TIME LAPSE


Pandangannya buram. Pusing mendera, ketika Baekhyun mencoba menggerakkan tubuhnya—ia seketika tercekat, menyadari betapa kaku tubuhnya. ia mencoba menggerakkan jemarinya, berulang namun hanya pergerakan kecil saja yang mampu ia lakukan.

Ada apa ini?

Matanya bergerak kacau, menjelajah mengitari ruangan yang tengah ia diami. Putih, ruangan itu bercat putih dan samar terdengar suara dari mesin di atas kepalanya.

Dimana aku?

Baekhyun bertanya kepada dirinya sendiri, namun kosong. Ia mencoba mengingat namun semuanya kosong tanpa balasan apapun.

"Bagaimana perasaanmu?"

Kepala Baekhyun tersentak pada sumber suara pada sisi lain yang luput dari penglihatannya. Ia mengerjab sedang keningnya berkerut ketika retinanya menangkap bayang seseorang yang lain di sampingnya.

Baekhyun menatap sosok itu lama.

Dia seorang laki-laki. Pakaiannya formal dengan warna hitam di keseluruhan—kecuali rambutnya, itu berwarna merah dengan tataan poni ke atas—memperlihatkan dahinya dengan sempurna. Lelaki itu memiliki mata yang bulat, hidungnya mancung dan bibirnya tebal. Sekilas melihat dia terlihat tampan, sangat tampan. Tapi entah mengapa auranya begitu dingin—begitu asing.

Kening Baekkhyun berkerut lagi. Sedang dalam hati kembali bertanya, siapa laki-laki itu?

"S-siapa—" Baekhyun kembali tercekat kala ia mendengar suaranya sendiri, rasanya juga menyakitkan seolah ia tak mengeluarkan suaranya lama waktu yang lama. Itu terdengar begitu serak dan menyakitkan ketika pita suaranya bergetar di dalam tenggorokannya.

"Jangan paksakan dirimu, Baekhyun."

Baekhyun?

Siapa Baekhyun?

Baekhyun tak sadar ketika otaknya mulai menciptakan banyak pertanyaan dalam pikirannya. Semuanya berkumpul menyatu, sesak dan seolah akan meledak. Denyutan di kepalanya mendera tiba-tiba. otaknya seperti teremas dan Baekhyun mengerang kesakitan. Suara seraknya menggema dengan jemari menggenggam rambutnya tak bertenaga.

Lelaki bersurai merah itu bangkit dari duduknya. Ia terlihat menjulang dan wajah dinginnya terlihat panik mendekati Baekhyun.

"Baekhyun tenanglah." Tangan besarnya menahan pergerakan Baekhyun yang semakin tak terkendali. Ia menahan kedua lengan Baekhyun sampai lelaki mungil itu tak mampu menggerakan tubuhnya kembali.

Baekhyun tak mengerti mengapa panas terasa panas tiba-tiba. pelupuknya mengembung dengan tetesan bening yang mambasahi parasnya yang pucat.

"Tenanglah, tak apa sayang."

Itu mengherankan bagaimana Baekhyun perlahan tenang kembali dan denyutan kepalanya perlahan menghilang. Lelaki itu lantas mengusap pipinya yang basah, mengusapnya begitu hati-hati. Rasanya hangat dan itu benar menghentikan isak tangis tak beralasan Baekhyun.

Mata basahnya tertuju pada lelaki itu. Kontak mata mereka lantas tercipta disana. Tertaut dalam dan rasanya begitu asing.

"Aku tak bisa mengingat apapun." Baekhyun berguman nyaris tak bersuara. Bibir keringnya bergetar dan matanya basah kembali. Ia tak kenal siapa lelaki bersurai merah itu—atau ia tak ingat siapa sebenarnya lelaki itu namun Baekhyun berharap kiranya dia bisa memberikan jawaban yang berputar dalam kepalanya. Mengenai siapa dirinya, dimana ia berada sekarang dan apa yang terjadi padanya—memenuhi otaknya yang kosong sedari tadi.

"Siapa aku?" Baekhyun lagi bertanya. matanya terarah satu pada si surai merah—menumpuk harapan, berbelas jawaban yang ia inginkan.

"Namamu adalah Park Baekhyun." Lelaki itu memberikan jawaban.

Park Baekhyun… Baekhyun menggumankan nama yang lelaki itu katakan merupakan miliknya berulang dalam hatinya. Park Baekhyun—itukah namanya?

"Apa yang terjadi padaku?"

Benar, apa yang terjadi padanya sampai nama yang telah ia sandang sejak lahir itu pun luput dari ingatannya.

"Kau mengalami kecelakaan. Kau koma selama seratus dua puluh tiga hari. Kau baru saja sadar dari komamu hari ini. Kecelakaan itu membuatmu berada dalam keadaan amnesia."

"Am-amnesia?"

"Kau kehilangan seluruh ingatanmu, secara permanen."

Baekhyun tergugu. Pandangannya mendadak kosong tak tau harus berekspresi seperti apa menanggapi apa yang lelaki itu katakan.

Kesimpulannya adalah ia yang mengalami kecelakaan, koma dan terbangun dengan otak kosong—amnesia.

Pertanyaan lainnya adalah mengapa ia harus percaya atas apa yang lelaki di depannya itu katakan. Mengapa harus seperti itu? Memangnya siapa dia—

"Apa kau mengenalku?" Baekhyun memutuskan untuk melontarkan rasa penasarannya kembali. "Siapa dirimu?"

"Aku mengenalmu Baekhyun, sangat mengenalmu." Lelaki itu menjawab.

"Aku Park Chanyeol." Baekhyun anggap itu sebagai sebuah perkenalan awal yang baru.

"Apa kita… dekat?" ragu Baekhyun kembali bertanya.

Lelaki itu adalah orang pertama yang ia lihat ketika membuka matanya kembali. Lelaki itu adalah orang pertama yang berbicara padanya ketika ia mampu membuka matanya kembali. Lelaki itu adalah orang pertama yang menjawab seluruh kekosongan dirinya pertama kali.

Mengapa lelaki itu berada disana? Di ruangan yang sama dengannya? Apakah lelaki itu sengaja menunggu dirinya sadar kembali, atau hanyalah sekedar sebuah ketidaksengajaan—namun diluar itu, seperti apa hubungan mereka sebelumnya, apakah mereka dekat? Apakah lelaki dengan surai merah itu adalah temannya—atau mungkin saudaranya mengingat mereka memiliki nama keluarga yang sama?

Park Chanyeol tak segera memberikan jawaban seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia terdiam seseaat, Baekhyun pikir pertanyaannya pasti telah menyinggung perasaan lelaki itu. Bagaimana jika kenyataannya mereka memang dua orang yang dekat, lelaki itu adalah keluarganya namun Baekhyun malah melupakannya begitu saja.

Baekhyun berubah tak enak hati tapi tak ada yang bisa ia lakukan dengan keadaannya pula.

"Aku adalah suamimu."

Baekhyun diam. Matanya berkedip sedang otak mulai berpikir mungkin saja inderanya salah tangkap atau otak kosongnya mulai mendungu.

"Aku adalah suamimu Baekhyun." Namun Chanyeol malah menekan jawabannya kembali. Seolah mempertegas apa yang ia katakan merupakan sebuah kebenaran dan Baekhyun tak seharusnya merespon diam seperti itu.

"A-aku sudah menikah?"—atau juga malah melempar sebuah pertanyaan dengan sarat ketidakyakinan seperti itu.

Park Chanyeol memberikan sebuah anggukan. Sudut bibirnya berkedut dan ia mengulas senyum tipis disana. Baekhyun terpaku sedang dadanya berdetak dua kali lebih kencang akan hal itu. Lelaki itu memiliki senyum yang menawan, dia berkali lebih tampan dan Baekhyun ganti bertanya benarkah lelaki yang berdiri di depannya ini merupakan suaminya?

"Kita sudah menikah tahun lalu."

Jawaban itu menggetarkan Baekhyun sampai ke saraf. Namun tak sampai disitu ketika Chanyeol menuju jemarinya lalu mengangkatnya di udara—memperlihatkan pada Baekhyun sesuatu yang luput ia sadari.

"Kita memakai cincin pernikahan kita." Kata Chanyeol, senyumnya mengisyartkan sebuah rasa bahagia disana. Baekhyun memperhatikan logam yang melingkari jemarinya, bergantian dengan milik Chanyeol—sama. Itu serupa dan itu benar sebuah cincin pernikahan. Cincin yang mengikat mereka dalam kebersamaan.

"Benar." Baekhyun berguman seorang diri. Matanya beralih kepada Chanyeol dan menatap lelaki itu dalam.

"Maafkan aku," ucapnya disana. "Aku melupakanmu."

Nada sesal kentara terdengar. Chanyeol memberikan sebuah gelengan dan mencium kening Baekhyun. Rasa hangat menjalari kembali memenuhi Baekhyun dengan semburat kelegaan tiba-tiba memenuhi dirinya kini.

Setidaknya ia bersama suaminya...

"Tak apa, kau telah bangun sekarang dan itu sudah lebih dari cukup untukku."

Itu sedikit menenangkan Baekhyun dalam sesal dirinya.

"Aku akan berusaha untuk mengingat semuanya kembali."

"Tidak, jangan paksakan dirimu." Chanyeol berbisik. "Hanya ingatlah aku sebagai suamimu, laki-laki yang begitu kau cintai, lelaki yang yang bahkan kau rela mati asal tetap hidup bersamanya. Hanya ingat itu untukku Baekhyun."

"Papa~"

Baekhyun membuka matanya cepat ketika guncangan ia rasakan pada tubuhnya- membangunkan ia dalam tidurnya. Sipitnya membola dalam keterkejutan-menatap tak beraturan langit-langit kamarnya.

Jantungnya Baekhyun rasakan terpacu cepat, mimpi tak beraturannya seolah menghempaskan dirinya jatuh pada lantai gedung tertinggi, melayang dan ketika hendak mencapai lantai dibawahnya, kesadaran merenggut semuanya.

Baekhyun tak sadar menghela nafasnya dan meremas dadanya yang berdegup kencang disana.

"Papa…" panggilan itu taunya membuat Baekhyun terkejut lagi dan tersentak ketika mendapati Jackson berada di sampingnya.

"Ya Tuhan~" Baekhyun memegang dadanya lagi. Benar-benar terkejut sedang bocah 5 tahun itu menatap kebingungan padanya.

"Papa tidak pakai baju." Jackson menyeloroh tanpa peduli Baekhyun dengan keterkejutan miliknya. Matanya yang serupa akan milik Chanyeol itu menatap sejurus pada Baekhyun, pada tubuh bagian atasnya yang tersikap dan nyaris memperlihatkan setengah perutnya yang membuncit.

Baekhyun lantas ikut memperhatikan dirinya dan ia seperti tersedak ludahnya sendiri ketika mendapati dirinya yang setengah telanjang. Baekhyun lupa mengenakan pakaiannya kembali setelah percintaannya bersama Chanyeol semalam sebelum akhirnya jatuh tertidur.

"Papa selalu tidak pakai baju jika Daddy pulang cepat." Sambung Jackson lagi.

Baekhyun bersemu malu. Itu bukan mengenai ia telanjang di depan Jackson yang berumur 5 tahun, mereka sering mandi bersama dan itu bukanlah sebuah masalah—seharusnya jika tubuh Baekhyun yang mulus tanpa adanya tanda merah tersebar hampir seluruh tubuhnya hasil cumbuan bibir Chanyeol semalam. Itu rating dewasa dan Baekhyun tak memiliki niatan untuk mencemari Jackson yang bahkan belum masuk sekolah dengan sisa aktifitas malamnya.

Baekhyun lantas segera selimutnya guna menutupi tubuhnya—menariknya terlampau kuat sampai kain tebal itu mengenai nakas dan menghempas segelas susu yang luput Baekhyun perhatian—membuatnya terjatuh dan menodai permadani yang terbentang di bawahnya.

"Ya Tuhan~" Baekhyun merutuki becerobohannya sendiri. Ia menyeret tubuhnya turun dari tempat tidur dan mendesah mendapati gelas berisikan susu tergeletak di atas permadani. Tidak pecah hanya saja seluruh isinya tumpah ruah—mengotori permadani dengan warna putihnya.

Disana Baekhyun menemukan secarik nota pada badan gelas, telah basah namun tulisannya masih terbaca jelas disana.

-Aku memiliki pertemuan pagi ini, maaf tidak membangunkanmu. Jangan lupa habiskan susumu, oke?-

Tanpa teraan milik siapa tulisan itu namun Baekhyun dengan cepat menyimpulkan jika itu merupakan milik Chanyeol. Susu yang kini tumpah tanpa sempat ia minum juga merupakan Chanyeol tapi lihat bagaimana Baekhyun menumpahkannya begitu saja.

Baekhyun untuk kesekian kalinya merutuki dirinya berulang sedari tadi.

"Papa aku ingin muffin." Dari atas tempat tidur Jackson mengujarkan hal yang menjadi alasan mengapa ia berada di atas tempat tidur milik orangtuanya itu.

"Muffin cokelat." Tambahnya lagi.

"Tidakah ini terlalu pagi untuk makan cokelat, Baby?" Baekhyun menjengitkan satu alis. Ia bangkit kembali dari lantai, meletakkan gelas kosong di atas nakas dan berniat untuk membereskan kekacauan yang baru saja ia lakukan.

"Aku ingin muffin buatan Papa." Anak itu merengek lagi. Baekhyun jadi tidak tega,

"Baiklah, tapi setelah Junnie menghabiskan sarapan, setuju?" tawar Baekhyun.

"Aku sudah sarapan bersama Kyungsoo." Celutuk Jackson.

"Apa?" Baekhyun buru-buru memeriksa jam di dinding untuk memastikan jam berapa sekarang dan ia lagi merutuki dirinya sendiri. Jam 10 bahkan sudah lewat 15 menit yang lalu, pantas saja Jackson sudah menghabiskan sarapannya dan merengek untuk sepotong muffin kini karena itu memang merupakan waktu mengemilnya.

Intinya Baekhyun bangun kesiangan, di hari pertama kepulangannya ke Korea dan membiarkan Jackson melewati paginya bersama dengan seorang butler sedang di hari lalu dirinya yang mengurus itu semua karena memang itulah pekerjaannya.

"Baiklah, tapi biarkan Papa membereskan ini dulu, oke?"

Jackson menganggukkan kepalanya cepat dan diam di atas tempat tidur sedang Baekhyun memakai bajunya lalu menyibukkan diri mengganti permadani yang kotor itu kemudian membawanya sedikit kepayahan keluar dari kamar menuju ruang laundry.

Kyungsoo yang tengah membersihkan ruangan segera meninggalkan pekerjaannya dan mengambil alih permadani yang Baekhyun bawa.

"Terima kasih Kyungsoo." Ucap Baekhyun sembari tersenyum.

"Bukan masalah Tuan." Ungkap Kyungsoo.

Baekhyun lantas melanjutkan langkah menuju dapur dengan Jackson yang mengikuti dirinya. Bocah itu segera naik ke atas kursi tinggi di pantry, duduk disana dan memperhatikan Baekhyun seperti yang selalu ia lakukan sedang Baekhyun memulai pekerjaannya mempersiapkan bahan untuk muffin yang Jackson inginkan.

Baekhyun mencari bahan-bahan yang ia butuhkan di dalam lemari penyimpanan namun ia tak mendapati apapun disana.

"Sepertinya kita harus membeli bahannya terlebih dahulu, Baby." Ungkap Baekhyun dengan bahu ia gidikkan pelan.

Jackson merengut. "Apakah itu lama?" tanyanya.

"Tidak lama, tapi Papa harus bertanya kepada Kyungsoo dimana supermarket terdekat disini."

"Kita bisa membelinya bersama!" Pinta anak itu kembali bersemangat. Baekhyun memberikan anggukan dan mencari Kyungsoo di ruang laundry.

"Apakah supermarket jauh dari sini?" Tanya Baekhyun.

"Tidak, hanya berselang beberapa gedung dari sini. Apakah Tuan ingin membeli sesuatu?" Kyungsoo balas bertanya.

Baekhyun mengangguk. "Ya, aku harus membeli bahan untuk membuat muffin."

"Kalau begitu saya yang akan pergi untuk membelinya." Kyungsoo segera bergegas namun Baekhyun menahannya dengan cepat.

"Ah, tidak-tidak. Aku dan Junnie yang akan pergi. Tak apa, hanya sebentar."

"Tapi Tuan Park meninggalkan pesan agar Tuan tidak pergi kemana-mana." Jawaban itu taunya menciptakan dengusan dari Baekhyun.

Carrier yang tengah hamil itu mencibir sedang dalam hati merutuk betapa sifat posesif Chanyeol yang taunya ikut lelaki itu bawa bahkan di Korea kini. Baekhyun akan memaklumi jika mereka di Moskow dengan Chanyeol si pemimpin Fueur dan lelaki itu mewanti-wanti mengatakan jika ia memiliki banyak musuh dan Baekhyun harus tetap berada di rumah dan hanya pergi minimal 2 orang pengawal bersamanya.

Tapi ini Korea, Seoul yang Baekhyun yakin takkan ada yang tau jika dirinya merupakan pasangan Richard Park di pemimpin Feuer. Hanya Richard Park yang merupakan CEO dari Licth Group dan Baekhyun yakin takkan ada orang yang tau mengenai dirinya.

Chanyeol saja tak pernah menampakkan dirinya pada media, apalagi dirinya?

Baekhyun lagi mendengus dan mencibir kemudian.

"Tuan Park juga meninggalkan pesan akan menjemput Anda setelah makan siang nanti." Ungkapan itu membuat Baekhyun terkejut.

"Chanyeol akan menjemput?" Baekhyun menebak itu merupakan sanggupan untuk ajakan Jackson kemarin ke menara.

Kyungsoo memberikan anggukan. "Benar Tuan. Jadi biarkan saya yang akan mendapatkan bahan-bahannya untuk Anda."

Baekhyun tak memberikan bantahan alih-alih anggukan persetujuan, sedang dalam hati buncahan kebahagian memenuhi dirinya.

Jackson berada di depan tv, menonton suguhan kartun dengan sepotong muffin di tangannya. Mulutnya mengunyah dengan tenang dan Baekhyun meninggalkan bocah itu tenggelam di dalam dunianya sendiri sedang ia mulai berbedah di dalam kamar.

Baekhyun telah mandi dan berada di depan lemari—sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan. Chanyeol akan segera menjemputnya dan mereka akan berpergian bersama dan Baekhyun tak berniat untuk terlihat buruk di depan lelaki itu nanti.

Baekyun begitu excited, tenggalam bersama kesibukan kecilnya sampai tak menyadari kepulangan Chanyeol. Lelaki itu berhenti di depan pintu, menatap Baekhyun dengan senyum lalu mendekati si mungil itu disana.

Baekhyun menahan pekikan, cukup terkejut bagaimana Chanyeol tanpa suara apapun dan taunya berada di belakangnya dan memeluk ia tiba-tiba. Chanyeol melempar senyum tipis dan Baekhyun membalasnya dengan kekehan.

Lelaki yang lebih mungil lantas memilih mengabaikan pakaiannya sesaat dan beralih menyamankan diri pada dada Chanyeol, bersandar pada dada kokoh itu dan menciptakan kontak mata melalui cermin.

Chanyeol mengecup pipi Baekhyun disana, kemudian pada batang lehernya dan sengaja menghembuskan nafasnya pula pada lubang telinga si mungil yang berada dalam dekapannya itu. Baekhyun menggelinjang kegelian di antara dera tawa namun tak menarik diri untuk menghentikan perlakuan si dominan terhadap dirinya.

"Bukankah seharusnya kita berangkat sekarang?" Baekhyun bertanya di sela.

"Mereka bisa menunggu."

"Mereka?" Baekhyun menjengitkan satu alis, kebingungan.

"Itu hanya sebuah pertemuan biasa."

Baekhyun terdiam sesaat, sedang otaknya mulai mencerna dengan baik apa yang baru saja Chanyeol katakan. Sebuah pertemuan, taunya Chanyeol menjemput dirinya bukan untuk jalan-jalan mengelilingi seisi Seoul alih-alih menghadiri sebuah pertemuan yang berasal dari pekerjaan lelaki itu pula.

Baekhyun tiba-tiba saja di rudung kecewa, bukan kepada Chanyeol melainkan dirinya sendiri. Lagipula salahnya sendiri yang berspekulasi kemudian benar menaruh harapan disana.

Menyadari Baekhyun yang tak lagi bersuara, Chanyeol lantas mengangkat kepalanya dari ceruk leher Baekhyun. Ia menatap lelaki itu melalui cermin dan bertanya,

"Apa apa?"

Baekhyun hanya memberikan sebuah gelengan dan memaksa senyum.

"Aku harus berbenah." Katanya pelan lalu melepaskan diri dari belitan lengan Chanyeol. Baekhyun memilih cepat satu setelan formal yang biasa ia kenakan tiap kali menemani Chanyeol menghadiri sebuah pertemuan, tanpa pertimbangan dan segera mengganti pakaiannya.

Tak benar menyadari bagaimana Chanyeol lekat memperhatikan dirinya.

Baekhyun tak pernah benar menyukai setiap ajakan pertemuan Chanyeol bersama dengan kolega kerjanya. Pakaian formal, ucapan sarkasme, pundi uang—kiranya menjadi alasan mengapa Baekhyun tak menyukai hal itu.

Namun tetap disinilah Baekhyun berada.

Ia adalah pasangan Chanyeol, suami Chanyeol, pendamping Chanyeol dimana lelaki itu kadang membutuhkan kehadirannya pula. Baekhyun sendiri pun tak pernah menolak atau sekedar menyampaikan rasa ketikdasukaannya dengan semua itu.

Jalanan Seoul sama padatnya dengan Moskow. Mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan yang sama sebelum berbelok memasuki perataran gedung tinggi di pusat Gangnam. Pintu mobil dibuka oleh salah satu pengawal Chanyeol dan lelaki itu keluar pertama kali.

Chanyeol membuka pintu pada sisian Baekhyun, mengulurkan satu tangannya yang segera di sambut oleh si mungil dalam gandengan. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam gedung, diikuti oleh pria berbadan kekar berseragam yang lain—berbaur masuk dengan tamu undangan lainnya.

Baekhyun hanya mengulas senyum ramah sepanjang acara seperti biasa. Langkah mengikuti kemana Chanyeol mengambil langkah, menggandeng lengan lelaki itu dan menjawab pertanyaan basa-basi yang terlontar untuknya. Hanya itu yang ia lakukan, bahkan untuk semua pertemuan yang selama ini ia hadiri.

Namun kali ini rasanya sedikit berbeda. Baekhyun merasa tak yakin, mungkin karena suasananya atau lingkupan lingkungan yang baru dan pertemuan dengan orang-orang yang memiliki keturunan yang sama dengan dirinya, bukan saat berada di antara para bermata biru seperti saat berada di Moskow.

Baekhyun lantas mengedarkan pandangannya. Ia memperhatiakan sekitar namun tak ada yang aneh disana. Obrolan para pengusaha, tawa berkelas—semuanya terlihat sama saja.

Namun entah mengapa… Baekhyun merasa seperti ia tengah... diawasi.

Mungkin hanya perasaannya saja, tapi Baekhyun benar merasakan seolah adanya laser tak kasat mata yang menghujani dirinya sedari tadi. Baekhyun mengedarkan pandangannya lagi namun lagi tak ada hal berarti yang ia dapati.

"Ada apa?" pertanyaan Chanyeol mengengetkan dirinya. Baekhyun sontak menatap lelaki yang menjadi suaminya itu dan dengan cepat memberikan gelengan.

"Ti-tidak ada." Jawabnya gugup.

"Apa kau merasa pusing?" Chanyeol terlihat tak percaya dan kembali melontarkan pertanyaan. Mata bulatnya memperhatikan Baekhyun menyeluruh.

"Aku baik-baik saja." Baekhyun memaksa senyum tipis. "Kupikir aku butuh toilet."

"Kau mual?" Chanyeol menerka dalam ketidakpuasannya lagi.

Baekhyun dalam hati mencoba memaklumi buruan beruntun pertanyaan tidak pernah puas Chanyeol jika itu sudah menyangkut tentang dirinya, terlebih mengenai kesehatannya. Daripada posesif, Baekhyun lebih suka menganggapnya sebagai bentuk ungkapan perhatian tersirat. Si carrier cantik yang tengah hamil itu tersenyum separuh sembari memberikan gelengan dan mendekatkan diri kepada Chanyeol.

"Aku sesak pipis." Bisiknya.

Chanyeol menghela nafasnya lega dan Baekhyun malah terkikik akan polah lelaki itu.

"Aku akan menemanimu."

"Tidak-tidak." Sergah Baekhyun cepat. "Tetap berada disini, aku takkan lama."

Chanyeol berakhir dengan sebuah anggukan dan memberi kode Jongin untuk mengikuti langkah Baekhyun menuju toilet. Matanya masih mengawasi Baekhyun yang perlahan menghilang di antara kurumunan para undangan sedang pelipisnya berkedut tanpa ada satupun yang menyadarinya.

Baekhyun membasuh tangannya lalu mengeringkannya sembari mematut wajahnya pada cermin. Baekhyun memperhatikan riasan wajahnya juga tataan rambutbya dan tak menemukan sesuatu yang aneh disana.

Mungkin memang hanya perasaannya saja. Baekhyun membatin sembari menggidikkan bahunya acuh. Ia membuang gumpalan tisu yang ia gunakan untuk mengeringkan tangannya pada tong sampah di bawah wastafel bersamaan dengan terbukanya salah satu bilik dalam toilet itu.

Seseorang keluar dari sana. Baekhyun tak acuh dan melanjutkan langkahnya kembali keluar dari toilet.

"Baekhyun…" hingga di saat yang bersamaan sebuah panggilan menggumankan namanya.

Langkah Baekhyun sontak terhenti. Ia berbalik badan dan menemukan sosok yang baru saja keluar dari bilik toilet berada di belakangnya, menatapnya dengan mata yang nyaris melompat keluar berbanding terbalik dengan Baekhyun yang memiliki tikungan pada keningnya.

"Kaukah itu Baekhyun... hyung?" Lelaki itu bertanya dalam keraguan dirinya.

Hyung...

Baekhyun menatap lelaki itu terkejut. Rongga dadanya berdegup dan menatap nyaris tak berkedip kepada sosok asing di depannya itu.

"Hyung—"

Hyung… suara itu terdengar tak asing. Rasanya begitu familiar.

"Kau sungguh Baekhyun hyung, 'kan?" Lelaki itu mendekat kepadanya. Baekhyun seharusnya mulai berteriak memanggil Jongin yang berada di depan pintu toilet sana bagaimana seorang lelaki asing mendekati dirinya seperti itu.

Namun tidak, Baekhyun seolah terpaku pada tempatnya.

"Kau... mengenalku?" Baekhyun bertanya dalam terkaan tak percaya. Selama ini hanya Chanyeol yang menyebut namanya seringan itu, bahkan setelah 2 tahun berlalu hanya Chanyeol satu-satunya. Tapi kali ini seseorang yang lain memanggilnya seperti itu juga, seolah mereka memang memiliki hubungan sebelum kecelakaan yang ia alami. Seolah mereka memang mengenal satu sama lain sebelumnya.

Lelaki itu sontak menghentikan langkahnya. Matanya semakin melebar, terkejut dengan hati mencolos tak percaya atas apa yang baru saja Baekhyun lontarkan.

"Kau tidak mengenalku?" Ia balik bertanya. "Ini aku Hyung… Sehun."

"Sehun?"

"Adikmu. Aku Sehun adikmu, Baekhyun hyung."

"Obatnya tidak bekerja." Chanyeol seperti merutuk berbicara pada ponselnya. "Berikan aku obat yang lain, tambahkan dosisnya."

"Dosisnya sudah terlalu besar Tuan." Yang berada di ujung sambungan menjawab. "Saya tidak menjamin, apalagi Tuan Muda sedang hamil saat ini. Itu akan berdampak pada calon bayinya atau bahkan bagi kesehatannya sendiri."

"Aku tidak membayarmu untuk menceramahiku, sialan!" Chanyeol mengerang dalam amarah. "Aku hanya butuh obatnya segera!"

"Tapi Tuan—"

"Obat busukmu sudah tidak bekerja, brengsek. Jadi segera berikan aku obat yang lain atau ku lobangi kepalamu!"


Cocot: Daaaannnn masih thankseu so much buat all lovely reviewers, kalian so sweet kali lah unch~ Next chap ketemu lagi ya hoho