Sosoknya yang begitu hebat dan tak terkalahkan
Dia juga tampan dan semua wanita menyukainya
Aku... iri melihatnya
Tapi... aku juga ingin di akui olehnya
Aku ingin dia menyadari arti diriku
Tapi... sekarang aku ingin melupakannya
Walaupun itu, sangatlah sulit sekalipun...
Aisaretai
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru atau ItaNaru
Rate : T
Warning : Typo, Gaje, Abal, Shounen-ai, AU, OOC, dll.
Flashback
"Jadi... apa kau mau menjelaskan hal yang sebenarnya?" tanya Itachi.
Naruto pun hanya diam terpaku. Pada akhirnya Naruto menyerah dan menceritakan semuanya. Yah... semuanya.
"Sebenarnya apa yang Itachi-nii duga itu benar. Aku... adik dari Namikaze Kyuubi, seorang Namikaze Naruto. Aku menggunakan marga ibuku karena sebelum nantinya aku membantu Kyuu-nii mengurusi perusahaan, aku ingin memiliki hidup seperti masyarakat sederhana. Yah... walaupun pada akhirnya aku malah miskin hehehe, ini semua karena aku tak pintar dalam memilih kerja sambilan." Ucap Naruto dengan tertawa kecil.
Sekarang ini mereka sedang duduk di ruang tamu apartemen Naruto. Mereka saling duduk berhadapan satu sama lain, saling menatap dan berbicara. Mendengar pernyataan Naruto itu, Itachi tak menyangka akan hal ini. Seorang Naruto yang katanya miskin ternyata keluarganya memiliki banyak cabang perusahaan.
"Sejak kapan kau tinggal sendiri seperti ini? Apa kau tidak kesulitan?" tanya Itachi yang sekarang ini menatap iris biru langit itu dengan lekat.
"Itu... em... ah, aku lupa sejak kapan, tapi yang pastinya awalnya memang menyulitkan, sangat malah. Tapi mungkin karena sudah terbiasa, kesulitan-kesulitan yang kuhadapi jadi tak begitu menyulitkanku. Hm... sekarang gantian, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu, Itachi-nii?" tanya Naruto.
"Apa?"
"Kenapa Itachi-nii yang seorang dokter bisa mengurusi perusahaan? Bahkan melakukan pertemuan kerjasama dengan perusahaan Kyuu-nii," tanya Naruto dengan tatapan penuh ingin tahu.
"Naruto, apa kau lupa? Aku ini seorang Uchiha. Jadi... kau pasti tahu apa yang aku maksudkan," jawab Itachi tersenyum pada Naruto.
"Aku mengerti... aku ini memang bodoh karena alasan mudah seperti itu saja bisa kulupakan," jawab Naruto dengan memanyunkan sedikit bibir ranumnya hingga terkesan sangat imut.
Kemudian keadaan menjadi hening setelahnya. Itachi hanya bisa menahan diri untuk tidak menyerang si pirang didepannya yang saat ini terlihat sangat imut. Sedangkan Naruto, hanya tetap mempertahankan posenya itu dan tak sadar akan tatapan Itachi padanya. Dengan cepat, Itachi menghilangkan semua khayalannya tentang apa yang ia ingin lakukan dengan Naruto dan memulai rencananya yang memang termasuk dalam jalan untuk mencapai tujuannya.
"Naruto, boleh aku permisi sebentar. Aku ingin menelpon seseorang dulu," ucap Itachi yang bangkit dari duduknya.
"Oh, silahkan Itachi-nii,"
Itachi pun menjaga jarak yang sekarang cukup jauh hingga suaranya saat menelpon tak terdengar Naruto. Yang saat ini Naruto lihat hanyalah Itachi yang sedang berbicara dengan orang diujung telepon sana. Tidak lama kemudian tiba-tiba saja Itachi menjauhkan handphone-nya itu dari telinganya serta menutup telinganya itu. 'sepertinya orang yang sedang ditelepon itu berteriak sangat kencang hingga Itachi-nii seperti itu,' pikir Naruto.
Setelah mendekatkan kembali handphone itu ke telinganya, tampak wajah Itachi mulai serius yang disusul oleh keheningan. Tidak lama kemudian mereka tampak mulai berbicara dengan tenang. Dan keadaanpun kembali seperti saat-saat orang lain menelpon dengan normal. Naruto pun bosan dan akhirnya memutuskan untuk menyalakan TV-nya dan berpikir siapa tahu saja dia bisa menemukan acara bagus.
Itachi pun menutup teleponnya dan kembali duduk di bangku hadapan Naruto. Tidak lama kemudian handphone Naruto kembali bergetar, dan disana terpampang sebuah nama.
'Kyuu-nii? Ada apa?' pikir Naruto yang kemudian mengangkat telepon itu. Sedangkan Itachi, saat ini mulai menaruh perhatiannya hanya pada TV.
"Naruto... sebenarnya aku juga tidak mau ini terjadi. Tapi melihat keyakinannya... aku entah mengapa jadi menyetujuinya. Dan kalian sepertinya memang sudah siap akan hal ini, jadi kau tenang saja dan tunggu satu minggu untuk persiapan. Aku selalu mengharapkan kebahagiaanmu," ucap Kyuubi yang kemudian menutup telepon secara sepihak.
Naruto tidak mengerti, sebenarnya apa yang sedang dibicarakan oleh kakakknya itu. Ia ingin bertanya tapi telepon terputus. Ketika Naruto menelpon balik, seperti biasa... Kyuubi sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Siapa?" tanya Itachi mematikan TV setelah melihat-lihat dan tidak menemukan acara yang menarik.
"Tadi Kyuu-nii telepon dan berbicara tidak jelas. Seperti dia menyetujui tentang sesuatu, lalu aku disuruh menunggu tenang dan berharap kebahagiaanku. Arrghh... aku tak mengerti sama sekali apa maksudmu Kyuu-nii," teriak Naruto frustasi.
"Kalau begitu, apa kau mau ku jelaskan agar mengerti?" tanya Itachi bangkit dari duduknya dan pindah tepat disamping Naruto yang saat ini tengah memeluk sebuah bantal kursi yang empuk.
"Apa itu?" tanya Naruto menatap Itachi yang saat ini berada disamping kirinya dan masih dengan erat memeluk dan menyandarkan kepalanya pada bantal itu.
"Kau lihat tadi aku menelpon seseorang?" tanya Itachi yang dijawab oleh anggukan Naruto.
"Sepertinya orang yang Itachi-nii itu cukup cerewet ya," ucap Naruto.
"Hmp... benar, orang itu cerewet sama sepertimu. Kalian kakak beradik memang sama,"
"HAH! Jadi yang tadi Itachi-nii telepon..."
"Iya, itu Kyuubi. Aku menelpon untuk meminta restunya. Awalnya ia menolak dengan keras dengan suara cemprengnya yang mirip denganmu, tapi yang penting pada akhirnya ia merestuinya,"
"Itachi-nii bisa membujuk Kyuu-nii. Uwah... bagaimana caranya? Kyuu-nii itu 'kan sangat keras kepala. Oh ya, aku ini tidak secempreng Kyuu-nii, Kyuu-nii itu yang lebih cempreng," ucap Naruto antusias.
Hal itu hanya dibalas oleh senyuman Itachi. 'sudah kuduga, Itachi-nii tidak akan memmberitahuku,' pikir Naruto.
"Oh ya, memangnya merestui tentang apa?" tanya Naruto.
Kemudian Itachi hanya tersenyum dan mengambil sesuatu dari saku celananya. Di keluarkannya sebuah kotak berukuran cukup kecil berbungkuskan hitam dan berpitakan merah. Di bukanya kotak itu manampilkan sepasang lingkaran perak berkilau dan berlian berwarna senada dengan iris Naruto. Melihat hal itu Naruto tertegun sesaat.
"Itachi-ni, ini..."
"Benar Naruto, maukah kau menerima cincin ini dan menjalani sisa hidupmu bersamaku? Karena bagiku tidak ada yang lain kecuali dirimu didunia ini Naruto. Aku... sungguh-sungguh mencintaimu," ucap Itachi lembut dengan menatap Naruto yang saat ini bingung harus berbuat apa.
"Ta, tapi Itachi-nii... apa ini tidak terlalu cepat? Lagipula aku..." ucap Naruto terputus saat mendapati Itachi memeluknya hangat. Itachi membenamkan kepalanya di bahu Naruto dan Naruto dapat mencium harum tubuh Itachi yang entah mengapa membuatnya nyaman.
"Aku ingin segera memilikmu Naruto. Aku tak ingin kau menyukai orang lain selain diriku," ucap Itachi dengan memeluk erat tubuh pirang didekapannya itu.
"Itachi-nii... kalau begitu, buat aku jadi mencintaimu, Itachi-nii,"
End Flashback
Sejak undangan itu tersebar luaskan, hal itu langsung menjadi pembicaraan hangat para siswa di sekolah Naruto. Semua tak menyangka Naruto akan bertunangan dengan Itachi, kakak dari Sasuke yang terkanal tampan di sekolah itu. Lalu bagaimana kabar masing-masing tokoh yng saat ini hangat dibicarakan. Kalau begitu, mari kita lihat Naruto...
Saat ini Naruto sedang sembunyi-sembunyi masuk ke dalam kelasnya. Kenapa? Karena ia tidak mau dihujani oleh ribuan pertanyaan yang hanya akan membuatnya pusing. Namun sayang, sebuah botol plastik yang diinjaknya membuat semua mata memandang padanya.
Pandang... pandang...
"NARUTO!" teriak siswa-siswa yang melihatnya.
"Huuwaa..." dengan teriakan itu pula Naruto berlari secepatnya dan tak jadi masuk ke dalam kelasnya.
Setelah terus berlari dari ribuan pertanyaan yang hendak menyerbu, saat ini Naruto berhasil meloloskan diri dari kejaran itu dan duduk tersengal-sengal berusaha untuk mengatur nafas di atap sekolah yang... sepi.
"Dobe!"
Mendengar panggilan itu, Naruto menatap asal suara itu. Hari ini benar-benar hari tersialnya. Sudah lari untuk menghindari pertanyaan dan sekarang malah terjebak di atap sekolah bersama seorang yang ingin hendak Naruto hindari.
"Ada kau toh! Kalau begitu lebih baik aku pergi," ucap Naruto bangkit dari istirahatnya dan hendak pergi namun terhenti saat Sasuke menarik lengan Naruto.
"Akh... sakit Teme! Apa maumu?" tanya Naruto dengan menatap Sasuke yang saat ini sedang menatap tangannya.
"Inikah cincin dari Itachi? Kau benar-benar bertunangan dengannya?"
Naruto segera menarik tangannya untuk terlepas dari genggaman itu.
"Tentu saja, memangnya kau tidak baca undangan yang sudah tersebar? Apa kepintaranmu menurun hingga kau tidak bisa membaca lagi?" ledek Naruto.
"Kenapa harus dia?"
Mendengar pertanyaan itu Naruto terdiam. Pertanyaan itu, 'kenapa' katanya.
"Bukan urusanmu untuk tahu alasan itu Teme, dan jangan kau pikir aku sudah memaafkanmu atas kejadian terakhir kita itu Sasuke," ucap Naruto ketus walaupun dalam hati ia masih menyimpan rasa.
"Tentu saja itu urusanku!" ucap Sasuke yang segera memojokan Naruto didinding.
"Teme! Baik, akan aku beri tahu. Aku memilih kakakmu! Aku memilih kakakmu yang mempunyai perasaan tulus padaku daripada harus menunggu hati dingin milikmu itu meleleh," ucap Naruto geram.
"Sudah kukatakan, bahwa aku juga menyukaimu Naruto!" Sasuke pun menggenggam erat lengan Naruto.
"Benci... aku benci padamu," lirih Naruto pelan namun masih dapat terdengar jelas oleh telinga Sasuke.
'Lupakan dia Naruto! Kau harus melupakan perasaanmu padanya!' itulah yang terus terulang-ulang di pikiran Naruto sambil terus pergi meninggalkan Sasuke yang saat ini penuh akan penyesalan.
'Apa yang harus aku perbuat agar kau menyukaiku lagi, Dobe...'
Tbc
Yatta... akhirnya selesai, maaf kalau ini pendek :'(
Ceritanya makin aneh? Ancur? Gaje? Atau bagus kah #ditimpukin guling bau ompol
Please... review ^^
Terima kasih juga bagi yang sudah mau membaca ceritaku ini^^
