Hai, everyone!
Anne muncul lagi, nih. Chapter 7 sudah siap. Maaf kalau kemalaman. Anne batuk lagi gara-gara makan coklat kebanyakan. Ditambah lagi hari-hari ini suka banget teriak-teriak nyanyi lagu Gebyar-Gebyarnya Gomblok. Ikut 17an gitu ceritanya. Hehehe.. Batuknya makin parah dan suara Anne makin seksihh..! :P Susah deh buat konsesn ngetik. Sorry, ya, semuanya!
Harry bertemu dan berbicara langsung dengan Angeline. Apa yang dibicarakan mereka?
Ninismsafitri : Nasibnya Angeline terombang-ambing. *lebay* Baca selanjutnya, yuk! Thanks, Ninis! :)
Syarazeina : Apa yang terjadi? Cari tahu jawabannya sekarang! Thanks, ya :)
Afadh : Ngaconya bermutu! Pastikan apakah kengacoanmu benar? Baca chapter ini, yuk? Thanks :)
Baiklah, langsung ke TKP, ya!
Happy reading!
Setiap harinya, selain bekerja sebagai Auror, Ron juga bekerja 24 jam menjadi penjaga Hermione. Tidak di rumah, tidak juga di Kementerian. Untung Hermione satu tempat kerja dengannya.
"Mr. Weasley! Anda paham dengan yang saya jelaskan," teriak Mr. Robards mengerasakan suaranya. "Mr. Potter, tolong peringatkan Mr. Weasley agar tetap fokus,"
Harry mengangguk, "baik, Sir,"
Ron melamun saat rapat. Harry sudah beberapa kali mengalihkan perhatiannya dari rapat Auror pagi hanya untuk sekadar menyenggol bahu Ron agar tetap terjaga konsentrasinya. "Kita butuh bicara di luar, Ron!" pinta Harry terkesan mengancam.
Di luar, Ron dan Harry benar-benar duduk berdua untuk membicarakan masalah kelakuan Ron yang tampak ogah-ogahan bekerja. Ron menurut saat Harry memintanya untuk duduk di bangku sudut Markas Besar Auror.
"Kau ini sudah pantas jadi kepala Auror, Harry. Cepatlah dilantik. Aku sebal dengan Mr. Robards itu. Kerjanya menegur orang saja," gerutu Ron tanpa dosa.
Harry mendelik tak percaya. Kenapa Ron bisa marah-marah pada orang lain padahal itu kesalahannya juga? "Ron, ada apa, sih? Sejak rapat tadi kau susah sekali konsentrasi?"
"Ahh—"
"Hermione?" Potong Harry. Ia yakin, tebakannya kali ini akan benar.
"Yah, aku takut terjadi sesuatu pada Hermione, Harry,"
Beberapa anggota Auror yang lain satu persatu meninggalkan markas. Harry dan Ron ikut menyapa salam perpisahan rekan-rekannya yang akan pulang. Sudah saatnya untuk pulang. Tapi Harry menahan Ron agar bercerita lebih dulu padanya. Tentu saja tentang masalah Ron sering melamun.
Tangan Ron merogoh sesuatu dari dalam saku seragam coklat Aurornya. "Menurutmu ini noda apa, Harry?" tunjukknya pada sebuah saputangan berbekas titik-titik merah kecoklatan di atasnya.
"Aku lebih ingin menyebut itu noda coklat daripada darah. Walaupun hati kecilku ingin mengatakan itu seperti noda darah. Darah siapa itu?" tanya Harry.
"Aku takut itu darah Hermione,"
"Hermione? Dia pendarahan?"
Harry makin mendekatkan kursinya pada Ron. Di ruangan itu masih ada anggota Auror lain yang belum pulang. Harry harus hati-hati dengan suaranya.
"Aku tak tahu, tapi ini saputangan Hermione. Dan, saat beberapa hari lalu, aku pernah melihat Hermione merintih kesakitan ditengah malam. Tapi saat aku ingin bangun, dia malah diam saja. pura-pura tidur kembali. Aku jadi takut, Harry,"
Saputangan itu kecil. Ada sedikit noda bintik-bintik seperti terciprat sesuatu yang mereka yakini bukan motif asli saputangan. Dari teksturnya, Harry juga mengira itu berasal dari sebuah cairan yang kering. "Nodanya keras, seperti darah yang sudah mengering,"
Ron menunduk kembali melamun seperti saat rapat. "Aku takut kalau itu memang noda darah Hermione. Kau ingat, kan, kalau kondisi kandungan Hermione itu lemah. Ada beberapa masalah tidak sembarangan pada rahimnya," suara Ron pelan.
"Yah, aku tahu. Tapi belum tentu juga. Bisa saja itu noda darah Hermione dari tangannya yang terluka atau mungkin darahnya Angeline. Ahh jadi ingat sesuatu,"
Harry berdiri dari tempat duduknya. Ia menghampiri meja kerjanya sebentar dan kembali membawa sesuatu. "Ini—" ia menyerahkan beberapa lembar draft nama penyihir yang hilang. File dari Divisi Auror sendiri.
"Buron?"
"Bukan. Hilang, dan dicari. Coba kau amati wajah-wajah orang itu,"
Berjajar foto laki-laki dan perempuan yang cukup banyak. Mereka memakai pakaian aneh-aneh layaknya penyihir pada umumnya. Telunjuk Harry menunjuk pada satu foto pria.
Harry mengetuk-ketuk salah satu foto pria hingga dua kali, "wajahnya sekilas mirip Angeline. Apa mungkin itu ayahnya?" kata Harry menyimpulkan maksudnya.
"Eric Ballard. Sebentar, Harry," Ron meletakkan kertas yang dibacanya lantas mengalihkan perhatian pada Harry. "Kau diam-diam mencari tahu, tentang ayah Angeline tanpa sepengetahuanku?"
"Aku hanya ingin membantunya, Ron!"
"Tapi dia membenci ayahnya, Harry. Angeline tak mau bertemu dengan ayahnya. Mungkin itu yang membuat Angeline beberapa hari ini tampak menjauhimu. Aku sudah curiga tiap kali kau datang ke rumahku dan Angeline selalu berusaha menghindar,"
Ron menuju meja kerjanya. Mengemasi barang-barangnya bergegas untuk pulang. Lebih baik ia pulang dan menjaga Hermione daripada mendengar Harry dengan kesibukan barunya sebagai detektif untuk menemukan ayah Angeline.
"Kenapa sekarang kau jadi tak suka aku membantu mencari ayah Angeline? Padahal dulu kau berusaha keras ingin menolongnya kembali bertemu dengan ayahnya?" Harry kesal.
Suara Ron mendesah lelah menanggapai Harry yang tersulut emosinya, "Harry, aku tak mau berdebat denganmu. Kenapa sekarang aku lebih memilih diam untuk mencari ayah Angeline karena.. aku kasihan padanya,"
Ron duduk di atas mejanya, meletakkan kembali tasnya dan kembali memperhatikan Harry. "Angeline bercerita padaku, ia kesepian. Ayahnya tidak menyayanginya sejak ibunya meninggal. Dan itu menyakitinya, Harry,"
"Tapi dia tetap ayah Angeline. Kau tak bisa menjauhkan seorang anak dari orang tua kandungnya sendiri, Ron!"
"Harry, sekarang aku tanya padamu. Kau seorang ayah, kan? coba bayangkan bagaimana jika posisi Angeline kau alami. Kau tak punya tanpa kasih sayang. Ayahmu meninggalkanmu karena sibuk dengan pekerjaan. Apa itu ayah yang baik?"
Mata Ron berkaca-kaca. "Hanya ayah gila yang membiarkan putri kecilnya terlantar. Aku pun tak akan membiarkan calon anakku seperti nasib Angeline. Aku akan merawat Angeline seperti anakku sendiri, Harry. Aku pulang dulu, Harry. Sampai jumpa nanti malam,"
Demi Merlin, Harry harus pasrah membiarkan Ron pulang tanpa memberi satu tanggapan apakah benar pria yang ditunjuknya adalah ayah Angeline. "Ron berubah. Ia akan jadi ayah yang baik,"
The Burrow ramai dengan dengan para anak, menantu, dan cucu dari Arthur dan Molly. Pesta kecil rutin setiap akhir bulan di rumah miring kebanggaan keluarga Weasley itu selalu penuh dengan seluruh keluarga besar. Beberapa yang spesial di sana tampak dari dua wanita bersurai panjang sepundak.
Tepatnya pada wanita yang telah menjadi Mrs. Weasley dan wanita Weasley yang kini menjadi Mrs. Potter. Mereka berdua sama-sama hamil. Tapi bedanya, perut Ginny masih belum begitu buncit dibandingkan Hermione yang sudah menginjak bulan ke delapan.
"Ron dan Harry benar-benar kompak. Membuat istrinya hamil hampir bersamaan. Nanti kalau mau punya anak lagi, janjian saja. Biar lahirannya bersamaan," seru George langsung mendapat sorakan setuju dari anggota keluarga lain.
Ron dan Harry tertunduk malu-malu setelah disenggol Arthur ikut menggoda bersama Geroge.
Sementara Ginny hanya bisa nyengir sambil membatin, "apa aku terlalu subur seperti, Mom?" karena pasalnya, James baru saja berusia 14 bulan. Sama halnya dengan Ginny, Hermione hanya bisa bergumam pelan, "dasar keluarga heboh," sambil mengelus perutnya memutar.
Kalau sudah melihat makanan keluar, Ron lebih memilih mendekat atau mengamankan satu nampan kue untuk ia makan sendiri. Berbeda dengan Harry, sejak kecil pria itu tidak mudah tertarik dengan makanan. Badannya yang kecil mampu menunjukkan betapa sulitnya Harry untuk makan makanan yang diberikan. Ginny pun mengakuinya, angat sulit baginya menghidangkan makanan lain untuk suaminya itu selain yang disukainya. Hanya beberapa makanan saja yang sangat Harry suka dan itu bisa dihitung jari.
Harry tidak napsu makan. Sudah cukup baginya melihat Ron yang rakus memakan lima buah pie sekali ia membawanya menuju meja tamu. Harry berniat untuk menikmati langit malam di halaman depan The Burrow.
Tanpa disadarinya sejak tadi, Harry tidak melihat sosok Angeline di tengah-tengah keluarga. Dan sekarang, ia melihatnya sedang duduk sendiri sambil mengamati langit malam.
"Aku harap kau tak menghindar sekarang, Nak," Harry mendekat.
Angeline mencari sumber suara yang ia tahu sedang mengajak berbicara dengannya. "Uncle Harry Potter," kata Angeline pelan.
"Kau begitu mengenalku?"
"Tentu saja, hanya bayi penyihir yang belum lahir tak tahu siapa Uncle. Kau orang hebat, Uncle Harry," Angeline menggeser tempat duduknya. Mempersilakan Harry duduk di sisinya.
Harry tersenyum senang. Kehadirannya diterima juga oleh Angeline. "Kau baru 10 tahun, tapi kau sudah seperti orang dewasa. Pemikiranmu besar," Kata Harry memulai lebih akrab.
"Keadaan yang membuatku tumbuh seperti ini, Uncle," jawab Angeline.
"Yups, aku percaya itu. Aku pun begitu. Kehidupan yang keras sejak kecil membuatku juga lebih berani dalam membela diriku sendiri. Kadang, apa yang aku katakan bisa lebih tajam dari parang,"
Hanya sekadar saling sapa, mereka akhirnya bisa menyatu dalam satu pembicaraan yang hangat. Bisa dibilang, sifat-sifat keras kepala Angeline hampir mirip dengan Harry.
"Tapi tindakanmu lebih menakutkan dibandingkan kata-katamu. Itu menurutku," kata Harry. Tongkatnya terayun dan mengeluarkan kilatan-kilatan cahaya kecil yang membuat Angeline terpukau melihatnya. "Salah satunya, dengan kau coba menjauhiku beberapa hari ini,"
Harry mulai to the point. "Aku tak menjauh Uncle, aku hanya—"
"Susah berkata jujur? Angeline, kau harus menemui ayahmu,"
"Apa Uncle sudah lupa dengan masalanya? Apa aku harus mengatakannya lagi agar lebih jelas?"
"Angeline, kau masih punya ayah kandung!"
"Tapi dia jahat, Uncle!"
Angeline tetaplah anak kecil. Air matanya mudah jatuh tiap kali ada yang coba mengoyak perasaannya kembali. Cengeng, itu sinonimnya. "Aku lebih nyaman di sini," sambunya.
"Nyaman? Sebatas apa kenyamananmu dengan Ron dan Hermione? Apalagi sebentar lagi mereka akan punya anak. Dan satu lagi, kenapa kau memilih duduk sendirian di sini dibandingkan bergabung dengan yang lain? Kau diangkat oleh Ron dan Hermione. Otomatis mereka keluarga barumu sekarang,"
Di tempanya sekarang, Angeline lemas. Ia tidak mampu melihat Harry yang terus menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan menusuk. Batin Angeline seperti dipermainkan dengan kenyataan yang diutarakan Harry. Itu memang benar.
"Aku merasa punya orang tua jika berdekatan dengan Dad dan Mom. Mereka menyayangiku seperti anak mereka sendiri. Tidak seperti Daddy kandungku. Dad bahkan melakukan pilihan yang salah terhadapku dan Mom,"
Harry menurunkan tongkatnya dan memilih mendengar penjelasan Angeline tentang orang tua kandungnya. "Pilihan yang salah?" tanya Harry.
"Harusnya Dad memilih Mom untuk tetap hidup. Bukannya memilihku untuk hidup, kalau nyatanya aku pun disia-siakan seperti layaknya orang mati,"
"Pasti ada alasan mengapa ia melakukan itu padamu,"
"Alasan untuk membalas kehilangannya pada Mom? Dad pengecut, Uncle!"
"Cukup, Angeline!"
Angelin diam. Ia menangis. Mengelus ujung jarinya yang terbalut perban putih melingkar di sana. Harry tidak tahan untuk tidak bertanya. "Terluka?" Harry menujuk jari Angeline.
"Tergores pisau saat membantu Mom memasak tadi pagi. Tapi tak apa, Mom sudah mengobatinya. Sampai aku tak enak karena mengotori saputangan Mom," kata Angeline langsung mengingatkan Harry pada kejadian tadi sore dengan Ron di kantor. "Maklum calon ayah baru. Ron terlalu paranoit," batin Harry lega.
"Mom sangat baik padaku. Padahal aku hanya tergores pisau sedikit, tapi dia ketakutan luar biasa mengkhawatirkan aku. Dia ibu yang aku inginkan, Uncle,"
Angin malam bertiup cukup kencang di The Burrow. Suara dari dalam rumah terdengar bersahutan memanggil Angeline agar mau masuk karena sejak tadi ia berada di luar. Saat Angeline berdiri, mata Harry tidak sengaja melihat sesuatu yang berkilau di jaket Angeline.
"Lencana itu—"
Namun sebelum Harry bertanya, Angeline cepat-cepat menutup kembali lipatan jaketnya dan bergegas masuk. "Ak-aku masuk dulu, Uncle,"
"Tunggu, itu lencana tamu Kementerian, kan? Ayahmu bekerja di sana?"
Angeline sempat berhenti tanpa berbalik. Ragu menjawab pertanyaan Harry. Angeline memilih berlari pergi dan bergabung dengan anggota keluarga lain yang ada di dalam.
"Kau belum tahu aku sepenuhnya, Nak," Harry mengeluarkan saputangan bernoda darah kering yang ditunjukkan Ron padanya sore tadi. Ron melupakan saputangan itu di meja kerjanya saat meninggalkan Harry sendiri di Markas Besar Auror. "Aku akan temukan ayahmu, Angeline. Cepat atau lambat!"
Harry mengantungi kembali saputangan itu dan bergegas masuk. Harry mulai lapar.
- TBC -
#
Bagimana? Masalah mulai terbuka, nih. Bagaimana akhir kisah mereka? Tunggu besok, ya (kalau nggak ada halangan). Karena Anne mau buat chapter ke 8 besok jadi chapter terakhir. Kenapa? Karena Anne takut nggak bisa update beberapa hari ini. Sepupu Anne mau datang. Rumah ramai dan Anne takut nggak punya waktu buat nulis lanjutan chapternya. Jadilah Anne buat akhirnya besok saja.
Maaf, ya, Anne updatenya kemalaman. Mohon maafkan juga batuk Anne yang susah diajak kompromi dan hasrat nyanyi yang nggak bisa ketahan. Hehehe.. :)
Jangan lupa review, Anne akan seneng banget!
Anne sayang kalian! :)
Thanks,
Anne x
