Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.
.
Desire
.
Kalau diingat-ingat, pernahkah ada seorang perempuan yang suka rela diseret kesana kemari seharian oleh seorang laki-laki tanpa penjelasan? Mungkin ada. Dan Rukia adalah salah satu diantaranya.
Malangnya gadis mungil itu, meskipun hampir berjam-jam Ichigo membawanya keluar-masuk berbagai restoran serta pusat perbelanjaan mewah yang tidak mungkin bisa dijangkau oleh kalangan orang-orang sepertinya. Tidak ada satu penjelsan yang keluar dari mulut mantan—kekasih berambut orangenya itu. Kalaupun berbicara, paling-paling hanya menyuruhnya pilih itu, pakai ini, makan ini itu. Semuanya kalimat perintah, tidak ada yang berisi penjelasan. Jangankan penjelasan, petunjuk saja tidak ada. Apa mungkin otaknya sudah jadi tumpul untuk menganalisa?
Ah, tentu tidak. Sejak kapan Rukia yang selalu menduduki peringkat satu dari ribuan murid SMU Karakura jadi lamban berpikir? Tapi kalau otaknya tidak lamban, kenapa dia masih saja mau mengikuti laki-laki yang jelas-jelas sudah tidak ada hubungan sejak tiga bulan yang lalu sampai ke apartemen? Jadi otaknya memang lamban ya? Rukia berpikir sedih
Sambil berpikir, tanpa sadar jari-jari mungilnya mengusap bahan rok yang terasa nyaman dipakai. Ini juga salah satu dari pemberian 'kecil' Ichigo dari hasil perjalan keluar-masuk toko. Yaitu, seragam baru. Bukan hanya seragam musim panas yang dikenakan sekarang, tetapi musim semi serta musim dingin juga telah lengkap terbungkus dalam satu paket kantung belanjaan yang kini bertumpuk dilantai ruang tengah apartemen. Selain itu juga ada paket-paket lainnya, seperti beberapa sepatu, dan pakaian-pakaian baru. Pantas dia begitu kebingungan setengah mati. Kalau tidak salah ingat, terakhir kali Ichigo begitu marah padanya. Kenapa hari ini—
"Tidak usah bingung, ini apartemenku sendiri. Bukan hotel bintang lima," gurau Ichigo ingin membuat Rukia sedikit rileks.
Rukia masih memandang bingun sekeliling ruangan. Cukup minimalis, dan sedikit elegan. Dibandingkan rumah Rukia, apartemen ini terasas luas. Beberapa dinding di cat abu, tapi karena pencahayaan yang bagus, malah menjadikannya mewah. Bila berjalan lebih jauh dari ruang tengah, akan langsung terhubung ke dapur, disebelah dapur juga ada bar kecil lengkap dengan deretan minuman dan gelas-gelas berkelas. Benar-benar mencerminkan hunian orang-orang berkantong tebal.
Ichigo tersenyum tipis, memasukkan tangan ke saku celana. Pikirnya Rukia akan terus mengamati isi apartemen kalau tidak dihentikan.
"Ayo ikut aku," ajak Ichigo meraih tangan Rukia.
"Hmm?" Rukia melirik bingung.
"Aku ada oleh-oleh untukmu saat pergi ke Beijing minggu lalu," bisik Ichigo mengedipkan mata usil.
Rukia kembali memerah, membuat Ichigo tidak berhenti menahan senyum. Pemuda itu membawa gadsinya ke sebuah kamar—yang sepertinya kamar milik Ichigo sendiri.
Wha? Hebat!
Selain tumpukan tas belanjaan yang ada di luar, rupanya didalam kamar ada juga sekitar empat atau lima kantung belanjaan. Ichigo menumpahkan isi salah satu kantung belanjaan di atas kasur.
"Kemari," ajak Ichigo. "Sentuhlah. Orang bilang sutra China sangat bagus."
Rukia menuruti perintah Ichigo. Menyapukan jari-jari di atas tumpukan pakaian di kasur.
Ah, Ichigo benar. Kain terasa halus dan sejuk. Rukia tersenyum kecil, sensasinya begitu menggelitik kulit ketika tersentuh. Pasti akan sangat nyaman dipakai.
Tiba-tiba Rukia menjerit kecil dan cepat menarik tangannya dari tumpukan pakaian.
Alis Ichigo mengernyit. "Ada apa? Bahannya jelek?"
Rukia menggeleng sambil memerah.
Memang tidak ada yang salah dengan bahannya. Itu sutra asli dari China, tidak diragukan lagi kualitasnya pasti bagus. Yang salah adalah model pakaiannya. Baru disadari gadis mungil itu—setelah mengamati dengan mendetail, sutranya bukan pakaian biasa, melainkan pakaian tidur bermodel lingerie.
Hahhh! Zaman sekarang kalau seorang laki-laki memberikan lingerie pada perempuan, kalau bukan untuk lelucon, pasti untuk—
Akhirnya Ichigo tertawa geli, mulai mengerti mengapa Rukia menjerit dan pipinya memerah. Disapukannya beberapa helai rambut yang menutupi punggung leher si mungil, lalu dikecup sekilas. Terlihat kulit Rukia langasung sedikit merinding.
"Mandilah dulu. Aku akan mandi di kamar mandi luar agar kau lebih leluasa menggunakan kamar mandi disini," bisik Ichigo ditelinga Rukia, lagi-lagi mengirim sensasi menggigil disepanjang garis tulang punggung si mungil.
"Setelah mandi, jangan lupa pilih salah satu dari oleh-olehku untuk kau pakai."
Iris violet si mungil membias malu melirik Ichigo. "Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
Ichigo terkekeh ringan. Tidak menjawab, malah langsung keluar begitu saja. Meninggalkan Rukia dalam mode memerah total.
.
.
.
mmmmm
.
.
.
Ichigo tersenyum puas melihat gadis mungilnya begitu indah keluar dari kamar mandi, memakai salah satu dari pakaian 'nakal' pilihannya. Sejak melihat semua koleksi sutra itu terpajang di etalase pusat perbelanjaan Kota Beijing, Ichigo telah menebak semua akan cocok saat dikenakan oleh Rukia. Tanpa berpikir lagi, pemuda berambut orange itu langsung meminta pramuniaga toko membungkus semuanya kedalam kantung belanjaan. Semua tidak sia-sia, karena tebakannya benar.
Berbeda dari kebanyakan perempuan yang akan memakai warna merah atau hitam agar kulit putih mereka terlihat mencolok, Rukia malah memilih yang bewarna putih. Tapi gadis itu salah jika mengira dengan warna putih akan membuatnya terlihat biasa-biasa saja. Justru warna putih membuatnya terlihat seperti malaikat kecil lugu yang siap disantap seorang iblis kelaparan.
Heh? Jadi sekarang ceritanya siapa yang mengambil alih peran sebagai iblis?
Jadi, beginilah hubungan dengan Rukia. Padahal sejak dulu keluarga besar Kurosaki sudah berulang kali menanamkan dalam otak tiap generasi keturunananya agar jangan terlalu tertarik dengan perempuan. Karena bagi mereka perempuan hanya akan mendatangkan masalah. Seperti yang pernah dialami oleh pamannya, Kaien. Paman yang memiliki hati baik itu mati bunuh diri karena dipermainkan tunangannya yang mata duitan. Makanya Ichigo begitu marah ketika tahu yang Rukia sukai tak lebih dari sekedar uang. Tapi kenyataannya, meskipun berbulan-bulan membenci gadis itu, ia tetap menginginkan Rukia lagi. Ia tahu Rukia akan menjadi sumber masalah, benar-benar masalah besar. Kebenciannya benar-benar dilumpuhkan oleh keinginannya untuk memiliki Rukia lagi. Benar-benar miliknya. Masalah keluarga besar Kurosaki, mengapa ia harus mengambil pusing. Yang dipakai kan uangnya, apa salahnya kalau ia ingin bersenang-senang dengan uang sendiri.
Ichigo membetulkan posisi duduk diatas kasur. Tubuhnya yang sudah setengah kering—sisa mandi, masih terlilit handuk dipinggang. Tidak perlu repot-repot memakai baju. Toh, beberapa menit lagi handuknya juga tidak akan terpakai pula.
Tangan Ichigo terjulur kedepan, menyambut serta membimbing tubuh mungil Rukia untuk duduk mengangkangi pinggulnya.
"Kau cantik," bisik Ichigo mengecup pundak Rukia. Kami-sama, jelas ia begitu rindu dengan aroma gadis ini. Sejak tadi ia ingin sekali memakannya hidup-hidup.
"Dari tadi kau yang terus berbicara. Bisakah kali ini menjadi giliranku?"
Ichigo mengangguk pelan. "Tentu. Bicaralah."
"Umm…" Rukia membuat pola kecil di dada Ichigo dengan jari telunjuk. "Bisakah kau memberiku alasan kenapa kau begitu memanjakanku hari ini? Seingatku terakhir kali bertemu, kau bilang hubungan kita putus."
"Aku tidak bilang putus. Aku cuma bilang jangan menghubungiku lagi."
Yah, setidaknya itu benar.
"Tetap saja aku masih tidak mengerti kenapa kau masih membawaku kemari, padahal kau tahu aku cuma ingin—" Rukia menelan ludah sejenak. "—uang."
Ichigo mengerjapkan mata beberapa kali, membuat Rukia semakin bingung. Benar, Rukia memang hanya ingin uang. Ia tentu tahu jelas. Pemuda itu kemudian tersenyum simpul. "Mungkin karena aku banyak uang, dan kau suka uang. Aku rasa kita cocok. Lagi pula kalau cuma uang, itu tidak akan sulit bagiku. Uang sepertinya tidak bisa menghalangiku untuk lebih menginginkanmu."
Rukia menjilat bibir gugup. Gerakan itu membuat Ichigo semakin gemas untuk menyentuh bibir mungilnya. Perlahan secara refleks pemuda berkepala orange itu memajukan wajahnya, sayangn tiba-tiba dihentikan oleh jari telunjuk mungil yang menempel didepan bibirnya.
"Bolekah, aku… memulai duluan?"
"Kau tahu aku tidak pernah suka perempuan yang mengambil alih," protes Ichigo. Seperti biasa, egonya selalu tidak mengizinkan gadis mungilnya memegang kendali dalam permainan kecil mereka.
Rukia menggeleng lembut. Dia mengerti maksud Ichigo, namun kali ini memang ada sesuatu yang benar-benar ingin dilakukannya sejak bertemu kekasihnya di parkiran tadi siang. Karena itu, tanpa meminta izin lagi, Rukia melakukan apa yang diinginkannya.
Memeluk erat Ichigo.
Tarikan nafas terdengar jelas dari tenggorokan si rambut orange. Nafasnya memang telah tumbuh menjadi sulit, dan serasa tercekik. Bukan karena pelukan Rukia yang kian mengerat, melainkan ia dapat membaca emosi yang ditunjukkan lewat pelukan ini.
Rukia merindukannya. Benar, maksud pelukan ini adalah ungkapan rindu. Ternyata kadar kerinduan mereka telah tumbuh menjadi poin yang sama besar.
"Kemarin adalah yang terakhir aku menemukanmu akan tidur dengan laki-laki lain," kecam Ichigo membalas pelukan. "Awas kalau kau berani melakukannya lagi, akan aku borgol tanganmu ditanganku supaya tidak bisa kemana-mana. Mengerti?"
Tubuh Rukia sedikit menegang dipelukan, namun akhirnya sedkit rileks, malahan dia terkikik ringan. "Kau terdengar seperti kekasih yang possesif."
"Hmm, begitu ya?" tawa Ichigo mengusap-ngusap pundak Rukia, menurunkan tali pakaian supaya tergelincir kebawah.
Rukia menepuk serta cepat menyingkirkan tangan Ichigo dari pundak, berniat sedikit bermain menggoda kesabaran si rambut orange. Sekali dorongan ekstra, punggung kekasihnya itu langsung rata dengan kasur. Ichigo tentu merengut karena kesenanganya diganggu.
"Kan sudah kubilang, aku yang akan memulai lebih dulu," Rukia mengedip nakal, sedikit mencondongkan kedepan tubuhnya yang masih setia menduduki pinggul Ichigo.
Iblis kecil sialan.
Ichigo menyeringai kecil. "Kau tidak akan bisa. Karena kau yang akan menjerit liar nantinya."
.
.
.
mmmmm
.
.
.
"Sialan," desis Rukia, memeluk erat bantal didepan wajah sebagai pertahanan karena merasa jeritannya sudah diluar kendali akal sehat.
Kata-kata Ichigo bukan sekedar trik menggoda, pemuda itu memang benar-benar serius untuk membuatnya menjerit liar karena irama hentakkan yang belum apa-apa sudah dimulai dengan gerakan cepat. Semua terlalu cepat hingga membuat otaknya seperti akan gila. Tapi ketika dia sendiri merasa akan mendekati akhir, Ichigo malah memperlambat, malah kadang berhenti total. Setelah cukup menunda, baru pemuda itu bergerak dengan kecepatan gila lagi.
"Ichi, hhh, hhh…" rintih Rukia bergerak gelisah, semakin kuat menekan bantal meredam jeritan.
Ichigo menyeringai puas melihat Rukia menjerit tak terkendali karena kesenangan yang ia berikan. Sejak awal tampilan Rukia yang begini lah yang ia nanti. Begitu putus asa mencari pegangang, sayang wajah memerah gadis itu tersembunyi dibalik bantal.
"Ichi!" Rukia menjerit kecil saat Ichigo merebut bantalnya.
Pemuda itu tertawa diantara deru nafasnya, menjatuhkan badan agar jaraknya lebih dekat dengan Rukia. Bagaimanapun juga ada bagian-bagian lainnya yang ingin ia sentuh, sejak tadi ia sudah merasa iri kerena hanya bantal yang gadisnya pilih.
"Ingin aku cepat menyelesaikannya, hn?" goda Ichigo.
Rukia menggangugk dengan mata terpejam, tangannya telah melingkar ke punggung berkeringat kekasihnya. Bibirnya juga digigit untuk menahan rintihan.
Ichigo sedikit mengurangi kecepatan, melingkarakan kedua kaki Rukia dipinggul, setelah itu jari-jarinya menyusup kebawah punggung untuk membawa gadisnya lebih dekat menciptakan kotak dari kulit ke kulit.
"Tahan kakimu terus disana," bisik Ichigo sambil mengecup berkali-kali daerah leher si mungil.
Rukia mengangguk patuh.
"Bagus," desis Ichigo menambahkan kecepatan.
"Ichi—" jeritan Rukia langsung diredam bibir Ichigo, mengajak lidah mereka untuk beradu, saling membolak-balik untuk menunjukkan siapa yang akan keluar jadi pemenang. Keduanya sama-sama mendominasi, tak ada yang mau mengalah dalam upaya menyenangkan diri masing-masing.
Sayangnya pertarungan lidah mereka tidak mungkin berlangsung selamanya, mereka membutuhkan oksigen untuk tetap menjaga kewarasan. Menyenangkan kalau ada kontak dari bibir ke bibir, tapi terlalu menakjubkan sampai membuat lepas kendali.
"Ichi," tangis Rukia merasa sensai begitu akrab menghampirinya, dia sudah dekat puncaknya. Sebaiknya kekasihnya itu tidak menggodanya dengan mengurangi kecepatan lagi, kalau tidak akan Rukia buat menyesal nanti.
Tahu keduanya merasa dekat, Ichigo membenamkan kepalanya pada persimapangan leher Rukia, semakin menghentak-hentakkan dengan ceroboh dan cepat. Keringat terus mengalir membasahi tubuh mereka. Tampaknya permainan menggoda sudah cukup, sudah saatnya mereka—
"Ichigoooo!" jerit Ruka akhirnya telah klimaks lebih dulu, semenit kemudian Ichigo menggeram dipersimpangan leher kekasihnya itu.
Akhirnnya, selesai.
Tanpa memperdulikan keringat yang belum juga kering—meskipun ruangan ber-AC, mereka berdua tetap dalam posisi yang sama. Belum ada yang ingin bergerak karena masih meresapi segala sensasi menggelitik yang perlahan mereda.
Tidak ada yang tahu sampai kapan posisi itu akan terus bertahan. Yang jelas, selagi perasaan rindu belum terpuaskan, dan mereka masih memiliki cukup tenaga. Rasanya… tidak mustahil apabila beberapa menit nanti akan ada putaran yang lain.
.
.
To be continued…
Kali ini scent full IchiRuki, semoga bisa menebus chapter-chapter yang mungkin kurang mengenakan di chap sebelumnya. Tapi masalah belum berakhir lho…. –plak!
Tolong tinggalkan review agar Mey bisa tahu isi kepala readers tentang chap ini..
n_n
Oke, kalimat copas chap kemarin :
Yang berbaik hati membaca dan memberi review, Mey ucapakan terimakasih…
n_n
Mind to R & R?
