Chap 7

Naruto Mind Of Mr. Masashi Kishimoto.

.
.

Side The Day Canna Be Okay..

.

.

Terdampar ditempat antah berantah, semuanya hanya ada sisi kegelelapan yang terlihat tanpa ujung melihat kekanan dan kekiri semuanya hanya bayang hitam.
Melangkah maju kedepan merasakan kaki terasa dingin dan basah oleh genangan air yang keruh, tak mengerti kenapa sekarang dirinya berada disini suasana yang sangat asing dan mencekam namum rasa penasaran membuatnya melangkah maju kedepan.

Terlihat samar
entah dari mana datangnya cahaya lilin yang redup menyinari permukaan sebuah pintu gerbang raksasa yang tersusun rapi oleh jajaran besi seperti jeruji besi yang sangat kokoh berdiri tegak seperti mengurung sesuatu didalamnya.
Melihat kedepan sambil berjalan terus hingga akhirnya dirinya sampai didepan gerbang raksasa yanng tertutup rapat tersebut, tertutup rapat oleh sebuah segel yang tak dimengerti olehnya, tertempel kertas segel yang mendominasi sebagai pengunci gerbang tersebut.
Genangan air dikakinya semakin dingin membuatnya merasakan sensasi yang membuat kakinya kaku kedinginan ditambah lagi dia merasakan aura disekitarnya sangat mencekam .

Dirinya takut,
Dirinya gemetar tak sanggup lagi akan suasana disekitar tapi entah kenapa dirinya tak asing dengan gerbang raksasa didepannya, merasakan perasaan yang terikat namun ditutupi oleh kekelaman.
Mencoba tenang dirinya memberanikan mendekat kecelah jeruji besi raksasa tersebut untuk melihat dengan seksama sejauh mata memandang, hanya kegelapan yang terlihat
Darahnya berdesir hebat ketika mendengar suara geraman rendah membuat nafasnya tercekat ketika perhatiannya tertuju pada sebuah siluet banyangan yang besar seakan menatapnya balik dengan suara aungan rendah penuh dengan intonasi mengancam dan menggetarkan mentalnya, siluet bayangan samar yang terlihat olehnya semakin besar, besar dan semakin jelas
Genangan air disekitar kakinya bergelombang dengan riak kecil yang menandakan sesuatu yang besar bergerak dan mendekat, geraman suara yang padat semakin jelas terdengar bagai mengintai mangsanya dan yang dia pun ketakutan dengan tubuh bergetar hebat mengambil langkah mundur kebelakang dengan pandangannya masih fokus pada banyangan yang bergerak didalam sana.

"Ggrrrrghh"
Geraman akan penuh kebencian semakin jelas terdengar, bayangan yang samar semakin jelas terlihat. Tatapan matanya semakin jelas, mata yang berwarna merah semerah darah dengan pola garis hitam vertikal membelah warna bola mata tersebut,
Genangan air semakin beriak, langkah yang hampir menggetarkan yang dipijaknya semakin memdekat dibalik jeruji raksasa tersebut, lama semakin jelas akan kehadiran bagai monster, seekor monster raksasa yang dibalut dengan bulu berwarna orange berdiri tegak dengan lambaian ekor yang lebih dari satu dibelakangnya, melambai indah bergerak kesana-kesini mengisi kekosongan ruangan tersebut, cakar yang tajam, taring yang panjang bagai hewan perwujudan serigala raksasa, monster yang sejenis bangsa Rubah mempunyai ekor sembilan menatap tajam kepada bocah kecil didepanya.

Sang bocah saking ketakutannya dia jatuh terduduk digenangan air dibawahnya, wajah yang sudah memutih karena ketakutan ingin lari badannya tak kunjung bergerak, badan yang bergetar hebat menahannya ketika hendak menatap Monster didepannya.

"si...si..siapa kau..?"
mulut bergetar mengucapkan kalimat pendek dengan ketahan mental yang menipis.

Suara serak yang padat menjawab pertanyaan bocah didepannya

"siapa aku.? , haruskah aku menjawabnya wahai Mahkluk Lemah" dengan ejekan dingin intonasi datar

"si..siapa kau..?, dan,.. Dan di..dimana ini.?."
Ulang suara kecil sang bocah mencoba melawan ketakutannya.

...bbbrrraakkk...
Bukannya menjawab Sang Monster mencengkram kuat jeruji besi tersebut, yang menampakan cakarnya yang tajam.

"belum saatnya kau berada ditempat ini, mahkluk lemah" sambung sang Monster sedikit emosi dan dengan hentakan yang kuat badannya mencoba mendobrak keluar

...Bbraaakkk...

...bbbrakk..
..brrakk..

"Ggrrrraaaaaggghhh"

Raungan kuat disertai hentakan keras namun tak akan sanggup menghancurkan pagar jeruji besi raksasa tersebut, yang membuat area disekeliling bergetar bagai digoyang gempa dan sang bocah sempat terlempar karena hempasan getaran tersebut, mencoba untuk bangkit namun seperti ada yang menahan badannya,

Mencoba membuka mata, sang bocah telah berada didalam genangan air yang dalam, membuatnya tenggelam.

"akkhhh"
Susah tuk bernafas, mencoba menggapai namun tak kunjung sampai,
Hingga akhirnya nafasnya semakin sesak, kesadarannya semakin hilang dan matanya tertutup tubuh melemas hingga tak bergerak lagi.

Naruto terbangun dari pingsannya, terduduk dengan nafas yang memburu. Melihat sekitar dengan pandangan liar yang ada dalam ruangan itu hanya beberapa perabot, meja, lemari dan kursi.
Dan terakhir pandangannya tertuju pada sang kage yang membelakanginya menghadap jendela, setelah tenang naruto tersadar bahwa beberapa waktu lalu mungkin hanyalah sebuah mimpi buruk yang terasa nyata di alaminya.
Mencoba untuk berdiri namun seluruh badannya terasa sakit, naruto pun akhirnya merilek kan badannya duduk bersandar di kursi sofa tersebut,

Tanpa melihat kebelakang Sang Kage bertanya
"Kau sudah sadar Bocah..?" dengan suara datar.

"su.. kakek hokage,ak..akkku sudah bangun." Jawab naruto sedikit ketakutan

'hhmm, kakek hokage y' pikir sang kage ketika mendengar panggilan yang terasa aneh untuknya.

Sang kage berjalan ke meja kerjanya kembali duduk dan menopang dagunya dengan kedua tangannya sebagai tumpuan, sambil menghela nafas, melanjutkan kalimatnya.

"hahh, hei bocah mulai sekarang dan sampai kedepannya aku melakukan ini bakan karena sebuah ikatan, namun semua ini ku lakukan karna sebuah janjiku yang pernah terucap dulu, dan kau akan tinggal dengan seorang Shinobi dan kau tidak usah kembali tinggal didalam hutan kematian lagi, Apa kau mengarti..?" Jelas sang Kage

" aku masih kurang mengerti Kakek Hokage, dan kenapa aku harus tinggal dengan seseorang..?" Tanya Naruto, namun pandangannya menjadi sendu,

"ak..aku takut Orang itu akan memukulku, menyiksaku, dan bahkan mengataiku bocah monster, aku takut kakek". jawab naruto akan kenangan buruk yang dilaluinya terhadap para warga desa,

..takut, takut dan takut, yang dirinya bahkan mentalnya tersakiti.

Sang kage hanya menghela nafas, sudah cukup untuk saat ini Ego nya menguasai pemikirannya, sekarang dihadapannya hanyalah seorang bocah yang tak tahu apa-apa,
Dan prioritas Utamanya sebagai Seorang Hokage adalah memenuhi janji yang telah dia ucapkan,
" kau tenang saja bocah, Shinobi yang akan mengurusmu untuk kedepan, Dia berbeda dengan para warga atau pun ninja yang lain, Dia sangat suka terhadap Anak-anak dan terlebih lagi tugasnya sebagai Sensei pengajar di akademi ninja bahkan kemungkinan masa lalunya lebih kurang mirip denganmu"
Jawab sang Kage dengan mata terpejam untuk menyembunyikan garis emosi yang terpancar dimatanya.

Dengan begitu, sang kage menyuruh Anbu untuk memanggil seorang shinobi yang akan mengurus naruto,.
Setelah menunggu beberapa saat, datang lah seorang shinobi dengan pangkat jounin yang mempunyai ciri khas tersendiri, setelah masuk dan langsung menunduk hormat kepada Hokage didepannya.
"mohon maaf Hokage-sama, kenapa anda memanggilku..?" Tanya Sang jounin kepada Hokage,

" bangunlah Iruka", perintah Sang Kage, dan Jounin yang bernama Lengkap Umino Iruka itu pun berdiri dengan sigap siap akan mendengarkan segala titah Sang Kage didepannya.

"aku memanggilmu kesini untuk memberikan sebuah misi" jawab sang kage.

"Misi..?" Ulang iruka dengan bingung,

"ya, misi, sebuah misi Khusus untukmu, yaitu untuk mengasuh serta medidik seorang bocah, dan dia akan tinggal bersama mu sampai dia bisa hidup mandiri " lanjut Hokage menatap lurus terhadap Iruka,

Iruka hanya bingung dan gugup 'Siapa yang akan ku asuh ' pikirnya

"aku tahu kau bingung tentang misi ini, namun ini semua sangat penting bagi desa dan keamanan desa, kau akan mengasuh seorang Jinchuriki yaitu Uzumaki Naruto"

Lanjut Hokge " hei bocah kesini, dan Orang inilah yang akan mengasuhmu untuk sementara" panggil sang kage terhadap Naruto yang masih duduk terdiam disudut ruangan, Iruka pun memandang kesamping kirinya dan memperhatikan bocah yang bernama Uzumaki Naruto.

"apakah dia anak itu Hokage-sama..?" Tanya iruka dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Sang kage
"baik, jika itu saja misinya Hokage-sama, dan aku harap anda memberikanku tambahan waktu senggang untul mengajar di akademi, dan tahukah anda Hokage-sama tahun ini rata-rata murid di akademi semua anak para kepala Klan dan jadwal mengajarku sangat padat"
Bimbang iruka akan jadwal mengajarnya,

"kau tenang saja, nanti akan ku atur jadwal mengajarmu di akademi dan akan beberapa jounin yang akan menggantikanmu" tawar sang Kage, namum
"baiklah akan ku terima hokage-sama" jawab iruka dengan tenang dan senang sambil melirik ke arah naruto sedang menunduk ketakutan
"dan apakah sekarang boleh ku bawa Uzamaki Naruto Hokage-sama, untuk pengenalan lebih akrab"

"baik" jawab sang Kage, dan setelah itu iruka undur diri sambil mengandeng tangan Naruto sambil tersenyum ramah, dan itu membuat naruto sediki menurut.

Setelah pintu tertutup rapat sang kage segera melanjutkan tugasnya dengan berkas-berkas yang menggunung dimeja kerjanya.

"hahh" helaan nafas lelah Sang Kage yang hanya mengutuk akan Kertas berkas-berkas yang tiada habisnya.
.

.

.

Didalam perjalanan pulang ke apartemen Iruka, Naruto hanya diam dan sesekali melirik kearah Iruka yang sedang menggandeng tangannya dan ketika Iruka melihat ke arah Naruto, Naruto hanya membuang Muka dengan menunduk dan mencoba melihat ke arah lain.
Namun ada sebuah perasaan lain dihati naruto, yang ingin membuatnya tersenyum untuk melampiaskan sesuatu yang bergejolak dihatinya dan senyum itu pun tertahan,
Karena sedari tadi, Naruto menyadari pandangan para warga desa dan ejekan yang tak terdengar dilihatnya kembali membuatnya ketakutan, pegangan tangan Naruto mengerat dan tubuh kecilnya merapat kearah iruka.
Iruka yang menyadari perubahan sikap Naruto pun hanya memperhatikan dalam diam,
'ternyata memang betul akan rumor yang beredar, bahwa, naruto sering mendapatkan perlakuan yang kasar dari para warga' pikir iruka, setelah paham akan situasi disekitarnya.
Maka itu Iruka pun mencoba mencairkan suasana.
"hei, anak kecil nama mu Uzumaki Naruto kan..?" tanya iruka dengan ramah disertai senyum yang membuyarkan Lamunan Naruto

"ii..iya Paman, namaku U..uzumaki Na..naruto, dan Ka..u bisa memanggiku Naruto" jawab naruto sedikit terbata, karena dia masih merasa canggung.

" hhmm, baiklah Naruto, kau bisa memanggilku Iruka atau pun dengan Iruka sensei, karena biasanya para murid-murid di akademi memanggilku begitu, dan itu terserahmu sih, oh iya, apa kau lapar Naruto, bagaimana kalau kita makan dulu di kedai ramen langgananku..?" Tawar Iruka masih dengan tersenyum ramah terhadap Naruto.
Dan Naruto hanya mengangguk kaku, namun didalam Hatinya Dia merasa senang.

Apakah boleh merasakan hal yang kau inginkan..?

.
.

.

Setelah beberapa hari terlewati, Naruto sudah bisa membuka diri terhadap Iruka dan Iruka pun merasa senang akan hal itu.
Dia pun mengajari Naruto tentang ini dan itu, dari cara membaca, menulis bahkan menghitung sebagai dasar, Naruto pun mempelajarinya dengan baik, bahkan Iruka mengenalkan tentang pelajaran di akademi Ninja pada Naruto hingga dia paham dan mengerti walau sedikit demi sedikit,
Iruka pernah bertnya kepada Naruto
"Naruto, apakah kau ingin menjadi seorang Shinobi..?"

"mau, sensei, aku ingin menjadi Shinobi untuk melindungi diriku dan orang-orang yang aku sayangi" jawab polos Naruto.
"Baiklah, bila aku ada waktu senggang aku akan mengajarimu Naruto" balas Iruka dengan senyum tulus kepada anak didiknya.

"baik, sensei,"balas Naruto dengan senang.

.

.

.
Sedangkan didalam kantor Hokage, sang Kage sedang sibuk menandatangani beberapa berkas, tak lama setelah itu munculah kepulan asap yang menandakan kehadiran seseorang.
Atau
Yang lebih tepatnya seekor katak, katak yang dikenal Sang kage sebagai hewan kuchiyose pembawa pesan dari Jiraya salah satu muridnya yang ditujukan kepadanya,

Sang Kage hanya mengangkat alis, sambil menerima gulungan dari katak tersebut, setelah menerima katak tersebut menghilang kembali ke alamnya,

Membuka gulungan tersebut dengan tetesan darah sang Kage membaca dengan serius akan semua hasil dari pengintaian Jiraya,

'hmm, begitu ya. Sudah banyak hal yang berubah," batin sang Kage setelah membaca gulungan tersebut.

.

.
.

Tobe continued..

Mine to riview or not, upto you..