Loving him is like driving a new Maserati down a dead-end street
Faster than the wind, passionate as sin ending so suddenly
Loving him is like trying to change your mind once you're already flying through the free fall
Like the colors in autumn, so bright just before they lose it all
– Red (Taylor Swift, 2012)
WARNING: This fanfiction may contain harsh words and adult things. Readers whom age under the specified story rating are not allowed.
Some typo, OOC type of characters, AU is the part of this fanfiction
.
This chapter is dedicated special to Miss Kurama-chan who had already believe in me and give me her best support
.
Standard disclaimer applied
RED
A Flo Deveraux's creation
Tepat pukul lima. Itu artinya tidak lama lagi Sakura harus mempersiapkan diri bertemu Naruto. Ia menuju lantai bawah, meninggalkan Ino di dalam kamarnya yang masih berkutat dengan laptop. Ia memandangi dirinya di depan cermin yang tergantung di dinding ruang keluarga. 'Sempurna' gumamnya ketika merasa penampilannya kala sore itu. Balutan blue dress tanpa lengan dan rumbai-rumbai di bagian bawahnya. Selama yang mengenakan setelan sederhana tersebut adalah Haruno Sakura, jangan tanya lagi, akan selalu pas di badannya.
Tidak lama kemudian seorang mengucapkan salam sambil menekan bel rumah Sakura.
"Shitsurei shimasu?"
Oke ini dia saatnya. Menuju pintu rumahnya membuat Sakura berpikir akankah dirinya cukup kuat untuk tidak mengingat-ingat kejadian tiga hari lalu?
Sakura membukakan pintu untuk orang yang ia tunggu-tunggu kedatangannya itu. Senyumnya mengembang ketika menemukan Naruto lengkap dengan kemeja putih dan jeansnya sedang berdiri di ambang pintu. Terlihat Fisker Karma putih pemuda itu yang terparkir di luar rumah.
"Hai, Naruto!"
Naruto hanya tersenyum lebar, membuat Sakura kini semakin sulit bernafas. Sedetik Sakura merasa ada yang janggal dari wajah cokelat Naruto. Warna kulit pada wajah itu tidak hanya cokelat, tetapi kemerahan. Ekspresi Naruto pun biasa-biasa saja, tidak se-excited sebelumnya. Lamunan keheranan Sakura disadarkan Naruto ketika pemuda itu mengibas-ngibaskan tangannya tepat di depan wajah Sakura. "Hei, Sakura?"
"Eh?"
"Kenapa melamun? Aku boleh masuk tidak?"
Sakura cepat-cepat mencari topik pembicaraan lain. "Err, A-Ano, kenapa mobilnya diparkir di luar? Lebih baik dimasukkan saja."
"Ah tidak usah."
"Eh, jangan! Kalau ada yang mencuri bagaimana?" tanya Sakura dengan wajah khawatir jika mobil mewah itu tiba-tiba menghilang dari tempatnya sekarang terparkir karena dicuri seseorang.
Naruto hanya tertawa. "Baiklah, Sakura-chan. Aku masukkan ya?"
Sakura mengangguk, kemudian mengikuti langkah Naruto untuk membukakan pintu gerbang rumah. Setelah mobil putih itu terparkir sempurna di garasi rumah Sakura, mereka berdua kembali masuk ke rumah. Dengan cekatan ia menutup kembali gerbang rumahnya. Sakura mempersilakan Naruto untuk duduk sambil menunggunya membuatkan minum dan mengambil camilan.
"Aku ikut kau saja. Tadi katanya anggap ini rumahku kan?"
Sakura tertawa ringan. "Baiklah kalau begitu, ayo!"
Mereka berdua menuju dapur. Sesekali Sakura melirik Naruto yang berjalan tidak waras di belakangnya. Ketika sampai di dapur, sementara gadis merah muda itu mencari mencari sesuatu di dalam kulkas, Naruto mendudukan dirinya di atas kursi di dekat meja makan.
"Jadi mana paman dan bibi?"
"Oh, mereka sedang keluar kota."
"Lalu Konohamaru?"
"Dia menginap di rumah temannya."
Sakura mengeluarkan sebuah kotak minuman oranye panjang dengan tulisan "Orange Juice" pada bungkusnya.
Naruto mengangguk-angguk mengerti. "Jadi kau sendiri?"
Sakura menggeleng. Ia mengacungkan telunjuknya ke atas sambil berkata,"Ino ada di atas. Tapi sepertinya dia sibuk twitteran." Sakura menunjukkan kotak jus jeruk yang kini sudah di tangannya kepada Naruto sembari menutup pintu kulkasnya dengan kaki. "Jus?"
Naruto menggeleng. "Kau punya green tea?"
Sakura kemudian memberi kode Naruto untuk menunggu semenit dengan menunjukkan jari telunjuknya. Ia berbalik memunggungi Naruto, mengedarkan pandangan ke rak-rak kaca yang ada di atas kepalanya. Kemudian membuka sebelah pintu dari salah satu almari kaca yang menyimpan bahan dasar minuman seduh. Ia sedikit berjinjit untuk melihat apa isinya, namun rupanya ia kurang tinggi untuk mengetahui apa saja yang ada di dalam sana.
"Butuh bantuan?" tanya Naruto ketika melihat Sakura kesulitan.
"Tidak usah," jawab Sakura sekarang sambil berusaha meraih kotak hijau yang ada di dalamnya. Ia rasa itu kotak teh hijau celup. Ia kemudian menarik tangannya, menghembuskan nafas pasrah ketika mengetahui bahwa dirinya tidak sanggup meraih kotak tersebut. Sakura merapatkan diri ke meja dapur, kembali berjinjit, kemudian melakukan hal yang sama seperti sebelumnya –mencoba meraih kotak hijau berisi teh celup. Ia mengernyitkan dahi ketika tidak merasakan tangannya sedikitpun menyentuh kotak tersebut. Tapi sesaat kemudian, suhu hangat yang mengenai punggungnya membuat darahnya berdesir hebat. Seluruh rambut kecil di kedua tangannya juga berdiri. Sakura sedikit terlonjak dan bola matanya membulat.
Naruto. Pria itu berusaha membantu Sakura, membuat dada bidangnya kini bersentuhan dengan punggung Sakura. Sementara tangannya masih mencari kotak yang dimaksud, Sakura mematung. Indera penciuman gadis itu menangkap semerbak wangi maskulin dari parfum yang dikenakan oleh Naruto. Tidak nyegrak tapi sangat memabukkan bila dicium dari dekat. Wajahnya yang kini dapat dilihat dari dekat memunculkan semburat kemerahan, membuat tampilan Naruto semakin aduhai saja kala itu.
Pemuda pirang itu kemudian menarik badannya diikuti gerakan tangan Sakura yang tadi masih terangkat kini ia turunkan.
"Ini kan yang kau maksud?"
Sakura membalikkan tubuhnya agar dapat berhadap-hadapan dengan Naruto. "Ah, i-iya. Arigatou," katanya salah tingkah.
Langsung saja Sakura menyambar kotak itu dari tangan Naruto, mengeluarkan benda ringan yang merupakan kantung teh celup. Gadis itu kini sibuk dengan aktivitasnya membuat green tea.
"Anyway, kau diet?"
Naruto yang sedari tadi memang memandangi kegiatan Sakura kini memberi gadis itu tatapan 'kau bercanda?' sambil terkekeh. Si pirang kemudian menyandarkan pinggul sebelah kirinya ke meja alumunium yang merupakan meja makan rumah tersebut. "Siapa yang bilang?"
"Tidak ada."
"Lalu?"
Sakura memutar bola matanya ketika berkata,"Yah, kau tau? Cowok, green tea, itu sangat.. emm.. Unsual."
Naruto hanya teersenyum. Tidak sepatah katapun ia ucapkan. Aneh sekali si tuan muda Uzumaki itu hari ini. Naruto berjalan mengitari meja makan kemudian duduk lagi di atas kursi. Semburat merah itu kini makin Nampak jelas jika dirinya berada di bawah lampu terang dapur.
Sakura mengamati wajah Naruto sesaat saat pemuda itu bertopang dagu. Ia kemudian mebelalak ketika menyadari sesuatu.
"Naruto, kau… Mabuk?"
Tidak dijawab.
"Hey!"
Naruto mengendus. "Aku hanya minum sedikit." Ia kemudian membenamkan wajahnya di lipatan tangannya.
"Kau menyetir mobil dengan keadaan mabuk?!" tanya Sakura galak.
Yang ditanya hanya diam saja.
"Naruto jawab aku!"
"Aku diajak si Kiba."
"Kiba?"
"Dia bilang aku menyedihkan, lalu dia mengajak aku untuk bersenang-senang. Padahal aku sudah memberitahunya aku akan ke rumahmu."
Sakura kemudian mencangking cangkir porselin berisi the hijau yang baru saja selesai ia buat. Kemudian menaruh cangkir itu di depan kepala Naruto yang terbenam secara kasar.
"Berapa gelas?" Sakura kini berkacak pinggang meskipun Naruto tidak melihatnya.
Naruto hanya menjawab dengan menunjukkan kelima jari kanannya ke arah Sakura tanpa mengangkat wajahnya. Kontan Sakura mendelikkan matanya.
"Kau menyetir mobil dengan keadaan mabuk begini?" Sakura geleng-geleng. Ia mengeluarkan ponsel pink dari kantong dressnya. Gadis itu secara paksa mengambil ponsel Naruto tanpa ijin dari saku celana jeans pemuda itu.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
Sakura tidak menjawab, ia membuka kontak yang pernah Naruto hubungi lalu menekan layar tepat pada tulisan "Mom".
"Aku tidak mau lagi terlibat masalah dengan keluargamu!"
"Kau akan menghubungi ibuku?"
"Ya iyalah!"
"Jangan Sakura!"
"Tidak. Aku tidak mau disalahkan lagi. Sudah cukup aku malu di depan anggota keluargamu!"
"Sakura, please, jangan."
"Tidak!"
Sekali lagi zamrud Sakura terbelalak ketika pergelangannya ditarik oleh Naruto kasar. Naruto mengambil kembali ponselnya dan menoleh ke arah Sakura tanpa beranjak sedikitpun dari posisi duduknya. "Kumohon Sakura."
Sakura menoleh sumber suara yang tiba-tiba berubah menjadi parau tersebut. Mendapati Naruto yang menatapnya sangat intens.
"Jangan lakukan itu."
Pink rosette menggeleng berkali-kali. "Tidak bisa, Naruto. Ini demi kebaikanmu."
"Sakura, kau tidak mengerti. Aku lebih baik seperti ini." Naruto menghela nafasnya. "Aku sakit…" pemuda itu menunjuk dada sebelah kirinya. "Sakit sekali di sini. Kau tidak pernah tahu rasanya dikurung ya Sakura?"
Naruto bangkit berdiri. Ia berhadapan dengan Sakura sekarang. Langkahnya gontai seperti orang yang mati segan sedangkan jika hidup tak mampu. Hal yang paling mengerikan dari sesosok Naruto yang pernah Sakura lihat. Sakura mundur selangkah demi selangkah, menghindari Naruto yang terus saja mempersempit jarak mereka.
"Bagaimana jika kuberi tahu bagaimana rasanya?" Sakura tidak mengerti apa yang dikatakan Naruto. Pemuda pirang tersebut kata-katanya mulai meracau. Sinar bola mata Naruto memadam. Aquamarine itu mulai digenangi cairan yang bermuara di pelupuk mata. Gadis itu sepenuhnya tidak percaya, Naruto… menangis? Ia mabuk saja sudah tidak percaya, apa lagi menangis.
Sebegitu beratkah beban yang pemuda itu miliki?
Sesakit itukah luka yang tergores di relung hati pemuda itu?
"Naruto, sebaiknya kau istirahat di kamar tamu sebentar. Aku akan menelpon ibumu."
"Tidak! Jangan!" kata pemuda itu sambil terus menghapus langkah Sakura.
"Tenang saja, akan kukatakan bahwa kau tertidur di sini."
Seringaian diberikan Naruto kepada Sakura kala itu.
"Naruto…"
Naruto tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya tampak lebih dan lebih tidak dapat dimengerti dengan setiap langkah pemuda itu menghapus langkah Sakura. Gema langkah kakinya memantul dari dinding dapur yang menjadi saksi bisu kala itu. Sakura terus saja mundur menjauh dari drunk-Naruto yang mendekat sampai jantung Sakura mulai berpacu ketika terhenti langkahnya karena punggung gadis itu bertabrakan dengan dinding. Sekarang Naruto hanya satu inci darinya. Sakura mencoba menggeliat dan pergi ke kanan, ke ruang di mana Naruto tidak akan mengunci langkahnya, tapi dia malah dihentikan oleh tangan yang tiba-tiba menempatkan dirinya di dinding. Locked. Naruto tidak mempedulikan wajah Sakura yang kebingungan.
Tangan kiri kekar tersebut telah bermandikan keringat yang entah sejak kapan mengucur dari dalam pori-pori kulit pemuda tersebut. Sakura berpikir bahwa itulah efek dari minuman keras yang dikonsumsi Naruto. Tapi Sakura lebih yakin, keringat itu mengucur keluar bersamaan dengan iblis bernama amarah yang minta dikeluarkan dari tubuh pemuda pirang tersebut. Apa yang harus Sakura lakukan?
"The best part of loving someone is by getting fall and hurt. I love my whole family, Sakura-chan. I do."
Helaian pirang Naruto beberapa menutupi kening yang kini bertautan dengan kening gadis di hadapanya.
"But it doesn't mean I have to sacrifice all my life, right? I just wanna be normal…"
Mulut Sakura sedikit terbuka mendengar perkataan Naruto barusan. Ia mengeratkan genggaman tangannya, berusaha membuat tubuhnya tidak bergetar terlalu hebat. Sakura berusaha tidak menatap wajah pemuda di hadapannya, namun entah kenapa safir Naruto selalu berhasil mengunci zamrudnya.
Sesaat kemudian pemuda itu makin tidak memberikan ruangan Sakura untuk bernafas.
"…as normal as your life."
Tidak ada cukup oksigen yang dapat dimasukkan ke paru-paru Sakura ketika berada di jarak sangat dekat sekali dengan pemuda ini.
"So, would you share with me?"
Apa katanya barusan? Berbagi? Apanya yang perlu di bagi. Oh, Kami-sama, bantulah Sakura keluar dari sini!
"Narut– hmpphft."
Dan bisa ditebak apa yang sedang pemuda pirang itu lakukan kepada sang gadis. Kontan saja Sakura terbelalak, nafasnya tersengal-sengal, kedua tangannya mendorong dada bidang Naruto meskipun hasilnya sia-sia. Naruto menciumnya!
Gadis itu pasrah ketika ia merasa usahanya sia-sia. Kedua tangannya masih berada di permukaan paling bidang dari tubuh Naruto ketika tuan Uzumaki itu melingkarkan tangan kanannya di pinggang Sakura. Sakura memejamkan matanya, menikmati sajian itu. Salah satu syaraf tangan kanannya bergerak otomatis ke arah leher pemuda yang sedang ia cium itu. Ya, 'ia cium'. Sakura membalasnya. Sakura mengelus permukaan kulit tan itu lembut. Ah, astaga! Apakah Naruto juga memakai pelembab? Pada awalnya Sakura mengira Naruto tidak termasuk di dalam daftar anak laki-laki yang berkulit sehalus sutra. Sampai jemari gadis itu sendiri yang membuktikan fakta.
Fakta kedua adalah Uzumaki Naruto itu seorang good kisser. Fakta ketiga
Touching him was like realizing all you ever wanted was right there in front of you
'Ini bukan saatnya enak-enakan Sakura!' tiba-tiba kata hatinya menyadarkan.
Sakura membuka matanya kembali. Ia tahu ini bukan Naruto yang sebenarnya. Ia kemudian kembali mendorong pemuda itu sekuat tenaga agar menjauh dari dirinya sampai akhirnya melepas lip-lock mereka.
"Naruto! Kau ini mabuk!"
Melihat bocah malang itu sempoyongan akhirnya Sakura memutuskan untuk menuntun Naruto masuk ke dalam kamarnya, membiarkan bocah tersebut untuk berbaring sejenak.
Ino yang memang benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi memandang Sakura dan Naruto –yang sekarang sudah tertidur di atas kasur Sakura dengan pulasnya- bergantian. "Kau apakan dia, forehead?"
"Dia mabuk," ucap Sakura sambil menyandarkan punggungnya di dinding kamar. Gadis itu merosot sambil menghembuskan nafas panjang.
Ino memandang sahabatnya tidak mengerti. Mabuk? Si tuan Uzumaki ini mabuk? "What?"
Sakura meutar bola matanya malas. "Dan dia mencuri ciuman pertamaku."
Awalnya Ino berekspresi biasa saja. Namun beberapa detik setelah mencerna kalimat Sakura barusan…
"WHAT?"
"Yo, Sakura!"
Rambut merah muda panjang gadis bermarga Haruno itu diikat ala buntut kuda hari. Beberapa anak rambutnya ia biarkan ke jatuh membingkai wajah putih mulus yang pagi itu dihiasi make up natural. Namun kecantikannya tidak sepadan dengan tekanan darahnya yang semakin meninggi ketika langkahnya mendekati seorang pemuda berambut cokelat yang barusan dengan santai memanggil namanya. Inuzuka Kiba tidak tahu-menahu mengapa hari itu gadis yang biasanya bagai seorang malaikat berubah menjadi malaikat pencabut nyawa hari itu.
Ino yang sedari tadi menguntit di belakang langkah Sakura yang bagai raksasa yang akan menghancurkan seluruh isi kota hanya bisa membiarkan sahabatnya itu menghabisi si tersangka dalam kasus ini. Kiba.
"Selamat marah-marah, forehead," sahut Ino pelan sambil mendudukkan diri di samping Shikamaru yang tumben sekali bangun untuk menyaksikan drama antara kedua siswa di kelasnya tersebut. Bersamaan Shikamaru dan Ino menopang dagu mereka, menikmati pertunjukkan yang ada.
"Jangan kau bicara seolah tidak terjadi apa-apa, Kiba!"
Wajah bingung adalah ekspresi yang sekarang ditunjukkan oleh Kiba, lawan bicara Sakura.
"Aku salah apa, eh?"
"Kau mengajak Naruto mabuk-mabukkan kemarin. Ya kan?"
Kini lawan bicara Sakura mnyeringai. "Aku kasihan cukup kasihan melihatnya berantakan ketika berhenti di bar kesukaanku. Jadi aku ajak dirinya bersenang-senang sebentar."
Sakura mendelik. Ia kini menggebrak meja di hadapan Kiba dan mencondongkan tubuhnya ke arah bocah tersebut.
"Kau bilang bersenang-senang? Lima gelas itu bersenang-senang?" tanyanya ngeri. "Aku hampir di bunuh oleh neneknya tiga hari lalu dan semalam aku hampir di bunuh oleh ibunya, idiot!"
.
Flashback…
.
Sakura mondar-mandir di kamarnya cemas. Pada akhirnya ia dan Ino tidak dapat membiarkan Naruto seperti itu. Keputusan yang ia buat adalah berbicara kepada nyonya Uzumaki dan memberitahukan bahwa anaknya berkunjung ke kediaman Haruno, masuk ke dapur untuk membantu Sakura membuatkan teh hijau, terpleset karena air yang tumpah dan kepalanya membentur lantai keras sehingga pemuda itu pingsan. Sakura juga mengatakan bahwa Naruto sedang tertidur dan di kompres oleh Ino.
Rencana membohongi nyonya Uzumaki itu berhasil, jika saja Naruto tidak berteriak memanggil namanya yang membuat Uzumaki Kushina tahu bahwa lawan bicara di ponselnya sedang berdusta.
"Sakura-chan, kenapa aku tidak dicium lagi?"
"Siapa itu? Naruto?"
"Ah, b-bukan! Bibi salah dengar kali."
"Kau bilang dia sedang tidur tadi?"
"Memang-"
"Sakura, aku sudah hafal dengan suara anakku sendiri! Apakah kau coba membohongi bibi?"
Dan setelah itu hanyalah kata-kata bodoh yang lewat dari otak Sakura sebagai alasan untuk menutupi kebohongannya. Tapi apa mau dikata? Ibu Naruto tahu bahwa Sakura sedang berbohong. Setiap bau busuk pasti akan tercium juga.
"Bibi sangat percaya padamu Sakura! Tapi bagaimana pun juga, merahasiakan Naruto dalam keadaan seperti itu kepadaku adalah sebuah kesalahan besar. Kau bukan orang tuanya, nona. Kau juga pasti tidak mau kan dimusuhi oleh keluarga besar kami jika banyak orang tahu Naruto mabuk? Itu akan merusak repurtasi kami! Kenapa harus berbohong jika kau bisa mengatakan hal yang sebenarnya kepada bibi baik-baik? Sakura-chan sudah tahu sendiri, ketika Sakura-chan tidak berbuat apa-apa kepada Naruto neneknya sudah marah seperti itu, apa lagi kalau begini?"
Celotehan panjang lebar Kushina hanya ditanggapi Sakura dengan kata maaf dan maaf. Nyonya Uzumaki tersebut akhirnya mengirimkan bodyguard ke rumah Sakura dan mengambil drunk-Naruto. Sakura takut jika Naruto sesampainya di rumah akan mendapat masalah yang lebih besar.
"Bibi Kushina, maafkan Sakura ya? Sakura tadi hanya bermaksud melindungi Naruto, aku tahu apa yang dirasakan Naruto, jadi kupikir jika bibi tahu Naruto akan semakin dimarahi dan akhirnya tertekan," jelas Sakura panjang dan dengan perasaan cemas di telepon. Sekali ini ia harus membayar kebaikan Naruto dengan menyelamatkan nyawa bocah itu dari kemarahan besar ibunya.
"Baiklah. Aku mengerti posisimu Sakura-chan. Arigatou sudah mau merawat Naruto sebentar, dan juga teh hijaunya."
"Ah, itu tidak seberapa."
"Kau mau membantu bibi lagi?"
"Membantu apa?"
"Berikan nama anak yang mengajak Naruto ke bar."
.
End of flashback…
.
"Tapi ibu Naruto tidak benar-benar membunuhmu kan? Kenapa aku yang disalahkan?"
"Bisakah kau berhenti bicara seolah ini bukan masalah serius untukmu?"
Air wajah Sakura kala itu membuat Kiba kengerian. Ia seperti melihat kilat yang menyambar-nyambar di belakang Sakura, suara halilintar yang megiringi kata-kata yang dilontarkan gadis itu dan angin mendung di atas sang gadis. "Whoah! Take it easy, girl! Santailah sedikit!"
"Santai? Mana otakmu, bodoh? Di dengkul hah? Bagaimana aku bisa santai?! Repurtasiku sudah jelek di hadapan keluarga yang bahkan bisa membeli seluruh gedung sekolah ini dan otak Albert Einstein untuk diberikan padamu, baka! Kau mau ganti rugi?"
"Ya aku tidak urusan," jawab Kiba santai.
"Apa kau sengaja melakukannya?"
"Melakukan apa?"
"Mengajak Naruto mabuk agar aku yang kena?"
Kiba menautkan alisnya. "Maksudmu?"
"Ayolah! Kau masih tidak terima dengan kekalahanmu yang lalu kan? Kau sengaja membuat Naruto mabuk, kau tahu dia akan pergi ke rumahku, kau tahu dia memberikan surat ijin sakit ke Kakashi-sensei kemarin, kau tahu ibunya akan mengecek keadaan Naruto karena dia sebenarnya masih sakit!"
"Wah, kau memang jenius Sakura. Atau kau memang bisa baca pikiranku?"
"Jadi benar kan, kau menjebakku?"
"Ngapain aku menjebakmu, nona? Aku terima kok kekalahanku yang lalu itu. Lagian mana ada yang bisa mengalahkan monster?"
"Apa kau bilang?"
Seringai Kiba semakin menjadi. "Monster," jawabnya santai.
Darah Sakura yang semula mengalir sempurna di dalam pembuluh darahnya kini seolah-olah naik ke kepalanya, membuat wajah gadis itu memanas mendengar kata-kata Kiba barusan. Sebuah sudut siku-siku entah dari mana muncul seenaknya di pelipis Sakura.
Gadis itu dengan garangnya tanpa sisa kesabaran yang ada di lubuk hatinya menarik kerah pemuda di hadapannya.
"Mau bertengkar, hah?" ancam Sakura.
"Tentu saja, kau berani?"
"Seharusnya aku yang tanya, kau berani memukuli perempuan sepertiku, banci?"
Kiba mendengus. Apakah sudah disebutkan bahwa kedua anak manusia yang menyedot perhatian banyak pasang mata yang berada di kelas dan di luar kelas –mereka berhenti sejenak saat melewati kelas Sakura- itu adalah pemegang sabuk hitam di sekolah karate yang sama. Yap! Dan Kiba tahu persis kekuatan gadis di hadapannya itu yang sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Kiba pernah mencoba berkelahi dengannya dan kalah. Semenjak itu dia dijuluki banci dengan teman seperguruannya karena berani memukul seorang perempuan. Kedua dia dijuluki 'pecundang mulut besar' oleh anak-anak yang sama karena kalah dari perkelahian dengan seorang gadis. Memalukan sekali memang, tapi ia memang tidak bisa menolak fakta yang ada. Berani macam-macam dengan Sakura, kau tidak akan tahu tulang mana yang akan dipatahkan gadis itu.
Hanya saja Kiba terlalu gengsi mengakui kekuatan gadis di hadapannya itu. Sehingga dia selalu menjuluki Sakura monster.
Biasanya tanda-tanda jika akan ada perkelahian di kelas akan segera dihentikan oleh siapa saja. Namun kali ini, tidak seorangpun ambil resiko menghentikan kuda-kuda Sakura untuk kapan saja mendaratkan sebuah tonjokan indah di wajah mengesalkan yang selalu dibuat Kiba. Oke, Shikamaru menularkan teori masa bodoh dan I-don't-care-because-it's-so-troublesomenya itu ke seluruh pemilik pasang mata yang sedang menyaksikan Kiba dan Sakura dengan santainya.
"Kau ini cantik Sakura, tapi kenapa jadi mengerikan seperti itu?"
"Heh, bodoh, jangan coba-coba untuk merayuku!"
"Merayu bagaimana? Orang kenyataannya begitu, kok."
Wajah Sakura merah padam sekarang, tidak jauh beda dari tomat yang Ino beli untuk dibuat jus kemarin. Entah karena marah atau tersipu dengan pujian Kiba barusan. "Kau mengalihkan pembicaraan!"
"Tidak, manis," Kiba mengelus wajah Sakura. Gadis itu kontan saja 'membuang' lawan bicaranya itu kembali ke kursi. "Hei, pelan-pelan dong! Kau mau mematahkan tulang ekorku?" keluh Kiba.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus dan indahnya di pipi kiri Kiba. Meninggalkan jejak menganggumkan berbentuk kelima jari Sakura di sana.
"Dengar," Sakura menodong Kiba dengan jari telunjuknya. "Sekarang aku yang bertanggung jawab karena sikap bodohmu kemarin. Tapi kuperingatkan kau agar tidak mengulangnya karena orang tua Naruto sudah mengetahui nama yang membuat anaknya tepar. Jadi, bila kau masih berani melakukannya sekali lagi, siap-siap untuk dieksekusi."
Kali ini ancaman Sakura sukses membuat Kiba tutup mulut. Seringaian yang sepanjang waktu bertengger di wajahnya pun menghilang. Sakura melaporkannya? Padahal jujur saja, ia sama sekali tidak bermaksud menjebak gadis itu. Atau tepatnya, ia tidak berpikir sampai situ. Tapi alasan apa yang bisa ia gunakan untuk mempertahankan diri? Tidak ada. Jelas dia adalah tersangka di sana, dan argumen yang disampaikan Sakura tentang Kiba yang menjebak Sakura lebih kuat daripada –mungkin akan jadi- alasan bahwa dirinya tidak bermaksud menjebak Sakura. Kiba menelan ludahnya. Sukses membuat Sakura yang sekarang menyeringai puas melihat wajah ketakutan pemuda di depannya.
"Satu lagi, jangan coba-coba membuat Naruto menjadi sepertimu!" gadis itu menegakkan posisi berdirinya kemudian bersiap melenggang pergi keluar kelas setelah menarik Ino dari tempat duduknya. Sepertinya segelas strawberry milkshake favoritnya di pagi hari akan menenangkan dirinya sejenak.
Namun langkahnya berhenti karena sepertinya Kiba tidak benar-benar kehabisan kata.
"Hei, Sakura!"
Sakura membalikkan badannya, memberi tatapan membunuh kepada Kiba. "Kenapa kau peduli dengan Naruto?"
"Apa urus–"
"Apa kau jatuh cinta padanya?"
Kali ini giliran Sakura yang kehabisan kata-kata, sukses mengembalikan seringaian Kiba yang sempat menghilang. Skak mati. Sakura mematung. Bingung menjalari otaknya, sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakan. Bibirnya terbuka, bergerak ingin mengucapkan sesuatu, hanya saja ia ragu.
"Jangan sok tahu!"
Kalimat bernada datar penuh tanda tanya, pertahanan terakhir Sakura sebelum ia dan Ino akhirnya benar-benar pergi dari ruang kelas.
Ino memandangi sang sahabat yang kini mengaduk-aduk isi gelasnya yang berwarna sama dengan rambut gadis itu dengan sedotan. Ia yakin benar dengan apa yang sedang bertengger di pikiran Sakura kala itu. Pasti perkataan Kiba tadi masih terpikirkan olehnya.
"Kau suka dengannya?"
Sakura hanya menoleh, mengendikkan bahunya kemudian memainkan isi gelasnya lagi dengan sedotan. "Entahlah, Ino. Kalau iya, wajarkah?"
Ino tersenyum manis. Ia membelai ponytail Sakura yang sama persis seperti miliknya, hanya saja lebih pendek. Ditambah menurut Ino, Sakura lebih cantik dari dirinya jika diikat seperti itu. "Wajar dong. Memangnya ada yang melarang?"
Sakura hanya menggeleng. Ia kemudian menyentuh bibirnya ketika mengingat kejadian kemarin sore yang menimpa dirinya.
"Suatu saat kau akan mendapatkan ciuman yang lebih layak dari itu, forehead."
Sakura hanya terdiam ketika mendengar sahabatnya terkekeh. "Diamlah, pig!"
"Tapi kau senang kan, Sakura?"
"Senang apanya?" Sakura kembali menyeruput strawberry milkshakenya. "Aku harap jangan sampai kau dicium oleh seorang yang sedang mabuk."
"Kenapa? Bukannya malah jadi tantangan baru? Akuilah, Ra!"
Sakura menepuk jidat lebarnya. Ino memang genit, dan tak akan ada yang dapat mengubah sifatnya itu. "Kau ini memang ya."
"Anyway, is he a good kisser?"
Sakura kembali mengangkat kedua bahunya. Membuat Ino malah semakin penasaran dengan jawaban Sakura. "Quite…"
"Maksudmu?" tanya Ino penasaran
"Quite skilled…"
Ino kini tertawa puas ketika melihat wajah Sakura yang sudah berubah merah karena malu mengingat peristiwa kemarin sore.
"Akhirnya kau mengakuinya juga, forehead!"
"Aduh, kau diam saja deh, pig!"
Ruangan dokter Hanare sudah merupakan ruangan kedua favoritnya selain kamar tidur ala 'pangeran' di rumah. Uzumaki Naruto, sudah tidak menghitung lagi waktu yang ia habiskan untuk menenangkan diri di ruangan tersebut hari itu. Meskipun dokter yang merupakan psikiaternya tersebut sama sekali tidak keberatan, tapi Naruto sebenarnya tahu ia sudah sangat merepotkan wanita tersebut. Semenjak Naruto memutuskan kabur dari kemarahan besar ayahnya ketika ia sudah 'waras' empat jam yang lalu dan menjadikan ruangan psikiaternya sebagai tepat untuk berlindung, sang dokter sampai-sampai harus meminjam ruangan koleganya yang berada di lorong yang sama dengan ruangannya tersebut.
Untung saja pria bernama Kotetsu-san yang juga merupakan psikiater tersebut sedang mengambil cuti untuk bulan madu dengan istrinya. Sehingga dokter Hanare bisa meminjam ruangan tersebut tanpa harus merepotkan pemilik ruangan sebenarnya.
Dokter Hanare memandang Naruto dari balik koran yang sedang dibacanya lima belas menit yang lalu setelah ia selesai menangani pasien. Meskipun Naruto sibuk dengan game yang ia mainkan dari ponselnya, pemuda itu sebenarnya tahu sang dokter sedang menatapnya heran. Dari semua tempat indah yang bisa menenangkan dirinya di kota ini, Naruto hanya memilih ruangan dokter Hanare sebagai benteng.
"Kau tahu Naruto," wanita tersebut menurunkan korannya ke atas pangkuan. "Lari dari masalahmu itu bukan pilihan tepat."
Dokter tersebut benar. Hanya saja, Naruto seperti tidak memiliki opsi lain selain ke tempat dokter Hanare untuk diceramahi dan berlindung. Aneh saja, ia tidak mau diceramahi ayah dan ibunya namun sama sekali tidak keberatan dengan wejangan setebal novel ke lima Harry Potter yang diberikan dokter Hanare kepadanya. Ia bahkan lebih leluasa mengungkapkan seluruh cerita, rahasia dan pengalamannya ke dokter ini daripada ke ibunya yang selama dia hidup merupakan pendengar terbaik di dunia.
"Sama sekali tidak akan membereskan masalahmu, nak."
Tidak ada jawaban. Masih sibuk dengan permainan di ponselnya.
"Seharusnya kau hadapi saja ayahmu, bicara baik-baik kan bisa. Tidak harus ada acara melarikan diri segala. Kau itu seperti anak kecil saja."
Masih tidak ada jawaban.
"Kalau bodyguardmu sampai datang menjemputmu lagi, aku tidak ikut-ikut," dokter Hanare kembali menutupi wajahnya dengan koran.
"Terserah," kata Naruto sambil mengerucutkan bibirnya.
Dokter Hanare menyibakkan sebelah halaman korannya untuk melihat reaksi Naruto. Ia kemudian terkekeh sampai membuat bocah tersebut menoleh.
"Apanya yang lucu?" tanyanya sebal.
"Ya kamu lah! Siapa lagi?" canda sang dokter sembari masih tertawa.
Naruto semakin sebal dan semakin memanyunkan bibirnya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke ponselnya lagi, kemudian melihat pemberitahuan bahwa permainan tersebut sudah 'Game Over'. "Tuh kan, aku kalah! Dokter sih!"
Dokter Hanare hanya menjawab dengan gelak tawa. Naruto mengunci layar ponselnya, menaruh benda tersebut di atas meja kemudian memberikan pandangannya kepada objek di atas tempatnya berbaring. Langit-langit ruangan.
"Kenapa sih kau lari dari rumah?" tanya dokter Hanare tanpa mengalihkan pandangannya pada koran yang sedang ia baca.
"Entahlah, dokter sendiri tidak keberatan kan kalau aku di sini? Tidak usah banyak bertanya, deh."
"Hei," ia meletakkan koran tersebut di atas pangkuannya lagi. Kedua tangannya masih memegangi dua lembar halaman koran tersebut. "Aku ini doktermu. Aku harus tahu alasanmu, semua tentangmu yang berkaitan dengan apa yang kamu rasakan."
"Aku tahu, dok."
"Ceritalah!"
"Aku sudah cerita kan tadi."
"Tapi kau belum cerita kenapa kau memilih tempat ini."
Naruto mengedarkan pandangan, mengabsen setiap detail ruangan tersebut.
"Aku hanya suka ruangan dokter Hanare. Itu saja. Kalau di kamar terus akan selalu bosan, dan yang pasti terlalu dekat untuk kembali diceramahi oleh ibu yang di rumah hari ini."
"Kau tidak sayang dengan ibumu?"
Pandangan Naruto berhenti pada sosok wanita yang duduk di sofa cokelat di sebelah kirinya tersebut. "Memangnya aku bilang begitu?"
"Aku kan hanya menebak."
"Atas dasar apa?"
Dokter Hanare memainkan bola matanya sambil berkata,"Yah, kalau kau sayang, kau pasti tidak akan keberatan mendengarkan celotehannya kan?"
Naruto kembali terdiam. Ia melihat senyuman yang mengembang di wajah ayu dokternya.
"Kusarankan. Kembalilah ke rumah. Selesaikan masalahmu dulu!"
"Aku bosan. Berikan aku waktu di sini dulu dokter."
Hanare menghela nafas panjang mendengar jawaban kekanak-kanakan bocah yang menjadi kliennya itu. "Terserah saja, deh," katanya kemudian sambil menarik korannya dan kembali membaca isi lembaran tersebut.
A/N: Uwaaaa! Jelek yah chapter ini? *pundung di pojokan*
Gimana menurut readers sekalian?
Saya sudah berusaha keras nih buat munculin karya terbaik demi NaruSaku archieve! Argh!
Yosh! Tapi terimakasih atas review, favorite dan follow readers tercintaaa. Apalagi untuk readers semua jadiin Flo sebagai author favorite :3 Arigatou gozaimasu minna-san!
Keep review ya Minna-san! Kalau bisa sih jangan favorite doang, kasih reviewnya dong! Biar Flo tahu ukuran chapter ini gimana, sudah bagus atau malah makin jelek?
ATTENTION PLEASE *pake toa*
Sekedar promosi. First, Flo bikin fic ShikaIno judulnya 'Can I Marry Your Daughter', made by heart for those who love this pair so much! Mohon review dan kritik karena cuma two-shot hehe :D
Second, GIMANA MENURUT ANDA TENTANG COVER BARU "RED" YANG FLO BUAT? *teriak pake toa* Bagus kagak? Hihihi. Credit goes to , tempat saya menemukan amazing fotonya yang akhirnya saya edit.
Third, ada perbaruan untuk setiap chapter. Sekarang Flo kasih warning beserta tetek bengeknya, biar agak rapi. How?
So finally, reviews, critics and all you need to say to this chapter, type it in the box below. Don't forget to click the Favorite/Follow too okay? Arigatou gozaimasu!
