Sad Love Song

Chapter 7: Good Bye, Konoha

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: AU, OOC, OC

Pairing: Sasuke X Sakura

Slight Gaara X Sakura

.

.

Summary: Sakura gadis miskin bersuara emas bertemu Pemuda Tampan kaya raya yang manja dan kesepian, sebuah lagu membawa mereka ke dalam perasaan yang asing bernama 'cinta'. Banyak rintangan yang harus mereka jalani, namun kenyataan tak semanis perasaan, dan takdir tak semulus keinginan.

.

.

.

-~oOo~-

.

Sakura berjalan gontai menuju rumahnya, masih segar dalam ingatanya kejadian yang dialaminya di mansion Uchiha tadi, kejadian yang membuat harga dirinya terasa terinjak-injak, lagi, bukan sekali dua kali Sakura mengalaminya, jauh sebelum ini Sakura juga sering mengalami hal serupa.

Sakura menggelengkan kepalanya, menepis perasaan buruk yang tengah melandanya, memasang senyum sumbringah, Sakura mencoba bersikap tegar seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa.

Cklek

"Tadaima!" Sakura berteriak mengucapkan salam.

Seseorang menjawab salam Sakura dari dalam. "Okaeri, Saku-chan! Bagaimana acaranya? Sayang sekali aku tak dapat melihat penampilanmu."

"Biasa saja senpai, acara itu membosankan, tidak menarik, Nenek dan yang lainnya mana? Mereka sudah tidur?" Sakura berbicara sambil membuka sepatu mahal pemberian Sasuke.

"Ya, mereka bosan menunggumu, acara sekolah elit sebagus itu kau bilang membosankan, dasar aneh." sang pemuda yang diketahui bernama Gaara hanya berucap pelan. "Hmm, anu...Saku-chan, ada sesuatu yang ingin kubicarakan kepadamu."

"Sesuatu? Apakah itu penting Senpai?" Sakura bangkit, berdiri mensejajarkan dirinya dengan Gaara.

"Sebenarnya ini sudah lama ingin kubicarakan padamu, aku berencana pindah ke Tokyo, mungkin aku akan menetap disana, rumah produksi tempatku bekerja berpusat di Tokyo, sangat tidak efisien jika aku bolak-balik Konoha-Tokyo beberapa minggu sekali, kau tahu kan Tokyo sangat jauh."

Sakura sedikit terkejut dengan perkataan Gaara, belum lama ia dapat bertemu dengan senpainya itu, sekarang senpainya akan meninggalkannya lagi.

Sakura tertunduk lesu. "Lalu bagaimana dengan Nenek Mito, Rin, Sora dan Sara? Apa kau mengajak mereka juga?" Sakura berucap lirih.

"Aku sudah berbicara pada mereka untuk tinggal bersamaku di Tokyo, namun mereka menolak, karena biaya hidup di Tokyo sangat tinggi, mereka khawatir hanya membebaniku kalau ikut tinggal disana." Gaara menjelaskan.

Sakura kembali menemukan semangatnya yang tadi sempat hilang. "Jadi itu berarti, mereka tetap tinggal disini kan? bersamaku?"

"Sebenarnya...tidak juga Sakura, Nenek Mito ingin pindah ke Uzu mengajak Rin, Sora dan Sara juga, disana ada kerabat kami, mungkin Nenek akan tinggal disana, Nenek bilang ia ingin tinggal di kampung halamannya, tanah kelahirannya. Kau tidak mungkin tinggal sendirian disini kan, jadi bagaimana Sakura? kau ingin tinggal bersama Nenek di Uzu atau...emm...tinggal bersamaku di Tokyo?" Gaara menggaruk-garuk kepala merahnya yang sama sekali tidak gatal.

Sakura berfikir, menimbang-nimbang penawaran yang diucapkan Gaara.

'Uzu, Tokyo, desa, kota, keduanya sama-sama jauh dari Konoha.'

"Tokyo, aku pilih tinggal disana, tinggal bersamamu Senpai."

Betapa terkejutnya Gaara, saat Sakura memilih Tokyo, kota yang akan ditinggalinya kelak bersama Sakura, gadis yang diam-diam dicintainya sejak lama, memilihnya, memilih tinggal bersamanya.

Gaara kembali memastikan pilihan Sakura. "Kau yakin Sakura?"

Dengan riang Sakura berceloteh. "seribu persen yakin, disana aku dapat meraih mimpiku, menjadi penyanyi sekaligus pencipta lagu, lebih terkenal dari penyanyi di Konoha dan menghasilkan uang yang banyak untuk kita berdua, Nenek Mito , Rin, Sora dan Sara." Sakura terlalu senang sampai tak bisa melanjutkan kata-katanya.

Ditengah perasaan yang membuncah karena memikirkan hal-hal yang ingin ia lakukan di Tokyo, terbesit sedikit perasaan sedih dalam hati kecilnya, memikirkan kelanjutan hidupnya yang mungkin tak lama lagi, impiannya, perasaan dan kenangannya selama tinggal di Konoha, tanah kelahirannya, tempat dimana ia dibesarkan bersama keluarganya yang telah meninggalkannya terlebih dahulu. Banyak kenangan pahit yang terjadi selama ia tinggal di Konoha, ia ingin melupakannya, ia ingin membuka lembaran baru hidupnya, pindah ke Tokyo, mungkin itu juga sebuah kesempatan, kesempatan melupakan orang itu, orang yang mampu mengisi relung hatinya yang hampa.

"Baiklah, lusa kita akan pergi ke Tokyo, Nenek dan yang lainnya juga akan pergi ke Uzu, rumah ini akan dijual. Jadi kau bersiap-siaplah Sakura." Gaara menepuk pelan bahu Sakura.

Sakura tertunduk, kemudian mulai menggumamkan sesuatu. "Sebenarnya ada satu alasan lagi mengapa aku memilih untuk tinggal bersamamu senpai. Emm... mengenai penyakitku...nampaknya kanker ini sudah mulai mengambil alih tubuhku, mungkin hidupku takkan lama lagi, jadi kuputuskan untuk tinggal bersamamu di Tokyo, karena hanya kau yang tahu akan penyakitku ini, aku tak ingin membebani nenek dan yang lainnya kalau aku memilih tinggal bersama mereka."

Gaara membulatkan mata jade-nya, kaget akan perkataan Sakura yang baru saja tertangkap indra pendengarannya. Gaara tak dapat menahannya lagi, perasaan sedih tiba-tiba muncul daram dirinya, mencoba ikut merasakan penderitaan Sakura selama ini. Tak kuasa menahannya, Gaara pun memeluk tubuh mungil Sakura, menyandarkan kepala sang gadis bersurai musim semi ke atas dada bidangnya, mengelus sayang punggung kecil gadis itu, seolah ia tak ingin meninggalkannya barang sedetik saja.

Gaara berucap lirih. "Sudah separah apa? Saku..."

"Pertama-tama aku sering mimisan, sakit kepala yang teramat sangat menyiksaku, pandangan kabur, tak dapat mengendalikan keseimbangan tubuhku, dan hari ini aku mulai kehilangan kemampuanku untuk berbicara, tangan dan kakiku juga mulai sedikit mati rasa, aku tak tahu besok hal apa lagi yang akan terjadi padaku." Sakura semakin membenamkan wajahnya dalam rengkuhan Gaara, ia tak berniat menitikkan air mata, Sakura tak mau lagi menangis, sudah terlalu banyak air matanya yang tumpah, menangis tak menyelesaikan apa-apa pikirnya.

Gaara membatin sedih. 'Kau akan sembuh Saku, aku yakin itu...'

.

.

.

- Sad Love Song-

.

.

.

"Maaf, apakah tadi ada yang melihat seorang gadis, rambutnya berwarna pink sepunggung?" Sasuke bertanya pada segerombolan orang yang tengah berada di dekat toilet, ia menanyakan perihal keberadaan Sakura, sudah 10 menit ia mencari gadis bersurai bubble gum itu.

Seorang pemuda berambut coklat menjawab, karena merasa mengenal ciri-ciri gadis yang disebutkan Sasuke. "Ya, tadi aku melihatnya, kalau tidak salah, tadi aku melihatnya berjalan menuju arah toilet wanita, tapi ada tiga orang berpakaian serba-hitam, dua orang memakai kacamata hitam dan seorang lainnya memakai masker yang menutupi sebelah matanya, kalau tidak salah rambutnya berwarna putih keperakan dan agak jabrik, aku berniat menolongnya tadi, karena kukira gadis itu akan diculik, tapi kuurungkan niatku karena gadis itu tak menunjukkan perlawanan saat mereka membawanya." Sang pemuda menjelaskan panjang lebar kepada Sasuke.

"Oh begitu, arigatou atas informasinya." Sasuke segera berlari meninggalkan acara itu bergegas memacu mobilnya, menuju tempat yang sudah ada dibanaknya semenjak pemuda yang ditemuinya tadi menyebutkan ciri-ciri orang yang mambawa Sakura pergi, kemana lagi kalau bukan rumahnya sendiri, ia yakin ini perbuatan Kaa-san nya.

'Kakashi, ya, tidak salah lagi, Kakashi yang membawa Sakura, Cih! Kaa-san masih saja mencampuri urusanku.'

Sasuke memacu mobilnya dalam kecepatan penuh, berharap bahwa Sakura masih berada di rumahnya, berharap ia masih bisa menyelamatkan Sakura dari kata-kata beracun yang dilontarkan Kaa-san nya.

'Dasar gadis bodoh, mengapa kau tidak berteriak dan melawan mereka saja sih!' Sasuke menggerutu dalam hati.

.

Sasuke menggebrak kasar pintu rumahnya sambil berteriak-teriak, tak dapat mengontrol emosinya. "Kaa-san! Kaa-san! Tazuna mana Kaa-san?"

Belum sempat Tazuna menjawab, seorang wanita berambut biru dongker yang tergerai indah sampai pinggang tiba-tiba muncul, dengan anggun wanita itu menuruni tangga megah Mansion Uchiha.

"Kau tidak merindukan Kaa-san mu ini, hum, Sasu-kun." Senyum tipis menghiasi wajah cantik Mikoto.

"Tak perlu basa-basi Kaa-san, kau kemanakan Sakura?" Nada bicara Sasuke terdengar sedikit hormat dan terkesan dingin, meskipun ia sedikit benci pada Kaa-san nya karena jarang menemuinya, ia masih sayang pada wanita itu, karena wanita itulah yang melahirkan Sasuke.

.

Ya, semenjak bertemu dengan Sakura, sifat manja Sasuke yang ingin selalu diperhatikan oleh orang tuanya mulai pudar, digantikan oleh sifat bertanggung jawab dan lebih menghargai orang lain, selama ini Sakura telah mengajarinya sesuatu, mengajarinya agar tak bergantung pada orang lain, bertanggung jawab dan saling mengasihi.

"Begitu sikapmu setelah lama Kaa-san tak mengunjungimu? Sikapmu berubah semenjak kedatangan gadis murahan itu hah!" Mikoto terdengar sedikit menaikkan nada bicaranya, rasanya ia tersinggung dengan tudingan Sasuke yang ditunjukkan kepadanya, meskipun itu benar adanya.

"Jangan seenaknya Kaa-san berbicara seperti itu terhadapnya, Ia bukan gadis biasa Kaa-san." Sasuke memelankan nada bicaranya, tapi matanya masih menatap nyalang pada wanita di hadapannya.

Mikoto sekarang sudah berdiri di hadapan Sasuke. "Memang benar Ia gadis murahan, buktinya Gadis jalang itu dengan senang hati menerima cek yang aku berikan, oh ya, gadis itu juga bilang sandiwaranya telah berakhir, selama ini ia hanya memanfaatkanmu, mengincar kekayaan keluarga Uchiha."

"Kau bohong, kau pasti bohong, mana mungkin Sakura melakukan hal itu, aku menjamin ini hanya rekayasamu saja kan? Aku berani bertaruh kalau Sakura bukanlah gadis yang seperti kau bilang, akan kupastikan sendiri kebenarannya." Sasuke berlalu pergi meninggalkan Mikoto, ia enggan menanggapi perkataan Kaa-san nya itu, ia mencoba menenangkan pikirannya yang tengah kalut sekarang.

Mikoto berbalik menatap punggung Sasuke. "Nampaknya kau menyukai gadis murahan itu, Sasuke? Kau sampai membelanya sampai seperti itu, Lekas kau buktikan perkataan Kaa-san, Kaa-san yakin gadis itu hanya menjebakmu selama ini, kudengar kau memberikannya sejumlah uang sebagai imbalan bukan? Karena ia menjadi partnermu."

Sasuke tak menggubris perkataan Kaa-san nya, ia tetap saja berjalan, menuju kamarnya di lantai dua, dengan tatapan kosong, dan suasana hatinya yang berkecamuk, Sasuke membaringkan tubuhnya yang lelah diatas ranjang king size miliknya, menutup perlahan kelopak matanya, berharap ketika bangun esok hal yang tidak diinginkannya hari ini hanya mimpi. Ya...mimpi...

.

"Nee-chan, kami tak ingin berpisah dengan Nee-chan, Nee-chan harus tinggal bersama kami di Uzu, kumohon Nee-chan kali ini saja." Sara dengan mata berkaca-kaca memegang pergelangan tangan Sakura, memohon padanya untuk tinggal bersama mereka di Uzu.

"Sara, kau tak boleh seperti itu, Sakura-nee harus mengejar impiannya, kau tega kalau ia hanya menjadi petani di Uzu dan meninggalkan impiannya menjadi penyanyi terkenal." Rin yang merasa paling tua diantara Sora dan Sara mencoba berbicara bijak, menjelaskan kepada Sara, memang sulit menjelaskan kepada adik perempuannya yang satu ini, karena Sara memang sangat dekat dengan Sakura dibanding dirinya dan Sora.

"Rin-nee benar, Sara, lagipula nanti Sakura-nee juga akan mengunjungi kita, aku tak sabar menunggu Sakura-nee jadi penyanyi terkenal, saat itu terjadi, aku akan menjadi fans no.1 Sakura-nee, membeli seluruh album dan menempel seluruh gambar poster Sakura-nee di kamarku." Sora memberikan senyum tiga jarinya sambil mengajungkan jempol kanannya.

Pertahanan Sara runtuh sudah, ia menghela nafas berat, berusaha mengerti keadaan dan merelakan Sakura untuk berpisah dengan mereka. "Baiklah, tapi janji ya Sakura-nee harus sering-sering menghubungi dan mengunjungi kami, janji?" Sara mengacungkan kelingking kanannya.

"Janji!" Sakura mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Sara, merekapun tertawa bersama-sama.

"Baiklah, aku akan mengantarkan mereka terlebih dahulu ke terminal Konoha, kau cek barang-barang yang akan kita bawa, cek juga keadaan rumah, pastikan tak ada barang yang tertinggal, nanti kuncinya kau berikan ke tetangga saja." Gaara berbicara sambil mengangkat beberapa barang milik Nenek Mito, Rin, Sora dan Sara, memasukkannya ke dalam bagasi taksi yang terparkir di depan gang rumah mereka.

Sakura mengangguk."Humm, aku mengerti."

Nenek Mito menghampiri Sakura, memeluknya dengan sayang."Jaga dirimu Nak, Nenek pergi dulu. Terima kasih banyak selama ini telah menjaga kami, maaf kalau selama ini kami hanya merepotkanmu."

"Iya nek, aku akan baik-baik saja, terima kasih karena kalian telah menerimaku sebagai keluarga, terima kasih atas kebaikan kalian selama ini, jaga kesehatan Nenek ya selama aku tidak ada, dan tolong jaga mereka juga." Sakura menolehkan wajahnya ke arah Rin, Sora dan Sara berada, mereka tengah memeluk Gaara, nampaknya mereka juga enggan berpisah dengan Saudara yang baru saja dapat berkumpul lagi dengan mereka.

Sakura melambai-lambaikan tangannya, melepas kepergian orang-orang yang selama ini menjadi keluarganya, orang-orang yang menerima dirinya apa adanya, orang-orang yang yang selalu berbagi dalam keadaan senang maupun sulit. Keluarganya.

.

Sekembalinya dari terminal Konoha setelah mengantarkan Nenek Mito dan ketiga adik kecilnya, Gaara langsung kembali ke rumah, ia segera menghampiri Sakura yang sudah berdiri di depan gang

"Yakin tak ada yang tertinggal Sa-?" Gaara tak dapat melanjutkan perkataannya

Tanpa terduga, Sakura menghambur ke arah Gaara, memeluknya dengan sangat erat, meremas pelan bagian belakang kemeja yang dikenakan Gaara.

"Semenit." Sakura berucap pelan ditengah pelukannya bersama Gaara.

Gaara mengerti maksud Sakura, iapun membalas pelukan Sakura.

Keduanya tak menyadari, diseberang jalan, di dalam sebuah mobil ferarri hitam, sepasang mata onyx menatap nyalang melihat adegan yang tengah terjadi di hadapannya saat ini. Hatinya sedikit mencelos ketika melihat Gadis yang selama sebulan ini mengisi kekosongan hidupnya tengah berpelukan dengan pemuda lain.

"Ternyata Kaa-san benar, ia hanya memanfaatkanku, Cih! Dasar murahan."

Sasuke tertawa miris membenarkan pernyataan ibunya, nampaknya ia telah dibodohi oleh gadis Haruno itu. Lihat saja barang-barang yang dibawa Gadis itu, nampaknya ia ingin pergi jauh, mungkin ingin menikmati uang yang telah ia dapat bersama pemuda merah yang tengah memeluknya.

Sasuke menyimpulkan secara sepihak, bertindak gegabah tanpa memastikan lebih lanjut apa yang terjadi sebenarnya, padahal kenyataanya sungguh sangat berbeda. Kenyataan yang mungkin akan membuat Sasuke menyesal seumur hidup jika sampai mengetahui itu.

Sasuke memencet beberapa tombol pada layar ponselnya, menghubungi seseorang. "Aku menerima tawarannya, tanpa gadis itu."

Sasuke memacu mobilnya meninggalkan gang rumah Sakura, berusaha menahan perih, perih yang melanda hatinya saat ini.

.

"Ayo, Sakura..."

"Ya."

Helaian merah muda milik si gadis musim semi melambai-lambai tertiup angin, sang gadis memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang menerpa wajah cantiknya, kembali mengingat masa-masa selama di Konoha, masa-masa bersama keluarganya, teman-temannya, orang-orang yang ia sayangi di Konoha.

Sayonara Ino-chan... maaf aku pergi tanpa memberitahumu

Sayonara...Sasuke...

Sayonara...Konoha

Arigatou...

.

.

.

Suminareta kono heya wo dete yuku hi ga kita

Hari ini aku akan tinggalkan kamarku

Atarashii tabidachi ni mada tomadotteru

Menuju perjalanan baru yg masih belum menentu

Eki made mukau basu no naka

Dalam bis menuju stasiun kereta

Tomodachi ni meeru shita

Pada sobat kukirim pesan

Asa no hoomu de denwa mo shite mita

Di stasiun kucoba hubungi seseorang

Demo nanka chigau ki ga shita

Namun seakan semuanya berbeda

Furui gitaa wo hitotsu motte kita

Hanya gitar tuaku saja yang kubawa

Shashin wa zenbu oite kita

Semua foto kutinggalkan saja

Nanika wo tebanashite soshite te ni ireru

Apa yang kuraih dulu kulepas dan cari sesuatu yg baru

Sonna kurikaeshi kana?

Apakah ini dapat terulang kembali?

Tsuyogari wa itsu datte yume ni tsuzuiteru

Kuselalu sembunyikan ketakutanku dalam mimpiku

Okubyou ni nattara soko de togireru yo

Saat ketakutanku muncul aku tak bisa berbuat apapun

Hashiridashita densha no naka

Bersamaan kereta melaju kencang

Sukoshi dake nakete kita

Perlahan aku mulai menangis

Mado no soto ni tsuzuiteru kono machi wa

Kehidupan di kotaku berlanjut di luar sana

Kawaranaide to negatta

Kuharap tidaklah berubah

Furui gitaa wo atashi ni kureta hito

Gitar tuaku yg diberi orang itu

Toukyou wa kowai tte itteta

Tokyo kota yang menakutkan, katanya

Kotae wo sagasu no wa mou yameta

Aku telah berhenti mencari jawabannya

Machigai darake de ii

Tak mengapa walau salah

Akai yuuyake ga biru ni togireta

Merahnya surya yg sedang tenggelam diantara gedung

Namida wo koraetemo

Tangisku kucoba tuk kutahan

Tsugi no asa ga yatte kuru tabigoto ni

Namun dinginnya penghujung hari esok

Mayou koto datte aru yo ne?

Apakah akan menuntunku, kan?

Tadashii koto bakari erabenai

Aku hanya bisa pilih yg terbaik

Sore kurai wakatteru

Sebanyak yg aku tahu

.

.

"Sakura..."

"Hn?"

"Mulai sekarang...panggil aku...Gaara-nii"

Sakura tersenyum. "Umm, Gaara-nii..."

Biarlah seperti ini, aku tak ingin Sakura mengetahui perasaanku terhadapnya, aku ingin menjaga dan melindungi Sakura, aku ingin membuat Sakura bahagia, sampai saat itu tiba, biarlah waktu yang menjawabnya.

.

.

.

.

-TBC-

.

.

.

A/N: Holaa minna, ketemu lagi nih di chapter 7, maaf chapter ini ceritanya pendek, maklum, rumayan menguras otak ternyata kalo bikin cerita panjang2, maaf apdetnya lama, puasa bikin saya males, hehehe. Maaf kalo ceritanya belum memenuhi harapan para reader semua. Terima kasih sudah membaca fic saya.

Maaf banget reviewnya gak bisa kubales lewat PM ataupun kuketik bersamaan dengan fic chapter 7 ini, karena author langsung apdet 2 chapter terakhir. Jadi mudah-mudahan pertanyaannya udah kejawab semua ya.