Kimi no Shiranai Mogatari Another Story

By : Mikazuki_Hikari

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi ©

All Chara belongs to Fujimaki Sensei

This Fiction belongs to Mikazuki_Hikari

Rate : T/M (jaga jaga)

Genre: Romance

Pairing: Nijimura.S, Mayuzumi.C, Akashi.S

Cameo : Haizaki.S, Kuroko.T

Warning: Shonen-Ai, Typo(s), EYD tidak sesuai aturan, Male x Male, Alternate Universe (AU), Out of Character (OOC)

Sekuel dari fic Kimi no Shiranai Monogatari yang punya Mika

Don't Like Don't Read

I have warned you

.

.

-=Author Notes=-

Yahoooo~ /ditendang

Ceritanya aku kembali~ satu kata saja~ dari pada lama lama~

We can't Stop the Motion~

.

.

Koridor sekolah terlihat sepi, kertas putih bertuliskan 'Sedang ada Ujian Akhir' menempel di salah satu pilar penyangga sekolah. Nampak dari dalam kelas bertuliskan 11 IPA 1 seorang pria berambut merah melangkah keluar dengan tangannya yang ia sandangkan dibelakang kepalanya, menariknya keatas guna meregangkan pundaknya yang kaku.

Seijuuro Akashi terduduk dibawah salah satu pilar untuk mengistirahatkan tubuhnya, tas punggungnya masih ia tinggalkan didalam kelas jadi sekarang ia nampak tidak membawa apapun pada dirinya. Kakinya ia lipat dengan rapi dengan punggungnya yang tersandar pada salah satu tiang.

Mulutnya bergerak kekanan kekiri, dahinya mengernyit seakan sedang memikirkan sesuatu. Belum lama ia duduk, pria merah itu langsung berdiri meninggalkan posisinya menuju tangga dekat kelasnya tadi.

Sambil menapaki tiap anak tangga, ibu jarinya menyentuh layar handphonenya yang sedari tadi ada ditangannya. Saat kakinya sudah mencapai akhir dari anak tangga yang ia naiki, pandangnya berkeliling melihat koridor lantai dua yang masih sama sepinya dengan koridor depan kelasnya.

Akashi berjingkat di salah satu jendela kelas. Matanya terus menyusuri setiap hal yang ditemui oleh manik merah yang berkilat penuh penasaran itu.

Merasakan handphonennya bergetar, ia merogoh kedalam saku celananya dan mengambil handphonenya lalu nampak tangannya menggeser lembut kunci pada layarnya. Nampak nama Nijimura Shuuzo dengan sebuah amplop disebelahnya. Nampaknya orang yang ia kirimi pesan baru saja merespon. Saat Akashi masih sibuk dengan pesannya, yang bersangkutan langsung nampak keluar dari dalam kelas. Tanpa si pria merah itu sadari, pria yang lebih tinggi menepuk pundaknya lembut, membuat sang adik kelas menoleh kearah senpainya.

"Maaf menunggu lama." Nijimura Shuuzo membuang pandangnya dari si bocah merah yang nampak gugup.

Wajar Akashi masih sangat gugup berhadapan dengan sang kakak kelas kesayangannya, mengingat kejadian tanpa busana di kamar senpainya tempo hari, peluh membanjiri keningnya.

"Mau diberi penjelasan sekarang atau bagaimana?" tanya pria berambut hitam yang juga merasa canggung. Si pria merah menggeleng dengan rona menyeruak pada pipinya. Pria merah yang tengah menggigit bibirnya itu berusaha untuk lari namun tangannya kini dicengkram oleh sang senpai.

"Jangan lari dulu eh, aku kan belum bilang apa apa." Nijimura menarik tubuh anak itu hingga sampai kedalam pelukannya. Sei masih belum bisa berkata apa apa. Dapat ia rasakan panas tubuh senpainya menjalar di tubuhnya, rasanya ia ingin mati saja.

Niatan untuk tidak bertemu senpainya saat ujian berlangsung sudah kandas. Pesan yang mau tak mau harus ia balas tadi membawanya kemari. Sebenarnya Sei juga tidak ingin ke kelas senpainya, namun, ia tidak ingin orang itu kecewa. 'Untung ujian hari ini kacangan seperti biasa, jadi aku tidak harus membuatnya menunggu.' Begitu batin Akashi.

"Ke kantin yuk?" tawar sang senpai yang masih menggenggam tangan Akashi dengan erat.

"Anu- ah, itu, tangan..." ucap Akashi dengan terbata, tangan mungilnya masih ada dalam genggaman tangan besar senpainya yang ia idam idamkan. Walau sebegitu inginnya ia digenggam senpainya, namun dalam kondisi seperti ini, sama saja seperti menggali lubang kubur sendiri.

"Masih bisa ngomong toh, dari tadi ga ngomong ngomong sih."

"Ih, apaan sih, aku kan udah kesini, kapan ngobrolnya, biar aku cepat kembali ke kelas."

"Di kantin aja." Nijimura menatap lekat iris merah yang terus menerus menolak pandangannya itu. Sesaat iris itu terpejam kala Nijimura mendekatkan wajahnya, nampaknya ia ketakutan, tapi mungkin juga dia gugup.

Akashi yang mau tak mau harus mengikuti senpainya itu, menapak ulang langkah yang ia ambil tadi dan turun ke lantai dasar. Akashi yang berdebar tanpa sadar meraih kuncup baju senpainya dari belakang dan menariknya pelan, membuat sang pemilik menghentikan langkahnya.

"Jangan cepat cepat." Akashi menundukkan wajahnya yang merona.

"Kamu kan yang bilang tadi harus buru buru." Nijimura menaikkan sebelah alisnya.

"Ya tapi kan." Akashi menggigit bibirnya lagi.

Akashi memang sedang tidak bisa melihat wajah senpainya itu, namun, kesempatan langka seperti ini tidak bisa ia sia siakan begitu saja. Kapan lagi bisa berduaan dengan sang senpai seperti ini?

"Begini saja, jadi tidak ada yang terburu buru, namun kukira kamu ga bakalan suka." Nijimura membiarkan Akashi memegang lengannya dari belakang dan kembali berjalan.

Sekolah nampak hening, dan nampaknya gerombolan love comedy lainnya juga belum menyelesaikan ujian mereka, terutama Haizaki, yang Akashi yakin sekali kelewat bodoh untuk bisa menyelesaikan ujian secepat dirinya.

Akashi menggenggam erat lengan besar senpainya, terasa keras ditangannya, entah seberapa sering ia melatih lengannya hingga bisa sekeras ini. Walau dari luar nampak tidak sekuat yang ia kira, ternyata lengan itu sangatlah kokoh, ingin rasanya ia digendong oleh senpainya, namun hal tersebut hanyalah ada dalam mimpinya.

Larut dalam perasaannya, tanpa sadar Akashi menyandarkan kepalanya di pundak senpai kesayangannya, yang sontak membuat sang senpai kembali menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.

"Ada apa sih dari tadi?" Nijimura nampak heran dengan pria yang terkenal tiran dan mengerikan itu kini berubah layaknya seekor anak kucing, ah tidak, lebih tepatnya nampak seperti anak kelinci yang kuyu kupingnya.

Akashi kembali tidak memberi jawaban apapun, ia hanya menggelengkan kepalanya. Namun tidak kali ini, nampaknya Nijimura tidak menyukai jawabannya yang tidak memberikan balasan sepatah kata pun.

"Bicara kenapa sih?" Nijimura mulai terkesan risih.

"Di kantin aja." Wajah merona itu sekejap tertunduk malu.

"Udah lah kelamaan, disini aja deh, sepi ini kan? Udah deh, kamu ngomong, kamu itu kenapa, nanti aku juga sampaikan apa yang aku ingin sampaikan kalau tadinya kita jadi ke kantin." Ujar sang senpai yang memukul pelan kepala Sei yang mengaduh karenannya.

"Yang waktu itu..." bibir Akashi seketika itu menjadi terlalu kelu untuk berkata kata. Bukan karena ia tidak bisa mengatakannya, ia terlalu malu untuk menyatakan hal 'tersebut' didepan orang yang bersangkutan.

"Yang mana? Kalau bicara yang jelas."

"Di rumah senpai, pagi pagi itu..." Akashi memejamkan matanya, tidak berani melakukan kontak dengan manik kelabu didepannya.

"Kalau mau jujur, iya, aku melakukannya denganmu, aku sudah melakukannya selembut yang aku bisa, masih sakit kah?" "err- dan nampaknya kau juga tidak kebertan toh? Cuman, yang aku bingung itu, kenapa kamu bisa ga yakin begitu? Kan sudah jelas toh pas kamu bangun juga?" Nijimura menghela nafas panjang. Manik merah itu terbuka lebar mendengar pernyataan senpainya barusan. Bibirnya yang ternganga ia tutup dengan kedua belah tangannya, rona merah menyeruak di pipinya, jantungnya seakan mau copot.

"Jadi memang kita melakukannya malam itu?" sekarang Akashi benar benar tidak bisa membedakan yang mana akal sehatnya, yang mana yang merupakan egonya, tangannya yang gemetar ia lepaskan dari tangan sang senpainya.

Nijimura mengangguk setuju dengan pertanyaan si bocah merah yang nampaknya belum bisa terima kalau dirinya dan senpainya itu sudah melakukan hubungan yang terbilang intim.

"Kenapa senpai melakukannya? Apa karena senpai putus asa dengan Haizaki jadi aku dijadikan pelampiasan?" tidak perlu lagi berlama lama, si pria merah langsung pada poin utama yang mengganjal pada pikirannya kalau saja sang senpai mengiyakan perihal apa yang mereka lakukan malam itu.

Sang senpai tidak menjawab sepatah kata pun, nampaknya pertanyaan Akashi itu benar adanya, tapi sang senpai langsung saja memberikan sanggahan.

"Ya mungkin saja aku memang melakukannya karena alasan demikian, namun aku juga tidak tahu apa tujuanku yang sebenarnya melakukan itu padamu, kita berdua sangat emosional malam itu bukan? Ya mungkin karena terbawa emosi saja."

"Oh begitu." Akashi tertunduk lesu.

Kedua pria itu terdiam dalam keheningan, Akashi masih tertunduk dengan rona wajahnya sementara Nijimura menolehkan wajahnya.

"Terus, senpai tadi mau bilang apa sama aku?" tanya Akashi saat keberaniannya sudah pulih untuk berbicara.

"Aku mau bilang kalau aku ingin dekat sama kamu." Jawab sang senpai tegas.

"Eh?" wajah yang tertunduk itu mengarah lurus ke arah lawan bicaranya.

"Selama ini kita cuman sekedar kenal bukan? Jadi aku pengen aja gitu, lebih kenal sama kamu, aku suka sama kamu."

Rona pada wajah Akashi semakin menjadi jadi saat senpainya bilang kalau ia suka pada dirinya, entah tadi dia salah dengar atau apa, namun tetap saja, kedengarannya seperti ia bilang kalau ia suka pada dirinya.

"Nggak, kamu ga salah dengar kok, tapi menurutku rasa suka yang masih biasa aja, banyak kan definisi dari kata suka?" Nijmura tersenyum.

Akashi yang malu malu mencoba membalas senyuman senpainya, tidak bisa menggambarkan emosinya sekarang ia hanya terkekeh.

"Terus aku harus jawab apa?" tanya Akashi malu malu.

"Ga harus dijawab sekarang, anggap saja pendekatan dulu." Nijimura mengacak acak surai kemerahan si bocah merah yang kegelian karenannya.

"Ga usah tegang begitu kali." Sambung Nijimura.

Akashi yang salah mengartikan ucapan senpainya tanpa sengaja langsung melihat kebagian tengah celananya.

"Jiaah, ga itu juga kali yang tegang." Nijimura mengacak surai merah itu lagi.

"Ah senpai maaah!" Akashi memukul manja dada bidang senpainya.

"Berani yah sekarang?" Nijimura menghentikan pergerakan kedua tangan mungil itu dengan satu tangannya.

"Ya enggak aku-" ucapan itu terhenti dengan bibir Nijimura yang melekat manis di bibir yang berusaha menyelesaikan ucapannya barusan, lidahnya menjilat pintu masuk milik Akashi , yang sontak membuat Akashi terkejut karenanya.

"Anggap saja perkenalan, toh kita sudah pernah melakukan yang lebih dari ini." Tandas Nijimura.

"Senpaaaaaaiii!"

"SSsst- masih pada ujian." Nijmura menempelkan jari telunjuknya pada bibir Akashi yang masih basah dengan saliva miliknya. Akashi ingin mati rasanya.

Tanpa mereka sadari, tindakan dan perbincangan mereka barusan baru saja seperti menyiramkan bensin kedalam bara api, dengan dua orang yang mengintip dari belakang dinding. Terutama pria yang berambut abu abu, karena yang berambut biru merasa perannya di cerita ini adalah sebagai uke, bukan sebagai seme bagi pria merah seperti yang ia idam idamkan.

.

.

Sore menjelang. Akashi dan Mayuzumi yang tinggal bersama melangkah pulang ke tempat tinggal milik Mayuzumi.

Akashi heran, senpainya yang satu ini tidaklah bertingkah sebagaimana mestinya. Mereka tidak berbincang seperti yang biasa mereka lakukan di setiap perjalanan mereka menuju ke rumah. Akashi menarik lengan baju senpainya, namun senpainya tidak merespon apa apa.

"Senpai."

"Chihiro Senpai?" panggil Akashi untuk kedua kalinya. Namun masih tidak mendapat respon apa apa.

Sesampainya dirumah, Mayuzumi membuka kunci pintu depan dan masih saja mengabaikan Akashi. Ia melangkah masuk sampai ia mendengar panggilan yang tidak asing ditelinganya.

"Chihiro Nii!" panggil Akashi untuk yang ketiga kalinya.

Dibantingnya pintu depan rumah dan kembali dikunci rapat oleh pria berambut abu abu itu. Tubuh mungil Akashi ia gendong dengan tangannya, dan dengan sigap berjalan menuju ke arah kamar.

"Oiii lepakan! Chihiro nii!" Akashi meronta sekuat yang ia mampu, namun Mayuzumi tidak membiarkan tubuh anak itu terlepas.

Sesampainya dikamar, dilemparkannya tubuh ramping Akashi itu ke tempat tidur Kingsize miliknya. Pria itu melepas paksa dasinya, melemparkannya ke sembarang arah dan menerjang tubuh ramping pria dihadapannya itu dengan ganas.

"Chihiro nii! Apa apa—BHUPP-" Mayuzumi mencium bibir Akashi dengan buas, lidahnya menari di permukaan benda kemerahan yang kini menjadi basah karenanya, satu tangannya mengunci kedua tangan pria mungil yang kini tidak berdaya, tangan lainnya meraba dan meremas sesuatu milik pria itu dibawah sana.

Tidak puas dengan bibirnya, lidah Mayuzumi menggerayangi leher mulus Akashi yang membuat pria itu menggeliat geli. Dapat Mayuzumi rasakan sesuatu yang mulai mengeras dibawah sana. Dengan paksa ia membuka kemeja Akashi dan melucutinya, membiarkan dada mulus pria itu terekspose dan menyapa udara bebas disekitarnya.

"Senpaaai!" bentak Akashi yang berusaha melepaskan dirinya dari senpainya yang nampak kehilangan akal sehatnya.

Mayuzumi nampak tidak menghiraukan si pria merah yang kesakitan akibat cengkramannya yang semakin kuat. Dikecupnya dua titik sensitif pada dada Akashi, membuat anak itu mendesah hebat. Saliva membasahi mulutnya yang terbuka dan mengeluarkan desahan akibat permainan paksa senpainya.

Mayuzumi membuka kain penutup bagian atasnya yang sudah dipenuhi peluh, kemudian kembali dengan kegiatannya pada bibir ranum itu.

Tidak memberinya akses kali ini, Mayuzumi menggigit paksa bibir bagian bawah Akashi hingga terbuka sempurna, membiarkan lidahnya menjamah isi mulutnya, mengabsen gigi pria itu, serta mengunci lidah gemetar itu dengan miliknya.

Akashi merasakan cengkraman keras itu mulai berpeluh. Saat rasa licin menghampiri permukaan kulit telapak tangan senpainya, ia menarik paksa salah satu tangannya dan berhasil.

Merasa sudah memiliki akses dengan daerah sekitarnya, tangan dengan bekas cengkraman yang gemetar itu menghujamkan tamparan kearah wajah senpainya.

Akashi melihat senpainya itu menangis. Seingatnya ia tidak menampar senpainya begitu keras, namun dapat ia pastikan senpainya itu menangis.

"Maafkan aku-" wajah pria itu tertunduk.

"Ah, anu tidak apa... mungkin..." Akashi memalingkan wajahnya.

Mayuzumi mendekap tubuh mungil orang yang ia sayangi itu dan menangis dhadapan pria yang masih terkejut lemah dengan tangannya yang gemetar.

"Sen...pai..." iris merah itu terbelalak merasakan bulir basah menyapa pundaknya yang tidak tertutup apa apa itu.

"Maaf sudah melakukan hal menjijikan itu barusan, aku... aku hanya tidak bisa terima kalau kau sudah melakukan hal yang lebih dari ini dengan pria itu..."

"Jadi tadi siang senpai dengar?" tanya Akashi.

Mayuzumi menganggukkan kepalanya. Akashi tertunduk lesu.

"Kau boleh membenciku karena ini..."

Akashi merasakan suatu perasaan yang timbul dari dalam dirinya, yang memberanikan dirinya meraih wajah senpainya itu, dan mencium bibir pria yang masih menangis dihadapannya.

"Sei-" kini iris abu itu yang terbelalak dengan tindakan pria mungil dihadapannya.

"Tidak apa, aku tidak marah-" Sei mendekap tubuh senpainya itu sayang.

Mayuzumi tanpa pikir panjang kembali mencium bibir Sei sekali lagi, dan menenggelamkan mereka berdua dalam sebuah ciuman yang manis dan panjang.

Melihat air mata itu, membuat Sei merasa sangat pilu pada hatinya, sesak yang melandanya saat itu yang membuatnya berani mencium bibir sang pria abu abu dihadapannya.

Pria itu kini bingung, sebuah perasaan yang seketika muncul saat melihat senpainya itu menangis, perasaan yang belum bisa Sei jelaskan, namun Sei merasa dorongan itu sangatlah kuat dari dalam dirinya.

"Sudah berapa lama aku tidak melihat kearahmu-" tukas Akashi.

.

.

-=To be Continued=-