[WARNING! FIC MENGANDUNG UNSUR MATURE MESKI SEDIKIT, YANG BELUM 17TH AKU TAK LARANG KALIAN BUAT BACA FIC INI, TAPI BAGI YANG BELUM SIAP MENTAL DAN TERUTAMA YANG KENCINGNYA BELUM LURUS BETUL, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK. SATU LAGI, DOSA DITANGGUNG MASING-MASING PEMBACA!]

Strike the Pose

7

CN Scarlet

.

.

.

.

Fairy Tail©Hiro Mashima

.

.

.

.

.

.

Jellal F & Erza S

.

.

.

.

.

.

.

"Aku ingin dia, boleh 'kan kek?"

Kalimat itu terus terngiang di telinga Erza, keluar dari istana Era lewat pintu belakang setengah berlari, melewati keluarga Dragneel terheran-heran di ruang makan. Pandangannya nyaris kosong.

Erza benar-benar kalap. Setelah berusaha melupakan kenangan masa kecilnya, hari ini, dia merasa semuanya akan terulang. Marah. Yah, semua atas kehinaan itu. Jellal tidak tahu apa-apa tentangnya, tidak Makarov, Laxus, tidak siapapun juga. Tidak ada yang tahu betapa sesaknya perasaan gadis itu.

BRUUUMM...

Mobil milik Gray Fullbuster berpacu sangat cepat. Parometer di dashboard yang menukik tajam tidak dia pedulikan, bahkan, Erza tidak peduli bemper atau spionnya sudah enyah entah kemana ketika menabrak tiga kotak pos di pinggir jalan.

"Whuih!" gerutu sepasang sejoli, yang berhasil menghindar. Nyaris saja tertabrak jika terlambat melompat ke samping. "Setan! Kemana perginya para polisi lalu lintas?"

"Gray-sama.. kau tidak apa-apa?" tanya pasangannya, gadis berambut biru ikal dan memakai syal.

"Yah, untung saja kita tidak tertabrak." Ucap Gray ngasal, tangannya gerayangan. Meremas sesuatu yang sintal di sebelah, membuat sang bintang film porno berambut biru mengeluh panjang. "Tiga ronde di love hotel?"

Juvia, nama perempuan itu kalau Gray ingat, menampakkan wajah nakal yang merah. Sex memang menjadi pekerjaannya, tapi dibandingkan dengan para pemeran pria yang pernah ditemui si nakal itu, Fullbuster satu ini mempunyai perbedaan yang signifikan. Kehebatannya di ranjang, misalnya.

Berhenti menyeringai mesum bung, ini rated M kalau kau lupa.

"Ngomong-ngomong soal mobil..."

"Ya?" tangan Gray di dada Juvia menggantung, perasaan model stripp Fairy Tail Magazine itu sungguh tidak enak.

"Yang barusan melintas ugal-ugalan itu, bukankah Erza-san?"

"Berarti..."

"Mobilnya Gray-sama dipinjam Erza-san, bukan?"

"Mobilku..."

Nggak perlu waktu lama, Gray pun berlari dan meninggalkan Juvia sendirian.

.

.

.

.

"APA?!"

Suara Natsu menggema di ruang tengah istana Era yang luas. Sejam sudah berlalu sejak Erza minggat terburu-buru, dia mendapat telpon seriosa dari Gray, kalau pria berambut jabrig yang sok seksi itu melihat Erza mengemudikan mobil miliknya ugal-ugalan. Dan sekarang, giliran kakak tengilnya yang melapor. Erza sudah berhasil diamankan di rumah mereka.

"Iya, iya, iyaa bawel! Iya, aku akan segera ke sana!"

PIP.. Natsu menutup telpon dan langsung melesakkan benda canggih bertombol tiga itu ke saku celananya. Pria bersurai pinkish itu berjalan setengah berlari menuju timur, ke tempat dimana tersangka pertama yang patut diinterogasi kini berada.

BRAAKKK!...

"Hei, bisa kau tunggu di luar? Tidak lihat ya aku sedang apa?!" sembur orang itu.

Yah, Jellal sedang mandi. Masih berlumur sabun, dan barusan Natsu Dragneel telah menendang pintu kamar mandi dengan tidak elitnya. "Kau apakan Erza, brengsek?"

Mematikan shower, Jellal melilitkan handuk ke pinggangnya terlebih dulu. Mengabaikan seratus persen sang Dragneel yang sedang berkacak pinggang, dia berkata "aku tidak melakukan apapun Natsu, kenapa kau ribut sekali sih?" dan mendapatkan sebuah dorongan kuat.

Seumur hidup, Jellal Fernandes tidak pernah bermimpi mendapatkan posisi seperti ini. Terhimpit ke tembok keramik dalam keadaan tanpa busana, penuh sabun, di toilet pula. Akan lain ceritanya kalau dia yang menghimpit dari jenis perempuan berbadan aduhay dengan keadaan serupa, tapi ini Natsu loh! jenisnya sama dengan dirinya, punya sesuatu yang menggantung di balik celana.

"KUTANYA PADAMU, APA YANG KAU LAKUKAN PADA ERZA?"

"Keluarlah, Natsu!"

"JELLAL!"

"KELUARLAH DULU, KAU BISA DENGAR CERITAKU SETELAH AKU SELESAI. HENTAI!"

Dan kini giliran Natsu yang tertendang dari tempat itu.

Lima belas menit kemudian, Jellal sudah rapi dengan setelan cassualnya. Celana denim coklat, kemeja biru muda, dan sebuah rompi senada. Wajahnya segar dengan wangi sabun yang memabukkan kaum wanita, sungguh pemandangan luar biasa.

Sayangnya Natsu masih normal, tidak tertarik manusia berbatang seperti dia.

"Jadi, apa yang membuatmu mendobrak brutal kamar mandiku?"

"Begini..." cerita panjang pun mengalir indah dari mulut Natsu Dragneel. Dimulai dari pertemuan terakhir pemuda pink itu dengan Erza di ruang makan, lalu cerita dari Gray tentang mobilnya yang malang, kemudian Zeref dan Mavis. Jellal mengangguk paham.

"Oh begitu," ucap Jellal, memainkan dagunya seperti orang punya jenggot. "Ini aneh, padahal biasanya para model itu dengan sukarelanya mengangkang untukku.."

BLETAKK..

Sebuah jitakkan super pedas mendarat di pucuk kepala biru itu.

"BODOH! Jangan samakan Erza dengan para pelacur itu!" nafas Natsu terengah-engah, berusaha melawan nafsu untuk menghajar Jellal Fernandes saat itu juga. "Dengar Jellal, kalau kau hanya ingin memperlakukan Erza seperti model-model Fairy Tail lain, biar aku sendiri yang akan menikahinya."

Kedua lengan itu mencengkram kerah rompi tuan Fernandes, Natsu berteriak tepat di depan wajahnya. "Ingat ini, aku sudah bersumpah melindunginya, dan aku akan terus melindunginya dari para bajingan sejenismu!"

Kedua bola mata Jellal terbelalak. Sungguh, apa yang diucapkan Natsu itu terlalu de javu. Ingatannya langsung merantau ke masa lalu.

::

"Natsu, bisa bantu aku mengawasi anak yang tinggal di klub malam itu?"

"Tentu," kata Natsu, usianya tiga tahun lebih muda dan masih pakai celana biru. "Asal uang dan konsumsi cukup, bang Jell, nasi kebab buatanmu yang luar biasa enak itu!"

"Beres.."

Kemudian...

"Jellal, aku menemukan anak yang kau cari itu!" teriak Natsu, membuat Jellal yang sedang memasak itu sumringah.

"Benarkah?"

"Ya, tapi ayah angkatnya itu merepotkan sekali! Dia nyaris menghabiskan tabunganku semalam, demi kau Jellal, aku nyaris miskin!"

"Tenanglah, bodoh! Uang dari pemotretan majalah dewasa tempatku bekerja sambilan kemarin cukup untuk membeli seratus pelacur, biar aku sendiri yang menanggung biayanya! Kau jaga saja dia baik-baik." Bisik Jellal, takut para koki lain tau siapa si biru yang jenius dibalik wajan penggorengan itu. "Berjanjilah, kau akan melindunginya untukku!"

"baiklah, aku bersumpah akan melindunginya apapun yang terjadi!"

::

"Jadi, dia... Erza?"

Natsu mengangguk, Jellal masih melongo tidak percaya. "Erza... anak itu?"

"Ck, iya. Kau tidak percaya pun, aku tidak peduli. Biar aku sendiri yang akan menikah dengannya! Kau tunggu saja undangan dariku!" Natsu berlalu hendak pergi, kalau saja tangan Jellal tidak meluncur ke pipinya. "Sialan, apa yang kau lakukan, hah?!"

"Kenapa kau tidak bilang, Natsu?!" cepat-cepat Jellal menarik tangan Natsu menuju pintu belakang istana Era, yang tembus ke garasi. Lelaki itu mengeluarkan sebuah kunci dari dalam sakunya, lalu mobil van mini warna putih berbunyi saat dia tekan bandulnya. Biasa orang terlalu kaya, mobil pun berjejer seperti pajangan.

Natsu hendak protes saat tubuhnya dipaksa masuk ke jok belakang. Ini sih mirip penculikan di telenovela, Jellal langsung tancap gas tanpa menunggu si surai salam memasang sabuk pengaman. Jadilah jidatnya mencium jok depan.

"Hoi, hati-hati dong!"

Tidak butuh waktu lama, mobil putih itu sudah terparkir di kediaman Zeref. Sebuah hunian minimalis dengan kebun penuh buah-buahan, bunga, dan tanaman obat yang tertata apik. Seorang wanita hamil bertubuh mungil dengan rambut panjang pirang yang menggelombang, Mavis Vermilion Dragneel, menyambut di pintu depan.

"Masuklah!" katanya, mempersilahkan adik ipar dan anak kurang ajar berambut biru bersamanya.

Pemandangan pertama yang dilihat Jellal dan Natsu adalah Zeref yang sedang berkacak pinggang. Tak jauh dari suami Mavis itu, tepat di belakangnya, seorang gadis bersurai scarlet duduk meringkuk diatas sofa merah. Rambutnya acak-acakan tanda frustasi.

"Oh, jadi masih berani datang ke sini ya, tuan Fernandes ini?" sindir Zeref, mata hitamnya berkilat marah.

"Kau boleh memukulku sekarang, Zeref."

"Tentu, dengan senang hati..."

BUAGH!

Sebuah tendangan keras didapatkan Jellal tepat di perutnya. Dia mendarat di sofa empuk, tepat di belakang. Jellal tak melawan. Pria itu merasa pantas mendapatkannya. Natsu hendak menahan sang kakak, namun tangan pria berambut biru itu memberi kode untuk tidak melakukannya.

BUAGH!

Sebuah pukulan lagi tepat di pipinya, merobek sedikit sudut bibir Jellal yang seksi. Zeref menarik kerah kemeja pria itu, hendak meluncurkan pukulan ketiga, namun tiba-tiba saja pundaknya disentuh seseorang. Gadis scarlet yang kini berdiri tepat di belakangnya.

"Cukup kak," ucap Erza, kedua matanya menatap kosong darah yang mengalir di sudut bibirnya, "ini salahku yang langsung kabur begitu saja. Maaf.."

"Tidak, Erza..."

"Lagipula apa salahnya, aku ini 'kan model Fairy Tail. Model majalah dewasa. Justru jadi aneh kalau aku... aku..."

Zeref akhirnya menyingkir dari tengah-tengah Jellal dan Erza, memberikan privasi untuk kedua orang itu. Oh ya, Natsu yang kepo dibawa serta. Pergi meninggalkan ruang tamu menuju ruang keluarga. Dimana ada Mavis dengan peralatan p3k. "Bagaimana?"

"Biarkan saja, itu urusan mereka berdua." Zeref sekarang sok bijak.

Kembali ke ruang tamu, dimana kini Erza dan Jellal duduk berhadap-hadapan dalam satu sofa. Berlatarkan kesunyian dan detak jam dinding di atas pintu masuk, mereka saling diam selama hampir seperempat jam.

"Maaf.." kata mereka bersamaan.

"Kau duluan," kata Jellal, Erza menghela nafas panjang.

"Maaf aku kabur tadi," ucap gadis itu sambil mengusap darah di sudut bibir Jellal dengan saputangan. "Harusnya, kita sudah bersenang-senang seharian ini." lanjutnya, wajah cantik itu memerah.

"Hey, kita bisa melakukannya lain waktu, bukan?" Jellal menyeringai, kemudian meringis karena sudut bibirnya yang robek sedikit tertarik.

"Why not?"

Giliran lelaki itu yang terbelalak. Erza sudah kembali menjadi Erza nakal yang sedang berpose di depan kamera, berdiri dan duduk di pangkuan si rambut biru. Telunjuknya menari-nari di wajah mulus Jellal yang tidak kena tonjok. Ini bahaya, batinnya.

Wajah cantik itu mendekat, dengan mata tertutup sedikit demi sedikit. Jellal sangat tahu mau apa dia, dan jangan ditanya lelaki itu sungguh sudah lama menantikan bibir ranum si model seksi. Tapi kemudian Jellal malah menyatukan jidat mereka.

"Hei," protes Erza.

"Lain waktu, honey.. setelah kita menikah."

Jellal menggenggam tangan Erza yang menggerayangi wajahnya, yang satunya lagi menahan pundak gadis itu. Erza bergetar dengan wajah memerah, air mata lolos dari kedua pupilnya. Dia menangis sesegrukan di pangkuan Jellal. "b-bodoh, aku tidak menangis!" ucap gadis itu sambil mengusap pipinya dengan tangan lainnya yang bebas.

"Kau pasti bercanda, bukan?" tanya Erza, masih tidak bisa menahan air matanya.

Mendengar Erza menangis, tiga orang manusia di ruang keluarga berbondong-bondong ke ruang tamu. Mereka kira Jellal melakukan apapun yang tidak-tidak, tapi, mereka semua malah mendengar sebuah ucapan tak terduga dari mulut tuan Fernandes.

..

"Aku serius, Erza Scarlet! Menikahlah denganku!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N : terimakasih sebanyak banyaknya bagi para readers, favoriters, followers , dan teman-teman semua yang telah menanti fic ini dengan sangat-sangat sabarnya. Terimakasih pula bagi yang terus mengingatkanku untuk mengupdet fanfic ini.

Dengan perasaan yang sangat kesal, aku mengutuk malware yang menginfeksi flashdiksku seenak jidat. Terutama bagi siapapun yang telah memasangkan benda itu di komputer sakit. Ini bukan alasan, aku pun sangat-sangat kesal mengetahui kelanjutan fic ini yang totalnya sudah tiga chapter ke depan, lenyap dilahap virus.

Menangispun aku takut disuruh setor muka ke psikiater. Hiks...

Dan jadilah, aku mulai merangkai kembali yang hilang itu dari awal, well... beruntung aku membuat kerangka ceritanya di tempat lain. Hehe...

Sekali lagi maaf, updetnya telat. Aku seorang otaku wibu jadi maklumi saja kalau kehidupanku memang boros quota internet dan wifi. Terimakasihh untuk kalian semua yang saat ini sudah membaca strike the pose sampai chapter 8, semoga di chapter ini banyak yang suka.

Intinya, aku sayang kalian!

.

.

.

With love

CN Scarlet

[ps, tinggalkan review yah?]