Eyeshield21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata

I don't own the characters

...

US or Me?

Warning : OOC (?)


Mamori tinggal bersama Hiruma di kediamannya.

.

—hanya untuk beberapa hari. Tentunya untuk merawat Hiruma, karena, seperti yang diketahui, Hiruma sedang sakit dan membutuhkan bantuan.

Jangan mengira kalau acara tinggal bersama ini menjadi satu moment menyenangkan. Jelas-jelas tidak! Itulah yang dirasakan Mamori setelah hampir satu minggu –5 hari tinggal di sini, bersama si jelmaan setan yang terasa menjajah kesehariannya.

Tiap pagi, Mamori sudah harus bangun jam 5, bahkan setengah 5 hanya untuk menjerang air dan menyiapkan kebutuhannya sendiri sebelum Hiruma terbangun dan menuntut apapun yang ia inginkan. Sebenarnya tak banyak, hanya saja selalu ada yang aneh. Seperti Mamori yang harus siap menghadapi persoalan sarapan yang terus menjadi topik pembuka di pagi hari.

Dan pagi ini, ia harus menghadapinya lagi.

.

"Hei! Manager sialan!"

.

.

.

Gadis itu perlahan bangkit berusaha mengumpulkan kesadarannya. Perlahan matanya menerawang ruangan asing yang bukan seperti kamarnya itu. Biasanya setiap bangun Mamori selalu melihat boneka rakun berkostum beruang yang terletak di samping meja belajarnya. Tapi sekarang tak ada, rasanya seperti sudah bertahun-tahun boneka itu tak nampak. Tentu saja ia masih di tempat yang sama seperti hari-hari sebelumnya kalau dirinya sedang berada di sebuah hotel yang menjadi tempat tinggal Hiruma.

.

Hiruma.

.

'Ya ampun...' Mamori menutup wajahnya. Kadang-kadang ia berharap saat membuka matanya kembali, ia sudah berada di ruangan kamarnya sendiri. Semua kegiatan barunya yang berhubungan dengan Hiruma benar-benar sukses membuat tubuhnya kelelahan.

Cepat-cepat ia bangun dan mempersiapkan segala kebutuhan dipagi hari sebelum Hiruma terbangun.

.

.

—menyapu, merapikan ruangan, membuat sarapan..

.

Seharusnya sih pagi hari itu tidak dibuat repot karena Mamori sendiri sudah memastikan ruangan Hiruma bersih dan rapi, tapi ada saja yang membuat berantakan seperti sampah yang tiba-tiba berserakan, atau barang yang disimpan tidak pada tempatnya, ya.. seperti itulah.

Ia sendiri bertanya-tanya apa yang biasa malam-malam Hiruma lakukan hingga ruangan berantakan dalam sekejap.

Mamori tengah mengolesi selai strawberry pada roti yang dipegangnya tepat saat Hiruma terlihat keluar dari kamar mandi. Pandangannya lalu beralih pada jam yang menunjukkan pukul 6.30. ia semakin mempercepat kegiatan membuat sarapannya dan buru-buru mempersiapkan semua itu dimeja makan. Ia kemudian mengambil susu dalam kulkas dan kembali bersamaan dengan Hiruma yang berjalan menuju kursi makan, sudah siap dengan seragam sekolahnya.

Hiruma melihat sekitar meja dan mengernyit jijik pada menu didepannya.

"Kenapa selai strawberry?"

"Karena tidak ada selai yang lainnya" jawab Mamori, meletakkan segelas susu dihadapan Hiruma dan duduk untuk menyantap sarapannya sendiri.

Hiruma kemudian mendengus, "aku tidak suka strawberry"

"Kau memang tidak menyukai apapun yang ku buat." Mamori mendelik.

"Tidak juga, aku hanya tak suka makanan manis." Hiruma meraih roti tawar yang masih belum diberi selai yang tersedia di piring lainnya. "Lebih baik kau membuatkan bacon untukku."

"Aku tak punya waktu. Aku kan bukan pembantumu—eeeiit! jangan yang itu! Aku kan sudah membuatkan yang ini." Seru Mamori dan merebut kembali roti yang dipegang Hiruma.

"Tidak . aku tidak mau makan yang itu!"

"kau harus makan ini! aku sudah lelah membuatkannya."

"Heh, aku tidak menyuruhmu membuat ini semua kan?"

"Tapi kau harus sarapan yang betul dan menjaga kondisi fisikmu" Mamori mendorong piring Hiruma lebih dekat dan memaksa agar Hiruma memegang roti dengan tangan kirinya yang tidak dibalut perban.

"Sekarang makanlah atau aku sendiri akan membuatmu makan!" paksa Mamori, "Atau kau mau aku suapi?"

"Kau ini!" Hiruma berdecak kesal, melempar kembali roti ke piringnya dengan acuh. "Mengapa harus makanan manis? Kau tahu kan aku tidak pernah suka!"

"Karena kau terlalu banyak makanan asin." Mamori kembali ke sarapannya sendiri. "Rasa manis baik untuk tubuh—tidak harus banyak, tapi lebih baik seimbang. Tapi pola hidupmu ini sama sekali tidak seimbang. Disuruh sarapan sekalipun susah sekali."

"Kau tidak ada hak untuk memaksaku."

"Aku tidak memaksamu, tapi kau kan pasienku. Kau yang membuatku memaksa diriku sendiri melakukannya karena kulihat pola makanmu tidak benar."

"Cedera tidak ada hubungannya dengan urusan pola makanku, aneh!"

"Memang tidak, tapi kalau kau sakit juga karena pola makanmu yang tidak benar, aku juga semakin lama tinggal disini" kata Mamori tegas.

Hiruma mengangkat alis merendahkan dan dengan cepat menyambar roti tawar didepannya lalu pergi begitu saja.

"Hey! Tetap di tempatmu!"

Namun Hiruma tidak mendengar.

"Hiruma-kun!"

Mamori berlari menyusulnya hingga ke pintu keluar.

"Hiruma-kun, kembali! Kau belum menghabiskan sarapanmu—"

Dan saat ia hendak menyusulnya, Hiruma tiba-tiba memberi tanda berhenti tanpa berbalik.

"Kau kan sudah mau berangkat?"

"Iya.. tapi aku akan berangkat kalau kau sudah sarapan—"

"Lebih baik ini atau tidak sama sekali?" katanya menyudutkan, membuat Mamori kehilangan kata-kata.

Ia menyeringai tipis. "Jangan lupa kunci kembali pintunya!" katanya lalu melanjutkan berjalan tanpa menunggu Mamori.

Keduanya memang dalam tinggal di tempat yang sama. Namun mereka sudah membuat kesepakatan untuk tidak terlihat berjalan bersama menuju sekolah. Tentunya karena tak mau membuat siswa lain curiga dan membuat gosip aneh tentang murid baik yang tak pernah melanggar aturan yang tinggal dengan cowok setan pelanggar aturan satu atap.

.

.

.


Tiga siswi Deimon sedang berjalan di koridor hendak menuju kantin. Salah satu diantara mereka berjalan dengan gontai dengan wajah yang terlihat kelelahan.

"Hei, kamu kenapa? Terlihat pucat seperti itu?" Tanya salah satu temannya yang menggunakan kacamata.

"Aku kelelahan, karena harus membersihkan rumah dan juga memasak." Keluhnya.

"Kamu? Sendirian?"

"Aku tidak sendirian, ada orang lain yang harus aku urusi... juga..."

"Memang orang tuamu kemana. Sara?"

Ya, gadis yang tengah mengeluh itu bukan Mamori, melainkan Sara -salah satu teman baiknya. "Orang tuaku sedang keluar kota, meninggalkanku bersama adikku sampai minggu depan."

Mamori yang mendengar keluhan Sara sepertinya memahami betul bagaimana lelahnya temannya itu. Malahan seharusnya Sara lebih bersyukur karena waktu kegiatan barunya itu jelas... hanya hingga minggu depan. Tidak seperti Mamori yang masih belum jelas sampai kapannya. Bahkan, ia sendiri nyaris tidak tahu bagaimana membedakan Hiruma yang sakit dan yang sehat.

"Hmm.. urusi bagaimana sih?" Tanya Ako penasaran.

"Yah kau taulah... membuat masakan untuknya... mencuci bajunya... membersihkan kamarnya..." Sementara Sara menyebutkan satu per satu kegiatan barunya, Mamori diam-diam ikut membatin merasakan apa yang dialami Sara... semua itu pas sekali dengan apa yang ia lakukan saat ini. Ia seakan menempatkan dirinya sebagai Sara dan Hiruma sebagai adik- yang ia urusi sekarang. Tapi sialnya, yang Mamori urusi kali ini bukanlah seorang adik yang dapat dibayangkan manis dan lucunya.

.

.

"... dan terakhir, aku juga memandikannya."

BLUSH

Wajah Mamori terasa panas seketika.

Apa? Memandikan? Tentu saja tidak! Kenapa harus sampai segitunya? Mamori hanya perlu memanaskan air saja kan? Ia tidak perlu sampai memandikan Hiru—

.

"Mamo?! Hey, Mamori?"

"Huh?! Ap-Apa?"

Mamori sibuk melamun hingga tak sadar kalau kedua temannya sudah memegang tray dan hendak mengambil makanan. Ia pun buru-buru ikut mengambil tray dan memilih makanan apa saja yang akan disantapnya.

.

"keu kenapa? Tak biasanya tidak fokus seperti ini?"

"hah? Aku baik-baik saja"

"Nee, Mamori.. kamu pernah mengalami hal yang sama sepertiku tidak?"

"Hmm? Maksudmu Sara?" Mamori menanggapi Sara tanpa menghentikan kegiatan makannya. Ako yang duduk disamping Mamori sedikit keheranan dengan Mamori yang tidak biasanya makan dengan lahap seperti itu.

"Yah.. maksudku mengurusi orang lain selain dirimu sendiri.. sepertiku sekarang..."

Mamori mendongak memandang sahabatnya.

'Aku sedang melakukannya'

"Um... uhh..."

Entah mengapa rasanya Mamori sempat kesulitan untuk menelan makananya sendiri. "Umm... p-pernah.." Ia tersenyum bingung. Jangan sampai orang lain tahu kalau dirinya yang sedang mengurusi Hiruma. Karena bukan itu yang akan orang-orang pedulikan, tapi tinggal bersama'nya.

"Ah... aku tidak heran jika Mamori mengurusi orang lain. Dia sudah bisa melakukan semuanya." Ako merangkul Mamori dan menepuk-nepuknya bangga. Mamori tertawa hambar. "Dia ini sudah bisa menjadi ibu rumah tangga yang serba bisa, tidak sepertimu." Ejek Ako menunjuk-nujuk wajah Sara.

"Apa?"

"Kau baru mengurusi adikmu saja sudah mengeluh seperti itu. Aku yakin Mamori tidak pernah mengeluh dengan kegiatannya." tambahnya sambil mengeluarkan lidah.

Sementara Ako dan Sara sibuk bercanda, Mamori lagi-lagi tenggelam dalam lamunan.

.

-Tidak pernah mengeluh?

'Kau salah Ako... Aku selalu mengeluh dan ingin segera semua kegiatan ini berakhir.'

Seminggu sudah ia tinggal di kediaman Hiruma. Dan selama itu pula Mamori mengeluh tanpa henti.

Keberatan? Tidak, Mamori tidak keberatan untuk membantu Hiruma. Bukan itu alasan Mamori mengeluh setiap saat. Semua ini soal sikap Hiruma yang tidak pernah menghargainya. Lelaki itu selalu mempersulit kegiatan Mamori dan bahkan tidak jarang ketika Mamori sedang mengepel dan menyapu. Hiruma dengan cueknya membuang kertas atau bungkus permen karet dilantai di depan Mamori.

Belum lagi soal makanan yang selalu menjadi soal utama. Hiruma selalu menolak memakan apa yang Mamori masak. Tidak selalu sih, biasanya yang manis saja. Contohnya tadi pagi, pada akhirnya roti isi selai yang Mamori buatkan sama sekali tidak disentuh. Hiruma malah memakan roti tawar lainnya.

.

Dan yang paling Mamori tidak suka adalah ketika Hiruma mengatakan "Jika kau tak suka, aku pun tak memaksamu. Cepat sana pulang dan berikan pilku saja." Mamori pun sebenarnya sangat... sangat ingin pulang. Jika saja ia tidak memiliki rasa tanggung jawab, ia akan pulang dan hanya berkata "ini pilmu, lekas sembuh"—

.

-Itu adalah hal yang sangat mustahil ia lakukan. Mamori seorang profesional. Semua ini ia lakukan agar cedera yang dialami Hiruma segera sembuh. Agar seluruh anggota Devil Bats bisa bermain di Christmas Bowl.

.

"Lalu apa hubungannya menyapu, mengepel lantai dengan Christmas Bowl?!"

Lagi-lagi salah satu pertanyaan yang pernah di lontarkan Hiruma terngiang.

Ya, memang tak ada hubungannya. Sekali lagi yang Hiruma minta dari Mamori hanyalah merawat lengannya—layaknya seorang suster yang merawat pasiennya.. begitu bukan?! Hanya itu?!

.

.

Lalu kenapa?

.

.

"Ugh.." Memikirkannya membuat kepala Mamori berdenyut. Gadis itu menelungkupkan kepalanya di atas meja dan berhenti melahap makanannya. Kedua sahabatnya pun langsung terheran dengan sikapnya.

"Eh? Mamori?"

.

.

.

'Huuuhuuu.. Hiruma-kun... ayo cepatlah pulih...'

.

.

.


"Catch MAX!"

.

Sekarang pukul 2 PM. Pelajaran telah selesai dan beberapa siswa mulai berjalan menuju gerbang. Namun beberapa dari mereka ada yang diam disekolah untuk kegiatan klub. Seperti tim Devil Bats yang satu ini, walau pun kegiatan klub hanya diadakan hari sabtu dan minggu. Tetapi beberapa anggota Devil Bats seperti Sena, Monta dan Komusubi hampir selalu berlatih bahkan saat pulang sekolah.

.

.

"Yup!" Mamori menekan tombol stopwatchnya ketika Sena selesai berlari 4.3 detik dalam 40 yard. Hasil yang cukup memuaskan. Walau pun bagi Sena sendiri ia masih belum cukup cepat untuk melawan Teikoku. "Masih belum."

.

Mamori tersenyum lembut, semenjak Sena mengungkapkan identitas rahasianya. berbeda dengan apa yang ada di pikirannya. Ia sempat berpikir kalau Sena itu lemah, lunglai, dan loyo. Namun kini Sena adalah anak yang kuat yang telah berhasil menjadi pahlawan di timnya sendiri.

"Sena, Monta-kun.. Istirahat dulu, ini aku bawakan kalian roti isi."

Mamo mengeluarkan satu kotak bekal makanan yang cukup besar berwarna coklat. Dan yah, itu adalah roti yang tadi pagi Mamori buat untuk Hiruma. Daripada mubazir tak ada yang memakan, apa salahnya jika diberi kepada teman-teman yang lebih menghargainya?

Buktinya Sena dan—terutama Monta terlihat senang dan berterima kasih. Mamori pun meletakkan bekalnya di bangku untuk mereka makan. Lalu ia sendiri memutuskan untuk menuju ruang klub.

.

.

"Sudah ikuti saja aku, kakek sialan! Buka penyangga ini dan gerakkan tanganku."

Langkah Mamori berhenti di depan pintu saat mendengar suara seseorang yang sangat familiar mengumpat kesal dari dalam ruangan.

"Kau yakin Hiruma?"

Dan yang itu adalah suara Doburoku-sensei. Mamori menjadi penasaran namun tak lantas memasuki ruang klub. Ia hanya mendekati pintu dan mengintip lewat celah kecil. Walau pun tidak jelas, tapi ia bisa melihat posisi Hiruma yang memakai seragam putih berlengan panjangnya sedang terduduk di bangku dan bisa dipastikan Doburoku pun berada tepat didepannya sedang membuka penyangga lengan Hiruma. Apa yang sedang mereka lakukan?

.

Tanpa menunggu lama, Doburoku langsung saja menarik lengan Hiruma yang sebelumnya terbalut itu dengan kasar. Tentu saja hal itu membuat Mamori terkejut bukan main.

"Lebih keras lagi!" Perintah Hiruma.

'Jangan!'

.

Lagi dan lagi Doburoku menarik lengan Hiruma dengan kencang. Sebenarnya apa tujuan mereka?

Mamori dengan jelas dapat melihat raut wajah Hiruma. Terlihat seakan menahan sakit, tapi senyuman lebar dengan gigi runcingnya pun tampak.

Detik berikutnya, Doburoku melipat lengan Hiruma, terlihat Hiruma yang mulai meringis meskipun tak berlebihan, namun peluh yang keluar sudah cukup membuktikan kalau Hiruma kesakitan.

.

Mamori menutup mulutnya ngeri dengan apa yang ia lihat. Ia baru sadar apa maksud Hiruma membiarkan Doburoku menyiksa lengannya yang mati itu. Agar merasa kesakitan, memang itulah tujuannya. Dengan begitu saraf-saraf di lengan Hiruma embali berfungsi meskipun harus merasa sakit. Daripada mati.

.

"Hiruma-kun..."

Mamori merasa malu pada dirinya sendiri. Selama ini yang ia lakukan hanyalah mengeluh dan mengeluh, padahal Hiruma sendiri ternyata tidak bersantai-santai. Ia pun ingin segera berlatih dan menggunakan lengannya. Meski pun harus menyiksa dirinya sendiri. Lalu Mamori? Baru mengurus hal-hal kecil seperti bersih-bersih saja ia tak sanggup

'Aku benar-benar egois...' Batin Mamori.

.

.

Saat itu juga Mamori mengambil langkah. Bukan, bukan untuk masuk ke ruangan. Ia bergegas menuju gerbang dengan berlari, membuat Musashi keheranan ketika berpapasan dengannya.

'Ada apa?' Pikir Musashi.

.

.

.

.

Disinilah Mamori—di ruangan Hiruma. Gadis itu menutup pintu dan mulai menyingsingkan lengan bajunya seperti biasa. Namun kali ini ada yang berbeda, tak ada keluhan yang dilontarkan gadis itu.

.

.

.


.

.

"Okaerinasai."

Telinga elf lelaki itu tergerak ketika mendengar sapaan yang dilontarkan si gadis auburn yang terlihat memegang lap pel. Aneh sekali, ini kali pertama Mamori menyapa Hiruma ketika masuk pulang. Tak berlama-lama, Hiruma langsung melempar tasnya dan membuka laptopnya.

Namun lagi-lagi ada yang aneh. Biasanya Mamori langsung memarahinya bila ia melempar tasnya sembarangan. Tapi kali ini tak ada ekspresi terganggu sama sekali. Gadis itu dengan raut wajah normalnya mengambil tas Hiruma yang tergeletak dan memindahkannya ke lemari di dalam kamarnya. Alis Hiruma terangkat.

.

.

.

Pukul 7 malam dan Hiruma telah selesai dengan kegiatan mandinya, ia duduk di sofa membaca koran sebelum menyadari ada bau sesuatu.

"Kau masak bacon, sialan?!"

"Bukankah tadi pagi kau bilang menginginkannya."

Mamori mendekati Hiruma dengan membawa hidangan bacon. Lalu ia kembali dan menyuguhkan Hiruma kopi. Hiruma semakin bingung.

"Heh! Sialan? Kau ini sedang marah ya?"

"Kalau aku marah, mana mungkin aku membuatkanmu yang seperti ini... Mou.."

Hiruma melirik kopi yang dibuat Mamori."Jangan-jangan kopi yang kau buat ini mengandung sianida."

"Ya ampun Hiruma-kun... " Mamori menggeleng.

"Jujur saja, sejak aku pulang, tingkah lakumu itu benar-benar aneh. Menyeramkan."

Mamori mendekat ke arah Hiruma dan memakaikan penyangga tanpa mempedulikan protes Hiruma.

"Tapi tidak apa, kan bagus.. akhirnya kau mengerti juga dan bisa beradaptasi. Aku tak perlu bersusah-susah." Ia tertawa sekilas.

Gadis itu tak begitu menghiraukan celotehan Hiruma, ia justru lebih fokus dan sedikit kaget ketika melihat lengan Hiruma yang bengkak cukup parah. Miris memang tapi Mamori pura-pura kalau ia tidak mengetahui apapun soal lengannya ini.

"Mengapa lenganmu biru seperti ini?"

Hiruma mengunyah permen karetnya sambil memperhatikan raut wajah Mamori."Bukan urusanmu."

Mamori membuang nafas, mencoba tidak terpancing. "Hiruma-kun," Serunya "...Maafkan aku."

Hiruma mengangkat alis, keheranan. Ia menunggu gadis itu melanjutkan

"Selama ini aku terus saja mengeluh.. padahal kau sendiri sedang berusaha untuk menyembuhkan lenganmu."

"Mulai saat ini aku akan berusaha, dan tidak akan mengeluh" Gadis itu tertunduk sebelum kembali memandang Hiruma "Tapi.. aku mohon padamu."

Hiruma masih tak bergeming.

"Kau pun mau bekerja sama denganku."

Hiruma mengerti betul apa yang Mamori maksud. "Tcih... norak."

.

Tak mempedulikan Mamori, Hiruma beralih menuju baconnya. Mamori terdiam, sudah ia duga bahwa Hiruma tak peduli—

"Oy, sialan! Kenapa diam saja? Cepat suapi aku!"

Kedua mata Mamori langsung membesar seakan tak percaya kata-kata Hiruma. Ia bersyukur, Hiruma mengerti maksudnya.

Jika begini terus, Mamori pun tak harus mengeluh dan tentu saja dengan senang hati ia akan mengerjakan tugasnya—

-merawat Hiruma dengan lebih baik.

.

.

To Be Continue


.

.

Review :) ?