Tubuh neji menegang ketika berhadapan dengan dua orang di depannya, "Hinata-sama!" panggil Neji ketika ia melihat gadis yang dipanggilnya Hinata itu mulai melangkahkan kaki kearahnya.

Hinata dengan riang menubruk tubuh Neji dan memeluknya erat, "Neji-nii." Pekik gadis itu riang.

Sasuke terkesima akan pemandangan di depannya. Apa ini? Apa mereka kekasih? Perasaan kesal tiba-tiba membuncah ketika ia melihat sepasang makhluk berbeda jenis itu saling berpelukan.

Neji yang melihat ekspresi kaku Sasuke, menyeringai dalam hati. Ia merasa menang melihat pemuda Uchiha itu tidak bisa berkutik melihat Hinata yang secara terang-terangan memeluknya.

Dengan sigap Sasuke menagkap lengan Hinata setelah ia menghampiri dua insan itu dan menarik Hinata menjauh dari Neji.

Hinata tersentak dengan perlakuan Sasuke, ia menjadi semakin bingung ketika melihat kedua pemuda yang mengapit dirinya itu saling berpandangan tajam.

Tak terlihat dari keduanya untuk mengalah barang sedikitpun.

Hinata yang melihatnya pun menjadi merinding ketika melihat kedua pemuda itu yang saling beradu deathglare mereka.

"Hyuuga!" Sasuke berucap dingin.

Hinata menolehkan kepalanya kepada Sasuke dan Neji yang semakin menajamkan pandangan mataya dari pemua tersebut.

Sebenarnya yang dipanggil Sasuke siapa sih? Hinata atau Neji? Keduanya 'kan Hyuuga?

Tapi tunggu, bukankah Hinata sekarang bukan Hyuuga lagi? Hinata sedikit menganggukkan kepalanya dalam hati. Jadi yang dipaggil oleh Sasuke adalah Neji 'kan?

Hinata menjadi berbalik memandang kakak sepupunya lagi, namun ia merasas sedikit risih dengan keadaannya sekarang. Lihat saja! Tangan kanan Sasuke yang telah memegang lengan kiri Hinata dengan sangat erat dan Neji yang sekarang telah menggenggam pergelangan tangan Hinata tak kalah eratnya.

"Apa maumu?" Neji juga berucap dingin.

Alis Sasuke sedikit terangkat meremehkan, seharusnya dia yang bertanya seperti itu.

"Jangan berbasa-basi, Hyuuga." Sasuke tersenyum meremehkan.

"Aku ingin menjemput Hinata-sama," pemuda bermata amethyst itu memandang Hinata dengan lembut berbeda dengan pandangannya kepada Sasuke beberapa detik yang lalu. Aneh memang, dengan cepatnya pemuda Hyuuga itu mengubah emosinya dalam sepersekian detik hanya dengan melihat wajah Hinata yang manis itu. Mungkin perasaan cinta mengalahkan segalanya.

"Sa-sasuke-kun..."

Gumaman Hinata sontak membuat kepala pemuda Hyuuga itu semakin panas, Hinata memanggil Sasuke dengan nada selembut itu? Hell. Bukankah Hinata akan di serang oleh Sasuke? Lantas kenapa Hinata memanggil Sasuke dengan nada yang... sebenarnya sih sedikit manja.

Apa ia yang salah paham di sini?

Lantas?

Apa selama Hinata pergi meniggalkan desa mereka telah bertemu dan menjalin hubungan yang khusus?

Secepat kilat Neji mengindahkan pemikiran tersebut dari otaknya.

"Sa-sasuke-kun—" Hinata menunduk ketika ia ingin berbicara pada Neji yang sekarang menatap Hinata tiba-tiba dengan tajam entah karena apa. "Sa-sasuke-kun ju-juga akan ikut ke de-desa Konoha."

.

.

Naruto Masashi Kishimoto

Destiny © Shiroi no Tsuki

Warning: Applied

.

.

Don't like! Don't read!

.

.

Mungkin jika saja Neji tidak berhadapan dengan pemuda Uchiha itu ia sudah akan mengerjapkan matanya berkali-kali.

Jangan bilang Hinata lah yang membujuk Uchiha itu kembali ke Konoha dan Uchiha itu dengan senang hati mau mengikuti perkataan Hinata.

Ia bahkan tidak mau mendengar jawaban itu yang meluncur begitu saja di bibir mungil Hinata, tapi mungkin nyatanya tebakan Neji benar. Hinata lah yang memebujuk Sasuke untuk kembali ke Konoha. Sepertinya naruto harus berterimakasih kepada gadis keturunan Hyuuga satu ini.

Sekarang mereka—Neji, Sasuke dan Hinata—dengan tenang kembali ke gua yang sebelumnya Hinata dan Sasuke tempati, mereka duduk dengan santai seperti tanpa beban.

Ck! Jika saja Hinata menyetujui usul Sasuke yang menginginkan pergi menjauh dari Neji, sekarang mereka berdua pasti telah sampai menuju sebuah desa yang mungkin neji akan sedikit kesulitan mencari mereka.

Namun gadis itu berisikeras dengan keinginannya yang tetap menuggu Neji, hingga akhirnya Sasuke tidak bisa melawan keinginan Hinata. Toh tidak ada gunanya juga 'kan ia pergi tanpa Hinata di sisinya?

Lagi pula Sasuke juga tidak tega melihat mata amethyst Hinata yang mulai berkaca-kaca pada waktu itu, ia akhirnya menyerah akan keinginan Hinata yang tidak bisa ia tolak itu.

Hingga akhirnya hujan reda dan badai pun berakir.

Neji pun datang dan mereka bertemu.

Sasuke sempat melihat Neji terpaku ketika Sasuke juga keluar dari gua yang Hinata singgahi, padahal pemuda bermarga Hyuuga itu sudah sangat pasti mengetahui kalau Sasuke juga bersama Hinata, namun Neji memang tidak bisa menerima apa yang telah dilihatnya hingga ia masih belum percaya dengan keberadaan Sasuke di samping Hinata.

Sekarang nyatanya? Sasuke memang bersama Hinata, waktu itu pun Neji sudah bersiap dengan kuda-kudanya seraya memegang kunai yang dimilikinya untuk siap menerima penyerangan dari Sasuke. Tapi yang dilihatnya hanyalah Sasuke yang terlihat tenang tanpa ingin melakukan penyerangan kembali kearahnya hingga pemuda Hyuuga itu tersentak ketika Hinata dengan tiba-tiba memeluknya erat.

Dan berakhirlah seperti ini.

Ketiga manusia itu sekarang masih betah dengan keheningan yang melanda mereka, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat membuka pembicaraan. Yah paling tidak hanya sekedar basa-basi.

Hinata semakin gugup ketika kedua pemuda di hadapannya semkin memicing tajam menatap entah apa, mungkin pintu gua di belakang Hinata?

"Ne-neji-nii, ke-kenapa?" Neji mengalihkan perhatiannya pada Hinata yang kini menudukkan kepalanya tidak berani menatap tatapan tajam mata Neji.

Pemuda itu mengerti apa maksud dari Hinata, "Kau akan kembali ke Konoha..."

Yah itu bukan jawaban yang Hinata inginkan, ia bermaksud menanyai Neji tentang bagaimana ia bisa kembali ke Konoha sedangkan Hinata telah diusir dari klan sekaligus dikeluarkan dari desa. Bgaimana Neji bisa membuat keputusan bahwa Hinata akan kembali ke desa?

"A-ano—"

"Ada alasan tertentu, hn?" sasuke menimpali sebelum Hinata kembali mengeluarkan suara lembutnya yang bernada gugup itu. Neji mengernyit mendengar perkataan sinis Sasuke terhadapnya.

Sedetik kemudian senyum kemenangan disunggingkan oleh Neji ketika pemuda Uchiha itu menatapnya. "Tentu," jawabnya sarkastik.

Wajah Sasuke berubah menjadi sedikit menyeramkan dari sebelumnya, aura mematikan menguar begitu saja dari tubuhnya yang tegap.

"Ahn? Sudah kuduga." Sinis Sasuke.

"Sepertinya kau sangat penasaran, Uchiha!" Neji berkata dengan penekanan disetiap kata-katanya, ia puas melihat emosi Sasuke yang semakin meninggi. Itu lebih bagus karena ia tidak ingin membawa pemuda bermarga Uchiha itu kembali ke desa bersama Hinata. Toh masalah Sasuke adalah urusan Naruto, bukan masalah Neji. Jadi yang ingin ia bawa ke Konoha hanyalah Hinata. Tidak ada penambahan orang dalam kamusnya.

Hening...

"A-ano—"

"Menurutmu begitu, hm?" lagi-lagi ucapan hinata terpotong ketika Sasuke kembali bersuara setelah beberapa menit berlalu dengan suasana hening.

Sepertinya pemuda Uchiha itu tidak ingin membiarkan Hinata berbicara sedikitpun.

"Jelas sekali..." Neji berdesis menutupi kekesalannya, ia hanya berusaha agar tidak meledak di hadapan Hinata dan menyerang Uchiha tersebut.

Sasuke mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas kedua lututnya, "Benarkah?" desisian mengerikan juga keluar dari bibir tipis milik Sasuke.

Cukup!

Hinata tidak ingin mendengar perdebatan mereka berdua lagi.

Kapan ia akan memiliki waktu uantuk bertanya pada Neji perihal kembalinya Hinata ke Konoha?

Empat sudut siku-siku telah muncul di pelipis Hinata, ia sudah tidak sabar lagi. Tapi Hinata ya Hinata. Ia tidak bisa begitu saja menginterupsi keduanya dengan bentakan atau bantahan.

Jadi yang ia lakukan hanyalah dengan lembut menyentuhkan kedua tangannya pada masing-masing tangan pemuda yang sedang beradu deathglare tersebut.

Dan yang Hinata lakukan itu memang sangat berhasil, nyatanya sekarang kedua pemua itu menolehkan kepalanya pada Hinata yang sekarang telah menunjukkan wajah merahnya karena marah. Tapi bagi kedua pemuda itu wajah Hinata yang seperti ini adalah wajah termanis yang dimiliki gadis tersebut. Sedikit rona merah menjalar di kedua pipi mereka masing-masing, belum lagi tangan lembut Hinata yang memegang tangan keduanya membuat kedua pemuda itu serasa melambubng.

Hinata menghela napas beberpa kali sekedar meredakan emosinya yang naik beberapa saat yang lalu.

"Neji-nii," Hinata menatap neji dengan nada memelas, Neji tersenyum dengan panggilan Hinata yang begitu lembut terhadapnya. "Sa-Sasuke-kun," Sasuke lebih lagi, ia meresa senang ketika Hinata menyebut namanya dengan nada yang seperti apapun. Melihat senyum tipis Sasuke, Neji kembali mengeraskan wajahnya.

Cemburu.

Hinata mengebaikan tingkah keduanya yang menurutnya aneh itu.

"Apa te-tetua Konoha telah me-mencabut perintahnya?" Hinata mengehla napas beberapa kali sebelum menanyakan pertanyaan tersebut.

Neji menggeleng.

Hinata kembali dibuat bingung, gadis itu sedikit memiringkna kepalanya, "La-lalu?"

Sekilas Sasuke ingin menginterupsi perkatan yang Hinata lontarkan ketika pemuda itu merasakan genggaman tangan Hinata semakin mengerat pada kepalan tangannya. Niatnya menjadi terabaikan ketika melihat Hinata yang berwajah memelas.

"kita akan mengetahuinya setelah kau kembali." Akhirnya Neji menjawab setelah beberapa saat ia terdiam.

Sasuke mendelik, apa maksud dari perkataan Neji? Tidak mungkin pemuda itu tidak mengetahui alasan kenapa Hinata dapat kembali ke desa.

"Ada alasan yang kau sembunyikan," Sasuke berujar dingin, ia sudah tahu dengan sangat pasti ketika melihat kilatan cahaya kebohongan di mata amethyst Neji.

Neji memalingkan wajahnya ketika Hinata menatapnya dengan penuh tanya, pemuda Uchiha itu hanya mengganggunya saja. Hinata menjadi meragukan dirinya setelah Sasuke mengucapkan kata tersebut.

"Nii-sama?" Hinata berusaha membujuk neji agar pemuda itu berkata jujur padanya, Hinata mendukung apa yang dikatakan Sasuke terhadap Neji.

"Kau akan tahu setelah kita kembali, untuk sekarang aku tidak bisa mengatakannya, Hinata-sama."

Sasuke kembali mendengus ketika Neji mengucapkan kata tersebut, pemuda Hyuuga itu memang pintar berbicara.

Hinata hanya diam, dirinya sudah terlanjur penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh Neji.

Neji termenung melihat Hinata yang hanya diam, ia tahu gadis itu penasaran. Tapi sungguh ia tidak dapat mengatakannya, khususnya sih di depan pemuda Uchiha di sampingnya.

"Kita akan kembali sekarang!" Neji memutuskan seraya berdiri dari duduknya, ia bersiap akan pergi ketika tangan mungil Hinata mencegahnya untuk bergerak.

Neji menoleh kearah Hinata memandang Hinata dengan bingung.

"Sasuke-kun ju-juga ikut."

Sasuke menyeringai dalam hati, ia senang ketika Hinata tidak melupakannya. Pemuda Uchiha itupun ikut berdiri dari duduknya setelah Hinata menarik tangannya yang masih terkepal.

Neji menatap pemuda di sampingnya sinis, "Aku tidak mempunyai urusan dengannya, Hinata-sama."

Hinata mendelik, rasanya baru kali ini ia melakukan hal tersebut pada Neji. Bahkan neji pun tersentak akannya.

"Aku a-akan pulang ji-jika bersama Sasuke-kun," Putus Hinata keras kepala, lagi pula ia memang ingin bersama Sasuke. Entah kenapa rencananya membawa Sasuke ke desa untuk membawa nama klannya kembali sirna begitu saja tidak tahu sejak kapan, terpenting Hinata sekarang hanya ingin bersama pemuda Uchiha itu tanpa alasan. dan lagi, neji datang menjemputnya untuk membawanya kembali ke desa. Jadi tidak ada yang perlu ia khawatirkan 'kan jika ia tidak mendapatkan nama klannya lagi? Ia percaya pada Neji—kakak sepupunya tersebut.

Seiring kekeraskepalaannya Hinata, kekeraskepalaannya Neji juga semakin bertambah. "Tidak, Hinata-sama."

Sasuke kembali mendeikkan mata obsidiannya pada Neji dan menatap Hinata khawatir jika gadis itu menyetujui apa yang diinginkan Neji.

Hinata terdiam sekedar berpikir, matanya menerawang kearah langit-langit gua.

"Ka-kalu begitu Neji-nii ha-harus mengatakan apa y-yang Neji-nii rahasiakan. Jika tidak, Ne-neji-nii akan me-membawa tangan kosong."

Neji tersentak dengan ucapan Hinata, jantungnya berdegup kencang seketika. Apa maksud Hinata? Apa gadis itu tidak ingin membiarkan Sasuke tinggal? Tapi untuk apa?

Berkebalikan dengan neji, Sasuke malah tersenyum tipis mendengar perkataan Hinata, "Hn..." gumam pemuda tersebut sekedar memberi dukungan pada Hinata.

Hinata memandang Sasuke yang bergumam tidak jelas itu, setelahnya kembali menatap Neji, "A-aku tidak apa-apa ji-jika tidak kembali be-bersama Nii-sama, ka-karena Sasuke-kun y-yang akan membuat na-nama klanku kembali me-menjadi hyuuga. P-para tetua pasti senang ketika a-aku membawa Sasuke-kun kembali ke de-desa dan mengembalikan na-nama Hyuuga padaku."

Gotcha!

Untuk kali ini Neji memang tidak bisa berkutik, jadi selama beberapa minggu ini ia mencari keberadan Hinata menjadi sia-sia? Tidak! Pemuda Hyuuga itu membuang jauh-jauh pemikiran tersebut.

Neji menatap Sasuke yang kini tersenyum menang, cih! jika bukan karena Hinata. Pemuda Hyuuga itu sudah sejak dari tadi akan memukulkan tinjunya pada Sasuke.

Neji kembali menatap Hinata yang kini berwajah serius, ia tidak mau pulang tanpa membawa Hinata. Lagi pula ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bersama dengan gadis tersebut. Tapi bagaimana ia bisa bersama dengan gadis tersebutt jika ada Uchiha!

Dengan tenang sepupu Hinata itu menghela napas beberapa kali sekedar menahan emosinya yang kian memuncak, untuk kali ini kau menang, Uchiha! Serunya dalam hati ketika ia akan melontarkan persetujuannya pada Hinata.

"Baiklah, Hinata-sama." Akhirnya neji benar-benar menyerah.

Hinata tersenyum sumringah, ia memajukan tubuhnya menghadap Neji dan segera memeluk pemuda Hyuuga itu. "Arigatou, Nii-san."

Neji terkesiap tidak siap menerima pelukan dadakan Hinata, sedetik kemudian ia bisa mengendalikan dirinya kembali dan memebalas pelukan sepupu yang telah menempati tempat khusus di hatinya itu. Senyum kemenangan pun terukir di wajah tampannya ketika melihat wajah Sasuke yang mengeras melihat Hinata memeluk Neji dengan tanpa beban.

Dengan segera Sasuke kembali menarik lengan Hinata lagi untuk melepaskan pelukan gadis tersebut pada Neji. "Sudah cukup, Hinata!" gertak Sasuke menatap Hinata tajam.

Hinata menegang mendengar perkataan Sasuke yang sepertinya marah padanya, ada apa dengan Sasuke?

Neji kembali menyunggingkan senyum tipisnya ketika ia melihat tingkah Sasuke yang sepertinya cemburu. "cemburu, heh!" pemuda itu menggerakkan bibirnya tanpa suara hingga membuat Sasuke semkain gerah akannya.

"Kita kembali sekarang, Hinata!" Ucap Sasuke yang sudah mulai terbakar emosinya sendiri.

Dengan cepat Hinata menganggukkan kepalanya dan meraih tas punggungnya seraya menyerahkan buntelan kain milik Sasuke, pemuda Uchiha itu mengambilnya cepat dan menyampirkannya di pundaknya.

Sedangkan Neji? Ia hanya terdiam ketika melihat rona wajah Hinata yang berubah sejak ia keluar dari desa. Terakhir kali ia melihat Hinata yang memutuskan pergi dari desa Konoha, ia masih sangat ingat bagaimana wajah Hinata pada waktu itu. Wajah terluka yang sangat dalam, belum lagi pernyataan penolakan Naruto yang membuat gadis itu semakin dilanda sakit hati.

Tapi sekarang, kejadian itu seperti tidak pernah ada dalam diri gadis itu. Ia melihat Hinata yang sekarang sungguh... sangat berbeda dari dulu, apa ini karena Sasuke? Lalu bagaimana pemuda Uchiha itu merubah diri Hinata yang dulu tampak menderita menjadi seperti sekarang? Menjadi seperti gadis yang baru saja jatuh cinta? Hati Neji berdenyut ketika menyimpulkan perasaan gadis itu secara sepihak.

Benakah?

Benarkah Hinata sedang jatuh cinta lagi?

Pada pemuda itu?

"Neji-nii."

Neji tersentak ketika sebuah tepukan lembut menghantam bahunya, Hinata menatap bingung Neji ketika pemuda Hyuuga itu tersentak kaget.

"A-aku sudah si-siap berangkat." Neji menganggukkan kepalanya sekali sekedar merespon Hinata.

"Kita berangkat sekarang!" perintah Neji sembari dengan cepat melangkahkan kakinya keluar gua dan segera melompati dahan pohon diikuti oleh Sasuke dan Hinata.

.

.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:..

.

.

Tok Tok Tok

Suara ketukan pitu ruanngan Hokage terdengar menggema di dalam ruangan tersebut, Naruto yang berada di didalamnya sejenak mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas dokumen yang sedang di bacanya.

Naruto menatap pintu ruang Hokage itu dengan bingung, aneh. Siapa yang bertandang ketempatnya pagi buta begini?

"Masuk!" Naruto memerintahkan seseorang yang berada dibalik pintu tersebut untuk masuk.

Perlahan pintu terbuka. Menampakkan seseorang yang suda sangat Naruto kenal dan sering ia temui dalam beberapa minggu ini.

"Hiashi-sama?" pemuda itu bermaksud menanyakan ada apa gerangan pria paruh baya itu berkunjung keruangannya pagi sekali.

Pria itu melangkah kan kakinya menghadap meja Hokage di depannya, tubuhnya sedikit menunduk sekedar memberi hormat pada pemimpin desa tersebut. Naruto hanya menganggukkan kepalanya sekali seraya berdiri dari kursinya dan mulai melangkahkan kakinya pada sofa tamu di samping meja Hokage.

"Silahkan duduk, Jii-san." Naruto memepersilahkan tamu pertamanya hari ini untuk duduk diiringi dengan dirinya yang juga ikut duduk tepat di seberang Hiashi.

"Arigatou, Hokage-sama."

Naruto menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja, "Jadi, apa yang membuat anda berkunjung pagi-pagi begini ke ruangan saya. Jii-san?"

Hening sebentar sebelum Hiashi menjawab pertannyaan Naruto padanya, "Saya telah mendapatkan kabar dari Neji."

"Benarkah?" mata Naruto terbelalak mendengarnya, apa Neji sudah menemukan Hinata? Lalu? Apa rencana Hiashi untuk menjodohkan Hinata dengan neji akan terlaksana begitu saja? Seketika sifat santainya berubah menjadi menegang.

Hiashi menganggukan kepalanya, "Aa, Hinata telah bersama Neji sekarang. Dan... "

Jeda cukup lama di berikan oleh Hiashi hingga membuat Naruto lebih penasaran, dan? Dan apa?

"Apa terjadi sesuatu pada Hinata?"

Hiashi menggeleng, "Ada seseorang yang juga akan kembali ke desa."

Naruto membuka tutup mulutnya, dirinya sungguh penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi?

"Ada apa, jii-san!"

Hiashi menghela napas sejenak sekedar menenangkan dirinya ketika akan melihat reaksi Naruto nantinya.

"Uchiha Sasuke pulang bersama mereka."

Naruot terperangah.

"Sasuke-kun... kembali?"

Suara lembut yang di hasilkan oleh gadis yang baru saja memasuki ruangan Hokage itu sejenak menyentakkan Hiashi dan Naruto untuk menolehkan kepalan mereka kearah pintu.

Sakura ada disana.

Sejak kapan?

"Sakura-chan!" naruto terkejut ketika menlihat Sakura yang kini sedang memeluk dokumen yang sebenarnya ingin ia serahkan kepada Naruto menjadi urung ketika ia tidak sengaja mendengarkan pembicaraan serius antara keduanya. Hingga akhirnya ia mendengar pembicaraan serius itu menyangkut tentang Uchiha sasuke... yang akan kembali ke Konoha.

Dengan cepat sakura menghampiri Naruto, tanpa sadar ia menjatuhkan dokumen-dokumen yang didekapnya erat tersebut. Secepat kilat juga gadis itu menyentuh kedua bahu Naruto dengan antusias. "Benarkah Naruto? Sasuke-kun akan kembali?"

Naruto membisu tidak dapat berkata apapun, tidak mungkin ia percaya begitu saja. Mana mungkin Sasuke dengan mudahnya kembali lagi, dengan cara apa mereka membujuk Sasuke kembali? Ini sungguh tidak mungkin. Bahkan ia yang bertarung bersama sasuke pun mustahil membawa Uchiha itu kembali. Tapi nyatanya sekarang? pemuda itu dengan mudahnya kembali?

"Tidak, Sakura." Naruto berucap dengan serius terhadap gadis di depannya yang terlihat antusias.

Naruto kembali menolehkan kepalanya pada Hiashi yang sekaang telah beranjak dari duduknya, "Anda jangan bercanda, jii-san." Ucap Naruto tidak percaya dengan perkataan pria tersebut. "Anda jangan mengada-ngada!" lanjutnya.

"Saya tahu bahwa reaksi anda akan seperti ini Hokage-sama, tapi percayalah..." Hiashi mengakhiri pembicaraannya dengann melangkahkan kakinya menuju pintu ruang Hokage. Ini memang sudah bukanlah urusan dirinya jika menyangkut Sasuke, ia hanya memberi kabar bahwa Neji juga membawa Uchiha itu kembali ke desa.

Tidak lebih.

Suara bedebum pintu yang ditutup menjadi latar belakang situasi keheningan antara sakura dan Naruto.

"Naruto," panggil Sakura yang kini masih dilanda penasaran lebih ketika ia melihat pemuda di hadapannya hanya tercenung.

"Gomen sebelumnya aku telah menguping pembicaraan kalian, aku sudah tahu perkara tentang Hinata dan neji. Tapi aku tidak percaya jika Sasuke-kun juga ikut bersama mereka. Sebenarnya apa yang terjadi?"

Naruto menatap sakura dengan penuh kebimbangan, seharusnya ia senang Hinata dan Sasuke kembali. Tapi kenapa tiba-tiba ada perasaan mengganjal di hatinya begitu ia menyadari jika Sasuke telah kembali, ia merasa tidak rela jika hal itu benar terjadi. Ia sungguh merasa kehilangan gadis di depannya. Apa ia masih mencintai Sakura? Bukankah ia sudah menetapkan hatinya pada Hinata?

Seharusnya Naruto senang Sasuke kembali.

Yah memang benar ia sangat senang ketika sahabatnya itu kembali, tapi perasaan mengganjal itu kian mencekik lehernya ketika ia mendapat kabar tersebut.

"Naruto!" panggil Sakura hingga menyentakkan lamunan Naruto, pemuda itu kembali pada dunia nyatanya dan memandang gadis itu dengan intens.

Sakura yang mendapat pandangan tersebut hanya menundukkan kepalanya dalam. Entah apa yang dirasakan gadis itu saat ini, yang pasti wajah bermarga Haruno itu terasa kian memanas.

"Aku tidak tahu Sakura..." Naruto menghela napas pendek-pendek ketika melihat Sakura yang kini menundukkan kepalanya dalam.

Ia takut dengan keraguannya yang membuat gadis di depannya itu menjadi kecewa.

"Apa sebaiknya kita susul mereka?" Sakura berucap dengan sarat akan keraguan, gadis itu tidak yakin dengan usulnya sendiri. Entahlah ia tidak tahu kenapa semua terasa menjadi sangat canggung.

.

.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

.

.

Hinata meresakan tubuhnya menjadi lebih segar dari sebelumnya ketika ia usai membersihkan dirinya di sungai. Sudah lama ia tidak meresakan ketenangan berendam di dalam air yang cukup hangat, mengingat ia selalu berendam di sungai yang airnya selalu dingin.

Gadis Hyuuga itu menapaki langkahnya menuju termpat mereka bermalam selama semalam, sepertinya Sasuke dan Neji sudah siap melanjutkan perjalanan mereka.

Hinata dengan semangat sembari bersenandung riang mendatangi mereka yang kini...

Saling bertatapan tajam.

Gadis itu terpaku ketika melihat pemandangan di depannya—Sasuke dan Neji—yang sedari tadi hanya bertatapan tajam! Entah kenapa mereka bisa selama itu tidak bergerag sesenti pun, yah selama Hinata mandi mungkin? Atau selama mereka baru saja bangun tidur? Entahlah Hinata juga tidak tahu.

"Sa-Sasuke-kun? Neji-niisan?" panggil Hinata dengan nada yang sedikit khawatir.

Kedua pemuda itu sontak menoleh pada Hinata, ini aneh memang. Keduanya dengan duduk bersimpuh dan saling berhadapan dengan menatap mata satusama lain tajam. Aa, atau jangan-jangan mereka selama semalaman seperti itu?

Hinata yang ditatap kedua pemuda itu lantas menundukkan kepalnya, "Ka-kalian ba-baik-baik saja?" entah kenapa gadsi bersurai indigo itu menanyakan hal yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. Ia sudah dengan jelas bahwa keduanya seperti sangat tidak baik-baik saja.

Gadis itu hanya merasa tidak enak hati ketika tatapan menusuk telah mereka lemparkan satu sama lain.

"Aa."

"Hn."

Bahkan keduanya pun menjawab dengan serentak.

"A-apa kalian su-sudah sarapan?" Hinata kembali melihat Sasuke dan Neji kembali berpandangan hingga Neji yang lebih dulu memutus kontak dengan Sasuke.

"Biar aku yang mencari makanan, Hinata kau istirahatlah. Perjalanan masih jauh." Ucap Neji seraya beranjak dari duduknya dan segera melompati dahan pepohonan meninggalkan Sasuke yang masih termenung dan Hinata yang membuka tutup mulutnya hendak mengatakan sesuatu pada neji.

Gadis itu menghela napas lelah ketika melihat kakak sepupunya itu sedah tak terlihat lagi oleh kedua mata amethystnya ditelan oleh rimbunnya pepohonan yang lebat di depan sana. Memang sekarang mau mencari makanan dimana? Ini hutan kan?

Hinata sedikit bergidik ngeri ketika ia mengingat Sasuke yang hendak memberinya buah untuk meningkatkan hormon beberapa waktu lalu.

"Biar saja ia pergi."

Hinata menolehkan kepalanya kepada Sasuke yang kini juga telah beranjak dari duduknya entah sejak kapan, "Ta-tapi—"

"Biar kita yang duluan sarapan, Hinata."

"Ta-tapi Neji-nii?"

Sasuke menghela napas, "Biarkan saja dia," ucapnya sembari menarik pergelangan Hinata mendekat padanya. Ia mengendikkan dagunya menyuruh Hinata untuk mengikutinya duduk di samping pemuda tersbut.

Hinata akhirnya mengikuti apa yang pemuda itu katakan, namun perasaan tidak enak tetap menghampiri gadis tersebut.

"Dia tidak tahu jika kita membawa makanan... hmh, dasar bodoh."

Dengan segera Hinata melototkan matanya kepada Sasuke yang memanggil kakak seppunya itu bodoh, "Sa-Sasuke-kun—"

Sasuke sadar ketika gadis yang disukainya itu memelototkan matanya, pemuda itu balas menatap Hinata intens, "Kenapa? Kau menyukainya?"

"Tentu saja aku menyukainya!" tanpa pikir panjang gadis Hyuuga itu membalas pertannyaan Sasuke.

Oh, tidak tahukah dengan ucapannya barusan membuat hati Sasuke berdenyut nyeri?

Pemuda Uchiha itu menggeram pelan ketika mata Hinata menatapnya dengan penuh keyakinan, ini tidak bisa ia biarkan. Sasuke tidak bisa membiarkan neji merebut Hinata darinya. Lantas? Apa yang harus ia lakukan? Membawa kabur Hinata dari sini? Tidak, gadis itu pasti akan melawan. Mana mungkin Hinata mau dibawa oleh Sasuke. Jadi? Apa yang musti ia lakukan?

"Kau bodoh, Hinata." Ucap Sasuke dengan nada dingin.

Hinata menatap bingung pemuda di hadapannya. Cepat sekali mood Ssuke berubah, bukankah tadi Sasuke sangat ramah padanya? Tapi kenapa pemuda itu malah bersikap dingin? Apa ada yang salah dengan kata-katanya sebelumnya.

Hinata rasa tidak!

"Yah, a-aku memang bo-bodoh hingga diusir da-dari klan." Mungkin itu yang dimaksud Sasuke pada Hinata.

Sepertinya sekarang malah Hinata yang salah paham.

Sasuke yang tadinya menyiapkan api unggun sekedar untuk membakar ikan menjadi terhenti ketika mendengar penuturan Hinata. Sasuke mengernyit bingung, apa hubungannya menyukai Neji dengan klan?

"Konyol." Hanya itu komentar Sasuke mengenai Hinata.

Gadis Hyuuga itu menyentak ketika ia mendengar kata-kata Sasuke yang seperti mengatainya. Gadis itu mulai menundukkan kepalanya dalam tidak mau menatap mata Sasuke, sebentar lagi mungkin air mata akan keluar dari pelupuk matanya.

Sasuke hanya menatap Hinata dengan bingung, sepertinya ia salah bicara lagi. Kini perhatian pemuda Uchiha itu teralihkan pada gadis di depannya, ia perlahan medeketi Hinata.

"Cengeng," pemuda Uchiha itu kembali bersuara, namun kali ini lebih mirip dengan gumaman.

Gadis Hyuuga tersebut semakin menundukkan kepalanya lebih dalam lagi hingga wajah manis itu tidak terlihat oleh Sasuke.

"A-aku tidak seperti itu." Hinata menyanggah dengan nada keraguan.

"Lalu?" dengan cepat pula Sasuke menjawab dengan nada sedikit ditinggikan, ck. Padahal seharusnya ia yang sekarang merasa tersakiti. Bukan ia yang menyakiti Hinata, bagaimana tidak, gadis itu dengan terang-terangan mengatakan kalau ia menyukai Neji. Padahal awalnya Sasuke hanya menganggap perkataannya itu hanyalah bualan,tapi nyatanya Hinata malah menganggap Serius hal tersebut. Sepertinya Hinata memang benar-benar menyukai Neji. Apa ini suatu penolakan yang tidak langsung dari Hinata.

Mendengar perkataan Sasuke yang sedikit pedas di telinganya. Hinata tanpa sengaja meneteskan air matanya. Bahkan ia ragu jika sekarang pemuda itu memperhatikan dirinya yang sekarang mulai terisak miris. Namun sepertinya perkiraan Hinata sepertinya salah kali ini.

Sasuke terkesiap melihat Hinata menagis di hadapannya, pemuda itu dengan cepat menyeka air mata yang mengalir di pipi gadi tersebut. "Gomen, Hinata. Apa aku bicara keterlaluan?"

Hinata menggeleengkan kepalanya, "Ti-tidak, a-aku memang cengeng." Ucap Hinata sesenggukan sembari menepis tangan Sasuke yang menempel di pipinya.

Hati Sasuke semakin meresa nyeri ketika tangan mungil Hinata mengibaskan tangan Sasuke.

Jelas sekali jika gadis itu menolaknya.

Pemuda Uchiha itu lantas mengepalkan tangannya dengan sangat erat, mencoba menahan perasaan bergejolak di dadanya. Ia pun tidak mengerti kenapa dirinya bisa menjadi seperti itu. Kenapa dirinya bisa menjadi semarah ini pada dirinya sendiri.

"Sebegitu sukanyakah kau pada Neji!" seru Sasuke dengan nada yang lumayan tinggi. Ia tidak bisa lagi menahan rasa amarahnya yang kian memuncak. Matanya yang tajam menatap lurus Hinata.

Hinata mengernyitkan alisnya tidak mengerti dengan ucapan Sasuke, ia menjadi bingung. Kenapa Sasuke segitu marahnya pada Hinata ketika ia mengucapkan hal yang wajar baginya.

Jika Hinata ditanya ia menyukai Neji, tentu saja gadis itu akan menjawab 'iya' sebagai jawabannya. Memang ada yang salah dengan jawaban itu. Menurutnya itu sangatlah wajar jika ia menyukai neji seperti kakaknya sendiri.

Ah atau Sasuke mengertikan sesuatu yang lain dari ucapannya tersebut?

"A-apa maksudmu Sa-Sasuke-kun? Aku memang me-menyukai Neji-niisan seperti A-aniki ku sendiri."

Secepat suara lembut Hinata yang mengalun indah di telinga Sasuke, secepat itupula lah kepalan tangan Uchiha muda itu terlepas.

Jadi Hinata hanya menyukai neji sebagai aniki, tidak lebih.

Ia sedikit bernapas lega akannya.

Wajahnya yang semula mengeras kini berubah menjadi lebih tenang, ternyata memang Sasuke lah yang terlalu berpikiran buruk pada Hinata. Lain kali ia harus lebih dengan tenang mendengarkan penuturan gadis tersebut hingga tidak terjadi kesalahpahaman.

"Yokatta..."

Hinata kembali mengernyitkan alisnya bingung. Untuk apa Sasuke menggumamkan kata tersebut?

"Sasuke-kun?" mata bening gadis itu malah semakin terlihat bingung ketika sekarang Sasuke tersenyum lembut padanya. "kau sa-sakit?" entahlah untuk apa Hinata menanyakan hal tersebut, yang pasti sebenarnya Hinata sudah tahu kalau pemuda Uchiha itu tidak sakit dalam hal sebenarnya. Nyatanya luka di dadanya pun sudah sembuh, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, apalagi Hinata yakin kalau sekarang Sasuke pun tidak terkena serangan demam.

Ia hanya sedikit memastikan kenormalan beerpikir pemuda tersebut.

Sasuke yang lagi-lagi salah paham mengartikannya hanya tersenyum lembut, ia pikir Hinata memang memperhatikan keadaannya yang sekarang memang baik-baik saja.

"Aku baik-baik saja, Hinata." Ucapan Sasuke membuat Hinata menjadi sedikit lebih tenang.

Sekarang keduanya kembali kepada aktifitas masing-masing untuk mempersiapkan sarapan mereka, tidak ada lagi pembicaraan yang tidak berarti bagi keduanya.

Padahal tidak jauh dari tempat mereka duduk, pemuda bermarga Hyuuga yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka kini dengan geram mengepalkan tangannya kuat.

"Hinata..." gumamn Neji di sela kegiatannya yang semakin erat mengepalkan kedua tangannya itu.

Pemuda itu sungguh tidak menyangka dia akan mendengar kenyataan pahit seperti ini, sepertinya Hinata memang tidak membutuhkan kehadirannya dalam keadaannya sekarang. Hinata malah terlihat lebih membutuhkan kehadiran Sasuke di banding dirinya.

Belum lagi kenyataan bahwa Hinata hanyalah mengenggapnya sebagai seorang kakak, tidak lebih.

Itu semakin membuat pemuda Hyuuga itu tercenung.

Ia mungkin sudah kalah sejak dari awal, awal ketika Hinata bertemu denganSasuke.

Sungguh kini ia menyesali perbuatannya selama ini yang tidak pernah menunjukkan perasaan cintanya kepada Hinata.

Ia sungguh menyesal, bahkan Neji kini seperti menertawakan dirinya sendiri. Memang penyesalan selalu diakhir 'kan?

Otak jenius Hyuuga itu terus saja berpikir, yah memikirkan dirinya yang akan meminang gadis tersebut. Ia sudah pasti tahu bagaimana reaksi yang akan ditimbulkan oleh Hinata ketika mendengar bahwa ayahnya telah menjodohkan dirinya dengan Neji.

Bahkan ia sudah pasti akan tahu jika Uchiha itu tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.

Pemuda Hyuuga itu hanya bisa mengehla napasnya perlahan, dengan diam ia meniggalkan keduanya sekedar untuk menengakan pikirannya yang kalut.

Yah paling tidak ia harus bisa menerima bahwa Hinata tidak akan pernah memilihnya.

Lantas? Apa yang harus ia lakukan? Membatalkan semmua rencananya?

Atau membiarkan hal tersebut terus berlanjut?

.

.

To Be Continued

.

.

Apa ini termasuk update kilat? Kayaknya belum yah? Tapi kan ini ga nganggur sebuan lebih*smirk he he he

Dan soal typo saya udah berusaha agar tidak ada typo yang berterbaran, semoga saja di chap ini ga ada. Oke, makasih yang udah mau baca dan review fic ini^^

Special thanks:

Axx-29, Indigo Mitha-chan, Guest, ritsuka hijiri, IndigOnyx, briesies, Anne garbo, toru-chan, UQ, Moku-chan, Aden L Kazt, Freeya Lawliet, Dewi Natalia, BrilliBerry Kurosaki, Mamoka, alice9miwa, nurul. wn, lightning, Mingriew-chan, Tamu, astia morichan, Ms. Lana, Lin Hekmatyar.

.

.

Shiroi no Tsuki

.

.