.
Kapas yang dipegang di tangan kanan Sakura terjatuh tanpa sadar. Bisikan serak itu..
Kali ini Haruno Sakura benar-benar tak percaya akan apa yang didengarnya.
Katalis
A SasoSaku (maybe..) fanfiction
Genre: Drama/Hurt/Comfort
Rate: T
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: Setting canon yang dimodifikasi, OOC (mungkin), romance gagal.
Disarankan untuk mendengarkan lagu Avril Lavigne – I'm With You ketika membaca chapter 7 ini. Selamat menikmati!
.
.
There's nothing but the rain
No footsteps on the ground
I'm listening but there's..no sound
(Avril Lavigne – I'm With You)
.
.
Sunyi. Hanya terdengar suara pena yang digoreskan terburu-buru ke kertas di ruang Kazekage itu, sebelum suara pintu kayu yang diketuk memecah keheningan.
"Masuk."
Pintu ruang Kazekage itu terbuka, menampakkan seorang pemuda berusia tujuh belas tahunan yang memakai tudung kepala menyerupai telinga kucing berwarna hitam. Ia melangkah masuk mendekati meja sang Kazekage.
"Bagaimana interogasinya tadi?" tanyanya dengan nada menyelidik.
Gaara mengalihkan pandangannya dari kertas yang sedang ditulisnya untuk menatap mata kakaknya.
"Seperti biasa, ia sulit sekali diajak bekerja sama."
"Kau menggunakan cara kekerasan lagi?"
Sang Kazekage muda mengalihkan pandangannya kembali ke dokumen yang sedang ditulisnya. Pena yang dipegangnya bergoyang-goyang pelan diantara jepitan jemarinya.
"Ya."
Ekspresi Kankuro perlahan menegang sebentar, sebelum seringai tipis terukir di bibirnya. "Heh..cara kekerasan tak akan mempan untuk Sasori-sa—untuk kriminal level S seperti dia, Gaara."
Kazekage muda itu meletakkan pena yang dipegangnya sesaat, seraya menatap jendela seakan sedang berpikir.
"Aku tak terpikir akan cara lain. Kau punya ide, Nii-san?"
Kankuro menyeringai. "Ada," katanya perlahan namun tak bisa menyembunyikan antusiasme (entah karena apa, Gaara tak selalu bisa menebak jalan pikiran Kakaknya yang satu ini) yang tersirat di nada suaranya.
"Kau mengizinkan kalau aku menemuinya nanti sore, Gaara?" tanya pemuda yang lebih tua itu perlahan. Ekspresinya tak tertebak.
"Boleh saja," jeda sesaat, "asal kau ditemani Anbu yang mengantarmu sampai ke depan pintu sel nanti, untuk berjaga-jaga. Apa yang akan kau lakukan padanya, Nii-san?" kali ini pemuda berambut merah itu tak bisa menyembunyikan nada penasaran yang tersirat di dalam suaranya.
"Khukhu," ia tersenyum misterius sambil menatap iris jeruk nipis adiknya dengan kilas tak tertebak, "lihat saja nanti."
.
"Kaa-san, j-jangan pergi.."
Kapas yang dipegang di tangan kanan Sakura terjatuh tanpa sadar. Bisikan serak itu..
Kali ini Haruno Sakura benar-benar tak percaya akan apa yang didengarnya.
Tangan kanan milik sang pemuda berambut merah yang tadi menggapai-gapai ke udara kosong didepannya mendadak terjatuh ke sisi badannya, menyadarkan Sakura dari lamunan sesaatnya lagi.
"Ia masih belum sadar," gumam Sakura tercenung sebentar, sebelum meneruskan mengobati luka di pundak sang tahanan. Tapi mendadak sesuatu yang dingin terasa menempel di tangan kanan milik sang gadis berambut merah muda itu.
Sakura berjengit terkejut, tapi segera berhasil menguasai dirinya lagi.
Tangan Sasori. Jari jemari kurus serupa cakar itu kini menggenggam pergelangan tangan kanan Sakura. Erat. Seolah enggan melepaskan.
"Hangat.."
Gumaman serak itu sukses menyadarkan Sakura dari perasaan kagetnya. Tanpa sadar ia merasa pipinya menghangat—entah kenapa. Ketika dilihatnya ekspresi wajah sang tahanan di depannya, kedua mata hazel itu masih terpejam. Tak hirau akan dunia sekelilingnya.
'Sepertinya ia hanya mengigau,' kata Inner Sakura dalam hati. Dipandangnya jemari kurus tangan Sasori yang masih menggenggam pergelangan tangan kanannya tanpa sadar, sebelum jari jamari dingin itu mengendur dan melepaskan pegangannya. Ia tersenyum dalam hati.
'Kalau sedang dalam keadaan tak sadar seperti ini, ekspresi mukanya agak mirip Sasuke ya..,' bisik Inner-nya tanpa diundang. 'Hanya saja ia lebih kelihatan kekanak-kanakkan..'
'Hush, Sakura, apa yang sedang kaupikirkan sih!' batin gadis berambut harummanis itu kesal dalam hati. Diusirnya segera pikiran-pikiran tak jelas itu dari kepalanya.
Tanpa sadar, pipinya telah bersemu sewarna rambutnya lagi.
.
Pemuda bertudung hitam serupa kucing itu memasuki apartemennya, lalu duduk menghadapi sebuah meja kerja yang ada di ruang depan apartemen itu. Diambilnya sebuah gulungan kertas dari dalam laci, dan sebuah pena.
"Yang pertama.." ia menggumam sambil menggoreskan pena hitam itu agak tergesa-gesa ke kertas di depannya.
"Selanjutnya, apa lagi? Ah ya..," setelah tercenung sebentar, ia melanjutkan menulisi lagi kertas gulungan di depannya itu.
Selang sepuluh menit kemudian, ia memandangi kalimat-kalimat yang ia tulis di gulungan kertas itu dengan seringai puas. Sebuah kotak kecil tergambar di sebelah masing-masing kalimat itu.
"Hmm," ia bergumam perlahan pada dirinya sendiri, "semoga saja ini berhasil."
.
Gadis berambut merah muda itu memandangi simpul ikatan perban yang selesai diikatkannya di pundak 'pasien'nya itu dengan ekspresi puas. "Nah, sekarang tinggal mengobati memar dan luka gores di pergelangan tangannya.."
CTIK.
Tanpa disangka-sangka, kelopak mata hazel itu perlahan membuka.
Iris anggur hijau dan iris hazel pun tanpa sengaja bertemu, dan saling menatap satu sama lain.
"Kau," gumamnya serak perlahan, meski nada suara itu lebih mirip sebuah pernyataan daripada pertanyaan.
Sakura memaksakan sebuah senyum, meski terkesan agak canggung. "Ya, ini aku. Kau baru sadar rupanya," kata gadis itu mencoba berbasa-basi.
Pemuda berambut merah itu tak menjawab. Ia perlahan mencoba bangkit dengan bantuan tangan kirinya, dan duduk bersandar di tembok dingin ruang penjara itu. Ia menoleh ketika merasakan sesuatu yang hangat membungkus pundaknya.
"Caramu membalut luka cukup bagus untuk ninja medis seusiamu," gumamnya datar dengan nada suara seperti setengah melamun. Sakura tersentak kaget sesaat mendengar kalimat itu, tapi ia menganggapnya sebagai sebuah pujian.
"Terima kasih, Sasori."
Pemuda berambut merah itu tak merespon. Hanya terdengar desah napasnya yang berbunyi berisik.
"Aku heran," gumamnya pelan memecah keheningan. Sakura terdiam, menunggu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan pemuda berambut merah di depannya itu.
"Aku heran..sia-sia saja kau mencoba mengobati lukaku. Keesokan harinya pasti akan ada luka baru lagi, dan begitu seterusnya," katanya langsung tanpa menatap kedua iris anggur hijau yang tengah menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Bagiku ini bukan pekerjaan yang sia-sia," bantah Sakura tak setuju.
"Hm," sebuah seringai tipis terukir di bibir pucat milik pemuda berambut merah itu. "Wanita..memang suka melakukan hal yang tidak berguna, ya."
Sakura mengernyitkan keningnya tak setuju mendengar pernyataan barusan, tapi menahan keinginannya untuk protes. Ia terdiam sesaat, menatap iris hazel sayu itu dengan tatapan tajam.
"Bagimu mungkin tak berguna, tapi kami punya alasan..untuk melakukannya," kata Sakura perlahan. Ia tersenyum tipis.
Pemuda berambut merah di hadapannya mengangkat kepalanya yang daritadi setengah tertunduk, sehingga helai-helai rambut yang menutupi iris hazelnya tersingkap sedikit. Ia menatap Sakura dengan pandangan menilai.
"Ah ya? Kalau begitu, jelaskan alasanmu padaku."
.
Kankuro menatap gulungan di tangannya dengan ekspresi tak tertebak. Ia baru pulang dari kantor Kazekage karena Gaara yang barusan memanggilnya untuk memberitahu kapan ia bisa ke penjara bawah tanah untuk menemui sang kriminal berambut merah itu—dengan ditemani Anbu tentunya.
Sedikit banyak, pemuda berambut cokelat tua itu merasa antusias. Ia menyeringai sedikit, sambil melempar-lempar kecil gulungan di tangannya.
"Sepertinya..ini akan menjadi hal yang menarik."
.
.
Bersambung..
.
A/N: Chapter 7, selesai. ^^ Nah, udah ditambahin (dikit) tuh scene SasoSaku nya. Gimana, puas? XD #kabur
Terima kasih kepada Moku-Chan, Kuromi no Sora, Chintya Hatake-chan, Yura Natsuki, akasuna no ei-chan, Ucucubi, Aden L kazt, taintedIris, Mizuira Kumiko, Pinky05KwmS, Aikawa Jasumin, SparkSomniaA0321, Ame Yura-chan, poetry-fuwa, Uzumaki Himeko, Lily cherry blossom luvlee scorpius, dan Ai Tanaka yang telah mereview chapter kemarin. ^^ Semoga kalian menikmati chapter kali ini. :D
Terima kasih sudah membaca. Kritik dan pendapat untuk fanfiksi ini, jika berkenan? :)
