Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Selamat membaca!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 7 : Bayang-bayang Masa Lalu
By : Fuyutsuki Hikari
Naruto menghabiskan sisa harinya dengan menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk tinggi. Oh, mendapat tambahan jatah libur memang sangat menyenangkan, tapi hal itu juga berarti dia memiliki dua kali lipat pekerjaan di hari Senin. Melelahkan! Gerutunya dalam hati.
Seolah hal itu belum cukup, di sampingnya, Ino terus menggodanya untuk mengorek informasi. Hal itu jelas mengingatkannya akan kejadian malam Minggu kemarin. Naruto angkat tangan, tidak tahu apalagi yang bisa dilakukannya untuk membungkam mulut besar Ino.
"Hei!" seru Ino seraya menyikut tangan Naruto pelan.
Naruto mendelik lalu memutar kedua bola matanya, bosan. Ia menopang dagu dengan tangan kanannya sementara matanya kembali terfokus pada layar datar komputer di depannya.
Ino bergerak semakin dekat ke arah Naruto, lalu berbisik pelan di telinga kanan wanita muda itu. "Siapa sangka jika kau bisa berbuat sejauh itu!" lagi-lagi Ino terkikik, senang.
Jari-jari tangan kanan Naruto yang bergerak lincah di atas keyboard berhenti seketika, ia lalu menghembuskan napas keras, memutar kursi kerjanya dan duduk berhadapan dengan Ino. "Sudah kukatakan tidak ada yang terjadi!" katanya mulai kesal. Yah, Ino tidak perlu tahu detailnya, kan? Sungguh memalukan! Pikir Naruto sebal.
Ino menyempitkan mata, "benarkah?" tanyanya dengan nada sing a song, jelas tak percaya.
Naruto mengangkat kedua tangannya ke udara dengan gerakan berlebihan, "terserah jika kau tidak percaya. Silahkan berimajinasi sesukamu!" katanya setengah berbisik. Naruto tidak mau apa yang terjadi di vila tempo hari menjadi gosip dan menyebar di kantor tempatnya bekerja.
Ino mengatupkan kedua tangannya di depan dada, mulutnya ditekuk ke atas. Pikirannya melayang jauh, ia lalu tertawa, cukup keras hingga Naruto memutuskan untuk membekap mulut sahabatnya itu. Naruto tersenyum kaku pada beberapa karyawan yang menoleh ke arahnya, jelas penasaran.
"Bisakah kau diam?" desis Naruto dengan nada mengancam.
Ino mengangguk pelan, Naruto berdecak dan akhirnya melepaskan bekapannya dari mulut Ino. "Ayolah... Kau tidak perlu malu untuk menceritakannya padaku. Sebenarnya apa yang terjadi?" Ino mulai bertanya lagi dengan nada memelas, dan jangan lupakan jurus puppy eyes-nya.
Naruto kembali mendelik tajam pada Ino, hatinya bimbang. Ino dan rasa ingin tahunya yang besar. Benar-benar mengesalkan. Bungsu Namikaze itu lalu menghela napas, lelah menghadapi sikap keras kepala Ino. "Baiklah, sesuatu memang terjadi." Tutur Naruto pelan, dengan sikap santai. Matanya mengawasi sekeliling, takut jika seseorang menguping pembicaraan keduanya.
Ino bergerak di kursinya, mulutnya tersenyum penuh kemenangan. "Apa kubilang!" serunya, girang.
"Ssstttt!" desis Naruto mengingatkan. Matanya melotot, tajam.
Ino membekap mulutnya sendiri dan berkata pelan, "maaf!" katanya. "Aku terlalu bersemangat." Wanita muda itu kembali terkikik pelan.
"Aku akan mencekikmu jika hal ini sampai bocor!" ancam Naruto dengan mimik menakutkan.
Ino mengangguk pelan, memberikan isyarat jika ia akan menutup mulutnya rapat.
Naruto kembali menghela napas dan memijat tengkuknya yang terasa pegal. Sungguh, dia sangat berharap jika Ino akan percaya seratus persen akan apa yang dikatakannya. Naruto menghitung dalam hati, berdoa agar nada suaranya bisa terdengar meyakinkan. "Kami berciuman," Ino terkesiap mendengarnya, antusias. "Awal yang bagus," sahutnya senang. "Lalu?"
"Ciuman panas dan lama, setelah itu-"
"Apa?" potong Ino semakin antusias. Matanya mengerjap cepat, tidak sabar.
"Bisakah kau berhenti memotong ucapanku?" protes Naruto, kesal. Ino mengangkat bahu, cuek. Naruto melotot sebelum akhirnya kembali bicara. "Setelah itu kami tertidur pulas!" lanjutnya dengan nada datar.
"Hah?" teriak Ino, mulutnya terbuka lebar. Pendengarannya pasti salah. Batinnya. Dengan gerakan cepat dia berdiri dari kursinya, sedikit membungkukkan badan, dan meletakkan kedua tangannya di bahu Naruto lalu mengguncangnya keras. "Hanya itu? Hanya itu?" tanya Ino berulang, masih tak percaya.
Naruto mengangguk pelan. Dengan usaha keras dia memaksakan diri untuk menatap lurus mata sahabatnya itu.
"Kau?" jari Ino teracung tepat di depan hidung Naruto. Ia lalu mendesah, kecewa. Wanita muda itu menghepaskan tubuhnya di atas kursi dengan keras. Dua hari dia berusaha mengorek informasi dari Naruto tentang kejadian tempo hari dan jawabannya hanya seperti itu? Dia pantas kecewa, kan? Pria dan wanita, lajang, berada di dalam satu kamar yang sama, mantan kekasih, hanya berciuman panas? Sial! Kutuk Ino dalam hati. Apa mungkin Uchiha Sasuke memiliki orientasi seksual menyimpang? Pikirnya mulai melantur.
Naruto menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Ino. "Halo...!"
Ino menggeleng keras, pikirannya kembali ke dunia nyata.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Naruto, tidak suka akan tatapan simpati dari Ino.
"Tenang saja, Naruto." Ujarnya penuh keyakinan. "Kita akan mendapat peluang lain, dan aku akan memikirkan rencana lain untukmu." Kekasih Sai itu terdiam untuk sesaat, lalu bertepuk tangan pelan. "Tapi, hal ini juga sudah bisa menjadi berita besar," kedua bola mata Ino berbinar senang saat mengatakannya. Wanita muda itu mulai berimajinasi tinggi. "Wanita-wanita gatal itu pasti menangis darah jika mereka mengetahui kebenarannya." Kini dia terkikik kecil, senang, benar-benar senang. Wajah Ino berubah seketika, merengut. "Aku sangat kesal saat mereka terus menggoda Uchiha. Cih, mereka bahkan memakai bikini dan bertingkah sok seksi di hadapannya."
"Itu hak mereka," sahut Naruto mengingatkan. Walau tidak bisa dipungkiri jika dia pun merasa kesal setengah mati.
Ino mendelik, tidak suka. "Uchiha Sasuke, dia milikmu!" tukasnya mutlak membuat Naruto tersedak. Ino menepuk-nepuk punggung sahabatnya pelan, wajahnya masih merengut kesal. "Yang tidak aku mengerti, mengapa dia pulang terlebih dahulu?"
Hah, andai saja aku tahu! Batin Naruto kini ikut kesal karena mengingatnya. Sasuke hanya mengatakan jika dia memiliki urusan penting hingga harus pulang cepat, dan sampai saat ini, Tuan Uchiha Sasuke sama sekali belum menghubungi Naruto. Bukankah itu mengesalkan?
"Sudahlah!" ujar Ino lagi, membuyarkan lamunan Naruto. "Yang penting, kau, Nona Naruto, kau berhasil menaklukkan hati bujangan paling diincar di negara ini." Serunya terdengar bangga. "Apa aku harus mulai mencari gaun untuk pesta pernikahan kalian?" tanyanya tanpa berkedip.
Naruto hanya menelengkan kepalanya ke satu sisi, wajahnya mengernyit, bingung. Ya, Tuhan! Jangan katakan jika Ino masih bersikukuh untuk menjadi mak comblangnya? Ah, sudahlah. Yang penting, Ino mau menutup rapat mulut besarnya. Yah, untuk saat ini, hal itu sudah cukup, dan pembicaraan pun berhenti sampai disitu.
Malam pun merangkak dengan cepat. Naruto sudah mengelap kaca meja makannya berkali-kali hingga mengkilap. Semua piring-piring kotor pun sudah dicuci dan dikeringkannya. Naruto berjalan bolak-balik di dalam dapur kecilnya yang sederhana. Tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya. Ck, bayangan erotis itu kembali melintas di pikirannya. "Gila!" racaunya, marah.
Wanita muda itu perlu mengalihkan pikirannya saat ini, tapi apa lagi yang bisa dikerjakannya? Apartemen sederhananya sudah sangat rapih. Naruto memutuskan membawa beberapa makanan ringan dari dalam lemari penyimpanan dan berjalan ke ruang tengah lalu duduk nyaman di atas sofa untuk menonton televisi.
Naruto mulai menyalakan televisi dengan remote di tangannya. Dengusan kasar terdengar, sesaat setelah dia melirik ke arah telepon genggamnya yang tergeletak di atas meja di depannya. Ck, tidak ada email, sms maupun telepon masuk dari Sasuke.
Aku tidak mungkin menghubunginya terlebih dahulu, batinnya menolak. Egonya terlalu tinggi untuk melakukannya. "Apa mungkin dia hanya ingin bersenang-senang dan pergi begitu saja setelah mendapatkan apa yang diinginkannya?" gumam Naruto tidak jelas.
"Argh...!" Naruto menjerit, kesal dan mengacak rambutnya kasar. Napasnya memburu, matanya melotot lurus pada layar televisi yang menampilkan adegan ciuman panas antara aktor dan aktrisnya. "Woah, kalian meledekku?" cibir Naruto sebal, melirik tajam. Dia jelas tersinggung oleh adegan drama televisi itu. Tapi kenapa juga dia harus tersinggung dan merasa kesal? Naruto menekuk wajahnya, menjerit frustasi. "Aku sudah gila! Aku sudah gila!" ujarnya sambil menjambak rambutnya sendiri.
Merasa lelah dengan langkah berat Naruto berjalan menuju kamar tidurnya, setelah sebelumnya mematikan televisi dan menyambar telepon genggamnya dari atas meja. Ia mendesah, matanya terpejam dan bayangan kejadian tempo hari itu pun kembali melintas di kepalanya. Begitu nyata, seolah baru saja terjadi.
Flashback.
Naruto menggeliat dalam tidurnya, resah. Suhu tubuhnya meningkat, kepalanya bergerak, tidak nyaman di atas bantalnya. Tubuhnya mengkilat karena keringat. Napasnya memburu saat merasakan sebuah kecupan kecil pada puncak payudara kanannya.
Perlahan, ia membuka matanya. Matanya mengerjap, otaknya mulai mengingat dimana dirinya saat ini. Ah, kamar Sasuke, batinnya. Gelap, ruangan ini cukup gelap, minim cahaya. Hanya ada cahaya bulan yang menyelinap masuk lewat kaca jendela, yang menjadi penerang kamar luas ini. "Ahhhhh...!" jerit dan lenguh Naruto saat puncak payudaranya digigit kecil. "Sasuke?" panggilnya serak dengan napas memburu. Siapa lagi yang berani melakukannya jika bukan Sasuke?
"Hn."
"A-apa yang kau lakukan?" Naruto menggelinjang, punggungnya melengkung ke atas saat Sasuke menyapukan lidahnya tepat di pusar wanita itu dengan gerakan sensual. "Hentikan!" jerit Naruto tertahan. Tangan kananya menggapai-gapai dan menjambak rambut Sasuke keras untuk menghentikannya.
Sasuke menyeringai dalam kegelapan, matanya berkilat, tidak, dia sudah tidak bisa mundur lagi saat ini. Dia menginginkan Naruto, kekasihnya.
"Hentikan!" Naruto membentak, masih menjambak rambut Sasuke keras, napasnya semakin tidak beraturan.
Namun seolah tuli, Sasuke bergeming dan dengan kurang ajar tangan kanannya mulai menyentuh daerah kewanitaan milik Naruto.
"Arghhh!" Naruto kembali menjerit, namun dengan cepat dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Bagaimana jika ada seseorang yang mengetahui kegiatan panas mereka? "Sas, hen-hentikan!" pinta Naruto parau. Dia takut jika seseorang memergoki mereka. Tadi aku sudah mengunci pintu kamar, kan? Batinnya tidak tenang. Karena kalut, Naruto lupa jika dia sudah mengunci pintu kamar ini saat masuk ke dalamnya.
"Kau yakin?" tanya Sasuke tepat di depan wajah Naruto. Kepala Naruto bergerak semakin liar saat tangan kiri Sasuke menangkup payudara miliknya dan memainkannya dengan sensual. Tidak! Jerit Naruto dalam hati. Ini tidak boleh terjadi! Pikiran jernihnya mulai protes, sementara hati kecilnya malah berkata sebaliknya. Ya, Naruto pun menginginkan Sasuke saat ini.
Pelan, Sasuke menjauhkan kedua tangan Naruto dari mulut wanita itu. Napas Naruto masih memburu, dadanya naik turun, jantungnya berdetak liar. Naruto tahu jika Sasuke sudah menelanjanginya, walau entah sejak kapan. "Kau berani menelanjangiku?" desis Naruto. Wajah dan telinganya memerah saat perutnya bersentuhan dengan Sasuke junior.
Hening.
"Kau menyerangku saat tidur?" tanya Naruto terdengar seperti sebuah protes keras.
Sasuke membelai lembut wajah Naruto, "hn." Lagi-lagi dia menjawab tidak jelas. Naruto mencoba mendorong dada bidang pria itu, namun usahanya gagal. Sasuke tak bergeser sedikit pun dari atas tubuhnya. Pria itu terlalu kuat untuknya.
Naruto sangat yakin jika wajahnya semakin memerah saat ini, beruntung kamar ini cukup gelap hingga mampu menyamarkan rona merah di kedua pipinya. Naruto baru saja akan kembali bicara saat Sasuke mendaratkan bibirnya di bibir Naruto.
Sasuke menciumnya pelan, membuainya, membuat otak Naruto tidak bisa berpikir jernih. "Balas!" perintah Sasuke terdengar mutlak, dan tidak tahu mengapa, Naruto pun mematuhi perintah itu dan membalas ciuman Sasuke.
Ciuman lembut itu pun kini berubah menjadi ciuman panas, lama, bergairah. Ditambah dengan emosi tak bernama yang membuat keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Kedua tangan Naruto terangkat, memeluk erat leher Sasuke.
Sasuke melepaskan pagutannya untuk mengambil napas. Tatapannya tertuju lurus pada bibir Naruto yang terbuka, bengkak dan basah karena kegiatan keduanya barusan. "Aku tidak bisa mundur lagi, Naruto. Aku menginginkanmu!"
Naruto mengerjapkan mata, pikirannya kembali kalut. Haruskah dia menyerahkan diri pada Sasuke saat ini? Benarkah hatinya sudah mantap untuk menerima Sasuke kembali, seutuhnya? Naruto menggigit bibir bawahnya saat pikiran-pikiran itu melintas di benaknya. Jujur, Naruto merasa takut saat ini.
"Tolong jawab aku!" bisik Sasuke di telinga Naruto. Pria itu mencium dan menggigit kecil cuping telinga Naruto. Jantung wanita itu berdetak semakin cepat. Area kewanitaannya berkedut, tidak nyaman. Perasaan apa ini? Pikirnya tidak mengerti.
Sasuke menangkup wajah Naruto dengan kedua tangannya, dan kembali mencium bibir Naruto penuh gairah. Erangan-erangan tertahan kembali terdengar dalam ruangan minim cahaya itu. "Naruto?" panggil Sasuke lagi untuk mendapat persetujuan.
"Bercintalah denganku." Putus Naruto kemudian. "Tapi, aku ingin kau mengingat satu hal, Sasuke!"
Sasuke menghentikan kegiatannya sesaat untuk menatap Naruto dengan kernyitan dalam. "Apa?" bisik Sasuke kemudian.
"Setelah malam ini, kau- milikku!" seru Naruto mutlak. "Seutuhnya!"
Sasuke mengerang, dan sekali lagi melumat bibir Naruto dengan panas. Naruto pun membalasnya dengan penyerahan diri seutuhnya. Tidak akan ada penyesalan, dia akan memberi sebanyak yang diterimanya.
Naruto senang karena Sasuke mengijinkannya untuk menyentuhnya. Walau terkadang, tubuh Sasuke menegang saat jari-jari lentik Naruto menyentuh bekas-bekas luka di tubuhnya. Oh, betapa wanita itu ingin mencium seluruh bekas luka itu. Menyentuhnya dan mengatakan dengan jelas pada Sasuke jika dia menerima pria itu apa adanya. Jika dia ada untuk ikut menanggung beban hati yang disimpan pria itu selama ini. Bisakah Sasuke mempercayainya? Bisakan Naruto memperpendek jarak yang ada diantara mereka? Naruto tidak tahu, sungguh tidak tahu.
Mereka kembali berciuman, saling membelai, dan saling memberi kepuasan satu sama lain. Awalnya Naruto merasa sangat gugup, ini pengalaman pertamanya, sementara Sasuke sangat berpengalaman. Bagaimana jika Sasuke tidak puas? Namun pikiran itu sirna saat suara erangan kembali terdengar dari tenggorokan Sasuke.
Rasa percaya diri Naruto pun akhirnya muncul entah dari mana. Jari-jari keduanya terus berkelana, diikuti oleh bibir mereka, mengecup dan meninggalkan jejak basah setelahnya. Sasuke melepaskan diri untuk memakai pengaman, dan kembali memeluk tubuh Naruto erat setelahnya.
"Ini akan sakit!" bisik Sasuke parau kemudian mengecup bibir Naruto lembut.
"Lakukan!" sahut Naruto mantap sementara Sasuke mendekapnya mesra.
Dan Sasuke pun menyatukan tubuh keduanya dalam satu hentakan keras. Bibirnya membungkam bibir Naruto yang menjerit protes. Siapa yang menyangka jika pengalaman pertama bisa sangat tidak nyaman dan menyakitkan? Pikir Naruto.
Kuku-kuku jari tangan Naruto menancap di punggung Sasuke. Mulutnya tidak bisa menjerit karena terperangkap oleh bibir lihai Sasuke. Naruto ingin melepaskan diri, sakit, sangat sakit.
"Tenang, rasa sakitnya akan hilang." Hibur Sasuke setelah melepaskan bibir Naruto. Kecupan-kecupan kembali mendarat di kening, hidung, pipi dan dagu wanita itu, pelan, lembut, mesra.
Wanita muda itu terisak kecil, dan kemudian menjawab pelan, memaksakan diri. "Bergeraklah!"
Tanpa harus diperintah dua kali, Sasuke menggerakkan pinggulnya, bergerak berirama, memberi kenikmatan duniawi untuk keduanya.
Gerakan berirama itu berubah semakin cepat, lalu bergerak liar. Keringat mengalir, mulut keduanya saling memagut, tangan mereka kembali berkelana. Keduanya saling memanggil satu sama lain, saling memuaskan, saling terpuaskan. Keduanya sesaat seolah melayang, melesat jauh dan akhirnya meledak di suatu tempat. Napas keduanya memburu saat mereka perlahan mulai melayang turun. Mereka benar-benar melakukannya. Bercinta, mereka bercinta.
"Kau milikku!" bisik Naruto mutlak. Tangannya memeluk erat punggung pria itu.
"Hn," sahut Sasuke dalam perpotongan leher Naruto.
"Aku akan menghajarmu jika kau berselingkuh!"
Sasuke mengangkat kepalanya untuk menatap wajah kekasihnya itu. "Benarkah?" tanyanya dengan sebelah alis terangkat.
"Ten-"
"Ssshhhh!" Sasuke meletakkan telunjuknya di bibir Naruto saat telinganya mendengar sebuah ketukan pada pintu kamarnya.
"Uchiha-san?" panggil seseorang dari balik pintu kamar pria itu.
Naruto mengernyit, mendengus tidak suka mendengar nada genit pada suara wanita dibalik pintu itu.
Ketukan kembali terdengar. Naruto bahkan bersumpah jika dia mendengar suara pegangan pintu, wanita dibalik pintu itu berusaha untuk masuk ke dalam kamar Sasuke?
"Apa?" Sasuke berbisik saat Naruto menyempitkan mata, menatapnya lurus. Marah, Naruto sangat marah saat ini.
"Penggemar, huh?"
Sasuke terkekeh, dan mengecup kening Naruto mesra. "Tidurlah," gumamnya pelan.
Bagaimana Naruto bisa tidur jika sebuah ketukan lain kembali terdengar, dan kini suara wanita lainnya lagi? Andai saja Naruto tahu siapa wanita-wanita itu, dia pasti akan melabrak dan mungkin menghajar mereka agar mereka tahu siapa pemilik Uchiha Sasuke.
Flashback End.
Naruto menggelengkan kepalanya, dia menjerit frustasi. Ingin rasanya dia memukul kepala Sasuke keras, dan melontarkan kalimat-kalimat pedas untuk mengeluarkan kekesalannya saat ini.
Wanita itu baru saja akan memejamkan mata saat telepon genggamnya berdering nyaring. Naruto menyambar dan mendengus saat melihat nama dalam layar telepon genggamnya. "Kenapa meneleponku malam-malam begini?" bentak Naruto, kesal.
Hening.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Naruto lagi bertambah kesal. "Apa kau menelepon untuk memutuskan hubungan kita?" Naruto kembali bertanya cepat. "Baiklah, terserah jika itu maumu!"
"Naruto?"
"Ah, jadi kau bisa bicara juga rupanya." Sindir Naruto tajam. Naruto mengepalkan tangan kirinya erat hingga memutih. Matanya mulai terasa panas, dadanya terasa sesak. Hatinya sakit?
"Aku ingin menemuimu!"
Naruto membolakan kedua matanya. Apa katanya tadi? Ingin bertemu, setelah seharian tidak memberikan kabar walau hanya sekedar basa-basi? Cih, yang benar saja!
"Tolong buka pintunya!" kata Sasuke lagi setelah tidak mendapat tanggapan. "Aku ada di depan pintu apartemenmu."
"Jangan mimpi!" bentak Naruto, lalu memutus pembicaraan keduanya. Wanita itu melempar telepon genggamnya ke atas meja di samping tempat tidur dan menenggelamkan kepala ke atas bantal. "Menyebalkan!" gerutunya tidak jelas. Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya kembali memaki kasar. "Dasar Teme! Bodoh! Jelek! Mesum! Brengsek!"
"Apa semua itu pujian untukku?"
Naruto mengangkat kepalanya dari atas bantal, perlahan kepalanya menoleh ke arah belakang. Tidak mungkin! Batinnya. Bagaimana bisa Sasuke masuk ke dalam apartemennya? "Apa yang kau lakukan disini?" teriak Naruto keras setelah pulih dari keterkejutannya.
"Aku sudah bilang, aku ingin bertemu." Balas Sasuke dengan tenang.
Naruto bangkit dari tempat tidurnya, matanya berkilat marah. Berani sekali Sasuke masuk tanpa seijinnya. "Pergi! Kau tidak berhak berada disini!" raung Naruto dengan ekspresi marah dan bahasa tubuh yang siap berperang.
"Aku merindukanmu!" Sasuke merengkuh tubuh Naruto ke dalam pelukannya.
"Pembohong!" desis Naruto namun wanita itu tidak berusaha untuk melepaskan diri. "Kenapa kau tidak menghubungiku?"
Hening.
"Kau bahkan tidak bertanya apa aku pulang dengan selamat." Lanjut Naruto, egonya terluka.
"Aku tidak bisa melakukannya."
"Apa?" tanya Naruto, nada suaranya naik satu oktaf lebih tinggi. Wanita itu mulai meronta, berusaha melepaskan diri namun gagal. "Kau brengsek!" maki Naruto kasar. Tangannya memukul-mukul keras dada bidang Sasuke.
"Jika aku meneleponmu malam itu, mungkin aku akan langsung datang ke apartemenmu dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya."
Naruto mengernyit, tidak mengerti. "A-apa maksudmu?"
Sasuke melepaskan pelukannya dan memalingkan wajah. "Seks."
"Hah?"
"Aku tidak perlu mengulanginya untuk kedua kali," desis Sasuke tajam.
"Kau bergairah hanya dengan mendengar suaraku?" tanya Naruto dengan mulut terbuka lebar.
Sasuke memasang wajah datar andalannya, dan mengangkat bahu, cuek.
"Ya, ampun. Apa hanya seks yang ada di dalam otakmu, Sasuke?"
"Anggap saja seks pertama kita sangat mengesankan, hingga aku terus menginginkanmu. Mengerti?" ujarnya tak terbantahkan.
Naruto menggeleng pelan. "Tidak." Jawabnya berani. "Dan kenapa seorang Uchiha Sasuke rela menahan hasratnya, huh?"
Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada, mulutnya menyeringai dan menjawab dengan nada puas. "Karena aku tahu jika kau masih merasakan sakit setelah seks pertamamu."
"Tentu saja sakit!" bentak Naruto mulai teringat kembali kejadian tempo hari. "Kau bercinta dengan liar!"
"Dan kau menyukainya!" balas Sasuke datar, namun wajahnya jelas memperlihatkan ekspresi penuh kemenangan.
Naruto mengigit bibir bawahnya, bungkam. Well, dia memang menyukainya. "Lalu, kenapa kau masih berada disini?" tanya Naruto mulai mengalihkan pembicaraan. "Kau sudah melihatku dan ini sudah malam, sebaiknya kau pulang dan kembalikan kunci yang kau pakai untuk masuk!" Naruto menjulurkan tangan kanannya, meminta kunci dari Sasuke.
Namun Sasuke malah menarik tangan wanita itu, memeluk pinggang ramping Naruto dengan posesif dan mencium bibir wanita itu ganas. Sasuke membutuhkan Naruto saat ini juga, sekarang, detik ini. Dan hanya ada erangan-erangan parau, panas, tertahan, saling bersahutan setelahnya hingga larut malam.
.
.
.
Naruto menguap untuk kesekian kalinya siang ini. "Kau kurang tidur?" tanya Ino, khawatir. Wanita itu menyodorkan segelas kopi hitam panas tanpa gula pada Naruto
"Terima kasih," sahut Naruto dengan senyum kecil.
"Wajahmu pucat, apa kau sakit?" tanya Ino lagi semakin cemas. Dia meletakkan tangan di atas dahi Naruto dan bernapas lega saat tahu suhu tubuh sahabatnya itu normal.
"Aku baik-baik saja," kata Naruto menenangkan. "Aku hanya sulit tidur tadi malam." Katanya beralasan. Tidak mungkin Naruto mengatakan jika dia terjaga hingga pukul dua dini hari karena Sasuke terus menginginkan seks dengannya. Juga bagaimana tubuh Naruto meresponya dengan suka-cita. Memalukan!
Ino menghela napas pendek, wajahnya masih berkerut khawatir. "Mau kuantar ke dokter?"
Naruto menggelengkan kepala pelan, "tidak perlu. Aku baik-baik saja."
"Mungkin ada sesuatu yang mengganggumu?" selidik Ino lagi.
Naruto memutar otaknya, mencoba mendapatkan alasan yang paling masuk akal. "Sebenarnya, Sasuke mengajakku makan malam." Bebernya, Naruto tersipu, tangannya menyelipkan rambut ke belakang telinga. Bagaimana dia tidak tersipu, Sasuke mengatakannya di tengah aktivitas malam mereka.
"Ah!" Ino berseru, senang. "Jadi hal itu yang membuatmu susah tidur?" godanya dengan seringai jail. "Ck, dasar gadis bodoh. Kau tidak perlu secemas itu, kau hanya perlu berdandan cantik dan memakai gaun seksi. Kapan makan malamnya?"
"Malam ini," jawab Naruto singkat.
Ino terkesiap, mulutnya terbuka lebar. Wanita itu mengamati penampilan Naruto saat ini. "Kau akan pergi seperti ini?"
Naruto mengangkat bahu, cuek mendengar nada tak percaya sahabatnya. "Tidak ada cukup waktu untuk berganti pakaian. Dan kurasa, pakaian yang kupakai tidak buruk." Jawabnya, membela diri. Naruto mengenakan rok pensil berwarna abu selutut, dipadankan blouse sutra tanpa lengan berwarna putih, penampilan cantik layaknya pekerja kantoran.
"Memang," Ino menyahut setuju. "Tapi juga tidak seksi." Keluhnya, sementara Naruto hanya tersenyum kaku membalasnya. "Dengar!" kata Ino serius. "Kau harus mulai belanja pakaian baru untuk mengimbangi penampilan Uchiha Sasuke."
Naruto hanya diam, pura-pura mendengarkan, sementara pikirannya melayang ke lemari pakaian yang disiapkan Sasuke untuknya. Isi lemari itu jelas tidak mungkin terjangkau oleh keuangan Naruto. Mengesalkan! Runtuknya dalam hati.
"Kau dengar apa kataku, kan?"
"Tentu!" sahut Naruto cepat. Wanita itu bahkan tersenyum lebar saat Ino menyempitkan mata dan menatapnya tajam.
"Kau harus tampil memesona, Naruto!" Ino kembali mengingatkan. "Banyak wanita kelas atas yang akan berusaha merebutnya darimu. Paham!"
Naruto tertegun mendengarnya, tentu saja. Wanita itu mengangguk, paham. "Aku tidak akan dikalahkan dengan mudah, Ino." Katanya begitu serius. "Aku akan menjambak rambut mereka dan memberikan perlawanan sengit!"
"Bagus!" seru Ino senang. "Kau memang sahabatku!"
Sore pun kembali datang dengan cepat setelahnya. Tepat pukul lima sore, Sasuke menghubungi Naruto, memberitahunya jika dia sudah datang untuk menjemputnya.
Naruto memeriksa penampilannya di toilet sebelum keluar gedung untuk menemui Sasuke. Yamato membukakan pintu mobil untuknya, senyum Naruto pun merekah saat melihat Sasuke itu duduk di kursi penumpang.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Sasuke sambil melayangkan sebuah ciuman cepat di bibir Naruto.
"Lumayan," jawab Naruto singkat. Mereka kembali terdiam saat Yamato kembali duduk di belakang kemudi dan mulai menyalakan mobil lalu membawanya kembali ke jalan raya yang cukup padat sore ini.
"Rencana malam ini berubah," kata Sasuke memulai pembicaraan. Naruto melirik ke arahnya, tidak mengerti. "Kita tidak jadi makan malam?" tanyanya jelas terdengar kecewa.
"Kakashi bersikeras untuk datang berkunjung malam ini, aku tidak bisa menolaknya." Jawab Sasuke terlihat kesal. Bagaimana dia tidak kesal jika rencananya gagal.
"Jadi, Kakashi-san akan datang berkunjung?"
Sasuke mengernyit, aneh mendengar suara Naruto yang terlalu antusias.
"Jangan menatapku seperti itu," ujar Naruto. Dia melayangkan kecupan ringan di pipi kiri Sasuke, sangat cepat namun mampu mengubah suasana hati Sasuke yang buruk menjadi berbunga-bunga. "Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, lagi pula, dia mantan manajermu. Bukankah menyenangkan jika kita bertemu teman lama?"
Sasuke memalingkan muka, suasana hatinya kembali buruk.
"Ayolah! Tidak akan seburuk itu!" rayu Naruto terdengar manis. "Ngomong-ngomong, apa aku harus memasak sesuatu untuknya?"
"Tidak!" jawab Sasuke dingin. "Anko sudah mempersiapkan semuanya."
Naruto menggigit bibir bawahnya, sedikit canggung karena suasana hati Sasuke yang tidak kunjung membaik selama perjalanan ke apartemen pria itu. Ah, pria satu ini memang sulit ditebak suasana hatinya.
.
.
.
Tepat pukul tujuh malam, Kakashi pun datang. Namun tidak seperti perkiraan sebelumnya, pria itu tidak datang seorang diri. Kakashi datang bersama dengan Shikamaru, Neji dan Kiba. Sungguh kejutan yang menyenangkan, pikir Naruto.
Kakashi sama terkejutnya saat melihat Naruto berada di rumah Sasuke, begitu pun dengan Kiba. "Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Kiba masih dengan ekspresi terkejut yang terlihat jelas.
"Dia Nyonya rumah ini," sahut Sasuke memeluk Naruto dari belakang.
"Ah...!" seru Kiba dan Kakashi secara bersamaan. Hanya Shikamaru dan Neji yang terlihat tidak terkejut mendengarnya. Dengan santai keduanya masuk dan berjalan menuju ke ruang tengah. Neji menundukkan diri di sofa dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan malam kota Tokyo, sedangkan Shikamaru memilih duduk di sofa sebrang Neji.
"Sejak kapan kalian bersama?" tanya Kiba penasaran. "Kenapa kalian merahasiakannya dari kami?
"Karena kau bermulut besar!" sahut Kakashi santai. Pria itu duduk di samping Shikamaru dan mengeluarkan sebuah buku bersampul jingga dari dalam saku jasnya. Kiba merengut dan mendelik tajam, tidak terima.
"Kau masih membaca buku porno itu?" tanya Naruto tak percaya.
"Dia tidak akan pernah berubah!" gerutu Kiba yang sepertinya masih sebal karena disebut mulut besar. Ayolah, Kiba tidak akan membocorkan mengenai berita besar ini. Dia hanya akan memberitahu istrinya, dan mungkin Hinata-lah yang akan menyebarkannya pada seluruh teman-teman SMA. Jadi, bukan Kiba yang bermulut besar, kan? Lagipula, ini berita bahagia, kenapa harus dirahasiakan? Pikir Kiba tidak mengerti.
Sasuke membantu Naruto membawa makanan untuk mengganjal perut ke ruang tengah, juga dua botol anggur putih berkualitas tinggi untuk menemani obrolan ringan mereka.
Mereka nampak akrab berbincang, membahas masa lalu, namun tidak menyinggung hubungan Naruto dan Sasuke di masa lalu. Kakashi dan yang lainnya paham betul jika Sasuke tidak akan menyukainya jika mereka menyinggung hal satu itu.
"Ada apa dengan Neji?" tanya Naruto, menyikut perut Kakashi yang masih asyik membaca buku favoritenya. Neji memang terlihat lebih pendiam dan bicara seperlunya. Senyumnya pun terkesan hambar.
Kakashi mengalihkan pandangannya pada Neji sekilas dan berbisik di telinga Naruto, "dia sedang patah hati. Karena itu aku membawanya kesini agar dia tidak mabuk-mabukkan di luar. Itu akan sangat merepotkanku. Kau tahu, kan!"
Naruto mengangguk kecil. Woah, seorang Hyuuga Neji patah hati? Uh, pasti akan turun hujan besar, batin Naruto. Naruto berdiri menghampiri Neji dan menepuk bahu kanan pria itu pelan. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Sasuke, Shikamaru, Kiba dan Kakashi menghentikan pembicaraan mereka dan mengamati interaksi keduanya dalam diam.
Neji menoleh, tersenyum kecil dan menyesap anggurnya pelan, nikmat. "Seorang wanita menolakku. Dan tidak, aku tidak baik-baik saja." Sahut Neji dengan nada suara berat.
Woahhhh... Neji benar-benar patah hati rupanya. Pikir kelima orang di dalam ruangan itu kompak. "Katakan Naruto, apa kekuranganku?" ujarnya memohon.
Oh, tolong jangan paksa Naruto untuk mengatakannya. Mohon wanita itu di dalam hati.
"Aku juga tidak habis pikir bagaimana kau malah memilih untuk kembali ke Sasuke," kata Neji lagi. Sasuke nampak tenang, walau auranya jelas tidak setenang sikapnya. "Aku bahkan lebih tampan dari Sasuke, iya-kan?"
Ck, kenapa arah pembicaraan mereka melenceng jauh? Tanya Naruto dalam hati. "Tentu saja kau lebih tampan," sahut Naruto tanpa beban. Sah-sah saja, kan jika dia ingin membalas kekesalannya tempo hari pada Sasuke.
"Kalian dengar?" ujar Neji keras pada keempat orang pria di depannya. "Naruto saja mengakui ketampananku." Tukasnya bangga. "Pesonaku jauh lebih bersinar daripada Sasuke, iya-kan?"
"Tentu saja!" sahut Naruto begitu semangat. Kakashi dan Kiba melirik takut ke arah Sasuke yang kini memasang ekspresi dingin.
"Kalau aku mendekatimu lebih dulu, kau pasti memilihku, kan?" tanya Neji lagi.
"Pasti," jawab Naruto lagi. Diabaikannya aura hitam yang menguar kuat dari tubuh Sasuke.
"Berarti wanita itu sangat bodoh karena menolakku," Neji memasang pose berpikir. "Ck, dia benar-benar bodoh karena menolakku."
Dia pintar, batin Naruto. Dia sangat pintar karena berani menolak seorang playboy seperti Neji. Karena hal itu akan membuat Neji penasaran dan terus mengejar wanita itu.
"Naruto, bagaimana jika kau memutuskan Sasuke dan menjadi kekasihku?"
"Ck, sampai mana permainan ini akan berakhir?" Kiba kembali melirik takut ke arah Sasuke.
"Permainan ini akan berakhir dengan kematian keduanya di tanganku," desis Sasuke dingin membuat Kiba, Kakashi dan Shikamaru merinding mendengarnya.
Neji tertawa keras mendengarnya, pria itu mengangkat gelas ke udara dan menatap Sasuke dengan santai. "Sasuke, kau tahu jika aku hanya bercanda."
Sasuke terdiam, membuat suasana di dalam ruangan itu semakin dingin dan canggung. "Kau tahu jika kau tetap akan mati di tanganku, kan?"
Dan gelak tawa pun terdengar menggelegar di dalam ruangan itu. Ya ampun, Sasuke benar-benar cemburu. Oh, sungguh situasi yang sangat langka. Naruto tertawa tak kalah keras, matanya melirik ke arah Sasuke. Wanita itu malah balik menatang saat Sasuke menatapnya tajam. Siapa takut? Tukas Naruto dalam hati dengan berani. Dan suasana pun mencair setelahnya, penuh keakraban dan hangat.
Naruto kini hanya bisa menyesali kebodohannya dalam hati. Dia bisa tahu jika Sasuke akan membalas perbuatannya malam ini. Tidak, ia harus melarikan diri. Kedua pipinya memanas hanya karena membayangkannya. Naruto bahkan ingin memukul kepala Sasuke saat pria itu tersenyum sinis kearahnya, dia jelas bisa membaca apa yang ada di pikiran Naruto saat ini dan itu membuatnya merinding ngeri.
"Uchiha-san, ada seseorang yang mencari anda." Lapor Anko memutus pembicaraan di ruangan itu.
Sasuke menjawab datar. "Aku tidak menunggu tamu lain. Siapa namanya?"
"Itachi, namanya Itachi." Jawab Anko.
Ruangan itu hening seketika, udara terasa berat setelah nama itu keluar dari mulut Anko.
"Apa kabar, Sasuke?"
Sasuke melirik lewat bahunya, di belakangnya, Itachi berdiri tegak, penuh percaya diri dengan senyum kecil di wajahnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Sasuke bergerak cepat dari atas kursi dan menatap wajah kakaknya itu dengan tatapan tidak bersahabat.
"Apa aku perlu meminta ijin untuk menemui adikku sendiri?" sindirnya tajam.
"Lebih baik kami pulang dan memberi kalian ruang untuk bicara." Kakashi berdiri untuk pamit. "Kami akan datang lagi lain waktu," tambahnya. Kakashi membungkuk kecil pada Itachi sebelum melenggang pergi diikuti Neji, Shikamaru dan Kiba di belakangnya.
"Sebaiknya aku juga pulang," ujar Naruto.
"Kau tetap di sini!" seru Sasuke mutlak. Naruto pun akhirnya memilih untuk mengalah dan kembali duduk dengan tidak nyaman.
"Kita bicara di ruang kerjaku!" kata Sasuke lagi begitu dingin.
"Kau tidak akan memperkenalkan kami?" tanya Itachi. "Itu tidak sopan, Sasuke!" tegurnya, pura-pura tersinggung.
"Dia kekasihku." Kata Sasuke tenang. "Katakan apa yang mau kau bicarakan?"
Itachi menelengkan kepala ke satu sisi, oh, dia sangat tahu bagaimana membuat Sasuke kesal. "Bukankah kita akan bicara di ruang kerja?"
"Tidak perlu"
Itachi mengangkat bahu, cuek. "Baiklah," katanya begitu santai berbeda dengan Sasuke. "Ibu memintamu pulang minggu depan."
Sasuke tertawa sinis mendengarnya. "Jadi sekarang kau memanggilnya 'Ibu'?"
"Begitulah."
"Ck, kau sangat lapang dada." Sindir Sasuke. "Apa dia masih suka menggodamu? Bukankah dia mantan kekasihmu?"
Naruto bergerak semakin gelisah di sofa. Suasana di ruangan itu semakin berat. Kedua pria itu jelas dalam keadaan emosi.
"Aku bukan datang untuk bertengkar, Sasuke!" rahang Itachi mengeras, marah. Kedua tangannya terkepal erat. "Ibu dan Ayah menginginkanmu datang di pesta perayaan hari pernikahannya minggu depan."
"Aku tidak peduli!" sahut Sasuke dingin. "Katakan itu pada ayah dan ibumu!"
"Brengsek!"
.
.
.
TBC
Hai, saya kembali lagi. ^-^
Terima kasih sudah mampir baca dan meninggalkan review. Maaf reviewnya tidak dibalas satu per satu. Untuk yang PM sudah saya balas yah (:
Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
