A/N : Maaf, Kura telat update lagi. Sebenarnya Kura mau update Jumat kemarin, tapi kok filenya g bisa di-upload. Sebagai permintaan maaf Kura, Kura update double chapter.

Thank you for all reviewer. And for silent reader too.

Buat reviewer yang udah nyumbang nama buat baby-nya DraMione, Kura ucapin terima kasih dan maaf karena harus ngecewain kalian. Kura g akan pake Scorpius buat nama baby pertama DraMione. Kura tetep pingin jadiin Scorp seumuran sama Albus, jadi buat anak pertamanya mereka Kura pake nama yang lain. Kura akan pake nama pernah dipake oleh keluarga Black, tepatnya nama putra dari Phineas Nigellus dan kakek dari Sirius, Arcturus.

Btw, met baca...

Chapter 7

Disclaimer : Harry Potter punyanya JK Rowling.

oOOo oOOo oOOo

Draco masih terpaku. Dia belum bergerak sedikitpun setelah mendengar berita kehamilan isrinya itu. Wajahnya menampakkan ekspresi shock. Berita yang disampaikan oleh istrinya sangat mengejutkannya, ia sampai tak bisa berkata-kata. Meski mengejutkannya, kehamilan istrinya itu bukanlah hal yang aneh mengingat 'aktivitas' yang mereka lakukan setiap malam. Tapi ia tak menyangka akan secepat ini.

"Master Draco," Panggil peri rumah yang membawakan sari lemon pesanan Draco.

Tak ada jawaban dari Tuannya itu.

"Paws letakkan sari lemon di meja, Master," Ucap peri rumah itu lagi.

Sekali lagi tak ada kata-kata keluar dari mulut Draco.

"Draco?" Panggil Hermione yang sejak tadi tak mendengar respon apapun dari suaminya itu, masih dengan mata yang terpejam.

Hermione masih belum mampu untuk membuka matanya karena begitu ia membuka matanya, pandangannya akan berputar-putar.

"Draco?" Panggilnya lagi. Kali ini ia menambahkan remasan pelan pada tangan Draco yang tengah bertengger di atas perutnya.

Tindakannya itu mendapatkan respon.

Tangan Draco membelai rambutnya lagi. Ia juga membalas remasan tangan Hermione dengan menangkupkan tangannya di atas tangan istrinya itu. Hermione juga dapat merasakan tatapan Draco padanya. Hermione membuka matanya perlahan, rasa pusing yang menderanya telah mereda. Mata coklatnya bertemu dengan mata abu-abu Draco. Dan mata itu menatapnya khawatir.

"Draco? Kau baik-baik saja?"

Draco tertawa lirih akan pertanyaan aneh Hermione.

"Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu," Jawab Draco seraya membantu Hermione untuk duduk. "sari lemon pesananmu sudah tiba."

Hermione mengangguk. Ia menyandarkan tubuhnya ke tumpukan bantal di belakangnya.

"Masih mual?" Tanya Draco seraya memberikan segelas sari lemon itu kepada Hermione.

Hermione menggeleng, "Sudah tidak lagi."

Sari lemon yang diminumnya itu tak hanya meredakan rasa mualnya tapi juga menghilangkan rasa eneg yang tertinggal di mulutnya. Pusingnya juga semakin berkurang.

"Kau yakin kau hamil?"

"Yah, aku belum yakin seratus persen. Tapi petunjuk-petunjuk yang ada menegaskan bahwa aku hamil. Aku sudah telat dua bulan ini, rasa mual di pagi hari, mudah lelah, dan selera makanku yang berubah," Jawab istrinya.

Draco mengangguk dan berkata, "Kita akan menanyakannya pada ibu nanti."

Hermione menganggukkan kepalanya menjawab saran Draco.

Selama beberapa saat tak ada kata-kata keluar dari mulut mereka. Draco memandanginya dengan pandangan yang berbeda dengan pandangannya selama ini. Pandangannya jadi sedikit melembut. Sesekali ia menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu, menyusuri garis wajahnya, dan terkadang membelai pipinya.

Hermione menatap wajah pucat Draco yang dibingkai oleh rambut perak itu. Baru kali ini Hermione merasakan perhatian intens Draco. Seolah-olah Hermione-lah orang terpenting dalam hidupnya. Entah kenapa pikiran itu membuat perutnya serasa dipenuhi ratusan kupu-kupu.

"A...apa tak ada yang ingin kau katakan?" Tanya Hermione memecah keheningan.

"Aku tidak tahu harus mengatakan apa," Jawab Draco jujur.

"Kau tidak senang?" Tanya istrinya lagi.

"Aku berbohong jika mengatakan aku tak senang. Bagaimanapun juga ini anakku. Dan dalam waktu yang bersamaan aku juga sedih," Jawab Draco atas pertanyaan Hermione.

Hermione menatapnya dengan pandangan tak mengerti.

"Anak ini," Ucap Draco lagi seraya menyentuh perut Hermione yang masih datar, "takdir anak ini telah ditentukan. Ia akan menjadi Pelahap Maut apapun yang terjadi."

"Kau juga begitu kan, Draco?" Tanya Hermione hati-hati.

Tangan Draco mengepal di atas perut Hermione. Ia tak menjawab.

"Maaf," Lanjut Hermione sambil menyentuh tangan Draco yang mengepal itu, "aku tidak bermaksud..."

"Ya, kau benar," Jawab Draco dengan senyuman pahit di bibirnya. "anak ini adalah anak Pelahap Maut, sama sepertiku."

"Draco..."

"Ini adalah takdir anak ini. Terlahir sebagai anakku," Jawab Draco tegas.

"Tapi, aku tidak ingin anakku jadi Pelahap Maut," Ucap Hermione tak kalah tegas. Rupanya ia lupa keadaan dirinya sekarang ini. Ia lupa kalau sekarang ia juga seorang Pelahap Maut.

"Kau tentu tidak lupa apa yang dikatakan Pangeran Kegelapan sebelum kita menikah?" Tanya Draco, membalas ucapan tegas dari Hermione.

Pertanyaan Draco itu membuat napas Hermione tercekat. Seketika itu airmata meleleh di pipinya. Ia lupa apa alasan ia dibiarkan hidup oleh Lord Voldemort. Ia lupa kalau pernikahannya dengan orang di depannya sekarang ini semata-mata untuk 'menghasilkan' penyihir-penyihir berdarah campuran.

Draco mengusap lelehan airmata yang mengalir di pipi istrinya itu.

"Dra.. Draco... Apa... apa yang harus kita lakukan?" Isak Hermione,

"Saat ini tak ada yang bisa kita lakukan." Jawab Draco seraya meraih Hermione, mengurung istrinya yang tengah menangis itu di pelukannya. "mungkin suatu saat, kita bisa melakukan sesuatu."

Hermione menangis terisak-isak di dada Draco. Ia memeluk Draco dengan erat seakan-akan Draco adalah pegangan terakhir yang ia miliki.

oOOo oOOo oOOo

"Kau tidak sarapan, Hermione?" Tanya Narcissa yang menyadari Hermione sama sekali tak menyentuh makanannya.

Hermione menoleh menanggapi pertanyaan Narcissa, "Maaf, Ibu. Aku tak punya nafsu makan pagi ini."

"Kau baik-baik saja?" Tanya Narcissa lagi.

Hermione mengangguk dan menjawab, "Aku baik-baik saja, Ibu."

"Kau yakin?"

Hermione tak menjawab pertanyaan Narcissa kali ini. Ia malah menatap Draco, meminta bantuan. Ia masih belum yakin akan mengatakan kehamilannya sekarang atau nanti.

"Ibu, setelah sarapan ini ada yang ingin kami bicarakan." Ucap Draco menjawab permintaan tak terucap istrinya.

"Okay." Jawab Narcissa sambil memperhatikan putra dan menantunya yang tengah berbicara lewat pandangan mata.

Mereka kembali meneruskan sarapan mereka yang tersela oleh pembicaraan tadi. Lucius yang tak mengeluarkan satu patah kata pun dari mulutnya dalam pembicaraan singkat mereka, ternyata ikut memperhatikan mereka. Ia yakin putra dan menantunya akan mengatakan sesuatu yang besar.

Narcissa, Draco dan Hermione berjalan menyusuri koridor gelap Malfoy Manor menuju ruang duduk yang samaseperti dulu. Ruang duduk yang di dalamnya terdapat lukisan Abraxas Malfoy. Ruangan ini sama seperti dua bulan lalu. Draco dan Hermione duduk di sofa panjang, sementara Narcissa duduk di sofa tunggal.

"So?"

"Ibu, Hermione mungkin hamil," Ucap Draco tanpa basa-basi.

"Oh. Benarkah?" Seru Narcissa. "meski begitu, kita harus memastikannya."

Narcissa mengambil sebuah botol ramuan dan sebuah gelas. Kemudian meletakkannya di meja, tepat di depannya. Ia menuangkan sebagian ramuan itu ke dalam gelas.

"Well, aku butuh dua-tiga tetes darahmu, Dear," Ucap Narcissa pada Hermione.

Hermione mengulurkan tangan kanannya pada Narcissa. Dengan segera, Narcissa membuat sayatan kecil di jari telunjuk menantunya itu dan menampung darah yang menetes itu ke dalam gelas yang berisi ramuan.

Ramuan yang sebelumnya bening itu berubah warna menjadi biru.

Narcissa tersenyum sebelum berkata, "Istrimu hamil, Draco."

Hermione segera menatap suaminya itu dengan perasaan yang tak karuan. Suaminya itu balas menatapnya. Tak ada kata-kata yang keluar dari keduanya karena pandangan mereka yang saling bertemu telah mengungkapkan segalanya.

"Terima kasih, Ibu," Ucap Draco pada akhirnya. "kami akan kembali ke kamar kami. Sepertinya Hermione perlu istirahat."

Narcissa tersenyum, "Aku akan mengunjungi kalian nanti. Dan akan kukirimkan Paws untuk membawakan sesuatu. Kau butuh makan, Dear."

Keduanya berpamitan dan melenggang keluar dari ruangan itu, kembali ke kamar mereka.

Narcissa memandang keduanya dengan senyuman lebar di wajahnya. Sebentar lagi ia akan mempunyai cucu. Tak lama lagi Malfoy Manor akan diselimuti oleh suara tawa dan tangis bayi. Memikirkannya saja sudah membuat ia senang. Saking senangnya, tak terlintas sedikitpun di pikiran Narcissa kalau Pangeran Kegelapan juga menginginkan bayi itu.

oOOo oOOo oOOo

Draco's POV

Aku menghempaskan tubuhku di sofa yang terdapat di perpustakaan. Tak lupa dengan segelas cognac di tanganku. Aku duduk menghadap ratusan buku yang terjajar rapi di rak di ruangan itu. Meski buku yang ada di sana tidak sebanyak yang ada di perpustakaan utama. Buku-buku yang ada di ruangan itu adalah kebanyakan adalah buku yang aku gunakan di Hogwarts dulu.

Kusesap cognac yang ada di tanganku, rasa hangat segera menyebar ke tubuhku. Udara malam yang dingin menyentuh kulitku terhapus oleh minuman beralkohol itu. Ini adalah pertama kalinya aku keluar saat malam telah larut. Sejak malam pernikahanku waktu, kebiasaanku yang satu ini hilang. Ini semua karena Hermione. Keberadaan Hermione di kamarku sejak saat itu adalah obat yang mujarab untuk menenangkan pikiranku yang kusut. Kehangatan tubuh Hermione bagaikan ramuan tidur tanpa mimpi yang terkuat.

Sebelum aku menikah dengannya, seringkali aku terbangun di tengah malam dan tak dapat lagi memejamkan mata. Aku terus menerus dihantui wajah-wajah orang yang telah aku bunuh. Terutama wajah Dumbledore waktu itu.

Aku menghela nafas panjang. Ku-isi lagi gelasku yang telah kosong dengan minuman beralkohol yang sama. Dua bulan kehidupan pernikahan yang aku jalani bersamanya adalah saat 'terbebas' yang pernah aku alami selama dua puluh tahun kehidupanku. Aku terbebas dari segala kekangan ayahku dan Pangeran Kegelapan.

Awalnya aku tak begitu menyukai kehadiran dirinya di kehidupanku yang penuh kekangan ini. Aku merasa keberadaan musuh terbesarku di Hogwarts –setelah Potter tentu saja- akan menambah kekangan yang telah aku alami saat itu. Tapi dugaanku salah. Bersama dirinya aku merasa beban yang ada di pundakku terlepas, kekangan yang mencekikku jauh berkurang. Dan entah sejak kapan aku tak bisa lagi jauh darinya

Kadang aku bertanya pada diri sendiri, apa aku jatuh cinta padanya.

Aku terkekeh pelan saat pertanyaan itu terlontar dari pikiranku. Menjalani dua bulan kehidupan bersama belum cukup bagiku untuk jatuh cinta pada seorang wanita. Apalagi mengingat dulu dia adalah musuh terbesarku. Dan tidak lupa dengan fakta dia adalah Darah Lumpur.

Seumur hidup aku selalu dijejali doktrin tentang kedudukan Darah Lumpur tak lebih tinggi dari peri rumah. Aku selalu dituntut untuk membenci mereka dan memperlakukan mereka bukan seperti seorang penyihir. Sulit untuk menghilangkan doktrin-doktrin yang sudah mendarah daging itu. Meski aku sudah tak pernah lagi memanggilnya dengan 'Darah Lumpur' dan memperlakukannya seakan dia adalah sampah, aku tak bisa begitu saja mencintainya. Lagipula aku adalah tipe orang yang sulit jatuh cinta.

Ketika pertanyaan yang kulontarkan pada diriku sendiri itu aku ganti dengan 'apa aku menyukainya?'. Tanpa pikir panjang aku akan mengatakan iya.

Aku memang menyukainya. Dia adalah orang terdekatku saat ini. Tanpa perlu bercerita panjang lebar, dia sudah tahu apa masalah yang aku alami. Dia juga tak pernah mengatakan atau menanyakan apapun saat aku terbangun akibat mimpi buruk. Dia hanya memelukku sampai aku memejamkan mata lagi.

Aku menyandarkan tubuh lelahku di sandaran sofa itu. Hari ini hari yang sangat melelahkan. Hari ini aku awali dengan perasaan kaget setelah mendengar kehamilan Hermione. Meski kaget, aku senang dia hamil, bagaimanapun juga anak yang dikandungnya adalah anakku. Tapi perasaan senang itu tak bertahan lama karena aku sadar kalau anak yang dikandung istriku saat ini adalah anak yang begitu diinginkan oleh Pangeran Kegelapan.

Anakku akan menjadi Pelahap Maut sepertiku.

Aku merasa kasihan pada anak ini karena terlahir sebagai anak seorang Pelahap Maut. Apalagi ia begitu dinantikan oleh Pangeran Kegelapan untuk dijadikan pasukannya. Entah benar atau tidak rencana Pangeran Kegelapan untuk menjadikan anak ini sebagai Pelahap Maut, aku tidak yakin. Mana mungkin orang seperti dia mau menunggu setidaknya belasan tahun sampai anak ini siap. Aku yakin Pangeran Kegelapan pasti punya rencana lain. Aku akan mencari tahu hal itu nanti.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling perpustakaan kecil ini. Dan pandanganku tertumbuk pada tumpukan buku yang tergeletak di meja. Buku itu adalah buku yang dibaca Hermione akhir-akhir ini. Aku tahu tak ada yang bisa ia lakukan di rumah ini untuk mengurangi rasa bosan selain membaca buku. Untung saja ia kutu buku. Ia sama sekali tidak dijinkan untuk keluar dari bangunan Malfoy Manor ini. Bahkan hanya untuk berjalan-jalan di kebun.

Melihat buku itu, aku teringat akan keadaan Hermione hari ini. Well, keadaan Hermione hari ini sangat buruk –bagiku-. Setelah sarapan dan kembali ke kamar, Hermione kembali tidur bergelung di atas ranjang dan menangis. Tak ada yang bisa aku lakukan untuk menghentikan tangisnya karena aku memang tahu bagaimana cara menghibur orang yang menangis. Setelah menangis kurang lebih dua jam, dia tertidur.

Hermione terbangun saat jam hampir menunjukkan pukul dua siang. Dan ia melanjutkan kegiatan yang ia lakukan sebelum tertidur, menangis. Ia juga bersikeras untuk tak mau makan. Demi Merlin, apa dia lupa kalau ada nyawa lain di dalam tubuhnya. Kalau saja orang di depanku saat itu bukanlah Hermione yang sedang hamil, mungkin aku sudah memantrainya agar mau makan. Setelah membujuk, merayu dan memohon agar ia mau makan, akhirnya ia mau makan juga.

Aku menghela nafas panjang dan menyesap kembali cognac-ku. Aku lelah sekali hari ini. Aku ingin menenangkan diri sejenak di ruangan ini selagi Hermione tertidur. Aku meletakkan gelas cognac-ku di meja terdekat, merenggangkan tubuhku, dan memejamkan mata.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara pintu terbuka dan kemudian aku mendengar suaranya memanggilku.

"Draco.."

"Aku di sini," Jawabku.

Aku membuka mataku dan melihatnya berdiri di ambang pintu.

"Kau tidak tidur?" Tanyanya, masih tetap di posisi semula, terlihat ragu-ragu untuk masuk atau tidak.

Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Matanya sembab dan sedikit memerah. Dia benar-benar terlihat kacau. Alih-alih aku tak menjawab pertanyaan itu. aku bangun dari dudukku dan berjalan menghampirinya.

"Kenapa kau bangun?" Tanyaku.

"Kau tidak ada di sampingku, jadi aku mencarimu," Jawabnya.

Aku tertawa kecil. Rupanya dia sama sepertiku. Tak bisa berjauhan satu sama lain. Aku lingkarkan tanganku ke pinggangnya dan mulai berjalan meninggalkan perpustakaan.

"Ayo kita kembali ke kamar!" Ajakku.

End POV

oOOo oOOo oOOo

Keesokan harinya, Draco berjalan menyusuri koridor menuju salah satu paviliun di Malfoy Manor. Ia akan menemui Pangeran Kegelapan untuk memberitahu tentang kehamilan istrinya. Ia melakukannya sendiri karena Hermione masih dalam kondisi tidak baik. Seperti pagi sebelumnya, ia kembali mual dan muntah. Meskipun perutnya tak terisi apapun sejak sore kemarin, ia terus saja mual. Keadaan ini lebih parah dibandingkan kemarin pagi.

Untung saja ibunya datang membantunya. Ibunya membantu Hermione kembali ke ranjang. Ibunya juga membawakan sari lemon, biskuit gandum dan roti panggang, menu yang sama seperti siang kemarin. Pertama-tama Hermione meminum sari lemonnya, kemudian ia memakan biskuit gandumnya. Roti panggang yang dibawa oleh ibunya, masih belum tersentuh saat Draco keluar dari kamar mereka.

Seorang Pelahap Maut, yang Draco ketahui bernama Macnair membukakan pintu menuju tempat Pangeran Kegelapan berada. Draco masuk ke dalam ruangan di depannya bersama pria tua itu.

"Malfoy Jr.," Sapa Pangeran Kegelapan pada Draco.

"Tuanku," Balasnya sambil membungkukkan badan.

Pangeran Kegelapan sepertinya telah menantikannya. Ia duduk di tempat biasanya. Mata merahnya menatap Draco tajam. Melihat tatapannya itu, Draco sedikit ngeri.

"Aku telah menantikanmu," Ucap pria tak berfisik sempurna itu. "kau pasti punya berita menggembirakan untukku bukan?"

"Tuanku, saya ingin menyampaikan bahwa istri saya tengah mengandung," Ucap Draco masih dengan badan tertunduk.

"Kabar bagus," Ucap Pangeran Kegelapan dengan nada ceria yang dibuat-buat.

"Ya, Tuanku," Jawab Wormtail.

"Pastikan istrimu meminum ramuan yang aku berikan padanya, Malfoy Jr.!" Ucap Pangeran Kegelapan sebelum menyuruh Draco pergi.

Draco membungkukkan badan sekali lagi sebelum keluar dari ruangan itu, meninggalkan Pangeran Kegelapan bersama Wormtail dan Macnair.

"Tuanku," Panggil Wormtail pada tuannya itu.

"Ya, Wormtail?"

"Tak lama lagi, Tuanku akan berkuasa kembali. Tak sampai delapan bulan lagi Tuanku akan mendapatkan tubuh yang sempurna. Tak lama lagi, Tuan," Cicit Wormtail.

"Ya, segera setelah bayi itu lahir. Aku akan mendapatkan tubuhku kembali."

Macnair yang sejak tadi diam, buka suara juga, "Tuanku?"

"Ya, Macnair. Kau tentu ingin tahu apa yang kami bicarakan bukan?" Tanya Pangeran Kegelapan pada bawahannya itu.

"Tuanku..."

"Aku akan memberitahumu sebagai imbalan kau telah menangkap McGonagall," Ucap Pangeran Kegelapan seraya melambaikan tangan abnormalnya ke arah Macnair. "Kemarilah!"

"Terima kasih, Tuanku."

"Aku akan menggunakan bayi Draco Malfoy untuk mengembalikan tubuhku seperti semula," Ucapnya dengan nada dingin setelah Macnair duduk bersimpuh di dekat kakinya.

"Maksud Tuanku?"

"Bayi penyihir yang memiliki darah yang sama denganku -berdarah campuran- akan menjadi tumbal dalam upacara kebangkitanku," Ucapnya dengan seringai kejam.

"Tuanku..."

"Darah bayi itu akan menjadi darahku, dagingnya akan menjadi dagingku, dan kekuatan sihirnya akan menambah kekuatan sihirku."

"Tuanku, maaf atas kelancangan hamba. Tapi kenapa Tuan harus menunggu selama itu? Hamba bisa mencarikan bayi penyihir berdarah campuran di seluruh Inggris hari ini juga." Tawar bawahannya itu.

"Tidak, Macnair!" Seru Pangeran Kegelapan tegas. "Bayi dari Draco Malfoy dan Darah Lumpur Granger-lah yang aku inginkan."

"Maaf, Tuanku."

"Aku sudah menyiapkan bayi itu untuk menjadi tumbalku bahkan sebelum ia lahir."

"Iya, Tuanku."

oOOo oOOo oOOo

Draco memasuki kembali kamarnya setelah ia menemui Pangeran Kegelapan tadi. Istrinya masih berada di atas ranjang. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, memakan roti panggang selai blueberry. Di dekat ranjang duduklah ibunya.

"Draco, kau sudah kembali?" Tanya ibunya. "bagaimana reaksinya?"

"Aku tak tahu dengan jelas bagaimana reaksinya. Nada bicaranya yang ceria malah membuatku merinding," Jawab Draco sambil berjalan menghampiri mereka dan kemudian duduk di dekat kaki Hermione.

"Begitukah?" Ucap ibunya menanggapi.

"Dia juga ingin aku memastikan Hermione meminum ramuan yang ia berikan padanya. Ramuan apa yang dia maksud?" Ucap Draco pada Hermione.

"Ramuan untuk meningkatkan kekuatan sihir anakmu," Jawab Narcissa.

"Ibu tahu?" Tanya Draco tak menyangka kalau pertanyaannya pada Hermione akan dijawab ibunya.

"Dia memberikannya lewat ibu, tentu saja ibu tahu," Jawab ibunya lagi.

"Kau akan meminum ramuan itu?" Tanya Draco pada Hermione lagi.

"Aku tidak mau meminum ramuan apapun darinya," Jawab Hermione tegas. "meskipun kau memaksaku."

"Aku juga tak ingin kau meminum ramuan itu. Aku punya firasat ramuan itu bukan hanya sekedar ramuan biasa. Sekarang dimana ramuan itu, aku akan membuangnya," Ucap Draco tegas.

Hermione menunjuk laci yang ada di meja riasnya. Draco segera mengambil botol ramuan itu dan melenyapkan ramuan berwarna biru torquise itu. Kemudian, Draco mengisinya kembali dengan cairan yang berwarna sama dan memberikannya pada Hermione.

"Apa ini, Draco?" Tanya Hermione penasaran.

"Sari blueberry dan mint," Jawabnya. "minumlah ini agar dia tidak curiga."

Hermione mengangguk. Draco telah menemukan solusi yang tepat.

"Kau sudah tidak mual lagi? Tidak pusing?" Tanya Draco saat mereka sudah berdua saja. Narcissa berpamitan setelah Hermione menghabiskan seluruh roti panggang yang ia bawa.

"Tidak," Jawab Hermione dengan gelengan kepala.

Draco tersenyum tipis mendengar hal itu. Ia meremas tangan Hermione yang tengah dipegangnya. Ia juga menyibakkan anak rambut yang menutupi dahinya. Hermione merasakan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya bertambah dua kali lipat.

oOOo oOOo oOOo

TBC

End Note : Chapter 7 selesai di sini.

Rencananya Om Voldy akhirnya keungkap juga. Gimana reader?

Sejak awal memang Draco udah disiapin buat 'produksi' penyihir berdarah campuran. Masuknya Hermione itu adalah bonus bagi Om Voldy.

Kali ini Kura g bales review lewat PM, yach. Kura bales review di sini aja.

Zhavier Malfoy : Makasih reviewnya, yach... Bayinya DraMione jelas cowok, tapi namanya bukan Scorp. Kura udah buat namanya sejak awal cerita ini dibuat.

Tsukiyomi Aori Hotori : Makasih dah review... Ini Kura update-in double chapter.

Wookie : Makasih udah review... Gomen, Kura g bisa update kilat, sebagai gantinya kali ini Kura update dua chap sekaligus.

Aquasphinx : Makasih udah review... Makasih juga pendapatnya.

Chiiku : Makasih dah review... Ini Kura udah update, 2 chap sekaligus. Kura putusin anaknyacowok. Tapi namanya bukan Scorp. Kura mau pake nama yang udah Kura siapin.

blackCherryBee : Makasih reviewnya... Wah, udah ikutan dari awal, yach... Pendirian Draco awalnya emang masih belum jelas, karena dia masih bingung. Sekarang ia sudah tahu akan memihak siapa. Ia akan berpihak pada Hermione. Sumbangan nama tengahnya boleh juga. Kayaknya cocok sama Arcturus, tuh. Baby showernya ditunggu di chapter 10.

Winey : Makasih udah review... Draco sekarang udah g lagi musuhan sama Mione, jadi mereka akan tetep adem ayem. Ini Kura update-in dua chap langsung.

Naughty As Me : Makasih udah review... Kasihan Mione kalau ntar anaknya kembar. Ntar kan dia nglahirin tanpa bantuan dokter.

Rutherss : Makasih udah review, ini udah dilanjutin. Dua chap langsung.

Atacchan : Makasih dah review...

Abigail : Makasih dah review... Kalau kamu bayangin Mione telanjang. Kura bayangin Draco yang telanjang. Hehehehe...

Kazuma B'tomat : Makasih dah review... Ini Kura udah update...

Succubus : Makasih dah review... Ini udah Kura banyakin percakapan mereka.

DraMione4ever : Makasih udah review... Juga pujiannya. Kura jadi malu =^_^=

Jewel Jeong : Makasih udah review... Baby-nya DraMione udah pasti cowok.

Abigail : Makasih udah review... (Ehm, ini orang yang sama dengan orang yang di atas ato bukan, yach). Gomen, Kura ga pake nama Scorpius. Kura mau pake Arcturus.

Tsubasa XasllitaDioz : Makasih udah review... Salam kenal juga, Tsubasa-san. Pertanyaan kamu udah kejawab di chap ini kan? Alasan lainnya, karena Om Voldy g punya wujud fisik sempurna. Gimana mau punya anak?

Dramione lover : Makasih dah review... Gomen, Kura super telat updatenya. Namanya Kura g pake Scorpius, gomen lagi. Garret? Boleh juga tuh..

Opheus Malfoy : Makasih dah review... nama yang Kura pake masih ada hubungannya dengan bintang kok, sesuai tradisi keluarga Malfoy. Arcturus itu nama bintang yang ada di rasi bintang Bootes.

Hilda9Achillius9Fitra : Makasih reviewnya... iya.. Mione akhirnya hamil...

Miss Estellana Lunaire Peverell : Makasih reviewnya... Kamu juga DraMione lover yach? Kura juga... Ini Kura update dua chap sekaligus.

Yaotome Shinju : Makasih udah review... Kura emang suka buat orang penasaran, maka-nya updatenya lama #ditimpuk batu ma reader#

Dind4 : Wah dind4-san review sampai empat kali... *Sambil lari menghindar dari lemparan truk* Ini Kura update-in dua chapter sekaligus buat permintaan maaf Kura. Makasih, yach...

Tina : Makasih dah review... Ini dia chap 7 sekaligus chap 8.

Gracia de Mouis Lucheta : Makasih dan review... Pertanyaanmu udah kejawab di chap ini kan?

YukioKihime : Makasih udah review... Ini Kura update-in dua chap sekaligus... Kura juga masih belum nentuin fic ini selesai sampai chap berapa. Yang jelas g akan lebih dari 20 chap kok.

Uchihyuu Nagisa : Makasih udah direview... Monggo-monggo di-fave...

Next chapter : Silakan klik next...

Kurarin