Disclaimer: This fiction is mine but the characters aren't mine.
Cinta bergerak diluar logika,
Otak dan hati sering tak mau berpadu
Beruntunglah kalian yang bertemu
Dengan seseorang yang mencintaimu
Tanpa mengkhianati logika hanya untukmu
Yang bisa berjalan bersisian
Bergandengan tangan
Tanpa halangan
Tapi cinta tetap cinta
Tak peduli sesuai dengan logika atau tidak
Ia tetap cinta
Hermione Jean Granger, yah itu wajah yang semakin familiar dengannya. Tak pernah ada dalam pikiran paling liarnya sekalipun kalau dia bisa menghabiskan waktu berdua dengan mata hazel itu dan tanpa bertukar makian ataupun berkelahi. Bahkan kini mereka berdua makan bersama berdampingan sembari bercanda. Lihatlah matanya hazelnya yang berbinar bahagia, juga senyum dan tawa yang menghiasi bibirnya. Cantik...bukan..sangat cantik.
"Hahaha...lucu sekali bukan" suara indah itu membuyarkan lamunanku
Ucapannya hanya kujawab dengan anggukan kepala yang kupikir cukup. Aku terlalu sibuk mengamati dia. Dia yang pada awalnya kupikir teramat angkuh sehingga patut masuk Slytherin ditambah otaknya yang benar-benar brilian. Dia melanjutkan kembali makannya. Lalu melirik sekali kearahku dan tanpa diduga menempelkan punggung tangan kanannya ke dahiku. Lembut..lembut sekali..
Kurasakan aliran darah sekarang berkumpul di wajahku, pasti merah sekarang.
"Hei, kau tampak aneh hari ini. Terlalu banyak melamun. Badanmu agak panas, wajahmu juga merah. Perbanyaklah istirahat. Makan bekalmu" perintahnya.
"Iya..iya.."
Dan akupun melanjtkan makan. Tapi pikiranku sudah terlanjur terinfeksi dengan keberadaannya. Kau lihatkan betapa perhatiannya dia. Itu satu lagi nilai plus. Kau tahu, sepertinya aku mulai merasakan sesuatu yang tak bisa kukatakan sekarang. Dengan perhatiannya, dengan kebaikannya, dengan kepintarannya, dan ditambah kecantikannya tak heran Draco bisa menyukainya. Sialan.. Draco, mate-ku, aku lupa kalau gadis ini sudah menjadi miliknya. Hehhh tak pernah kuduga kalau hatiku ternyata berjalan lebih cepat dibanding logikaku. Mana mungkin kubiarkan urusan hati mengorbankan persahabatanku dengan Draco. Dan nafsu makanku menguap begitu saja.
Ini semua salahnya yang dengan mudahnya memberikanku perhatian. Memang sih pada awalnya dia memarahiku gara-gara aku tak mau mengerjakan tugas dengannya. Yah, walau kutahu dia pasti bisa mengerjakan semuanya sendirian dengan cepat, tapi katanya nanti aku jadi tak bisa. Lalu entah mengapa, lambat laun aku terbiasa bercanda dan berinteraksi dengannya. Tugas-tugas itu telah mengurungku dalam pesonanya. Tapi kupikir lagi, it's not her fault at all but it is mine. Damn, why should I fall to my mate's? Payah...
"Blaise, aku pergi dulu"
"Mau kemana?"
"Bertemu dengan tuan sok tahu" jawab Hermione sambil nyengir kuda.
Hanya senyum hambar yang bisa kuhadirkan, yang mungkin bahkan tak dia sadari. Kulihat punggungnya hingga menghilang di belokan koridor depan.
Baru kali ini aku merasakan iri yang begitu besar, ehm jujur bukan hanya kali ini sih. Dulu aku pernah iri dengan dia karena dia lahir di keluarga Malfoy, juga karena pengaruh, pesona dan otaknya. Tapi sekarang, aku iri berlipat-lipat lebih banyak karena dia berhasil menaklukkan seorang Gryfindor Princess yang juga My heart's princess.
Awalnya kukira Pansy berbohong mengenai hubungan Hermione dan Draco. Mataku bahkan sempat melotot ketika melihat mereka berdua berciuman. Kurasa hal seperti membaiknya hubungan Gryffindor dan Slytherin adalah suatu kemustahilan, tapi aku lupa kalau tak ada yang tak mungkin bukan. Kalau begitu, apa mungkin hatinya akan menjadi milikku? Tadinya kupikir Draco hanya menyukai Astoria seorang, pasalnya hanya Astoria yang terlihat dekat dengan Draco. Memang dia pernah menceritakan tentang seseorang yang dia suka, tapi aku sama sekali tak pernah menyangka kalau itu Hermione. Terus terang, dulu aku agak memandang rendah Draco karena dia memilih seorang Gryffindor seperti dia. Aku kagum pada Draco, ternyata matanya awas, dia bisa sejeli itu melihat mutiara.
Draco dan hermione kembali bertemu. Mereka berdua akhirnya kembali bertemu kembali setelah yah..lumayan lama belum bersua. Setelah keheningan yang lama melanda.
"Draco"
"Ya"
"Kau tau, sepertinya kau banyak berubah"
Droco mengenyitkan dahinya
"Benarkah, sepertinya kau yang berubah"
Hermione terkekeh pelan
"Kau benar Draco, aku memang berubah; tapi tak hanya aku, kau, dan bahkan Hogwartspun berubah"
"Hm..tak kusangka perjanjian kita merubah semua. Hei, tapi darimana kau bisa mengatakan kalau aku berubah. Kau lihat, aku masih tampan seperti dulu, Hmm apa maksudmu aku bertambah tampan"
"Kau ini, sisimu yang ini tak pernah berubah. Mister Narsis"
"Tapi aku bicara kenyataan nona, kau bahkan tak mengkal" katanya sambil mengacak rambutku, dan langsung saja kualihkan wajahku, takut rona merah dipipiku ini terlihat.
Kata-katanya benar sekali, aku bahkan tak menyangkal. Draco..tanpa sadar dia benar-benar sudah berhasil mengikat hatiku. Tapi apa mungkin kami bersatu? Sekarang masalahnya bukan di masalah pebedaan asrama kami berdua, tapi.. apa bisa dia benar-benar mencintaiku? Kuharap iya. Meskipun hanya pura-pura, aku menyukai kelembutan perlakuannya.
Angin berhembus begitu kencang, mengibarkan helaian rambut kami berdua. Kulihat matanya terpejam menikmati angin. Akupun ikut memejamkan mataku dan menikmati angin ini dengan Draco disampingku. Yang pasti hari ini aku bahagia.
"O iya Draco, kau bilang aku berubah, apanya?"Tanya Hermione tanpa membuka matanya.
Dracopun menoleh dan melihat Hermione yang sedang memejamkan mata dengan rambut yang berkibar. Cantik, Draco sadar itu. Hermione, Partner-in-lie-nya; kekasih pura-puranya saat ini. Teringat saat dulu mereka bertukar cacian, saling melotot. Sepertinya begini lebih baik. Dia juga pintar dan baik, ibunya juga menyukainya. Sayangnya Draco sadar kalau hatinya bukan milik gadis yang kini ada disampingnya. Draco agak menyesal juga membiarkan gadis seperti Hermione harus terjebak dalam sandiwara ini.
"Draco?"
"Hn"
"Apa yang berubah?"
"Kau lebih cerewet sekarang, kau lebih terbuka dan hmm susah sih mengakuinya, kau menyenangkan"
"Benarkah?"
"Ya, asal kau tahu saja ibuku bahkan sepertinya lebih menyukaimu dibanding aku"
Hermione tertawa pelan lalu tersenyum. "Aku juga menyukai ibumu"
"Ada salam dari ibu dan ayahku, katanya mainlah akhir minggu ini. Bagaimana, kau bisa?"
Hermione hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Aku pergi dulu" pamit Draco "O iya, sabtu ini kutunggu kau disini jam lima sore. Jangan terlambat! "
Lagi-lagi Hermioe hanya mengangguk, padahal dalam hatinya dia berharap untuk bisa bersama lebih lama lagi.
Sabtu ini Blaise sudah berencana untuk mengajak Hermione berjalan-jalan. Sebenarnya dia ingin sekali melihat bagaimana dunia Muggle itu. Dia sangat penasaran dengan dunia dimana Hermione berasal. Dia ingat cerita-cerita Hermione mengenai apa-apa saja yang ada di sana. Katanya ada hair drier, aneh sekali bukan. Bukannya tinggal memakai tongkat rambut bisa kering. Aku sangat ingin pergi ke taman hiburan, kata Hermione, itu adalah tempat yang sangat menyenangkan. Aku penasaran...
"Mione..Hermione..."
Terdengar suara terputus-putus memanggil namanya. Sontak Hermione menengok ke belakang, lalu diputarnya kepala mengikuti objek yang meanggilnya. Blaise Zabini, partnernya. Nafasnya masih terengah-engah.
"Mioneh...hhh...besok..hh.."
"Tenanglah dulu, atur nafas.."
Blaise pun menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya, begitu seterusnya sampai tenang.
"Hmmm..Mione, kau ingat kalau kau pernah menceritakan dunia Muggle?'
"Uh-humm"
"Nah, aku ingin melihat barang-barang yang pernahkau ceritakan dulu. Hmmm terutama taman hiburan. Aku ingin sekali pergi kesana"
"Benarkah? Yakin nih mau melihat dunia Muggle"
"Ya"
"Are you a Slytherin?"
"Ayolah...kupikir Muggle tak seburuk itu"
"Bagaimana ya?" Hermione memasang tampang berpikir keras.
"Ayolah..please.." suara Blaise dibuat sememelas mungkin.
Hermione hanya tertawa melihat tingkah Blaise yang sangat tak waja menurutnya.
"Ehm..baiklah, kau akan kuajak kesana"
"Sabtu ini?"
"Sabtu ini? Aku ada janji dengan Draco. Maaf ya.."
"Ya sudah, kalau misal kamu bisa, hubungi aku segera."
"Sipp"
Sabtu telah datang, masih pagi memang tetapi Hermione sudah tidak sabar bertemu dengan Mr. And Mrs. Malfoy. Hermionepun mempersiapkan secepat mungkin.
Astoria kali ini menemui Draco, dia harus segera menyelesaikan tugasnya. Hari senin harus sudah dikumpulkan, padahal besok dia ada janji dengan kekasih tercintanya. Jadi hari ini mau selesai jam berapapun harus diselesaikan. Dengan langkah cepat dia menemui Draco yang diketahuinya sedang berada di Aula.
"Draco"
"O, hai.. Ada apa?"
"Begini, aku rasa kita harus segera menyelesaikan tugas untuk hari Senin hari ini juga. Hari ini kau tak ada acara kan?"
Dengan segera Draco mengangguk, jarang-jarang kan ada kesempatan berduaan dengan Astoria. Lalu mereka berduapun segera pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi. Karena tugas untuk besok senin itu sangat tidak berperikepenyihiran, maka dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya. Bayangkan ini sudah lewat dari tengah hari dan baru setengah yang selesai, berarti masih ada setengahnya lagi. Bagi Draco jelas itu bukan masalah, yang penting bisa menghabiskan waktu dengan Astoria.
Hari menjelang sore, tinggal seperempat lagi, yah..kelihatannya mudah tetapi sebenarnya tidak semudah itu. Bayangkan kau masih butuh merangkum satu buku super tebal lagi. Demi bokong Merlin, tangan mereka berdua sudah mati rasa. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak. Setelah dirasa cukup mereka berdua kembali mengerjakan, tanpa sengaja Draco melihat bahwasanya jarum pendek sudah berada di antara angka lima dan enam, sementara yang panjang ada di angka lima.
Bukannya Draco tak ingat kalau dia ada janji dengan hermione, tapi dia rasa tak apalah sekali-kali mengingkai janji, toh nanti paling Hermione akan kembali ke kamar. Ternyata tugas terselesaikan pada pukul enam empat puluh lima. Draco langsung saja ber-apparate ke Malfoy Manor.
Sementara itu terlihat Hermione masih menunggu kehadiran Draco dengan menggerutu. Hari ini di sudah benar-benar bersiap bertemu dengan Narcissa. Ini sudah dua puluh lima menit lewat dari waktu perjanjian.
"Lihat saja Draco kalau kau kesini, kau akan berubah jadi daging cincang"
Empat puluh lima menit telah berlalu. Perut Hermione sudah meminta diisi, dari tadi siang dia belum makan karena dia tahu kalau Narcissa tak akan membiarkannya semenitpun tanpa makanan. Sembilan puluh menit terlewat sudah, perutnya benar-benar melilit sekarang. Tak tahan lagi, tak peduli kalaupun Draco datang dia tak peduli. Hermione segera berlari meuju kamar, dia masih punya satu bungkus roti pemberian ibunya. Setelah makan, langsung saja dia tidur, sakit kepalanya, hatinya juga. Kenapa Draco ingkar?
Te Be Ce
P.S ( ) #maksa amat
Maaf beribu maaf ya buat semua yang udah nunggu apdetnya fic ini (kalau masih ada)
Semua dikarenakan kelalaian Author yang nggak bisa mbagi waktu T.T
I am so sorry.
O iya, mengingatkan saja, background cerita ini adalah dunia sihir aman-aman saja tak ada Voldy. Review temen-temen udah bikin aku semangat lagi...thank you so much ya..
Preview next chap:
"I love you"
"Wah, gula-gula kapas"
"Hari ini sangat menyenangkan"
