Kenapa Selalu Sakura?

By Ryuhara Haruno

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Sasuke x Sakura

Warning : Au,OOC, typo (s), cerita pasaran tapi, dijamin penasaran#PDLO?

.

.

.

Summary : Sakura itu sekretaris OSIS/Sakura-chan juga ikut bergabung dengan klub memasak/Hn. Aku ingin Sakura yang menjadi menejer tim kami/Gawat...gawat! Sakura, akan menggantikan posisi Shion!

.

.

.

Chapter 6: Broken Heart

.

.

.

Enjoy it!

.

.

.

Sore hari seperti biasa Sakura sudah siap dengan pakaian maid-nya sebagai penjaga toko kue. Hari ini Crimson Cake membuat sedikit perayaan atas ulang tahun berdirinya toko kue terkenal itu yang ke 23 tahun. Yah… toko kue itu memang sudah terkenal sedari dulu, apalagi ditambah dengan konsep bangunannya yang menarik, pelayanan yang ramah serta harga kue-kue yang terjangkau mulai dari kelas menengah dengan harga standar hingga kelas atas. Maka dari itu Crimson cake selalu menjadi toko kue pilihan utama setiap pengunjung. Sakura menatap sosok laki-laki tampan yang baru saja memasuki toko kuenya. Kebetulan, untuk perayaan ulang tahunnya Crimson Cake mengadakan diskon 20% untuk setiap kue yang ada dan memiliki souvenir berupa cincin berlian untuk siapa saja pengunjung yang beruntung pada hari itu. Di depan pintu, terdapat Yuki seorang maid berwajah manis dengan rambut cokelat bergelombang yang membagian kupon undian untuk memenangkan cincin berlian itu. Di dalam kupon tersebut akan tertulis kata "I Love Crimson Cake" dan "I Love this cake". Jika kau menemukan kata "I Love This Cake" maka tutuplah harapanmu mengenai souvenir itu dan lanjutkan aktivitasmu untuk merasakan lezatnya kue buatan koki handal dari Crimson Cake. Namun, jika kau menemukan kata "I Love Crimson Cake" maka tukarkanlah kupon itu pada menejer Crimson Cake dan sepasang cincin berlian akan menjadi milikmu.

Sosok tampan yang terbalut kemeja hitam dengan celana jeans biru tua itu tampak tersenyum pada Yuki saat gadis itu memberikan kupon undian kepadanya. Yuki sempat blushing saat lelaki itu tersenyum padanya dan mengucapkan terima kasih. Sepasang mata hazel itu menelusuri berbagai rak-rak yang menampilkan berbagai jenis kue-kue lezat yang enak disantap. Ia tersenyum saat sesosok gadis manis menghampirinya dan memberikan baki beserta penjepit kue kepadanya.

"Selamat sore tuan, silahkan memilih kue buatan kami dan selamat menikmati," Ujarnya dengan sopan seraya membungkukkan tubuhnya.

Pemuda tadi mengusap kepala yang ditumbuhi rambut merah muda itu dan tertawa dengan sangat tampan. Membuat beberapa maid dan gadis-gadis SMA yang berada disana berteriak histeris ke arahnya.

"Hahaha… Saku-chan, jangan seserius itu. Aku jadi tidak enak padamu," Sasori mengusap lembut kepala yang ditumbuhi rambut unik itu.

Sakura yang merasakan sentuhan yang diberikan Sasori di atas kepalanya hanya menggembungkan pipinya sebal dan menatap sosok tampan itu dengan semburat merah di wajahnya.

"Sasori senpaijangan menertawakanku," rajuknya.

"Kau lucu sekali Saku-chan," Sasori mengempiskan pipi Sakura yang menggembung.

"Ne, kau tidak sibukkan? Bisa temani aku untuk berkeliling mencari kue untuk Tousan?" Pinta pemuda tampan itu.

Sebenarnya toko kue sedang ramai saat itu, Sakura merasa sedikit bingung untuk menerima permintaan Sasori atau tidak. Tapi, menurut Konan selaku menejernya permintaan pelanggan adalah permintaan raja. Maka dari itu, maid juga harus menerima permintaan pelanggan mereka. Sakura menatap Sasori yang sudah menunggunya, pemuda itu tampak tersenyum dan membuat gadis itu salah tingkah.

"Bagaimana hm? Kau melayaniku saja. Aku hanya ingin dilayani olehmu, cantik," puji Sasori seraya mencuil dagu Sakura.

Pertanyaan Sasori yang sedikit mengandung makna ambigu membuat wajah Sakura memerah kembali. Namun ia membiarkan telapak tangan kekar itu menarik tangan mungilnya dan mereka berjalan di antara rak-rak yang menyimpan beraneka ragam jenis kue yang sangat lezat.

"A-ano… se-sebenarnya, Sasori-kun mau mencari kue untuk siapa?" Tanya Sakura.

Sasori melihat aneka pudding yang tersusun di dalam etalase kaca yang tampak sangat enak. Kemudian hazel-nya menatap emerald Sakura dan tersenyum dengan manis.

"Hm… aku ingin membeli brownies untuk Tousan. Tousan baru saja pulang dari Suna," Sakura mengangguk paham. Ia mengantarkan Sasori pada rak kue brownies andalan Crimson Cake. Sasori memesan brownies berukuran sedang dengan topping rasa kopi sesuai selera ayahnya. Setelah membungkus dan membayar kue tersebut Sakura mengantarnya sampai pintu dan mengucapkan terima kasih seperti biasa yang ia lakukan pada pengunjung.

"Arigatou ne, Sasori-kun. Lain kali mampir lagi kesini," Ucap Sakura tersenyum.

"Aa… sama-sama Saku-chan. Lalu, ini untuk apa?" Sasori mengangkat kupon undian yang ia dapat tadi. Sakura mengulum senyumnya dan menyeka anak rambutnya ke belakang telinga.

"Sasori-kun tidak tahu ya? Hari ini Crimson cake sedang berulang tahun. Dan itu adalah kupon undian berhadiah," jelas Sakura.

"Souka? Jika aku beruntung bagaimana Sakura-chan? Apakah mereka akan memberikanku hadiah?"

"Yap," Sakura mengangguk dengan semangat.

"Hadiahnya apa?" Sasori mulai mengintip tulisan yang ada di dalam kupon undiannya.

"Hadiahnya sepasang cincin berlian."

"Hmm… disini tertulis, I love crimson cake. Apa artinya itu Sakura-chan?" Sasori membaca tulisan di kuponnya dengan bingung.

Seketika emerald Sakura membulat kaget dan menatap undian di tangan senpai imutnya tersebut.

"Na-ni? Sasori senpai memenangkannya? Kyaaaaa…. Senang sekali!" Sakura berteriak histeris. Hampir seluruh mata menatap kearah mereka. Terutama Konan selaku menejer Crimson yang sedang ikut melayani tamu-tamu mereka mengingat hari ini adalah hari spesial. Wanita cantik berusia 24 tahun itu menghampiri Sakura yang secara spontan memeluk Akasuna Sasori dengan erat dan membuat si pemuda tampan menjadi sedikit blushing.

"Wah…wah…wah… ada apa ini Sakura-chan? Kenapa kau senang sekali hm?" Tanya Konan dan tersenyum kepada Sasori.

"Ne, Konan-nee, Sasori senpai memenangkan hadiahnya. Sasori senpai mendapatkan tulisan I love crimson cake," Sakura mengeja tulisan yang berada di kertas itu. Konan sendiri tersenyum dan menjabat tangan Sasori.

"Wah selamat ya anda mendapatkan souvenir cantik dari kami sebagai hadiah perayaan ulang tahun Crimson Cake yang ke-23 tahun. Sebagai hadiahnya kami memberikan sepasang cincin berlian. Izumo, tolong bawakan hadiahnya!" teriak Konan pada salah satu pegawainya.

Sakura tersenyum senang dan Sasori sendiri merasa bingung. Tak lama kemudian pelayan yang dipanggil Izumo tadi datang dan membawa sebuah kotak berludru berwarna biru tua. Ia memberikannya kepada Konan dan Konan menerimanya dengan baik.

"Nah, karena Sasori-san mendapatkan tulisan I Love Crimson Cake, jadi cincin itu berhak menjadi milik Sasori-san. Terima kasih atas kunjungannya, semoga pelayanan kami memuaskan," ucap Konan sambil tersenyum.

Sasori hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. "Wah... aku jadi tidak enak menerimanya. Bagaimana ini? Tapi terima kasih. Aku sangat senang menerimanya." Sasori menerima cincin berlian itu dengan baik dan menyimpannya di saku kemeja.

"Baiklah, karena aku sedang buru-buru sekali lagi terima kasih atas pelayanannya. Dan juga Sakura-chan. Aku pamit dulu ya?" Sasori membungkukkan tubuhnya sedikit dihadapan Konan dan Sakura. Sakura sendiri tersenyum manis dan melambaikan tangannya pada Sasori.

"Hati-hati ne senpai. Datang lagi ya."

~~000~~

Jam kepulangan pegawai pun menjadi sedikit lebih lama karena melayani beberapa pelanggan yang berdatangan. Biasanya para pegawai akan pulang pukul 9 malam, namun kali ini terlambat sekitar satu jam. Sehingga beberapa pegawai harus bekerja 1 jam lebih lama dari jadwal biasanya. Tapi tenang saja, Konan selaku menejer toko kue terkenal ini sudah memberikan bonus tambahan sebagai hadiah atas kerja keras para pegawainya. Ia sangat senang karena para pelanggan terus berdatangan hingga pukul 10 malam seperti sekarang. Bahkan Izumo masih harus mengantarkan 3 pesanan delivery.

Sakura baru saja selesai membersihkan meja-meja dan piring-piring di dapur. Gadis merah muda itu mengganti pakaian maid-nya dengan seragam sekolah yang ia kenakan. Ia sudah memberitahu ibunya bahwa ia akan pulang terlambat.

"Hah~ hari yang melelahkan." Sakura mengeringkan tangannya menggunakan salah satu tishu di atas meja. Manik emerald-nya tampak menatap bulan yang menggantung rendah di atas langit. "Ini sudah jam 10 malam lebih 10 menit. Aku harus bergegas jika tidak ingin terlambat." Ia mengambil tas sekolah yang ia letakkan di dekat ruang ganti pakaian. Setelah berpamitan pada teman-temannya dan juga Konan, Sakura keluar dari toko kue lewat pintu samping karena pintu di depan sudah dikunci oleh penjaga keamanan. Baru saja ia akan berjalan menuju halte bis untuk menunggu bis terakhir yang beroperasi malam ini, seseorang mengejutkannya.

"Ah... Sa-Sasuke-kun? Kenapa bisa ada disini? Inikan sudah jam 10 lewat." Sakura memiringkan kepalanya sambil menatap Sasuke yang duduk di atas motornya dengan wajah sedikit mengantuk.

"Hn. Aku menunggumu. Kau sudah pulang?"

"Me-menungguku? Ke-kenapa? Sasuke-kun, aku bisa pulang sendiri. Sasuke-kun pulang duluan saja. Ini sudah malam." Sakura mengeratkan pegangannya pada tali tasnya. Sasuke sendiri menatapnya dengan intens. Sudah 1 jam ia menunggu gadis itu dan gadis itu menyuruhnya pulang begitu saja?

"Hn. Lalu membiarkanmu pulang sendirian? Ini sudah malam Sakura."

"Ta-tapi, a-aku bisa..."

"Tidak ada penolakan!" Sasuke menatapnya sedikit tajam. Mau tak mau tatapan tajam itu membuat nyalinya sedikit ciut. Sakura menundukkan wajahnya untuk memutuskan kontak mata mereka.

"Ba-baiklah." Sakura menerima helm dan menaiki motor Sasuke. Ia sendiri masih bingung kenapa pemuda tampan ini menjemputnya, padahal Sakura tidak meminta bantuan Sasuke sama sekali.

"A-ano... Sasuke-kun, bisa temani aku makan malam sebentar sebelum pulang? Aku belum makan malam." Sakura mencicit pelan dibalik punggung tegap Sasuke yang sedang berkonsenterasi dengan jalanan yang cukup lengang di malam hari. Sasuke sendiri sudah menebak hal ini, ia memutar arah menuju kedai ramen langganan Naruto yang ia yakini belum tutup, mengingat kedai itu masih buka sampai tengah malam.

"Hn. Pegangan yang erat Sakura."

Sasuke menambah kecepatannya lagi, membuat gadis merah muda itu sedikit ketakutan dan mengencangkan pegangannya di pinggang Sasuke. Tanpa tahu bahwa pemuda itu menyeringai dibalik helm full face -nya.

.

.

.

"Sasuke-kun, aku pesan Ramen spesial dengan tambahan jamur. Sasuke-kun pesan apa?" Sakura meletakkan buku menu yang ia pegang. Manik emerald-nya menatap mata onyx Sasuke yang masih sibuk membaca deretan menu yang disediakan di kedai ramen terkenal itu. Lihat saja, walau hari sudah malam namun pelanggannya masih berdatangan.

"Hn. Aku pesan seperti biasa saja, dan tambahkan irisan tomat yang banyak."

Sasuke mengucapkan menu yang ia pesan dan dicatat dengan baik oleh pelayan yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan memuja. Sasuke memperhatikan wajah Sakura yang terlihat lelah. Sebenarnya ia agak kasihan dengan gadis itu, setelah beraktivitas seharian di sekolah ia harus bekerja hingga larut malam seperti ini. Belum lagi ia harus mengerjakan tugas-tugas sekolah yang bisa dibilang tidak sedikit itu, membuat dirinya tidak bisa merasakan indahnya masa-masa remaja. Apakah karena tuntutan hidupnya yang begitu berat hingga mengharuskan Sakura bekerja paruh waktu seperti ini?

Merasa ada sepasang mata yang menatap ke arahnya, Sakura bangun dari tidur sejenaknya di atas meja. Ia mendapati sepasang obsidian Sasuke menatapnya cukup intens. Sakura tersenyum.

"Ada apa ne Sasuke-kun? Maaf ya kalau aku tertidur. Aku hanya merasa lelah." Ujarnya jujur.

"Hn. Tak apa. Tidur saja sejenak, nanti aku bangunkan."

Sakura kembali meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya untuk tertidur sejenak. Ia sudah merasa letih sekali untuk hari ini. Tapi ia harus mengisi perutnya yang kosong agar penyakit maag-nya tidak kambuh. Bisa gawat jika Mebuki mengetahui penyakitnya itu. Bisa-bisa ia akan menyuruh Sakura untuk bekerja paruh waktu. Tak lama setelah itu pesanan mereka datang. Sakura menyantap ramen pesanannya dengan sedikit semangat. Bahkan beberapa kali ia makan sambil berlepotan membuat Sasuke tersenyum kecil dan memberikan tishu pada gadis itu.

"Ah... aku ingin bertanya, kenapa bisa Sasuke-kun ada di toko kue?" Sakura memotong jamur yang berada di mangkuk ramennya. Sasuke yang sedang fokus menyesap teh tawar pesanannya itu melirik ke arah Sakura.

"Hn. Aku mengantar aniki." Jawabnya singkat. Mendengar nama pria pujaannya disebut Sakura segera menghentikan suapan terakhirnya.

"Wah, jadi tadi ada Itachi-nii? Kenapa Sasuke-kun tidak memberitahu? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya." Sasuke cukup terkejut melihat wajah Sakura yang cukup antusias dan bahkan kelewat bersemangat saat ia menyebutkan nama aniki baka-nya itu.

"Hn. Memangnya kenapa? Ia ingin menjemput Konan-nee." Jawabnya singkat.

"Memang mereka ada hubungan apa sampai-sampai Itachi-nii menjemput Konan-nee?" tanya Sakura penasaran.

Sasuke mengangkat alisnya sebelah, "Hn. Merekakan tunangan." Dan jawaban singkat itu melunturkan senyuman Sakura seketika. Entah kenapa, rasanya seperti ada ratusan jarum yang menusuk tepat di jantungnya.

Sakura hanya tersenyum kecil dan memegangi dadanya yang berdenyut perih. Yah... memang dari awal ia yang salah. Ia salah karena sudah menaruh harapan lebih pada sosok kakak laki-laki Sasuke itu. Sebenarnya, dari awal saat Sakura menginap di rumah Sasuke akibat kejadian pem-bully-an itu ia sudah menaruh rasa kagum pada sosok Itachi. Sosok pemuda tampan dewasa yang begitu ia idamkan. Apalagi Itachi adalah seorang dokter penyakit dalam di rumah sakit Konoha. Menambah kekaguman pesonanya di mata Sakura. Awalnya ia juga sedikit bingung kenapa Itachi sempat berkunjung ke toko kue tempat ia bekerja. Saat itu Itachi berkata bahwa ia akan bertemu dengan Konan. Namun, Sakura tidak tahu bahwa sosok pemuda yang ia sukai itu tengah menjalin hubungan serius dengan menejernya. Pantas saja, mengingat usia Itachi yang sangat mapan, lelaki itu pasti lebih memilih wanita dewasa dan tegas seperti Konan. Bukan seperti dirinya yang hanya berstatus gadis SMA biasa. Sakura menundukkan kepalanya dalam.

"Kau kenapa?" Pertanyaan Sasuke membuyarkan lamunannya. Sakura menatap sepasang onyx serupa dengan milik lelaki yang disukainya itu dan menggeleng pelan.

"Tidak ada. Sasuke-kun, kita langsung pulang yuk."

Sasuke mengangguk, walau dalam hati ia bertanya, 'Apa Sakura menyukai Aniki?' sembari menatap punggung mungil yang sudah keluar terlebih dahulu. Sasuke membayar semua tagihan mereka dan segera menyusuli Sakura. 'Mana mungkin. Dia kan tahu Aniki itu sudah bertunangan.'

Sesampai di halaman apartemen mungilnya Sakura melepaskan pegangannya di pinggang Sasuke. Ia turun dan merapikan sejenak rambut merah mudanya yang berkibar selama di perjalanan.

"Terima kasih banyak ne Sasuke-kun. Sudah repot-repot mengantarku dan menemaniku makan malam. Sasuke-kun mau mampir sebentar?" kedua manik emerald-nya menatap ke sepasang onyx itu.

Sasuke menggelengkan kepalanya. Ia merapikan sedikit helaian merah muda Sakura yang terlihat berantakan dan menyelipkannya ke belakang telinga mungil gadis itu. Perlakuan Sasuke ini membuat Sakura gugup.

"Hn. Tidak apa. Baiklah, aku pulang dulu. Selamat malam."

"Se-selamat malam. Jaa." Sakura melambaikan tangannya dan Sasuke menghidupkan motornya kembali seraya menembus keheningan malam.

Sakura menatap kepergian Sasuke dengan pandangan mata yang sedikit nanar. Ia memegangi dadanya yang terasa berdetak lebih cepat. "Sepertinya, Itachi-nii tidak mungkin bisa aku miliki. Kami-sama, semoga aku bisa menemukan yang lebih baik." Ujarnya seraya masuk ke dalam apartemen.

-0o0o-

Minggu ini akan didakan ujian pertama setelah kegiatan belajar mengajar berjalan selama 1,5 bulan. Seperti biasa, Konoha High School akan mengadakan ujian setiap 1,5 bulannya untuk mengevaluasi sampai sejauh mana pemahaman materi yang telah dikuasai oleh siswa-siswi. Biasanya, ujian ini akan berlangsung selama satu minggu dan hasilnya akan keluar 3 hari kemudian. Hasilnya akan diurutkan dari peringkat pertama hingga peringkat terakhir disertai akumulasi nilai per mata pelajarannya. Kabarnya, ujian kedua di semester ganjil ini bertujuan untuk menentukan siapa gadis yang akan menjabat menjadi wakil ketua murid yang sebelumnya dijabati oleh Shion. Karena, 1 minggu yang lalu gadis itu mengundurkan diri dari jabatannya.

Sudah menjadi tradisi, bahwa siswa yang meraih peringkat pertama pada ujian di awal semester akan menjadi ketua murid dan siswi yang meraih peringkat pertama akan menjadi wakilnya. Diawal semester, Sasuke menduduki peringkat pertama, disusul oleh Shikamaru dan Shion. Hal inilah yang membuat Sasuke sudah menjabat jabatan ketua murid itu. Saat ini, Hinata menatap tajam pada sosok merah muda yang sedang mengawasi jalannya latihan futsal kelas XI. Tim futsal akan mengadakan pertandingan sebentar lagi seusai ujian nanti. maka dari itu, latihan mereka digandakan menjadi dua kali sehari. Latihan rutin setiap sore masih tetap berjalan, dan sebagai tambahannya mereka latihan kembali disela-sela waktu istirahat ataupun saat pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai.

Hinata dan kedua temannya menatap sosok merah muda yang tertawa riang itu dengan kesal.

"Bagaimana Karin? Kau memiliki rencana untuk mengerjainya?" Tanya Ino. Gadis berambut pirang yang saat ini tengah mengipasi dirinya karena berdiri di bawah terik matahari yang sangat panas. Kalau bukan karena Hinata dan Karin, ia merasa malas untuk berdiri di bawah sinar matahari di siang bolong seperti sekarang.

"Hm... aku sudah merencanakannya. Dia mendekati Sasori-kun'ku. Yang benar saja aku akan melepaskannya. Lihat saja, di acara prom night nanti ia akan kupermalukan." Karin menatap tajam Sakura dari balik kacamata tebalnya.

"Well guys, kurasa kita harus bergerak lebih hati-hati. Gadis jalang itu memiliki banyak dukungan. Kau tidak ingat? Gara-gara pembully-an itu aku terkena skors selama seminggu karena tuduhan yang diajukan ketua OSIS kesayanganmu itu. Kita harus menekannya secara perlahan." Ujar Hinata.

Yah, karena tindakan pembullyannya itu, Hinata terkena skorsing selama 1 minggu karena tuduhan yang diberikan Sasori pada kepala sekolah disertai barang bukti dan saksi mata. Membuat Hinata berfikir dua kali untuk mengerjai Sakura karena gadis itu dilindungi oleh siswa yang paling disegani di sekolah ini.

Karin mendesah pelan, "Salahmu sendiri membuang barang bukti di tempat sampah. Jelas saja Sasori-kun menemukannya diakan pria yang cerdas. Kyaa... Sasori-kun." Wajah Karin tersipu membayangkan wajah tampan senpai kesayangannya itu.

"Lagi pula, Sasuke kan yang mengadukan perihal perbuatanmu itu? Ia melihat kejadian itu Hinata. Jelas saja Sasuke langsung memberitahunya pada ketua OSIS." Sambung Ino.

"Hm... aku tidak peduli. Aku akan mengalahkannya dan memisahkannya dari Sasuke-kun. Enak saja merebut pangeranku." Hinata menatapnya penuh kebencian.

"Ah... sebentar lagi akan diadakan ujiankan? Kau berusaha saja agar bisa meraih peringkat pertama diujian nanti. Dengan begitu kau bisa menjabati wakil ketua murid dan dekat dengan Sasuke-kun, Hinata." Ide Karin.

"Hm... bagaimana jika seandainya Sakura yang mendapatkan peringkat itu? Otomatis peluangmu bisa berkurang." Ino menyatakan pendapatnya.

"Kalau aku tidak bisa mendapatkannya. Maka dia juga tidak akan bisa mendapatkannya." Ujar Hinata seraya menyeringai.

-0o0o-

Seusai mengawasi pergerakan dan perkembangan dari para pemain futsal KHS, Sakura izin karena ia harus mengikuti pertemuan ekstrakulikuler memasaknya. Tadi, Kabuto selaku ketua ekskul itu mengiriminya pesan bahwa mereka akan mengadakan pertemuan sebentar sebelum bel istirahat berbunyi. Sakura menghampiri Sasuke yang sedang menikmati minuman isotonik sambil mengelap tubuhnya dengan handuk kecil yang tersampir di lehernya.

"Sasuke-kun, A-aku boleh izin ne? Tadi Kabuto-senpai mengirimiku pesan. Dia bilang bahwa kami akan berkumpul sejenak sebelum bel berbunyi, aku duluan ya?"

"Hn. Nanti cepat kembali. Setelah ini kita akan ada kuis dengan Kakashi-sensei."

"Baiklah, terima kasih Sasuke-kun. Um...A-aku pergi dulu." Sakura menyelipkan anak rambutnya dengan gugup. Jujur saja, melihat sosok Sasuke yang berkeringat setelah berlatih itu adalah pemandangan yang sangat dinanti-nantikan oleh kaum hawa. Lihat saja, diseberang sana para fansgirl Sasuke sudah berteriak heboh. Jadi, wajar saja jika Sakura gugup. Dia juga seorang gadis biasa kan? Tanpa disadarinya, bibirnya tertarik ke atas. "Hn. Dia menarik."

-0o0o-

Kabuto mngadakan pertemuan mendadak itu di taman yang terletak di belakang gedung kelas XII. Senior yang sudah menjabat menjadi ketua ekskul memasak selama 2 tahun itu tampak berdiskusi dengan beberapa anggota yang sudah datang. Ekskul memasak ini tergolong masih baru. Namun, mereka memiliki anggota yang cukup banyak. Terdapat 20 anggota yang mengikuti ekskul ini setelah Sakura bergabung.

"A-ano senpai, maaf terlambat. Boleh izin bergabung?" ucap Sakura.

"Silahkan Haruno-san, kita belum diskusi terlalu banyak."

"Arigatou." Sakura mengambil tempat duduk di sebelah gadis mungil berambut pendek berwarna cokelat.

"Baiklah, kita lanjutkan yang tadi. Jadi, kita akan mengadakan seperti pameran masakan saat pergelaran turnamen futsal antara KHS dan SHS yang didapakan 2 minggu dari sekarang. Aku selaku ketua ingin memberikan kalian kreasi bebas tentang masakan yang akan kalian buat. Rencananya kita akan mengadakan stand makanan saat turnamen nanti. Stand itu sendiri akan didirikan sebanyak 2 buah. Masing-masing stand akan diisi 2 kelompok. Karena ada 2 stand otomatis akan ada empat kelompok disini. Nah, aku akan membagi kalian menjadi empat kelompok yang terdiri 5 anggota. Dari lima anggota itu aku harap kalian bisa memberikan hasil yang terbaik agar ekskul kita tidak dipandang sebelah mata oleh ekskul lain. Sejauh ini ada pertanyaan?" jelas Kabuto.

Sakura mengangkat tangannya, "Baiklah Haruno-san, silahkan." Ujarnya.

"Um... untuk masakannya, apakah diperbolehkan untuk membuat semacam kue, puding, atau minuman begitu senpai?"

"Nah, pertanyaan yang bagus. Jadi, ini adalah kreasi bebas. Kalian bebas membuat apa saja asalkan tidak merepotkan. Kalian boleh membuat puding, kue, minuman ataupun es krim. Tapi untuk menentukan siapa yang menang dalam perlombaan ini, aku akan meminta anggaran belanja kalian. Juga ditentukan oleh respon pelanggan terhadap masakan kalian. Siapa yang anggaran belanjanya sedikit dan bisa menarik perhatian pelanggan, itu yang akan memenangkan perlombaan ini." Jelas Kabuto. Beberapa siswi terlihat antusias dalam perlombaan ini.

Hinata menatap sinis ke arah Sakura. Kemarin, saat latihan dengan tema sushi, Kabuto memuji rasa masakan Sakura yang dianggap paling sempurna dengan contoh yang diberikan. Kali ini dia tidak akan diam begitu saja. Ia akan memenangkan perlombaan ini dan merebut hati para pemain futsal, khususnya Sasuke.

"Ada lagi?" Kabuto melayangkan pandangannya ke seluruh anggota.

"Senpai, pembagian kelompoknya bagaimana?" seru seorang gadis mungil berambut hitam.

"Oh iya. Mengenai hal itu akan aku umumkan 2 hari lagi. Kalian bisa melihatnya di mading." Gadis itu mengangguk mengerti, "Baiklah, kita sudahi pertemuan singkat ini. Maaf mengganggu waktu kalian."

Setelah Kabuto menutup pertemuan singkat itu, para anggota klub memasak langsung membubarkan diri. Seorang gadis mungil bersurai cokelat pendek yang tadi duduk di sebelah Sakura menepuk pundak gadis merah muda itu.

"Hei, tunggu sebentar."

"Ya?" Sakura berbalik. Ia menatap gadis yang duduk di sebelahnya tadi.

"A-ano... kita belum berkenalankan? Kemarin aku tidak datang saat latihan. Kalau boleh tahu namamu siapa?" ia menjulurkan tangannya.

Sakura menerima jabatan tangan gadis itu, "Ah... namaku Haruno Sakura, dari kelas XI-1. A-aku masih baru disini. Salam kenal." Ujarnya ramah.

"Namaku Matsuri, aku dari kelas XI-2. Salam kenal ya, Haruno-san." Ujarnya dengan nada yang tidak kalah ramah.

"Ne, Sakura saja. Aku tidak terbiasa dipanggil 'Haruno'."

"Baiklah, Sakura. Eh... ngomong-ngomong kau pindahan darimana? Hebat sekali bisa berada di kelas XI-1?" Tanya Matsuri dengan tatapan bingung.

"Um... dari Ame. Aku mendapatkan beasiswa full selama disini." Jelas Sakura.

"Wah... pasti Sakura sangat pintar. Bisa mendapatkan beasiswa full." Matsuri kagum.

"Ah tidak juga ne. Matsuri, aku harus kembali ke kelas. Sampai jumpa ne."

"Ah sampai jumpa Sakura. Senang mengenalmu." Sakura tersenyum manis dan pamit untuk kembali ke kelas lebih dulu.

.

.

.

Sakura tersenyum senang karena ia mengenal satu teman perempuan lagi. Seraya berjalan menuju kelasnya, ia tidak sadar bahwa ada sepasang mata hazel yang menatapnya dari jendela atas bangunan kelas XII.

"Sakura-chan." Gumamnya pelan. Ia mengirimi pesan singkat ke gadis itu. Tanpa sadar bahwa ada sepasang manik sebiru langit yang meliriknya.

"Wah... jadi itu junior yang digosipkan dekat denganmu ya Danna? Selera yang bagus. Merah muda eh?" goda Deidara.

Sasori menatap bosan sahabat sekaligus rivalnya itu, "Memangnya kenapa? Jangan bilang kau mengincarnya." Ia menatap Deidara sedikit tajam.

Deidara tersenyum jahil, "Tidak... tidak... aku tidak suka dengan sesuatu yang berwarna cerah heh. Untukmu saja."

"Hn, terserah!"

To : Sakura-chan.

Ganbatte ne, untuk pameran kulinernya. :D

Sakura merasakan ponselnya bergetar. Ia membuka pesan yang dikirim oleh Sasori dan sedikit terkejut karena Sasori mengetahui pameran kulinernya itu. 'Ah, ia'kan ketua OSIS. Wajar saja jika ia mengetahui setiap agenda sekolah.' Batinnya.

-0o0o-

Sakura menemani Sasuke berlatih di lapangan belakang gedung Barat KHS. Hari sudah menunjukkan pukul 4 sore. Seharusnya Sakura bekerja di toko kue, namun ia mengambil izin cuti 1 hari. Karena tidak terlalu ingin cepat pulang gadis itu menemani Sasuke berlatih seorang diri untuk meningkatkan skill-nya dalam menendang bola dari sudut tajam.

Emerald-nya menatap sosok Sasuke yang sedang asyik menggiring bola. Jika dilihat-lihat pemuda yang menjadi teman sekaligus kapten Futsal tempat dimana ia menjadi menejer tim ini sangat tampan. Tapi yang membuatnya heran adalah kenapa ia sama sekali tidak menaruh perhatian lebih pada Sasuke? Seharusnya sebagai gadis normal ia pasti senang sekali bisa dekat dengan pemuda itu. Selain wajahnya yang tampan, Sasuke adalah idola hampir seluruh gadis di KHS ini. Tidak jarang ada banyak gadis yang memberikan cokelat kepadanya, melihatnya saat latihan ataupun berteriak tidak jelas saat Sasuke berjalan.

Sasuke sendiri berkata bahwa ia membenci mereka. Ia membenci gadis yang bersikap norak. Maka dari itu, ia tidak pernah mengabaikan gadis-gadis itu sedikit pun. Secara tidak sengaja Sasuke membalas tatapan Sakura. Ia berhenti sejenak dari aktivitasnya menggiring bola. Keringat sudah bercucuran dari tubuh atletisnya yang sekarang terbalut kaos jersey bernomor punggung 23. Sadar bahwa pemuda yang diperhatikannya itu ikut membalas tatapannya, Sakura memutuskan pandangan mereka dengan menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ia pasti gugup jika bertatapan lebih lama dengan seorang laki-laki.

Sasuke menyeringai, ia berjalan pelan ke arah gadis itu dan mendudukkan dirinya di sebelah Sakura. Sakura yang merasakan kehadiran Sasuke itu mendadak gugup sendiri dan menggenggam botol minuman ditangannya dengan erat.

"Hn. Ada apa? Kau menatapku dari jauh. Apakah ada yang salah?" Sasuke merebut botol minuman di tangan Sakura dan menegak isinya hingga setengah.

Sakura menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Berada di dekat Sasuke intensitas kegugupannya bertambah. Ada apa dengannya?

"Um... tidak ada. Hanya ingin melihat Sasuke-kun saja." Sakura menggigit bibirnya yang berkata terlalu jujur.

Mendengarkan itu entah kenapa Sasuke merasa senang. Pemuda itu mengintip wajah Sakura yang memerah dari balik rambut merah muda yang menghalanginya.

"Hn. Jujur sekali." Ucapnya dengan nada jahil. Membuat Sakura memajukan bibirnya karena kesal. "Tapi aku suka." Ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan Sakura. Menutup matanya menggunakan tangan kanan dan beristirahat sejenak. Tanpa mengabaikan Sakura yang saat ini berusaha menjaga detak jantungnya agar tidak terdengar oleh Sasuke.

"Sasuke-kun."

Tidak jauh dari tempat itu, Hinata menatap Sakura dengan tajam. "Aku tidak akan menyerah!" Ia mengepalkan tangannya. "Dia harus menjadi milikku!"

Jauh disalah satu sudut yang tidak terlihat, pemuda itu menatap Hinata yang sedang memandangi Sasuke dan Sakura dengan tatapan penuh kebencian. "Kau kenapa selalu mendongak? Apa itu tidak membuat lehermu sakit? Menolehlah ke belakang, aku akan menjagamu dari sana." Gumamnya lirih.

.

.

.

TBC

JUST STORY (4017 words)

Emm... aku tidak akan berkata banyak2. Sebenarnya, chap ini sudah aja sejak 28 desember 2015. Cuman karena aku masih lupa sama plotnya, aku nge-stuck di tengah jalan. Dan baru bisa lanjutinnya sekarang. Gomen ne, minna-san

Sekaligus juga aku sedang memperbaiki mood. Wkwkwkw...

Aku tidak akan berkata banyak-banyak. Silahkan berikan kesan ataupun pertanyaan kalian tentang fanfic ini.

Salam,

Akasuna Ryu istri Saso

9.6.16 (1.39)

Terima kasih atas semua reviewnya. Maaf tidak membalas satu-satu tapi aku akan menjawab pertanyaan kalian dari review tersebut XD

Sami haruchi 2, Chichoru Octobaa, Suket alang alang, Francoise I.Q, Eagle Onyx 'ele, ayuniejung, Jeremy Liz Toner, kiRei apple, IndahP, applesky, kasuga Fugu Y, Vanny-chan, yukumpme, Henilusiana39, Kurochi haru, Kozuki Hana, HestyEclair, Nomoru. Xyp, louin990, hanazono yuri, yepiapi, AnGgi Cherryblossom, KiKYUU, Mocch-chan, AoRizuki, Nikechaann, Sa'adah337, cherry Huanggara, loli, angell-chan, awika, akasuna Harune, V. S, Zeesuke23, yagiicha, fita ningsi, guest, Cherry480, shila, ongkitang, guest.

Q: Yakin sakura bakalan ikut semua kegiatan?

A: Kita lihat aja di chap selanjutnya ya XD

Q: Itachi suka konan?

A: Jawabannya udah ada di chap ini

Q: Apakah chap depan Saku musuhan sama shion?

A: Errr... kalau aku jawab bakalan spoier dong. Di prolog ada tuh, spoilernya dikit. Wkwkwk

Q: kok gak ada neji?

A: Hm... belum kepikiran :v

Q: ada scene itasaku?

A : hmm... kayaknya nggak banyak deh. Hahaha...

Q: ending SasuSaku?

A: Inikan pairnya mereka. :P

Q: sampe chap berapa?

A: Target sih belum jelas. Semoga gak lebih 15 chap.

Q: kenapa porsi SasoSaku lebih banyak?

A: Errr... maap. Udah dikuranginkan disini.