Naruto © Masashi Kishimoto
Exterminate Time © liaprimadonna
Narusasu
OOC. Typos. Drama.
.
.
Fokus mata Sasuke tidak bergerak lebih dari semenit. Tangannya meremas kuat kelima jari Itachi di dalam genggamannya. Kali ini Sasuke tidak berani untuk mengucap sepatah kata penyambutan kala Naruto datang mendekat padanya.
"Nii-san, bisakah kau tinggalkan kami berdua?" Sasuke mengamati ekspresi kakaknya yang mengeras. Itachi marah, kepalan tangan dalam genggamannya tidak berbohong.
Lagipula, ia sudah bisa menduga bahwa Itachi akan marah karena kalimat Naruto padanya. Ini adalah pertama kali bagi Itachi—bahkan Sasuke mendengar bagaimana kerasnya suara Naruto ketika berseru. Dua puluh empat tahun mengenal Itachi, Sasuke telah mengerti bahwa hanya dirinya yang mampu mengalahkan egoisme sang kakak.
Setidaknya kali ini saja, biarkan Naruto yang melampiaskan segala kemarahan dalam kepalanya.
"Sasuke—"
Sasuke menekan lebih kuat jemarinya, kalimat Itachi tertahan.
"Aku perlu bicara dengan Naruto." Sasuke berkata dengan nada yang berat.
Itachi menatap adiknya sejenak, mata Sasuke telah bergulir pada objek hidup di depan matanya. Datar. Tanpa ada sedikit pun perubahan dalam ekspresinya. Pria itu benar-benar meraba semua konsekuensi.
Apa semua akan baik-baik saja?
Meninggalkan dua orang pria keras kepala dalam satu ruangan bukan hal mustahil akan menimbulkan sesuatu yang buruk terjadi. Bukannya mau berprasangka buruk, namun ia sudah tahu bagaimana watak kedua pria keras kepala ini.
Terkadang kalimat cocok sangat jauh dari hubungan mereka berdua.
Mengalah, Itachi mengalihkan atensinya pada Naruto yang telah berdiri di depannya, melayangkan tatapan paling dingin kurun waktu dua detik. Pelan-pelan, ia melepas genggaman Sasuke. Tak mau merepotkan diri untuk berpamit, sebelum menutup pintu ia berkata, "Aku akan kembali satu jam lagi." Kemudian sosoknya menghilang.
Mengambil kesempatan, Naruto membuka langkahnya lebih dekat, ia sudah tidak bisa lagi menahan kemarahannya.
"Kau datang," kata Sasuke.
"Jangan berbasa-basi, brengsek!"
Sasuke menghela napas. Sesak muncul di tengah dadanya, sangat penuh, membuatnya tercekik. Melihat dari mimik wajah pria blonde itu, nampak ada banyak kalimat yang akan dimuntahkan setelah ini.
Jadi, ia menutup matanya, kemudian membukanya untuk menatap lawan bicaranya dengan lebih dalam.
"Maaf karena menyuruhmu untuk datang," katanya, memperbaiki posisi duduknya hingga terasa nyaman.
Di mata Naruto, Sasuke terlihat seolah tidak peduli bagaimana ia menjalani hidupnya beberapa hari ini. Bagaimana kebingungannya, kekecewaannya, kemarahannya, dan kesakitannya.
Naruto mendesis. "Apa maumu sebenarnya?"
Sasuke memilih tidak menjawab dan menjulurkan tangannya menggapai nakas di samping kirinya. Tidak cukup jauh untuk lengannya yang panjang, namun tidak cukup cepat ketika sebuah tangan berbalut kulit tan menerobos dan meraih gelas yang ada di meja. Meminum airnya sampai tandas.
Tangan Sasuke mengambang di udara.
"Aku sedang bicara padamu, Teme!" Naruto membanting kuat gelas di tangannya ke meja. Terdengar benturan nyaring pada permukaannya ketika benda pecah belah itu mendarat.
Sasuke kembali menggerakkan tangannya yang terhenti, mengambil dua butir buah berkulit oranye dan membawanya ke pangkuan.
"Kau sangat suka jeruk," katanya tanpa intonasi, mengupas satu buah jeruk. "Biasanya kau selalu mempersiapkan banyak stok dalam kulkas."
Naruto diam saja.
"Aku akan mengupasnya untukmu," kata Sasuke lagi.
"Aku tidak mau!"
"Tapi biasanya kau selalu memintaku untuk mengupasnya."
Naruto memalingkan wajah. Mendesis, "Bisakah kau hentikan semua ini?"
"Terkadang kau juga merengek meminta jus jeruk, bukan?"
"Tch!"
"Kau ingin aku mengupas berapa jer—"
"Kubilang, aku tidak mau!" Naruto merebut buah di tangan Sasuke dan membantingnya ke lantai. Buah yang telah terkupas sebagian itu pecah dan terburai di lantai. Membuat jejak-jerak air keruh di petak-petak yang putih bersih.
Sasuke menatap lantai, sambil komat-kamit semoga noda itu tidak berbekas. Ia tidak peduli bagaimana kemarahan Naruto—setidaknya ia tidak ingin tahu. Sesaat saja, tolong, Sasuke tidak ingin menghadapi kemarahan pria itu.
Ia tersenyum tipis. "Aku akan mengupas yang baru."
"Kau tidak mendengar apa yang aku katakan?"
"Aku dengar."
"Kalau begitu hentikan drama ini sekarang!" Naruto menatap Sasuke dengan marah.
Sasuke mengernyit. "Aku tidak membuat drama."
"Kenapa kau menyuruhku datang kemari?"
Tangan Sasuke berhenti sejenak, namun ia tidak mendongak. "Maaf, aku menyuruh Itachi untuk memintamu datang," katanya, melanjutkan kegiatannya lagi.
Sunyi senyap.
Sorot mata Naruto memindai satu postur penuh mantan kekasihnya; separuh tubuh berbalut selimut tebal putih yang lembut, separuh lagi hanya tertutup kain biru khas pakaian rumah sakit yang sangat tipis. Dari sana ia melihat, otot dada dari balik kain dengan model kimono pendek, tanpa pakaian dalam. Kulit pria itu terlihat pucat seperti biasa—ditambah sedikit rapuh.
Naruto memaling wajah, terang-terangan membuang rasa kesal.
Sesaat setelah itu, tangan pucat terjulur di depan wajahnya, menyodorkan jeruk berserat yang sudah pupus dikupas.
"Apa kau sudah sarapan?" Sasuke bertanya dengan nada datar seperti biasa, kali ini sungguh memancing amarah Naruto kembali muncul.
"Berhenti bermain-main denganku!"
Tarikan kuat kedua tangan Naruto pada kerah bajunya membuat Sasuke mendongak. Rasa sakit timbul pada lukanya yang belum sepenuhnya mengering. Ia dipaksa untuk menatap wajah itu, yang sebenarnya adalah sesuatu yang ingin ia hindari.
"Kenapa kau mempermainkanku?" desis Naruto marah, menarik maju tubuh Sasuke. "Kau pasti sengaja melakukan ini semua."
Sasuke menahan napas, berusaha tidak melakukan gerakan agar lukanya tidak nyeri.
"Apa yang kau rencanakan? Jawab!"
Sasuke meringis. "Aku tidak merencanakan apa pun."
"Bukankah kau mempermainkanku?"
Sasuke tidak mengangguk ataupun menggeleng. Tubuhnya didorong, membentur gunungan bantal pada tiang ranjang. Ia meringis karena lukanya nyeri.
"Naru—"
Kalimatnya terputus melihat betapa intens pria Uzumaki itu menatapnya. Mengirimkan impuls saraf pada tulang belakangnya, hingga seluruh tubuhnya mendingin. Sasuke tidak berbohong, ia melihat kilat luka di bola mata sebiru safir itu.
"Dari sekian banyak orang yang ada di dunia ini, kenapa harus aku?" Naruto menyudutkan tubuh Sasuke ke belakang lagi. "Kau pasti mengerti, Teme. Aku sangat tidak suka dipermainkan."
Sasuke menelan ludah.
"Apakah aku perlu menyebut apa saja yang telah kau lakukan padaku?"
Tidak ada balasan, Naruto mendecih dengan wajah mencemooh. Dalam hitungan detik cengkeraman tangannya terlepas hingga kepala Sasuke jatuh di atas gunungan bantal, membuatnya sedikit mendesah.
Namun, hal itu tidak cukup membuatnya tenang. Telinganya hanya mendengar angin berkebit dari sela tirai jendelanya. Pun kilasan peristiwa yang terjadi belakangan ini.
Ya, Naruto tidak perlu menyebutkan, ia tahu. Semuanya. Lengkap dengan alasan yang tidak dapat ia utarakan.
Sasuke tahu ini semua sungguh berat bagi Naruto. Ini juga berat baginya. Mudah saja mengutarakan sejumlah alasan yang ditumpuknya seperti sampah, bersamaan sejumlah resiko lain yang akan ditanggungnya ketika ia melakukan hal itu.
Selama ini, menurut sudut pandangnya, Naruto adalah pria yang sangat temperamental. Tidak bisa menjaga sedikit saja emosi yang muncul dan memilih untuk melampiaskan kemarahannya detik itu juga. Dengan kata lain; Naruto akan marah jika ia mengatakan alasannya. Dan bila hal itu terjadi, Sai akan semakin gencar melukainya.
Tidak. Tidak bisa. Ia tidak mungkin mengatakannya dan membuat Naruto dalam bahaya. Ia tahu Sai tidak main-main.
Pria itu sudah mengoloknya, mengancamnya, melukainya. Pria itu melakukannya hingga separah ini.
Dan ia hanya bisa menangis.
Di sisi lain, hal itu menyebabkan kerutan di dahi Naruto timbul, menerka sebab Sasuke tiba-tiba menangis. Namun, ia tidak membiarkan sekelebat khawatirnya lolos begitu saja.
"Naruto, aku melakukan semua ini demi kau."
"Apa yang sedang kau bicarakan?"
"Aku tidak bisa mengatakannya secara terperinci sekarang, tapi aku memiliki sejumlah alasan—"
"Alasan? Tentu saja kau punya. Seperti meninggalkan rumah selama lima hari? Seperti meminta putus tiba-tiba? Apa kau tahu betapa bodohnya aku? Sekarang aku akan membayangkan alasanmu."
Ada jeda yang lumayan lama dan Naruto melihat Sasuke menunduk.
"Sejujurnya dari awal kau tidak punya alasan apa pun, Uchiha Sasuke." Naruto menekankan nama 'Uchiha' dengan nada cemooh pada suaranya. "Jadi biarkan saja seperti itu." Suaranya mulai mendesis. "Paling tidak aku tidak perlu merasa malu berpacaran dengan orang sepertimu lagi."
Sasuke tahu kata-kata itu akan keluar cepat atau lambat, tapi rasanya tetap saja sangat sakit. Naruto tidak pernah mencintainya—Sasuke tidak mau menutup matanya. Ia tahu rahasia itu. Naruto hanya berusaha membuat dirinya terbiasa dengan keadaan.
Ia membaur, bercengkerama, menyentuh—yang baginya hanya sebatas seorang teman laki-laki dengan teman laki-laki yang lain.
Sebatas itu hubungan mereka.
Sekarang pun sama, pria itu punya hak penuh untuk menyerangnya. Sikap kasar Naruto ditujukan untuk menyakiti, untuk membuat Sasuke merasa terluka dan bersalah. Berhasil, dan ia tahu ia layak menerimanya. Tapi Sasuke tidak sedang menuntut apa pun dari Naruto. Ia menelan kembali rasa pahit di dalam mulutnya dan menarik napas dalam-dalam.
"Lagi," bisiknya, mendongak, memunculkan gurat kesakitan pada inchi wajahnya. "Lampiaskan semua kemarahanmu padaku."
"Apa kau ini bodoh?"
Sunyi lagi.
Sasuke menegakkan punggung pada posisi setengah duduknya. Rasa sakit beberapa saat lalu hilang, terganti dengan sesak yang memenuhi dadanya. Bayangan dalam kepalanya membersit segala tingkah laku Sai—juga suaranya. Telinganya agak berdenging.
Ketika Naruto menjatuhkan tubuhnya kasar pada kursi, ia tahu bahwa pria itu tengah kesal setengah mati. Tidak mudah baginya menghadapi situasi rumit dengan ketiadaan petunjuk seperti sekarang ini.
"Sebenarnya aku tidak ingin marah padamu." Naruto mencoba rileks. "Satu kali saja, beri aku alasan, kenapa kau melakukan ini?"
Sasuke meremas dadanya, ia tidak berbohong bahwa dadanya mulai kembali sesak.
Naruto menggeleng. "Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membuatmu bicara." Ia mengangkat tangan menyerah. Matanya bergulir pada buah jeruk yang menggelinding di ranjang, lalu mengambilnya. "Kau sama dengan buah ini. Tidak tertebak rasanya jika hanya dilihat dari luar."
Sorot mata biru itu tak lepas dari serat-serat buah oranye itu. Sasuke melirik dari sudut matanya.
Alat penyemprot parfum bergemericik ketika menumpahkan percikan air di dalamnya, menyebabkan keheningan yang tidak sepenuhnya kosong. Naruto seperti melihat angin, ketika bayang daun bergerak dan memantul di kaca. Kemarahannya sirna lagi—bentuk perasaan yang tidak ia mengerti karena selalu saja terjadi di saat ia bersama Sasuke.
Mungkin Sakura benar, dan Naruto mencoba untuk percaya, bahwa Sasuke pasti memiliki alasan untuk sesuatu yang dilakukannya.
Mereka mengenal selama hampir dua tahun. Naruto mengingat jelas, sepak terjang batinnya dalam memerangi rasa enggan akan hubungan tabu ini. Yang semakin ia menjauh, semakin dekat rasa nyaman digapai dalam hubungan itu. Ia merasa kosong, hampa, sesaat setelah Sasuke meninggalkannya.
Naruto telah terbiasa dengan pria itu di sekitarnya.
"Apa yang dokter katakan padamu?" tanyanya kemudian, ketika hatinya mulai dingin tersiram rasa percaya yang dipupuknya.
"Tidak ada."
Lirih. Seperti bisikan yang tak jauh bedanya dengan kebitan angin.
Naruto mendesah. "Di mana kau merasakan sakit?"
Kali ini Sasuke menatap Naruto di matanya. Sedangkan tangannya mengudara hingga berhenti di pendaratan yang tepat; pipi kiri bergores tiga garis tipis. Dan Naruto meraih tangan itu—tangan yang terasa hangat.
"Kau mengkhawatirkanku?" Sasuke tidak melepaskan tangannya.
Naruto diam saja.
Keheningan janggal menyusul dengan dua pasang mata yang saling menatap. Sasuke yang pertama kali memutuskan kontak, takut terbuai dengan mata sebiru langit yang terus menerus menjerat berapa kali pun ditatap.
"Melihatku datang dalam keadaan menyedihkan seperti ini, apa tak cukup membuatmu mengerti?"
Kalimat itu membuat Sasuke kembali menatapnya. Dari atas sampai bawah, pria blonde itu memang terlihat menyedihkan, urakan dan tidak modis. Baju piyama, sandal rumahan, rambut tidak tersisir, mata berkantung tebal—orang lain akan mengiranya baru saja kabur dari rumah sakit jiwa.
Sekarang pria yang dikira sakit jiwa itu berada di sini; datang untuknya. Sasuke harusnya sudah tahu jawabannya.
"Kau marah, tapi kau datang."
Naruto meletakkan sebutir jeruk di nakas setelah melepas tangan Sasuke, lalu kembali duduk nyaman pada kursi plastik itu. "Aku khawatir," katanya.
"Maaf."
Naruto tidak menoleh. "Jadi kau tidak sakit, 'kan?"
Kali ini Sasuke bingung harus berkata jujur atau tidak, Naruto pasti akan bertanya jika ia mengatakan apa yang terjadi. Maka ia berkata, "Tidak."
Naruto menurunkan matanya ke lantai. "Jadi kau mempermainkanku, 'kan?" Ia melirih.
"Ya."
Ada jeda, dan Naruto berusaha untuk menekan rasa kecewanya.
"Sasuke, kumohon. Katakan padaku, kenapa kau melakukan ini semua?" Naruto menatap mantan kekasihnya dengan mata menuntut. "Kau pasti punya alasan. Aku tahu. Jadi tolong jelaskan padaku."
Sasuke diam saja.
"Apa karena—" Kalimat Naruto memutus tanpa di sadarinya, ia menghela napas. "Apa karena kau tahu bahwa aku ... tidak mencintaimu?"
"Bukan." Dikatakan dengan nada lirih karena sesak.
Naruto berdiri dari posisinya, mengacak rambut. Bertengkar dengan Sai jauh lebih mudah daripada membuat Sasuke untuk berkata jujur. Gestur sang Uchiha membuatnya yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan darinya rapat-rapat. Yang harus Naruto lakukan hanya menemukan kunci untuk membukanya.
Dan ia rasa tidak akan semudah itu.
"Oh, shit! Kau benar-benar membuatku marah," umpat Naruto, gagal pura-pura tenang. Ia tahu kemarahannya akan kembali lagi.
"Naruto, aku tidak mempermainkanmu."
"Lalu kenapa?"
Sasuke diam lagi. Naruto makin menjambak rambutnya.
"Aku akan bertanya pada kakakmu."
Tapi tangan Sasuke dengan cepat menahannya. "Itachi tidak tahu apa-apa. Kumohon, jangan bertanya apa pun padanya."
"Lalu kepada siapa aku harus bertanya? Kau tidak percaya padaku, 'kan? Kalau begitu kita seri. Aku juga tidak percaya padamu."
"Aku percaya padamu." Sasuke menurunkan kakinya ke bawah, terus menarik tangan Naruto untuk tidak pergi.
Dalam satu kedipan mata, Naruto berbalik dan menarik Sasuke dalam rengkuhannya. Kerasnya degup jantung pria itu sampai ke telinganya. Ia menulikan semua itu. Menarik hati-hati punggung dalam lengannya lebih mendekat.
"Tidak ada gunanya kau bicara seperti itu sekarang," kata Naruto, menularkan nada benci pada kalimatnya. Namun pelukan itu justru membuat Sasuke merasa aman. "Kau itu bodoh ya?"
Sasuke tidak membalas pelukan itu—tidak bisa.
Pelukan itu berlangsung selama lebih dari dua menit. Di saat yang bersamaan, pintu kamar rawat itu terbuka, seorang pria masuk. Orang yang asing.
Baik Naruto maupun Sasuke melepaskan diri, berdeham canggung.
Pria itu menonton dari ambang pintu dengan mata sesekali mengedip. Tubuhnya berdiri menjulang tanpa sedikit pun bergerak dari tempatnya. Alis mata Sasuke menukik—terang-terangan bingung.
"Siapa kau?" Naruto yang pertama kali bersuara, dengan suara serak dan nada marah.
Pria itu mengenakan setelan normal eksekutif muda kebanyakan. Kemeja putih, jas hitam mahal yang ditenteng dengan dasi berwarna biru putih. Kalau Sasuke lebih teliti, ia pasti akan melihat titik keringat yang ada di balik kerahnya yang terbuka.
"Aku Hyuuga Neji," jawab pria itu, melintasi ruangan dan mendekat pada kedua orang di sana. "Apakah Itachi-san tidak mengatakan sesuatu?"
Sasuke tercekat, linglung. Itachi memang mengatakan bahwa seseorang akan datang ke sini untuk mengambil ponselnya. Tapi ia tidak ingat kalau kakaknya sudah menyebutkan namanya. Itachi juga sempat berujar, bahwa pria itu adalah orang yang membawanya ke rumah sakit kemarin lalu.
"Ah." Sasuke mengedip. "Nii-san bilang kau meninggalkan ponselmu di sini."
"Itu benar." Pria bernama Neji itu tersenyum. "Bagaimana keadaanmu?"
Di sisi lain Naruto melayangkan tatapan curiga pada Neji, yang sama sekali tidak pernah ia lihat.
"Aku baik-baik saja."
"Benarkah? Kau masih terlihat pucat."
Naruto membuka suara. "Kulitnya memang seperti itu," katanya dengan nada sinis. Indikasi pria ini tidak baik baginya. "Jadi, kau ini siapa?"
Sasuke melirik. Dalam hati Naruto mendesah lega karena Sasuke melepaskan pandangannya dari pria yang aneh ini—si pemilik rambut panjang terikat, telihat halus, terawat, benar-benar seperti wanita. Bergaya seperti model tidak perlu senyentrik ini, Naruto menambahkan dalam hati.
"Aku—"
"Neji adalah temanku," potong Sasuke cepat-cepat.
Neji mengernyit bingung ketika namanya dipanggil oleh pria asing yang baru dikenalnya kemarin dua hari. Rasanya benar-benar sangat tidak nyaman. Apalagi pria itu mengakuinya sebagai teman.
"Kau tidak pernah mengatakannya padaku," tegur Naruto dengan nada tidak suka.
"Mungkin aku lupa."
Sasuke memindai nakas yang berada di samping ranjangnya. Matanya menangkap sebuah ponsel yang masih tersambung kabel. Benda itu bukan miliknya, bukan pula milik Itachi.
"Ponselmu ada di—"
Kalimatnya tertahan ketika sebuah punggung tangan menyentuh dahinya tiba-tiba. Sontak saja Sasuke menoleh, tangan dengan tekstur lembut dan dingin itu milik Neji.
"Kau masih demam," gumam Neji, melirik dari posisinya.
Cukup lama Neji menatap Sasuke dalam diam, dan Sasuke berharap setidaknya beberapa detik setelah ini tangan itu akan melepaskan diri. Ia sangat tidak nyaman.
"Apa kau masih pusing?" tanya Neji, mengingat kondisi terakhir sang Uchiha kemarin.
"Tidak."
Tangannya bergerak pada bagian lain; pipi, leher, lalu kembali ke dahi. Naruto bersumpah kalau ia akan menendang bokong pria ini jika tangannya berpindah sekali lagi.
Oke, belum berpindah, namun Naruto sudah tidak tahan.
Ia melompat berdiri, menepis tangan Neji kuat-kuat hingga terasa seperti tolakan tegas.
"Sasuke tidak suka kau menyentuhnya seperti itu."
Dan—oh, Naruto juga tidak suka.
Neji hanya meliriknya. Wajahnya datar. Ekspresi pria itu mengalahkan lurusnya jalan yang baru saja tersiram oli aspal yang waktu itu Naruto lewati di dekat rumahnya.
"Kau hanya butuh ponselmu, bukan?" Naruto memutar tubuhnya dan meraih ponsel di nakas bersamaan dengan kabelnya—menyerahkannya pada Neji. "Sekarang kau sudah mendapatkannya. Kau boleh pergi."
Neji tidak menggubris. Ia melirik Sasuke, seolah meminta perintah. No kidding. Itachi memintanya untuk tinggal.
Pagi tadi ia menghubungi Itachi menggunakan telepon kabel di ruang kerjanya. Ponselnya tertinggal, ia ingat, benda itu diletakkannya pada nakas saat kondisi Sasuke sempat memburuk kemarin. Ia tidak tahu sebuah keberuntungan atau bukan karena kartu nama Itachi masih disimpannya dalam saku celana sehingga ia bisa menghubunginya.
Dan itulah akhirnya yang membuatnya berakhir di sini.
"Itachi-san memintaku untuk tetap di sini sampai dia datang," kata Neji, menatap Naruto.
Mata itu balas menyipit. "Katakan padanya bahwa kau akan menunggunya di tempat lain."
"Tidak."
"Kalau begitu giliran aku yang meminta; keluarlah."
"Tidak sekarang."
Akhirnya Naruto berdecak. "Apa pun masalahmu padaku, lebih baik—entahlah. Jangan memancingku sebelum aku bertindak kasar."
Karena Naruto tahu, kemarahan hanya akan membakarnya sampai ubun. Menahan emosi lebih sulit daripada mengejan di toilet.
"Aku tidak pernah memancing apa pun."
Kemudian dahi Naruto berkerut. Orang ini terang-terangan memancingnya. "Apa maumu?"
Neji balik menatap. Jika ditanya mengenai alasan, ia punya alasan. Alasan itu adalah Itachi terlalu khawatir karena adiknya berdua saja dengan seorang pria marah. Pun alasan penting lain bahwa Itachi membutuhkan bantuannya mengenai psikiater wanita yang ia rekomendasikan kemarin.
Dan peringatan garis keras milik Itachi mencegahnya membeberkan itu.
"Aku akan di sini, seperti yang kukatakan sebelumnya," kata Neji datar, dan seketika teringat pada bungkusan plastik yang dibawanya.
Naruto melirik, apel-apel segar yang seperti baru menggelinding dari pohon. Warnanya merekah, seolah airnya pun mampu membuat siapa pun kehilangan dahaga, tapi tetap tidak lebih berair—dibanding tomat. Diam-diam ia bangga karena masih menyimpan fakta itu.
Dan segumpal ide terbersit di kepalanya.
"Sasuke," panggil Naruto pada pria yang mendadak bisu di tengah perdebatan singkat itu. "Bukankah kita harus bicara? Aku punya tempat yang cocok untuk kita mengobrol."
Neji berjengit. "Kau—"
"Kenapa? Barusan kau sangat percaya diri ingin menetap di sini sampai Itachi datang. Kemana nyalimu?"
Naruto mendekat. Sasuke merasakan tangan Naruto menariknya, sementara Neji sigap menarik tangannya yang lain.
"Rupanya kau tidak serius dengan ucapanmu. Untuk apa mencegahku?"
Neji menggemeretakkan gigi akan sikap Naruto. Pria ini ngawur, alasan Itachi tidak main-main. "Dia sedang terluka. Ke mana kau akan membawanya pergi?"
Naruto mengerling pada Sasuke. "Kau terluka?"
Tidak tahu harus menjawab apa, Sasuke menggeleng.
Akan tetapi Naruto agaknya lebih memercayai Neji dalam hal ini. Sasuke masih bersikeras tidak mau mengatakan hal yang dipendamnya pada Naruto.
"Lihat, dia tidak terluka. Aku akan membawanya pergi." Naruto menarik bahu Sasuke hingga berdiri. Wajahnya mengernyit dan Naruto mematri jelas ekspresi itu. "Kau bisa berjalan?" tanyanya kemudian.
"Ya."
Baru dua langkah, Sasuke merintih kesakitan. Tubuhnya bersandar penuh pada Naruto hingga nyaris merosot jika tidak ditahan. Neji, di sisi lain, ingin sekali memaki. Dua orang itu ... yang satu keras kepala, yang satu tidak mengerti situasi.
Neji bergerak selangkah, memegang sisi lain bahu Sasuke. "Sudah kubilang dia terluka," katanya dengan nada sedatar mungkin, namun degup jantungnya tidak berbohong.
Susah payah ia membawa Sasuke untuk diobati, tidak mungkin ia membiarkan pria itu terluka karena sebuah kecerobohan.
"Duduk. Aku mau duduk," keluh Sasuke tanpa kuat berdiri di kedua kakinya yang gemetar.
"Bukankah kau tidak terluka?" Naruto tidak mengindahkan keluhan itu. Ia hanya ingin Sasuke jujur. "Ayo, berjalanlah denganku."
Neji sudah tidak tahan lagi. "Apa kau sudah gila?"
"Siapa yang memulai, ha?"
"Kau pasti sedang mabuk."
"Kau yang mabuk."
Dahinya berkerut tajam, Neji melepas tangannya tiba-tiba, sehingga tumpuan Sasuke kembali seutuhnya pada Naruto. Ia melipat kedua tangan dengan pose layaknya menantang.
"Oh, ya? Memaksa orang yang terluka untuk berjalan; tak ada yang lebih mabuk darimu."
Ekspresi Naruto mengeras. Harga dirinya jatuh dari tingkat yang tinggi menghantam permukaan rendah. Ingin menyalahkan Sasuke, namun ia tidak mau menambah beban rasa bersalah yang hampir menggunung.
Sasuke jelas terluka; mimik wajahnya, kerut kulitnya—ia pasti terluka di suatu tempat dalam tubuhnya.
Untuk pertama kalinya Naruto merasa kalah. Harga dirinya terluka.
"Duduklah," perintahnya pada Sasuke.
"Naru—"
"Duduk!"
Sasuke mematuhinya, pinggulnya terangkat demi mendapatkan posisi nyaman pada ranjangnya. Kakinya menjijit menyentuh lantai. Pandangannya juga ... entahlah, ia hanya tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Situasi ini membuat ruang geraknya terbatas, dan otaknya tidak bisa berpikir jernih.
Setiap kali memaksa berpikir, yang terlintas hanya skenario kebohongan lain ditambah kebohongan yang lain untuk ditanamkan pada kepercayaan Naruto. Jelas saja, ia lelah.
"Aku keluar sebentar. Aku lapar."
Suara parau, dan pasrah, dan berat—mengindikasikan bahwa pria itu kecewa. Lagi-lagi Sasuke menyakitinya tanpa disadarinya.
"Kau akan kembali?" tanya Sasuke saat tangan Naruto sejengkal lagi menyentuh kenop.
Akan tetapi Naruto tidak menjawab, apalagi berbalik, Sasuke hanya mendengar langkah terakhirnya yang menggema di sudut tanpa bisa ia rasakan kehadirannya.
"Dia tidur."
"Oh, ya? Baguslah."
Langkah Naruto terhenti, sebuah tangan menahan lengannya. Pria itu lagi. Naruto jengah, memberengut tak suka, namun tidak menoleh.
"Apa lagi sekarang? Ingin berkelahi?" tanya Naruto, skeptis.
Pada dasarnya Neji bukan pria yang suka memancing keributan. Ia hanya pria dengan sikap plegmatis yang kental. Sialnya, gesturnya seringkali disalahartikan oleh kebanyakan orang. Ia berkata, "Berkelahi adalah sifat anak-anak," katanya.
"Lalu?"
"Lebih baik kau berhenti."
Oke. Sukses membuat kerutan dahinya bertambah. Ia menoleh. "Apa maksudmu?"
Neji tidak menjawab pertanyaan itu. "Kenapa kau kasar padanya?"
"Kau tidak suka?"
Adu tatap terjadi dalam beberapa detik sebelum Naruto memutus kontak. Ia berdecih keras dan membalik tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. Pandangan mereka tidak melunak satu sama lain.
Yang berkedip yang kalah. Dan Neji berpaling muka pertama kali, kalah. Bukan karena gagal, ia memang sengaja karena tidak ada gunanya melawan batu dengan batu.
"Jangan bilang kau tidak tahu kalau dia terluka?"
Sial, pertanyaan menjebak. Naruto berdeham membersihkan tenggorokannya. "Mungkin ya, mungkin tidak." Tangan penuh masuk merogoh kantung piyama.
Hal itu mengundang atensi Neji untuk mengamatinya, atas bawah. Ia sudah sadar sepenuhnya bahwa Naruto urakan, tapi ia ingin menatapnya sekali lagi.
Neji mendesah akhirnya. "Aku tidak tahu apa yang membuat Sasuke terus menyebut namamu dalam tidurnya."
"Itu cara Sasuke bersikap manis."
Naruto terkekeh bangga. Mimik muka itu kamuflase, jika lebih teliti seharusnya Neji bisa menangkap bagaimana kalimatnya sempat membuat Naruto terkejut.
"Ini topik yang riskan," kata Neji. "Apa kau mencintainya?"
"Itu bukan urusanmu."
"Well, kau cemburu saat aku datang."
"Tidak juga."
Neji menunjukkan seringainya. Ia menggumam dengan kata 'ekspresi berkelit yang menggelikan' dan ketika ia memikirkannya rasanya ada sebelah hatinya yang kosong.
Ya, Neji tidak berbohong. Meskipun seorang lelaki, Sasuke memang cukup menarik. Pria itu tidak memerlukan banyak ekspresi untuk memikat lawan bicara. Setiap gerak geriknya seperti pantulan cahaya yang membuat siapapun mengikuti.
Dengan wajah yang rupawan; kulit pucat, hidung bangir, mata hitam pekat, bulu mata yang melengkung lentik, bibir tipis merekah—sudah cukup membuatnya merapal kata 'tampan' berkali-kali sampai bosan.
Dan ya, sekedar informasi penting; Neji adalah seorang pria gay—ia memandang pria lain dengan sudut pandang berbeda. Dalam sekali lihat ia tahu bahwa Sasuke adalah kaum minor sepertinya. Jangan bertanya bagaimana ia tahu bahwa Naruto punya perasaan mendalam terhadap Sasuke, gay radarnya berdenging kuat saat melihat interaksi mereka.
Namun Naruto tidak lebih dari gay in denial.
"Aku ingin membeli kopi, kau mau?"
Naruto tercenung, membuang napas keras-keras lalu mengangguk. "Tidak, terima kasih."
"Jadi kau mulai menerima keberadaanku?"
"Jangan terlalu percaya diri."
Neji terkekeh ringan, tipikal dirinya yang tidak pernah membiarkan tawanya lepas dan membuat manner-nya buruk. Apa pun itu, ia sudah cukup puas karena mereka tidak berakhir seperti sampah.
Karena perkelahian dan permusuhan adalah sampah.
"Rupanya kau masih menduga bahwa aku ini rival," goda Neji, tidak cukup meyakinkan dengan wajahnya yang datar.
"Urusai!"
Mengangkat bahu, Neji berdeham maklum. "Masuklah! Jangan biarkan Sasuke menunggumu."
"Dia tidur."
"Dia menyebut namamu."
Naruto mendesah. "Lalu?"
"Dia terus bermimpi buruk akhir-akhir ini."
Kali ini Naruto mengernyit.
Neji hampir kelepasan bicara. Iia ingat peringatan garis keras Itachi bahwa ia tidak boleh membocorkan tentang keadaan Sasuke. Ia mengangkat bahu sebelum Naruto menyela dengan pertanyaan.
"Ya, kondisinya masih sangat lemah. Demam sering membuatnya mimpi buruk." Ia mengangkat bahu lagi.
Sebenarnya Naruto masih bingung kondisi seperti apa yang tengah dihadapi Sasuke. Untuk bertanya, ia masih terlalu besar gengsi, apalagi ia sudah terlanjur sebal dengan pria berambut wanita ini.
"Apa yang terjadi?"
"Sudah kubilang, dia terluka."
"Lebih jelasnya?"
Neji menatapnya lurus-lurus, namun tak fokus. "Seseorang melukainya," jawabnya ragu. "Mungkin dendam pribadi? Menurutku—"
Telinga Naruto tidak mendengar lebih lanjut penuturan Neji.
Kakinya mengentak kasar lantai koridor, berlari menuju kamar Sasuke dengan kecepatan angin. Neji memanggilnya di belakang, tapi diabaikan. Telinganya berdengung. Seorang perawat meneriakinya untuk tidak berlari—dan ia tetap berlari.
Siapa yang melukai Sasuke?
Selama ini, Sasuke adalah pria baik dan ramah yang tidak mungkin punya musuh di luar sana. Terkadang ia juga apatis dan memilih untuk tidak berbaur dalam pergaulan. Seseorang pasti hanya mengenalnya sambil lalu. Tanpa ada saling sapa apalagi dendam.
Jadi, apa benar bahwa ada seseorang yang melukainya?
Ia membuka pintu kamar Sasuke, disambut dengan pemandangan di mana pria itu sedang tidur. Ada orang lain. Kali ini seorang wanita dengan seragam biru muda. Naruto melihatnya dari samping.
Sepertinya wanita itu menyadari kedatangannya. "Ah, konichiwa," sapanya.
Naruto berlalu, begitu saja, menyangka bahwa sapaan semacam itu hanya sebuah formalitas tanpa perlu dibalas. Bokongnya mendarat pada fabrik empuk berisi busa yang di depannya tersuguh layar plasma yang tidak menyala.
Naruto melirik-lirik. Setiap gerakan perawat itu ia teliti; mencatat, menyentuh tangan Sasuke, melihat infusnya, melihat catatannya lagi, lalu mencacat lagi—yang sangat membosankan untuk ditunggu.
"Apa kau bersamanya sejak tadi?" Perawat itu bertanya.
Terkesiap, Naruto menjawab, "Ya."
"Berapa gelas yang dia minum hari ini?"
"Aa, mungkin satu ... tidak, dua."
Sejujurnya ia tidak tahu sama sekali berapa gelas yang sudah Sasuke minum.
Perawat itu menunjukkan wajah tak puas. Naruto mengamati ekspresinya yang berubah-ubah. Kadang serius, kadang mengernyit. "Kau temannya, bukan? Bisakah kau mengingatkannya untuk banyak-banyak minum?"
"Ya, tentu. Ada masalah?"
Kali ini kepala berbalut kap putih itu menoleh, tersenyum. "Tidak ada. Sejauh ini baik. Hanya saja, demamnya seringkali naik di waktu-waktu tertentu. Air sangat baik untuk menjaganya tetap hidrasi."
Mendengar penuturan itu membuat dada Naruto linu. Sama sepeti sebelumnya, ia buta mengenai apa yang terjadi pada Sasuke. Ketika ia hendak berkata, lidahnya seperti melekat erat di langit-langit mulut.
Pandangannya bergulir, dari ujung kaki ia menatap hingga akhirnya seraut wajah damai yang tertidur. Ia meneguk ludah, susah payah menahan kernyitan.
"Sebenarnya ..." Ia memulai, suaranya pecah karena ragu, "Sasuke sakit apa?"
Perawat itu membelalakkan matanya kentara. "Maaf, tapi apa kau tidak tahu?" Sebelum Naruto menjawab wanita itu melanjutkan, "Uchiha-san mendapat luka tusukan di perutnya. Dia dibawa ke sini dalam keadaan pingsan dua hari yang lalu."
Degupan jantung Naruto bertalu seperti tabuh yang dihantam kayu berkali-kali. Kenyitan di dahinya parah, sekilas seperti meringis.
Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa yang melukai Sasuke?
Kalau diterka lebih lanjut, ini jelas bukan kecelakaan. Mungkin saja seseorang sengaja melukainya. Dan seseorang di luar sana pasti punya dendam padanya. Tapi, bagaimana mungkin?
"Aku sudah selesai memeriksanya." Suara perawat itu terdengar. Sosoknya sudah melintas dan menghampiri pintu. "Kalau terjadi sesuatu, kau bisa menekan tombol pemanggil yang ada di sisi tempat tidurnya."
Naruto mengangguk, terlalu perih untuk mengingat semua yang ia dengar.
"Jadi, memang ada yang kau sembunyikan dariku, eh?"
Ia bertanya pada udara kosong.
Setelah hampir tiga jam tanpa istirahat dan hanya menonton televisi, Naruto membawa langkahnya untuk menghampiri ranjang Sasuke. Ia terlebih dahulu mengamati pria itu, seperti yang dilakukan beberapa menit terakhir. Begini rasanya lebih nyaman.
Ia menarik kursi dan menjatuhkan bokongnya. Punggungnya sedikit ngilu di seluruh bagian. Sepertinya mendapatkan sentuhan minyak pijat setelah masalah ini selesai, tidak terlalu buruk. Belakangan ini semua jadwal tidurnya buyar, juga jadwal makan, mandi dan lain-lain.
Rasanya sangat kesal kalau tidak ada orang seperti Sasuke yang mengingatkannya untuk hidup teratur.
Kalau diingat-ingat, pada jam ini biasanya ia masih terlelap di ranjang setelah menyantap makanan yang Sasuke buatkan untuknya. Naruto tidak berkelit, untuk ukuran seorang pria, Sasuke sangat ideal untuk menjadi juru masak. Ia selalu masak beragam, dengan menu yang selalu berganti setiap hari.
Di mana ia belajar masak sebanyak itu?
Dua menit diisi kekosongan, gerakan kecil jari Sasuke menarik atensinya. Ia sudah menunggu saat-saat ini sejak beberapa jam yang lalu. Rasanya sangat aneh, jenis perasaan yang berubah dengan gampangnya seperti roller coaster yang membalikkan manusia sekali kedip. Dan ia bahkan tidak tahu bagaimana harus bersikap pada Sasuke.
"Bangunlah," kata Naruto, sambil melirik kedua mata hitam yang bergerak-gerak hendak membuka. "Kau tidur terlalu lama. Apa tidak pegal?"
Beberapa saat, Sasuke mengedipkan mata.
"Jam berapa ini?"
"Makin panas, sepertinya sekarang sudah tengah hari. Aku menaikkan suhu pendingin dan menutup jendela. Kau keberatan?"
"Tidak. Aku juga merasa panas."
Naruto mengernyit, menyentuh dahi Sasuke. Titik-titik keringat timbul di bagian dahi dan lehernya. Naruto mendesah, karena setidaknya demamnya sudah turun. "Sepertinya kau perlu mengganti baju. Kau berkeringat."
Sasuke tidak menjawab, melainkan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Jadi," Naruto berkedip, "di mana pakaian bersihnya?"
"Laci nakas. Tolong."
Tangan Naruto merogoh ke bagian bawah meja, mengambil satu piyama warna putih. Sasuke menunggu sambil mengambil minum yang ada di nakas, mendadak kehausan.
"Kau bisa minta tolong padaku," tegur Naruto, memergokinya kesulitan meraih gelas yang berada di ujung.
Sasuke diam saja.
Gelas mineral tersodor. Sasuke meraih dan meneguk. "Kenapa kau tidak pulang?" tanyanya.
"Apa kau sedang mengusir?"
Pandangan Naruto tidak tertuju padanya, namun ia merona.
"Kau di sini sejak tadi? Menungguku?" Sasuke meneguk air banyak-banyak, kemudian tersedak dan membuat Naruto menoleh.
"Apa-apaan kau ini?" Pria itu menyalak. "Semua air itu milikmu, jangan minum terburu-buru."
Naruto mengingat saat ia menenggak tandas minum yang ada di meja tadi pagi. Dan ia merasa bersalah. Kelakuannya benar-benar kekanakkan.
"Kau—"
"Ya, aku di sini sejak tadi," potong Naruto cepat-cepat. "Sekarang buka bajumu."
Karena Sasuke tidak bergerak, Naruto segera bertindak. Ia melompat berdiri, membuka ikatan pakaian yang digunakan Sasuke. Mulutnya mengumpati kata 'sekarang siapa yang mengurus siapa'—yang sama sekali tidak dimengerti oleh Sasuke.
Refleks, Sasuke menangkap tangan yang bekerja di bajunya. "Kau tidak perlu melakukannya. Aku bisa," tolaknya.
Naruto tak mengindahkan. "Katakan itu pada pria yang tidak bisa berdiri tegak beberapa jam yang lalu."
Harga diri Sasuke layu. "Kau menyindir?"
"Itu kenyataan."
Tangan yang menggerayang di tubuhnya mulai terangkat, bajunya tersingkap hingga dada dan perutnya terekspos. Naruto pucat, mematri belitan perban yang lumayan tebal di perut. Sasuke ikut melirik.
"Sudah kubilang, aku bisa melakukannya." Sasuke menarik pakaiannya. Berpaling. "Jangan melihat."
Akan tetapi, Naruto kembali pada mode sebelumnya. Ia mengambil alih. Tak dibiarkan Sasuke menampik atau mencegahnya. Auranya sangat gelap.
Dengan perlahan, ia menarik tangan Sasuke keluar dari lubang-lubang pakaian. Menaruh asal, dan mengambil yang lebih bersih. Ia melakukannya selembut sebelumnya, sampai pakaian itu melekat pas di tubuh Sasuke.
"Kau berbohong padaku," katanya, sambil mengancing semua kait di baju.
Sasuke berpaling muka. "Maaf."
"Kau selalu mengatakan itu."
"Ada banyak masalah yang terjadi."
"Aku tidak tanya!"
"Tapi kau ingin tahu."
"Tidak lagi," balas Naruto parau, matanya mencemooh. "Aku hanya akan berakhir dibohongi."
Lurus tepat di dada, ada tombak kasat mata menusuk di sana. Sasuke hampir-hampir menyerah untuk membuang napas. Keheningan ini membuat segala suara terdengar begitu jelas dan menijijikkan, termasuk degup jantungnya.
Ia pantas dihukum seberat mungkin untuk ini—untuk menyakiti Naruto. Ia sangat tidak pantas, dan ini berat baginya. Naruto layak mendapat tambatan lain yang lebih baik, yang tidak akan membohonginya setiap saat.
Rasanya begitu sakit seolah takdir mengguncangnya seperti toples mengocok kacang berulang kali. Terbentur sana sini hingga retak kemudian hancur. Sama seperti hatinya, ia juga hancur. Ia tidak suka melihat Naruto kecewa—ia hancur karena itu.
Kenapa mencintai sesakit ini?
"Ada hukuman yang pantas untukmu."
Sasuke tersentak, tangan yang dingin menyentuh leher kirinya memberi rasa remang. Pandangannya memaksa fokus pada lensa biru yang menatapnya dengan gurat kecewa. Mengirim impuls syaraf sampai ke jantung. Bertalu. Lebih cepat. Lebih cepat. Jantung itu seperti ingin mendobrak.
Naruto membenturkan dahinya pada Sasuke. "Sebelum itu kau harus ingat ini," tuturnya misterius.
Sedikit dentuman kecil datang dari dada Naruto. Sasuke mendelik mendengarnya.
"Aku membencimu."
Benda kenyal basah meraba keningnya selama beberapa detik.
Lari lagi menyentuh hidungnya.
Kemudian, bibir itu menyentuh pipinya.
"Dan aku tidak akan memaafkanmu."
Detik yang cukup lama setelah itu, tangan meremas lehernya. Tubuhnya terdorong oleh lengan besar hingga terbaring di ranjang. Remasan pada lehernya makin terasa menguat saat bibir Naruto mengulum gemas bibir bawahnya.
Lukanya sedikit nyeri karena tergesek.
Namun tangan Sasuke malah menarik kerah baju Naruto dan memperdalam gumulan itu. Menghisapnya, mengulumnya—semua mereka lakukan dengan nafsu yang meledak di ubun-ubun.
Ranjang berderit ketika sepasang kaki naik. Berdecit-decit kuat seolah rodanya hendak mengguling. Kepala Sasuke menjauh ketika bibirnya digigit, tapi Naruto tidak sudi melepaskannya begitu saja. Mereka berubah menjadi saling tarik-menarik hingga terasa kebas.
Tunggu—apa yang terjadi?
Sebelum sempat berpikir, Naruto menggulingkan badannya hingga berposisi miring. Ranjang itu penuh. Kaki Naruto menyelip di sela pahanya menggesek-gesek. Sasuke kegelian, tapi Naruto tetap tak melepaskannya.
"Ngh."
Ciuman itu tidak pernah lepas. Meski paru-paru meminta oksigen.
Sasuke berdoa dengan gencar, jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan dirinya. Bahkan jika perlu ia tidak ingin mengenal apa itu dunia nyata.
Sebentar saja, ia tidak ingin bohong pada Naruto. Tubuhnya menginginkan Naruto. Seutuhnya.
Tbc.
