menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Sakura tersenyum.

"Tidak apa. Dia sudah tau siapa kau di masalaluku. Dan dia juga mau menerima kekuranganku serta seluruh masalaluku yang buruk kok."

"Seharusnya aku yang minta maaf padamu. Maaf sudah merusakmu. Seharusnya dulu aku menjagamu, tapi..."

"Sudahlah. Namanya juga masa remaja, pasti susah buat ngendaliin emosi dan segalanya."

"Ayah." panggil Kou membuat Naruto dan Sakura menoleh. Disana Kou dan Ino berdiri seraya melambai pada Naruto untuk segera menghampirinya (lebih tepatnya hanya Kou yang melambai, sedangkan Ino hanya tersenyum).

"Aku datang." seru Naruto berdiri dan menepuk celananya dari debu. "Kau mau ikut?" ucap Naruto pada Sakura seraya mengulurkan tangannya, membantu wanita pink itu berdiri. Dan Sakura pun menerima uluran tangan tersebut danmm mereka pun berjalan menuju pasangan masing-masing (tanpa berpegangan, karena sudah langsung di lepas oleh Sakura) kebetulan Gaara berdiri di samping Ino.

"Ayah boleh aku menginap di rumah Kakek Inoichi?"

"Boleh saja. Memangnya ada apa kau mau menginap?"

"Paman Deidara kan ada di Jepang, mumpung dia di sini aku ingin bermain dengam Rey (anak Deidara). Boleh ya?"

"Ya, kalau itu mau mu."

"Kalau begitu kita ikut saja Naruto." usul Ino. Naruto berpikir sejenak.

"Bo-"

"Lebih baik kau siapkan hadiah untuk ulang tahun istrimu di rumah." bisik Gaara tiba-tiba membuat Naruto langsung menatap pria merah itu. "Mumpung anakmu menginap, apa kau tidak mau menghabiskan waktu berdua dengan istrimu?" lanjut Gaara berbisik membuat Ino, Sakura dan Kou bertanya-tanya dalam hati.

'Menghabiskan waktu berdua?' batin Naruto seraya melayang. "Akh! Betul!" pekik Naruto lagi. Bersamaan itu Deidara dan keluarga Namikaze-Yamanaka datang menghampiri mereka.

"Apanya yang betul?" tanya Deidara.

"Ayah Inoichi boleh aku menitipkan Kou padamu untuk malam ini?" tanya Naruto mengabaikan Deidara.

"Boleh."

"Ngapain pake nitip anak segala hah?" seru Deidara.

"Aku kan ingin berdua dengan Ino." sahut Naruto. "Hei Kou kau mau punya adik?" tanya Naruto antusias membuat Ino membulatkan matanya. Deidara pun sama seperti Ino. Sementara Kou sudah memasang senyum senang.

"Mau, mau, mau."

"Ok. Malam ini kau menginap di rumah Kakek Inoichi ya. Ayah dan ibu mau-"

Bruukk...

Ucapan Naruto terputus oleh bogeman Deidara. Dan pria pirang itu pun jatuh terjungkal.

"Kalau bicara jangan sembarangam bodoh. Kou masih kecil, jangan racuni dia." ucap Deidara.

'Setidaknya aku yakin dia sudah paham biologi. Terutama reproduksi. Diakan sudah mengerti tentang kehadirannya, tidak mungkin kalau dia tidak paham tapi tau apa maksud kecelakaanku dan Ino.' batin Naruto mengelus pipinya yang sakit.

"Sakit tau. Dan Kou itu sudah besar, aku yakin dia sudah puber-"

"Lalu kau mau dia jadi sepertimu yang doyan 'jajan'?"

"Tidak juga. Tapi aku percaya padanya kalau dia berbeda dariku. Dia lebih tau mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukannya dan untuk masa depannya, ya kan Kou." ujar Naruto.

"Iya." seru Kou.

"Sudahlah. Jangan diperpanjang lagi." seru Ino. "Lebih baik kita pulang. Sakura kau mau mampir?"

"Tidak, terima kasih. Aku harus siap-siap untuk kembali lagi ke Osaka nanti malam. Karena aku sudah memutuskan untuk tinggal disana kembali."

"Owh... Baiklah kalau begitu. Kami pamit dulu ya."

"Ya, hati-hati." ujar Sakura.

"Oh iya, kalau boleh tau kau tau darimana kalau bulan Juli adalah bulan pernikahanku dengan Naruto?"

"Aku bertanya pada Karin saat bertemu dengannya di Osaka setelah kau siuman."

"Oh. Baiklah, sampai jumpa."

"Iya."

Akhirnya keluarga besar Kou pun pergi meninggalkan lingkungan sekolah tersebut. Tentunya Kou pulang dengan keluarga Yamanaka dan Namikaze. Sedangkan Ino dan Naruto, mereka pulang berdua ke rumah mereka sendiri.

.

"Hah~ akhirnya... Hari ini entah kenapa sangat melelahkan." ucap Naruto seraya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa di ruang keluarga.

"..." di sisi lain Ino hanya menatap Naruto dengan alis bertautan. Lama terdiam akhirnya Ino pun mutuskan untuk bersiap-siap menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Tapi... Mengingat kalimat berdua Ino baru sadar kalau Kou sudah tidak ada di rumah ini, malam ini.

"Sepi sekali tidak ada dia." gumah Ino seraya melangkah ke dapur.

"Dia? Siapa?" tanya Naruto yang menyusul Ino.

"Tentu saja anak kita. Kau pikir siapa?"

"Ku pikir Sai."

"Owh... Sebenernya aku masih kangen dengan dia dan ingin b-"

"Apa pantas kau bicara kangen dengan lelaki lain di depan suamimu?" tanya Naruto sinis. Ino mengerjakkan matanya.

"Emm... Ya... Tidak sih. Tapikan dia sahabatku."

"Sudahlah. Lebih baik kau mandi lalu kita pergi keluar." ujar Naruto sambil melihat jam dipergelangan tangannya. '17.00'

"Keluar? Aku mau menyiapkan makan malam kita."

"Kita makan diluar."

"..."

"Kita rayakan ultahmu secara romantis bagaimana?" ujar Naruto sambil memeluk Ino dari belakang.

"Kau jahat!"

"Eh?"

"Kau mau merayakan ultahku tapi kau mengizinkan Kou menginap di rumah ayah." seru Ino memukul-mukul kecil tangan Naruto yang melingkar dipinggangnya.

"Hah~ bukankah itu bagus. Memberikan waktu untuk kita berdua romatis-romantisan. Lagi pula aku ingin memberimu sesuatu."

"Apa!?"

"Baby again." wajah Ino memerah. "Memangnya kau tidak mau memberikan Kou seorang adik?"

"..."

"Dia sangat mengharapkannya loh. Kau lihat sendiri bagaimana antusiasnya dia tadi kan?"

"..."

"Lagi pula Januari nanti Kou akan ulang tahun yang ke 15 loh." Ino berbalik menatap Naruto setelah lepas dari pelukan suaminya.

"Apa kau tidak mau mengabulkan permintaannya yang menginginkan adik? Proses pembuatannya kan tidak mungkin cepat. Kecuali kalau kau dalam masa subur lagi seperti waktu itu..." Ino memerah mendengar kalimat 'waktu itu.'

"Kemungkinan cepat terbentuknya baby itu 50:50 setelah proses pembuatan. Kou itu terbentuk di 50 tercepat setelah pembuatan karena cukup sekali melakukannya. Tapi kalau yang kedua aku tidak yakin itu cukup sekali. Bisa saja itu butuh berkali-kali..." Ino makin merah mendengar omongan Naruto yang ngaur entah kemana.

"Jadi ada bagusnya kalau dari sekarang kita mulai proses pembuatannya agar saat Kou ulang tahun adiknya sudah berhasil dibuat- bukk..."

Ino mendorong Naruto sampai terjungkal.

"Hentikan omongan ngaurmu."

"Aduh~ aku kan cuma ingin mengajakmu membuat adik untuk Kou-"

"Tapi gak usah bertele-tele juga kali. Omonganmu ngaur semua."

"..."

"..."

Hening. Hingga Naruto kembali membuka suara sambil tersenyum aneh "oh... Jadi secara tidak langsung kau ingin aku to the point kalau aku ingin 'bergaul' denganmu, makanya kau tidak suka aku bertele-tele." ujar Naruto menaik turunkan alisnya genit. Ino merah kembali.

"Baiklah. My wife maukah kau bercinta denganku malam ini dan kita kabulkan keinginan Kou untuk segera memiliki adik, hm?" ucap Naruto sambil begaya seperti prajurit yang sedang melapor pada Tuannya.

"Emmm...?"

Deg...deg...deg...deg... Naruto dagdigdug dibuatnya.

"Baiklah. Permintaanmu aku terima." ucap Ino layaknya permaisuri membuat Naruto senang. "Tapi..."

"..."

"Aku tidak ingin makan diluar. Aku ingin makan malam di rumah, dan semua makanan untuk malam ini harus kau yang buat sendiri."

"Hah? Jadi aku yang harus menyiapkan makan malam kali ini?"

"Yaps." Naruto meringis dalam hati. Jangankan memasak makanan, menyiapkan bahan masakan saja Naruto tidak paham dan tidak mengerti. Selama dia hidup dia hanya makan makanan yang dibuat ibunya, restoran cepat saji, dan 2 bulan belakangan ini semua masakan Ino termasuk dalam makanan yang pernah dia makan dan termasuk makanan favoritnya.

"Tapi aku tidak bisa memasak."

"Aku tidak perduli~" ucap Ino dengan nada sing a song. "Kalau kau tidak memasak atau justru malah memesan makanan dari luar jangan harap aku mau 'bercinta' denganmu."

"!"

"Lebih baik kau tidur di luar jika kau tidak mau menuruti permintaanku. Ingat! Ini hari spesialku, kalau kau mengacaukannya bersiaplah aku usir dari kamar." ancam Ino.

"..."

"Tenang saja sekarang masih jam 17.28. Waktumu masih lama sampai makan malam tiba, persiapkan segalanya oke." Naruto menunduk.

"Baiklah, aku mau istirahat dulu mengingat aku belum istirahat sejak pulang dari luar kota. Kalau sudah siap panggil aku ya." ujar Ino meninggalkan Naruto sendiri sambil tertawa tanpa suara saat mendengar sang suami berteriak frustasi.

"Arrgghh!"

.

End

.

.

.

Omake.

3 bulan kemudian.

"Ughh!"

"Naruto kau tidak apa?" tanya Ino yang melihat sang suami pucat dan tergeletak di sofa.

"Ino aku sakit." adu Naruto manja.

"?"

"Perutku mual dan kepalaku pusing setiap pagi, makanan yang masuk juga terasa hambar, dan aku cepat sekali lelah."

"Kalau begitu aku ambilkan obat dulu oke." gerakan Ino terhenti.

"Aku tidak mau minum obat."

"Lalu?"

"Aku mau es krim."

"APA!?" teriak Ino bersamaan dengan Kou yang baru turun dari kamarnya untuk berangkat sekolah.

"Ada apa ibu?"

"Ayahmu. Dia lagi sakit tapi minta es krim. Kan cari masalah sama ibu." omel Ino membuat Naruto manyun dan entah kenapa Naruto malah merasa ingin menangis saat itu juga.

"Memangnya ayah sakit apa?"

"Tidak tau. Dia bilang kalau pagi mual dan pusing bersamaan, gak nafsu makan dan cepat lelah. Giliran ibu mau ambil obat dia tidak mau dan malah minta es krim." Kou terdiam mendengar penjelasan ibunya.

"Huwaa..." tiba-tiba Naruto menangis membuat Kou dan Ino kaget seketika. "Istriku jahat huuwaa... Aku minta es krim gak boleh..."

"?" Kou dan Ino bertatapan bingung.

"Kalau yang dingin gak boleh aku mau yang asem. Iya yang asem... Jeruk... Jeruk asem... Lemon juga boleh." ucap Naruto sambil terus melihat ke atas seolah sedang mengingat makanan yang asem.

"Ayah ngidam." ceplos Kou seraya kembali berjalan menuju pintu utama. Mendengar ceplosan anaknya baik Naruto mau pun Ino langsung terdiam.

"Ino-"

"AYAH, IBU AKU PERGI." Pamit Kou dari luar dan langsung pergi ke rumah sebelah untuk menjemput Aoko yang selalu berangkat bersama semenjak gadis itu masuk ke sekolahnya sebagai murid di kelas 1. Ya, sejak 6 bulan lalu Aoko sudah menjadi murid kelas 1 SMP dan Kou murid kelas 3 SMP, sebentar lagi Kou akan pindah ke SMA. Dan pilihannya jatuh pada sekolah yang pernah ditempati oleh ayah dan ibunya.

Kembali ke Naruino.

"Ino kau ngidam."/" Naruto kau hamil." ucap Naruto dan Ino berbarengan namun salah kalimat yang keluar.

"Eh?"

"Maksudku kau hamil Ino?"/ "Maksudku kau ngidam Naruto?" ucap mereka berbarengan lagi, kali ini dengan kalimat yang benar dan cocok.

"Kita ke rumah sakit yuk." ujar Naruto antusias sambil menarik Ino dan langsung menyambar kunci mobilnya.

'Tadi sakit, sekarang...'

.

"Selamat tuan, istri anda positif hamil." ucap sang dokter yang telah memeriksa keadaan Ino.

"Benarkah?" tanya Naruto dengan mata berbinar.

"Ya. Usia kandungannya 2 bulan."

"Tapi kenapa malah suami saya yang ngalamin gejalanya ya dok?"

"INO!" seru Naruto sebal saat Ino membongkar kalau dialah yang mengalami gejala orang hamil.

"Oh, itu sudah biasa. Banyak kok wanita yang hamil tapi para suami yang mengalami gejalanya. Jadi anda tidak usah malu tuan Namikaze."

"Baiklah. Kalau begitu kami pulang dulu dok. Ayo Naruto." ajak Ino.

"Tidak!" Naruto ngambek.

"?"

"Aku gak mau pulang."

"Kenapa?"

"Gak mau pokoknya."

"Naruto."

"..."

"Naruto."

"..."

"Naruto."

"..."

"Oke, kau mau apa?"

"Lemon asem."

"Baik kita beli."

"Bener?"

"Iya." Naruto pun senang dan langsung berdiri dan pergi keluar dari ruangan sang dokter. "Dok saya permisi, dan terima kasih."

"Iya."

Di luar ruangan Naruto sudah menunggu dengan tidak sabar.

"Ayo Ino."

"Sabar."

"Cepet." Naruto tidak sabar.

"Huh, rasanya waktu aku hamil kau tidak pernah perduli." ujar Ino kesal membuat Naruto terdiam dan langsung menunduk.

"Kau kenapa lagi?" tanya Ino bersedekap di depan Naruto.

"Hiks... Hiks..."

"Kau nangis?"

"Aku jahat huuwaa..." melihat Naruto menangis tiba-tiba Ino pun panik. "Aku mengabaikan Ino waktu hamil, aku benar-benar jahat."

"Aduh... Tenang... Itu tidak masalah. Itu hanya masalalu oke."

"Tapi aku jahat..."

"Tidak kau baik kok."

"Bohong! Aku gak suka orang bohong huuwaa..."

"Oke, oke kau jahat."

"HUUWWA..." jerit Naruto makin kencang dan menarik semua perhatian orang sekitar. "Tuh kan aku jahat."

Seandainya mereka berada di komik mungkin di belakang kepala Ino bisa kalian lihat sebuah tetesan air berwarna putih besar disana.

'Perasaan yang hamil aku. Kenapa dia yang sensitif.'

"Aku jahat huuwaa..."

"Naruto-"

"Aku jahat huuwaa..."

"Naruto-"

"Jahat, jahat, jahat."

"NARUTO!" bentak Ino dan Naruto langsung diam. "Kalau kau begini terus aku pulang nih."

"..."

"HUUWWA... INO JAHAT."

"Arrrggghh... Terserah. Aku pulang."

"Ino!... Ino!... INOOO!"

"Bodo."

"INO JAHAT! Aaaaarrrggghhh."

.

Tamat. (Ada pertanyaan dibawah!)

Sekian dan terima kasih untuk para penggemar yang setia menunggu dan mengikuti cerita dari saya. Maaf telat update, semoga endingnya cukup memuaskan kalian semua. Dan maaf tidak bisa membalas reviews kalian semua. Berhubung rate fic ini rate T maka tidak ada lemon disini. Untuk lemonnya akan saya masukan ke hidden chap, tapi sebelum itu terjadi saya mau tanya.

Sebaiknya "hiden chap ayah? Ibu?" mau dibikin kilas balik Naruto Ino sebelum Kou besar atau cukup scene tersembunyi saat Kou 14 tahun? Mumpung chap 1 & 2 masih berhubungan dekat.

Kalau mau dibuat kilas balik Naruto dan Ino sebelum Kou besar akan saya buat chap dimana akan ada perselingkuhan Narusaku, perdebatan Naruino, Kou kecil, dan sedikit cerita Sasuhina. Dan karena rate M kemungkinan ada lime or lemon yang muncul. Entah itu NS, NI or SH.

Tapi kalau cukup scene tersembunyi saat Kou 14 tahun mungkin lanjutan lemon naruino di adegan atas yang akan mengisi chap 3. Tapi kalau kalian milih kilas balik NI chap 3 tentu bukanlah lemon NI.

So? Kalian pilih mana? Saya tunggu jawaban yang paling banyak oke.

Satu lagi, untuk pembicaraan Kou dichapter 1 atau 2, atau bahkan ucapannya Kou yang terlalu tinggi/berat untuk ukuran anak semurannya kurasa ada sebagian anak yang memang bisa berpikir dewasa dan sudah paham setiap kosakata yang muncul dari perkataan orang dewasa. Tergantung anaknya juga, apakah dia mampu atau tidak memahami maksud yang diucapkan setiap orang. Karena pemikiran semua orang tidak selalu sama. Sama seperti ulangan, gak semuanya bisa dapet nilai 100. Maaf juga kalau ada scene Kou kurang ajar sama orang tuanya. Realita, banyak anak yang kurang ajar di dunia ini hehehe...

Thanks untuk inuzuma-Sama atas sarannya dan terimakasih kepada genie uchiha atas semangatnya. Dan tentunya juga para penggemar (hahaha) thanks semua. Ditunggu jawabannya. Dan maaf sekali lagi dan sebanyak-banyaknya. Tunggu fic baru hina ya.