"Aku akan membayarnya." Hoseok sempat terkejut mendengarnya, menatap bosnya sendiri sudah duduk bersimpuh di depan wanita tua berpenampilan kumuh. Sedetik kemudian, kepala bersurai hitam itu menunduk dalam. "Serahkan kepadaku, aku akan membayarnya."
Hening, tidak ada jawaban, tidak ada pula pergerakan. Selain mata Hoseok yang melirik wanita itu dengan penuh rasa penasaran.
Betapa terkejutnya Hoseok saat melihat wanita itu tersenyum tulus. Tangannya yang berkeriput dan kurus; tampak begitu rapuh dan ringkih. Berusaha menggapai kepala seorang Min Yoongi—bosnya.
Membuat Yoongi terkejut, mendongak pelan saat merasakan tangan kecil itu mengelus lembut rambutnya. "Tidak perlu." Ucapnya begitu halus.
"Kanker ini akan ada, selalu ada." Lanjutnya sembari menghentikan pergerakan lembut di tangannya. "Aku tidak ingin hidup jika hanya berperan sebagai beban. Cukup suamiku dan Jimin saja, jangan pula dirimu."
Yoongi tersentak cukup dalam, ada salah satu perkataan wanita itu yang membuat dirinya merasakan halilintar di kepala. Perasaan itu muncul lagi, untuk kesekian kalinya. "Dengarkan aku untuk kali ini saja Seohyun. Aku akan memb—"
"Tidak Min Yoongi!" Seohyun menjawab tegas, terlampau tegas hingga membuat Yoongi terdiam. Setelah hampir satu tahun lebih mengenal Park Seohyun, baru kali ini Yoongi dibentak olehnya. Tentu saja itu yang membuat Yoongi mendesah gusar.
"Kanker multiple myeloma yang tertanam di tubuhmu masih bisa disembuhkan dengan cara apapun. Aku menjamin akan memanggil dokter terbaik di negeri ini untuk menyembuhkannya. Kau hanya perlu menja—" Yoongi menghentikan omongannya saat wanita itu masih tetap menggelengkan kepala. Sekali lagi menolak.
"Dia sudah menyerangku sejak aku berumur dua puluh. Aku nyaris mati melawannya, di saat aku berpikir semua menjadi lebih baik, nyatanya tidak. Kanker itu hanya… semakin berkembang tanpa ampun, bahkan di saat keluarga ini hancur karena uang." Jelas Seohyun, kedua tangannya bergerak mengambil tangan kasar milik Yoongi.
"Aku tidak mengerti…" lanjutnya tersenyum tipis, dengan begitu pelan dia mengganggam kedua tangan Yoongi dan membiarkan Yoongi yang hanya bisa menatap wajah lelahnya. Lantas, Yoongi kembali menghela napas lagi.
"Pikirkan Jimin, bu." Tidak memanggil nama, kali ini Yoongi menggunakan panggilan ibu untuk Seohyun. Salah satu sahutan yang ingin sekali didengar oleh Seohyun dari bibir tipis milik Yoongi.
"Aku memikirkannya. Karena itu kau harus mengerti." Seohyun kembali membalas, menolak dengan cara apapun. Senyum kembali ia pamerkan, menampakkan guratan halus di sekitar mata, cantik sekali. Dan juga begitu rapuh.
Membuat hati Yoongi kembali berbisik. Nyatanya, Yoongi sakit hati.
Ini semua salahnya.
"Aku tidak mengerti kenapa kau datang dan begitu baik dengan keluarga kami. Bukannya aku tidak tahu, kau 'kan yang membereskan semua hutang suamiku?" mata Yoongi membesar mendengarnya. Sempat ia melirik ke arah Hoseok yang berdiri di depan pintu rumah, tapi melihat Hoseok yang menggeleng, membuat Yoongi bertanya-tanya.
Tahu dari mana Seohyun kalau Yoongi yang mengurus semua hutang keluarga Park, jikalau bukan Hoseok yang membocorkannya?
Mata Yoongi kembali melirik Seohyun penuh tanya, membuat Seohyun terkikik kecil. "Jangan terkejut seperti itu nak Yoongi, semua tampak begitu jelas. Kau tidak boleh meremehkan naluri seorang ibu. Mengerti?"
Yoongi yang mendengar itu kembali menghela napas, memijit pelipisnya pelan. Entah kenapa membujuk wanita yang umurnya hanya dua puluh tahun lebih tua darinya begitu sulit sekali. Rasa-rasanya Yoongi bisa terkena penyakit darah tinggi.
"Bisakah kau mendengarkan ku sek—"
"Kau selalu berdiri layaknya bodyguard di depan rumah kami dulu." Potong Seohyun, menyela perkataan Yoongi yang sudah pasti adalah sebuah bujukan agar dirinya mau dioperasi, atau menjalankan semua sesi kemoterapi yang tentu saja terdengar begitu menyebalkan.
Yoongi diam, napasnya kembali tercekat.
"Setelah suamiku meninggal secara mendadak, aku merasa begitu aneh. Tidak ada sedikitpun lintah darat yang datang. Bukan berarti aku berpikir buruk terhadap suamiku, tapi itulah kenyataannya. Polisi bahkan tidak ingin membuka kasus kematian suamiku lebih jauh, hanya karena suamiku mati dengan alasan berhutang terlalu banyak. Dia dikejar-kejar oleh banyak sekali lintah darat, tapi tidak pernah absen mengirimkan uang kepada kami. Bodoh sekali."
Seohyun tertawa miris, bisa dilihat matanya tampak berkaca-kaca. Tapi Seohyun menahannya, dia tidak akan menangis untuk saat ini. Dirinya tidak ingin tampak begitu lemah di hadapan Yoongi.
"Tapi malam itu aku melihatnya, kau membantai lebih dari lima orang di depan rumah kami. Malam-malam sekali, mungkin sekitar jam dua. Tanpa henti. Jimin sedang tidur waktu itu, dan rasa penasaranku sangat besar. Aku dengan begitu perlahan berjalan keluar pintu dan mengintip, saat itu lah aku mendengar. Dengan sangat jelas kau mengatakan—
'Jangan pernah berurusan dengan keluarga ini lagi. Kalian tidak boleh menagih hutang dengan mereka, tidak boleh berteriak kepada mereka, tidak boleh memaki mereka. Kalian mengerti?! Jika bos kalian tidak terima dengan pesan ini, bilang saja bahwa Min Yoongi akan datang dan menghancurkan organisasi kalian.' Aku mempunyai ingatan cukup kuat, kau harus tahu itu Min Yoongi."
Tangan Yoongi mendadak terkepal, dia nyaris muntah saat rasa itu kembali menyerang seluruh tubuhnya. Ingin sekali Yoongi langsung mengucapkan ratusan bahkan ribuan kata maaf, tapi tidak bisa. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya selain hanya sebuah helaan napas kecil.
"Aku tidak tahu apa yang suamiku perbuat dahulu hingga kau sebaik itu kepada kami, tapi aku berterima kasih, sungguh. Sejak itu kau selalu menjaga kami dari kejauhan bukan? Bahkan kurasa Jimin sudah tidak bisa hidup dengan tenang lagi jika tidak ada kau. Aku tahu betapa kotornya permainan dunia bawah, aku bisa saja dibunuh dan Jimin mungkin saja dijual demi mendapatkan keuntungan."
Suara Seohyun kembali terdengar, tapi hanya beberapa yang didengar oleh telinga Yoongi. Mata Yoongi tidak mampu melihat Seohyun lagi, melainkan menatap tangannya yang digenggam oleh Seohyun.
"Aku kira kau akan tetap terus menjaga kami dari kejauhan, tapi di saat kau datang setengah tahun lalu. Masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa dan memberikan diriku beberapa obat. Aku berpikir, 'Ah, kau sudah mulai membuka diri.' Tentu saja jika aku tidak memaksa dirimu untuk memberitahu namamu atau untuk sekedar duduk sebentar di lantai kumuh ini, kau tidak akan menjadi sedekat ini dengan diriku." Seohyun terkekeh, mengingat kejadian lucu saat dirinya pertama kali menatap Yoongi dari dekat.
Selama ini Seohyun sadar, terkadang di saat dirinya ingin sekedar berjalan keluar rumah untuk membeli obat atau makanan. Dia merasa begitu dijaga oleh Yoongi. Tak jarang pula Seohyun melihat wajah Yoongi sekilas. Hanya sekilas.
Karena Yoongi itu mirip sekali dengan kucing, semakin didekati maka dia akan menjauh. Butuh waktu yang sangat lama untuk Yoongi tiba-tiba datang ke rumahnya, mengetuk pintu sembari membawakan roti dan beberapa obat-obatan.
Sungguh waktu itu Seohyun tersenyum senang. Anggap saja dia berhasil melihat wajah malaikat pelindung keluarga mereka.
Mau tak mau, Yoongi ikut tertawa malu. Tentu saja ada alasan mengapa dirinya berani menampakkan wajah di hadapan Seohyun. Kalau tidak salah, Seohyun waktu itu tidak keluar rumah sama sekali. Tidak melakukan rutinitas biasanya. Akhirnya Yoongi lah yang melakukan semua rutinitas Seohyun, mulai dari membeli beberapa obat, hingga roti untuk makan sehari-hari. Tentu saja Yoongi juga membeli makanan lain yang lebih bergizi.
"Selain itu, kau juga menjaga Jimin." Celetuk Seohyun, berhasil mengubah tawa Yoongi menjadi deheman kecil. Melihat itu, Seohyun tersenyum jahil. Diam-diam dia memegang dagunya sendiri dan menghela napas. "Sayang sekali anakku tidak menyadari ada manusia tampan yang selalu menjaganya." Lanjutnya penuh arti.
Yoongi tersedak ludah sendiri. Insting seorang ibu tidaklah main-main tajamnya. Dan itu mampu membuat Yoongi merasa malu teramat dalam. Sial, omongan Seohyun tadi seakan-akan menyentil perasaan terdalamnya terhadap Jimin.
"Kau mati-matian menjaga keluarga kami Yoongi-ah. Maka dari itu, sekarang berhentilah." Kata Seohyun mantap, bagaikan perintah mutlak yang membuat Yoongi menatapnya sendu.
"Tapi bagaimana dengan Ji—"
"Jika kau menyuruhku untuk memikirkan Jimin, maka lindungilah dia hingga akhir hayatmu untukku." Potong Seohyun sekali lagi, langsung dibalas gelengan oleh Yoongi.
"Kau adalah hidupnya, tanpa kau Jimin akan mati karena bersedih. Aku akan membantumu tetap hidup. Asal kau mau mendengarkanku. Ayolah, denga—"
"Kalau begitu, jadilah hidupnya Yoongi." Kali ini Yoongi terdiam, tidak mampu membalas saat Seohyun menatapnya dengan tatapan tidak main-main. "Kau mencintainya, Yoongi. Aku tahu itu."
Jantung Yoongi berdegup kencang saat Seohyun mengatakan hal itu. Yoongi tahu, dia juga sadar. Setelah hampir dua tahun menjaga keluarga kecil ini, dia sudah dikalahkan begitu mudah oleh pesona Park Jimin. Tidak bercanda, Yoongi telah jatuh hati tanpa basa-basi saat memperhatikan namja mungil itu.
"Aku sudah tua Yoongi, cepat atau lambat aku akan tetap mati. Aku sudah cukup merasakan semua manis dan pahitnya kehidupan. Tapi tidak dengan Jimin, dia masih begitu muda, masih begitu bersinar. Maka dari itu, biarkan aku mati bersama kanker yang ada di dalam tubuh ini. Dan untuk kau, aku tidak tahu kenapa kau begitu baik kepada kami, tapi jika kau tulus maka—"
Suara Seohyun tergantung, seakan mempersiapkan diri, mata Seohyun menutup pelan. Dirinya menghela napas begitu teratur sebelum akhirnya kembali menggenggam tangan Yoongi. Dan menatap Yoongi serius.
"Jadilah bagian dari hidupnya, jadilah malaikat yang akan selalu melindungi Jimin seutuhnya. Jadilah pegangan yang kokoh untuk anakku. Jadilah seseorang yang sangat berarti di dalam kehidupan Park Jimin, tidak peduli betapa terlukanya kau. Berjanjilah kepadaku, kau selalu ada untuknya, kau selalu ada di samping, dan kau selalu membuatnya bahagia. Jangan pernah… jangan pernah kau menyakiti anakku walau kau tidak sengaja sedikitpun. Aku tahu kau mencintainya begitu tulus, maka dari itu. Aku titip anakku kepadamu."
Selesai. Tidak ada lagi kata sanggahan yang keluar dari mulut Yoongi. Tidak ada lagi gelengan kepala yang menolak. Tidak ada lagi bujuk rayu agar Seohyun mau dioperasi.
Semua perintah mutlak itu, bagaikan kunci hidup seorang Min Yoongi sekarang. Dirinya tidak mampu berpikir yang lain, dan semakin tidak mampu pula untuk mengucapkan kata maaf.
Tapi bisakah dia melakukan itu semua sebagai tebusan rasa bersalah?
Butuh waktu hampir satu menit, barulah Yoongi mengangguk pelan. Tanpa melawan. Membuat senyum manis di wajah Seohyun kembali terukir.
"Sekarang belilah makanan yang begitu banyak, Jimin akan pulang sebentar lagi. Mari kita rayakan hari ini, karena aku telah memberimu restu untuk memiliki anakku seutuhnya!" Seohyun tertawa senang.
Berbeda jauh dengan Yoongi yang hanya bisa tersenyum tipis. Diam-diam Yoongi merutuki dirinya yang begitu bodoh dan pengecut. Jauh di lubuk hatinya, Yoongi tahu dengan sangat jelas. Bahwa dirinya sekarang telah melanggar perkataan Seohyun.
Dia sudah tanpa sengaja, melukai seorang Park Jimin.
Begitu dalam.
.
Min Yoongi adalah orang yang terlampau jujur?
Dusta.
Dia adalah pembohong kelas kakap yang penuh dosa.
Sayangnya, ia mencintai Jimin.
Dan cinta adalah satu-satunya alasan Yoongi menjadi seorang pembohong keparat berkedok malaikat pelindung.
Bodoh sekali, mengabaikan fakta bahwa kenyataan yang ia tutupi sekarang adalah penghancur paling berbahaya di hati Jimin.
.
.
"Aku ingin dirimu… bukan ibumu… jadi buat apa dia hidup?"
.
.
Main Cast : Min Yoongi and Park Jimin
Pair : YoonMin
Slight : VMin
Genre : Romance and Humor (a little bit of Dark Humor)
Happy reading ^.^
Love and peace :3
.
.
.
LOVE?
.
.
JIMIN P.O.V
Yoongi menatapku lama sekali sebelum akhirnya dia meloloskan tawa kecil. Aku langsung mengernyit bingung, "Kau kenapa lagi?" ucapku sedikit kesal. Pasalnya, tawa yang dikeluarkan Yoongi seakan mengejek diriku.
"Lihatla—hahaha! Penampilanmu!" tawanya hingga terduduk di hadapanku. Mencairkan seluruh suasana haru yang baru saja terjadi. Bukankah sedetik lalu dia memelukku sembari mengelus rambutku? Dan sekarang lihatlah! Dia tertawa mengejek!
"Yak! Ahjussi!" aku yang merasa terhina, langsung menatapnya tajam. "Kau tidak se—"
"Ingusmu bahkan kemana-mana!" potongnya dengan tawa menggelegar, kedua jari telunjuk serta tengahnya menyentuh lubang hidungnya sendiri dan tetap memandangku layaknya badut yang patut ditertawakan.
Aku langsung mengelap ingusku sendiri menggunakan lengan jaket, begitu juga dengan bekas air mata yang terasa dingin di pipi. "Berhentilah tertawa!" teriakku tidak terima. "Aku begini juga karena kau! Tidak seharusnya ahjussi tertawa seperti itu!"
Kesalku sambil memajukan bibirku, rasanya kesal sekali. Dan tentunya, aku juga merasa malu… yang teramat dalam.
Bukannya berhenti, Yoongi malah semakin tertawa keras. Membuat aku semakin merasa kesal, sontak aku mencoba berdiri untuk menendang dirinya, tapi yang ada kakiku terasa seperti jeli.
Baru saja aku menaikkan tubuhku sedikit, aku langsung terjatuh kembali. Kedua kakiku seakan mati rasa karena terlalu lemas! Apa ini efek samping dari berlari terlalu cepat tanpa pemanasan terlebih dahulu?
Karena pergerakan ku yang sangat aneh, maksudku tidak ada yang lebih aneh dari seorang manusia yang mencoba berdiri tapi gagal berkali-kali, karena di saat berdiri maka kakinya akan bergetar seperti jeli lalu terjatuh lagi. Yoongi akhirnya menghentikan tawanya dan menatapku penuh tanya, mungkin dia berpikir aku seperti orang lumpuh yang sedang melakukan tahap rehabilitasi agar bisa berjalan lagi.
"Apa yang kau lakukan? Kakimu 'kan tidak lumpuh."
Yap, tentu saja dia berpikir seperti itu.
Aku langsung melirik Yoongi kesal, ingin aku berteriak dan memaki dirinya. Semua karena dirinya!
Semua karena ahjussi tua berumur 38 tahun yang menyukai anak muda. Tentu saja itu diriku, siapa lagi yang disukai Yoongi selain aku? Tidak ada 'kan? Aku sangat yakin, seratus persen. Tidak ada.
Iya 'kan?
Duh, kenapa aku jadi berpikir hal yang tidak jelas di saat kakiku mulai terasa sakit?
Aku ingin memaki Yoongi yang membuat aku merasakan rasa bersalah sekarang, karena sudah membuat dirinya menunggu begitu lama. Tapi yang ada aku malah terdiam, menatap dirinya dengan mata yang perlahan-lahan mengabur.
Sedetik kemudian.
Aku kembali menangis, seperti bayi.
Menggelikan.
"Yak! Kau kenapa menangis? Jimin. Jimin-ah!"
"KAKIKU SAKIT AHJUSSI! DASAR BODOH! SEMUA KARENA KAU, MANUSIA SIALAN!"
.
.
.
Aku menggeleng di saat Yoongi menuturkan kalimat itu. Dengan kedua tangan yang aku eratkan semakin kuat di lehernya, aku berbicara. "Aku tidak mau pulang ke rumahmu!" teriakku kesal, ditambah guncangan tubuhku membuat dirinya berteriak pelan.
"Akh, akh… iya! Iya! Bisakah kau tidak mencekikku seperti itu! kalau aku terjatuh maka punggungmu yang menyentuh aspal!" belanya dengan sedikit terbatuk-batuk. Membuat aku langsung diam dan menenggelamkan kepalaku di lehernya.
Sesaat, dia berhenti bergerak. Mencoba memperbaiki posisi tubuhku di belakang punggung sembari mendesah gusar. "Hei, apa aku seberat itu?" ucapku tepat di telinganya, mendadak kepala Yoongi bergerak menjauh.
"Jangan berbicara dengan keras di telinga kiriku—"
"WAE?!" Aku langsung memotong pembicaraannya dan berteriak kuat. Tentu saja, bermaksud menjahili, hitung-hitung pembalasan dendam karena dirinya yang tadi tertawa mengejekku.
Yoongi langsung berhenti dari jalannya, melepaskan satu tangan untuk memijat telinga sebelah kiri. "Akh, aku bilang tidak usah berteriak!" katanya dengan nada kesal, sebelum kembali membenarkan posisiku dan menghadap ke belakang. Secara mendadak.
Tentu saja aku langsung terkesiap, posisinya terlampau dekat. Bahkan aku bisa merasakan napasnya dan tatapan tajam mengerikan itu. "Telinga kiriku akan berdengung tidak jelas, dan itu sangat sakit. Jadi kuharap kau tidak melakukan itu lagi. Kecuali di sebelah kanan. Mengerti?" ucapnya begitu pelan dan teratur.
Aku langsung mengangguk cepat, rasanya jantungku bisa meloncat keluar dari kerongkongan! Terlalu dekat! Terlalu dekat!
Hatiku tidak bisa menangani hal seperti ini!
Tanpa sadar, pelukanku di lehernya semakin menguat. Tubuhku mendadak kaku di saat dia tidak kunjung melihat ke depan. Melainkan semakin mendekatkan wajahnya. Shit.
Bisa kurasakan rasa panas perlahan-lahan merangkak menuju wajahku, napasku mulai terputus-putus karena gugup dan jantung secara tidak normal meloncat-loncat. Seakan minta dibebaskan ke alam liar sana. Akh! Tenanglah jantung! Kau itu hanya organ di dalam tubuhku, bukan gorilla!
Tepat di saat hidung dingin Yoongi menyentuh hidungku. Semua berhenti.
Rasa panas, napas, jantung, bahkan kurasa darahku berhenti mengalir di tubuh. Sontak, aku langsung menutup mata. Entah karena apa, tapi aku terlalu gugup memandangi dirinya yang begitu dekat.
Satu detik.
Aku masih bisa merasakan hidungnya, napasnya, bahkan dahi kami yang bersentuhan. Membuat aku tanpa sengaja menggenggam erat jas hitam yang ia kenakan.
Dua detik.
"Kau ringan, sangat ringan."
Sial.
Suara berat dan serak itu mampu membanting seluruh akal sehatku ke atas tanah. Membuat beberapa kupu-kupu kecil mencoba untuk keluar dari dalam perut. Aku tidak tahu kenapa aku merasa begitu senang saat ini, tapi yang jelas di saat mulut seorang Min Yoongi berbicara begitu halus—
Atau karena di setiap kata yang ia keluarkan, mulut kami nyaris bersentuhan. Aku bisa merasakan jeritan hati kesenangan di dalam kepalaku.
Aku yakin, aku sudah sangat gila sekarang.
Tiga detik.
Yoongi mendadak menjauh.
Melepaskan semua sentuhan kecil di wajahku dan mampu membuat mataku terbuka lebar. Sekarang yang aku lihat bukanlah wajah tampannya, melainkan surai hitam miliknya.
Tiba-tiba, dia berdehem keras. Mungkin bermaksud mencairkan suasana, tapi tentu saja itu tidak berhasil membuat hatiku kembali tenang. Karena tadi itu… tadi itu…
OH MY GOD! KAMI NYARIS BERCIUMAN!
Seluruh suara—entah dari mana—muncul dan berteriak seperti orang gila di dalam kepalaku. Menghancurkan semua isi tubuhku dengan teriakan kesenangan yang malah terdengar seperti teriakan orang utan.
Mataku mengedip berkali-kali, mencoba untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Tapi tetap saja, aku hanya bisa terdiam kaku.
Sial, kenapa sekarang aku merasa ingin muntah?
Sungguh, apapun yang baru saja dilakukan Min Yoongi tadi adalah perbuatan illegal! Melanggar seluruh hak yang dimiliki umat manusia. Bagaimana bisa dia membuat aku mendapat penyakit jantung hanya karena sebuah tatapan dan adegan yang begitu ambigu?
Tidak bisa seperti ini, jantungku memiliki hak untuk berdetak secara normal!
"Hey, kenapa kau menangis tadi?"
Oh shit, bahkan sekarang aku bisa merasakan jantungku langsung meletup seperti bom. Hanya karena mendengar suaranya.
Okay, sekarang suaranya juga illegal.
"Hey!" ucapnya sekali lagi sembari menggoyangkan tubuhku. Membuat aku bisa merasakan kesadaran kembali memasuki diriku.
"Hah? Ya? Apa?" aku mendadak kebingungan, membuat dia mendesah pelan dan kembali membenarkan posisi tubuhku.
"Kenapa kau menangis tadi?" ulangnya sekali lagi. Kali ini, otakku berhasil bekerja, setelah berteriak seperti orang utan.
Tanganku yang awalnya masih menggenggam erat jasnya, kembali melemas. Aku mulai bisa mengontrol diri sendiri, tapi tidak dengan jantung yang masih berdetak cepat, butuh waktu yang sangat lama untuk menetralisirkan detak jantung. Tanpa sadar, aku menghela napas pelan.
Tenang Jimin… tenang…
"Umm—" aku mulai bersuara, ingin menjawab pertanyaan Yoongi. "Aku tidak tahu." Ucapku dengan berbisik. Kali ini tentu di telinga sebelah kanan. Di saat aku merasakan rasa tenang, aku mulai menenggelamkan kepalaku di ceruk lehernya. Entah kenapa, seperti ini terasa begitu nyaman sekali.
"Ahjussi menunggu lama sekali, aku merasa begitu bersalah. Dan juga—" aku terdiam sebentar, mengingat beberapa memori kecil yang membuat aku tersenyum. "Ahjussi mirip sekali dengan pahlawanku. Pahlawan yang bodoh."
Aku bisa merasakan tubuh Yoongi sedikit kaku. Tapi setelah itu dia kembali melanjutkan jalannya. "Biar kutebak, appa -mu?" ucap Yoongi yang membuat aku langsung tertawa.
"Benar!" aku menaikkan jempol ku di depan wajahnya, membetulkan tebakan yang ia ucapkan tadi. "Dia pernah menungguku seperti itu, waktu aku ujian masuk SMA. Dan di saat semua selesai, aku langsung berlari memeluknya. Karena badan appa yang tinggi, aku terkadang suka terangkat saat memeluk dirinya."
Ceritaku panjang lebar, membuat dia mengangguk mendengarnya. Sesekali, aku bercerita tentang hal lain. Tidak lupa bertanya perihal telinga kirinya yang ternyata dulu pernah dipukul tongkat baseball saat masa muda, hingga sekarang pendengarannya sedikit terganggu.
Terkadang, aku tertawa saat dirinya mendesah kelelahan karena menggendongku di punggung. Dan juga karena tempat parkir yang terlampau jauh.
Akan tetapi semua terasa begitu nyaman, hingga akhirnya aku bisa melihat mobil hitam terparkir sendirian di tengah lapangan luas. Bisa kurasakan hatiku sedikit mendesah kecewa, tidak rela saat Yoongi menyuruhku turun dan masuk ke dalam mobil.
Di saat aku meminta diantar ke apartment Jungkook dan memaksanya untuk menginap di sana saja. aku bisa merasakan kakiku yang tidak sakit lagi, membuat aku mengernyit tidak suka. Lama aku melihat Yoongi yang menelpon Hoseok untuk diantarkan beberapa baju, tanpa sadar aku tersenyum kecil.
Yang pasti, waktu mobil hitam itu terparkir rapi di basement gedung apartment Jungkook. Aku kembali merengek kesakitan.
Berbohong sekali lagi.
Hanya demi digendong untuk kedua kalinya oleh seorang Min Yoongi.
G-I-L-A.
Sial, aku rasa… aku mulai menyukainya.
.
.
.
"Maafkan perbuatan calon istriku, Jungkook-ah. Aku tidak bermaksud membuatmu repot." Ucap Yoongi dengan badan sedikit membungkuk. Aku yang melihatnya mendecih tidak suka, terlalu sopan untuk ukuran seorang Min Yoongi.
"Kami sedikit berkelahi, maka dari itu dia kabur dari rumah—"
"Bohong." Potongku yang membuat Jungkook dan Yoongi melihatku secara bersamaan. Aku yang sedang berbaring di sofa panjang hanya menyengir lebar, menatap mereka berdua dengan tatapan tidak bersalah.
Jungkook berdiri di depan pintu kamarnya dan Yoongi berdiri membelakangiku. Membuat aku hanya bisa menatap punggung tegapnya. Dan di saat Yoongi kembali bebicara, aku memberi kode kepada Jungkook untuk tidak percaya apapun perkataan yang dilontarkan mulut tipis itu.
Tentu saja ini sesi interogasi, Jungkook begitu terkejut saat melihat aku dengan wajah sembab di gendong oleh seorang namja berpakaian mahal. Jungkook langsung menatap Yoongi curiga waktu itu, mengira bahwa Yoongi telah menyakitiku atau apa. Tapi itu benar! Karena Yoongi-lah aku mendapat kelainan detak jantung. Jadi sudah sepatutnya Yoongi mendapat death glare dari seorang Jeon Jungkook.
"Jimin memang suka mencari masalah. Sulit sekali mengatur dirinya, padahal kami sebentar lagi sudah mau men—"
"Bohong~" ucapku sekali lagi dengan nada mendayu, kehilangan kesabaran Yoongi membalikkan badannya dan menatapku tajam. Aku hanya menjulurkan lidah tidak merasa bersalah. "Jangan percaya Jungkook-ah dia pedofil tua yang mencuriku untuk dipaksa menikah dengannya." Lanjutku to the point.
Sedetik kemudian, Jungkook tertawa kuat sekali. Mungkin karena Yoongi yang langsung mendekatiku dan mencubit bibirku pelan. Walau pelan, tapi itu terasa begitu menyebalkan. Aku langsung mengernyit tidak suka.
"Berbicara seperti itu lagi, kita pulang. Tidak ada acara menginap di sini." Perintahnya mutlak, membuat aku mencoba menirukan suaranya dengan nada mengejek. Tepat di saat dia melepaskan cubitan pelan itu.
"Belbicaya cepe—"
"Jangan mengejekku atau ku lempar kau dari jendela hingga keluar." Ucapnya yang membuat aku terdiam. Aku langsung menatapnya tidak percaya, apa dia serius sekarang? Aku 'kan hanya bercanda!
"Neeeee." Jawabku masih dengan nada mengejek. Tentu saja.
Ada sesuatu yang aneh saat melihat Yoongi menggeram kesal. Lucu sekali kalau melihatnya menahan amarah seperti itu. Lagipula dia tidak akan menyakitiku, mengingat aku yang sudah kabur dan membuatnya menunggu berjam-jam, tapi tidak ada sedikitpun amarah yang menguar dari tubuhnya…
Jadi…
Bisa kusimpulkan dia tidak akan marah dengan apa yang aku perbuat.
Hehe.
"Ahjussi…" Yoongi mendadak melihatku kaku, mungkin karena nada yang aku gunakan terkesan manja dan penuh arti. Aku langsung menyengir lebar, sebelum akhirnya memeluk perut dan mengaduh sakit.
"Akhh… perutku sakit." Ringisku yang membuat wajahnya berubah panik.
"Kenapa? Kenapa? Apanya yang sakit?" Yoongi langsung memegang perutku khawatir.
"Tidak tahu… tapi—tapi, sepertinya akan sembuh kalau kau membeliku pizza. Satu loyang, dengan extra cheese." Dia terdiam, aku menyengir. "OH! Jangan lupakan topping ayam yang banyak sekali. Kau juga mau kan Jungkook-ah?"
Jungkook langsung mengangguk semangat. "Dan cola! Dua loyang lebih enak, medium saja! ada delapan slice. Satu ayam, satu daging. Woahh…" Jungkook menimbrung tanpa tahu malu.
Yoongi menatap kami berdua cukup lama, sebelum akhirnya aku berpura-pura kesakitan lagi. Dan dia hanya menjetik kepalaku kuat. "Aku yang membayar semuanya, huh?"
"Tentu saja! Kau 'kan yang paling tua."
Setelah itu, bisa kurasakan Yoongi menghela napas lelah. "Bisa cepat tua aku mengurusimu Jiminie." Gumamnya penuh kesedihan.
"Kau memang sudah tua, dasar bodoh."
.
.
.
AUTHOR P.O.V
Taehyung terdiam cukup lama, jari-jarinya mengetuk meja kayu tidak sabaran. Pandangannya melihat ke arah luar, memperhatikan jalanan ramai di pagi hari. Begitu berisik, tidak teratur, dan kacau. Persis seperti kondisi hatinya saat ini.
Bayangan itu kembali lagi terputar, menampakkan Jimin yang menangis dipelukan Yoongi, membuat dirinya langsung menggebrak meja. Tentu saja itu menarik perhatian beberapa orang, tapi peduli setan, Taehyung rasanya ingin membunuh seseorang sekarang juga.
Kesal sekali.
Dia tidak suka jika harus merasakan kekalahan.
Taehyung kembali menatap jam tangan yang melingkar begitu gagah di pergelangan tangannya. Sudah jam sembilan lewat dua puluh menit. Dia menunggu hampir setengah jam, tapi si namja mungil itu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Ingin rasanya Taehyung melemparkan satu cangkir greentea coffe miliknya ke arah jendela saat ini juga, sebelum akhirnya ponsel hitam di saku celana bergetar. Membuat Taehyung mendesah gusar dan mengambil ponsel tersebut.
Taehyung melihat display name dan langsung mengernyit tidak suka. Walau begitu, tangannya tetap menerima panggilan itu dan tidak berbicara sama sekali. Hingga suara itu terdengar, mengatakan sederet kalimat yang membuat Taehyung terdiam, terpaku.
Di saat suara halus itu berhenti berbicara, Taehyung tersenyum tipis. Menunduk dalam, berusaha sebisa mungkin untuk tenang walau tangannya sudah terkepal menahan amarah. Kerongkongannya terasa kering saat Taehyung berusaha menelan air ludah. Dan dia hanya bisa menggeleng pelan, menjawab dengan pelan pula.
"Tidak apa… aku juga ada acara."
Selesai.
Taehyung langsung memutuskan sambungan lalu melihat ke arah luar jendela. Lama ia terdiam, sebelum akhirnya memandang sekitar. Café itu tetap sama, bernuansa cokelat dengan gaya tahun sembilan puluhan di Eropa sana. Beberapa furniture mungkin sudah sedikit rusak, karena goresan nakal dari pengunjung, tapi itu tidak mengurangi suasana nyaman yang selalu melekat di café mungil ini.
Mata Taehyung menangkap meja yang ada di hadapannya, sama persis seperti lima tahun lalu. Tidak mengalami perubahan sedikitpun, kecuali beberapa coretan yang entah darimana berasal. Tapi semua sama, begitu juga dengan kursi kayu tanpa ukiran yang sedang nyaman ia duduki.
Semua sama, hanya saja sekarang… Jimin tidak akan datang.
Bisa dirasakan Taehyung mendesah pelan, ada apa dengan dirinya? Biasanya ia akan langsung menghukum siapapun yang tidak bisa memenuhi permintaanya. Tapi sekarang ia merasa lelah, dan sedih. Padahal ia ingin membahas hal penting.
Sekarang ia merasa usaha temannya sia-sia.
Tangan Taehyung mengeluarkan dua paspor dan dua tiket pesawat. Menatapnya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. Buat apa dia melakukan ini?
Tepat setelah Taehyung mengetahui bahwa Jimin adalah calon pengantin hyung-nya sendiri. Dia langsung menyuruh temannya untuk membuat identitas palsu untuk Park Jimin, begitu pula dengan paspor dan tiket pesawat. Semua akan mudah jika mempunyai uang dan koneksi di dunia bawah. Hal-hal seperti itu bisa diselesaikan dalam satu hari.
Taehyung sudah mempersiapkan segalanya, rencananya matang. Jimin akan hidup tanpa kekurangan uang sedikitpun di Inggris. Karena Taehyung bukanlah hanya sekedar mahasiswa di sana, dia juga bermain-main di dark web atau melakukan interaksi illegal, belakangan ini dia juga terjun ke dunia para hacker. Tentu saja semua yang ia lakukan demi kesenangan semata, lagipula Taehyung benar-benar tidak akan bisa hidup jika tidak berbuat kejahatan. Darah mafia sudah mengalir di seluruh tubuhnya.
Hanya dengan satu perjanjian, dia sudah mendapatkan banyak sekali uang. Taehyung adalah mahasiswa kaya raya. Jadi tidak mungkin Jimin akan mengais tanah demi mencari makan jika hidup bersamanya.
Semua sudah lengkap. Apapun itu.
Bahkan rasa kasih sayang pun sudah dia siapkan.
Tapi Jimin tidak berlari ke arahnya.
Itu yang membuat Taehyung berdiri, berjalan keluar café sembari menggeret koper hitam kecil. Taehyung pulang lebih awal, dari jadwalnya sendiri.
Pada nyatanya, semua rencana yang ia rangkai di otak. Hancur berantakan.
.
*Min Yoongi calling*
"Taehyung-ah, maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janjimu. Aku bersama Yoongi ahjussi sekarang, ponselku sedikit rusak jadi aku menelponmu melalui ponselnya. Kurasa aku akan kabur di lain hari… aku—"
"Aku ingin berpikir ulang sekali lagi, soal pernikahan ini. Maafkan aku. Kita bisa berbicara nanti, kau pulang ke Inggris masih lama 'kan? Maafkan aku…"
.
.
.
Kaki milik Taehyung berdiri tegap, sesekali menepuk-nepuk lantai bandara. Menunggu waktunya untuk check in dengan tatapan lurus ke depan.
Taehyung datang lebih cepat, waktu keberangkatan masih dua jam lagi dan Taehyung tidak ingin terburu-buru masuk ke dalam untuk check in lalu menunggu di ruang tunggu. Tidak ada alasan, Taehyung entah mengapa suka sekali melihat orang-orang berlalu lalang di hadapannya dengan begitu terburu-buru mengejar keterlambatan.
Mulutnya mengunyah tteokbokki begitu pelan, terlampau pelan. Matanya sendu, entah menatap ke arah mana dirinya. Sesekali dia menghela napas berat dan menelan tteokbokki ekstrapedas itu, Taehyung bahkan tidak merasakan pedas sama sekali. Taehyung persis seperti remaja SMA yang sedang patah hati.
Entah apa yang ia pikirkan tadi di tengah jalan menuju bandara, berhenti membeli tteokbokki dipinggir jalan dengan kuah ekstra pedas dan tidak membeli minum sama sekali. Mungkin Taehyung meminta untuk mati dengan cara kepedasan.
Hingga akhirnya saat itu tiba.
Taehyung tersedak tteokbokki ekstra pedas, entah karena apa. Mungkin terlalu banyak melamun.
Taehyung langsung terduduk sembari terbatuk berkali-kali. Hidungnya terasa begitu panas dan sakit sekaligus, kerongkongannya juga terasa sakit. Tersedak makanan yang ekstra pedas sama saja seperti mencari mati.
"Shit—" suaranya terputus-putus saat menyadari bahwa Taehyung tidak membeli satu minuman pun. Taehyung memang mencari mati.
"Hei, gwenchana? Minum airku saja." Taehyung langsung mendongak, melihat seorang namja berdiri tegap di depannya dengan tangan yang menyodorkan sebotol air putih. Taehyung menyambar air putih itu dan meminumnya seperti orang kehausan.
Setelah beberapa kali teguk, Taehyung baru bisa berdiri dan memukul dadanya sekali. "Ukh—gomawo…" ucapnya dengan senyum tipis.
Namja itu mengambil kembali botol miliknya dan membalas dengan senyuman. "Kau dari tadi berdiri di sini dan memakan tteokbokki. Aku kira kau menunggu seseorang." Celetuk lelaki itu dengan memerkan sederet gigi kelincinya.
Taehyung mendadak menilai penampilan lelaki itu melewati matanya. Hal yang selalu Taehyung lakukan saat melakukan interaksi dengan seseorang. Menilai hukumnya wajib bagi seorang Kim Taehyung, apalagi dirinya hidup di 'dunia gelap'.
Tinggi lelaki itu tidak jauh darinya, agak sedikit lebih pendek dengan rambut berwarna dark brown. Matanya bulat, tampak berbinar-binar jika dilihat sekilas. Memiliki senyum lebar dan sederet gigi yang cukup besar, tidak jauh beda dari gigi kelinci. Kesan pertama, namja ini sangat imut.
Pakaian yang ia kenakan bermerek, dengan jam tangan keluaran brand ternama dan sepatu yang memiliki harga belasan juta. Tidak menipu, bahkan Taehyung bisa melihat tubuh lelaki di hadapannya ini berlapis uang. Karena kesan yang namja imut ini keluarkan tampak begitu fresh dan menyenangkan. Bisa dikatakan dia adalah seorang anak dari keluarga kaya raya.
Anak kaya raya yang tidak pernah bekerja, maksud Taehyung tidak mungkin seseorang pekerja akan memiliki kulit yang tampak halus. Jikalau dia bekerja di dalam ruangan dengan jabatan tertentu di perusahaan, dirinya tidak mungkin menggunakan sepatu kets mahal dan telinga ditindik, atau permasalahkan snapback di kepalanya. Penampilan seperti ini jauh dari kata orang kantoran. Dia mahasiswa.
Tidak ada tanda bahaya.
Karena itu Taehyung langsung tersenyum tipis, mengulurkan tangan, bermaksud untuk mengajak berkenalan. Yah… membuat teman baru di saat suasana hatinya sedang memburuk juga tidak ada salahanya. Melihat Taehyung yang tampak bersahabat, namja itu langsung tersenyum lebar, membalas uluran tangan Taehyung.
"Kim Taehyung, dan tidak… aku tidak sedang menunggu seseorang." Ucapnya dengan nada lembut dan senyuman menawan. Mau tak mau sang lawan bicara jadi ikut tersenyum.
"Namaku Jeon Jungkook. Akh, kukira kau menunggu seseorang, wajahmu seperti menunggu seorang kekasih yang tidak akan datang." Tawanya sedikit mengejek. Walau bermaksud bercanda, tapi perkataan itu sangat menusuk hati Taehyung. Rasanya Taehyung jadi ingin membanting bocah yang ada di hadapannya, sekarang juga.
"Ah, tidak... tidak juga. Aku hanya suka melihat orang-orang seperti ini." Ucap Taehyung penuh dusta. Sejak kapan Taehyung menyukai kegiatan memperhatikan seseorang? Bukankah dia lebih suka jika dia yang diperhatikan?
Oh yeah, sejak Taehyung merasakan apa itu kekalahan dan patah hati.
"Benarkah? Aku juga suka!" Jungkook antusias, membuat kedua matanya tampak bercahaya karena bahagia. Mau tak mau, Taehyung jadi tersenyum kecil, sedikit mengakui bahwa tingkah lelaki yang ada di hadapannya membantu meningkatkan mood -nya.
"Aku mahasiswa psikologi. Jadi sangat suka memperhatikan manusia." Lanjut Jungkook dengan badan yang berputar, mengambil posisi di samping Taehyung, lalu berdiri tegap.
Taehyung yang memperhatikan tingkah bocah itu jadi sedikit menahan tawa, aneh sekali. "Benarkah?" tanya Taehyung sembari mengunyah tteokbokki ekstra pedas. Entah kenapa, sekarang Taehyung jadi sedikit merasakan sensasi menggigit di lidahnya. Setelah daging tak bertulang itu nyaris kehilangan indera pengecap karena mood yang terlalu buruk.
"Iyap, contohnya seperti ibu itu. Dia pasti sekarang sedang menelpon anaknya, menyuruh untuk mengangkat jemuran atau apalah. Dan ternyata anak itu belum bangun tidur sama sekali!" jelas Jungkook dengan jari telunjuk yang menunjuk wanita separuh baya sedang menelpon dengan dahi mengernyit.
"Kau mengarangnya 'kan."
"Tentu saja!" jawab Jungkook cepat, membuat Taehyung langsung tertawa. "Atau pria itu! Dia pasti berpikir, 'ah… kapan aku pulang' atau 'akh, perutku sakit sekali. Aku rasa aku akan mati jika menahan taik di dalam perutku lebih lama.' Kira-kira seperti itu—"
"Yak, aku sedang makan di sini." Potong Taehyung dengan tawa, apalagi saat melihat Jungkook memeluk perutnya sendiri dan mengerang kesakitan. Persis seperti pria tua itu yang memang memeluk perut dengan muka kaku. Mungkin kali ini Jungkook benar, pria itu bisa saja menahan untuk tidak buang air besar dalam jangka waktu cukup lama.
"Atau kau—" Jungkook menghentikan pergerakan konyolnya, menatap Taehyung dengan tatapan tenang. "Yang ragu ingin pergi atau tidak."
Hening.
Apa ini?
Jadi dia benar-benar mahasiswa psikologi yang mempunyai bakat menerawang pemikiran seseorang?
Taehyung nyaris tersedak untuk kedua kalinya saat senyum penuh arti itu muncul di wajah seorang Jeon Jungkook. Namja imut itu kembali berdiri dengan normal di samping Taehyung, sedikit bersenandung kecil dan sesekali menatap Taehyung yang masih terdiam di tempat.
"Aku, kemarin malam mendengar cerita. Kawanku sendiri yang hampir pingsan di tempat karena mengejar seseorang. Usahanya bukan main-main! Dan kedua pasangan itu baru saja mengantarku ke bandara pagi ini. Lucu sekali." Jungkook mulai bercerita, sedikit tersenyum tipis.
"Padahal waktu kawanku datang kepadaku meminta tolong, binar matanya tampak gusar. Dia takut akan sesuatu yang tidak jelas, tapi sekaligus marah. Tapi setelah pulang bersama kekasihnya, dia langsung bahagia sekali." Jungkook melirik Taehyung yang sekarang sudah menghela napas pelan.
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi terkadang. Mengejar lebih baik daripada dikejar." Jungkook tersenyum tipis. Entah sihir apa yang Jungkook lakukan, Taehyung langsung merasa hidup kembali.
Dia tersadar sepenuhnya, ini bukan permainan logika yang selama ini ia geluti. Ini permainan hati. Dan kalau ingin menang, tentu saja ia harus totalitas mengikuti kata hatinya.
Itu yang selama ini Min Yoongi lakukan.
Sesaat itu juga, Taehyung menepuk pundak Jungkook cepat. Berterima kasih tanpa suara. Membuat Jungkook mendadak kebingungan, "Yak, kau ini ke—Taehyung-ah!"
Jungkook berteriak saat melihat Taehyung yang mendadak lari menjauh darinya. Dengan tangan yang menggeret koper dan satunya memegang semangkuk tteokbokki, Taehyung berlari tergopoh-gopoh menuju mobilnya sendiri.
Meninggalkan Jungkook sendirian di tengah keramaian. Kebingungan dengan tingkah orang yang baru saja ia kenal. Tapi di satu sisi, Jungkook jadi tertawa kecil. Mungkin saja dia baru menyadarkan seseorang dari mimpi buruk.
Yah, terkadang dia merasa dirinya begitu berguna.
"Ya sudahlah, lebih baik aku check in saja." gumamnya pada diri sendiri dan berjalan mendekati pintu masuk bandara. Tapi langkahnya terhenti saat ponselnya berbunyi, membuat ia mengangkat dengan nada ceria.
"Ne, eomma?" jawabnya santai. Dirinya sempat mendengar bahwa ibunya berteriak panik, memberitahu agar penerbangannya ke Inggris dibatalkan. Membuat Jungkook mengernyit bingung.
"Apa maksudmu? Aku sudah di bandara!" Jungkook berucap kesal.
"Seokjin masuk rumah sakit lagi Jungkook-ah. Keadaannya semakin parah."
Dan saat itu, Jungkook menyadari. Bahwa dirinya baru saja mendapatkan mimpi buruk yang mampu membuatnya terdiam seribu bahasa.
.
.
.
"Hoseok hyung, kau tidak usah menjemput mobilku di bandara." Taehyung langsung memutuskan hubungan telepon saat berkata seperti itu.
Tangannya sibuk membuka laptop yang selalu ia bawa kemana-mana sejak menjadi mahasiswa. Diam-diam Taehyung memasang pelacak di mobil Yoongi untuk berjaga-jaga. Dan ternyata pelacak itu cukup berguna sekarang, Taehyung yakin seratus persen Jimin sedang bersama Yoongi.
Jangan menganggap Taehyung aneh karena memasang pelacak di mobil abang kandungnya sendiri. Yoongi juga terkadang suka sekali memonitor kehidupan Taehyung, bahkan waktu masa SMP Yoongi bisa tahu dimanapun adiknya berada.
Dulu Taehyung mengira bahwa Yoongi memiliki indera keenam atau kekuatan supranatural. Ternyata Yoongi suka menempelkan pelacak di tas sekolahnya. Hyung jahanam.
Taehyung memasang headphone dan mengaktifkan pelacak itu. Membuat dirinya bisa mendengar apapun yang Yoongi dan Jimin bicarakan di dalam mobil serta kemana tujuan mereka.
Mudah sekali.
Kalau Jimin tidak mau datang kepadanya, maka Taehyung yang akan datang ke Jimin dan merebutnya dengan kasar.
Taehyung langsung menghidupkan mobil dan tersenyum tipis saat mendengar suara Jimin bertanya 'ahjussi! Apa kau tidak bekerja?' Suaranya yang lucu membuat Taehyung tertawa kecil. Entah kenapa mood-nya menjadi seratus persen lebih baik sekarang.
"Ok, Yoongi hyung... permainan dimulai."
Ah, apakah harus diingatkan? Dalam permainan apapun, Taehyung selalu berakhir dengan membawa kemenangan.
.
.
.
[Reccomended song : My eyes – 10 cm (ost Goblin) disarankan mendengar saat membaca bagian ini ^.^]
JIMIN P.O.V
"Ahjussi! Apa kau tidak bekerja?" tanyaku penuh antusias saat melihat dirinya yang sedang melihat ke arah luar jendela mobil. Memperhatikan lampu merah yang tak kunjung merubah warna menjadi hijau.
"Aku adalah bos. Kau tahu apa tugas utama bos?" Yoongi mendadak melihat ke arahku dengan senyum penuh arti.
"Apa?"
"Memimpin dan menyuruh." Jawabnya dengan tersenyum lebar. Membuat aku terpana.
"Benarkah?! Jadi kau hanya tinggal menyuruh ini itu dan mendapatkan uang?" celetuk sekali lagi. Raut wajah Yoongi langsung berubah, dirinya menghela napas panjang dan menggeleng pelan.
"Aigoo…" gumamnya pada diri sendiri dengan satu tangan yang mengambil sebatang rokok. "Kau itu bodoh atau bagaimana?" sontak aku langsung mengernyit tidak suka. Apa maksudnya ia berbicara seperti itu?!
"Tentu saja aku memiliki banyak pekerjaan. Bertemu klien, menandatangai beberapa surat, mengurusi anggota baru yang menyusahkan, apalagi kalau ada kelompok kecilku yang membelot, harus repot-repot membunuh. Urusan bersama polisi merepotkan, mengurusi beberapa transaksi illegal, hin—"
"Wow! Sebanyak itu?!" aku langsug memotong perkataanya, sedangkan Yoongi mengangguk kecil lalu mulai menyelipkan sebatang rokok di kedua belah mulutnya. Ada beberapa yang aku tangkap dari ucapan panjang itu, sesuatu yang mengerikan dan tentu saja aku berusaha mengabaikan hal tesebut.
Oh ayolah, dia bos besar mafia.
Yang artinya dia adalah bos dari segala bos.
Jadi sudah wajar jika membunuh seseorang…
Walau itu terdengar mengerikan. Tapi tidak seburuk itu 'kan?
Aku kembali melihat dirinya yang sudah membuka jendela mobil, membiarkan kepulan asap penuh racun itu keluar dengan begitu mudah. Aku mengernyit tidak suka saat beberapa asap nyeleneng dari jalur dan masuk ke dalam hidungku. Sontak aku menjentik tangan Yoongi kuat.
"Sudah kukatakan, berhentilah merokok!" kesalku yang membuat dia menatapku heran.
"Kau kira mudah? Di dalam rokok ini ada n—"
"Nikotin yang membuat candu. Aku tahu, aku tidak bodoh. Setidaknya jangan merokok kalau di hadapanku." Kedua tanganku terlipat di depan dada, menggerlingkan mata untuk menyuruh Yoongi membuang rokok itu secepatnya. "Apalagi yang ahjussi tunggu? Buang rokoknya."
Yoongi mendadak mendengus, menatapku sebentar lalu tertawa mengejek. "Wah… wah… jinja… kau itu—" aku yakin seratus persen Yoongi ingin memakiku dengan umpatan, melihat dari wajahnya yang menahan kesal. Tapi mendadak dia menghela napas kuat sekali dan memukul stir mobil.
Sempat aku terkejut, hanya sedetik karena sungguh, aku kira dia akan marah kepadaku. Tapi nyatanya, dia membuang rokoknya di bawah kursi kemudi lalu menginjaknya kuat-kuat. "Sudah. Kulaksanakan. Tuan. Putri." Penekanan di setiap ucapan.
Menyebalkan.
"Kau tidak perlu melakukannya kalau kau tidak ikhlas." Aku semakin merengut kesal. "Dan jangan panggil aku Putri, aku ini namja. Panggil aku 'Tuan Muda Park Jimin' oke?" tentu saja aku berkata seperti itu dalam nada sombong.
"Aigoo… kalau bisa kupatahkan kakimu, aku patahkan sekarang juga Jimin-ah." Yoongi mengaku tanpa rasa segan. Aku pun langsung tersenyum manis, manis sekali hingga Yoongi menatapku bingung.
"Ahjussi tidak akan melakukan itu 'kan? Kau mau punya pasangan hidup yang pincang?" Aku membalas dengan nada mengejek.
"Oh, jadi kau sekarang sudah ingin menjadi pengantinku?" dengan mudah Yoongi memberikan serangan balik, ditambah smirk andalan miliknya yang mampu membuat aku tergagap.
"Ap—apa, buka—akh! Sudahlah!" aku langsung memalingkan muka. Semua tentangnya itu menyebalkan. Sangat!
Bisa kurasakan Yoongi tertawa kecil, mungkin merasa menang dari perdebatan ini. Tapi mendadak dia bergumam, "Kau itu… selalu seperti ini sejak dulu." Membuat aku terdiam.
Sejak dulu?
Apa maksudnya sejak dua tahun yang lalu? Tapi aku yakin kami hanya bertemu di musim salju malam itu, bahkan tidak banyak berbicara. Kenapa dia berkata seperti itu seakan sudah mengenalku sedari dul—
Akh, iya…
Dia 'kan seorang stalker.
"Ahjussi itu hanya mengikutiku diam-diam selama dua tahun, jangan berkata seakan kau mengenaliku begitu dalam." Aku bergumam tanpa melihat dirinya, tapi aku yakin Yoongi sempat mendengus kecil sebelum akhirnya kembali fokus menyetir mobil.
Aku hanya diam sembari menyenderkan kepala di jendela mobil. Merasakan hembusan angin dingin dari AC mobil dan mulai beripikir kecil. Tanganku sibuk menyentuh kaca jendela lalu melakukan gerakan memutar berkali-kali.
Ada satu hal yang aku pikirkan, satu hal yang membuat aku menjadi ragu. Semenjak melihat Yoongi berdiri tegap di depan gerbang masuk taman bermain itu, jujur hatiku menjadi goyah. Dia baik, sungguh. Tapi aku tetap aja tidak mengerti…
Kenapa dia mengatakan hal sekejam itu?
Kata-kata itu terlalu menusuk, hingga aku merasa bersalah sekaligus dengki. Dia hanya berkata, hanya melihat, hanya bernapas, tapi mampu membuat aku sulit melupakannya.
Aku akui, aku gila di saat kembali berlari ke arahnya setelah berhasil kabur dengan begitu mudah. Tapi ada sesuatu yang ada di dalam dirinya, yang membuat aku terus saja memikirkan eksistensi dirinya. Bahkan membayangkan.
Akh, masih ingat aku betapa malunya berteriak seperti orang bodoh di dalam toko barang bekas itu. Atau diriku yang berusaha mengingat pertama kali bertemu dengan seorang Min Yoongi. Dan diriku yang berlari seperti orang gila hanya untuk menemui dirinya.
Bodoh.
"Ahjussi, kenapa kau berkata seperti itu?" tanpa sadar, pertanyaan itu keluar dari mulutku. Tanpa disaring sedikitpun. "Aku masih mengingatnya, 'Aku ingin dirimu… bukan ibumu… jadi buat apa dia hidup?' kata-kata itu… menyebalkan. Sangat."
Aku berucap dengan nada rendah, tidak mempedulikan suasana yang mulai berubah menjadi sedikit sendu. Perlahan aku menatap Yoongi, matanya lurus menatap jalan. Tidak bereaksi sedikitpun, membuat aku menghela napas pelan.
Tiba-tiba, kepalaku dielus oleh tangan dinginnya. Membuat aku membelalak kaget, walau terkejut tapi bisa diakui bahwa aku nyaris terpesona oleh dirinya yang sekarang tersenyum tipis.
"Maaf." Gumamnya sekali lagi dengan tangan yang mulai turun ke pipiku. Mengelusnya begitu pelan hingga mampu mengirimkan getaran kecil di hatiku. Bisa kurasakan rasa malu sekaligus gugup menghampiri dan bertengger di dalam pikiranku. Membuat aku reflek menunduk, hatiku tidak cukup kuat untuk menatap dirinya yang sedang tersenyum.
Di saat tangan itu mulai menjauh, pikiranku mendadak kosong. Kedua tangan bergerak tanpa perlu diperintah, aku menahan tangannya tanpa basa-basi.
Suara jantung yang semakin lama semakin terdengar kuat, membuat aku nyaris tuli karena hanya bisa mendengar degup jantung sendiri.
"A—ku." Tergagap. Bahkan sekarang kedua tanganku bergetar hebat saat menggenggam tangan kirinya yang masih diperban rapi.
"Aku akan mencoba!" di luar kendali, aku berteriak sembari menutup mata. Seluruh akal sehatku melayang, tertiup menjauh bersamaan dengan angin dingin yang keluar dari AC mobil. Mungkin memang benar, aku gila.
"Aku akan mencoba, menjadi pengantinmu." Sambungku dengan mata masih tertutup. Tiba-tiba, aku bisa merasakan Yoongi yang membanting stir. Membuat tubuhku sedikit oleng dan tersentak hingga menyentuh pintu mobil.
Mataku terbuka, meringis pelan karena punggung yang terasa nyeri. Baru saja aku ingin memaki Yoongi yang seenaknya berhenti mendadak, tapi semua itu tertahan. Di saat Yoongi membuka seat belt-nya dan memajukan dirinya hingga jarak di antara wajah kami menipis.
Napasku mendadak berhenti, di saat hidung kami bersentuhan dan tatapan matanya yang menusuk masuk ke dalam pikiranku. Kedua tangan Yoongi memenjarakan kepalaku hingga aku tidak bisa melihat ke arah lain, kecuali wajahnya.
Kepalaku mendadak bergerak, menoleh ke arah kiri dan menatap pergelangan tangan dihiasi jam mahal. Sayang, aku tidak bisa menatap jam itu lebih lama dikarenakan tangan kanan Yoongi menyentuh daguku halus. Dengan mudah memegang kendali terhadap kepalaku, hingga kembali menatap wajahnya.
Yoongi memajukan wajahnya dan dengan perlahan pula aku memundurkan kepala, hingga menyentuh jendela dengan sempurna.
Dan sedetik kemudian…
Aku merasakan bibirnya nyaris menyentuhku. Mungkin sedikit ragu, dirinya sempat berhenti untuk menghela napas sejenak. Tubuhku mendadak melemas, bahkan hanya helaan napas seorang Min Yoongi mampu membuat seluruh pikiranku hilang kendali.
Tanpa ragu, aku memegang kedua pipinya dengan pelan. Membuat tangan yang awalnya ada di daguku kembali menyentuh jendela yang dijadikan sebagai tumpuan. Aku terkikik kecil di saat tatapan matanya melembut.
"Gomawo…"
Suaranya begitu serak dan dalam, tapi terdengar seperti lantunan lagu yang begitu indah di dalam telingaku. Lalu di saat keraguan itu hilang, dia menciumku.
Begitu lembut.
Hingga aku hanya mampu, tersenyum bahagia.
.
.
"Ahjussi, aku akan semakin senang menjadi pengantinmu kalau kau memberikan ponsel baru lagi."
"Huh?"
"Yah, apa aku harus meminjam ponselmu untuk menelpon Taehyung seperti tadi pagi? Ayolah, kau 'kan kaya~"
"Bagaimana kalau kita ke taman bermain lagi dan mengambil kembali ponselmu yang entah dimana kau membuangnya."
"Yahhhhh, AHJUSSI! Aku membuangnya di toilet! Aku mau yang baru, keluaran terbaru seperti punya Jungkook."
"…"
"Ahjussi!"
"Tidak, siapa yang menyuruhmu membuangnya? Dasar bodoh."
"Ahjussi… aku akan menyukaimu kalau kau membelikannya."
"Ok, kita pergi beli sekarang."
.
.
.
TBC
You might want to know :
Taehyung terdiam mendengar pengakuan Jimin. Dia mencengkram stir mobil begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Menandakan ada pesan masuk, membuat Taehyung mengambil ponsel hitamnya dan membuka pesan tersebut.
Kesalahan besar.
Karena setelah membaca sederet kalimat sialan itu, Taehyung berteriak kesal. Emosi.
Akan tetapi setelah itu dia tersenyum miring. Tidak peduli akan apapun, karena di otaknya hanya ada satu sekarang.
Mengejar Jimin hingga ia mendapatkan Jimin, seutuhnya.
.
From : Min Yoongi
Text : kau mendengarnya 'kan bocah? Sekarang mundurlah secara teratur dan menjauh dari pengantinku. Kau sudah kalah, Kim Taehyung.
.
.
Bonus!
Where is Hoseok?
Hoseok memasukkan ponselnya ke dalam jas dan tersenyum ramah. Setelah membatalkan salah satu suruhannya untuk menjemput mobil Taehyung, Hoseok kembali memandang seseorang yang duduk dengan begitu gugup di hadapannya.
"Tuan Yoongi sedang ada urusan, jadi untuk sekarang saya yang akan mewakili dirinya." Tak lupa senyum ramah itu masih terpampang di wajahnya.
Ruangan kerja Yoongi sekarang terasa begitu mencekam. Dengan dua bodyguard berbadan besar yang berjaga-jaga di depan pintu masuk mampu membuat sang lawan bicara hampir mati karena terlalu gugup.
Sial, seharusnya dia tidak membatalkan janjinya.
"Ma—af, tapi saya tidak bisa menyerahkan sebagian tan—"
"Berapa semua harganya Jeonghan? Organisasi kami akan membayarnya." Hoseok mulai membuka beberapa map yang berisi lembaran surat perjanjian.
"Bukan itu masalahnya Hoseok-ah, perkebunan ganja itu terlalu istimewa untuk diperjual belikan." Jeonghan mulai mengeluarkan suara tegasnya. Mungkin karena aura Hosoek yang ceria dan ramah, mampu membuat kegugupannya sedikit mereda.
"Karena istimewa itulah, bosku ingin membelinya. Apa kau tidak mengerti juga? Pabrik kami membutuhkan pasokan daun ganja lebih banyak, dan kami hanya akan membeli setengah dari tanah milikmu." Hoseok kembali menjelaskan dengan melempar map itu ke atas meja.
Hoseok mendadak menghela napas, badannya yang awalnya bersender di sofa mulai ia tegakkan. Sedikit merapikan jas yang ia pakai, dia menatap Jeonghan tajam. Jari-jari panjangnya mengetuk secara teratur di atas map hitam tersebut.
"Jangan dibuat susah Jeonghan-ah. Bosku pasti tidak akan suka jika kau tidak mau menj—"
"Kenapa kita tidak bekerja sama saja?" Jeonghan mendadak memotong percakapan Hoseok, tanpa menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan besar. "Hanya aku satu-satunya pemilik sah dari tanah itu, dan aku bisa bekerja sama dengan pabrik kalian. Menjadi pemasok paling banyak di—"
Mendadak suara Jeonghan tercekat. Entah dari mana pistol itu bisa tiba-tiba ada di genggaman tangan Hoseok. Dengan senyum ramah yang hilang dan tergantikan cengiran mengerikan, Hoseok mendesah malas.
"Tuan Yoongi tidak pernah suka bekerja sama, dengan siapapun. Dia lebih suka memiliki sesuatu daripada harus membagi kepada orang lain. Dia cukup rakus, kau tahu?" nadanya begitu lambat, sayup-sayup terdengar suara tawa dari bibir Hoseok.
"Tanda tangan semua yang ada di sini, atau aku menembakmu—" tangan Hoseok sudah siap mengarahkan pistol ke arah kepala Jeonghan. Secara perlahan pula dia menarik pelatuk itu, membuat Jeonghan tidak bisa bergerak sama sekali.
"Dor!"
Jeonghan tersentak ke belakang, jantungnya nyaris copot saat Hoseok memainkan pistol itu di hadapannya. Setelah itu Hoseok tertawa kuat sekali, mungkin wajah pucat pasi Jeonghan adalah sebuah hiburan baginya.
"Santai saja Jeonghan! Aku bukan Tuan Yoongi. Aku tidak akan membunuh hanya untuk perjanjian seperti ini. Bahkan pistol ini tidak ada pelurunya!" Hoseok tertawa sembari menunjuk pistol hitam di tangannya.
Karena tidak lucu sama sekali bagi pihak yang disudutkan, Jeonghan hanya mampu tertawa penuh paksaan. Tangannya sudah bergetar hebat, bahkan dirinya tidak sanggup untuk bernapas secara normal.
"Percayalah! Revolver ini kosong." Ucap Hoseok sambil menekan pelatuknya berkali-kali. Dan memang iya, kosong.
Hingga tarikan pelatuk yang terakhir.
Suara tembakan pistol itu nyata sekarang.
DOR!
Begitu cepat hingga menancap tepat di dahi Jeonghan.
Hening.
Hingga tubuh Jeonghan terjatuh di atas meja dan mengeluarkan banyak sekali darah.
"SHIT!" Hoseok berteriak heboh sembari melemparkan revolver miliknya. Sungguh ia tidak bermaksud menembak siapapun selama hidupnya, kecuali tidak sengaja. Akan tetapi, ketidak sengajaan itu selalu saja terjadi di hidup Hoseok.
"Sial, bagaimana ini? Hei! Kau benar-benar mati? Joenghan! Oi!" Entahlah, Hoseok sekarang sudah menendang-nendang kepala Jeonghan dengan takut-takut.
Tentu saja dia sudah mati, tembakan itu terlalu tepat di kepala, menembus tengkorak tanpa basa-basi. Tidak mungkin Jeonghan tiba-tiba bangkit setelah bersimbah darah dan adanya peluru tertanam di otaknya.
"Matilah aku…" Hoseok mengambil ponselnya sendiri, mencoba menelpon bosnya dengan sedikit takut-takut. Di saat telepon itu diangkat, Hoseok menyengir lebar.
"Tuan Yoongi, saya tanpa sadar telah membunuh Jeonghan…"
Dan bisa didengar, helaan napas yang cukup panjang, sebagai jawaban.
.
[PENGUMUMAN penting terselip di sini, mohon jangan dilewatkan]
7792 words dan 25 halaman
Wow
No edit, baca aja tanpa ngeluh soal typo yah. Lelah saya, tanganku keram :')
Nyempetin buat sepanjang ini sepanjang malam, dan esoknya saya UKK. Duhai, lelah :')
BTW, sebelum balas2 review aku mau bilang sesuatu…
Jadi gini, aku tidak tahu, mungkin setengah dari kalian sudah membacanya atau belum. Entahlah, tidak tahu… jadi salah satu dari cerita aku, berniat aku bukukan. Berjudul A Mask. Untuk pemberitahuan lebih lanjut silahkan cek cerita A Mask dan loncat ke chapter paling akhir.
Semua lagi proses, akan siap setelah lebaran.
A Mask adalah mystery romance Yoonmin yang mengangkat tema kanibalisme sebagai kasus utama. Aku akan me-remake keseluruhan cerita dan menambahkan extra story di akhir untuk ketiga pasangan yang ada. Bagi kalian yang belum tahu, silahkan di cek.
Tapi mohon maaf, di sana bahasaku masih kacau. Jadi dengan kemampuanku sekarang, aku mencoba menggubah bahasanya menjadi sedikit lebih bagus daripada yang dulu. Makanya aku menyebutnya sebagai 'Remake A Mask'. Alias membuat ulang. Wkwkwk.
Entah kenapa malu promosi diri sendiri sumpah dah :')
'Jadi ini pengumuman pentingnya thor? Gak guna u.'
/cry/
Oh iya! Karena ini liburan... W BISA NULIS SEPUASNYA ANJER! YEYY!
'Paan sih gaje u thor.'
Dan… saatnya balas-balas review!
BALASAN REVIEW CHAPTER 6 :
ChimSza95, yoongi beneran suka kok :') tenang saja~
Nida Min, iya dong, kan yoongi sayang jimin XD
GestiPark, yak! Taehyung sama aku aja udah! XD
Driccha, yoonmin nikah? Masih jauh perjalanannya wkwkwkw, gak sih. Bentar lagi, lima atau empat chap lagi lah nikahnya~ (Spoiler)
JirinHope, ternyata… belum sampai ke tahap angst nya~
Jiyoo13, iya, nikahnya nanti… sabar dung ngegas amat mbak XD. Wkwkwkwk, dan yap! Kakak akan semangat dengan projectny!
ORUL2, Yoongi dan Jimin di sini adalah tru love sejati :3
The Min's, gomawo telah menyukai cerita ini… ku jadi terhura :')
Aissy05, udah next! Ofc I selalu semangat!
Bangtaninmylove, vkook bertemunya yang seperti itu lah… wkwkwkwk.
Tersugakan, ih iya sih, bagian itu bikin baper yah. W baca sendiri aja rada baper gitu, terus keknya jadi jatuh hati sama tokoh si Yoongi di sini. (author bego)
Applecrushx, hahahaha, jadi malu diceritain ke temannya. Makasih sudah mau cerita ke temennya. Sampaikan salamku kepadanya~
Chyperssi, duh lihat reviewmu~ mye hearteuuu ma soullll seneng deh.
Albus Convallaria majalis, udah lanjut yah say~
SunAEBI, kalau lelah jangan dipaksa nak :" nanti matamu sakit…
Mara997, nado saranghae~ dan aku akan terus berkarya untukmu :')
Jkook, tae memang berbeda. Hohoho.
Chris Tyan97, oh iya… A Village… saya lupa XD
Ichikawa haru, sekarang sudah sangat peduli wkwkkw.
ChiminsCake, sudah apdet! Wkwkw
Arvhy, kalau lumutan mandinya pake baking soda… dijamin gak ilang juga sih -,-
Thalkm, sabar mbak sabar :')
Vallery kim, aww… seneng deh diinget ff nya XD
Jeon97Kim, gak tunggu dulu, itu tulisannya paan?! Jahat yah sekarang sama kakak sendiri?! Wow… saya bisa membacanya XD
InfinitelyLove, I LOVE U TOO KAK! MAKASIH LOH UDAH NGENALIN P101, MAKASIH :)
Meradians, gak buruk kan yah menunggu :')
Mimilkyy, MANTEB!
Joah, yoongi juga selalu buat Jimin.
NoSugaFree, tae gak jahat kok :( dia hanya unik… nanti rasa bersalahnya Yoongi dijelasin kok kenapa, tapi nanti. Wkwkwkw.
Upa, keknya angst nya chap depan deh wkwkwk.
Sugasugababy, karena Tae suka Jimin. Dan tae hanya gak suka dikalahkan saja…
Joty Army, ahjussi kek goblin dong, si Kim Shin. (author belum bisa move on dari drakor goblin)
LittleOoh, udah~
Butterflybijuu, masih menunggukah? Wkwkwk
Maria Felicia, khusus di ff ini bakal ada 'you might want to know' nya kok, di ff lain gak bakal ada. Wkwkwk. Dan iya, w apdet a village ya tuhan, eonni lupa sama ff itu serius dah. Chap selanjutnya udah di tulis, nanti eon tulis ulang lagi aja. Wkwkwk, jimin 20 yoongi 38. Indah kan :) dan projectnya… bukan skripsi :') tapi ada kok, yang jelas projectnya bukan di ffn~
Suji Miss U, aku mah juga mau punya suami kek Yoongi, duhh dimana yah nyarinya :')
Mutianafsulm, sudah lanjut muhehehe, angst nya? Anu… itu… hmm… gak jamin deh gak menyakitkan :')
Yoonminkoi, thank u for review~ seneng deh wkwkwk
KEROROHG, Nado sarangahe!~
Haneunseok, jimin bodoh, yoongi juga bodoh :')
Mita, siap bos!
Jongss, iya kan… yoongi baik… cari dimana yah suami kek begitu…
Namehm, udah lanjut~
Jinjin22, makasih juga udah baca :D
Nugu, semoga saya bisa fokus di ff ini doang, karena fokus ku suka terpecah XD wkwkwkwkwk. Ditunggu aja yah, makasih udah follow ini ff XD
KimTaeri28, aku juga greget,,, om om yoongi.. wow
YM 1309, wkwkwk, yakin ini ff terbaik? Mas agusnya akan selamanya milik JImin kuks
Guest, jimin dan yoongi kek magnet, gak bakal bisa terpisah deh!
Kebbycap, I cry too :" manis kah? Kamu juga manis! AZEK
Jiyoon93, ikutan baper :')
arMyJi, selanjutnya bakal baper2an kok… wkwkwk
aaniraysa, iy—iya… saya apdet :') maaf yah. Urusan sekolah emang kadang bertumpuk, dan aku lagi ngurus dua project sekaligus. Maaf telah membuatmu lumutan nak, mandi pake cola coba biar lumutannya ilang XD
Vi-kun, awww… jangan nangis :')
Yoonjimint, sudah apdet! Gak lama kan yah?
Chaonon, vkook gak bakal ada romancenya di sini, mereka bakal ketemu terus menerus dengan tidak sengaja dan berbicara singkat kek tadi. Gitu terus. Hingga di satu titik. Pokoknya untuk vkook bakal dijelaskan bahwa 'jodoh itu gak akan kemana' wkwkwk
Yeongee, iya ini aku udah lanjut~~
Kumiko Ve, Adil gak adil, hanya bisa dilihat sampai chap terakhir. Hoohohoho.
Nochu, awww… gomawo~ bahagia deh bacanya. Wkwkwk…
Kokorocchi, tenang, Yoongi akan bahagia di sini. /wink/
Marumin, manis yah… iya Yoonmin emang manis… sampe diabetes aku nya wkwkwk.
ChoiJayy, gomawo udah membaca dan menyukai ff ini ^^
Lilcyriel, yoongi sangar gak sangar pasti ganteng kuk wkwkw. Lucu dung manggilnya ahjussi, comel!
Btskings, maaf yah gak bisa cepet :')
Miss Leo, iya kok dilanjut~
Shin6761, marathon?! Waduh, kasihan matamu nak… jangan marathon yah lain kali :')
Sugarrrku007, oh my god, baru tahu?! Ok sip, u telat wkwkwkkw. Tak papa, nantikan aja project2 dari kami lagi wkwkwk. Btw lu kira aku thor dengan palunya apa -,- (btw saya lebih suka doctor strange /info gak penting/) bahahah di download? Serius? Wkwkwkkw
FyKim, iya ini udah apdet kok… serius dah :')
Phcxxi, angst yah… hmm… angstnya bakal berat btw (spoiler)
NFGDRGN, Awwww nado sarangahe~~~muahh
Zakiiiara, maafkan aku yang gak bisa apdet cepat~
Mokuji, iyain aja deh mbah, biar u senang dan sehat wal'afiat. Biar u bahagia dan dianugrahi kekuatan untuk menjalankan kehidupan yang indah ini. /maaf balasannya aneh/
Phabo uniq, wah, selamat bergabung reader baru~ dan yah… apa kau menikmati gayo track nya? Wklwkw
Boo Jimin Ice, kenapa malu nak -,- iya ini sudah lanjut kuksss /wink/
Hana95, HUHUHU MAKASIH LOH UDAH SUKA INI FF XD
Cacingalaska, username mu keren btw.
Itsathenazi, bakal ada tapi gak banyak. Wkwkw.
Jebal Monster, udah lanjut ahay :v
Dearraerae, iya… aku akan kembali dengan sendirinya wkwkwkwk. Masih sudah menunggu~
Bxjkv, dan sepertinya… angst nya bakal ditunda sampai chap depan2nya lagi kwkwkkw. Gak deng, entar lagi angst nya.
Jeung choir, ini udah apdet XD makasih udah sampai teringat2 sama ini ff… seneng aku nya wkwkw
Sekali lagi, gomawo sebanyak2nya dengan kalian yang sudah mereview ini semua!
Dan salam gak terlupakan.
Love and peace :3
