EPILOG

.

.

Blackfriars Bridge, London, 2021

Sebuah mobil BMW 7 Series G11 berwarna hitam terparkir tak jauh dari Jembatan Blackfriars, dua pasang mata beriris gelap mengamati sepasang lelaki yang kini sedang tertawa-tawa sambil berbincang di atas Jembatan Blackfriars, tak lupa tangan mereka yang saling bertautan.

"AKH! Kenapa mereka tidak berciuman?!"

Lelaki yang duduk di kursi kemudi memutar matanya, "ini bukan drama picisan yang sering ibu-ibu tonton, oke?"

"Padahal aku sudah menanti-nantinya." Lelaki yang duduk di kursi penumpang mengernyitkan dahinya. "Tapi…apa rencana kita sudah berhasil? Apa semua yang kita lakukan ini sudah benar?"

"Ini idemu, kau sendiri lah yang tahu."

"Tapi kau yang merencanakan semuanya, kau harusnya lebih tahu!"

"Dengar ya," kedua lelaki itu kini berpandangan, "jika kita tidak melakukan ini semua, Sehun dan Kai tidak akan pernah berbahagia. Mereka akan terus-terusan terperangkap di dalam perasaan mereka masing-masing. We did a great job. Period."

"Well, berhubung rencana kita sudah terlaksana, kau berhutang sebuah penjelasan yang panjaaaaaaaaaaaaang kepadaku."

Lelaki yang lebih tua menatap lawan bicaranya dengan pandangan bosan, "kau mau tahu apa saja, Shixun?"

Shixun (lelaki yang duduk di kursi penumpang) langsung tersenyum sumringah mendengar perkataan lawan bicaranya itu. "Semuanya! Mulai dari hubunganmu dengan Li Zhongxian sampai bagaimana caranya kau terlepas dari jeratan kakek, Yifan ge!"

Yifan, lelaki yang sedari tadi berada di dalam mobil bersama Shixun, hanya tersenyum maklum melihat Shixun yang super penasaran. "Li Zhongxian itu paman kandungku." Shixun melotot kaget. "Aku baru mengetahuinya semalam sebelum kau kabur bersama Chanyeol, setelah bertahun-tahun menggali informasi mengenai keluarga kandungku."

"Awalnya aku tidak mau mencari-cari keluarga kandungku, tapi suatu hari aku baru sadar bahwa ternyata aku memiliki 'perasaan' terhadap keponakan bandelku, dan ternyata perasaanku terbalas!" Shixun mencibir mendengarnya, "jadi aku mencari keluarga kandungku, berharap dengan itu aku bisa kembali kepada mereka, lalu aku bisa mengklaimmu tanpa harus menerima hujatan publik karena hubungan paman-keponakan kita."

"Benar juga…" Shixun termenung.

"Waktu kau kabur bersama Chanyeol, aku begitu kalut, dan tidak sadar telah meninggalkan sebuah 'bukti' bahwa Li Zhongxian itu ternyata pamanku di atas meja kerja, Qian membacanya, dan kemudian ia mengajakku berbicara dari hati ke hati."

"Lalu?"

"Aku menceritakan semuanya kepada Qian, termasuk tentang perasaanku kepadamu, dan Qian bilang dia sudah tahu, dia malah memarahiku karena tetap menyetujui perjodohan kami. Kemudian Qian berkata bahwa dia akan membantuku."

Shixun mengangkat kedua alisnya, "membantumu?"

"Yap!" Yifan tersenyum lebar. "Kita memang tetap menikah, tetapi kami tidak perlu melakukan hubungan intim pada malam pertama kami. Toh kami memang tidak memiliki perasaan terhadap satu sama lain."

"Lalu Qian sedang mengandung anak siapa?!"

"Pacarnya. Suaminya kalau sekarang. Dia lelaki yang pernah menjadi pacar Qian sebelum mereka putus karena Qian harus bertunangan denganku. Tapi nyatanya mereka selama ini diam-diam masih saling berhubungan, jadi yah…begitulah. Sampai akhirnya aku bertemu denganmu di markas Li Zhongxian, ingat? Tak lama setelah kau kabur dari rumah sakit?"

Wajah Shixun memerah malu. "Lalu bagaimana caranya kau bisa kabur dari kakek?!"

"Gampang. Aku bilang ke baba bahwa Li Zhongxian itu paman kandungku, dan aku bilang juga kepadanya bahwa aku tidak pantas lagi menjadi bagian dari keluarga Wu karena paman kandungku sendiri yang telah menyebabkan kematianmu." Yifan berkata dengan santai.

Shixun menatap Yifan dengan ragu, "dan kakek percaya?"

"Aku harus akting sesedih mungkin." Yifan mengangkat bahunya santai. "Aku harus mendramatisir keadaan, itu cara paling mudah agar baba dan gege percaya seluruhnya pada ceritaku, percaya dengan rencana kita, percaya dengan kematianmu yang hanya pura-pura itu. Lalu dengan alasan yang sama, aku menceraikan Qian, selesai."

Shixun menatap Yifan dengan pandangan tidak percaya, ternyata gegenya ini jago akting! Entah bagaimana akting Yifan saat itu tetapi Shixun yakin jika aktingnya sangat mengesankan berhubung Kakek Wu itu keras kepala sekali.

"Kau sepertinya yakin sekali jika kakek tidak akan menemukan kita."

Yifan menyeringai, "ayahmu memutuskan seluruh kontrak kerja yang terjalin bersama pamanku, ketika ia mengetahui bahwa penyebab 'kematianmu' adalah pamanku, sesuai perkiraanku. Itu akan mempersulit keadaan jika baba memutuskan untuk mencari-cariku di kemudian hari."

"Benar juga…aku tak menyangka kau memiliki rencana seperti itu." Shixun merenung.

"Because I'm amazing~" Yifan tertawa. "Ada pertanyaan lagi?"

"Tidak." Jawab Shixun, kemudian ia menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil dan menghela nafas. "Lalu bagaimana sekarang?"

"Pamanku telah berjanji untuk menyembunyikan kita, beliau bilang, akan lebih mudah lagi jika kita mengganti identitas kita yang sekarang. Maka dari itu aku memutuskan untuk menggunakan nama asliku." Yifan menjelaskan.

"Li Jiaheng." Gumam Shixun.

"Tepat sekali!" Yifan kemudian melirik Shixun. "Jadi, bagaimana pendapatmu tentang namaku?"

"Lumayan, meskipun aku masih belum familiar."

"Kau menyukainya?"

"Itu namamu, aku pasti menyukainya."

"Li Shixun juga tidak begitu buruk."

Shixun terhenyak mendengar perkataan Yifan, wajahnya memerah parah, namun ia berusaha sebaik mungkin untuk tetap stay cool. "E-enak saja mengganti-ganti margaku! Jangan sembarangan!"

"Ya sudah kalau begitu, kita menikah saja agar margamu berganti secara sah." Yifan berkata sambil mendegipkan sebelah matanya ke arah Shixun yang wajahnya semakin memerah.

"H-hentikan!" Suara Shixun melengking karena gugup. "Cepat jalankan mobilnya! Kai dan Sehun sudah mulai pergi meninggalkan jembatan."

Yifan hanya tertawa melihat Shixun yang sedang salah tingkah, namun ia tetap menuruti perintah lelaki itu dengan mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan pelan. "Dengan senang hati, Yang Mulia."

Shixun hanya menggerutu dipanggil seperti itu oleh Yifan.

"OH IYA!" Namun tiba-tiba Yifan menginjak pedal rem secara mendadak, membuat Shixun terjungkal ke depan dan bertabrakan dengan dashboard mobil. Shixun menyumpah-nyumpah di dalam hati, tidak Yifan tidak Luhan, keduanya sama-sama suka menginjak rem secara mendadak.

"Apa?!" Tanya Shixun garang. Jidatnya sakit sekali.

Yifan kemudian menoleh ke arahnya dengan pandangan bertanya, "Chanyeol dan Luhan bagaimana?"

.

Hong Kong, 2021

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tanyakan saja."

"Kenapa si Ren ini hanya ingin bicara denganmu saja? Apa yang telah kau perbuat?"

"Tidak ada. Itu semua murni karena aku ini tampan."

"Aku serius Park!"

"Aku juga serius Lu."

Luhan menatap lelaki tinggi di hadapannya ini dengan berang, suasana hati Chanyeol nampaknya sedang bagus hari ini karena lelaki caplang itu selalu menganggap perkataannya dengan bercanda, padahal Luhan sedang serius disini.

"Jangan cemburu begitu." Chanyeol merangkul tubuh pendek Luhan. "Meskipun si Ren ini mungkin saja menyukaiku, aku tetap menyukaimu kok!"

"Apa-apaan!" Gerutu Luhan sambil menyingkirkan tangan Chanyeol dari bahunya, sementara itu pipinya mulai memerah karena perkataan Chanyeol tadi.

Ya, semenjak kejadian pura-pura meninggal itu, mereka berdua memang semakin dekat. Shixun segera dibawa kabur oleh Yifan entah kemana, namun mereka berjanji untuk tetap menghubungi satu sama lain. Sementara dirinya dan Chanyeol terpaksa kembali ke Hong Kong untuk sementara waktu karena belum memiliki tempat dan tujuan.

Semenjak saat itu juga lah, Chanyeol jadi suka menggodanya, entah itu menggombalinya atau bahkan memperlakukan Luhan dengan gentle. Dan semenjak saat itu juga, Luhan selalu merasakan jantungnya berdetak tidak keruan jika berada di sekitar Chanyeol, bahkan hatinya terasa panas jika melihat kedekatan antara Chanyeol dengan Ren.

Chanyeol hanya tertawa sambil kemudian membuka pintu kamarnya, diikuti Luhan yang juga memasuki kamarnya dengan mulut masih menggerutu. "Kau ini sudah besar tetapi masih belum bisa packing!"

"Kau itu sudah besar tetapi masih saja suka ngambek." Balas Chanyeol santai.

Luhan hampir saja melayangkan sebuah koper ke kepala Chanyeol.

"Kau mau aku bantu atau tidak?!"

Chanyeol cemberut. "Iya iya, tolong bantu aku packing."

"Begitu kan lebih baik." Luhan berkata sambil membuka lemari pakaian Chanyeol. "Kau mau mempacking semua baju ini?"

"Semuanya, tolong." Chanyeol menghempaskan dirinya ke atas kasur.

"Ini juga?" Tanya Luhan sambil mengangkat bokser merah jambu milik Chanyeol.

Wajah Chanyeol langsung memerah malu, ia kemudian dengan cepat merebut bokser itu dari tangan Luhan. "Biar aku yang kemas pakaian dalamnya!"

Luhan hanya tertawa kecil sebelum ia mulai memasukkan pakaian-pakaian Chanyeol ke dalam koper dengan berat hati karena sebentar lagi mereka akan berpisah, ia bahkan berkali-kali menghela nafas berat bersamaan dengan banyaknya pakaian yang sudah berpindah tempat ke dalam koper. Agak sedikit salah tingkah juga karena Chanyeol menatapinya dengan intens dari atas kasur.

"Apa lihat-lihat?" Tanya Luhan sok garang.

"Kau cantik." Chanyeol berkata dengan senyuman.

Nah, mulai lagi Chanyeol dengan gombalannya. Luhan langsung pura-pura sibuk dengan pakaian Chanyeol sambil berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah parah.

"Kau semangat sekali packingnya." Komentar Chanyeol. "Jaga tenagamu, Lu. Kau harus packing dua kali."

Pergerakan Luhan langsung terhenti. "Kenapa memangnya? Siapa lagi yang mau packing?"

Chanyeol hanya bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah meja dan mengambil sebuah map, ia lalu menyerahkannya kepada Luhan yang mengernyit bingung.

"Aku sudah tahu kau akan pergi ke Amerika karena dapat beasiswa ke MIT." Luhan menatap cover map itu yang bertuliskan MASSACHUSETTS INSTITUTE OF TECHNOLOGY dengan ukuran super besar. "Kenapa kau memberikan ini kepadaku?"

"Buka saja." Chanyeol tersenyum misterius.

Luhan membuka map itu secara perlahan, mata rusanya membulat dengan sempurna ketika ia tidak hanya melihat satu tiket pesawat, melainkan dua! Apa ini maksudnya? Siapa yang akan pergi bersama Chanyeol? Jangan-jangan Chanyeol akan mengajak…Ren?

Ia menggigit bibir bawahnya pelan untuk menahan nyeri di dadanya.

"J-jadi ada yang akan ikut denganmu?" Luhan lega karena suaranya terdengar biasa saja. "Siapa? Ren ya?"

"Hmm…Tebakan bagus." Chanyeol memasang wajah sok berpikir sementara Luhan hanya terdiam lemas. "Tapi jawabanmu salah!"

"Hah?" Apa Luhan tidak salah dengar? "B-bukan Ren?"

Chanyeol menggeleng.

"Lalu siapa?"

"Kau."

Pikiran Luhan menjadi kosong dalam seketika. "A-aku?"

Chanyeol mengkerutkan dahinya. "Iya kau. K-A-U. Luhan. Apa aku perlu mengeja namamu juga?"

"T-tidak! M-maksudku—k-kenapa aku?" Tanya Luhan kalut.

"Karena…" Chanyeol melangkahkan kakinya untuk mendekati Luhan, sementara itu yang didekati hanya melangkah mundur perlahan-lahan karena gugup. Ketika Chanyeol menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Luhan, lelaki caplang itu tersenyum lebar melihat raut wajah gugup milik Luhan. "Rahasia."

"Ugh! Kalau begitu aku tidak mau ikut denganmu!"

"Benar ya? Kalau begitu aku ajak Ren saja—" Chanyeol berbalik untuk menuju pintu kamarnya.

"JANGAN!" Luhan memekik panik, tangannya refleks menahan pergerakan tubuh Chanyeol. "E-eh…maksudku—"

"Maksudmu?"

Keringat mulai membasahi pelipis Luhan. "A-aku…"

"Ya?"

"Uh…a-aku…"

"Kau cemburu?" Tanya Chanyeol iseng.

"IYA!" Luhan langsung menutup mulutnya ketika ia sadar apa yang telah ia ucapkan.

"Ah…begitu rupanya." Chanyeol menganggukkan kepalanya sambil menyeringai, tangannya bergerak untuk mengambil sehelai bajunya yang sedari tadi diremas-remas oleh Luhan yang gugup. "Lebih baik kau kembali ke kamarmu untuk packing dan aku akan membereskan pakaianku sendiri, bagaimana?"

Luhan hanya mengangguk kaku.

"Good boy!" Chanyeol mencubit kecil pipi Luhan yang memerah. "Sekarang pergilah, aku ingin membereskan pakaian dalamku. Atau kau mau melihat-lihat pakaian dalamku?"

Luhan langsung berlari kabur dari kamar Chanyeol.

Chanyeol yang melihat itu hanya tertawa. Yah…setidaknya di Amerika nanti dia tidak akan kesepian.

.

.

Beijing, China, 2025

Sehun menatap sapu tangan biru familiar yang ia temukan di antara tumpukan pakaian milik Kai. Matanya membulat sempurna ketika ia melihat bordiran di ujung sapu tangan itu, ibu jarinya tanpa sadar bergerak untuk menyentuh bordiran yang membentuk nama Shixun itu.

"Sehun apa kau melihat—oh…" Kai berdiri mematung di ambang pintu kamar mereka.

"Jadi kau anak yang berlumuran cat itu?" Sehun bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari sapu tangan itu.

Kai melangkah maju agar kini ia berdiri di dekat Sehun. "Darimana kau tahu?" Ia menatap kekasihnya itu dengan ragu.

Sehun tersenyum sambil menatap Kai, "karena aku yang memberikanmu sapu tangan ini."

"Tunggu…" Kai menatap Sehun dengan kaget, "kau…yang memberikanku sapu tangan ini? Bukan Shixun?"

Sehun tertawa.

Guangzhou, beberapa tahun yang lalu.

"Sehun-ah, dimana kakakmu?"

Sehun, yang sedang memakai sepatunya, mendongakkan kepalanya sembari menatap ibunya yang sedang berdiri di ambang pintu rumah dengan dua helai sapu tangan di tangannya. "Shixun sudah berada di mobil, ma."

Ibunya menghela nafas pasrah, "berikan ini kepadanya ya, kakakmu itu melupakan sapu tangannya."

Sehun mengangguk pelan sebelum ia melangkahkan kaki kecilnya menuju mobil yang sudah ditumpangi oleh Shixun di dalamnya.

"Hyung, sapu tangan." Sehun menjulurkan dua helai sapu tangan ke arah Shixun.

Shixun dengan asal mengambil sapu tangan yang berwarna hijau, mengundang protes keluar dari mulut sang adik. "Yang hijau punyaku! Hyung yang biru!"

"Sama saja." Shixun berkata santai sambil memutar kedua matanya.

"A-aku kira…selama ini…" Kai tercekat, namun sedetik kemudian ia tersenyum sedih. "Pantas saja, ketika aku bertanya kepadanya apakah ia ingat dengan seorang anak kecil berlumuran cat di kamar mandi, Shixun tidak ingat sama sekali. Ternyata itu kau."

"Dan kau masih menyimpannya sampai sekarang." Sehun berkata pelan.

Kai hanya mengangkat bahunya, "ku kira itu milik kakakmu, aku tidak punya hal nyata yang merupakan peninggalan kakakmu, jadi ku simpan saja." Kai kemudian menatap Sehun dengan ragu. "K-kau marah?"

Sehun tertawa terbahak-bahak, "aku? Marah? Tentu saja tidak!" Ia meletakkan sapu tangan itu di atas telapak tangan Kai. "Kau boleh menyimpannya, itu memang milik Shixun, hanya saja kebetulan waktu itu aku yang memberikannya kepadamu."

"Kau tahu, aku pernah berpikir jika kakakmu itu bipolar."

"Kenapa?" Sehun tertawa lagi.

"Karena ketika aku pertama kali bertemu dengan Shixun di sebuah pesta, ia mengataiku pengecut." Sehun terkekeh mendengarnya. "Kemudian, ketika aku bertemu dengannya lagi di toilet, Shixun terlihat baik sekali waktu itu, meskipun aneh karena nampaknya ia tidak mengenaliku. Ternyata itu kau!"

"Yah, semuanya sudah terbongkar sekarang." Sehun mengedikkan bahunya. "Bagaimana kalau kau membantuku untuk mengepak pakaian kita?"

"I think I'll pass." Kai berkata dengan santai. "Beres-beres itu tugas seorang istri."

Wajah Sehun memerah, namun ia berhasil memukul bahu Kai pelan. "I'm not your wife!"

"Sebentar lagi." Lelaki tan itu menyeringai.

.

Incheon, Korea Selatan, 2025

"What the hell?!" Sehun mengintip dari balik bahu Kai ketika ia mendengar lelaki itu memekik kesal. "Pemakamannya tutup?!"

"Ada perbaikan sementara di region tengah, Kai." Sehun berkata setelah membaca pengumuman yang tertempel di pintu masuk. "Nanti sore baru selesai."

Kai memutar kedua matanya kesal. "Apa boleh buat?"

Sehun tertawa pelan melihat kelakuan kekasihnya yang masih seperti anak-anak itu, ia kemudian memeluk lengan kanan Kai dan menarik lelaki itu menuju taman yang terletak di seberang gedung pemakaman. "Bagaimana kalau kita duduk-duduk di taman dulu?"

"Lalu kau akan membelikanku es krim?"

"Kau sudah besar, Kim."

"Baiklah, Kim."

Sehun mengernyit. "Margaku masih Wu!"

"Sebentar lagi." Kai menyeringai. Kemudian sepasang kekasih itu segera menduduki sebuah bangku taman yang menghadap ke arah jalanan.

Mata Sehun menangkap sesosok anak kecil yang sedang berlarian melintasi taman sambil mengejar bola. "What do you think about children, Kai?"

"I like them." Kai menjawab singkat.

"Aku ingin punya anak tiga."

"Uh…" Kai merenung. "Boleh saja."

"Lalu aku akan menamai mereka Shixun, Chanyeol, Luhan."

"Boleh juga." Kai terdiam sesaat sebelum melanjutkan. "Tapi bagaimana kalau ada yang perempuan?"

"Aku akan tetap menamainya seperti itu." Jawab Sehun mantap.

Kai menoleh untuk menatap Sehun dengan pandangan tidak percaya. "Serius?"

"Serius." Sehun menatap Kai dengan cemberut. "Kau keberatan?"

"T-tidak kok!" Kai langsung buru-buru tersenyum.

Sehun sontak berjengit kaget ketika ia melihat anak kecil yang tadi terjatuh ketika ia berusaha untuk menangkap bola yang ia kejar, tanpa berpikir panjang, Sehun segera melangkahkan kakinya menghampiri anak kecil yang terjatuh itu.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sehun khawatir.

Anak kecil itu menunjuk kakinya yang memerah karena terjatuh, namun untungnya tidak ada darah yang keluar.

"Ingin di obati?"

Anak itu hanya menggeleng, kemudian ia berusaha untuk berdiri. Sehun hanya tersenyum sembari membantu anak itu untuk berdiri, ia jadi teringat sang kakak ketika melihat anak ini. Shixun dulu juga sering sekali terjatuh, namun tidak pernah kakaknya itu menangis ketika terluka.

"Xie xie ni!" Anak itu berkata sambil tersenyum sebelum berlari menjauhi Sehun yang masih berjongkok. Mata Sehun tetap mengawasi anak itu sampai akhirnya anak itu berhenti di dekat seorang lelaki tinggi—mungkin ayahnya—yang kemudian menggendong anak itu dengan cepat. Posisi mereka yang membelakangi Sehun, membuat Sehun tidak dapat melihat wajah sang ayah, namun ia dapat mendengar percakapan yang terjadi di antara ayah dan anak itu.

"Ni shou shang le ma?" Sang ayah bertanya dengan nada khawatir. Apa kau terluka?

"Bie zhao ji, baba!" Anak itu membalasnya dengan riang, jangan khawatir ayah. Kemudian mereka berdua berjalan semakin menjauhi Sehun sehingga ia tidak dapat mendengar perkataan mereka selanjutnya. Namun Sehun hanya tersenyum sambil bangkit dari jongkoknya, melihat interaksi yang terjadi di antara ayah dan anak itu membuat dadanya menghangat.

"Anaknya lucu." Komentar Kai.

"Dan juga kuat." Sehun mengangguk menyetujui.

"Kita akan membuat anak-anak yang lucu dan kuat juga." Kai bergumam. "Harus."

Sehun tertawa. "Tentu saja, apapun yang kau mau."

.

"TADAAAA~"

Shixun menatap dua orang yang memiliki tinggi yang berbeda agak jauh itu dengan jengah. "Kalian mengajakku bertemu hanya untuk pamer cincin?"

Luhan mengernyit. "Ini bukan sembarang cincin, tauk!"

"Kita sebentar lagi akan menikah!" Chanyeol berkata dengan bangga.

"Tidak mengejutkan." Shixun berkata sambil lalu. Sementara itu Luhan dan Chanyeol hanya membuka mulutnya lebar-lebar, kaget karena ternyata kejutan mereka tidak berefek terhadap Shixun sama sekali.

"Tidak bisakah kau pura-pura kaget?" Chanyeol bertanya sambil cemberut.

Shixun memasang wajah pura-pura kaget. "Oh! WOW! Kalian akan menikah?! Congrats!"

"Ugh!" Luhan dengan gemas menarik kedua pipi Shixun hingga membuat lelaki itu mengaduh-aduh kesakitan. "Setidaknya hubungan kami memiliki progress." Ia berkata sambil melepaskan cubitannya.

"Haha." Shixun tertawa datar. "Jadi kalian pikir aku dan Yifan ge tidak ada kemajuan, begitu?"

Chanyeol dan Luhan saling berpandangan. "Tentu saja!"

Shixun mendengus sambil memasang ekspresi pongah, kemudian ia menepuk tangannya dua kali seakan-akan ia sedang memanggil pelayan. Namun, alih-alih pelayan yang datang, pintu terbuka dan muncullah Yifan yang tersenyum sambil menggendong anak kecil yang juga sedang tersenyum.

"WHAT?!" Trio absurd itu berteriak bersamaan.

"Itu anakmu?! Kau sudah punya anak?!" Tanya Chanyeol parno.

Shixun mengangguk.

"Tapi kenapa kau ikutan teriak?!" Tanya Luhan tak kalah parno dari Chanyeol.

"Lutut putraku lecet!" Shixun memekik nyaring. "Kenapa bisa?!"

"Jatuh." Jawab anak itu singkat, lengkap dengan cengiran lebar.

"Ugh…" Luhan merinding. "Dia mirip sekali denganmu."

Shixun menatap Luhan dengan sangsi. "Dia anakku, Lu. Tentu saja dia mirip denganku." Kemudian ia bergegas untuk mengambil sang putra dari gendongan Yifan.

Chanyeol dengan semangat langsung menghampiri putra Shixun itu dan mencubit-cubit pipinya. "Uhh…lucunya!" Anak itu hanya tersenyum riang. "Siapa namanya?"

"Zhuyi." Yifan yang menjawabnya karena Shixun sedang misuh-misuh sendiri di depan lutut sang putra yang lecet.

"Kenapa?! Kenapa bisa begini?! Kenapa?! KENAPA?!" Ketiga orang dewasa lainnya hanya facepalm sambil memperhatikan gerak-gerik Shixun yang seperti emak-emak rempong hanya karena lutut anaknya tergores sedikiiiit saja.

Yifan tertawa. "Abaikan saja dia. Oh iya, tumben sekali kalian mengajak kami ketemuan di Incheon, ada apa?"

"Kita akan menikah." Chanyeol berkata sambil merangkul Luhan. "Aku ke Incheon sebenarnya ingin mengunjungi makam ayahku untuk meminta restu, tapi berhubung kalian juga sedang berada di Korea jadi sekalian saja ketemuan."

Shixun, yang mendengar perkataan Chanyeol itu, langsung berhenti misuh-misuh. "Kau tidak mengunjungi ibumu juga?"

"Sudah, yah, meskipun hanya melihat ibu dan adik-adikku dari jauh sih. Tapi itu saja sudah cukup." Chanyeol tersenyum kecil.

"Nah, Zhuyi sayang." Shixun menggendong sang putra menghadap ke arah Chanyeol dan Luhan. "Perkenalkan ini uncle Chanyeol dan aunty Lulu."

"APA?! AUNTY?!" Luhan meledak, tidak terima dipanggil aunty. "YAH! WU SHIXUN KAU—"

"Li Shixun." Koreksi Yifan.

Luhan memicingkan pandangannya ke arah Yifan. "Terserah! Pokoknya aku tidak mau dipanggil aunty!" Kemudian ia tersenyum manis ke arah Zhuyi. "Nah, Zhuyi yang tampan, panggil aku uncle ya! Uncle Luhan!"

"Aunty." Zhuyi berkata riang lengkap dengan cengiran di wajahnya.

"That's my boy!" Shixun menciumi seluruh wajah sang putra sementara Luhan sudah hampir menangis di tempat.

.

"Ugh…" Luhan merinding. "Rasanya aneh memandangi pemakamanmu sendiri."

Kini mereka bertiga (Yifan sedang menemani Zhuyi ke toilet) sedang berdiri berjajar di depan sebuah nisan yang bertuliskan nama-nama mereka. Baru saja mereka selesai mengunjungi makam mendiang ayah Chanyeol dan sekarang (karena bosan) mereka iseng-iseng pergi mengunjungi makam yang telah ada di situ sejak 8 tahun yang lalu.

"Untung sepi ya pemakamannya." Chanyeol berkomentar. "Kalau ramai, bisa-bisa kita di kira hantu!"

"Aku terlalu tampan untuk jadi hantu." Kata Shixun datar. Sementara Chanyeol dan Luhan langsung pura-pura muntah mendengarnya.

Mereka masih tertawa-tawa sembari mengejek satu sama lain ketika Yifan datang menghampiri mereka dengan terburu-buru sambil menggendong Zhuyi.

Shixun mengernyit melihat kelakuan suaminya itu. "Ada apa? Kenapa?"

"Sehun…" Yifan berusaha menghirup nafas dalam-dalam. "Kai…"

"Kenapa mereka?" Tanya Chanyeol panik.

Yifan, yang sudah berhasil bernafas dengan normal, menunjuk ke arah tangga. "Mereka sedang menuju ke sini."

"Fu—" Shixun buru-buru berhenti ketika Yifan memandanginya dengan tajam. " Fudge! Kita harus sembunyi! Gege tetap di sini ya! Sambut mereka!" Kemudian Shixun segera mengambil Zhuyi dari Yifan sebelum berlari untuk bersembunyi di balik batu nisan orang lain yang cukup besar untuk menutupi mereka berempat, meninggalkan Yifan sendiri.

"Dad, kenapa kita bersembunyi?" Tanya Zhuyi.

Shixun tertawa gugup. "Kita sedang bermain petak umpet sayang, baba yang jaga, kita harus mengumpat supaya tidak ketahuan baba, oke?"

"Oke!" Zhuyi berkata riang.

"Sial! Aku gugup sekali!" Chanyeol berbisik. "Kalau kita ketahuan, rencana kita selama ini akan sia-sia saja!"

Luhan memukul bagian belakang kepala calon suaminya itu. "Makanya kau jangan berisik, Park!"

"Kau juga akan jadi Park sebentar lagi!" Chanyeol menyuarakan protesnya.

"Enak saja! Kau yang seharusnya jadi Lu Chanyeol sebentar lagi!" Luhan tidak mau kalah.

"Lu Chanyeol terdengar jelek! Park Han lebih bagus! Lagipula aku ini sememu!"

"Apa-apaan itu Park Han?! Lagipula sejak kapan kau jadi semeku?!"

"Margamu kan Lu, berarti nanti namamu akan berubah jadi Park Han!" Chanyeol mendengus. "Jangan sok jaim! Aku ini lebih tinggi daripada kau, tentu saja aku sememu! Kau itu pendek, cocoknya jadi uke!"

"Apa?!" Pekik Luhan, meskipun dari lubuk hati yang terdalam Luhan sudah tahu jika dia yang akan menjadi uke dalam hubungan mereka, tapi ia masih malu untuk mengakuinya, memang dasar sok jaim. "Diam saja kau Lu Chanyeol!"

"Park Han!"

"LU CHANYEOL!"

"PARK HAN!"

"BERISIK!"

Kedua sejoli itu langsung menoleh ke arah Shixun yang memasang wajah sebal dan Zhuyi yang hanya tertawa riang. "Kalian mau kita ketahuan hah?!"

"T-tidak!" Keduanya menjawab bersamaan.

"Makanya DIAM!" Shixun berkata dengan ganas.

Keduanya langsung kicep.

.

Kai berlutut sambil meletakkan sebuket bunga di depan nisan yang bertuliskan nama tiga orang yang sangat berarti baginya. Ia melirik ke arah Sehun dan Yifan yang sedang berbincang tak jauh dari posisinya sekarang sebelum ia memusatkan perhatiannya kembali kepada makam di hadapannya itu.

"Delapan tahun…" Kai tersenyum kecil. "Sudah delapan tahun ternyata."

Matanya menatap foto Shixun lekat-lekat.

"Seminggu yang lalu aku melamar adikmu di London, di Jembatan Blackfriars lebih tepatnya—jembatan itu punya sejarah yang panjang bagi kami," Kai menghela nafas pelan-pelan. "And he said yes."

Angin berhembus pelan menyebabkan kelopak bunga di hadapannya bergoyang lembut.

"Aku sudah membuatnya bahagia beberapa tahun belakangan ini, dan aku akan membuatnya lebih bahagia lagi dengan menjadikannya suamiku." Tangan Kai bergerak untuk menyentuh foto ketiganya. "Kalian tidak perlu khawatir, terutama kau Chanyeol…Shixun…"

Sebuah tangan melingkari pundaknya dengan pelan, Kai hanya tersenyum ketika Sehun meletakkan kepalanya di atas bahu Kai.

"They're happy Kai, I know it." Sehun berkata dengan pelan.

"Tentu saja." Kai menoleh untuk menyentuh pelan hidung Sehun. "Karena kau bahagia."

"Kita, Kai. Kita yang berbahagia." Sehun menjulurkan tangannya untuk menyentuh foto Shixun sebelum ia menoleh ke arah Kai sambil tersenyum. "Aku mencintaimu."

Kai balas tersenyum sebelum ia mencondongkan wajahnya untuk menghapus jarak yang ada di antara dirinya dengan Sehun. "Aku juga mencintaimu."

.

Sementara itu…tak jauh dari posisi Kai dan Sehun…

"Aww~ Mereka so sweet sekali!" Shixun berbisik senang sementara tangan kanannya sibuk menutupi mata Zhuyi.

"Dad, kenapa mata Zhuyi di tutup?" Putranya bertanya dengan polos.

Shixun terbatuk gugup. "Eh…karena Zhuyi masih kecil, sayang. Belum boleh lihat adegan itu."

Zhuyi cemberut. "Tapi aku pernah lihat daddy dan baba berciuman di depan mesin cuci!"

Wajah Shixun langsung memerah karena salah tingkah sementara Chanyeol dan Luhan bersusah payah untuk menahan tawa mereka.

"Pfft—"

"YAK!"

.

Beijing, China, 2025

Yifan bukan ninja, tapi kemampuannya untuk bersembunyi dan menyelinap di antara kerumunan banyak orang patut diberi acungan jempol.

Kini lelaki yang berstatus sebagai ayah dari satu anak itu sedang bersusah payah menyelinap di antara tamu-tamu undangan pernikahan Kai dan Sehun, sekaligus bersembunyi dari keluarga angkatnya yang sudah lama tidak ia jumpai. Niatnya ingin menyalami kedua mempelai, namun apa boleh buat, di dekat Sehun berdirilah serombongan Keluarga Wu. Yifan jadi tidak bisa dekat-dekat.

Menyerah, Yifan akhirnya memilih untuk menikmati keindahan gedung pernikahan yang dipilih oleh kedua sejoli yang sedang menikah hari ini. Gedungnya luas, sangat luas untuk menampung ribuan tamu yang datang (maklum, keduanya merupakan CEO dari perusahaan termaju abad ini), keindahan ruangan itu semakin menjadi-jadi dengan adanya sebagian atap yang terbuat dari kaca, memperindah ruangan sekaligus menghemat listrik.

Yifan menghela nafas pasrah, atap kaca itu memang indah bak kristal, namun jika di perhatikan dengan lebih detail, kalian bisa melihat tiga bulatan kecil berbentuk kepala timbul di pinggiran kaca itu. Untungnya tidak ada orang yang tertarik untuk memperhatikan atap itu. Yifan hanya berkali-kali menutupi wajahnya karena malu dengan kelakuan trio absurd itu (yang salah satunya sudah beranak dan merupakan suaminya sendiri).

Sementara itu di atap…

"Kita terlihat seperti penguntit."

"Ini entah sudah keberapa kalinya aku memanjat bangunan orang bersamamu Shixun! Jangan sampai aku harus melempari kepala satpam yang menangkap basah kita menggunakan pot bunga lagi!"

Shixun hanya mengabaikan celotehan kedua orang di sampingnya itu, matanya dengan jeli sedang memperhatikan adik kembar dan sahabatnya yang sedang berdiri sambil tersenyum senang menyalami tiap-tiap tamu yang datang.

"Bisa diam tidak?! Aku tidak mau jika atap kaca ini pecah dan kita terjatuh ke bawah hanya karena kalian tidak bisa diam!" Shixun berkata dengan beringas.

"Itu ibuku!" Chanyeol memekik girang. "Dan adik-adikku! Oh! Mereka sudah besar!"

"Shit!" Kini giliran Luhan yang memekik. "Ayahku sudah menggandeng istri baru lagi!"

"Huhuhuhu…Minjunnie sudah besar sekarang!" Chanyeol mengelap air mata bohongannya ketika ia melihat adik bungsunya.

"Ugh…wanita itu sok seksi sekali!" Luhan mengernyit sambil mengomentari penampilan ibu tiri barunya.

"Sunyoungie juga pasti sudah masuk kuliah sekarang!"

"Wanita itu pasti hanya menginginkan harta ayahku!"

"Aaaak! Jinyoungie sudah menggandeng seorang perempuan!"

"Lihat itu! Lihat! Wanita itu pasti umurnya tidak beda jauh denganku!"

"What the hell?! Seojunnie mewarnai rambutnya! Adikku sudah besar!"

"Dasar wanita kegatelan! Awas saja jika aku masih ada!"

"Hey! Siapa itu yang mencium pipi Miyoungie?!"

"Bahkan mereka sudah punya anak! Eh? Anak…?"

"AAAK! Adik-adikku sudah punya pacar!"

"AAAK! Aku punya adik tiri!"

"AAAK!" Kini giliran Shixun yang berteriak. "Ayah dan ibuku berciuman!"

Chanyeol dan Luhan langsung memalingkan pandangan mereka dari keluarga masing-masing menuju kedua orang tua Shixun yang kini sedang berdansa pelan sambil menautkan bibir mereka.

"Oh…wow…" Chanyeol terpana. "Sepertinya mereka balikan."

"Ugh…" Shixun cemberut. "Rasanya aku ingin bangkit dari kubur saja!"

Luhan memutar matanya dengan jengah. "Plis Xun. Kita ini tidak mati beneran."

"Aku tahu! Tapi rasanya tidak adil jika orang tuaku rujuk kembali tapi aku tidak ada untuk menyaksikannya!" Shixun protes.

"Ayahku sudah menikah lagi untuk kesekian kalinya dan aku tidak ada untuk menyetujui wanita yang ia pilih!" Luhan akhirnya ikut-ikutan protes.

"Adik-adikku sudah punya pacar dan aku tidak ada untuk menyeleksi mereka! ARGH!" Chanyeol berteriak frustasi.

"Ya sudahlah, apa boleh buat." Kata Shixun santai. Chanyeol dan Luhan langsung cemberut.

.

Yifan akhirnya berhasil untuk menghampiri Sehun dan Kai setelah ia melihat kedua orang tua angkatnya sekaligus kakak angkatnya sedang berdansa di lantai dansa

"Congratulations guys!" Yifan bergantian memeluk keduanya. "Kalian terlihat amazing hari ini."

"Tentu saja ge! Ini hari pernikahan kami!" Sehun membalasnya sambil tertawa. "Aku harap gege juga bahagia seperti kami." Ia berkata sambil menatap Yifan dalam-dalam.

Uh-oh…sepertnya Yifan harus mulai akting sedih sekarang.

"Aku tahu…" Yifan tersenyum (pura-pura) sedih. "Aku hanya…belum menemukan kebahagiaanku saja."

Yeah…teruslah berakting Yifan.

"Tenang saja ge." Kai menepuk pelan bahu Yifan yang (pura-pura) melorot. "Aku yakin Shixun pasti sedang menyaksikan kita dari atas sana."

"Yah…" Yifan tersenyum kecut sambil menatap atap kaca. "Tentu saja, Shixun pasti sedang menyaksikan kita dari atas bersama Chanyeol dan juga Luhan." Dari atap kaca, maksudnya, ujar Yifan dalam hati.

Setelah berbincang-bincang, Yifan segera mengundurkan diri karena acara dansanya sudah selesai. Ia tidak mau jika harus bertemu dengan Keluarga Wu, bisa-bisa mereka menahannya untuk pergi. Yifan tidak bisa, ia tidak bisa jika harus meninggalkan Shixun dan putra mereka Zhuyi, meskipun kelakuan keduanya terkadang membuat kepalanya pusing, tetapi Yifan tetap mencintai mereka.

"Y-Yifan?"

Yifan menoleh dengan kaku dan mendapati mantan kakak iparnya (atau sekarang sudah menjadi kakak iparnya lagi? Atau jadi ibu mertuanya?) sedang menatapnya dengan terkejut. Sementara itu, Yifan hanya bisa tersenyum canggung ke arah wanita yang merupakan ibu dari Shixun, suaminya, mungkin karena kakak iparnya itu kini sudah berubah status menjadi mertuanya.

Yah, sepertinya itu tanda bagi Yifan untuk segera kabur dari gedung itu.

.

Kembali lagi ke atap…

Kini trio absurd itu sedang bersusah payah untuk memanjat turun gedung pernikahan Kai dan Sehun yang tingginya hampir sama dengan Manison Keluarga Wu. Chanyeol berada di paling bawah, di susul oleh Luhan, dan terakhir Shixun yang mulutnya sibuk komat-kamit sendiri mengomentari ketinggian gedung ini yang berhasil membuatnya merinding.

"GAH!" Chanyeol memekik. "Tinggi sekali!"

"Don't be such a pussy!" Luhan mencibir.

Setelah 15 menit berusaha untuk memanjat turun (ya, lama sekali karena Shixun terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menjerit ketakutan), akhirnya ketiga anak Adam itu berhasil menginjakkan kaki mereka di tanah. Mereka baru saja akan berjalan menuju parkiran mobil ketika seorang satpam menangkap basah mereka.

"K-kalian—"

Shixun dan Chanyeol melotot kaget, mereka mengenali satpam itu, tentu saja, itu satpam yang bertahun-tahun lalu mereka timpuk kepalanya menggunakan pot bunga di Mansion Wu. Itu artinya, dia adalah satpam keluarga Wu, dan itu juga artinya satpam itu pasti tahu jika trio absurd itu harusnya sudah meninggal, bukannya berkeliaran di alam bebas seperti ini.

"H-han…H-han…" Satpam itu menunjuk mereka dengan gemetaran.

"Luhan?" Chanyeol dengan bodoh menunjuk Luhan yang berdiri di sampingnya. Sementara Luhan juga hanya menunjuk dirinya sendiri dengan cengo.

"HANTU! AAAAAAKKKK!" Satpam itu kemudian segera mengambil langkah seribu untuk kabur dari hadapan mereka, meninggalkan ketiganya terdiam dengan bodoh.

Shixun yang pertama kali tertawa terbahak-bahak. "Ah! Ternyata enak juga jadi hantu ya."

"Kau lihat ekspresinya tadi?!" Chanyeol bertanya di sela-sela tawanya. "Priceless!"

"Kita harus mencobanya lagi kapan-kapan!" Luhan berkata sambil tertawa.

Ketiganya kemudian tertawa-tawa dengan heboh hingga terbatuk-batuk.

"OH! WAIT! Aku punya ide!" Shixun berkata dengan mata yang bersinar jenaka, di hadapannya, Chanyeol dan Luhan langsung berhenti tertawa dan menatapnya dengan penasaran. "Bagaimana kalau kita masuk ke dalam dan mengejutkan semua tamu yang ada?" Shixun menyeringai.

Ketiganya lalu saling berpandangan dengan jahil. Namun, sebelum mereka sempat untuk melaksanakan kejahilan yang terrencana itu. Sebuah suara peluit yang memekakan telinga terdengar hingga membuat ketiganya terpaksa menutup telinga.

"HEY KALIAN!" Itu satpam yang tadi, "PERGI DARI SINI!"

"AKH!" Ketiganya memekik ketika satpam itu menciprati mereka dengan air yang berbau seperti bunga lengkap dengan jampi-jampinya.

"PERGI DARI SINI! PERGI DARI SINI!" Satpam itu tak henti-hentinya menyumpahi mereka.

"AAA! Kita harus beneran pergi dari sini!" Chanyeol berteriak heboh.

"KYAA! PANAS! PANAS!" Luhan (pura-pura) kepanasan.

Sementara itu Shixun hanya tertawa-tawa (membuat sang satpam merinding), namun sejurus kemudian ia langsung menarik tangan kedua sobatnya itu agar mereka segera lari dari situ.

"SAMPAI KETEMU LAGI PAK!"

Yah…tak lupa memberikan salam perpisahan terakhir untuk satpam malang itu.

.

.

.

.

.

Omake

Sehun dengan bangga menatap sang putra sulungnya yang kini sedang memperhatikan keseluruhan bangunan universitas barunya dengan semangat. Ia tidak menyangka, putranya yang dulu senang sekali mengompol kini sudah akan melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia, MIT.

"Shixun! Jangan berlarian!"

Sehun tertawa tanpa suara ketika ia melihat sang suami sedang berlari untuk menangkap putra bungsu mereka, yang baru berumur 7 tahun, sedang berlarian dengan riang tak jauh dari kakak sulungnya.

"Hyuuuuung! Jauhkan papa dariku!" Shixun kecil memekik nyaring sambil berusaha untuk sembunyi di balik kaki kakaknya.

"Appa," Sehun menoleh untuk menatap anak perempuannya yang berjalan di sisinya. "Chanyeol oppa jadi pindah ke sini?"

Sehun mengangguk, "oppamu itu harus belajar di sini, Lu. Tidak mungkin dia bolak-balik China-Amerika."

"Bagus lah!" Luhan—ya, putri mereka satu-satunya itu diberi nama Luhan atas perintah Sehun—itu mendengus. "Rumah rasanya damai jika tidak ada dia."

Sehun hanya bisa facepalm melihat kelakuan kedua anaknya itu yang tak jauh berbeda dengan sosok Chanyeol dan Luhan yang asli, selalu cekcok. Begitu pula putra bungsunya yang kenakalannya juga hampir sama dengan kakak kembarnya sendiri, lelaki yang memiliki nama yang sama dengan putra bungsunya, Shixun.

Keluarga Kim itu akhirnya berhenti di sebuah ruangan besar tempat dimana para lulusan terbaik MIT terpampang nama-namanya. Chanyeol menatap ruangan itu dengan mulut terbuka, sementara Kai (yang sudah berhasil menangkap Shixun) kini berdiri di sebelah sang putra sulung, di ikuti oleh Sehun dan Luhan.

"Kau mirip sekali dengan Chanyeol." Sehun mengelus kepala putra sulungnya. "Dia juga dulu bercita-cita sekolah di MIT."

"Uncle Chanyeol? Bukannya dia memang bersekolah di MIT?" Tanya putranya dengan bingung.

Sehun balik menatap sang putra dengan bingung. "Chanyeol-ah, appa kan sudah cerita kalau uncle Chanyeol itu meninggal sebelum—"

"Ya, aku tahu." Putranya itu cemberut. "Tapi kenapa ada nama dan foto uncle Chanyeol di situ?" Chanyeol putranya menunjuk sebuah foto berukuran sedang terpampang di antara sekian banyaknya foto-foto lulusan MIT lain. Sehun terkesiap kaget, ia bahkan sampai terloncat mundur. Berkali-kali ia mengerjapkan kedua matanya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.

Di antara sekian banyaknya foto-foto para lulusan terbaik MIT, terdapat foto Chanyeol yang sedang tersenyum, lengkap dengan toga dan topi kelulusannya, tidak salah lagi, itu Chanyeolnya, bukan Chanyeol yang lain. Di bawah foto itu terdapat tulisan kecil, namun Sehun dapat membacanya dengan jelas.

The 168th Honour Student of Massachusetts Institute of Technology

Park Chanyeol

Academy Year : 2021-2024

Sehun terguncang.

.

.

TAMAT


Yaahh…gais…ini tamat beneran :")

Akhirnya…setelah berbulan-bulan akhirnya FF ini tamat~

Maaf telah membuat kalian sedih dengan mengira bahwa trio absurd itu meninggal di chap sebelumnya T^T tapi akhirnya mereka ternyata cuma pura-pura doang kok muehehe

Saya cuma mau ngucapin terima kasih buat teman-teman saya yang udah jadi inspirasi saya pas ngetik adegan-adegan di FF ini, mulai dari adegan tebak-tebakan gaje di bus, adegan ga bawa kolor pas kemping (ini bukan saya kok..), adegan berantem pas main PS, sampe adegan dikira hantu sama satpam ples dicipratin air kembang sambil dibacain jampi-jampi (ya, semua itu pengalaman nyata saya dan kawan-kawan seperjuangan-_-)

Oh ya! Saya juga udah punya satu ide lain buat FF berchapter saya yang selanjutnya. Tinggal tunggu tanggal mainnya~

And the last but not least…

Makasiiih banyak buat para readers sayaa~ aahhh pokoknya terima kasih! Thank you! Xie xie! Gomawo! Arigatou! Merci! Danke! Tanpa kalian semua FF ini ga ada apa-apanya huhu saya gabisa sebutin satu persatu karena kalian semua banyaaaak banget! Tapi saya bener-bener berterima kasih sama kalian! Terima kasih udah meluangkan waktu kalian buat baca FF ini hehe makasih udah komen, favoritin, dan follow FF ini juga~ thank you thank you thank you KALIAN MEMANG LUAR BIASA~~

Selamat lebaran juga bagi yang merayakan ^^

See you on the next FF hehe BYE! Have a nice day~