Tubuhnya berbalik untuk berjalan kembali menuju dapur. Matanya teralihkan pada seikat bunga lili di atas meja panjang tempatnya memajang foto-foto berharganya. Jemari lentiknya mengambil bunga itu kemudian menghindunya. Aroma yang sangat dia sukai menguar memenuhi indera penciumannya. Tapi sejurus kemudian dia mengernyit, 'Siapa yang sudah meletakkan bunga ini di sini?' pikirnya bingung. Namun tak butuh waktu banyak, bayangan seseorang berambut merah dengan tulisan kanji di dahinya serta manik hijau susunya memenuhi benak Sakura. Ia tersenyum tulus sekarang.

'Tak kusangka kau bisa bertindak semanis ini, Kazekage-sama.' Gumamnnya seraya menghindu aroma bunga itu lagi.

Marriage Kazekage

Ishikawa Natsumi

Naruto : Masashi Kishimoto

Gaara memposisikan tubuh lelahnya di atas kasur penginapan yang mereka tempati. Ia tak banyak bergerak tapi entah kenapa tubuhnya terasa amat kelelahan. Baru sekejap matanya terpejam, pintu ruangannya digebrak seseorang sehingga menimbulkan suara gaduh.

"Gaara! Kemana saja kau?!" bentak Temari begitu saja tanpa mempedulikan kondisi Gaara yang saat ini tengah beristirahat.

Dengan gerakan berat ia tegakkan tubuhnya menghadap kakaknya yang paling cerewet itu, "Hn?" gumamnya tak jelas menanggapi pertanyaan dari Temari.

Perempatan siku muncul di dahinya, "Bukan 'Hn'! Sadarlah Gaara, kau itu Kazekage! Kau tidak bisa kesana-kemari tanpa penjagaan!" sentak Temari lagi. Darahnya semakin mendidih begitu mendapat jawaban yang tak diharapkan dari adik bungsunya itu.

Alis transparannya mengernyit. Kesadarannya baru pulih sepenuhnya. Telinganya berdengung mendengar suara Temari yang sangat kencang. Kepalanya berdenyut nyeri ketika insomnianya kembali, "Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?"

Menyadari keadaan Gaara yang kacau, Temari mendekat dan duduk disamping Gaara diatas kasur, "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya perhatian. Ia menyentuh pundak adiknya menunjukkan empatinya yang nyata.

"Aku baik-baik saja. Jadi, apa yang membawamu kemari?" Gaara menegakkan punggungnya, menutupi rasa sakit yang menyerang di kepalanya dan mencoba mengabaikannya. Ia pusatkan perhatiannya pada sang kakak yang hendak bertanya.

Temari menghela napasnya pasrah, ia tanyakan yang ingin diketahuinya sedari kemarin, "Jadi siapa yang akan menjadi calon istrimu?" Rasa penasaran itu tak lagi ia tutupi. Ia dekatkan tubuhnya agar bisa mendengarkan jawaban Gaara sepenuhnya.

Kantuknya menghilang seketika begitu ia mendengar pertanyaan sang kakak. Diam-diam dibalik pintu kamar juga ada yang mencuri dengar. Kankurou dan para jounin bertumpuk sambil menempelkan telinganya pada daun pintu. Gaara menunduk dan membuang napas berat, "Dia Sakura. Orang yang merawat lukamu kemarin dan juga orang yang telah menyelamatkan Kankurou dulu."

Diluar dugaan Temari memekik, "Astaga! Benarkah? Kau tahu, kemarin aku baru saja berharap dia yang akan menjadi adikku. Kapan dia menerimanya?" antusiasme kakaknya itu tak disangka-sangka oleh Gaara. Ia tersenyum tipis, sangat tipis sehingga bibirnya hanya membentuk garis lurus yang tertarik sedikit ke salah satu sisinya. Dibalik pintu, para lelaki yang mencuri dengar turut terkejut mendengar siapa yang akan menjadi calon istri Kazekage mereka. Tapi setelahnya mereka saling melempar senyum senang.

"Dia satu-satunya yang dipilihkan Hokage untukku. Dan dia menerimanya sebelum kita tiba di sini." matanya berubah sendu. Ia teringat kembali saat-saat Kakashi memberitahukan dirinya siapa yang akan menjadi calon istrinya. Saat itu dia bersyukur karena bukan orang lain yang dipilihkan untuknya. Ia bersyukur karena wanita seperti Sakura-lah yang dipilihkan untuknya. Dan ia yakin saat ini kakaknya juga pasti seperti itu.

Wanita itu besedekap, "Lalu kenapa dia tak mengatakan apapun saat dia mengurus lukaku? Hah, tapi aku sangat bersyukur dia yang akan menjadi calon istrimu. Kurasa para tetua juga setuju." Ia tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Gaara, memberitahu lelaki itu dengan isyarat yang menunjukkan kalau adiknya itu adalah lelaki yang beruntung. Gaara hanya mendengus, melupakan rasa sakit dikepalanya yang digantikan oleh bayangan-bayangan gadis berambut merah muda dan bermata emerald yang telah mencuri perhatiannya.

"Temari, boleh aku meminta tolong padamu?" Gaara menunggu reaksi Temari. Kakaknya itu hanya menautkan alisnya bingung mendapat pertanyaan yang tak biasa dari adiknya. Gaara melanjutkan permohonannya, "Tolong bantu Sakura mempersiapkan semua yang dia butuhkan. Jangan sampai ada biaya yang dikeluarkan olehnya sedikitpun." Tatapannya tertuju pada jalinan jemarinya. Ia terdiam sejenak memberi kesempatan pada Temari jika dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi tak ada sepatah kata pun yang dikatakan wanita itu, sehingga ia meneruskan permintaannya, "Shikamaru juga diperintahkan Hokage untuk membantu."

Mendengar nama Shikamaru, Temari tak sadar kalau dirinya terkesiap. Untuk yang kesekian kalinya mereka dipertemukan untuk menjalankan satu tugas. Sebelum Gaara bicara lebih soal lelaki berambut nanas itu, Temari segera menanggapi ucapannya, "Baiklah aku tahu. Kau bisa menyerahkannya padaku." ia bangkit berdiri dan berkacak pinggang, "Lain kali jika ada hal penting yang menyangkut dirimu ataupun desa, kau harus segera memberitahu kami," Ia berjalan menuju pintu setelah mengatakan hal itu, "Sebaiknya kau istirahat sekarang." Kemudian pintu tertutup di belakang punggungnya.

"Aku sudah tak bisa tidur lagi sekarang," gumam Gaara, namun seulas senyum terpatri di bibirnya ketika bayangan Sakura tak bisa hilang dari otaknya.

~#~#~#~

"Tuan, waktu yang ditentukan tinggal tiga minggu lagi." Bisik gadis itu takut-takut. Ia berdiri di samping seorang pria yang duduk sambil menatap bulan yang sudah tak utuh lagi. Tak ada awan yang mengalanginya memandangi pemandangan menawan itu.

Ia pejamkan matanya menikmati hembusan angin dingin yang menerpa kulit pucatnya, "Aku tahu. Kita tak bisa melakukan apapun sebelum bulan menampakkan dirinya secara utuh. Tapi jika sampai jinchuriki itu menikah sebelum bulan penuh, rencana kita tak akan berhasil."

Gadis yang tadi bicara takut-takut disampingnya menunduk sedih, "Aku mengerti," setetes air mata jatuh di pipinya. Ia relakan cinta pertamanya untuk ini daripada harus melihatnya menikah dengan orang lain sekalipun ia tahu pernikahan itu hanyalah rekayasa tetua Sunagakure, "Aku akan melakukan semua yang kau perintahkan Toneri-sama."

"Gadis pintar," senyum mengerikan tersungging di bibirnya sambil melihat gadis itu dengan mata gelapnya.

~#~#~#~

Tok tok

Suara ketukan pintu penginapannya menarik semua perhatian para tamu dari desa Suna yang sedang sarapan. Aksi saling pandang terjadi selama beberapa detik sampai ketukan di pintu kembali terdengar. Termari berdiri dan membuka pintu itu secepatnya.

"Shikamaru?" matanya membulat melihat lelaki yang berdiri di luar pintu kamarnya. Perempuan berkuncir empat itu sedikit merapatkan pintu setelah mengeluarkan tubuhnya, "Ada apa kau kemari?"

Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Aku diperintahkan Hokage untuk membantumu," Temari mengernyit setelahnya, membuat Shikamaru sadar ada yang salah dengan kata-katanya, "Maksudku membantumu yang akan membantu Sakura. Kau tahu mempersiapkan pernikahan dan yang lainnya." Sebisa mungkin ia tak ingin menatap perempuan itu. Salah satu perempuan yang tak bisa dibantahnya selain ibunya.

"Aku mengerti, tapi kukira sekarang masih terlalu pagi untuk bertemu Sakura," suaranya kembali ke mode normal setelah sebelumnya berusaha tak terdengar oleh dua adiknya. Ia merutuki dirinya sendiri yang sempat salah paham soal kedatangan lelaki berambut nanas itu.

Shikamaru memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, sebisa mungkin bersikap santai menghadapi perempuan yang satu ini, "Kurasa memang terlalu pagi. Mungkin kita bisa mampir ke suatu tempat dulu sampai waktu yang tepat."

"Begitukah?" tanya Temari retoris. Ia menghela napas dan memasukkan tubuhnya lagi ke dalam kamar, "Kami sedang sarapan, kau mau bergabung?" Temari menawarkan.

"Kau tahu aku tidak diperintahkan untuk itu," ia mendengus kemudian tertawa. Kalau saja dia bukan orang dekat, Temari pasti sudah mengambil kipasnya dan melempar laki-laki itu beratus-ratus meter akibat ketidak sopanannya itu.

Perempuan itu ikut tertawa, "Aku tahu itu. Kebetulan aku juga sudah selesai, kurasa kita bisa pergi. Ada tempat yang ingin kukunjungi terlebih dahulu, kau bisa mengantarku?" Ia sengaja kembali membuka pintunya agar kedua adiknya dapat mendengar percakapan mereka.

"Itu agak merepotkan, tapi baiklah," Shikamaru bersandar pada dinding di samping pintu masuk, "Aku akan menunggu sampai kau selesai sarapan." Imbuhnya cepat.

"Kurasa aku tak bisa membohongimu. Aku akan keluar lima menit lagi jika kau tak ingin masuk." Ia menunggu sebentar melihat reaksi lelaki berambut nanas itu. Tapi nyatanya Shikamaru tetap diam di tempatnya dan hanya mengangguk.

Sepuluh menit kemudian mereka sudah berada dalam perjalanan menuju tempat yang ingin disinggahi oleh Temari lebih dulu. Shikamaru mengenal jalanan ini, tanpa bertanya pun ia tahu kemana Temari akan membawanya.

Pintu ruangan yang tertutup rapat diketuknya perlahan sampai seseorang dibaliknya menyahut mempersilahkan. Temari membuka pintu itu diikuti Shikamaru yang berjalan di belakangnya. Laki-laki itu menghela napas berat seolah ia sudah bosan memasuki ruangan itu serta bertemu dengan orang yang ada di dalamnya.

"Temari? Ada perlu apa kau kemari?" kedua iris onyxnya mengarah pada Temari setelah ia menyimpan tumpukan kertas yang berada di tangannya ke atas meja.

"Aku hanya ingin menjelaskan soal pernikahan Gaa, maksudku Kazekage, Hokage-sama. Kukira dia pasti belum mengatakannya padamu." Temari tersenyum.

"Begitu?" Kakashi bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sofa tempat ia menyambut tamunya, "Silahkan duduk Temari-san," Gadis yang dipanggil itu mengikuti apa yang dikatakan Kakashi. Ia duduk berseberangan dengan pria berambut perak itu, sebisa mungkin bersikap sopan, "Shikamaru, bisakah kau buatkan teh untuk tamu kita?" spontan pria pemimpin Konohagakure tersebut memerintahkan asistennya sekaligus pengantar tamunya itu.

Diliputi dengan keengganan yang ketara, Shikamaru meninggalkan ruangan itu, menuruti apa yang diperintahkan atasannya. Kakashi kembali memusatkan perhatiannya pada Temari, siap mendengarkan apapun yang akan dikatakan gadis itu padanya.

Mengerti kalau sang Hokage tak menginginkan basa-basi terlebih dahulu, Temari langsung mengatakan maksudnya, "Upacara pernikahannya sudah diatur oleh para tetua Sunagakure. Upacara berlangsung di Sunagakure, bertepatan dengan perayaan hari jadi desa. Pihak Konoha hanya perlu memberitahukan tamu yang akan diundang dan tambahan lainnya. Saya mengatakannya pada Anda karena Anda adalah Hokage, sekaligus wali dari Sakura." senyuman tipis mengakhiri perkataannya.

"Aku mengerti," Kakashi mengangguk sesaat, "Lalu apa yang harus Sakura lakukan?" tatapannya menatap Temari datar. Hanya Kami-sama yang tahu betapa ia sangat peduli pada Sakura.

Temari membalas tatapannya sambil tertawa, "Aku sudah meminta pada tetua agar urusan mempelai wanita diserahkan padaku. Aku perlu mendiskusikan beberapa hal dengannya dan mempersiapkan kimono pengantinya." Dari matanya terpancar semangat yang menggebu saat bibirnya mengucap kata kimono.

Kakashi menaikkan alisnya, "Kukira para tetua Sunagakure sudah mempersiapkan semuanya?"

Temari tertawa renyah, "Ini pengecualian, kupikir seorang wanita ingin sesuatu yang dipilihnya sendiri di hari penikahannya." Senyumnya masih nampak di penghujung ucapannya.

Tawanya berakhir bertepatan dengan pintu yang terbuka. Shikamaru muncul dari baliknya disertai dua cangkir teh di atas nampan yang dibawanya. Matanya terlihat jengkel, tapi yang jadi pertanyaanya, kenapa dia merasa jengkel?

"Bersenang-senang, eh?" sindir lelaki berambut nanas itu. Sejak kapan dia suka menyindir?

Kakashi tersenyum dibalik maskernya, "Kami hanya membicarakan pernikahan Kazekage." Ujarnya menenangkan. Agaknya ia paham dengan gelagat orang kepercayaannya itu.

Temari memandang Kakashi dengan tatapan bertanya apa-dia-tahu lalu melirik Shikamaru yang sedang meletakkan gelas tehnya di atas meja. Sang Hokage menjawabnya dengan tatapan dia-sudah-tahu-tenang-saja sambil tersenyum hingga matanya menyipit.

"Apa yang kalian sembunyikan?" Shikamaru merasa ada yang membicarakan dirinya dibalik punggungnya.

"Tidak ada," timpal Temari ringan. Ia mengalihkan pandangannya lagi pada Kakashi, "Apa Anda tahu toko kimono yang bagus di sini?"

Kakashi melirik Shikamaru sesaat, "Untuk itulah aku menugaskan Shikamaru untuk membantumu. Kurasa dia lebih tahu." Ia menaikkan bahunya.

Shikamaru menatap atasannya itu tajam, tapi kegiatannya itu tak berlangsung lama karena Temari membuatnya menoleh, "Baguslah Shikamaru! Mungkin kita bisa mengunjunginya lebih dulu sebelum kita ajak Sakura." matanya mengerling pada lelaki berambut nanas itu.

Lelaki itu mendesah ketika Kakashi dan Temari tertawa bersama seolah telah sukses bersekongkol untuk mengerjai putra tunggal keluarga Nara itu.

~#~#~#~

"Uh, sudah berapa lama aku tak membersihkan ini semua?" gerutunya begitu segumpal debu terbang ke wajahnya bertepatan dengan tangannya yang menggeser kotak.

Yah, Haruno tunggal itu sedang sibuk membersihkan ruangan apartemennya. Akhir-akhir ini banyak tamu yang mengunjunginya, ia tidak mungkin membiarkan tamunya menilai orang seperti apa dirinya melalui apartemennya yang kotor. Segumpal debu kembali berterbangan ketika ia meniup bingkai foto keluarganya. Ia terdiam sejenak menatap potret keluarga bahagia tersebut dengan senyum tersungging di bibirnya sampai partikel-partikel debu yang berterbangan itu terhirup olehnya dan membuat dirinya bersin-bersin.

Ia menyimpan bingkai foto itu lalu berjalan menuju pintu kaca menuju balkonnya. Ia membukanya lebar-lebar agar udara dan sinar matahari pagi bisa masuk dengan mudah ke dalam apartemennya. Sakura masih terganggu dengan debu-debu itu yang membuatnya bersin lebih banyak lagi. Ia merasa lebih baik setelah tubuhnya berdiri di lantai balkonnya. Mata emeraldnya membulat saat ia melihat seseorang yang sedang duduk di pagar balkonnya.

"Kazekage-sama? Kenapa kau bisa ada di sini?" ia senang mendapati lelaki itu berada di balkon apartemennya. Tapi yang membuatnya terpaku di tempat adalah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya, kenapa ia merasa senang?

Gaara berdiri, tubuhnya mendekati Sakura sampai jarak diantara mereka kurang dari satu meter lagi. Ia condongkan tubuhnya kedepan, "Aku melompat dari bawah lalu ke gedung seberang dan sampai di sini." jawabannya memang polos, tapi caranya membisikkan kata-kata itu di telinga Sakura membuatnya terasa sangat...menggairahkan.

Tubuh Gaara yang menjulang di depannya menghalangi sinar matahari yang menerpa langsung wajahnya tadi. Aroma pasir dan sedikit aroma jeruk membuat Sakura lebih terbuai lagi. Ia memejamkan matanya, menikmati aroma tubuh sang Kazekage dan hembusan napasnya yang menerpa pipinya.

Lelaki itu mengangkat sebelah tangannya menuju pipi Sakura. Ia ingin merasakan kelembutan kulit itu, menghindu lebih banyak aroma Sakura dari rambutnya, dan merasakan tangan Sakura di lehernya. Tapi tangannya tak sampai di pipi kunoichi itu. Ia malah menarik mundur tubuhnya.

Sinar matahari kembali menerpa wajahnya, membuat kedua matanya silau dan terbuka seketika. Ia melihat Gaara berdiri di hadapannya tanpa ingin melihatnya. Lelaki itu membuang wajahnya dan tetap bertahan menekuni pot-pot bunga milik sakura yang digantung di dinding.

Sakura merasa air matanya merebak. Hatinya terasa begitu sakit, sakit yang sama ketika Sasuke menolak membawa dirinya pergi meninggalkan Konoha. Sakit yang sama meskipun dengan penolakan yang berbeda. Sakura tetap mempertahankan air matanya agar tidak jatuh. Ia tersenyum.

Seolah kejadian beberapa menit yang lalu tak terjadi, Sakura bertanya dengan ceria, "Yang aku tanyakan bukan itu Kazekage-sama, tapi untuk apa kau kemari?"

Gaara memejamkan matanya rapat-rapat, 'Apa yang aku lakukan tadi?' pikirannya begitu kacau saat mata hijau susunya bertemu dengan mata emerald itu. Otaknya terasa tumpul begitu aroma bunga sakura yang menguar dari tubuh gadis itu tercium. Matanya terasa berkabut ketika tubuh mereka berdekatan.

"Kazekage-sama? Kau baik-baik saja?" Sakura mendekati lelaki itu, 'Apa sakit kepalanya kambuh lagi?' pikirnya cemas.

Laki-laki itu mundur selangkah, "Aku baik-baik saja." lalu ia berbalik membelakangi Sakura, "Tadinya aku ingin meminta obatku lebih cepat. Tapi..." ucapannya terputus karena seseorang mengetuk pintu apartemen Sakura.

Gadis gulali itu menoleh, melihat ke arah pintu apatonya yang diketuk lagi. Tapi kemudian ia kembali menatap sang Kazekage, seakan ketukan pintu itu tak penting. Ia menatap Gaara khawatir. Gadis itu memang sangat khawatir, terlebih karena Gaara terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.

"Kurasa itu Temari, aku akan pergi," dan sejurus kemudian dia merubah tubuhnya menjadi butiran pasir dan pergi searah angin dingin yang berhembus.

Suara ketukan itu terdengar lagi, kali ini dengan suara yang familiar, "Sakura?" itu memang Temari. Dan dari suaranya ia bisa mendengar kalau perempuan itu juga cemas.

"Sebentar!" seru Sakura cepat-cepat mengahampiri pintu apartemennya.

~#~#~#~

"Apa kau yakin baik-baik saja? aku merasa ada chakra lain ketika aku tiba di apartemenmu. Harusnya aku menyuruh beberapa jonin untuk menjagamu." Temari sudah mengatakan hal yang sama lebih dari lima kali sepanjang perjalanan mereka menuju toko kimono yang tadi ditunjukkan oleh Shikamaru pada Temari.

"Kau berlebihan, Temari." Keluh Shikamaru yang sudah bosan mendengar ucapan yang sama berulang kali.

Temari langsung menatap sengit kearah Shikamaru, "Kau tidak tahu bahaya macam apa yang akan menimpa calon..."

"Shikamaru benar, Temari-san. Itu terlalu berlebihan. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Sakura memberikan senyumnya yang paling manis agar Temari merasa lebih tenang.

Namun tampaknya perempuan itu masih bersikukuh, "Tapi tetap saja..."

"Kita sudah sampai," celetuk satu-satunya lelaki dalam kelompok itu.

Mereka sampai di depan sebuah toko kimono. Dibalik jendela kaca besar dipampang jelas kimono yang paling dibanggakan oleh toko tersebut. Sakura menatapnya takjub. Keindahan motifnya tak dapat dibandingkan dengan kimono lain yang harganya mungkin tak sampai sepertiganya kimono itu. Jahitannya terlihat sangat rapi dan bisa ditebak kalau kimono itu pasti dikerjakan dengan sangat teliti serta hati-hati. Sepertinya kimono seperti itu biasa dipakai oleh seorang putri.

"Sakura? Ayo masuk!" ajak Temari yang sudah berada di ambang pintu sedangkan Shikamaru yang sudah mendahuluinya sedang duduk tenang di atas sofa.

"Selamat datang," sapa sang pelayan ramah, "Kimono apa yang Anda cari?" tanya pelayan itu sopan pada ketiganya.

Sakura masih sibuk melihat-lihat aneka kimono yang dipajang. Berbagai macam warna dan motif kimono ditawarkan toko ini kepada para pelanggan. Shikamaru bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya. Jadilah Temari, kakak tertua sang Kazekage, yang menjawab pertanyaan pelayan muda tersebut, "Kami sedang mencari shiromoku kimono untuknya," satu jari telunjuknya menunjuk Sakura yang tengah menyentuh satu kain dari rak. Emeraldnya beralih pada kedua gadis di sampingnya ketika ia merasa ada yang memperhatikannya.

Pelayan itu menampilkan senyumnya, "Silahkan kemari, Nona," pelayan yang mengenakan kimono itu berjalan di depan Sakura seraya menunjukkan jalan menuju jajaran kain kimono berwarna putih dalam satu rak tinggi, "Anda ingin yang seperti apa?" masih tampak tersenyum.

"Um..." Sakura berpikir. Ia memperhatikan jajaran kain yang ada di atas rak. Kalau seperti ini ia jadi merasa benar-benar akan menikah. Hatinya berdebar-debar jika memikirkan ia akan segera mempunyai suami. Tapi ketika ia ingat kalau ini hanya sandiwara Sakura terpaksa menerima kenyataan, "bagaimana kalau yang sederhana saja?"

Kilatan heran terlihat dalam sorot mata sang pelayan, "Bukankah anda akan menikah dengan seorang yang terkenal? Anda yakin ingin mengenakan yang sederhana saja?"

Sakura merasa kali ini pertanyaan si pelayan agak menyebalkan, "Aku tidak suka yang terlalu mencolok. Aku yakin dengan kimono yang sederhana saja," tapi kemudian ia terpikir, bagaimana jika hal itu mempermalukan keluarga Kazekage? "Mungkin sedikit yang lebih anggun." Tambahnya.

Lagi, senyumnya ia tampilkan, "Baiklah, saya akan membawakan beberapa kimono untuk Anda coba. Silahkan Anda menunggu di ruangan ini." pelayan itu membuka pintu geser di sebelah kirinya dan mempersilahkan Sakura masuk.

Gadis itu duduk di atas tatami sambil memperhatikan sekeliling ruangan. Ada sekotak alat rias di sudut ruangan dan cermin setinggi kepala berlawanan dengan kotak alat rias tadi. Ruangan seluas delapan tatami itu diperindah dengan lukisan bunga lotus dan beberapa puisi gantung yang menggambarkan kecantikan seorang wanita.

"Maaf menunggu lama, Nona. Saya rasa ketiga kimono ini mungkin cocok dengan selera Anda." Sang pelayan membawa tiga tumpuk kain di tangannya kemudian ia menempatkan ketiga kimono itu pada palang kayu sebagai gantungan agar Sakura bisa melihat lebih jelas.

Kimono pertama tentu berwarana putih, dengan bordiran bunga lotus beserta daunnya yang berwarna hijau di sekeliling kelimannya. Obinya berwarna hijau lembut dan di bagian kakinya terdapat motif yang sama dengan bordiranya, hanya saja lebih besar. Kimono kedua memakai obi berwarna perak dengan sulaman berbentuk bunga crysant yang disulam dengan benang perak juga di bagian bawahnya. Kimono yang ketiga masih belum tergantung jadi Sakura tidak bisa melihatnya dengan jelas. Ia memilih untuk menekuni bordiran bunga lotus pada kimono pertama dari jarak dekat.

"Apa Nona menyukai yang itu?" terdengar si pelayan itu bicara lagi. Suara palang kayu dan tiangnya sudah tak terdengar. Si pelayan duduk bersimpuh di dekat kotak alat rias sambil memperhatikan Sakura.

"Aku tidak tahu," jawab Sakura pelan. Ternyata memilih shiromoku kimono itu jauh lebih sulit dibanding dengan kimono lainnya. Ia melihat kimono terakhir yang baru saja dipajang.

Emeraldnya membulat begitu ia melihatnya, kimono itu memiliki sulaman bunga sakura pada kelimannya. Dan di kakinya tertumpuk kelopak bunga sakura yang berjatuhan. Obinya berwarna merah muda lembut dengan bros berbentuk bunga Sakura. Itu adalah gambaran kimono yang ingin ia kenakan saat menikah dengan Sasuke. Gambaran kimono yang ingin dikenakannya saat remaja menjadi nyata di hadapannya.

"Anda menyukainya?" tanya pelayan itu lembut.

Sakura masih belum mengalihkan pandangannya dari kimono itu, "Ya, aku suka," jawabnya spontan.

Sementara itu, Temari dan Shikamaru yang sedang menunggu diluar masih diam seribu bahasa. Tak ada satu pun diantara mereka untuk berinisiatif mengobrol. Shikamaru yang masih memejamkan matanya dan Temari yang sedang mengelilingi toko melihat-lihat kimono.

'Rasanya aku iri pada Sakura yang sebentar lagi akan menikah,' batinnya miris.

Seharusnya dalam tradisi Sunagakure, Temari-lah yang pertama menikah sebelum kedua adik laki-lakinya itu. Tapi sampai saat ini masih belum ada lelaki yang melamarnya. Tetua terpaksa melangkahi tradisi demi kepentingan desa sehingga mereka meminta Gaara untuk menikah. Hal itulah juga yang membuat Temari geram dalam rapatnya dengan para tetua saat ia diberitahu bahwa tetua akan meminta Gaara untuk menikah.

Suara pintu toko yang terbuka membuat keduanya menoleh pada asal suara, "Yo! Kukira aku harus mengantar orang ini untuk melihat calon mempelainya." Itu Kankurou, dengan Gaara dibelakangnya.

"Kalian tahu dari mana kami di sini?" tanya Temari. Ia menghampiri dua adiknya dan memeriksa ke luar toko. Ada dua jonin yang berjaga di luar, mengapit pintu toko di tengah-tengah.

"Semua orang juga tahu wanita pemarah yang membawa kipas di punggungnya pergi kemana," saat itu juga Temari memberinya tatapan mematikan yang sanggup membuat Kankurou menyesal sudah berkata seperti itu.

"Dimana Sakura?" tanya Gaara datar. Sejak ia memasuki toko ini, hanya ada mereka berempat di dalamnya.

Shikamaru yang terganggu dengan kegaduhan yang dibuat ketiga bersaudara itu menghampiri ketiganya, "Kurasa dia ada di ruangan lain, sedang mencoba kimono mungkin." Ia menggendikkan kedua pundakknya.

"Sudah sekitar tiga puluh menit mereka pergi, mungkin sebentar lagi mereka akan kembali," Temari berujar.

Pintu geser di sisi lorong belakang toko membuka. Seseorang keluar dari ruangan yang dijadikan sebagai ruang ganti untuk mencoba kimono itu diikuti seorang wanita yang sangat anggun dan cantik di belakangnya. Wanita itu menunduk malu dan berjalan tanpa menatap orang-orang dihadapannya. Ketika pelayan toko yang mengantarnya tadi berhenti, Sakura turut berhenti di belakangnya, masih berusaha bersembunyi dibalik tubuh sang pelayan yang lebih pendek darinya.

Temari memberi isyarat agar si pelayan tak menghalangi pandangan mereka untuk melihat gadis yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya itu. Si pelayan tersenyum mengerti dan segera membawa tubuhnya merapat ke rak kimono-kimono yang masih terlipat. Merasakan cahaya yang tadi terhalang kini menerpa wajahnya, Sakura mendongak. Emeraldnya sontak bertemu dengan jade di hadapannya. Saling menatap seakan waktu telah terhenti. Desiran angin musim dingin pun tak sampai di kulit polos mereka.

Sampai suara nyaring kakak sulung mereka memecah keheningan, "Sakura-chan! Kirei na~" segera wanita itu menghampiri Sakura, meraih tangannya dan tersenyum gembira.

"Kimono itu sangat cocok untukmu Sakura-chan!" Kankurou mengacungkan ibu jarinya setuju dengan penuturan Temari.

Shikamaru hanya tersenyum tipis melihat kebersamaan kakak beradik itu. Onyxnya beralih pada Kazekage muda yang masih terdiam di tempatnya. Pemuda itu seolah tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis yang tengah menengakan kimono pengantinnya.

"Gaara, kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" semua mata tertuju pada sumber suara yang berasal dari Temari. Ia masih menggenggam tangan Sakura sementara gadis itu masih tersenyum menatap calon kakak iparnya.

Manik emeraldnya beralih ke arah Gaara, begitu juga empat pasang mata lainnya seolah mereka menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kazekage muda tersebut.

"Hm, apa kau suka dengan kimono itu Sakura?" kentara sekali jika saat ini pemuda itu sedang dalam situasi yang canggung. Ia tak biasa memuji orang lain, ia tak tahu apa yang harus dikatakannya agar Sakura senang mendengarnya.

Dengan malu-malu Sakura menjawab, "Hm, aku suka," sambil tetap menundukan kepalanya.

Hening sejenak. Kedua insan yang sedang menebarkan bunga-bunga kebahagiaan membuat orang-orang di sekitarnya membeku dan hanya bisa menatap mereka seraya tersenyum penuh arti.

"Kimono itu memang cocok untukmu. Kau terlihat cantik," akhirnya begitulah pujian yang berhasil Gaara sampaikan. Wajahnya ia alihkan ke arah rak yang penuh dengan tumpukan kain yang belum dijahit menjadi kimono. Dengan lihai ia tutupi rasa malunya dengan melihat ke arah lain selain Sakura maupun orang lain dalam ruangan itu.

Sakura sendiri sudah tak mampu berkata apapun. Wajahnya berubah merah padam sewarna kelopak bunga mawar yang mekar merekah. Kepalanya menunduk semakin dalam seiring senyumnya yang semakin mengembang.

Sementara reaksi yang lainnya berbeda-beda. Shikamaru mendengus begitu Gaara mengakhiri kalimat pujiannya, Kankurou menyengir, Temari tertawa, sedangkan sang pelayan toko masih dengan senyum ramahnya.

"Kankurou-san!" seorang jonin pengawal Kazekage menggebrak pintu toko dan menerobos masuk. Tanpa ia ketahui bahwa ia telah merusak momen-momen manis yang tengah berlangsung dalam toko tersebut.

To Be Continue...

~#~#~#~

A/N: aku ga akan pernah bosen bilang, "GOMENASAI!" Aku ga hiatus ko, tapi mood buat ngelanjutin MK lagi buntu :'( Yah moodnya buat ngetik fic lain, tapi itu juga tetep ga selesai (*hehehe). Kayanya MK bakal aku bikin banyak multichap deh. Sabar aja ya yang baca (*hehehe) semoga kalian tetep suka walaupun gaya menulisku labil (*ditabok readers). Ok deh ga usah banyak cingcong lagi, langsung ke QA Corner ;)

QACorner :

Q : Kenapa romancenya kurang?
A : Karena belum saatnya XD

Q : Siapa sih yang ngirim surat ancaman itu?
A : Itu bakal diceritain di chap depan ^^. Di chap ini udah dikasih gambaran.. clue nya dia adalah musuh naruto juga XD (*hehehe)

Q : Apa nanti Naruto bakal cemburu?
A : Naruto punya pairnya sendiri di sini. Naru emang sayang sama Saku, tapi hanya sebatas sahabat ;)

Q : Apa masih lama mereka nikahnya?
A : Apa kalian udah ga sabar? Sama, aku juga XD... tapi sebelum ke sana masih banyak rintangan yang harus mereka hadapi ^^

Q : Siapa tuh chakra asing yang dirasain Kakashi?
A : Di chap kemarin author bilang bakal dijelasin di chap ini, tapi nyatanya ga ada, gomenasai . gini, sebenernya pemilik chakra itu lagi memantau/mengawasi GaaSaku, dia kaki tangannya yang ngirim surat ancaman. Segitu aja dulu ya?

Yosh! Semua udah kejawab? Siip... arigatoo nebuat semua yang udah mau baca (bahkan silent reader sekalipun, arigatoo) apalagi yang sampai mereview... kalian penyemangatku buat lanjutin fic ini maupun ngebuat fic-fic lain, hehe. Buat yang minta buatin pair lain, nanti dulu ya? Gomen, soalnya aku mau nyelesein fic-fic yang udah setengah jadi.. tapi tenang, aku juga pingin banget bikin fic dengan pair lain. Tapi kayanya rencana itu bakal tertunda dulu sampai author udah beres ujian-ujian ok? Nah, sampai di sini cingcong author kali ini, matta ashita ne~